The Dark Moon : Paper Crane [Series #2]

the dark moon

 Title : The Dark Moon || Sub-title : Paper Crane

Author : Xilverspear  || Length : Ficlet [Series]

Casts :

Kim Jongdae

Genre : Psychology, AU, Angst || Rating : PG-17

Pukul tiga dini hari, dan aku selalu terjaga

=======

The  series :

#1 : I Don’t Belong Here [Do Kyungsoo]

#2 : Paper Crane [Kim Jongdae]

#3 : We’ll Meet Again [Byun Baekhyun]

=======

PAPER CRANE

Thousand-Paper-Cranes-l

Pukul tiga, dini hari saat bulan purnama masih sempurna menggantung di langit.

Seorang pemuda dengan jaket hijau kusam dan celana training berjalan memasuki sebuah swalayan yang buka 24 jam. Sepi. Hanya ada seorang wanita (yang sepertinya bekerja paruh waktu) tertidur di meja kasir. Tidurnya nyenyak sekali, sampai-sampai wanita ini tidak bergeming saat ada seorang pembeli yang masuk. Si penjaga kasir hanya bangun ketika dibangunkan oleh si pembeli yang ingin membayar.

Jongdae, seorang pemuda pengangguran yang hidup sebatangkara itu selalu rajin membeli kertas lipat origami. Penjaga kasir swalayan itu pun selalu heran mengapa ada seorang pemuda yang selalu rajin membeli kertas lipat origami pagi-pagi buta seperti ini. Apakah dia ini seorang guru taman kanak-kanak? Eh, tapi penampilannya sama sekali tidak terlihat begitu. Daripada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik ia kembali ke alam mimpinya lagi.

Jongdae berjalan menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu sambil membawa seplastik kertas origami. Di langit, bulan purnama sedang bersinar dengan indahnya. Jongdae berjalan sambil mendongak memperhatikan bulan.

Hey, bulan! Kau kelihatan kesepian di atas sana. Kau sendirian di atas sana untuk menerangi langit malam yang gelap. Cahayamu pun juga bukan cahayamu sendiri, kan? Kau hanya meminjam cahaya matahari agar bisa bersinar dan dilihat oleh umat manusia. Iya kan?”

Jongdae bergumam sendiri.

Hey, dia tidak bergumam sendiri, ia bergumam kepada bulan.

Cih! Kau sama saja dengan ku. Sendirian. Tapi bedanya kau punya matahari yang meminjamimu cahaya. Sedangkan aku? Aku tidak bisa meminjam ‘cahaya’ pada siapapun. Haha…”

Jongdae tertawa sendiri. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri.

Jongdae terus bergumam kepada rembulan sampai akhirnya kakinya sampai di apartemen kecil yang kelihatannya tidak terawat.

Apartemennya hanya terdiri dari dua kamar, yaitu kamar tidur dan kamar mandi. Tidak ada yang namanya ruang tamu atau ruang keluarga. Toh, dia juga tidak pernah kedatangan tamu dan tidak memiliki keluarga.

Ada sebuah cermin besar di kamarnya. Cermin itu diletakkan di salah satu sisi kamarnya. Saking besarnya, cermin itu tidak bisa digantung dan hanya disandarkan pada dinding. Sedangkan di langit-langit kamar tergantung ratusan paper crane warna-warni. Jadi, inilah alasan mengapa Jongdae selalu membeli kertas origami.

Sebuah suara menyambut kedatangan Jongdae saat ia menutup pintu apartemennya.

“Jongdae-ya, kau sudah pulang rupanya” kata sesosok pria berdiri di depan cermin.

Eo, kau bisa lihat sendiri aku sudah pulang” jawab Jongdae tak acuh.

“Hmm, sepertinya kau membeli kertas origami lagi” pria itu memperhatikan kantung plastik di tangan Jongdae.

Eo” Jongdae menjawab singkat, malas menanggapi.

Jongdae duduk di atas karpet dan mengeluarkan sebungkus kertas lipat yang baru saja ia beli. Ia mengambil selembar kertas berwarna merah kemudian mulai melipatnya. Sosok yang tadi berdiri di depan cermin sekarang memposisikan dirinya duduk di tempat tidur. Ia tersenyum memandangi Jongdae yang sedang melipat kertas.

“Untuk siapa kali ini?” tanya sosok itu.

“Untuk Do Kyungsoo, anak penjual roti yang ada di pasar” jawab Jongdae singkat.

“Pastilah dia sangat menyebalkan sampai membuatmu menyingkirkannya” sosok itu memberikan komentar, “Uhm… tapi, bukannya kau tidak hanya menyingkirkan orang yang menyebalkan? Bukankah begitu?”

“Diamlah” kata Jongdae pada sosok itu. Tapi sosok itu tidak berhenti berbicara. Sosok itu kembali tersenyum, berusaha mencarikan suasana.

“Jongdae-ya, aku hitung-hitung, sudah ada sekitar 500 paper crane yang memenuhi langit-langit kamar ini. Aku bahkan sampai tidak bisa melihat langit-langit kamar lagi karena terlalu penuh dengan paper crane buatanmu” sosok itu kembali berkomentar.

Sosok itu menunggu respon dari Jongdae, tapi Jongdae masih berkutat dengan paper crane­-nya yang sudah selesai ia lipat. Jongdae mengambil pena dan membubuhkan nama ‘Do Kyungsoo’ di salah satu sayapnya, memasang tali di tengahnya, memanjat sebuah kursi, kemudian menggantungnya di langit-langit kamarnya.

Jongdae kembali duduk di atas karpet dan mengambil selembar kertas origami lagi yang berwarna biru, kemudian kembali melipat.

“Ya! Jongdae-ya! Sudah berapa orang yang kau singkirkan hari ini, eo?” tanya sosok itu.

“Satu” jawab Jongdae singkat.

“Lalu kenapa kau membuat dua?”

“Yang ini untukmu”

“Oi! Apa masalahmu denganku? Aku di sini satu-satunya temanmu” sosok itu beranjak dari tempat tidur untuk mendekati Jongdae. Sosok itu mencoba merangkul Jongdae, tapi dengan cepat Jongdae menepis tangan sosok itu.

“Aku tidak butuh teman. Lagi pula kau bukan temanku. Kau hanya pengganggu, dan aku ingin kau pergi” kata Jongdae masih dengan nada datarnya.

“Hey hey! Tunggu dulu” kata sosok itu, “kau tidak akan pernah bisa mengusirku, Jongdae-ya. Karena kita ini satu dan tidak akan pernah bisa terpisah”

“Aku tidak peduli” kata Jongdae dengan mata yang masih terpaku dengan paper crane di tangannya. Ia meraih pena dan membubuhkan sebuah nama di sayap kiri paper crane itu, memasang tali dan kemudian menggantungnya di langit-langit kamarnya.

Sekarang Jongdae berjalan mendekati cermin besar di salah satu sisi kamarnya. Ia menatap refleksi dirinya dengan tatapan tajam.

“Sekaranglah waktunya untuk menyingkirkanmu. Jika itu berarti aku juga harus enyah, tentu saja akan tetap aku lakukan” kata Jongdae.

Refleksi dirinya, membalas tatapan tajam mata Jongdae dengan tatapan memohon, “Jongdae-ya, kau tidak seharusnya begini. Kau masih bisa sembuh dari kegilaan ini. Kau masih bisa mendapatkan teman dan hidup bahagia seperti dulu”

“Omong kosong! Jika aku akhirnya punya teman, dan mereka tahu bahwa aku adalah seorang pembunuh, pastilah mereka akan menjauhiku! Berhentilah memberiku harapan palsu! Semua kata-kata harapanmu tidak mempan!” Jongdae menaikan suaranya membentak refleksi dirinya sendiri.

“Jangan, Jongdae-ya. Kau masih punya harapan dan kesempatan…” refleksi dirinya kembali memohon.

“DIAM KAU! DAN ENYAHLAH!” kepalan tinju Jongdae memecah cermin besar yang ada di hadapannya. Potongan-potongan dan serpihan-serpihan cermin itu jatuh bergemerincing ke lantai keramik kamarnya. Jongdae mengambil sebuah pecahan kaca yang panjang dan runcing ujungnya. Ia menggenggamnya erat di tangan kanannya sehingga melukai telapak tangannya. Jongdae menatap bayangan dirinya di cermin yang sudah retak itu.

“Ayo kita pergi bersama-sama, Kim Jongdae…”

Jongdae menusukkan potongan kaca itu tepat di arteri karotid lehernya. Darah segar mengucur deras dari lehernya, membanjiri bajunya dan akhirnya menggenang di lantai kamarnya.

Angin sepoi-sepoi menelusup masuk melalui jendela yang lupa Jongdae tutup, sehingga menggoyang-goyangkan semua paper crane di langit-langit kamar itu. Tertulis nama “Kim Jongdae” di sayap kiri sebuah paper crane biru. Paper crane biru itu berputar-putar bersama dengan ratusan paper crane lainnya.

== THE END ==

a/n : Hey hey…😛 maap kalo nyepam di sini dengan FF geje ku yang lain… ^^v yah, aku tau aku kalo bikin FF pasti peminatnya dikit, ya tapi ga apa2 lah, daripada ga ada peminatnya sama sekali *malah curhat*

Oh iya, fanfic ini secara ga sadar, aku tulis hampi2 mirip sama plot storynya MVnya Infinite – Bad.😛 Kalian udah nonton belom? Kalo belom tonton laaah… videonya keren lho…

Buat minggu depan, aku bakalan posting series ketiga FF ini, yaitu We’ll Meet Again yang main castnya adalah Baekhyun, dan nanti supporting castnya adalah Chanyeol😀😀 Dan setting cerita ini adalah di jaman penjajahan Jepang di Korea..😀 Semoga kalian penasaran ya…😀

Oke deh, sampe jumpa minggu depan!😀

PPYONG!

8 responses to “The Dark Moon : Paper Crane [Series #2]

  1. haiii… aku baru pertama kali mampir disini dan baca ff kamu… salam kenaal…
    awalnya aku nebak-nebak jongdae beli kertas lipat melulu kayaknya untuk bikin sesuatu yang mengigatkan dia akan seseorang yang dicintai, atau keluarga atau temen2nya, atau apalah itu rindu belaian kasih sayang, kaya ff drama pada umumnya… owalah ternyata salah besar. ternyata buat nulisin nama-nama korban yang udah dia bunuh. gilaaa… berarti udah lebih dari 500 orang dia bunuh???? kok gak ditangkap polisi yah?

    aku awalnya udah curiga siapa yang ada di kamar jongdae sedangkan udah diceritain kalo dia itu sebatang kara, dan oh ternyata sosok itu dirinya sendiri. udah rada-rada gila emang yah.. jadi penasaran deh latar belakangnya jongdae kenapa bisa jadi gila kaya gitu…

    well, ceritanya bagus🙂 keep writing ya thor!

    • Hai juga…😀😀 makasih ya udah baca dan ninggalin komen di sini..😀
      Hmmm… latar belakangnya kenapa dia bisa jadi gia? Hmmm… ._. silahkan tebak2 sendiri…😛 Aku sih ngarepnya readers bikin tebakan sendiri seteah baca FF ini…😛
      Sekali lagi, makasih udah baca dan komen..😀😀

      • haha… authornya so misterius, mau main rahasia-rahasiaan aja ini? wkwwk…
        apa mungkin jongdae itu semacam punya kenangan buruk masa lalu? biasanya kan suka kaya gitu? yah sudahlah biarkan ini jadi misteri hehe kecuali kalo mau dibikin sequel thor.

        iya bagus thor jadi readers dibikin penasaran. terus bikin ff yang kaya gini lagi ya? aku suka hehe😀

  2. Pingback: The Dark Moon : We’ll Meet Again [Series #3] | FFindo·

  3. WAH! saat sedang menelusuri tag kim jongdae di wp aku kesandung ke sini dan ow. ow.
    KAMU TAU AKU SANGAT NGEBET BACA FICNYA MAS CHEN YG DARK BEGINI!
    kirain dia beli papercrane tuh buat mewujudkan harapan apa tah gitu, kan legendnya papercrane begitu, tapi begitu di akhir2 ada kata disingkirkan, lho ini mas jongdae menyingkirkannya pake paper crane? oh ternyata paper crane itu semacam lambang kematian ya? aih gelap banget! somehow walaupun aku bisa menebak siapa si ‘sahabat’ yg ditengah2 itu tapi sebenernya cerita ini sama sekali non mainstream! hebat banget deh bisa lepas dari kungkungan romance T.T
    tapi tadi waktu di scene toko, kan disebutkan kalo ‘jongdae itu pemuda pengangguran’, kok ditengah2nya si ibu penjaga toko itu ngira jongdae guru taman kanak2? maksudnya secara paragraf kan mestinya sangkaan itu gak muncul lagi berhubung di depan sudah dijelaskan. menurut aku aja sih.
    suka! terima kasih sdh memunculkan fic dark yg bagus ini di saat aku kesusahan bgt cari ficnya jongdae. keep writing ya!

    • KAK LIANAAAA!!! Ya ampun, ternyata Kak Liana ke sini buat baca FFku yang ini! Uwaa #histeris
      Aku jadi malu FFku yg kucel (?) dibaca sama kak Liana T_T
      Tapi makasih ya kak buat dukungannya… :’)
      Sebenernya yg bagian paper crane sebaga lambang kematian itu dulu (kayaknya) aku pernah nonton film Cina (kalo ga salah) yang pemeran utamanya selalu ngebuat paper crane setelah ada orang yang dia bunuh. Jadi dulu aku mikirnya paper crane itu lambang kematian. Eh, tapi setelah aku searching ternyata Paper Crane malah lambang harapan.😛 Wkwkwk Aku aja udah itu beneran dari film Cina apa bukan… wkwk (doh)
      Yang bagian Jongdae beli kertas origami di toko itu, emang aku sengaja engga aku jelasin lebih panjang soalnya berhubung ini adalah ficlet, jadinya ga muat T_T
      Ya ampun, makasih ya kak udah bilang FF ini bagus T_T aku jadi terhura (?)
      Makasih ya kak :’)
      XOXO :*

  4. Pingback: [FANFICTION] The Dark Moon : We’ll Meet Again [Series #3] | Comical Life·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s