[Ficlet] What Is Love?

What Is Love-Poster

©bebhmuach storyline

 

Park Jimin [BTS] || Kim Jian [OC]

 

Ficlet || Angst, Romance, Sad || PG-17

 

I OWN THE PLOT!!!

Enjoy readers^^

.

“Kutenggelam dalam lautan cinta tak bertuan.”

.


 

Cinta, ia terlalu misteri untukku. Namun aku terlanjur jatuh terlalu dalam, bagai kumbang terjebak dalam taman mawar berduri. Leluasa menikmati tebaran keharumannya, tapi tak kuasa untuk lepas dan terluka karena belenggu durinya.

Sepanjang hidup manusia seolah tak berhenti berusaha menaklukan cinta. Cinta harus satu, tidak ada kata mendua untuk kesetiaan di dalamnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas?

 

Aku pernah menyapa cinta. Ya, aku yang pertama kali menyapanya.

Sayang, cinta enggan berbalik menatap ke arahku. Ia pergi, lebih memilih menebarkan wanginya pada pria lain.

 

Bagiku, manusia hanya bisa satu kali jatuh cinta. Yang kedua, ketiga dan seterusnya hanya fatamorgana. Kupikir hati memiliki ‘multi-ruang’, dapat menampung semua rasa tak berwujud itu. Aku tak tahu kemana mata hatiku berpijak, ku tenggelam dalam lautan cinta tak bertuan.

 

Aku mengetuk-ngetukkan ujung ponselku diatas nakas. Memandang kosong ke arah tirai yang sempurna menutupi kaca jendela. Pikiranku melayang jauh, seakan jiwaku terseret ikut terbang meninggalkan ragaku sesaat.

 

Terdengar suara deritan pegas kasur yang dihasilkan oleh Rachel, tubuhnya bangkit dari posisi tidurnya. Lengan mungilnya merengkuh tubuhku –yang berbaring membelakanginya– lebih menekan bagian perutku.

 

“Jim, bukankah kita seharusnya pergi berlibur berdua pekan ini?” bisik manjanya pada telingaku.

 

Setelah itu, ia mensejajarkan wajahnya dengan menempelkan satu pipi mulusnya di atas permukaan wajahku. Lebih mengeratkan pelukannya.

Kutarik satu sudut bibirku, aku menyukai suara manja yang ia berikan tiap kali menginginkan sesuatu dariku.

 

“Sepertinya aku masih sibuk. Kita bisa lakukan itu lain kali, ok?”

 

Rachel menghembuskan napasnya kasar. Rasa hangat seketika menyapu ke seluruh wajahku. Aku bisa merasakan kecewanya, meski manik kami tak saling bersua. Kusegera berbalik, membawanya ke dalam dekapanku.

 

“Dasar tuan sok sibuk!” ejeknya. Ia menenggelamkan kepalanya pada bidang dadaku, tubuhnya meringkuk menikmati kehangatan yang kuberikan lewat pelukanku.

 

I’m sorry, babe.” kukecup lembut keningnya dan mengeratkan pelukanku.

 

Ting!!!

 

Suara ponsel memecah kesunyian. Aku menggerakkan lenganku, menjangkau benda pipih itu yang terlentang diatas nakas.

Satu pesan masuk.

Aku sudah bisa menebak ‘orang gila’ mana yang mengirim pesan jam 3 dini hari seperti ini.

 

Kim Jian

Aku hanya mengingatkan, kau punya janji denganku jam 11 siang ini. Kau sudah menulisnya di agedendamu kan? Aku tidak suka pembatalan!

 

Yap, itu sudah pasti Kim Jian. Jian adalah sahabatku, ahh.. bukan, aku adalah sahabat Jian –predikat yang enggan lepas dariku. Jemariku mulai menari-nari di atas layar 5 inch ini.

 

Aku sudah menulisnya di kepalaku, don’t worry!

Send.

 

Sepersekon kemudian, si gadis alien –sebutanku untuknya sejak SMA– membalas pesanku.

 

Kim Jian

Jimin, jjang!!

 

-0-0-

 

Aku menyesap cappuchino pesananku –tiga puluh lima menit yang lalu– manikku tetap tertuju pintu depan cafe, berharap sosok Jian segera keluar dari balik pintu. Alih-alih membunuh waktu, aku kembali menggerakkan jemariku di atas layar ponsel membalas chat Rachel.

 

Seperti inilah tabiat si gadis alien, tiap kali janjian untuk bertemu ia pasti datang terlambat. Entah, apa saja yang ia lakukan sebelumnya.

 

“Chim-chim!” suara khas itu mengalihkan pandanganku.

 

Gadis dengan surai coklat dan blouse merah mudanya sudah duduk di hadapanku seraya menunjukkan deretan gigi putihnya.

Seperti biasa jari lentiknya senang mencapit pipiku sebagai salam pembuka tiap kali kami bertemu. Aku mengusap-ngusap pipiku yang kemerahan karena ulah kejahilan Jian.

 

“Kau pasti sudah lama menungguku, ya?” tanyanya seraya melepaskan tali tasnya yang bertengger di atas bahunya.

 

“Perbaiki sikapmu! Kapan sih kau akan tepat waktu?”

 

“Maaf, maaf.” ucapnya dengan nada penyesalan seraya memajukan bibir bawahnya beberapa senti. “Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ia mengangkat ibu jari dan telunjuknya, memastikan janjinya akan terlaksana.

 

Aku tak ingin menghitung sudah berapa kali ia mengucapkan ‘janji basinya’. Tapi di balik itu semua, aku senang melihatnya hari ini. Wajahnya memancarkan aura keindahan.

Betapa manisnya dia! Bagaimana bisa aku lepas dari pesona gadis lucu ini –mengabaikannya yang berstatus kekasih sahabatku. Tak perlu khawatir dengannya, bahkan sosokku hanya bayangan semu di dalam hatinya.

 

“Ada apa hari ini kau ingin bertemu denganku?”

 

Jian langsung mencondongkan tubuhnya, terlihat wajah gembiranya yang antusias untuk memberitahu.

 

“Karena kau adalah sahabatku, jadi kau orang pertama yang kuberi tahu hal ini.” jelasnya seraya memberikan wink andalannya.

 

Jujur saja, aku kurang menyukai predikat yang sudah lama kusandang ini.

Persetan dengan persahabatan! Entah aku harus marah padanya yang tidak peka dengan semua perhatian dan kasih sayangku atau mungkin marah dengan tindakanku yang salah jadi tak membuatnya mengerti hingga saat ini.

 

Tak lama ia membalik lengan kirinya, memperlihatkan benda bundar yang melingkar cantik di jari manisnya.

“Jungkook kemarin melamarku, Chim!” aura kebahagiaan menyeruak seketika dari pancaran wajah manisnya.

 

Tiba-tiba dadaku terasa sesak, kurasa pasokan oksigen di ruangan ini mulai menipis.

Perih! Aku mencoba mencari asal luka dalam gemingku.

 

“Kau tak ingin memberi selamat padaku, Chim?”

 

Lagi, hatiku terluka. Kali ini lukanya lebih dalam, ia berhasil merobek hatiku.

Cinta memiliki tangan sehalus sutra yang akan memanjakanmu dengan belaiannya. Tapi ia memiliki kuku tajam nan runcing yang siap merobek kulitmu dan meninggalkan bekas luka.

Beritahu aku Tuhan, bagaimana caranya membunuh perasaan ini?

 

“Selamat untukmu, semoga kau bahagia.” ucapku. Dijawabnya dengan senyuman manis dari bibir merahnya.

 

Aku akan mengutuk diriku untuk ini, haruskah kudoakan kau bahagia di atas perihku?

 

End.

 

Mind to review?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s