Part VIII : HIME (NEW)

HIME2

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Lu Han

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Lenght : Chapter

Disclaimer : Cerita murni milik author. Pernah publish di blog pribadi sebelumnya

Happy reading ^^

Sorry for typo ^^

Summary :
Sesuatu sudah terjadi pada dirinya. . .
Previous : VII

*

*

*

Saat Hime mengatakan jika mereka bisa kembali bersahabat seperti dulu lagi perasaan bahagia yang membuncah memenuhi hati Chanyeol. Kekosongan dalam dirinya selama ini seakan terisi kembali. Chanyeol berjanji akan selalu menjaga persahabatan mereka untuk kali ini. Tidak akan lagi membuat Himenya menjauh untuk kedua kalinya. Tetapi apakah benar hanya menjaga persahabatan itu saja yang Chanyeol inginkan?
Pada kenyataannya hati tak akan pernah sejalan dengan pikiran. Rasa mengganjal dan tak rela mendesak didada Chanyeol kala melihat dua muda mudi itu saling memadu kasih.
Muda mudi?
Memadu kasih?
Baiklah sepertinya itu terlalu berlebihan untuk pemikiran seorang Park Chanyeol. Muda mudi disini adalah pasangan Luhan dan Hime yang sedang memadu kasih dalam sebuah pemotretan. Catat! Hanya pemotretan! Bukan memadu kasih dalam artian sebenarnya.
Jadi dalam tema pemotretan kali ini Luhan dan Hime dipasangkan sebagai dua muda mudi yang sedang saling bertemu lalu jatuh cinta. Konsepnya adalah Hot and Chic. Dimana mereka harus saling melakukan banyak skinship dan juga terlihat mesra. Sebagai sang potografer, Park Chanyeol hanya menuruti skenarionya saja dan membuat arahan untuk dua orang itu agar hasil fotonya sempurna.
Tetapi sudah dikatakan dari awal kan bahwa ada perasaan mengganjal yang menyesakan hatinya.
Bagaimana cara Luhan dan Hime saling bertatapan intens satu sama lain
Bagaimana cara Luhan menyentuh lembut pinggang Hime
Bagaimana cara Luhan mencium lembut pipi Hime
Lalu bagaimana bisa Hime seolah menikmati itu semua
Beberapa kali Chanyeol harus menghembuskan napas panjang yang terdengar berat. Bahkan Chanyeol beberapa kali hilang fokus pada lensa kameranya.
Perasaan ini baru pertama kali. Tidak ketika Chanyeol menjadi fotografernya Yoonhee. Ya, Yoonhee bahkan sudah banyak berpasangan dengan model-model dan aktor-aktor tampan dalam sesi pemotretan tetapi Chanyeol tak pernah merasa risau.
Sesuatu sudah terjadi pada dirinya. . .
Anhi bukan dirinya tetapi hatinya.
Flashback
“Apa ini?” Tanya Chanyeol ketika Yoonhee menyerahkan sebuah map coklat diatas meja kerjanya. Wanita itu menatap wajah bingung Chanyeol sekilas sebelum mengucap,
“Surat cerai,”
Chanyeol menatap wajah Yoonhee lekat-lekat ketika dua kata itu terlontar dari bibir wanita itu.
“Aku rasa kita sudah tidak sejalan lagi,” lirih Yoonhee seraya menundukan kepalanya. Chanyeol hanya diam, memandangi map coklat yang masih teronggok diatas meja.
“Kau hanya tinggal menandatangani surat itu dan menyerahkannya kepengadilan,” Yoonhee mendongakan kepalanya memberanikan diri menatap wajah Chanyeol yang nampak mengeras, “Untuk sementara aku akan tinggal dirumah sepupuku.”
Chanyeol menghembuskan napasnya perlahan, “Baiklah jika itu yang kau mau,” Yoonhee menatap Chanyeol dengan tatapan tidak percaya.
Ya Tuhan semudah itukah Chanyeol menyetujui usulannya untuk bercerai. Padahal tujuan Yoonhee adalah hanya untuk menggertak pemuda itu saja. Yoonhee ingin melihat bagaimana perasaan Chanyeol padanya hingga detik ini.
“Ini tidak seperti dirimu, Chanyeol-ah,” sedih Yoonhee membuat Chanyeol menaikan sebelah alisnya tanda tak mengerti, “Kupikir kau akan kembali memperjuangkan cinta kita seperti yang kau lakukan dulu. Tetapi lihatlah, kau bahkan tidak memikirkan lagi apa yang kau katakan dan apa yang kukatakan. Kau seakan menganggap pernikahan kita ini permainan semata. Kita baru menikah dua bulan Chanyeol,” airmata Yoonhee perlahan jatuh, tangisannya pecah.
Chanyeol menyunggingkan senyuman mirisnya, “Apa katamu tadi? Pernikahan ini adalah permainan?” Chanyeol menatap tajam Yoonhee yang kini terisak karena tangisnya, “Kau yang memulai semua ini dengan permainan Yoonhee. Apa kau tidak sadar akan hal itu? Kau memulainya dan aku yang akan mengakhirinya!”
Yoonhee menggelengkan kepalanya pelan, merasa tak terima akan perkataan tajam Chanyeol barusan, “Kenapa kau bicara begitu? Aku yang memulai? Kenapa disini jadi aku pihak yang disalahkan?”
“Jadi aku harus menyalahkan siapa, huh? Hime? Itu yang kau inginkan kan! Ya, kau selalu berpikir Himelah yang salah disini. Kau selalu berpikir jika Hime mencoba merebut diriku darimu! Tidakkah kau bercermin dulu, seperti apa dirimu sebenarnya! Kau tidak lebih dari seorang wanita penipu yang mempermainkan hati orang yang sudah tulus mencintaimu!” Teriak Chanyeol marah. Yoonhee terdiam, tak mampu membalas tiap kata pria itu.
Chanyeol mendengus, “Son Minho mantan pacarmu itu sudah menceritakan semuanya padaku,” dan kali ini Yoonhee membelalakan kedua matanya tak percaya.
Jadi, Chanyeol sudah mengetahuinya? Sejak kapan?
“Semua sudah jelas bahkan sebelum kau dan aku mengucap janji suci. Tetapi aku terlalu baik saat itu untuk tidak membatalkan pernikahan dan meninggalkanmu,” Chanyeol mengepalkan kedua tangannya kuat, mengingat kembali percakapannya dengan Minho waktu itu. Mengingat betapa bodoh ia dipermainkan oleh hal yang dinamakan cinta.
“Mungkin aku memang bodoh. Aku terlalu bodoh,”
Flashback end
Chanyeol mengerjapkan kedua matanya dan tak terasa airmatanya jatuh begitu saja. Cepat-cepat Chanyeol mengusap pipinya yang basah airmata dengan lengan bajunya. Tanpa Chanyeol sadari, Hime tak sengaja melihat airmata itu. Chanyeol berdehem sejenak lalu kembali memfokuskan matanya lagi kelensa kamera. Namun fokusnya hilang dan penglihatannya mengabur. Chanyeol mengerjapkan kedua matanya berulang kali namun sayang, Chanyeol sudah kehilangan konsentrasinya.
“Kita break sebentar,” ujarnya kemudian. Lalu setelahnya Chanyeol berbalik untuk kemudian keluar dari ruangan studio. Hime yang memang sedari tadi melihat gerak gerik Chanyeol hanya bisa menghela napas panjang sebelum suara manis menyapanya.
“Kau haus?” Tanya Luhan yang hanya dibalas anggukan oleh Hime.
“Aku akan ambil minum. Mau jus atau air putih?” Tawar Luhan.
“Jus saja,” jawab Hime dan Luhan mengangguk mengerti. Setelahnya pria itu melesat untuk mengambil minuman yang kebetulan sudah disiapkan oleh para staf.
Tak lama kemudian Luhan kembali dengan segelas jus jeruk ditangannya serta sebuah cupcake berukuran sedang.
“Minumlah dan ini,” Luhan juga mengangsurkan cupcake yang dibawanya tadi pada Hime, “Kulihat tadi kau belum makan apapun. Ini cukup untuk mengganjal perutmu sebelum makan siang nanti,” Hime menerima cupcake yang diberikan Luhan.
“Xie xie,” senyuman tulus yang diberikan Hime entah kenapa langsung menular pada Luhan. Tanpa ia sadari sudut bibirnya sudah tertarik keatas membuat sebuah lengkungan yang indah. Sungguh, Luhan memang tampan dan jemarinya terasa lembut ketika mengusap sudut bibir Hime yang terkena krim dari kue yang dimakannnya.
“Lapar ya?” Tanya Luhan tak kalah lembut yang membuat semburat merah muncul dipipi Hime.
“Huum,” jawab Hime yang mendapat kekehan pelan dari Luhan.
“Setelah ini kita makan siang, hum?”
Dan Chanyeol hanya bisa melihat keakraban itu. Tanpa sadar kedua tangannya sudah mengepal erat disisi tubuhnya. Senyuman lemah tersungging dibibirnya sebelum memalingkan wajahnya kearah lain,
“Jadi begitu?”
Flashback
Entah perasaan Chanyeol atau memang benar adanya jika Ketua Osis sekolahnya sekaligus ketua Tim Basket anak kelas sebelas, Luhan, selalu memerhatikan Hime. Beberapa kali Chanyeol memergoki Luhan yang tengah sibuk memandangi Hime yang kebetulan sekarang adalah manager tim basket mereka.
“Hyung,” tepukan Chanyeol dibahu Luhan menyadarkan pria itu yang sedari tadi sedang melamun, atau lebih tepatnya memandangi wajah Hime yang sedang sibuk mengumpulkan bola-bola basket bekas latihan mereka kedalam keranjang.
“Eoh, wae?” Luhan mengusap tengkuknya lalu menatap Chanyeol yang kini berdiri disampingnya.
“Hyung sedang melihat apa?” Tanya Chanyeol kemudian.
Luhan menaikan sebelah alisnya, berpikir sejenak, “Tidak. Tidak ada. Hanya sedang memikirkan tentang perlombaan kita minggu depan,” jelas Luhan kemudian yang jelas-jelas bohong. Chanyeol pura-pura mengerti dan menganggukan kepalanya. Luhan kembali menatap kearah Hime yang kini sedang berbincang dengan Kris, kapten basket mereka.
Hembusan napas panjang keluar dari bibir Luhan membuat Chanyeol semakin yakin jika. . .
“Dia manis kan?” Entah pertanyaan Luhan itu diperuntukan pada siapa, Chanyeol mengerutkan dahinya lalu ikut mengalihkan tatapannya pada Hime yang kini nampak tersenyum pada Kris.
‘Dia manis,’
Flashback end
*
*
*
Luhan tak bisa menyembunyikan senyumannya ketika kini dirinya bisa memandangi wajah cantik Hime dengan leluasa. Hime duduk dihadapannya sekarang, menyantap menu makan siang dengan lahap semetara Luhan hanya menjadi pemerhati saja. Tak berniat sedikitpun menikmati daging sirloinnya yang mulai mendingin. Rasanya perut sudah kenyang ketika memandangi wajah Hime dengan begini dekat.
“Sunbae tidak makan?” Tanya Hime ketika mendapati makanan Luhan masih utuh. Bukannya menjawab, pria itu malah tersenyum lalu menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap mata bulat Hime.
“Kau tidak berniat punya kekasih?” Tanya Luhan tiba-tiba yang hampir membuat Hime menyemburkan air yang baru saja diteguknya. Hime tertawa hambar sebelum meletakan kembali gelasnya keatas meja dengan kikuk.
“Kenapa tiba-tiba bicara hal itu?” Hime menundukan kepalanya, keatas piringnya yang sudah kosong, “Kita sudah pernah membahasnya kan dan berakhir dengan pertengkaran.”
“Apa itu artinya kau masih menyukai Chan-“
“Tidak!” Secepat kilat Hime mengatakan hal itu, bahkan setengah berteriak hingga bebeberapa pengunjung restoran menoleh kearah mereka.
“Kenapa kau histeris begitu?” Luhan terkekeh pelan membuat Hime menggerutu.
“Habisnya, kau selalu membahas hal itu berulang kali,”
“Maaf, maaf,”
Hime nampak bersungut-sungut, masih tak terima dengan perkataan Luhan barusan. Sedang pria itu, perlahan senyuman diwajahnya memudar.
‘Apa benar kau sudah tidak memikirkannya lagi?’
Flashback
Luhan tahu perasaannya mulai tak biasa pada gadis bernama Hime itu. Jantungnya selalu berdebar tak beritme jika mereka saling bertegur sapa, bibirnya akan terkembang membentuk lengkungan indah setiap melihat wajah cantik gadis itu, dan pipinya akan terasa panas jika Hime melontarkan pujian padanya. Semua menjadi tak biasa dan Luhan menyukai hal itu. Hal-hal yang entah mengapa membahagiakan untuk dirinya.
Tetapi Luhan cukup tahu jika Hime hanya memfokuskan matanya pada sosok tinggi yang sekarang sedang bermain basket ditengah lapangan. Luhan tahu jika tatapan mata itu sungguh berbeda dengan tatapan mata Hime padanya.
Bisa Luhan tebak.
Hime menyukai Chanyeol.
Tinggal menunggu waktu saja hingga Hime mengungkapkan perasaannya.
Dan dilihat dari sikap Chanyeol yang perhatian pada Hime dipastikan bahwa kedua orang itu tak lama lagi menjadi sepasang kekasih.
Lalu Luhan?
Ck. Luhan hanyalah seseorang yang baru mengenal Hime. Mereka tak cukup dekat dan bisa dipastikan Luhan sudah kalah dari awal. Jadi untuk apa mendeklarasikan perasaannya? Toh, Luhan hanya sebatas mengagumi sosok Hime. Bukan mencintai sungguhan?
Namun. . .
Semua dugaan Luhan meleset.
“Loh, Hime? Sendirian?” Tanya Luhan ketika mendapati Hime hanya seorang diri menunggu bus dihalte. Gadis itu tersenyum tipis lalu mengangguk. Luhan menganggukan kepalanya lalu kemudian mengambil tempat duduk disamping Hime.
“Tumben sekali Chanyeol tidak pulang bersamamu,”
“Chanyeol pulang bersama pacar barunya,” terang Hime santai, seolah apa yang dikatakannya bukanlah apa-apa. Luhan menatap sisi wajah Hime yang kini tengah sibuk melihat arah jalanan. Ekspresi wajah gadis itu nampak biasa, tanpa beban.
“Chanyeol punya pacar?” Tanya Luhan kemudian dan Hime mengangguk lalu tersenyum sebelum menolehkan kepalanya kearah pemuda itu.
“Chanyeol cukup populer dan tentu saja dia bisa punya pacar,”
Luhan mengerjapkan kedua kelopak matanya tak percaya jika dugaannya selama ini salah besar.
“Ah, busnya datang!” Teriak Hime lalu segera beranjak dari duduknya meninggalkan Luhan yang masih terpekur dengan pemikirannya sendiri.
‘Jadi sebenarnya bagaimana perasaan Hime pada Chanyeol?’
Ada perasaan lega dihati Luhan saat itu. Bukankah itu artinya persepsi Luhan bahwa Hime menyukai Chanyeol itu salah?
Dan itu artinya Luhan masih punya kesempatan?
Eh, tunggu! Kesempatan?
Kesempatan untuk apa?
Untuk menyatakan bahwa ia. . .
Menyukai Hime. . .
Luhan seketika memegang dada sebelah kirinya yang mulai berdetak tak terkendali. Kedua matanya sontak membulat.
“Solma. . .,”
Tetapi pada akhirnya Luhan harus menelan pil pahit.
Hime memang mempunyai rasa suka pada Chanyeol.
Lebih dari sekedar sahabat.
Itu semua diketahui Luhan tanpa sengaja. Yeeah, walau sebenarnya karena rasa ingin tahunya yang berlebihan.
Seharusnya Luhan tak usah masuk kekelas Hime saat itu.
Saat itu sudah sore, Luhan yang menyadari Hime akhir-akhir ini pulang sendirian bertekad untuk selalu menemani gadis itu menunggu bus dihalte. Tetapi ketika Luhan menginjakan kakinya dikelas Hime, gadis itu tidak ada disana. Hanya dua teman Hime yang sepertinya baru hendak keluar kelas.
“Luhan sunbae,” sapa kedua gadis itu ramah. Luhan tersenyum,
“Apa Hime sudah pulang?” Tanya Luhan kemudian.
“Eoh, Hime?” Gadis itu menoleh kebelakang lalu menunjuk meja Hime, “Tasnya masih ada.  Dia tadi mengantarkan kertas hasil ujian keruangan Cho-Saem,” lanjut gadis itu.
“Hum, begitu,” Luhan menganggukkan kepalanya mengerti.
“Tunggu saja sunbae. Mungkin sebentar lagi dia kembali,” ujar salah satunya lagi dan Luhan kembali mengangguk.
Jadilah, Luhan menunggu dikelas, sendirian. Pemuda itu mengambil tempat duduk dibangku yang ditempati oleh Hime. Tas punggung gadis itu masih tergeletak diatas meja dengan posisi resletingnya terbuka.
Awalnya Luhan hanya diam memerhatikan tas itu tetapi entah ada dorongan dari mana, Luhan perlahan menyingkap tas punggung Hime hingga menampakan isi didalamnya. Tidak terlalu banyak buku disana, hanya sebuah buku cetak tebal dan beberapa buku berukuran sedang. Tetapi diantara buku itu semua ada sebuah buku yang menarik perhatian Luhan.
Sebuah buku bersampul tebal dengan tulisan hangul di permukaannya,
Park Chanyeol.
Luhan terlalu ingin tahu apa isi buku itu hingga tanpa perduli dirinya akan ketahuan, Luhan membuka halaman buku itu satu demi satu.
Kedua matanya melebar kala disana terdapat foto-foto Chanyeol dan beberapa note kecil disana.
Tebakannya tak meleset kan. Hime menyukai Chanyeol. Tidak. Lebih dari itu, Hime mencintai Chanyeol lebih dari yang ia bayangkan.
“Sunbae,”
Hime menatap wajah Luhan yang nampak pucat karena sudah ketahuan mengintip tasnya. Terlebih lagi buku milik Hime yang dipegang pemuda itu.
“I, ini, aku tidak,” Luhan tergagap sementara Hime menuju kearahnya dengan ekspresi wajah tak terbaca.
“Hime, aku,” Luhan tercekat ketika kini Hime sudah ada dihadapannya.
“Anggap saja sunbae tidak melihat dan membacanya,” Hime mengambil buku yang ada ditangan Luhan lalu memasukannya kembali kedalam tas.
“Mianhae, aku tidak bermaksud,” Luhan menundukan kepalanya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa. Sunbae tak perlu merasa bersalah. Tetapi,” Luhan mendongakan kepalanya, menatap Hime, “Berjanjilah padaku, sunbae tidak akan membocorkannya pada siapapun,”
Perlahan Luhan menganggukan kepalanya yang disambut senyuman oleh Hime.
“Ayo kita pulang!” Ajak Hime kemudian dengan nada ceria seolah kejadian tadi bukanlah masalah untuknya.
Hal itu tentu membuat Luhan merasa lega. Tetapi sekaligus sakit yang dirasakannya. . .
Sepertinya benar jika ia mulai jatuh cinta pada gadis itu.
Flashback end
“Jika sunbae terus saja melamun aku pastikan yang akan menghabiskan semua makanan ini,” tegur Hime yang membuat Luhan tersentak.
“Hmmm?” Sahut Luhan.
“Jadi semua untukku?” Hime mencomot makanan dari piring Luhan sebelum memakannya dengan santai. Luhan mendelik,
“Hei!”
“Hahaha,”
*
*
*
Fin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s