[OneShot] Blue’s Series – Ahjussi, Saranghae!

ajusshi-saranghae

Thanks for Beautiful Poster by GitaHwa@PosterOrder

Title: Blue’s Series – Ahjussi, Saranghae!

Author: @Miithayaaaa

Genre: Romance, Comedy, Family

Length: OneShot

Cast:

  • CN BLUE’s Jonghyun as Lee Jonghyun
  • SNSD’s Yoona as Im Yoona

Support Cast:

  • Lee Hana

Rate: PG-15

.

│B│LUE

.

 

“Ommaaaaaa!!!!”

Hana, gadis kecil mungil berusia lima tahun berlari ke arah Yoona yang berdiri di stan penjual accessories, sibuk memilih ini dan itu.

Dia berbalik ke arah Hana yang memanggil dan melambaikan tangannya gembira. Dia menunggu sampai gadis mungil itu berdiri di hadapannya.

“Hana-ya, kau dari mana saja?” Tanya Yoona membungkuk tangan bertumpu di lutut.

“Aku habis menjahili badut Panda di ujung sana. Kau tahu, dia berputar-putar untuk menangkapku, dan akhirnya dia jatuh karena lelah.” Ceritanya penuh semangat.

Keureu?” Tanggap Yoona semangat.

Hana tertawa menceritakan bagaimana badut Panda yang ia kerjai di dekat arena rumah pohon. Tangannya melebar memberitahu bentuk Panda yang besar dengan semangat. Pipinya semakin chubby ketika dia tertawa seperti appa-nya.

“Apa yang omma beli?” Hana mengintip stan accessories yang ada di belakang Yoona.

Yoona mengikuti arah pandangnya. Kemudian dia tertawa kecil. Dia menarik Hana untuk mendekat. “Aku sedang memilih bando kelinci untukmu, apa Hana suka?”

Mata Hana berbinar mendengar itu, dia mengangguk semangat dan langsung menunjuk dimana bando kelinci yang dia inginkan. “Hana suka ini!” Bando kelinci berwarna merah muda dengan campuran putih yang panjang. “Omma juga harus memakainya!” Hana juga mengambilkan satu dan langsung di serahkan pada Yoona.

Yoona melirik ahjumma yang sedang melihat dia ganjil dengan anak kecil yang memanggilnya ‘omma’.

Ah! Dia baru sadar, orang-orang pasti bertanya-tanya kenapa di usianya yang masih muda sudah memiliki seorang putri yang berumur lima tahun. Beberapa menit dia merasa risih dengan tatapan ahjumma ini. Jadi dia mendekatkan wajahnya dan berkata pada Ahjumma “Jangan salah paham.. dia bukan anakku, kami hanya berpura-pura menjadi anak-ibu, seperti permainan.” Yoona menggerakan kedua jari telunjuknya sebagai perumpamaan, lalu tersenyum canggung. Kemudian dia mengeluarkan uang membayar belanjaannya. Ahjumma penjual menaikkan alis dan mengangkat bahu, bingung.

“Ayo, Hana!” Ajak Yoona menarik Hana untuk melanjutkan tour mereka di Lotte Mart.

“Yoona imo, apa yang imo katakan pada ahjumma tadi?” Tanya Hana penasaran.

“Tidak ada, hanya memintanya untuk menurunkan harga” Jawab Yoona bohong menggelengkan kepala sambil tertawa. “Ah! Hana, jangan memanggilku ‘omma’ di depan banyak orang.” Kata Yoona hampir berbisik di telinga Hana.

Satu alis Hana naik, bingung. “Keunde, Imo yang menyuruhku untuk memangil ‘omma’.”

“Itu kalau di depan appa-mu saja. Oke?” Ujar Yoona menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah dengan maksud tertentu dari ucapannya.

Dahi Hana berkerut, berpikir. “Oke!!” Hana mengangguk setuju, walaupun dia masih belum mengerti maksud dari ucapan Yoona.

Yoona menggenggam tangan mungil Hana. “Sekarang, kemana kita harus pergi?” Tanya Yoona dengan logat ‘Dora’ yang bertanya pada peta dimana mereka selanjutnya pergi.

“Permen kapaaaass!!!” Jawab Hana semangat mengangkat satu tangannya yang bebas.

“Dan apa yang harus kita lakukan?”

“Jangan beritahu Appaaa!!!”

Mereka tertawa dalam kegembiraan dengan hari libur yang mereka habiskan di Lotte Mart. Yoona butuh perjuangan untuk membawa Lee Hana ke taman bermain seperti ini. Pasalnya, melihat ayahnya yang super tampan nan sangat sensi padanya bernama Lee Jonghyun yang sangat dia sukai, ralat, dia cintai, membutuhkan waktu berjam-jam membujuk single parent satu ini untuk menyetujui berlibur dengan anaknya.

Orang-orang bilang, jika kau ingin mendapatkan ayahnya, maka kau harus bisa mengambil hati anaknya dulu.

Jadi inilah yang di lakukannya. Bukan berarti dia tidak menyukai Hana, tentu saja dia menyukai Hana, bahkan juga mencintainya seperti dia mencintai ayahnya, Lee Jonghyun. Setidaknya, jika dia sudah mendapatkan hati anaknya, bukankah ini poin bagus untuk mendapatkan ayahnya. Hahaha! Ini seperti berenang sambil minum air.

***

Im Yoona mahasiswi berumur dua puluh dua tahun yang tergila-gila dengan duda keren yang berumur tiga puluh dua tahun bernama Lee Jonghyun. Seorang pengacara sipil yang handal dan juga tampan.

Sudah hampir tiga tahun dia mencoba untuk memenangkan hati single parents satu ini, namun sangat sulit untuk mendapatkannya. Di mulai dari mendaftarkan dirinya di Fakultas Hukum di Universitas Seoul, yang bertujuan jika suatu hari dia memulai praktek dia akan memilih ditempat Jonghyun bekerja, dan jika dia bekerja dia akan bekerja di tempat Jonghyun. Ini menyempurnakan waktu untuk bertemu dengan Jonghyun, dirumah dan di kerjaan.

Keberuntungan memang berada di pihaknya, saat Yoona tahu kalau Jonghyun adalah dosen pengganti dari Prof. Choi yang mengajar di kelasnya. Dia berteriak di toilet, tentu saja. Jika dia berteriak di kelas dia akan mendapatkan lemparan sepatu dari teman-teman sekelasnya.

Musim panas tiga tahun lalu mungkin jadi hal terburuk bagi Lee Jonghyun, tapi hal yang paling bersejarah bagi Im Yoona karena pertemuan pertama mereka. Ketika Yoona pulang liburan dari Singapore, berniat untuk mengejutkan paman kesayangannya Kim Donghyub yang memiliki nama beken Kim Woobin. Yoona memasuki kamar dan mendapati pamannya yang tidur di bawah selimut langsung menerjang naik di atasnya seperti kuda-kudaan. Memukul-mukul punggungnya untuk berjalan.

Yoona tertawa mendengar erangan lelaki di bawah selimut itu, namun tawanya segera berubah menjadi panik, ketika malaikat kecil mungil menimbulkan kepalanya dengan mata mengantuk. Dia terduduk lemas jatuh kesamping, dan kepanikannya bertambah saat melihat tubuh yang di naikinya bergerak, menampakkan sisi belakang kepalanya.

“Sayang, kau sudah bangun?” Tanya lelaki itu dengan suara berat pada gadis kecil disampingnya, yang menatap aneh ke samping ayahnya. Lelaki itu mengikuti tatapan Hana ke arah Yoona yang terbengong.

Jonghyun berbalik dan menatapnya penuh tanda tanya. Hanya beberapa detik untuk mengembalikan kesadaran Yoona kalau yang di depannya bukan pamannya, melainkan orang lain dengan wajah tampan bertelanjang dada, seketika dia menjerit sekuat-kuatnya membuat Hana dan Jonghyun menutupi telinga mereka.

Pertemuan pertama berlanjut menjadi pertemuan kedua, ketiga, keempat, seterusnya dan seterusnya.

Ke rumah Jonghyun setiap pagi adalah kewajiban bagi Yoona sebelum dia pergi ke kampus, dia mengetuk dengan memasang senyum mega wattnya dengan alasan mengantar sarapan. Awalnya memang Jonghyun kesal dengan tingkah Yoona, dia memarahinya, memperingatinya, bahkan memberinya ultimatum pada Yoona, tapi apa daya, Yoona hanya mengabaikan seperti angin yang berhembus. Bahkan Yoona juga datang kekantornya hanya untuk menyapanya atau menganggunya. Yoona bahkan bermain-main menjadi Kliennya untuk menuntut Jonghyun yang tidak memperbolehkannya menemuinya.

Pamannya, Kim Woobin yang merupakan sahabat Jonghyun juga tak habis pikir dengan Yoona. Ketika Yoona mengatakan bahwa ia jatuh cinta dengan Ahjusshi tampan yang merupakan sahabatnya, pamannya bereaksi dengan mulut terbuka dan menggantung sedangkan yang bercerita memutar mata histeris membayangkan hal-hal manis yang ada di kepalanya. Woobin menepuk jidatnya, pusing dengan tingkah keponakannya. Jika kupingnya bisa berteriak minta tolong ketika Jonghyun selalu mengomel dan terus mengomel tentang Yoona yang terus mengganggunya, mungkin kupingnya akan meledak saat itu juga.

Yoona, bagaikan perangko yang menempel pada surat.

Sebagai awal pendekatan, Yoona memulai dengan mendekati anaknya, Lee Hana. Hana gadis yang lucu, dia cantik seperti ibunya dan menawan seperti ayahnya. Hana memiliki lesung pipi sama seperti ayahnya yang membuat dirinya terlihat lebih cantik ketika dia tersenyum. Sifatnya yang ceria benar-benar cocok dengan Yoona yang juga periang. Mereka tertawa, bernyanyi, menari bahkan Yoona kadang-kandang menjemputnya di sekolah.

Tiada hari tanpa omelan Jonghyun. Pernah satu hari ketika Jonghyun pulang dari kantornya, dia melihat Yoona dan Hana yang sedang asyik bernyanyi. Hana memegang sapu sebagai pengganti gitar dan Yoona memegang mic dengan ikat kepala, mereka menyanyi melantunkan lagu rock Ready N Go dari CN Blue, berteriak, berjingkrak, membuat Jonghyun menutup telinga. Jonghyun memanggil, tapi tak ada satupun dari mereka yang merespon dan masih berteriak tak karuan lari dari alunan musik. Hingga sampai Hana berbalik, dan mendapati Jonghyun yang berkacak pinggang. Hana spontan berdiri mematung membuat sapu jatuh begitu saja, juga takut. Kemudian dengan tangan mungilnya dia mencoba menarik-menarik ujung baju Yoona untuk berhenti. Tapi Yoona tetap asyik sendiri, sampai Jonghyun berjalan dan mematikan musik. Yoona ingin protes, namun saat melihat Jonghyun berdiri di sampingnya dengan tatapan garang, seketika dia menegakkan tubuhnya. Tersenyum canggung menunjukkan deretan gigi dan berkata,

Annyeong.

Dan lagi,

Ketika Yoona ingin membantu Jonghyun untuk menata ruang kerja dan membantunya, Yoona tak sengaja menjatuhkan plakat yang Jonghyun beli dari Italia karena terlalu bersemangat ingin berdua dengan Jonghyun. Hal hasil, bukannya mendapat ucapan terima kasih, Yoona malah dapat omelan dan kabur setelah mengatakan “Mian.” dengan cengiran di wajahnya.

Dan lagi,

Ketika Jonghyun pulang melihat rumah berantakan akibat Yoona dan Hana yang menjadikan rumah sebagai salon. Kain berserakan, lantai bercak kaki mereka sepanjang lorong, dan juga melihat wajah Hana yang penuh riasan wanita dewasa serta bibir merah delima, benar-benar membuat emosi Jonghyun meledak. Sampai akhirnya, Hana tidak di izinkan untuk bertemu dengan Yoona selama dua hari.

Namun, dari semua perbuatan Yoona yang Jonghyun benci. Dia benar-benar khawatir saat Hana menelpon dan menyuruhnya pulang karena Yoona mengalami sakit perut dan wajahnya terlihat pucat. Hana menangis dan takut terjadi apa-apa pada Yoona, karena dia mencintainya seperti ibunya sendiri. Jonghyun pulang secepatnya, mengurus Yoona dan memberitahu Hana bahwa Yoona baik-baik saja.

Yoona percaya, suatu saat Jonghyun akan jatuh padanya. Jonghyun akan mencintainya. Jonghyun akan menerimanya. Batu yang keras saja bisa terkikis oleh air, apalagi hati manusia yang lembut.

***

Jonghyun menghempaskan punggungnya di kursi, melonggarkan dasinya dan memejamkan matanya sejenak. Dia menghela napas panjang mengingat kasus yang ia tangani belum menemukan titik terang. Selama dia menjadi seorang pengacara, baru kali ini dia mengerjakannya sampai berlarut-larut tanpa hasil, biasanya hanya seminggu dia bisa memecahkan kasus dan membersihkan nama kliennya dari tuduhan-tuduhan kejahatan.

Jonghyun memijat pelipisnya ringan menghilangkan rasa denyut di kepalanya. Kasus pembunuhan Ahn Jae Hyun ini benar-benar membuatnya sakit kepala, mungkin sedikit bantuan dari pamannya Choi Yoon bisa membantunya. Jonghyun meraba saku jasnya mengambil ponsel berdering yang mengganggu konsentrasi.

Collin.” Sapa temannya Kim Woobin dari sebrang.

Jonghyun mendesah. “Jonghyun, Lee Jonghyun. Aku sudah pensiun dengan nama Collin.”

Jonghyun mendengar tawa temannya dari sebrang. “Aku masih heran, nama belakang abeoji-mu itu Kim, kenapa kau memakai Lee sebagai nama belakangmu?

“Ayahku itu ada empat, jadi terserah ku mau pakai yang mana. Kenapa sih, kau selalu ikut campur dalam urusan namaku.” Jawab Jonghyun acuh.

“Tenang, tenang. Kau terdengar menakutkan, kau tahu? Kenapa? Yoona?” Goda Donghyub. Temannya ini suka membuatnya kesal.

“Yoona itu sudah hantunya membuat ku kesal, jadi tak usah diragukan lagi. Dia memang membuatku pusing.”

Tapi dia manis, kan?”

“Iya.” Jonghyun spontan menutup mulutnya, dia memukul-mukul mulutnya pelan dan merutuki dirinya yang keceplosan. Sekarang temannya pasti tertawa puas sekarang.

“Tertawalah, Donghyub.”

Woobin, Kim Woobin. Aku sudah pensiun dengan nama Kim Donghyub. Panggil aku Dr. Kim Woobin.” Kata Donghyub tersenyum bangga, walaupun dia tahu kalau Jonghyun tidak bisa melihatnya.

“Kau memakai kalimatku Woobin. Ada apa, sih?”

Jongsuk mengajak keluar nanti malam, kau bisa?”

“Aku tidak bisa. Aku harus menyelesaikan kasus ini secepatnya-“

“Dan menikahi keponakanku secepatnya, kan? Bye.” Potong Woobin dan langsung menutup telepon, dia tahu sedetik kemudian temannya akan berteriak padanya.

“YAH!!!” Teriak Jonghyun, lalu menatap ponselnya yang sudah kembali ke layar semula.

Keponakan dan paman sama saja, benar-benar menjengkelkan.

Jonghyun melemparkan ponselnya begitu saja di atas meja. Dia menjatuhkan tangannya di atas meja dan mengusap wajahnya. Kemudian dia menatap bingkai foto istrinya yang terpajang manis di depannya. Gong Seungyeon, betapa dia sangat mencintai almarhum istrinya itu sampai sekarang. Mereka bertemu ketika awal semester perguruan tinggi, dan Jonghyun langsung jatuh cinta dengannya. Lalu mereka memutuskan untuk menikah setelah lulus kuliah. Dia berjanji pada Seungyeon, hanya dia wanita yang ia cintai, dan satu-satunya. Kematian Seungyeon saat melahirkan Hana benar-benar membuat Jonghyun terpukul. Dia terpuruk dalam kesedihan berbulan-bulan, sampai ayah kandungnya Kim Do Jin, memukul wajahnya, bahwa dunianya tidak berhenti sampai disitu. Dia masih memiliki tanggung jawab untuk anaknya. Dari situ, dia bertekad dan bangkit untuk menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Sampai suatu ketika Yoona datang di kehidupannya.

Semuanya berubah. Dia tidak bisa berbohong, ada kalanya, kalau Yoona juga menggetarkan hatinya.

Ponsel Jonghyun bergetar menandakan pesan masuk, dia mengambil dan membukanya. Dia tersenyum melihat satu pesan gambar dari putrinya. Yoona dan Hana berpose lucu memanyunkan bibir mereka dan menunjukkan ice cream vanilla ke arah kamera.

‘Satu ice cream buat appa tercinta, fighting! aku mencintaimu appa’

Jonghyun tersenyum lagi, melihat putrinya benar-benar lucu. Sekarang matanya beralih ke arah wanita dengan mata coklat gelap di sampingnya. Dia mendesah.

Apa yang harus ku lakukan denganmu, Yoona?

 

***

“Selamat pagi!” Sapa Yoona dengan senyum ceria ketika pintu terbuka, menunjukkan bekal pancake yang ia buat di rumah ke arah wajah Jonghyun.

Jonghyun hanya melengos, melarang masukpun juga tidak ada gunanya, Yoona akan tetap masuk pula.

Eomma!!” Jerit Hana dari dalam, berlari kecil menghampiri Yoona, yang langsung disambut Yoona dengan pelukan hangat.

“Eomma?!” Seru Jonghyun tak percaya. “Yah Yoona, kau mencuci otak anakku?” Tanya Jonghyun dengan tatapan tak percaya.

“Hahaha. Kau lucu, ajusshi. Kau pikir wajahku seperti tampang seorang hipnotis?” jawab Yoona terkekeh. “Asal tahu saja, anakmu sendiri yang mau memanggilku seperti itu. Ya kan, Hana?”

Hana mengangguk semangat. Jonghyun mengerutkan keningnya masih curiga. Dia menarik Hana dan berbisik, “Kau di sogok apa padanya sampai mau memanggilnya ‘eomma’?”

Hana mengerut lucu. “Sogok apa, appa?” Tanya Hana polos.

“Ajusshi, apa yang kau katakan pada Hana, apa kau sadar, kau secara tidak langsung megajarkannya yang tidak-tidak.” Rewel Yoona menarik Hana kembali.

“Kau berbicara seakan-akan kau lebih baik dariku saja.” Sembur Jonghyun, menatap sepele pada Yoona.

“Aku memang lebih baik darimu, kau tahu?”

“Kalau kau lebih baik dariku, kau tidak akan mendapatkan nilai E dari hasil ujian testmu.” Jawab Jonghyun tak mau kalah.

Hidung Yoona mengembang kesal. “Kenapa kau membawa hasil ujian testku. Lagian itu karena kau Profesornya, kau membawa urusan pribadimu pada hasil testku, sesungguhnya aku orang yang pintar.”

Hana menatap dua orang dewasa di sisinya bergantian, saling adu melotot, dia heran kenapa orang dewasa suka sekali bertengkar. Bukankah ibu guru mengajarkan untuk saling berteman, kenapa appa-nya dan Yoona imo selalu bertengkar. Hana menggelengkan kepalanya pusing seperti orang dewasa, halooo!! Apakah mereka tidak tahu bahwa ada seorang anak kecil kelaparan di antara mereka. Hana merangkak diam-diam keluar dari pertengkaran antara Yoona dan Jonghyun, dan seketika dia menjerit heboh membuat Jonghyun dan Yoona beralih dan berlari mengahampiri Hana yang menutup wajahnya.

“Ada apa Hana?”

Wae wae wae?”

Tanya Yoona dan Jonghyun berbarengan, panik, memeriksa seluruh tubuh Hana apakah ada yang salah. Hana menurunkan tangannya, matanya melirik bergantian ke Yoona dan Jonghyun yang menunggunya was was. Lalu dia menyengir, berkata. “Perutku bunyi, aku lapar.” Yang membuat Jonghyun terduduk lemas karena lega dan Yoona hanya mendesah.

“Ini semua karena kau, harusnya kau memberikan pancakenya dulu.”

“Kenapa jadi menyalahkanku, Ajusshi duluan yang mengajakku bertengkar.”

Hana mendesah dan menepuk jidat, dasar orang dewasa. Sulit dimengerti.

“Bisakah kita langsung makan saja? Hana beneran lapar, tahu!” Sela Hana mulai kesal, menaiki kursi makan dan memukul sendok ke piring membuat keributan.

Jonghyun mengikuti anaknya duduk di meja makan, sedangkan Yoona yang masih berkomat-kamit kesal pergi ke dapur untuk membuat telur dadar seperti biasa, karena dia sangat tahu ayah dan anak tidak akan bisa sarapan tanpa telur dadar untuk pembuka.

Appa, apa kau ingin ikut berkebun dengan Yoona imo?” Tanya Hana menggoyangkan kakinya dibawah meja selagi menunggu Yoona memasak telur dadar.

“Tidak, terima kasih.”

Waeyo? Ini akan mengasikkan kalau appa ikut juga, lagian berkebunnya juga di depan rumah.”

“Tetap tidak, sesuatu akan terjadi jika appa bergabung dengan kalian.” Jawab Jonghyun sambil menyesap kopinya, karena dia tahu, sesuatu yang dikerjakan bersama Yoona akan menjadi malapetaka.

Saat itu juga, Yoona datang dan membawa dua piring kecil yang berisi telur dadar, setengah untuk Jonghyun dan telur dadar penuh untuk Hana.

“Yah, kenapa punyaku hanya setengah?” Protes Jonghyun.

“Karena setengahnya lagi untukku, kita berbagi, bukankah romantis.” Jawab Yoona mengedipkan mata.

“Ooooooohh.” Sorak Hana terkekeh.

Jonghyun berkedip kaku. Sejak kapan kedipan matanya berefek padaku. Lalu dia berdehem, melototi Hana untuk diam, dan menggerutu pelan. “Romantis dari Hongkong.”

***

Cuaca cerah hari libur menyempurnakan rencana Hana dan Yoona untuk berkebun di depan rumah. Membuat kebun sederhana yang berisi bunga-bunga mawar berbagai warna. Jonghyun yang duduk di teras rumah ditemani secangkir kopi dan Koran harian mengawasi Hana dan Yoona yang cekikikan yang membuatnya juga ikut menyinggungkan senyum di bibirnya.

Tanpa Jonghyun sadari kalau dia sudah menatap Yoona terlalu banyak, juga tanpa di sadari Jonghyun sudah terlalu banyak tersenyum ketika Yoona melakukan sesuatu yang jahil pada Hana, dan ketika Yoona tersenyum, jantungnya seperti ingin meledak.

Astaga.. Sadar Jonghyun, sadar. Apa yang merasukimu. Kata Jonghyun merutuki dirinya dalam hati. Kemudian dia tersenyum ketika putrinya melambaikan tangan padanya yang ia balas dengan dengan lambaian juga.

Pernah terbesit dalam pikiran kalau dia ingin mencari Ibu untuk Hana, yang bisa menjaga Hana, mengajari Hana tentang sesuatu yang ia tidak bisa ajarkan sebagai seorang ayah, dan memberikan kasih saying seorang ibu untuk Hana. Jonghyun sangat ingat ketika suatu hari Hana pulang sekolah dengan wajah sedih karena di jauhi teman-temannya dengan alasan Hana tidak memiliki Ibu, dan itu juga membuatnya sangat sedih. Tapi bagaimana pun juga dia bersyukur, semenjak ada Yoona, setidaknya Hana tidak merasa kesepian.

Appa!!”

Byuuuuuurr!!

Jonghyun tersentak kaget ketika semprotan air dari Hana mengenai wajahnya. Dia menggunakan kedua tangannya melindungi tubuhnya dari semprotan lalu berdiri dan mencoba mendekati Hana untuk menghentikannya. Dia memperingati Hana untuk berhenti, tapi Hana tidak mendengarkan dan hanya tertawa yang diikuti Yoona tertawa keras di sampingnya.

“Hana! Stop!!”

Bentak Jonghyun ketika sudah dekat dengan Hana dan Yoona. Yoona berdehem canggung, sedangkan Hana menjatuhkan selang air begitu saja dan bersembunyi di belakang kaki Yoona. Dia melirik wajah ayahnya takut karena Jonghyun memasang wajah marahnya. Hana juga menelan ludah gugup, kalau ayahnya akan menghukumnya.

“A-ajusshi.. Ha-Hana hanya bercanda, jangan memarahinya. I-ini ideku pula.” Ucap Yoona terbata, dia juga takut dengan tampang sangar Jonghyun.

Jonghyun melirik ke Hana yang bersembunyi di belakang kaki Yoona, lalu mengambil selang air yang tergeletak ditanah begitu saja. “Hana, keluar.”

“A-ajusshi..”

Hana mengikuti perintah ayahnya keluar dari persembunyiannya walaupun takut-takut ia tetap lakukan. Jonghyun melirik tajam ke Hana lalu bergantian ke Yoona yang menggeleng dengan maksud jangan menghukum Hana.

Lalu beberapa detik kemudian tanpa Yoona sadari semprotan air sudah membasahi tubuhnya. Jonghyun terkekeh sekuatnya, dia menyemprotkan air tanpa ampun ke arah Yoona yang sudah menjerit untuk meminta berhenti. “Itu hukuman untukmu!” Lalu Jonghyun kembali tertawa sekuat-kuatnya.

Disisi lain Hana yang melihat juga spontan tertawa, sekarang dia tahu kalau ayahnya hanya berpura-pura marah. Jadi Hana mengambil selang air yang tak terpakai untuk membantu Jonghyun menyemprotkan air ke Yoona. Yoona berusaha melindungi tubuhnya dengan serangan-serangan air. Dia bergerak ke depan untuk merebut selang air dari Jonghyun. Tapi sialnya dia malah tersandung dan menubruk Jonghyun hingga terjatuh di atas tubuh Jonghyun.

Seketika waktu serasa berhenti bagi mereka berdua, suara Hana yang tertawa kuat seakan teredam dari telinga mereka, hanya detak jantung dua manusia yang saling menatap terdengar di telinga mereka. Jonghyun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Yoona, dia seperti terhipnotis oleh mata cokelat gelap milik Yoona, begitupun sebaliknya dengan Yoona. Semenit berlalu tak ada satupun dari mereka yang ingin memecahkan tatapan mereka sampai Hana yang menghancurkan momen dengan menyemprotkan air ke arah mereka dan tertawa lagi.

“Heol, aku melihat Romeo dan Juliet sekarang. Bagaimana manis.” Kata Hana gembira. “Appa-ku yang tampan, Yoona imo yang cantik, dan aku akan menjadi puteri tercantik di pernikahan kalian, benarkan?” Hana mengatupkan tangannya, tersenyum membayangkan dia akan memakai gaun secantik seperti puteri dalam dongeng yang selalu di ceritakan Jonghyun sebelum tidur.

Yoona berdeham canggung, dia benar-benar malu jatuh seperti itu, tapi itu pula yang membuatnya sangat senang. Berada sedekat itu dengan Jonghyun sesuatu yang langka, jadi ya walaupun itu memalukan, jauh di dalam hatinya dia sangat menyukainya, hahaha.

“Apa yang kau tertawai?” Tanya Jonghyun merasa aneh. “Jangan berpikir sesuatu yang Hana katakan akan terjadi.”

Yoona hanya mengendikkan bahunya, tersenyum.

Jonghyun membuka mulutnya ingin menyela, namun terganggu dengan dering ponsel disakunya. Dia menjauh untuk menerima dan melihat pamannya, Choi Yoon, menelpon memberitahunya untuk segera menemui mengenai kasus yang ia tangani.

“Hana-ah, appa akan keluar, kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Jonghyun berbalik melihat Hana yang masih bermain percikan air dengan Yoona.

Hana mengangguk. “Yoona eomma disini, aku pikir aku tidak apa-apa, ya kan, eomma?” Tanya Hana berpaling ke Yoona. Yoona mengangguk canggung, sedangkan Jonghyun memiringkan kepalanya, masih merasa risih kalau sebutan ‘eomma’ itu keluar dari bibir Hana untuk Yoona.

“Apa yang terjadi?” Tanya Yoona ingin tahu, Jonghyun tidak mungkin bekerja di hari libur jika tidak sesuatu yang penting terjadi.

“Bukan apa-apa, aku akan kembali.” Yoona hanya mengangguk.

“Hana-ah.” Panggil Jonghyun sembari membungkukkan badan, mencondongkan pipinya meminta kecupan Hana seperti biasa mereka lakukan untuk keberuntungan yang diberikan Hana dengan segenap hatinya.

Yoona mengembungkan pipinya, melihat hubungan ayah dan anak yang sangat harmonis ini, seandainya dia bisa menjadi bagian dari mereka, bukankah akan menjadi lebih sempurna?

“A-ajusshi..” Panggil Yoona lirih. Jonghyun menegakkan tubuhnya dan melirik ke Yoona. “Kau tidak ingin, aku..” Lanjutnya bingung untuk mengatakan.

“Apa?”

“K-Kiss.”

Jonghyun terbelak kaget, lalu tertawa. Dia berjalan mendekat ke Yoona yang langsung menyondongkan wajahnya tepat di depan wajah Yoona, membuat Yoona spontan membeku dan terbelalak kaget. Disisi lain Hana yang melihat spontan menutup matanya dengan kedua tangannya, walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Jonghyun tetap seperti itu selama beberapa detik, lalu berbisik. “Berusaha lagi untuk menjadi manis, saat itu juga aku akan menciummu.” Kemudian Jonghyun mengacak rambut Yoona yang basah dengan sembarang, tersenyum, lalu meninggalkan Yoona yang mematung, membeku.

Satu.. dua.. tiga..

“Ahhhhh!!” Yoona berteriak kegirangan setelah kesadarannya kembali, menyadari apa yang baru saja terjadi, dia melompat, menggerakkan pinggulnya dan berputar-putar. Jonghyun yang masih bisa mendengar suara jeritan Yoona tersenyum penuh arti. Keure, ini sudah benar.

Hana yang melihat Yoona yang seperti cacing kepanasan hanya mengerutkan kening, aneh. Dia menepuk jidat. “Imo, are you okay?”

***

Sudah pukul dua pagi ketika Jonghyun sampai dirumah. Dia mencampakkan tasnya sembarang, wajahnya kaku, emosinya tak stabil yang ditimbulkan dari kasusnya ini. Informasi yang di berikan pamannya semakin membuatnya pusing, kasus ini semakin membuatnya kalut. Dia merebahkan tubuhnya di sofa, meletakkan lengannya di dahi.

Yoona yang mendengar suara berisik segera keluar dari kamar Hana, dan melihat Jonghyun yang sudah terbaring di atas sofa. Sebenarnya dia ingin meninggalkan rumah Jonghyun saat selesai makan malam dengan Hana, tapi melihat tanda-tanda Jonghyun tidak pulang cepat jadi dia memutuskan untuk menemani Hana, lagian sikap Jonghyun tadi siang membuatnya yakin kalau hubungan mereka ada kemajuan.

Ajusshi, kau sudah pulang? Apa kau ingin aku buatkan teh?” Tanya Yoona ketika sudah dekat Jonghyun.

Ajusshi..” Panggilnya lagi.

“Kau belum pulang.” Jawab Jonghyun masih dengan posisinya. Ada suara dingin dari nada bicaranya, dan Yoona merasakannya.

“Aku tidak bisa meninggalkan Hana sendiri.”

Jonghyun mendesah, lalu bergerak mendudukan tubuhnya, sedangkan Yoona meninggalkannya sebentar untuk membuatkannya teh dan kembali segera hanya untuk melihat Jonghyun menatapnya dengan dingin.

“Kau memakai-“

Yoona mengikuti arah pandang Jonghyun yang memerhatikannya, dan Yoona sadar kalau dia sedang memakai pakaian mendiang istrinya tanpa izin darinya. “Pakaianku basah, aku.. tidak membawa baju ganti, jadi.. jadi Hana memberiku ini, M-maaf aku tidak izin padamu dulu, aku akan menggantinya.” Kata Yoona gugup meletakkan mug di atas meja buru-buru dan ingin segera berbalik namun di cegahnya Jonghyun dengan memegang pergelangan tangannya.

Yoona menelan ludah sulit, mata dingin itu lagi. Jonghyun memperlihatkannya lagi padanya. “Dari mana kau mendapatkannya.” Kata Jonghyun dingin.

“Hana-“

“Kalung..” Desis Jonghyun. “Dari mana kau mendapatkan kalung istriku!!”

Bentak Jonghyun yang membuat Yoona terkejut. Awalnya Yoona tidak mengerti, lalu saat melihat lehernya dan kalung dengan mainan kristal berbentuk siput warna hijau terang melingkar manis di lehernya. Astaga, dia lupa. Hana dan dia tadi sempat bermain before dan after, dimana seseorang akan di make over untuk menjadi lebih cantik dari sebelumnya, dan Hana menambahkan kalung ini untuk menyempurnakannya, awalnya Yoona tidak ingin, namun karena Hana memohon dan mengatakan kalau ini adalah miliknya Yoona setuju. Dan sekarang dia tahu, kalung ini milik Seungyeon, yang membuat Jonghyun akan menjadi marah besar karena dia memakai barang mendiang istri tercintanya.

Sudah cukup perkerjaan Jonghyun membuatnya pusing dan emosi, dan Yoona menambah emosinya ketika Jonghyun melihat bandul kalung yang tanpa sengaja keluar dari balik baju ketika Yoona meletakkan teh, Yoona memakai baju mendiang istrinya itu tidak masalah baginya, tapi Yoona memakai kalung istimewa favorit mendiang istrinya, Seungyeon. Itu yang membuatnya sangat marah, lancang sekali dia.

“Dari mana kau mendapatkannya!!” Tanya Jonghyun ulang.

“A-ajusshi.. aku tidak tahu- Hana yang-“

“Kau yang menyuruh Hana untuk memberikannya padamu?!” Tuduh Jonghyun sengit.

“Tidak, Aku tidak menyuruh Hana memberikannya padaku, aku bahkan tidak tahu itu milik Seungyeon-ssi.”

“Alasan!!” Bentak Jonghyun tepat di wajah Yoona yang membuat Yoona menutup matanya dan mundur selangkah, rasa nyeri langsung menyerang dada Yoona. Tenggorokannya tercekat. “Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu, kau pikir aku tidak tahu selama ini yang kau lakukan, kau mendekati Hana hanya untuk mendekatiku, jangan berpura-pura kau mencintai Hana. Kau berhasil membuat Hana memanggilmu ‘eomma’ tapi jangan pernah bermimpi kalau kau bisa menjadi pengganti Seungyeon sebagai eomma-nya!!” Jonghyun menarik napas. “Dan sekarang kau berhasil memberinya kalung istriku padamu? Lancang sekali kau! Kau pikir kau siapa!!” Teriak Jonghyun penuh emosi dan merampas kalung hingga rantainya terputus yang membuat Yoona meringis karena goresan, rahang Jonghyun mengeras, dia tidak peduli kalau perempuan di depannya sudah mati ketakutan dengannya.

“Kau adalah pengganggu!! Kau tahu, sejak kau datang dalam kehidupanku, tidak ada satu hal pun yang baik terjadi padaku, kau pembawa sial, kau membuatku pusing, kau menjengkelkan!” Jonghyun menarik napas. “Aku harap kau menjauh dariku, dan menjauhi Hana.” Katanya tegas.

Disisi lain Yoona tidak bisa berkata sepatah katapun, dia terlalu terkejut ini pertama kalinya Jonghyun berkata seperti itu. Dadanya yang sesak menyulitkannya untuk bersuara, tenggorokkannya yang tercekat seakan menyempurnakan kebisuannya. Bahkan air mata yang mengalir dari sudut matanya tidak bisa berhenti. Dia takut, dan kata-kata kasar Jonghyun membuat dadanya semakin sakit.

Yoona menggeleng keras, menolak semua tuduhan Jonghyun padanya. “Aku-aku tidak seperti itu.. aku benar-benar mencintai Hana.. sepenuh hatiku..” Jawabnya terbata memejamkan matanya. “Aku tahu kau sangat mencintai mendiang istrimu, tapi.. tak bisakah kau berkata lebih halus untuk menyakitiku.. Aku tahu kau sangat membenciku, aku pengganggu, aku akui, aku merusak harimu aku akui, tapi semua yang ku lakukan adalah setulus hatiku untuk mencintaimu, untuk membuatmu sadar kalau masih ada orang hidup yang mencintaimu untuk kau lihat. Dan aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menggantikan Seungyeon sebagai ibu Hana.”

“Cintamu untuk Seungyeon aku tahu itu tidak akan mati, tapi apakah aku tidak bisa berharap sedikitpun kalau kau akan mencintaiku.. Orang yang kau cintai sudah mati, dan cinta untuk orang mati hanya cukup untuk di kenang di tempat khusus. Dan aku lihat sejauh ini, kau hanya takut untuk membuka hatimu untukku, jadi kau selalu mengabaikanku dan membuatku selalu salah dimatamu. Aku kira sifatmu tadi siang sudah membuatku yakin, kalau kau akan mengabaikan perasaan takutmu, tapi aku salah.. kau masih terperangkap dalam ketakutan cintamu.” Yoona menghapus air matanya sembarang dengan punggung tangannya. Menatap Jonghyun tegas. “Kau hanya takut, ahjussi..”

Rahang Jonghyun mengeras. “Tahu apa kau soal cintaku, kau-” Kata-kata Jonghyun terhenti ketika terdengar suara tangisan Hana. Dia terkejut melihat Hana yang sudah berdiri di depan pintu menangis.

Imo..”

Yoona yang juga melihat Hana segera menghampirinya, dia mengelus rambut Hana lembut mencoba menenangkannya. “Ssstt, kenapa Hana menangis? Apa kau mendapat mimpi buruk?” Hana mengangguk sesegukan.

“Kenapa kau meninggalkanku.. Hana takut..” Ucapnya sedih cemberut. “Apa kau menangis, Imo? Apa appa menyakitimu?” Tangan mungil Hana menggapai wajah Yoona dan menghapus air mata Yoona lembut. Yoona tak bisa menahan air mata diamnya, anak ini sungguh sudah mengambil sebagian dari hatinya, bagaimana nanti kalau dia tidak akan bisa menemuinya lagi.

Yoona menggeleng dalam diam, dia mencoba menjaga suara gemetarnya. “Tidak, Imo hanya kelilipan, debu nakal.” Ucapnya berusaha tersenyum, mengelus puncak kepala Hana. “Kembali lah tidur, Imo akan menemanimu..”

“Kau janji tidak akan meninggalkanku lagi, kan?”

“Hmm.”

Disisi lain Jonghyun yang melihat interaksi Hana dengan Yoona berhasil menggetarkan hatinya kembali. Bagaimana dia selalu ingin melihat putrinya seperti itu dengan ibunya sendiri. Yoona terlihat tulus, dan sekarang dia menyesal telah mengatakan kata-kata yang menyakiti Yoona.

“Yoona..”

“Aku akan pergi sebelum Hana dan ajusshi bangun di pagi hari, jadi kau tidak perlu melihatku. Aku janji.” Setelah itu Yoona menyusul Hana dan menutup pintunya. Dia memeluk Hana sambil menangis, memeluk Hana untuk terakhir kalinya.

Dan Yoona menetapi janjinya untuk pergi sebelum Jonghyun dan Hana terbangun pagi hari setelah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

***

Tepat sebulan berlalu sejak pertengkaran malam itu. Hari-hari Jonghyun yang diinginkan seperti kembali padanya, tanpa ada suara melengking, teriakan namanya yang memekakkan telinga, rayuan genit yang membuatnya merinding, dan hidupnya terasa kembali aman tanpa Yoona di sekitarnya. Dia puas, sangat puas. Namun adakalanya dia berpikir ada baiknya Yoona disini, membuat lelucon garing yang pada akhirnya akan membuat mereka tertawa juga.

Lee Hana.

Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk putri semata wayangnya itu untuk tersenyum, semenjak Yoona tidak menampakkan diri di depan mereka, Hana selalu menanyakannya, di mana Yoona imo? apa yang sedang Yoona imo lakukan? Dan sialnya Jonghyun tidak bisa menjawab itu, karena memang dia tidak ada kontak dengan Yoona.

Itu hilang. Kembali seperti sebelum mengenal Yoona.

“Aku tidak mau sarapan, Hana mau telur dadar Yoona imo.”

Selalu seperti itu yang terjadi setiap pagi. Hana akan selalu menolak sarapannya dan hanya meminum susunya lalu pergi dengan bus sekolah tanpa pamit pada Jonghyun. Hana bertekad, dia akan seperti ini sebelum Yoona datang menemuinya, sampai Jonghyun merasa Hana seperti orang asing baginya.

Sebulan lebih Jonghyun benar-benar merasakan kehilangan. Dia akan selalu berharap bahwa Yoona ada di rumah saat dia pulang dari kantornya, bahwa Yoona akan menyerah dan kembali menghantuinya, tapi tidak, itu tidak terjadi. Itu tetap sama, sunyi, seperti saat pertama kali Yoona meninggalkan rumah itu di pagi hari.

“….kau masih terperangkap dalam ketakutan cintamu.”

Jonghyun mengusap wajahnya frustasi saat menatap langit-langit kamarnya. Kata-kata Yoona malam itu selalu menggerayangi pikirannya. Wajah sedih penuh air mata perempuan itu tidak bisa hilang dari ingatannya, dia bersalah, iya, dia akui dia sangat bersalah, dan sialnya dia belum meminta maaf sampai sekarang.

Apa yang harus dilakukannya?

Ketika Jonghyun di minta lagi oleh Profesor Choi untuk menggantikannya mengajar di kelas Yoona, tanpa berpikir panjang dia langsung menyetujui permintaan Prof. Choi tanpa melihat jadwal pekerjaan yang sibuk. Dia bertemu dengan Yoona, Jonghyun melihatnya, lagi dengan perasaan yang berbeda, dengan perasaan ingin meledak bahwa ia bisa melihatnya lagi. Dan saat itulah ia mengaku, bahwa dia telah jatuh untuk seorang Im Yoona.

Namun keadaannya berbeda, Yoona tak lagi melihatnya dengan mata bersinar saat ia mengejarnya dulu, Jonghyun tak melihat lagi senyum ceria dari wajah cantiknya saat menatapnya, dan Jonghyun tak melihat lagi curi-curi pandang Yoona saat mengajarnya di kelas. Jonghyun merindukan semuanya, semuanya. Bahkan, sangat merindukan cintanya, cinta seorang Im Yoona.

Dan untuk membawa kembali semuanya, dia akan mendapatkan kembali cinta Yoona. keadaan berbalik, sekarang waktunya Jonghyunlah yang akan berjuang untuk seorang Im Yoona.

***

Im Yoona seorang perempuan ceria yang hanya berubah dratis sebulan lebih yang lalu. Dia tersenyum, tapi tak seindah senyumnya seperti sebulan yang lalu, sebelum orang yang ia cintai menginginkannya untuk menjauh.

Dia menangis.

Tentu saja dia menangis untuk orang yang ia rindukan. Untuk Hana dan terutama untuk Jonghyun. Dia menjauh, benar-benar menjauh, menyuruh dirinya sendiri untuk bertahan untuk tidak menghubungi Jonghyun dan Hana, dia menyangkal kalau dirinya tidak akan kalah untuk tetap bertahan. Tapi pada ujungnya, dia tetap kalah dan menemukan dirinya berdiri jauh dari tempat sekolah Hana untuk melihat Hana dan juga Jonghyun yang menjemputnya.

Mengingat kata-kata Jonghyun malam itu, membuat hatinya seperti teriris kembali. Kata-kata Jonghyun yang tepat mengenai hatinya yang lemah, hatinya yang pertama dan terakhir untuk mencintai Jonghyun. Yoona merindukan Jonghyun, sangat merindukannya, merindukannya sampai ia merasa hatinya akan berdarah dan hancur begitu saja.

Saat kembali pertama kali Yoona dan Jonghyun bertemu pandang dalam kelas. Yoona berteriak dalam hati, akhirnya dia bisa melihat dia juga. Walaupun hanya satu detik, tatapan itu sangat berarti untuknya, dia merasa saat itu juga bahwa ia akan berlari pada Jonghyun untuk memeluknya tidak memperdulikan teman sekelasnya yang akan melihatnya penuh tanya, tapi pada saat itu juga dia sadar, bahwa dia adalah pembawa sial untuk orang yang ia cintai, bahwa ia di minta untuk menjauh sejauh-jauhnya, dan ia lakukan walaupun setengah hati melakukannya.

“Im Yoona..”

Yoona berhenti mengobrak-abrik tasnya saat mendengar suara berat yang ia rindukan itu memanggil namanya. Dia mendongak dan menemukan Jonghyun yang sudah berdiri bersandar di samping mobilnya.

Yoona berkedip tak percaya, Jonghyun berdiri di depannya dan mencarinya. Yoona mengikuti gerak Jonghyun dengan matanya, dekat sangat dekat Yoona bisa melihat wajahnya yang sedikit tirus itu dengan matanya langsung, dan dia merindukannya lagi walaupun Jonghyun berada di depannya.

“Ikut aku.”

***

Yoona melihat sekitar dan bertanya-bertanya kenapa Jonghyun membawanya kemari. Dia bertanya berulang kali pada Jonghyun namun Jonghyun hanya diam dan tetap menarik tangannya untuk mengikutinya. Sampai Yoona tahu, kalau mereka berada di depan makam Gong Seungyeon, mending istri Jonghyun.

Yoona menatap Jonghyun penuh tanda tanya, dia mencari jawaban. Tapi Jonghyun hanya diam dan pandangannya hanya lurus ke makam Seungyeon.

Jonghyun menggenggam tangan Yoona erat, berkata. “Seungyeon-ah, aku ingin membuat pengakuan. Aku mencintai perempuan yang berada tepat disampingku. Aku ingin membuat pengakuan kalau aku tidak bisa hidup tanpanya disampingku, aku ingin membuat pengakuan kalau dia adalah sumber dari senyumku, aku ingin membuat pengakuan kalau hatiku sudah tercuri oleh perempuan yang berada tepat disampingku.”

Jonghyun menarik napas, sedangkan Yoona menatapnya terkejut, membeku dengan pengakuan yang tiba-tiba.

“Maafkan aku yang sudah melanggar janjiku untuk tidak mencintai orang lain. Tapi aku tidak bisa menolak perasaanku lagi padanya. Aku mencintaimu, Seungyeon, kau selalu memiliki ruang khusus jauh didalam hatiku, kau selalu memilikinya. Tapi perempuan di sampingku ini dia juga memiliki tempat khusus dihatiku, dan jika dia tidak menempatkannya, mungkin aku akan gila. Aku mencintainya seperti aku mencintaimu. Aku mencintai Im Yoona untuk diriku sendiri, dan aku berjanji untuk melindunginya dari sisa umurku dari sekarang.”

Ajusshi..”

Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Jonghyun, untuk pertama kalinya ia menangis setelah kematian Seungyeon. “Aku mencintainya, aku mencintai seorang Im Yoona, dan aku membutuhkannya.” Ucapnya lirih sembari mempererat genggamannya pada Yoona.

Disisi lain Yoona tak bisa menahan air matanya lagi, air matanya jatuh begitu saja seiring pengakuan Jonghyun pada makam di depannya. Benarkah? Benarkah Jonghyun mencintainya?

Yoona meletakkan satu tangannya yang bebas di lengan Jonghyun. Dia meremasnya lembut, sebelum Jonghyun mengambil tangannya dan menggantinya dengan pelukan hangat. Jonghyun membenamkan wajah Yoona di bidang dadanya yang besar. Mereka tetap seperti itu sampai mereka bisa menenangkan hati masing-masing mereka yang hampir meledak.

“Maafkan aku..” Ucap Jonghyun lirih. Yoona menggeleng di dadanya masih menitikkan air mata bahagia. “Maafkan aku yang terlambat untuk menyadari perasaanku padamu, maafkan aku yang sudah menyakitimu. Saat itu aku sedang kalut, dan melihatmu memakai-“ Yoona mendongak tiba-tiba dan meletakkan telunjuknya di bibir Jonghyun membuatnya berhenti.

“Tidak ada kata maaf untuk cinta.” Kata Yoona tersenyum, “Ajusshi tidak salah, itu aku yang terlalu memaksakan perasaanku padamu, sampai aku meledak padamu. Aku juga minta maaf.”

Mereka berdua tahu, mereka bersalah karena saling menyakiti dengan ucpan masing-masing malam itu, dan mereka saling memaafkan jauh sebelum Jonghyun membawa Yoona kemari.

“Ajusshi.. Aku me-“ Jonghyun mengecup bibir Yoona tiba-tiba yang membuatnya membeku.

“Biarkan aku yang mengatakannya duluan.” Katanya tersenyum, menatap mata Yoona dalam. “Aku mencintaimu, Im Yoona.”

“Aku lebih mencintaimu, Ahjusshi..” Jawab Yoona sepenuh hati.

“Menikahlah denganku.”

“Hmm.” Yoona mengerutkan keningnya, bingung. “Secepat itu?” Jonghyun mengangguk mantap.

“Lalu, apa kau perlu jawaban?”

“Tidak, karena aku tahu kau tidak akan menolak ajusshi tampan sepertiku.” Kata Jonghyun bangga sembari melinggarkan lengannya di pinggang Yoona. “Dan aku tidak ingin menunggu sampai kau selesai kuliah, karena aku tidak tahan melihat lelaki yang selalu mengejarmu ketika aku berada di kampusmu. Ahrasseo?”

Yoona terkekeh, “Ahrasseo.”

Mereka saling menatap penuh cinta selama beberapa detik, sebelum Yoona berbalik menhadap makan Seungyeon. Dia menggenggam tangan Jonghyun sama eratnya, berkata dalam hati,

‘Seungyeon unnie, Aku tahu aku tidak sepantasnya menggantimu posisimu disamping Jonghyun ajusshi dan Hana, tapi aku membutuhkanya untuk tetap bersamaku. Aku berjanji untuk merawat mereka berdua, aku akan melakukan yang terbaik. Aku berjanji bahwa aku tidak akan melepaskan tangan ini, untuk selamanya. Dan aku berjanji untuk mecintai mereka sampai seumur hidupku. Aku meminta restu darimu, unnie.’

Yoona mendongak kembali melihat Jonghyun yang sudah Yoona dengan tatapan hangatnya. Dia tersenyum, tersenyum bahagia mengetahui akhir dari perjuangannya. Genggaman Jonghyun kini berganti rangkulan hangat di bahu Yoona dan mencium sisi puncak kepala Yoona lembut, sebelum membawa Yoona pergi meninggalkan tempat.

“Apa yang kau katakan padanya?”

“Tidak ada. Hanya meminta restu padanya.”

***

Eommaa.. Appaaa.. Aku disini!!”

Teriak Lee Hana dari kejauhan saat melihat orang tuanya, Jonghyun dan Yoona mulai berjalan mendekatinya yang berada di samping badut Panda. Hana menahan badut Panda untuk tidak pergi karena dia ingin mengambil foto dengan orang tuanya.

Ini impiannya, memiliki keluarga yang lengkap dan berjalan-jalan ke taman hiburan bersama. Lee Jonghyun appa dan Lee Yoona eomma.

I dare you to let me be your,

Your one and only

Promise I’m Worthy

To hold in your arm,

So come on and give me a chance

To prove I am the one who can Walk that mile

Until the end starts

 (Adele – One and Only)

.

END

.

 

Halloohaaa..

Akhirnya blues series bagian Jonghyun selesai juga, hahaha. Ada yang masih dengan shipper ini? Awalnya ini aku buat dengan cast Jongyeon alias Lee Jonghyun X Gong Seungyeon, tapi tapi karena aku kangen Jongyoon jadi aku buat mereka hahaha. Jongyoon melengkapi blue series saya, dan kalau saya gak malas saya akan buat epilog yang komedi hahaha. Maaf untuk typo. Jangan lupa komentarnya…

Terima kasih^^

 

40 responses to “[OneShot] Blue’s Series – Ahjussi, Saranghae!

  1. Gak sengaja ketemu, udah lama gk baca ff jongyoon
    Daebak! Konfliknya keren, feelnya dapet, pas dah!
    Married life dong.. Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s