The Snipers [2/2]

The Snipers [2/2] || Sparkdey

Xi Luhan || Song Na Ra (OC) || Kim Jong In || Choi Hana (OC)

SupCast : Wu Yi Fan/Kris, Oh Sehun, Park Chanyeol, Yi Xing/Lay

Action, Romance, Friendship || PG-18 || Twoshoot

 

Annyeong, ini FF pertama author yang bergenre action lohhh, semoga pada suka ya hihiw^^ oh iya kalau sudah membaca jangan lupa tinggalin jejak kalian, caranya dengan kasih like atau kasih komentar. Komentar itu sangat berarti loh buat author, sekalipun kritikan dan saran pasti akan author terima dengan senang hati J okaayy, happy reading yaa readers-nim :*

Note : FF kali ini terinspirasi dari Movie nya Detective Conan yaa~

DON’T BE A SILENT READER & PLAGIATOR ARE NOT ALLOWED!!

PROLOG || TS-1 ||

-0-

“Kalian baik – baik saja?” Tanya partner Sehun itu, Park Chanyeol, seorang agent FBI yang juga sedang berada di Korea.

DORR.. DORR.. DORR.. DORR..

4 buah peluru berhasil mengenai Chanyeol yang kini berada di depan Luhan dan namja itu, Suho nama namja yang sedang bersama Luhan sekarang.

“Chanyeol-aaahhh” teriak Sehun.

Sebuah granat berhasil di lemparkan menuju mobil yang menjadi tameng bagi Sehun.

DUAARR…

-0-

Chanyeol terkena 4 tembakan peluru dari musuh yang sekarang sudah menjadi targetnya untuk di tangkap.

“Gwenchanayo?” Tanya Luhan panic karena baru saja ada orang yang tertembak di depannya.

“Nae gwenchanayo. Aku selalu memakai ini ketika sedang bertugas” jawab Chanyeol dengan tersenyum sambil menunjukkan pada Luhan rompi anti peluru yang bertuliskan FBI itu.

“Syukurlah, bagaimana dengan rekanmu itu?” Tanya Luhan lagi.

“Aku di sini. Aku berhasil kabur dari granat sialan itu yang hampir saja merenggut nyawaku” sahut Sehun yang tiba – tiba datang menghampiri mereka.

“Syukurlah, sebenarnya dia itu siapa?” Tanya Luhan.

“Soal itu akan kami jelaskan nanti, lebih baik kita berikan pengobatan untuk temanmu ini” kata Chanyeol sambil membantu Suho berjalan.

Luhan, Suho, Chanyeol, dan juga Sehun kini sedang berada di rumah sakit terdekat untuk mengobati luka yang ada pada Suho. Tidak hanya mereka berempat, kini seorang inspektur kepolisian beserta kedua buah bawahannya sudah datang menghampiri Luhan dan yang lainnya.

“Luhan…” panggil inspektur tersebut lalu Luhan berjalan menghampirinya.

“Ne, Inspektur Kyungsoo?” jawab Luhan ketika sudah berada di dekat inspektur tersebut.

“Setelah Suho di obati, bisakah kalian berempat datang ke kantor polisi pusat? Aku ingin mengetahui semuanya, dan kau beserta temanmu itu berhutang penjelasan kepadaku” kata inspektur tersebut dan Luhan hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuannya.

Suho keluar dari ruang pengobatan, kini lengan kirinya dibalut sebuah perban dan masih terdapat bercak darah di sana. Luhan segera mengajak Suho, Chanyeol, dan Sehun menuju kantor polisi pusat seperti permintaan Inspektur Kyungsoo. Beruntunglah kantor kepolisian pusat itu terletak tidak jauh dari rumah sakit yang mereka kunjungi.

Luhan beserta yang lainnya memakai tanda pengenal pengunjung dan menghadiri ruangan yang sebelumnya sudah di beritahu oleh Inspektur Kyungsoo. Luhan memasuki ruangan tersebut dan di dalamnya sudah ada beberapa polisi yang bertugas mengenai masalah ini, kepolisian pada divisi 1.

“Baiklah, bisakah kalian jelaskan kejadian yang baru saja terjadi?” Tanya inspektur Kyungsoo.

“Kami anggota FBI” sahut Sehun sambil menunjukkan ID FBI miliknya di ikuti oleh Chanyeol.

“Anggota FBI? Berada di Seoul?” Tanya Xiumin, anggota kepolisian divisi 1, bawahan Inspektur Kyungsoo.

“Izinkan kami yang menjelaskannya, Inspektur Kyungsoo” sahut Chanyeol.

Sehun dan Chanyeol berjalan menuju papan tulis yang tersedia di dalam ruangan itu yang memang letaknya berada di tengah – tengah mereka. Chanyeol mengeluarkan beberapa foto yang memang sudah dia bawa dari Amerika ke Seoul. Foto – foto tersebut merupakan arsip dari FBI yang telah menangani kasus ini sebelumnya.

“Dia adalah Kim Jong In, seorang anggota SEAL (Sea Air Land) yang bekerja di bawah pimpinan Angkatan Laut di Seoul, seperti yang kita tahu bahwa anggota SEAL juga pandai menggunakan sniper” jelas Sehun.

“Dan sniper andalan Kim Jong In adalah sniper berjenis MK-25 yang mampu melakukan tembakan berjarak jauh” lanjut Chanyeol.

“Ah aku bisa mengerti itu” kata Inspektur Kyungsoo. “Lalu mengapa kau bisa terkena tembakan, Suho-ssi?” lanjut Inspektur Kyungsoo.

“Ah, soal itu, aku sedang di sewa sebagai detektif untuk menyelidiki tour guide itu, tour guide yang bernama Cho Kyuhyun itu, temanku akan menikah dengannya namun dia ragu akan sosok Kyuhyun itu, maka aku di sewa untuk menyelidikinya. Tak ku sangka dia tertembak dan meninggal seketika.” jelas Suho.

“Selain itu, kami juga mencurigai korban selanjutnya adalah ketiga orang ini, yang pernah bermasalah dengan Kim Jong In sebelumnya” kata Chanyeol sambil menempelkan 3 foto.

“Yang pertama, dia adalah Choi Minho, dia adalah seorang pemain sepak bola yang pernah menjadi tunangan adik Kim Jong In, namun secara sepihak, Choi Minho membatalkan pertunangan itu lalu menikah dengan wanita lain. Setelah mengetahui hal itu, adik Jong In bunuh diri” jelas Sehun.

“Yang kedua, dia adalah Huang Zi Tao, dia adalah seorang ahli bela diri wushu yang pernah melakukan praktek wushu kepada sahabat Jong In” lanjut Chanyeol.

“Aku tidak mengerti. Apa maksudnya melakukan praktek wushu kepada sahabat Jong In?” Tanya Baekhyun, dia juga seorang polisi divisi 1 dan juga bawahannya Inspektur Kyungsoo dan partnernya adalah Xiumin.

“Dia menjadikan sahabat Jong In sebagai target dari latihan wushunya. Tak lama setelah itu sahabat Jong In meninggal dan dia tidak mau mengakui bahwa itu perbuatannya. Semenjak itu Kim Jong In menaruh dendam padanya” jelas Chanyeol.

“Dan yang ketiga, dia adalah Yi Xing atau biasa di panggil dengan sebutan Lay, dia adalah seseorang yang berhasil mengambil medali silver star milik Jong In dan dia juga yang telah melaporkan kepada atasannya bahwa Jong In telah menembak warga sipil ketika di medan perang” jelas Sehun.

“Kami di tugaskan ke Seoul untuk menyelidiki dan menangkap tersangka Kim Jong In” jelas Chanyeol.

Sehun dan Chanyeol melanjutkan penjelasan mereka kepada pihak kepolisian dan juga pada Luhan serta Suho agar mengerti keadaan yang sedang terjadi sekarang. Dan kedua anggota FBI itu meminta izin kepada pihak kepolisian untuk menetap di Seoul demi melakukan tindak lanjut terhadap tersangka yang bernama Kim Jong In tersebut.

“Kami telah menyelidiki gedung yang di jadikan tempat penembakan itu dan kami menemukan ini” Baekhyun menempelkan sebuah foto pada papan tulis tersebut. “Selosong peluru dan juga dadu yang menunjukkan angka 4” lanjut Baekhyun.

“Dadu?” Tanya Inspektur Kyungsoo tidak percaya.

“Ne, diketahui sejak dulu ketika Jong In berada di Angkatan Laut dia sangat menyukai permainan dadu dan pada lengan kirinya terdapat tattoo bergambar dadu” jawab Chanyeol.

Mereka semua membahas langkah – langkah yang terbaik untuk menangkap tersangka ini. Tersangka yang sangat berbahaya yang bahkan melibatkan anggota FBI. Kini matahari sudah tidak tampak lagi. Luhan mengantar Suho pulang.

Setelah mengantar Suho pulang, Luhan pergi ke rumah Na Ra untuk meminta maaf kepadanya karena telah meninggalkannya tanpa memberi tahu alasannya. Tak lama, kini Luhan sudah berada di depan rumah Na Ra dan menekan bel rumah Na Ra. Na Ra membukakan pintunya dan menyuruh Luhan masuk.

“Jadi mengapa kau mendadak menghilang dan sulit untuk kuhubungi?” kata Na Ra dengan nada yang kesal.

“Mianhae ne, soal itu aku bisa menjelaskannya” jawab Luhan.

“Jelaskan padaku sekarang” pinta Na Ra.

Luhan pun menceritakan semuanya dari awal mula kejadian penembakan itu terjadi hingga dia menuju ke gedung yang menjadi tempat si penembak untuk membidik sasarannya, hingga dia bertemu Suho dan mengejar snipers itu. Na Ra hanya mengangguk menyatakan bahwa dia mengerti dengan cerita Luhan.

“Begitulah..” akhir dari cerita Luhan yang cukup panjang itu.

“Syukurlah kau tidak apa, Lu” Na Ra memegang pipi Luhan dengan kedua tangannya. Luhan yang mendapatkan perlakuan itu sungguh kaget dan kini mukanya mulai memerah.

“Ah.. umh.. apa kau sudah makan?” Tanya Luhan.

“Belum, waeyo?” jawab Na Ra.

Luhan langsung memberikan sebuah kantong tas pada Na Ra. “Buka dan cepat kau berganti pakaian yang ada di dalam tas ini, ah dan juga sepatunya juga” jelas Luhan. “Aku akan menunggu di sini, jadi cepatlah, aku sudah lapar” lanjut Luhan.

Na Ra hanya menatap Luhan bingung lalu mengambil kantong tas tersebut dan berjalan menaiki tangganya menuju kamarnya yang memang terletak di lantai 2 itu. Na Ra membuka kantong tas itu dan melihat ada sebuah pakaian. ‘Ini dress’ batin Na Ra. Lalu mengambil sepatu yang terletak di bawah dress itu. ‘Ini high heels’ batin Na Ra.

Dengan cepat Na Ra berganti pakaian dengan pakaian yang di berikan oleh Luhan, lalu duduk menghadap kaca di meja riasnya untuk berdandan. Setelah selesai, Na Ra langsung memakai high heels yang di berikan oleh Luhan lalu turun untuk menemui Luhan.

Kini Na Ra sudah berada di hadapan Luhan. Luhan menatap Na Ra tidak berkedip sama sekali, dia sibuk memperhatikan perubahan Na Ra dengan balutan dress berwarna hitam dan high heels berwarna hitam juga. Na Ra terlihat sangat dewasa dan elegan. Ah dan juga sangat cantik bagi Luhan saat ini.

“Ada yang salah denganku eoh?” Tanya Na Ra yang memecah keheningan di antara mereka.

“Aa.. ani, kau hanya terlihat.. umh sangat yeppo” jawab Luhan.

“Jinjja? Aku memang selalu cantik” seru Na Ra.

“Berhenti percaya diri yang keterlaluan seperti itu Na Ra-ya” tukas Luhan.

“Tapi aku ini cantik kan? Kau sendiri yang bilang” senggol Na Ra pada lengan Luhan.

“Ne.. ne… aku kalah kali ini. Kau memang sungguh terlihat sangat cantik, dewasa, dan juga elegan malam ini” jawab Luhan jujur.

“Ahh kau menyadarinya baru sekarang eoh?” canda Na Ra.

“Sudahlah, aku sudah lapar!” Luhan langsung menarik tangan Na Ra dan membantunya masuk ke dalam mobilnya.

Luhan dan Na Ra kini sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran yang sebelumnya sudah Luhan pesan. Tak lama mereka pun sampai di restoran itu. Pelayan pun membantu Na Ra membukakan pintunya.

“Kau turun duluan dan menuju restoran yang ada di lantai 27, aku sudah memesan reservasi di sana, katakana saja bahwa aku bersamamu” kata Luhan melalui jendela mobilnya yang terbuka setengah itu.

Na Ra berjalan menuju lift dan menekan tombol 27 pada lift itu. Dalam 2 menit saja kini Na Ra sudah berada di lantai 27 dan berjalan menuju restoran tersebut. ‘Restoran ini.. sangat mahal dan pastinya sangat mengasyikkan bisa berada di sini’ batin Na Ra. Na Ra terus berjalan dan di sambut oleh pelayan restoran itu. Na Ra mengatakan bahwa ia bersama Luhan, pelayan itu langsung mengerti dan mengantar Na Ra ke sebuah meja yang sudah di siapkan.

Meja itu sudah di hiasi oleh 2 buah lilin yang sudah menyala, meja ini berada di restoran bagian luar, jadi kau bisa merasakan angina pada malam hari ini dan pemandangan kota Seoul pada malam hari. Ini sungguh indah. Tak hanya 2 buah lilin yang kini menemani Na Ra, namun di sekeliling meja Na Ra sudah terdapat lilin di lantai. Suasana menjadi begitu hangat dan romantis ketika seorang pemain biola datang dan memainkan lagu yang romantis dengan biolanya.

Na Ra tersenyum bahagia, karena dari dulu dia ingin sekali seperti ini. Di hadapkan pada makan malam yang romantic, dengan lilin yang mengelilingi mereka, dengan alunan lagu romantis dari pemain biola, dan tentunya dengan namja yang ia cintai. ‘Aku.. bahagia sekali. Terima kasih, Lu’ batin Na Ra. Tiada hentinya Na Ra terus tersenyum bahagia.

“Mengapa kau tersenyum terus seperti itu eoh?” Tanya seorang namja yang memecah lamunan Na Ra.

“Ah.. kau sudah datang rupanya. Kau lama sekali, Lu” kata Na Ra yang melihat Luhan kini sudah berganti pakaian menjadi memakai sebuah jas dengan kemeja putih dan dasi kupu – kupu berwarna hitam itu.

“Aku lama eoh? Mianhae ne. sekarang tutup matamu, Na Ra-ya” pinta Luhan dan Na Ra menutup matanya.

Luhan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Buka matamu” pinta Luhan.

“Kalung?” Tanya Na Ra tidak percaya.

“Ne kalung. Happy birthday Na Ra-ya, mianhae aku sangat telat memberikanmu hadiah dan kejutan seperti ini” jelas Luhan.

“Gwenchana Lu, gomawo Lu, jeongmal gomawo, aku sangat senang.. ani aku sangat bahagia sekarang” kata Na Ra.

“Aku bantu pakaikan ne?” tawar Luhan dan Na Ra mengangguk pelan.

Luhan memakaikan kalung dengan sebuah mutiara sebagai bandulnya. Luhan kini menatap Na Ra focus.

“Kau semakin cantik dan terlihat manis dengan kalung itu” kata Luhan.

“Jeongmal gomawo, Lu” Na Ra kini memeluk Luhan sangat erat.

“Ne cheonma… sudah lepaskanlah, aku mulai kesulitan bernafas dan aku lapar” kata Luhan.

“Ah mianhae ne, kajja makan” ajak Na Ra.

Luhan dan Na Ra terus bercerita banyak hal hingga makanan yang ada di meja mereka kini sudah habis di makan oleh mereka. Luhan berjalan ke arah Na Ra lalu melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Na Ra. Mereka memutuskan untuk pulang sekarang dan beristirahat karena besok mereka akan masuk sekolah.

Saat ini Jong In sedang berada di pinggiran sungai Han dan siap membidik yang menjadi targetnya saat ini. Target itu adalah Choi Minho yang telah merenggut nyawa adiknya dan lebih memilih menikahi wanita lain hanya demi hartanya saja. Jong In menyiapkan snipernya, sniper kesayangannya dan sniper andalannya, MK-25. Jong In melakukan tiarap dan tangan kanan Jong In sudah siap di pelatuk sniper itu yang siap membidik targetnya kapan saja. Mata kanannya kini sudah siap melihat dada kanan target.

“DIE” kata – kata itulah yang keluar dari mulut Jong In dan wushhh DORR.. dalam sekejap peluru itu mampu menembus dada kanan Minho dan saat itu juga Minho dinyatakan meninggal dalam keadaan sedang menyetir mobil. Minho baru saja akan keluar dari garasi rumahnya, namun peluru itu berhasil membuatnya meninggal seketika dan kini mobilnya berhasil menabrak pohon yang ada di depan rumahnya.

“Rasakan itu, Minho-ssi. Akan ku renggut nyawamu, jika kau berani merenggut nyawa adikku” kata Jong In puas.

Jong In meletakkan selosong peluru yang masih panas dan juga sebuah dadu angka 3. Jong In pergi meninggalkan lokasinya sekarang dan kembali ke rumahnya. Jong In terlihat sangat puas atas perbuatan yang dilakukannya saat ini. Membunuh semua orang yang berhasil menghancurkan dirinya dan keluarganya.

Jong In kini berada di rumahnya, dia sedang menyiapkan sebuah rencana untuk membunuh Zi Tao dan juga atasan Zi Tao yaitu Yi Xing atau biasa di panggil dengan Lay. Berbagai cara sedang dia pikirkan, untuk menarik Zi Tao keluar dari persembunyiannya sangatlah gampang, namun untuk menarik Lay keluar dari persembunyiannya sangat susah karena Lay merupakan seseorang yang sangat susah dikelabui.

Akhirnya Jong In memiliki sebuah ide untuk menarik Zi Tao keluar dari persembunyiannya. Jong In mengirimkan sebuah email ke Zi Tao atas nama Lay dan menyuruhnya untuk datang ke daerah Seoul lebih tepatnya ke rooftop sebuah hotel bintang 5 untuk menikmati makan siang yang enak di sana.

“Sangat mudah untuk memancing tikus sepertimu keluar dari persembunyiannya, Zi Tao, are you ready to die?” Jong In mengeluarkan smirk andalannya, dia telah berhasil memancing satu tikus keluar dan kini dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menarik Lay keluar dari persembunyiannya.

Jong In kembali bersiap – siap dengan snipernya dan juga motornya untuk menuju ke sebuah bangunan yang terletak di dekat hotel yang akan di datangi oleh Zi Tao. Rasa amarah pada Jong In kini sudah menguasainya, tidak ada lagi yang namanya belas kasihan terdapat dalam diri Jong In.

Jong In sudah sampai di depan bangunan yang akan dijadikannya sebagai tempat untuk membidik Zi Tao. Jong In masuk kesana dengan berpakaian ala pelayan di hotel tersebut. Hotel yang dimasuki oleh Jong In merupakan hotel yang ratingnya berada di bawah rating hotel yang akan di datangi oleh Zi Tao dan jarak mereka cukup dekat.

Jong In menyiapkan snipernya dan kini sedang tiarap untuk memastikan bahwa Zi Tao sudah datang di hotel itu lalu menembaknya. Namun Zi Tao belum juga datang. Jong In terus menunggu hingga matanya kini menangkap sosok Zi Tao lalu ia tersenyum sinis. Jong In menarik pelatuk snipernya dan wushh dalam sekejap Zi Tao meninggal dalam keadaan bersimbah darah di hotel itu. Para pelayan hotel terlihat panik atas kejadian yang ada di hadapannya. Jong In tersenyum puas. Lalu Jong In meletakkan selosong peluru dan juga dadu yang menunjukkan angka 2.

“Yeoboseyo?” Lay mengangkat telfonnya karena sedari tadi ponselnya tidak berhenti berbunyi setelah ia menghiraukan telfon itu beberapa kali.

“Apa kau sudah tahu bahwa bawahanmu bernama Zi Tao itu sudah tidak ada lagi di dunia ini?” Tanya seseorang di sebrang sana.

“J.. Jong In?” Tanya Lay kaget.

“Ne, waeyo? Apa kau takut mendengar suaraku sekarang huh?” Jong In menjawab dengan nada yang mengerikan bagi Lay.

“Sialan! Kau apakan Zi Tao huh? Berani sekali kau berhadapan denganku!” Kata Lay dengan penuh amarah.

“Kau ingin sekali tahu rupanya eoh? Kau juga akan merasakannya nanti ketika kau berhadapan langsung denganku. Datanglah ke Seoul dan siapkan seluruh tenaga dan juga amunisimu. Saat itu juga aku akan mengirimmu ke neraka HAHAHA” tawa Jong In.

“Sialan kau! Baiklah aku akan menuju Seoul sekarang!” kata Lay lalu memutuskan telfonnya secara sepihak.

Lay bersiap – siap dan langsung menuju Seoul saat itu juga. Sendirian.

 

Kantor Kepolisian Pusat Seoul…

Saat ini Inspektur Kyungsoo bersama dengan Baekhyun dan Xiumin sedang mengurus berkas – berkas untuk melakukan penangkapan terhadap buronan Kim Jong In. Baekhyun dan Xiumin juga sedang meneliti tentang hal – hal yang terkait dengan Kim Jong In.

“Inspektur Kyungsoo, maaf kami datang terlambat” sahut Agent Sehun yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang memang di sediakan oleh Kantor Kepolisian Pusat ini.

“Gwenchana, apa ada informasi yang kalian dapatkan? Kami sedang menganalisis dan mengurus berkas untuk menangkap Kim Jong In” jawab Inspektur Kyungsoo.

“Ne, kami mendapatkan sebuah informasi dari FBI bahwa hari ini Lay sudah meninggalkan daerah Gangnam dan sedang menuju ke Seoul” kata Agent Sehun.

“Baekhyun tolong konfirmasi hal itu segera” perintah Inspektur Kyungsoo pada Detektif Baekhyun.

“Siap!” Detektif Baekhyun langsung pergi keluar dari ruangan itu dan menjalankan perintah Inspektur Kyungsoo.

“Inspektur, apa kita perlu memberitahukan hal ini pada Luhan?” Tanya Detektif Xiumin.

“Untuk hal itu, aku sudah memberi tahu padanya dan dalam dekat ini dia akan sampai di sini” sahut Agent Chanyeol.

“Ah Inspektur, perkenalkan nama dia adalah Wu Yi Fan atau biasa di panggil Kris, dia adalah Agent FBI dan dia memiliki kemampuan membidik jarak jauh dengan sniper melebihi jarak jauh dari Kim Jong In” Agent Sehun memperkenalkan Agent Kris kepada pihak kepolisian.

“Senang bertemu dengan anda, Agent Kris. Mohon bantuannya” kata Inspektur Kyungsoo dan mereka berjabat tangan.

Kini Luhan sudah berada di kantor kepolisian pusat Seoul dan langsung menuju ruangan seperti yang sudah di beritahu oleh Agent Chanyeol. Luhan di berikan izin oleh pihak sekolah karena yang menghubungi sekolah Luhan adalah anggota FBI, Agent Chanyeol.

Luhan di butuhkan dalam situasi seperti ini, karena hanya Luhan lah yang menjadi saksi mata saat penembakan pertama yang dilakukan oleh Kim Jong In.

“Inspektur, mianhae aku telat, tadi agak sulit untuk ke sini karena jalanan macet sekali” jelas Luhan begitu sampai di ruangan itu.

“Luhan-ssi, kenalkan, dia seorang agent FBI namanya Wu Yi Fan, biasa di panggil Kris, dia memiliki kemampuan membidik target jarak jauh melebihi Kim Jong In” jelas Agent Sehun memperkenalkan Agent Kris pada Luhan.

“Xi Luhan imnida” Luhan dan Agent Kris berjabat tangan.

Kini semua anggota FBI yang berada di Seoul sudah memiliki izin untuk menetap di Seoul sampai kasus ini selesai. Mereka semua –FBI, Anggota Polisi, dan Luhan- sedang membicarakan cara untuk menghentikan aksi Kim Jong In. Terlebih lagi mereka sedang di landa kebingungan karena Lay yang menjadi target Jong In sedang menuju ke Seoul.

Akhirnya setelah membicarakan hal ini cukup lama, mereka menemukan jalan keluarnya. Inspektur Kyungsoo membagi tugas pada Detektif Baekhyun dan Detektif Xiumin. Para anggota FBI pun membagi tugas mereka juga. Hanya Luhan yang tidak di beri tugas. Namun Luhan harus tetap ikut pada Detektif Baekhyun dan Detektif Xiumin.

“Baiklah, ayo kita berangkat!” perintah Inspektur Kyungsoo.

Inspektur Kyungsoo tidak ikut karena dia harus stay di kantor kepolisian untuk berjaga – jaga dan terus memberikan informasi. Detektif Baekhyun, Detektif Xiumin, dan Luhan kini sedang berjalan menuju posisi mereka untuk menahan datangnya Lay.

Anggota FBI kini sudah berada di posisi mereka. Agent Kris sudah siap dengan sniper nya untuk membidik Jong In ketika dia ingin melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Agent Sehun dan Agent Chanyeol kini sedang menyamar di dalam sebuah gedung yang di taksir akan menjadi tempat membidik Jong In. Dugaan para anggota FBI ternyata benar, mereka melihat Jong In masuk ke dalam gedung itu.

“Luhan-ssi, apa kau dengar?” Tanya Agent Kris pada microphone yang terhubung pada Luhan, Detektif Baekhyun, Agent Sehun, dan juga Agent Chanyeol.

“Ne, aku dengar” jawab Luhan.

“Eodisseo?” Tanya Agent Kris memastikan.

“Aku sedang berada di dekat taman kota. Kau sudah di posisi?” Luhan bertanya balik.

“Tentu saja sudah. Beritahu aku jika kau sudah melihat target” perintah Agent Kris.

“Ne Capt” jawab Luhan tegas.

“Kris, aku melihat Jong In sedang naik tangga darurat di gedung yang aku dan Chanyeol menyamar. Sudah kuduga dia akan memilih tempat seperti ini” kata Agent Sehun melapor.

“Baiklah, kalian semua laporkan apa saja yang kalian lihat padaku” perintah Agent Kris pada semua anggota FBI, Luhan, dan juga Detektif Baekhyun.

“Aku melihat target sedang menuju sebuah bangunan tua” sahut Detektif Baekhyun tiba – tiba.

Detektif Baekhyun, Detektif Xiumin, dan juga Luhan berpisah dan melakukan pencarian terhadap target mereka, yaitu Lay. Detektif Baekhyun sudah menemukannya lalu melaporkannya pada semuanya melalui microphone yang ia pakai dan mengabarkan partnernya –Detektif Xiumin- melalui transceiver yang ia bawa.

“Semuanya bersiap pada posisi! Luhan dan Detektif Baekhyun terus awasi Lay. Sehun dan Chanyeol bersiap di tempat kalian” perintah Agent Kris.

“Xiumin-ah, cepat menuju kantor pusat dan laporkan apa saja yang sudah kita dapat dan segera bawa pasukan” perintah Detektif Baekhyun melalui transceiver.

Jong In sudah siap berada di posisinya dan sedang menunggu Lay, dia sudah mengetahui gedung mana yang akan Lay masuki.

“Sial, Detektif Baekhyun, aku akan mencegah Lay, kau siap – siap lah bersembunyi” kata Luhan yang langsung pergi meninggalkan Detektif Baekhyun.

“Luhan-ssi…” Detektif Baekhyun akhirnya menuruti apa keinginan Luhan.

Jong In sudah dapat melihat keberadaan Lay di sana. Jong In menarik pelatuk snipernya dan wushh…

“Kau baik – baik saja, Lay-ssi?” Tanya Luhan yang tepat waktu menyelamatkan Lay dari bidikan Jong In.

“YA! Jangan menghalangiku, ini pertarunganku dengan Jong In” kata Lay terus memberontak.

“Detektif Baekhyun!!” Luhan berteriak dan Detektif Baekhyun langsung menghampiri Lay dan juga Luhan. Dalam waktu singkat Lay sudah di buat pingsan oleh Detektif Baekhyun menggunakan suntikan penenang yang sudah dia bawa. Suntikan itu di bawa merupakan saran dari Agent Kris saat di parkiran mobil.

Luhan berjalan mendekati jendela tersebut.

“Sial! Anak itu menghalangi jalanku saja. DIE” kata Jong In.

“AARRRGHHH” Jong In meringis karena tangannya penuh luka akibat peluru yang di tembakan oleh Agent Kris.

“Sial! Di sini merupakan lokasi strategis dan siapa yang mampu membidikku dari jarak jauh seperti itu… jangan – jangan…” Jong In berprasangka buruk.

“Mission complete” kata Agent Kris di microphone nya. “Sehun, Chanyeol.. MOVE!” perintah Agent Kris.

Agent Sehun dan Agent Chanyeol kini berjalan menuju tangga darurat rooftop dan segera menyergap Kim Jong In.

“FBI! Angkat tanganmu dan jangan bergerak!” teriak Agent Sehun.

“Chanyeol-ah!” Agent Sehun memberikan kode pada Agent Chanyeol untuk menyingkirkan sniper dari hadapan Kim Jong In.

Agent Chanyeol berhasil merebut sniper Jong In dari hadapan Jong In. Agent Sehun langsung menyergap Jong In dan membawanya turun dan keluar dari bangunan itu.

“Cih sudah kuduga, Agent Kris yang membidikku tadi. Tidak ada satupun selain dia yang mampu membidik sejauh itu, benar kan, Agent Sehun?” Tanya Jong In sambil menahan rasa sakitnya.

“Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu, Kim Jong In-ssi” jawab Agent Sehun.

Kini Kim Jong In di bawa ke kantor kepolisian pusat Seoul untuk di interogasi. Ini semua tepat waktu berkat perhitungan Agent Kris dengan Luhan serta Detektif Xiumin yang tepat waktu membawa romobongan polisinya menuju bangunan dimana Jong In, Agent Sehun dan Agent Chanyeol berada.

Mereka semua sedang beristirahat di ruangan yang di sediakan sebelumnya oleh kepolisian pusat untuk kasus ini. Agent Kris terlihat sangat puas karena telah berhasil melumpuhkan target mereka, Kim Jong In. Agent Kris berdiri di samping jendela dan terus mengamati jalan raya yang terdapat di depan kantor kepolisian pusat itu.

“Nice shoot, Kris-ah” puji Agent Chanyeol.

“Kau sudah tahu kemampuanku kan? Hahaha” jawab Agent Kris senang.

“Kemampuanmu tidak dapat di ragukan lagi, kau yang terbaik yang di miliki oleh FBI” sahut Agent Sehun.

“Kamshamnida pujian kalian” jawab Agent Kris. “Ini semua berkat analisis anak itu” lanjut Agent Kris sambil menunjuk Luhan yang sedang asyik mengobrol dengan Detektif Baekhyun dan Detektif Xiumin.

“Baiklah, besok kita kembali ke Amerika” kata Agent Kris.

 

THE END…

 

Bagaimanaaa?? Terlalu panjang yaa? Maaf yaa kkkk~ gimana chapter 2 ini? Tegang kah seru kah romantic kah? Maaf ya sesi romantisnya sedikit banget kkk, semoga kalian senang ya sama FF buatan author kali ini^^

JANGAN LUPA TINGGALIN KOMENTAR KALIAN ATAU LIKE SEBAGAI BUKTI APRESIASI KALIAN TERHADAP FF INI *authornya ga nyantai* dengan kalian memberikan komentar –kritik atau saran- kalian telah membantu author semakin semangat untuk terus menulis FF. DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR yaa, kasian dong author udah mikir ide buat bikin FF ini terus kalian main menjiplak aja kkk~

Ide di FF ini terinspirasi dari Movie nya Detektif Conan dan alur ceritanya serta ide ceritanya pure punya sang author. Okay, terimakasih buat readers yang udah sempetin baca FF ini dan meninggalkan jejak kalian berupa komentar atau like hihiw. Saranghae :**

2 responses to “The Snipers [2/2]

  1. Woahhh lega akhirnya selesai juga bacanya,perlu 4 hari baca full,tp suwer negangin ada,romantis ada,lucu ada 😂😂😂😂,baekhyun jd detektiff omegoshhh ahh~ sukasama luhanya pas sm nara gatau kenapa 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s