Your Name

common-core-math
grewlay
Oh Sehun – Renata Jasmine

#

.

Dalam sisa kopi terdapat sebuah cerita
Tentang gemuruh rasa yang mendobrak jiwa
Kalau aku boleh berbicara;
kedua matamu, setara indahnya dengan pelangi saat senja
Tak terbantahkan pesonanya
(NN)

.

***

“Ayah dan Ibu bercerai. Sekarang, kau mau meninggalkanku juga?”

Namanya Renata Jasmine. Gadis tangguh yang selalu berpikir bahwa sebenarnya cinta itu tidak pernah ada. Wangi cinta tak sama dengan wangi surga. Dan cinta bukan 2 beda yang berusaha meramu bahagia bersama.

Gadis yang akrab dengan panggilan Jasmine itu memiliki wajah cantik, surai sepunggung berwarna hitam legam, dan bentuk tubuh yang proporsional untuk ukuran wanita. Jasmine adalah sosok sempurna, juga berhati malaikat. Ia tidak pernah segan untuk sekedar menyapa murid yang berada di kategori kasta rendah.

Permainan kasta di dalam sekolah sudah menjadi hal yang biasa.

“Mine, pada akhirnya, kita juga akan hidup sendiri-sendiri.” Ucap Vanessa–kakak Jasmine.

“Ya. Kalaupun kita mati, kuburan kita juga akan berbeda.” Jasmine berusaha mengontrol emosinya dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada meja. “Pergilah. Sekarang kau terbebas dari parasit.”

12 tahun lamanya Jasmine hidup bersama Vanessa. Hanya berdua. Ayah dan Ibu mereka bercerai entah karena apa. Yang jelas, Jasmine hanya sering mendengar pertengkaran hebat disertai beberapa barang yang pecah.

Jasmine dan Vanessa adalah peranakan Belanda-Korea. Ayah mereka adalah pengusaha dari Belanda yang kebetulan sedang menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan Korea. Keduanya bertemu di Busan saat kedua perusahaan itu mengadakan rapat. Ayah Jasmine jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah karena apa, Ayah Jasmine hanya suka melihat kesederhanaan istrinya dulu. Cantik dan terkesan elegan, kata Ayah Jasmine.

“Aku pergi. Kalau kau membutuhkan sesuatu, beritahu aku saja. Sekolah harus tetap jalan, makanlah dengan baik, minum dengan rutin suplemenmu. Kau tidak lupa bagaimana rasa sakit di kepalamu ‘kan?”

Jasmine diam. Ia enggan menimpali petuah-petuah dari kakaknya. Gadis itu malah merasa ingin muntah karena Vanessa bersikap seperti seorang kakak yang baik di saat seperti ini.

Vanessa mendesah berat dan menutup pertemuan ini dengan mengusap kepala adiknya. Lembut. Memang tak seharusnya Vanessa meninggalkan adiknya sendirian di Korea. Tapi Vanessa punya cinta. Vanessa juga punya seseorang yang harus diperjuangkan di Amerika.

Lagi-lagi, karena cinta, Jasmine jatuh dan terinjak.

“Pergilah keluar Korea kalau kau merasa terlalu banyak kenangan pahit disini.”

“Pahit atau tidaknya itu tergantung pemikiranmu.”

Terkadang, sifat Jasmine tidak sesuai dengan wajahnya. Ia cantik namun bisa menjadi buas di waktu-waktu tertentu. Jasmime adalah sosok nyata dari Ibunya. Duplikat tanpa cacat.

Memang benar. Pada akhirnya Jasmine akan hidup dan berjalan sendiri. Seusai membayar semua minuman yang dipesan Jasmine, Vanessa segera berlari keluar karena kekasih-Amerikanya sudah menunggu.

Jasmine benar-benar sendiri.

Kadang ia ingin tertawa geli. Mengingat tak satu pun keluarganya yang ada di Korea. Ayah Jasmine kembali ke tanah kelahiran, Ibunya pergi ke Indonesia, dan sekarang kakaknya menyusul sang kekasih ke Amerika.

Jasmine bingung. Bagaimana kalau maagnya kambuh dan kepalanya menjadi sangat sakit? Atau mungkin, siapa yang mau menemani Jasmine duduk di dekat tungku perapian saat musim dingin tiba? Setidaknya, Jasmine butuh satu teman yang bisa membantunya mendorong ayunan.

Gadis itu mendesah berat dan menjatuhkan pandangannya pada orang-orang yang tengah berlalu-lalang; atau lebih tepatnya setengah berlari. Itulah sebabnya Jasmine suka duduk di dekat jendela. Entah itu di mobil, kelas, atau tempat makan. Jasmine selalu mencari meja yang letaknya dekat dengan jendela.

“Permisi. Apa aku boleh duduk disini?” Seru seseorang.

Persetan, batin Jasmine.

“Halooo…” Serunya lagi sembari menyentuhkan jari telunjuk ke dahi Jasmine. “Aku sedang bicara denganmu.”

“Duduk saja. Lagipula, aku juga mau pulang.” Jasmine beranjak dari tempat duduknya. Namun ada hal yang membuatnya berhenti sejenak. “Jangan sentuh aku!”

“Sorry. Tapi kopimu belum habis. Tidak masalah kalau kau keberatan aku duduk disini. Aku akan pindah.”

Lelaki itu mengedarkan pandangannya. Ia bingung harus duduk dimana karena tidak ada kursi kosong. Sejurus dengan itu, Jasmine juga pergi meninggalkan meja itu dan berjalan dengan gaya yang angkuh.

Jasmine tak sepenuhnya serupa malaikat.

Ia adalah balon yang rentan pecah terkena sinar matahari, dan juga ilalang tajam. Namun, balon punya berbagai macam warna sebagai daya tarik. Itulah Renata Jasmine bila diibaratkan sebuah balon.

“Dasar sialan.” Dengus lelaki itu. Wajahnya tampan, berkulit putih bersih, dan dengan rambut blonde. Sangat cocok.

Jasmine pergi dari tempat itu bukan karena ia malas duduk semeja dengan orang asing. Mungkin lebih tepatnya, ia takut. Kalau dulu, selalu ada Vanessa si mulut seribu yang akan memaki siapapun yang mencoba mengganggu Jasmine. Tapi…

Sekarang Vanessa sudah punya dunianya sendiri.

“Astaga. Hujan?”

Tidak mungkin kalau Jasmine masuk ke dalam kedai itu lagi. Jasmine adalah tipe orang yang lebih besar gengsi. Kali ini adalah sifat keturunan dari Ayahnya.

“Karena aku, kau jadi berdiri di luar. Jadi, aku juga akan berdiri. Supaya kita seri.”

Jasmine mendelik dan mendapati lelaki tadi berdiri tepat di sampingnya. “Hentikan mulut besarmu itu. Kau cerewet sekali.”

.

**

.

“Jasmine akan baik-baik saja.”

“Tapi ia sangat ceroboh dalam mengatur jam makannya. Ia punya penyakit maag yang efeknya sampai ke kepala. Ia selalu menangis dan sering membenturkan kepalanya ke tembok kalau maagnya kambuh. Aku juga tidak bisa memantaunya, apakah ia istirahat dengan cukup.”

Jason Derulo, namanya.

Mulai dari perjalanan menuju bandara, Vanessa terus saja mengutarakan kekhawatirannya. Apa, siapa, kapan, dimana, kenapa, bagaimana, ini, itu. Vanessa tidak henti-hentinya berbicara di dalam mobil.

Jason sedikit jengah namun ia tahan. Lelaki itu tahu betul bagaimana rasanya terpisah dengan saudara kandung. Jason adalah pribadi yang tenang, pengertian, berwibawa dan dewasa.

Vanessa sudah pernah memperkenalkan Jason kepada adiknya. Alhasil, Jasmine hanya mengangguk dan kembali ke kamarnya.

“Ini tidak akan lama, Vanessa Kim. Aku akan segera menikahimu dan kita akan kembali kesini.” Hibur Jason.

Kim adalah marga dari Ibu Vanessa. Seharusnya Jason tidak perlu mengimbuhi marga Kim di belakang namanya.

Jason melajukan mobilnya dengan cepat. Mereka tengah menuju bandara untuk pulang ke Amerika. Jason memang tidak punya rencana memisahkan Vanessa dari pelukan Jasmine. Jason hanya ingin memperkenalkan Vanessa pada keluarganya di Amerika dan menetap sebentar disana. Setelahnya, Jason dapat menjamin kalau mereka akan kembali ke Korea.

Vanessa tidak jauh beda dari Jasmine. Mereka sama-sama memiliki sifat yang lembut, sopan, tidak pernah memandang kasta, dan royal. Tapi Jasmine sangat sulit mengendalikan dirinya. Ia mudah meledak hanya karena masalah kecil.

“Bagaimana kalau keluargamu tahu aku adalah anak broken home?”

“Aku jauh lebih khawatir kalau kakakku jatuh cinta padamu. Jaden tidak pernah memandang dengan siapa ia jatuh cinta.” Jason tertawa kecil.

Selera humornya memang payah. Namun entah mengapa, Vanessa menyukainya. Sifat santai dan tenangnya yang mampu membuat Vanessa bertahan dengan Jason selama hampir 6 tahun.

Jason tidak pernah sedikit pun memaksakan kehendaknya pada Vanessa. Baginya, tidak ada yang jauh lebih menyenangkan dari melihat Vanessa tersenyum meskipun kecil.

.

**

.

Jasmine berani bersumpah kalau ia akan membunuh lelaki tadi dengan pisau dapur—kalau sampai ia berani mengikuti gadis blasteran itu sampai pekarangan rumah.

Rasanya, Jasmine ingin menelpon Vanessa dan memintanya kembali. Tapi, gengsinya jauh lebih besar dari segalanya. Jasmine lebih memilih mati daripada harus menghancurkan harga diri.

“Berhenti mengikutiku, penguntit gila.”

“Namaku Sehun.” Timpalnya santai.

“Mengetahui namamu tidak bisa membuatku kaya raya.” Jasmine melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Tapi bisa membuatmu menyayangiku.” Sehun berlari kecil demi menyejajarkan langkahnya dengan Jasmine. “Tak kenal maka tak sayang. Bukankah begitu?”

Jasmine masih diam. Dasar mulut besar, batin Jasmine.

Gadis itu tak segan-segan memberikan tinjuan mentah pada Sehun kalau lelaki itu masih saja berbicara seperti orang gila.

Oh Sehun, namanya. Usianya 18 tahun. Sukanya bubble tea. Pintar menari namun sangat buruk saat bernyanyi. Ia mudah bergaul dengan siapa saja, tingkahnya seperti anak berkebutuhan khusus, bodoh dalam pelajaran matematika, tapi ia memiliki sifat menyenangkan. Siapa sangka, si hyperaktif itu bisa membuat banyak orang menjadi nyaman saat berbicara dengannya.

Sehun memiliki sahabat karib bernama Jongin. Mereka sama-sama gila, seperti orang bodoh, tapi mereka punya cara ampuh untuk mengubah pandangan orang-orang tentang dirinya.

Menari.

Ya, mereka cukup menari maka semua mata akan terpukau. Julukan idiot akan hilang dengan sendirinya.

“Oke. Soohyun, berhenti mengikutiku.”

“Sehun. Bukan Soohyun.”

“Baiklah, aku salah. Siapapun namamu, berhenti mengikutiku dan pulanglah ke rumahmu.” Daripada menggerutu, lebih baik Jasmine meminta lelaki itu pergi dengan cara baik-baik.

“Selyn, aku hanya mau mengantarmu sampai rumah.”

Jasmine benar-benar ingin meledak sekarang. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi Sehun. Karena posisinya adalah Jasmine tidak mengenal Sehun. Entah ia adalah orang baik atau punya itikad buruk pada Jasmine.

Rumah Jasmine sudah dekat dan Sehun masih saja mengusik ketenangannya. Sehun tak pernah diam pun sejemang. Ia berceloteh tidak ada habisnya. Ia bersikap seolah Jasmine adalah temannya.

“Kau pindah rumah, Yeojin?” Sehun berbicara semaunya.

Jasmine tak terusik. Telinganya lebih asik dengan gemerisik daun yang tengah digoda angin. Ia berharap akan ada angin kencang yang mampu menerbangkan Sehun ke planet lain.

“Kim Hyera, kau masih berpacaran dengan si onta arab itu?”

Jasmine muak. Sudah cukup ia menekan kesabarannya. Namun Sehun tak kunjung mengapresiasi kesabaran Jasmine. Ia menghentikan langkahnya. Menatap Sehun dengan tajam dan mematikan.

“Hentikan, Sehun. Aku tidak mengenalmu dan kurasa kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Kau ini manusia atau parasit? Dasar pengganggu.” Jasmine kembali melangkahkan tungkainya. Menyusuri sisa jalan yang belum ia telan. “Dan satu hal lagi, namaku Renata Jasmine. Bukan Selyn, Yeojin, Hyera, atau siapapun itu.”

Mereka saling beradu pandang. Jasmine tidak mengerti apa maksud dari senyum kecil Sehun. Yang jelas, perlahan, tatapan Jasmine berubah melunak. Apa ia meleleh karena senyuman itu?

Cukup lama. Akhirnya Sehun memutuskan buka suara. “Baiklah, Renata Jasmine.”

Kemudian, Jasmine paham. Sehun hanya memancing agar Jasmine menyebutkan nama tanpa ditanya.

.\

FIN

.

Gatau ada lanjutannya atau nggak. (memang, siapa juga yang nungguin lanjutannya?)

13 responses to “Your Name

  1. Hahahaha,, ceritanya unik😀
    Gaya sehun yg ngajak knalan’y jga keren🙂
    Emank bner2 gokil,,
    Patut d cobaaa kah???? :p

  2. hmm bagus ceritanya, gaya Sehun utk berkenalan patut dicubo, hingga akhirnya Renata mengatakan namanya sendiri, kalau ada kelanjutannya, apa salah nya ditunggu

  3. bagus chingu.. coba aja aku yg diajak kenalan Sehun oppa, mungkin aku langsung sebutin nama, Kkkk~

  4. Iiiihhhhh…….aku greget juga bacanya pinginya ada lanjutanyaa../*ngarep…* abisnya gantung bngett critanya tpi unik deh hehe…….

  5. AAAAAAAAA~ ini mah momen yg cantik lucu imut :3 si parasit sehun vs si cuek bebek jasmine… aku suka momen pertemuan mereka :3
    ga dilanjut gpp sih… soalnya ga semua cerita harus di jelaskan, kan? biar reader sendiri yg menciptakan imajinasi :33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s