[Sequel of Married with a Gay] Tian Mi Mi (Chapter 2)

SAH

Title     : Tian Mi Mi

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : 17 +

Length : Multi chapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by :

 

***

Ariel menatap kaku wanita tua yang duduk dengan nada angkuh di atas sofa ruang tamu keluarga Xi. Ariel sempat tidak yakin jika wanita tersebut memiliki hubungan ibu dan anak dengan ibu Luhan. Bagaimana tidak? Wanita berambut putih itu terus saja mengoceh dan menyudutkan tentang rumah tangga mertua Ariel, seolah-olah Nyonya Xi adalah menantu dari wanita tersebut.

Dan tahu bagaimana reaksi Nyonya Xi? Mertuanya itu tetap bersikap santai meskipun ia terlihat cukup terganggu dengan kehadiran wanita berambut putih itu. yeah, Ariel akui hubungannya dengan ibu Luhan sebagai menantu dan mertua tidak begitu baik, tapi melihat hubungan ibu dan anak kandung di hadapannya, justru membuat Ariel merinding.

Apakah kekayaan selalu membuat hubungan darah retak tak bernilai seperti sekarang?

“Luhan, bagaimana dengan hubungan kalian berdua? Kalian baik-baik saja?” tiba-tiba Nyonya Zhou –ibu dari Nyonya Xi—beralih menatap Luhan dan Ariel bergantian.

Luhan sebenarnya tidak sekaku itu jika berbicara dengan sang nenek, bahkan bisa dikatakan ia jauh lebih dekat dengan neneknya ketimbang ibunya sendiri. Tapi, bahkan Luhan lupa apa yang membuatnya tak lagi berkomunikasi dengan baik dengan sang nenek.

Ariel hanya mengerutkan dahinya saat nenek Luhan yang kini menjadi nenek Ariel itu angkat suara, dan kali ini sang nenek berbicara pada mereka berdua –mungkin. Nenek Luhan menggunakan dialek yang asing di telinga Ariel, dan itu membuat Ariel harus berkali-kali melirik Luhan dan berharap Luhan dapat mengatasi semuanya.

“Tentu saja. Apa kami terlihat tidak baik-baik saja?” Luhan tersenyum kekanakan sambil menarik Ariel ke pelukannya.

Dan entah mengapa Ariel ingin tertawa melihat jati diri Luhan keluar seperti ini. Di depan semua relasi kerja, Luhan bisa menjadi sosok pria berwibawa dan berkarisma dibalik wajah tampan yang jatuh pada kata imut. Tapi di depan keluarganya –terkhusus Ariel, Luhan tak lebih dari bayi besar yang manja dan sangat suka merajuk.

“Lalu kalian akan berencana tetap tinggal di Beijing?”

Sekali lagi Ariel melirik Luhan, dan tanpa telepati apapun, Luhan akan langsung mengambil seluruh kendali obrolan, “Kami belum memutuskan. Sejauh ini aku masih harus fokus pada pekerjaan. Baba belum kembali, dan Mama juga harus mengurusi proyeknya sendiri,” Luhan melirik ibunya lewat ekor matanya, “Jadi…sejauh ini kami belum merencanakan appaun,” lanjutnya lagi.

Nyonya Zhou menatap kecut wajah putrinya, “Seburuk itu kah kau mengurus suamimu sampai ia tak merindukan dirimu, Mai?” katanya dengan nada sarkatik.

Ariel menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa role film di otaknya justru memutarkan kejadian dimana nenek Ariel –ibu dari Lim Jinha—malah menampar ibu Ariel dan sama sekali tak membelanya. Ariel tahu ibunya salah, Ariel juga tahu sama sekali tidak benar saat ibunya memutuskan untuk meninggalkan sang ayah hanya karena alasan tak ada lagi harta yang bisa menjamin kehidupan mereka di masa depan.

Harta bukan segalanya. Tapi Ariel juga tak bisa menyangkal, cinta pun bukan segalanya. Sebesar apapun cinta yang dimiliki kedua orang tuanya, tapi mereka seolah kehilangan deskripsi yang bisa mempertahankan cinta mereka berdua.

Ibunya menangis saat nenek Ariel menampar dan menyalahkan ibu Ariel. Ia juga menangis dan turut merasa sedih. Karena saat itu ibu Ariel pun dalam tahap untuk berdiri dari keterpurukan –meskipun Ariel tidak mengerti dengan apa yang dirasakan sang ibu.

Dan entah mengapa, suara Ariel justru memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruang tengah tersebut, “Tapi Yuemu (ibu mertua) adalah ibu yang baik. Dia memikirkan masa depan Luhan dengan sangat baik. Bahkan, dia begitu memperhatikan ibuku…”

“Pernikahan kalian bahkan hampir dirusak olehnya, dan kau masih membelanya?”

Ariel merasa jantungnya dihunus saat kalimat yang dieja lamat-amat itu menyentuh gendang telinganya. Entah mengapa ia merasa kalimat itu terlalu jahat, terutama untuk dirinya dan Luhan.

“Mama…” Nyonya Xi melotot ke arah ibunya, tidak percaya jika sang ibu tega mengatakan hal itu.

“Itu sudah berakhir…maksudku…”

“Kami menyayangi Mama,” Luhan memotong dengan cepat. Ia tahu Ariel baru saja terpancing emosi, dan Luhan sangat tahu neneknya bukan orang yang bisa dilawan dengan emosi seperti itu.

“Bagaimnapun Mama, dan apa yang terjadi dengan keluarga kami, tapi kami tetap bahagia. Baba juga masih sering pulang, tapi kami memang tidak bisa bersama. Kecuali jika nenek juga tega melihat perusahaan yang baru berganti nama menjadi Qing Group ini harus jatuh karena urusan pribadi…”

Nenek Luhan tertawa meremehkan. Cantik sekali kalimat cucunya, pikirnya tanpa menyuarakan isi pikirannya. Ia pun menarik cangkir teh nya dan kembali melirik istri dari cucunya.

“Kapan kalian berencana memiliki anak?” tanyanya setelah menaruh cangkir teh itu.

Ariel sedikit berdeham, jujur saja ia tidak enak. Ia telah diam-diam ia ingin menunda memiliki anak, dan tentunya hanya ia yang tahu, dan Luhan sama sekali tidak.

“Secepatnya. Kami memang tidak buru-buru. Nenek tahu aku sedang sibuk…”

“Jika kalian melakukannya dengan benar dan tepat, meskipun melakukannya sekali kalian pasti akan langsung mendapatkan anak,” kata sang nenek dengan nada ketus.

Dan Ariel langsung tersedak mendengar ucapan tersebut. Ini obrolan yang sangat sensitif, setidaknya menurut Ariel.

“Kau juga harusnya tidak mengubah warna rambutmu dengan warna coklat. Kudengar kau juga mengubahnya menjadi warna putih kemarin. Kau juga…” kali ini sang nenek menatap Ariel, “Kenapa kau tidak menggunakan nama cina mu? Apa kau sangat malu dan lebih bangga dengan statusmu sebagai warga barat sehingga tidak mengubah namamu?”

Ariel mengerutkan dahinya saat sang nenek mulai merembetkan masalah ini pada kebiasaannya –tidak bisa memakai sumpit, tidak pernah menggunakan pakaian adat, tidak pernah merayakan hari raya di cina, dan banyak lagi.

Tapi dengan cepat, Luhan menggenggam tangan Ariel kuat, membuat Ariel melirik Luhan di sampingnya yang baru saja menggelengkan kepalanya. Yeah, Ariel mengerti. Sebaiknya ia hanya mendengarkan atau lebih baik ia tak mendengarkan apapun sama sekali.

 

***

 

Ariel menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hari ini telinganya lelah sekali, rasanya seperti ia datang ke negri asing dan ia diomeli oleh penduduk setempat dengan kalimat yang ia tak mengerti.

Ariel pun langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sebenarnya ia dan Luhan tidak berencana datang ke rumah Nyonya Xi –mertua Ariel, tapi karena telpon mendadak, akhirnya mereka bergegas kesana dengan Luhan yang tak berhenti berkomat-kamit panik.

Dan Ariel tentu saja terkejut dengan watak dari nenek Luhan yang sedikit…menyebalkan. untung saja tidak ada tradisi dalam keluarga Xi dimana ia harus menginap di tempat nenek Luhan. Ariel tidak bisa membayangkan nasib perasaannya yang terombang-ambing tidak jelas.

“Hei…tumben kau tidur duluan? Kau baik-baik saja?” Ariel tiba-tiba merasakan sebagian tubuhnya sedikit sesak –Luhan menindih sebagian tubuhnya, kemudian Luhan pun menarik Ariel ke pelukannya, memeluk erat adalah kebiasaan Luhan.

“Aku hanya kaget dengan nenek…” lirih Ariel jujur. Matanya sedikit terpejam, ia benar-benar merasa cukup lelah. Dan perlahan, Ariel pun melingkarkan tangannya ke tubuh Luhan, dan membiarkan aroma tubuh Luhan memenuhi paru-parunya.

Luhan menarik sudut bibirnya. Ia pun mengusap kepala Ariel perlahan, “Maaf, nenek memang seperti itu…”

Dan selama beberapa menit, Ariel dan Luhan sama-sama diam tanpa terlelap ataupun mengeluarkan sepatah katapun. Ariel tiba-tiba saja merindukan keluarga. Yeah, melihat nenek Luhan datang ke Beijing mengingatkan nenek Ariel yang kini berada di Taipei dan Hon Kong. Ariel tidak pernah lagi bertemu dengan mereka semenjak perceraian kedua orang tuanya –dan ariel cukup merasa terluka melihat bagaimana keluarganya hancur karena harta yang tidak akan membuat mereka memasuki surga ataupun bahagia dengan orang yang mereka cintai.

“Ariel, kau belum tidur?” suara Luhan berhasil menarik perhatian Ariel.

Ariel pun memajukan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Luhan yang terlihat kusam. Dasar jorok, bagaimana bisa Luhan tidak mandi sore ini? Ariel bahkan tidak memperhatikan kemeja yang tidak Luhan ganti sejak tadi pagi.

“Kau tidak ganti baju?” sebenarnya Ariel tidak terlalu membesarkan masalah itu –masalah Luhan dan pakaiannya yang tidak diganti, tapi tetap saja Ariel risih harus tidur dengan Luhan yang bau keringat dan juga berwajah lusuh.

Luhan terkekeh kecil, kemudian mengecup hidung Ariel, “Harusnya aku tidak membuatmu bangun jika kau mengomel seperti ini padaku,” guraunya yang dibalas cubitan di pinggang Luhan.

“Kalau begitu ganti baju sana!” Ariel pun sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Luhan. Ariel seperti tengah mengajarkan kebiasaan pada anak-anak. Karena Luhan seperti anak-anak, jika sekali diberi kelonggaran, maka Luhan akan terus memanfaatkan kelonggaran itu dan membuat segala sesuatu yang dilakukannya tidak teratur.

Seperti ganti baju –bahkan mandi sehabis beraktivitas seharian, menaruh pakaian kotor di tempat yang benar, membuang sampah pada tempatnya langsung, bahkan kadang Luhan harus diingatkan soal mencuci tangan sebelum makan.

Ah, Ariel jadi gamang, sebenarnya dia menikahi seorang pria dewasa atau justru menikahi balita?

Luhan sedikit merengut saat tubuhnya didorong oleh kaki kurus Ariel, “Hei! Mana boleh istri melakukan itu pada suami?” tegurnya dengan kesal.

Ariel tak mau kalah, ia langsung bangun dan mentap Luhan tajam, “Dan sudah kewajiban seorang istri untuk mengingatkan suaminya. Sudah! Jangan bahas soal hak kewajiban suami istri! Cepat ganti baju!” sekali lagi Ariel menendang kaki Luhan.

“Tapi setelah ini janji…” sungut Luhan dengan wajah imutnya –setidaknya bagi Ariel wajah yang ditunjukkan Luhan sangat imut, “Kau mau ‘melakukannya’ denganku. Nenek terus-terusan menyinggung soal anak…”

“Makanya, kau harus bersikap dewasa jika kau mau menjadi ayah. Kau kira memiliki anak semudah kau membuatnya di ranjang?” ketus Ariel yang tanpa sadar telah berhasil memancing iblis keluar dari dalam diri Luhan.

Sebelum Luhan benar-benar mengganti bajunya, Luhan kembali duduk di atas ranjang dan menarik tengkuk Ariel, kemudian ia pun melumat bibir Ariel cukup lama, “Kuanggap kau setuju, Nyonya Xi.”

Luhan begitu bersemangat. Ia langsung turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya dari dalam lemari. Dalam pikirannya, akan lebih baik jika ia mandi terlebih dulu. Entah mengapa ia menjadi semagat sekali –ini bukan hanya karena…ekhm, hobinya di atas ranjang. Tapi memikirkan memiliki seorang anak, ia rasa itu akan menjadi hal yang luar biasa. Dan ia dapat memastikan Ariel tidak lagi memiliki alasan untuk meniggalkannya.

Yeah, jujur saja. Ditinggalkan oleh Ariel adalah hal yang selalu membuatnya gelisah.

 

***

 

“Kakimu cidera dan kau masih mau melakukan pemotretan?” fotografer yang berdiri tak jauh dari Whitney sedikit menaikkan alisnya. Yeah, tahun ini adalah tahun ketiga dimana ia dan Whitney bekerja sama. Dan ini adalah hal tergila lainnya yang dilakukan oleh Whitney, menunjukkan betapa besarnya impian Whitney menjadi seorang model professional.

Whitney tersenyum dengan nada arogan, “Aku masih bisa berdiri dan berjalan menghampirimu. Bagian mana yang membuatku harus tidak melakukan pemotretan musim dingin ini?”

Sungmin Lee terkekeh pelan. Yeah, ia ingin membantah sesuatu dari ucapan Whitney ataupun Carissa –entah apapun namanya, Sungmin lebih suka memanggilnya White. Tapi White bukan gadis yang akan mau kalah begitu saja, palagi jika soal adu argumen. Bisa dipastikan Sungmin akan kalah total. Dan akhirnya ia memilih diam dan melanjutkan pemotretan ini dengan rasa khawatir pada White karena kakinya yang sedikit pincang.

Dan setelah 1 jam, akhirnya pemotretan itu bisa selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Selain kerja keras Whitney, Sungmin juga tidak ingin terlalu membuat White-nya semakin kesulitan karena kakinya yang sedang tidak baik saat ini.

“Aku tidak mengerti, kenapa kau malah mampir dulu ke Seoul dan tidak langsung datang ke Jeju?” tanya Sungmin sambil menyodorkan sebuah cangkir kertas berisi kopi ke arah Whitney yang tengah duduk di salah satu bangku yang telah disediakan.

Whitney tersenyum kecil dan menerima kopinya dengan senang hati, “Kukira adikku masih di Seoul. Tapi sepertinya tidak, apartemennya sudah kosong sejak beberapa bulan lalu,” jelas Whitney dengan tatapan kosong. Yeah, jadi selama ini adiknya memang benar-benar sudah menikah.

Sungmin sedikit menaikkan alisnya, “Bukankah dia menikah dengan pengusaha di Tiongkok?” katanya sebelum menyesap mokacino-nya.

Whitney mengedikan bahu, “Aku merasa semua itu adalah mimpi. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku melihatnya sebelum ia pindah ke Tiongkok.”

“Kau menyayangi adikmu.”

“Karena pertalian darah, kukira itu adalah hal lumrah. Aku juga bukan dengan sengaja ingin merindukannya, kok,” dan Whitney sama sekali tidak bohong. Ia tidak pernah ingin merindukan siapapun, termasuk Ariel yang bahkan tidak begitu dekat dengannya. Tapi setelah tahu ia akan datang ke Korea, hal pertama yang diingatnya adalah nama Ariel Lau, adik bungsunya.

Sungmin pun sedikit menarik kepala Whitney untuk bersandar di pundaknya, “Lalu kenapa kau masih keras kepala melarikan diri dari Kanada, hmm?” tanyanya kemudian dengan nada selembut mungkin.

“Because i had a hard time…” Whitney mencoba memejamkan matanya. Yeah, ia mungkin arogan, keras kepala, dan egois. Tapi di sisi lain, ia hanya gadis lemah yang bahkan tidak bisa terlepas dari kenangan pahitnya.

Yeah, kenangan berupa cinta yang memiliki rasa pahit…keluarga yang tak lagi bisa menjadi pegangan untuk dirinya…juga kesepian dan rasa bersalah yang menjepitnya semakin kuat dari hari ke hari.

Dan…dia adalah Whitney Lau, si pecundang yang lebih suka melarikan diri.

Seseorang yang tercampakkan oleh cinta pertamanya, kemudian harus menaruh dendam pada seseorang yang hidup dengan menjijikkan, menyisakan dua hati yang harus ia jaga hingga saat ini. Hatinya sendiri dan gadis kecil itu.

 

***

 

Ariel sedikit mengendap ke arah dapur saat Luhan tengah mandi. Yeah, permintaan Luhan memang tidak pernah bercanda. Dan jujur saja, meskipun ia terus-terusan mengamini obrolan Luhan mengenai memiliki anak, tapi ia masih berada dalam keputusan yang berpikiran dangkal –ia ingin menundanya dulu sampai ia benar-benar yakin.

Yeah, sulit menjelaskannya memang. Ini bukan soal ia tidak yakin atau apapun…tapi…entahlah. pada akhirnya ia tetap meminum obat untuk menunda kehamilannya tersebut.

Maafkan aku Luhan. Kupikir ini cara terbaik untuk sementara waktu.

Dan Ariel hampir menjatuhkan gelasnya saat sebuah tangan tiba-tiba mencengkram lengan kanannya yang tengah memegang obat tersebut. Dan Ariel benar-benar terkejut saat mendapati Luhan dengan tatapan tajamnya yang bergantian melucuti tangan dan matanya.

“Kenapa minum obat? Kau sakit?” ujar Luhan dengan nada khawatir yang bercampur kesal.

Ariel langsung menarik tangannya. Ia tidak mau Luhan mengetahuinya, ia juga tidak mau Luhan berpikiran yang tidak-tidak seandainya ia tahu. Ini bukan sesuatu yang bisa dijelaskan oleh Ariel dengan mudah. Ia hanya khawatir –bahkan setelah mendengar cerita temannya yang bernama Lyn, Ariel masih dihantui rasa takut.

Masa lalu Luhan memang hanya sebuah lembar masa lalu. Tapi kadang, masa lalu seseorang bisa menjadi masalah di masa depan orang tersebut. Dan Ariel ingin memastikan Luhan benar-benar sudah kembali normal –oh! Bahkan Ariel benar-benar merasa jahat sekali dengan pemikirannya sekarang.

Ariel tidak langsung menjawab dan justru langsung mengambil botol obatnya yang masih berada di atas konter. Tapi sekali lagi Luhan menahan lengannya, kali ini Luhan langsung menarik botol obat tersebut.

“Jelaskan apa ini, Ariel Lau!” tanya Luhan dengan nada yang sedikit tinggi. Dan Luhan benar-benar terpukul saat tahu obat apa yang baru saja akan diminum oleh Ariel –atau mungkin obat yang selama ini telah Ariel minum.

Matilah kau Ariel Lau!

Ariel memejamkan matanya, “Luhan…biar kujelaskan…”

“Kau tidak percaya padaku?” nada bicara Luhan sedikit rendah –meskipun Ariel tahu itu semua tidak mengurangi kadar rasa kesal Luhan.

“Bukan begitu…”

“Kau masih berpikir aku gay? Kau ingin meninggalkanku? Kau tidak ingin memiliki anak denganku?!”

“Bukan begitu! Aku…aku hanya takut. Aku telah berkonsultasi dengan psikiater dan…”

“Kau berkonsultasi dengan psikiater tanpa sepengetahuanku?” Luhan semakin tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Ia tidak merasa perlu saki hati saat ini, tapi secara refleks ia merasakan sakit itu meskipun Luhan ingin menolaknya.

“Luhan…”

“Sebegitu tidak percayanya dirimu?” Luhan menurunkan suaranya, namun yang membuat Ariel harus menelan rasa terkejut sekali lagi adalah ketika Luhan melemar botol obat di tangannya dengan sangat keras ke atas lantai.

 

***

 

Harusnya Ariel belum tidur. Baekhyun terus mengulang kalimat itu berulang kali di dalam kepalanya, dan selama itu juga Baekhyun masih berusaha menghubungi Ariel. Persetan soal panggilan internasional dan biayanya, ini lebih penting daripada soal uang. Kakak Ariel ada di Korea, dan dia bukan sedang kuliah psikiater, tapi menjadi seorang model dengan nama Carissa White.

Baekhyun kembali menarik ponselnya, kemudian ia mengetikkan sesuatu di ponselnya –memberi tahu Ariel lewat sms jika ia bertemu dengan seseorang bernama Whitney Lau. Dan sekali lagi, ia mencoba menghubungi nomor Ariel.

Baekhyun hampir menyerah dan ia nyaris menutup telponnya jika ia tidak mendengar suara Ariel dari sebrang sana.

“Baek..?

“Ariel! Kenapa lama sekali? Ini penting bodoh!”

Ariel mendesah pelan, “Baiklah, ada apa? Cepat katakan! Aku juga harus menyelesaikan sesuatu…”

“Aku bertemu dengan Whitney! Kakakmu!”

Hening. Baekhyun tidak yakin dengan reaksi Ariel saat ini, tapi Baekhyun yakin jika Ariel sangat terkejut sekali sekarang.

“Ariel?”

“Bagaimana bisa? Kau bahkan tidak pernah melihatnya, dan juga Whitney…”

“Ukiran cincin keluarga kalian dibuat oleh satu tangan, kau pernah menunjukkannya dan menyimpannya. Whitney justru menyelipkannya pada sebuah kalung. Kami bertemu tanpa sengaja, dan dia meninggalkannya di mobilku. Anehnya, dia menyebut namanya Carissa White dan dia seorang…hallo? ariel? Kau baik-baik saja? Ariel?”

Dan sambungan benar-benar terputus setelah suara bantingan keras sebuah benda terdengar nyaring di telponnya. Buruk. Pasti sesuatu yang buruk tengah terjadi –atau Ariel memang menjatuhkan ponselnya. Entahlah.

Baekhyun tak lagi berinisiatif dan justru memilih duduk di balkon apartemennya yang terasa sangat dingin. Yeah, hatinya kembali dingin saat ia menyadari…ia tak lagi memiliki Taeyeon yang biasanya dengan senang hati mendengarkan semua masalahnya. Semuanya.

Dan sekarang, jangankan Taeyeon, sahabat-sahabatnya pun sudah memiliki kehidupan sendiri yang bahkan tak lagi bisa Baekhyun usik. Baekhyun pun tersenyum kecut. Ada nada rindu yang mengalir di dadanya, entah tertuju untuk siapa, tapi ia benar-benar merasa hatinya kosong sekarang. Dingin. Sangat dingin.

 

***

 

Ariel membulatkan matanya saat Luhan tiba-tiba muncul dan menarik ponsel Ariel. Ariel kembali mendesah panjang. Demi Tuhan! Ia baru saja mendengar kabar kakaknya yang hilang seperti di telan bumi, dan sekarang ia harus kembali menghadapi masalah yang bahkan belum selesai ini dan malah semakin membengkak?

Luhan menatap Ariel dengan seluruh emosi yang dimilikinya. Dengan kasar, Luhan membanting ponsel Ariel ke lantai hingga tidak berbetuk sama sekali. Ariel sempat menjerit karena kaget, dan juga ia tidak percaya jika Luhan bisa melakukan hal mengerikan seperti itu.

“Luhan! Kau kira apa yang kau lakukan?!”

“Bukankah aku yang harusnya berkata seperti itu?”

Ariel memijit pelipisnya yang terasa nyeri, “Luhan, Baekhyun…”

“Kau menghubungi Baekhyun padahal kau sedang bertengkar denganku?”

“Luhan, kau salah…”

“Kau benar-benar ingin melarikan diri dariku?” potong Luhan lagi, telinganya seolah tuli oleh suara Ariel, “Kau ingin kembali pada Baekhyun?”

Dan Ariel kehilangan kesabarannya. Tanpa bisa ia kendalikan, tangannya tiba-tiba saja melayang dan menampar pipi Luhan. Tidak keras, Ariel tahu ia tak punya kekuatan sebesar itu untuk memberikan efek sakit di kulit Luhan, tapi Ariel tahu akan ada luka lain yang terasa lebih sakit daripada tamparan itu. hati Luhan…

“Berhenti menuduhku! Aku bukan wanita murahan yang suka selingkuh seenaknya!”

“Lalu kau kira aku tidak kecewa kau melakukan semua ini di belakangku, Ariel Lau?”

Dan Luhan tidak ingin mengatakan apapun lagi. Ia langsung menarik tengkuk Ariel dan menciumi wanita itu dengan kasar. Luhan selalu sulit untuk mengendalikan emosinya, dan Luhan sama sekali tidak tahu bagaimana cara mengenyampingkan rasa sakit hatinya. Ia hanya menyalurkan semuanya lewat ciumannya yang kasar dan menggebu-gebu. Tidak berhenti sampai disitu, Luhan meneruskannya dengan kasar, ia tidak tahu bagaimana dengan Ariel saat itu –yang Luhan tahu, ia hanya melakukannya mengikuti emosinya.

 

***

 

=TBC=

20150904 PM1032

8 responses to “[Sequel of Married with a Gay] Tian Mi Mi (Chapter 2)

  1. Kaaaak sejujurnya aku udh baca sampai chapter 3 di blog pribadi kakak, cuma aku lupa username blognya apa -___-. Tolong dibls ya kak, soalnya nyari du google kok susah g ktmu2 :”). Makasihhhh.

  2. Akhirnya ini ff comeback juga
    hahahahaha

    Oke langsung ke intinya

    Ceritanya meskipun sequel tetep makin asik dengan sederet konflik yang kadang bikin pengen ngumpat parah
    G sama Luhan, g ke Arielnya nah Baekhyun juga pernah kena sasaran umpatan
    Hwahahahaa
    Seperti biasa ceritanya g ketebak gimana alurnya
    Padahal baru tenang aman dan damai sejahtera tiba2 menggelegar dan membahana aja emosinya Luhan
    Eling gimana bang?
    Itu anak orang juga disiksa begitu
    Si Luhannya si enak lampiasin emosi
    Nah yang jadi pelampiasannya gimana?

    Semoga di next chap tiba2 ada super luhan junior yang bantu Ariel biar g kena amuk Luhan
    Itu orang dari cerita sebelum sequel juga ngeselin ya
    Kerjaannya demen marah2
    hahahahahaha

    ditunggu next chapnya ya kak
    Maunya si jgan lama2 lagi
    Tapi tetep ditungguin kok😀

  3. ariel bener* gak dikasih kesempatan buat ngejelasin semuanya ke luhan
    luhan kalau udah marah serem banget..
    ceritanya tambah keren..

  4. lagi rame2 nya eh tbc😦
    makin dan makin bagus aja ni ff, konflik baru bermunculan kembali. ayolah luhan dengerin ariel dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s