Reason to Call

12107290_717189978382675_5056781939277325331_n

Reason to Call

|| Lee Dongyeol • Xiao Up10tion • Hwanhee Up10tion • OC ||

|| Vhaerizz ||

***

Kalau boleh jujur, aku tidak begitu suka dengan lelaki yang memiliki usia lebih muda dariku. Suka di sini merujuk pada perasaan antara lelaki dan perempuan. Ya… suka yang seperti itu pokoknya. Kalau berteman saja, ada banyak lelaki –yang akhirnya terasa seperti adik sendiri– yang dekat denganku.

Semuanya hampir teman dari adik laki-lakiku, Hwanhee.

Karena rumah kami yang berada paling dekat dengan SMA tempat Hwanhee bersekolah, teman-teman Hwanhee sering ke rumah untuk berbagai macam alasan. Belajar bersama, main playstation, sampai hanya numpang tidur.

Macam-macam saja jenis teman Hwanhee itu. Ada Wooshin yang katanya bintang sekolah karena ketampanannya, Seongjun yang tinggi dan merupakan seorang atlet bisbol sekolah, hingga Dongyeol yang cerewet, tukang rusuh dan paling sering membuat emosiku naik karena ulahnya. Namun sayang, Dongyeol yang paling dekat dengan Hwanhee, jadi aku tidak bisameminta Hwanhee untuk melarang Dongyeol datang.

“Noona, boleh minta susu coklatmu, tidak?”

“Noona, kerutan dahimu semakin kentara saja. Cepat sekali tuanya.”

“Noona, perutku sedang agak mulas. Kalau tiba-tiba ada bau yang–”

Suara memalukan terdengar bahkan sebelum bocah ini menyelesaikan perkataannya.

“Hwanhee!”

Yang cerewet barusan jelas bukan Hwanhee. Adikku sangat kalem, penurut dan bicara selalu seadanya saja. Hwanhee juga tidak kentut sembarangan seperti bocah ingusan bernama Lee Dongyeol ini.

“Apa, sih?”

Hwanhee datang. Agak kesal, sepertinya. Aku mengganggu belajarnya. Tapi, bukan salahku juga. Siapa suruh Dongyeol kentut sembarangan?

“Bawa bocah sialan ini.”

“Dongyeol…”

Hwanhee sendiri sudah putus asa menghadapi sahabatnya yang sudah berulang kali diperingatkan untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatku kesal. Tapi mana bisa Dongyeol menurut begitu saja?

Sungguh, kalau Dongyeol bukan sahabat Hwanhee yang paling dekat, aku sudah menendangnya keluar dan tidak memberi ijin padanya untuk datang lagi.

“Aku hanya tidak sengaja kentut, Hwanhee.”

“Yak!!!” Itu suara Hwanhee. “Kau memang cari mati. Ayo keluar!”

Hwanhee menarik tangan Dongyeol supaya bangkit dari kursi makan yang berhadapan denganku, namun Dongyeol bergeming.

“Aku masih mau bicara dengan kakakmu,” katanya ngeyel.

“Aku tidak mau bicara denganmu, Bocah. Keluar sana. Kerjakan tugasmu. Jangan merepotkan Hwanhee saja.” Aku mulai mengomel tanpa bisa kukontrol. “Dan satu lagi, jangan muncul di hadapanku lagi kalau kau masih seperti ini. Cerewet, menyebalkan, tidak tahu malu.”

“Noona, sudah.” Hwanhee menghentikanku.

Aku mendengus kesal. Lagi, Dongyeol berhasil membuat omelan yang selama ini susah payah kukunci di dalam diriku sendiri, menguar begitu saja.

Namun sepertinya omelanku barusan mulai menunjukkan tanda-tanda kemanjurannya. Dongyeol bangkit dari kursi dan melangkah lunglai ke ruang tengah. Menghampiri meja yang penuh dengan buku-buku tugas.

“Noona, sih.” Hwanhee berbalik protes padaku.

“Apa?”

“Kalau aku kehilangan moodmaker-ku, tanggung jawab.”

Hwanhee yang ikut-ikutan kesal pun kembali ke ruang tengah, menghampiri Dongyeol yang mulai menyentuh pulpen namun tidak terlihat gerak-gerik membaca buku, apalagi mengerjakan tugas.

Hey! Kenapa aku memperhatikannya? Bersalah karena sudah membuatnya murung? Tidak. Aku tidak salah. Biar saja Dongyeol berada dalam mode seperti itu walau hanya untuk sementara.

Baru saja aku ingin ikut bangkit dari kursi dan kembali ke kamar, ponsel yang kuletakkan di samping gelas bergetar. Ada panggilan masuk dari nomor asing yang tidak terdaftar dalam daftar kontakku.

Mungkin penting, pikirku, jadi kuputuskan untuk mengangkat panggilan itu.

“Halo…”

“Maafkan aku.” Suara laki-laki.

“Ya? Ini siapa?”

“Maaf, ya, aku membuatmu kesal terus.”

Suaranya agak lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

“Ini siapa?” Ulangku.

“Terima kasih sudah melarangku muncul di hadapanmu,” lanjutnya.

“Hah?”

“Aku jadi punya alasan untuk menelponmu.”

“Ini siapa, sih?”

Kesabaranku mulai berkurang. Bukannya menjawab pertanyaanku, malah bicara tidak jelas. Minta maaf, berterima kasih sudah melarangnya muncul di hadapanku, alasan meneleponku. Apa coba maksud– Tunggu!

Kepalaku tertoleh cepat. Melihat Hwanhee yang tengah menulis dan Dongyeol yang sedang memainkan pulpennya tidak jelas serta menempelkan ponsel di telinganya. Wajahnya masih sama seperti tadi setelah aku mengomel.

“Dongyeol?” Namanya lolos begitu saja.

Dari tempat duduknya di atas karpet merah ruang tengah, Dongyeol menoleh. Senyumnya terbit di wajah yang menyerupai awan mendung.

“Ya, Noona.”

Fin!

One response to “Reason to Call

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s