[ONESHOT] DARKNESS DOESN’T FOREVER BAD

DARKNESS

Darkness Doesn’t Forever Bad
By: susanokw

Casts:
Wendy Son (Red Velvet)

Rating:
PG 15+

.

.

“Lebih baik nyalakan lilin daripada memaki kegelapan. Atau… telepon aku.” 

.

.

Tidak ada cahaya. Gelap.

Dee sangat membenci keadaan itu. Mimpi buruk yang selalu menghantuinya sejak masih kelas 4 SD membuatnya membenci kegelapan. Walaupun psikolog yang menanganinya berkata bahwa simptom PTSD yang dialaminya semakin hari semakin berkurang, tapi Dee tidak bisa berdamai dengan keadaan gelap gulita seperti sekarang ini.

Lampu kamar apartemennya mati. Dan ini hampir tengah malam.

Gadis itu gusar sejak lima belas menit yang lalu. Tugas dari kampusnya belum sempat terselesaikan pada saat lampu kamarnya mendadak mati. Ia tidak ingat kapan terakhir kali lampu kamarnya diganti, dan sesungguhnya ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Yang sekarang harus cepat dilakukan adalah mengganti bola lampu tersebut.

Sebenarnya Dee bisa saja memindahkan pekerjaannya ke ruang tengah, karena tentu saja ruang tengah lampunya menyala dengan terang. Tapi Dee adalah seorang penderita Post Traumatic Stress Disorder, sebuah penyakit psikologis yang membuatnya terus dibayangi kejadian traumatis pada masa kecil. Hal itu yang mendasari perilaku Dee, yang sampai 10 tahun masa hidupnya selalu dihampiri mimpi buruk yang mengerikan dan menuntutnya untuk melakukan terapi pada salah satu Psikolog.

Yang ada dalam genggamannya hanya ponsel, dengan daya yang tinggal 15% saja. Ia menimbang-nimbang tindakan yang akan diambil; pergi ke supermarket 24 jam dan membeli bola lampu, membiarkan kamarnya gelap gulita dan ia tidur di ruang tengah –oh ini tidak mungkin karena laporan observasinya harus selesai besok –dan yang terakhir adalah menelepon lelaki itu.

Akhirnya Dee memilih opsi ketiga.

Terdengar nada sambung panjang, tandanya telepon tersambung. Dee menggigiti kuku jarinya dengan gugup hingga suara laki-laki diujung sana menghentikan kegiatannya.

“Ch-Chanyeol?”

“Ya, ada apa?”

“Kau sedang tidur ya? M-maaf aku mengganggu, tapi aku mau minta tolong.” Dee berbicara dengan sangat hati-hati karena ia telah membangunkan seseorang yang tengah terlelap.

“Hm?”

“Lampu kamarku—“

Chanyeol mendesah diujung telepon. “Baiklah, aku akan memperbaikinya. Kau, tunggulah.”

Potongan telak dari Chanyeol dan Dee langsung merasa lega, walaupun ada setitik rasa tak enak hati karena mengganggu waktu tidur Park Chanyeol, tetangganya.

Sambungan telepon langsung diputus dari pihak Chanyeol, walaupun beberapa detik sebelumnya terdengar lelaki itu menggerutu karena untuk kesekianpuluh kalinya, Dee mengalami masalah yang sama.

.

Lima menit kemudian, bel apartemen Dee berbunyi. Dee yang sedang duduk di sofa dengan perasaan cemas dan kebiasaan yang selalu ia lakukan –menggigiti kuku jari yang Chanyeol bilang bahwa kebiasaan itu aneh sekali –langsung melangkah cepat menghampiri pintu dan membukanya. Ia mendapati lelaki jangkung dengan ekspresi wajah bantal dan penampilan yang acak-acakan; hoodie hitam yang lengannya panjang sebelah, celana cokelat selutut yang longgar, rambut mencuat kesana-kemari seperti ekor bebek.

“Masuklah.” Kata Dee dengan suara yang begitu lirih.

Chanyeol tersaruk-saruk masuk ke dalam apartemen Dee. Tanpa mengatakan sepatah katapun, lelaki itu langsung melenggang masuk ke dalam kamar Dee tanpa perlu permisi. Dee mengekor lelaki jangkung itu dengan berlari-lari kecil.

Lelaki itu mendongak untuk memeriksa keadaan kamar si gadis takut gelap –begitu Chanyeol memanggil Dee kalau sedang kesal. Ia menguap sekali, dan melangkah masuk untuk mengganti bola lampu.

“Ch-Chanyeol..” Panggil Dee yang berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk.

Chanyeol menoleh, memamerkan ekspresi mengantuk. Kantung matanya hampir berwarna hitam, artinya mungkin lelaki itu sudah begadang beberapa hari untuk menyelesaikan tugas dari kampus.

Dee mengambil sebuah tangga lipat berbentuk segitiga dengan kedua tangan, dan di puncak tangga sudah ada sebuah kotak kecil berisi bola lampu baru berdaya 30 watt.

“I-ini tangga dan bola lampunya. Hati-hati tangganya—“

“Sedikit bergoyang.” Chanyeol menghampiri Dee dan meraih tangga dari tangan gadis itu dengan cepat, membawanya masuk, menyejajarkan dengan posisi lampu, dan naik dengan perlahan. Chanyeol sudah sering membantu gadis si takut gelap itu mengganti bola lampu, jadi sudah dipastikan pemuda itu hafal betul kata-kata yang akan diucapkan Dee.

Dua menit kemudian , kamar Dee sudah terang benderang. Lampu berdaya 30 watt itu memang sengaja dibeli Dee karena ia merasa cocok dengan intensitas cahaya yang dihasilkan. Semenjak ia membenci kegelapan, ia menjadi pecinta terang. Semua ruangan yang ia masuki harus diterangi oleh lampu berdaya 30 watt, tidak kurang, tidak lebih. Tetapi tentu saja Dee akan menyalakan lampunya pada malam hari, karena disiang hari Dee akan membuat gorden apartemennya terbuka lebar-lebar dan membiarkan cahaya matahari masuk.

Chanyeol sedang melipat tangga di ruang tengah. Lelaki itu kemudian menyimpan tangga tersebut di salah satu sudut ruangan; supaya Dee mudah mencarinya. Dee menghampiri tetangganya dengan langkah canggung. Walaupun bukan sebuah hal yang aneh ketika Chanyeol ada di dalam apartemennya tengah malam begini, Dee tetap saja merasa tidak enak karena ia sudah terlalu sering mengganggu waktu istirahat Chanyeol yang sangat berharga –Chanyeol pernah bercerita bahwa tidur menjadi hal yang paling diidamkan seorang mahasiswa teknik ketika tugas menggambar sedang menumpuk.

Terima kasih Chanyeol sudah membantuku mengganti bola lampu. Maafkan aku karena mengganggu waktu istirahatmu yang…, begitu berharga. Aku tidak tahu harus membalas jasamu dengan apa, tetapi terima kasih banyak…, ya, sama-sama.” Chanyeol menggumamkan ucapan yang selalu Dee katakan padanya sebelum Dee sempat mengatakan hal tersebut.

Dee hanya bisa meringis sambil kesepuluh jarinya saling meremas. Matanya bersirobok dengan pandangan Chanyeol beberapa detik sebelum lelaki itu mengangkat tangan, memberikan isyarat bahwa tugasnya sudah selesai dan ia akan kembali ke apartemen miliknya.

Dee mengantarkan Chanyeol sampai ke pintu. Lelaki itu menguap untuk yang ke lima kalinya. Setelah mengucapkan terima kasih –yang hanya dibalas oleh anggukan dan kibasan tak-apa –Dee menutup pintu, menghela napas lega, dan bergegas kembali ke kamar untuk meneruskan pengerjaan laporan observasinya.

.

“Apa kabar, Dee?” Sapa Mrs. Hoon sambil memeluk Dee yang baru saja berjalan beberapa langkah memasuki ruang praktik Psikolog berusia 60 tahun tersebut.

Dee tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

“Senang sekali bisa melihatmu seceria ini. Sepertinya kau punya kabar baik.” Mrs. Hoon memang mahir dalam membaca suasana hati Dee yang sedang bagus hari ini.

Dee melakukan terapi bersama Mrs. Hoon –seorang Psikolog kenalan Bibinya –untuk mengurangi simptom-simptom PTSD. Dee bertemu dengan Mrs. Hoon pada tahun pertama kuliah, setelah Bibinya mendapati dirinya tidur sambil berteriak-teriak pada suatu malam. Dee tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang PTSD. Penanganan yang cukup terlambat memang, tetapi Mrs. Hoon berusaha sebaik mungkin untuk memberikan terapi demi mengurangi gejala mimpi buruk yang sering dialami oleh Dee.

“Kau masih sering bermimpi buruk?” Tanya Mrs. Hoon sambil menuang teh hijau ke dalam cangkir milik Dee.

Dee menggeleng. “Tidak terlalu. Biasanya terjadi kalau aku harus pulang larut malam.”

“Mengapa begitu?”

Dee mendesah panjang. “Mungkin karena aku baru saja melewati tempat gelap,” Ia menyeruput teh hijaunya dan mengedikkan sebelah bahu. “jadi suasananya terbawa sampai aku tertidur.”

Mrs. Hoon mengangguk paham. Wanita berusia setengah abad lebih sepuluh tahun itu menelisik wajah Dee, mengamati ekspresi gadis itu lekat-lekat. “Kau sedang senang, ya?”

Strike one.

“A-apa?”

Mrs. Hoon terkekeh pelan. “Tetanggamu baru saja membantumu mengganti bola lampu?”

Strike two.

Dee mengangguk. “Y-ya.”

“That cold-cool boy is such a good boy, uh?”

Dee mengangguk lagi, malu-malu. “Tapi aku tidak punya hubungan yang—“

“Aku tidak berbicara tentang hubungan, Dee. Oh ya ampun, kenapa kau berpikir sejauh itu?”

Dee skakmat saat itu juga. Ia heran mengapa sudah setua ini –sorry to say, tapi usianya memang sudah tua, bukan? –Mrs. Hoon bisa melemparkan godaan –yang mungkin sebenarnya adalah guyonan –yang selalu sukses membuat wajahnya panas membara seperti sekarang.

Wanita yang sudah Dee anggap sebagai ibu itu menghela napas panjang, berdecak senang. “Kurasa ada satu hal yang bisa membuat simptom mimpi burukmu itu cepat menghilang, Dee.”

“Apa?”

“Motivasi.”

Motivasi?

Dee mengerti apa itu motivasi –kekuatan dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan…, oh, okay, tapi motivasi semacam apa yang bisa mengurangi simptom mimpi buruk yang setiap kali Dee mengalaminya, rasanya Dee ingin mati saja.

“Aku baru saja menyelesaikan sebuah novel karya Veronica Roth yang berjudul Divergent, pernah dengar?”

Dee mengangguk. “Buku itu sudah diadaptasi menjadi sebuah film, dan sekarang Shailene Woodley, Theo James berserta yang lainnya sedang dalam proses syuting untuk buku ketiga, Allegiant. Apa kau tidak menontonnya? Film itu ra—oh, okay, maaf. Lanjutkan, Mrs. Hoon.”

“Oh, Dee, please, anakku baru saja membeli DVD film keduanya secara online. But that’s not the point. Yang ingin aku katakan adalah, aku tahu ada kejadian traumatis yang membuatmu stress dan menjadi trauma sampai sekarang. Aku tahu kau membenci, bahkan sangat benci kegelapan, tapi, Dee sesungguhnya ada hal-hal menakjubkan yang akan kau temukan dalam kegelapan.”

Dee menatap Mrs. Hoon lamat-lamat, berusaha mencerna semua perkataannya.

Mrs. Hoon menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Tidak selamanya yang gelap itu buruk. Well, kau hanya bisa melihat bintang yang indah pada malam gelap, bukan?”

“A-aku tidak mengerti.” Dee menggeleng lemah, keningnya berkerut samar penuh tanda tanya.

“Dalam buku itu kutemukan sebuah kalimat,” Wanita 60 tahun itu bersandar ke sofa. “menjadi seorang yang tidak punya rasa takut bukan tujuannya. That’s impossible. Tapi belajar untuk mengontrol ketakutanmu dan bagaimana caranya untuk bebas dari rasa takut itulah hal yang sedang kutekankan, Dee.”

“Dan itu berhubungan dengan motivasi?”

Mrs. Hoon mengangguk tegas. “Kau tahu sendiri bahwa motivasi bisa datang secara internal maupun eksternal. Kalau kau hanya memiliki setitik keberanian untuk menghadapi kegelapan dalam dirimu, berarti ada sebelangga motivasi eksternal yang bisa kau gunakan untuk mengontrol rasa takutmu.”

Dee menelan ludah. Mrs. Hoon benar. Ia hanya punya setitik keberanian, bahkan titik itupun hampir tidak terlihat sama sekali. Mungkin harus ada motivasi eksternal untuk membantunya mengurasi simptom mimpi buruk dan ketakutan akan gelap.

“Dan mungkin, Dee,” Mrs. Hoon mencongdongkan tubuhnya mendekat ke arah Dee. “lelaki itu bisa menjadi motivasi eksternalmu.”

Dee tertegun mendengar kalimat wanita yang sangat dihormatinya itu.

Chanyeol? Lelaki tengil yang dingin itu? Motivasi eksternal? Tidak mungkin.

Mrs. Hoon tersenyum melihat ekspresi kliennya itu. Wanita itu meraih cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan. “So, do you know about Divergent Trilogy? Tell me, then.”

.

Gadis bernama Inggris Wendy Son itu melangkah cepat menyusuri trotoar sambil merapatkan jaketnya. Musim panas sudah hampir meninggalkan langit Korea, jadi udara berubah menjadi lebih dingin dari biasanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia tidak boleh terlalu lama diluar. Walaupun ada beberapa lampu tiang jalan yang memberikan penerangan, tetap saja ia sedang berjalan ditengah kegelapan.

Dee –panggilan yang diberikan Bibinya padanya dari semenjak ia kecil –memasuki apartemennya dan menarik napas lega. Gadis itu langsung meraba saklar lampu dan dalam sekejap semua ruangan di dalam sana langsung terang benderang.

Setelah berganti baju dan membersihkan diri, Dee siap untuk tidur. Ketika ia hendak membuka pintu kamar, ponsel dalam genggaman tangannya berbunyi, ada sebuah pesan masuk.

Kau sudah pulang? Tidak ada lampu yang rusak lagi, kan? Apa kau sudah tidur?

Park Chanyeol.

Lelaki itu mengirim pesan dengan tiga pertanyaan sekaligus. Dee terkekeh geli melihat pesan tetangganya yang Mrs. Hoon sebut sebagai cold-cool boy.

Ya, aku sudah pulang. Lampu di apartemenku menyala dengan baik. Aku baru saja hendak tidur.

Lima detik kemudian pesan dari Chanyeol masuk lagi. Chanyeol memang seorang pengetik yang cepat, pikir Dee.

Untuk malam ini, cobalah jangan kau nyalakan lampu kamarmu yang berdaya 30 watt itu.

Dee keheranan dengan pesan tetangganya itu. Kenapa? Aku benci gelap. Balasnya cepat.

Ketika kau masuk ke kamar, berjalanlah ke tempat tidurmu, lalu berbaring. Tekan sebuah tombol yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Wow, Chanyeol Park! Apa tujuanmu sebenarnya?

Dee masih berdiri di depan pintu kamarnya yang tertutup. Menunggu Chanyeol untuk menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan pesan yang terkesan jangan-menyalakan-lampu-kumohon.

Lakukan saja, Wendy Son!

Dee memutar matanya. Harus ia akui bahwa Chanyeol adalah tipe orang yang dingin-tidak peduli dan walaupun terkadang.., yah, terlihat sangat keren –saat memasang bola lampu –tapi lelaki itu seringkali bersikap terkesan memerintah dan menyebalkan. Tapi Dee tidak punya pilihan lain. Selain ia dan Chanyeol yang masih kuliah, sisa dari penghuni apartemen ini adalah orang-orang lanjut usia. Tidak mungkin ia meminta Kakek Jung untuk naik tangga dan mengganti bola lampu, bukan?

Okay, okay! Aku akan melakukannya. Lalu apa yang akan aku dapat?

Dee tidak mendapatkan balasan lagi dari Chanyeol. Mungkin lelaki itu sudah kembali tenggelam dalam tugasnya yang menjadi penyebab utama lelaki itu selalu terlihat lebih kurus dan lebih dekil dari hari ke hari.

Dee teringat kata-kata Mrs. Hoon tadi siang, dan mungkin inilah saatnya ia mencoba.

Dee memegang gagang pintu kamarnya, dan memutarnya perlahan. Ia menutup mata rapat-rapat sambil menahan napas. Ia sudah tinggal di dalam apartemen itu selama lima bulan, jadi ia hafal betul dimana letak tempat tidurnya.

Gadis itu berjalan perlahan sambil meraba-raba langkahnya untuk mencapai tempat tidur. Ia menghembuskan napas lega dengan keras ketika tangannya sudah menyentuh selimut. Dengan cepat ia berbaring di atasnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur untuk menemukan tombol yang Chanyeol sebutkan di dalam pesan tadi.

Setelah mendapatkan tombol itu, Dee menekannya. Ketika ia membuka mata sesuatu yang menakjubkan muncul.

Ada sebuah galaksi yang bersinar di langit-langit kamarnya. Bahkan hampir di seluruh permukaan dinding kamarnya ada bintang-bintang beraneka ukuran yang memendarkan cahaya. Galaksi itu dihiasi planet-planet serta matahari yang tertata seolah nyata. Sebuah pemandangan menakjubkan yang, sungguh, baru pertama kali Dee melihatnya.

Sesaat Dee lupa pada rasa takutnya. Gadis itu menghembuskan napas kagum setelah beberapa detik yang lalu menahannya tanpa sadar. Matanya menyusuri mahakarya luar biasa itu dengan takjub. Tangannya terulur, seolah berusaha menggapai apa yang tengah dilihatnya sekarang.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi kembali. Sebuah pesan dari Chanyeol.

Kau sudah melihatnya?

Dee tersenyum. Ponselnya berbunyi lagi.

Kau ingat, dulu kau pernah memintaku untuk menghafal password apartemenmu. Dan…, maaf sekali, aku lancang melakukan sedikit dekorasi di kamarmu. Tapi…, Dee, ketahuilah. Sesungguhnya tidak ada yang perlu kau takutkan dalam gelap. Tidak selamanya kegelapan itu buruk. Kau lihat cahaya bintang yang berpendar indah itu, bukan? Semoga lampu bintang dan cat seharga.., oh, sudahlah, lupakan soal harga. Semoga galaksi itu bisa sedikit mengurangi ketakutanmu terhadap gelap. Dan.., semoga kau bisa tidur dengan nyenyak.

Dee bisa merasakan pipinya menghangat saat itu juga. Dan, oh ya ampun, bahkan pesan dari that cold-cool boy itu berhasil membuat hatinya terasa begitu hangat. Rasanya seperti ada sinar matahari pagi yang terbit di dalam hatinya. Dan Dee sungguh terkesan. Park Chanyeol, tetangganya yang dingin, membuat dekorasi yang teramat luar biasa di dalam kamarnya. Bahkan ditengah tugas yang sedang ditekan deadline.

Terima kasih, Chanyeol. Dekorasi ini begitu luar biasa. Aku menyukainya. Terima kasih.

Entah mengapa rasanya Dee ingin terus tersenyum. Ah, Park Chanyeol bisa membuatnya gila kalau begini terus.

Sama-sama. Uhm, by the way, jika kau tidak tahu caranya untuk membalas budi.., bukan untuk ini, tapi untuk jasaku yang sudah puluhan kali mengganti bola lampu, mungkin kau bisa mentraktirku makan malam besok di restoran di dekat apartemen. Atau makan malam di tempatmu setelah kau selesai terapi.

Dee tergelak melihat pesan yang dikirimkan Chanyeol padanya barusan. Cepat-cepat ia membalas.

Baiklah.

Makan di tempatmu?

Di restoran. Sampai bertemu besok.

Pesan terakhir yang ia kirimkan untuk Chanyeol malam itu. Dee menarik napas lega dan merentangkan tangannya di seluruh permukaan ranjang yang berukuran besar.

“..ada sebelangga motivasi eksternal yang bisa kau gunakan untuk mengontrol rasa takutmu.., dan mungkin, lelaki itu bisa menjadi motivasi eksternalmu.”

Kembali terngiang perkataan Mrs. Hoon siang tadi, dan Dee, lagi-lagi tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum.

Ia kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan.

“Kau benar, Mrs. Hoon. I think that cold-cool boy will be my external motivation. Be with him, I can control my fears, even I can be fearless.

Dan sekarang Wendy yakin, hanya akan ada mimpi indah yang mengisi tidurnya setiap malam.

.

.

FIN.

.

.

.

.

  1. Hai
  2. Lama tak jumpa
  3. Ini fanfik baru
  4. Nggak juga sih sebenernya. Ini pernah diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis fanfik, tapi nggak juara HAHAHA :’) akhirnya aku posting disini. Mungkin beberapa ada yang sudah pernah melihat judul ini di FFIndo beberapa waktu lalu, di postingannya @chosm96, tapi berhubung sudah dihapus dan aku sudah meninggalkan page ini cukup lama sekali dengan cerita THE TRAVELER yang masih menggantung (Okay, maafkan aku. Aku selalu ingat.) makanya pengen update dulu pake yang ini.
  5. Cuma segini yang bisa aku tulis, seginipun sudah syukur Alhamdulillah HAHAHA
  6. Semoga suka. Maafkan kalo pairingnya agak maksa……..🙂
  7. Happy reading! Thank you!
  8. Komentar tetap ditunggu🙂

5 responses to “[ONESHOT] DARKNESS DOESN’T FOREVER BAD

  1. oh Dee teh Wendy yah… hampir aku mau baca Dee(tjao) /dibuang/.
    ini bagus banget San😦
    mau jadi Wendy jugak😦
    mau jadi Chanyeol biar bisa main ke kamar Wendy😦 ((kok))
    mau jadi Mrs. Hoon😦 ((kok lagi))
    wkwkwk sweet banget pokoknya udah gitu sweetnya gak maksa, bacanya tanpa sadar jadi bikin merona terus pilihan katanya juga bagus ku iri ih notiz mi zenpai dan plis ajari daku ilmu psikologi atuh jebal😦 wkwk ya sudahlah ini komennya gaje maapin pokoknya daebak authornim jjang iyesh😦

  2. PAS.
    pas banget chanyeol ngasih kejutan, atau kudu dibilang motivasi, ke wendy nya pas wendy abis terapi dan dapet wejangan begitu dari ms. hoon. mungkin sebenarnya mereka sudah diam-diam berkoalisi /apasih/
    nice story kok authornim, naisssss. keep writing ya~~

  3. Kyaaaaa to twiiiiiiiit >_< bener deh kata mrs.hoon kalo kita cuma punya setitik keberanian maka ada sebelanga motivasi eksternal yg bisa bantu kita. I like that quote (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s