[Fanfiction] Wonwoo Yang Tersakiti

CSAC99gU8AAzTX3

Wonwoo Yang Tersakiti

Author : Seungwonation

Cast : Seventeen Jeon Wonwoo

Genre : Daily Life, OOC, AU

Rated : General Length : Oneshot

Disclaimer : Jeon Wonwoo milik Pledist Entertainment, sementara ceritanya asli buatan @Seungwonation

Author Note :

Hallo, Apa Kabar? Udah lama banget ya kayanya aku gak bikin ff baru. Terakhir kali ya 3-4 bulanan yang lalu lah. Meskipun jarang update, tapi aku gak bener-bener menghilang kok. I’m still alive.

Sedih sih karena author-author angkatanku (?) udah pada gak ada kabarnya. Mencoba tetep eksis di tengah gempuran author-author baru ternyata tidak mudah hohoho

Ada yang masih mengingatku dan karya-karyaku aja rasanya terharu banget lol

Kembali ke topik awal. Ide fic ini sebenernya sudah lama tercetus. Tadinya fic ini mau jadi ff spesial Idul Adha, tapi karena males jadi baru bisa di buat sekarang.

Telat sih, tapi gak apa-apalah dari pada nggak sama sekali.

Btw, bisa di bilang fic ini tuh true story banget. Pengalaman asli aku sendiri, tapi di fic ini Wonwoo jadi tumbal hahaha

Yasudahlah, selamat membaca aja. Jangan lupa untuk tinggalin jejak ya, tapi gomen ne gomen aku gak terima komen yang ngebash atau kritik. *Plak*

oOo Happy Reading oOo

Namanya adalah Jeon Wonwoo, seorang pria asal Korea yang kini berstatus sebagai Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Tahun ini adalah tahun pertamanya merayakan Idul Adha di Indonesia.

Yah, dia memang bukan seorang Muslim. Dia hanya ikut-ikutan saja karena penasaran bagaimana rasanya euforia hari raya umat Islam tersebut. Euforia yang tidak bisa ia temukan di negara asalanya, Korea Selatan.

Setelah semalaman berkumandang, pagi itu gema takbir berhenti bergema, menandakan Shalat Idul Adha segera di mulai. Shalatnya sih gak nyampe 5 menit, cuman ceramahnya itu loh yang bikin ngantuk. Apa lagi kalau tema ceramahnya sama seperti tema pada tahun-tahun sebelumnya.

Setelah Shalat Idul Adha berakhir, para jamaah berbondong-bondong kembali ke rumahnya untuk sungkeman atau pun hanya sekedar bercengkerama dengan sanak saudaranya. Tapi tidak dengan Wonwoo.

Dengan berpakaian rapih – Kemeja putih berlengan panjang dan celana hitam bergaris-, Wonwoo sedang duduk-duduk cantik di kamar kostannya yang berukuran 3X4 meter tersebut.

Di tangannya, sebuah buka berukuran tebal terbuka di hadapannya. Ya, Wonwoo sedang menghabiskan pagi yang cerah ini dengan membaca sebuah buku. Buku Kamus Bahasa Indonesia lebih tepatnya.

Tapi tahukah kalian kalau sebenernya Wonwoo tidak sedang benar-benar membaca buku. Apa yang di lakukannya sekarang adalah sebuah pencitraan agar dirinya di bilang keren, genius, rajin, atau apa pun lah namanya.

CTY7XKfUwAEjkeL

Sesekali Wonwoo terlihat senyum-senyum sendiri kaya orang gak waras. Anggap aja kepalanya baru kepentok meja, jadi otaknya agak sedikit gesrek. Tapi alasan dia cengar-cengir sendiri bukanlah karena otaknya yang gesrek atau pun karena buku yang di bacanya.

Wonwoo tersenyum karena mendengar suara sapi yang saling bertautan di luar sana. Mungkin sapi-sapi itu sudah tahu kalau hidup mereka tidak akan lama lagi.

Ya, alasan Wonwoo pagi ini sudah berpenampilan rapih dan duduk manis di kamarnya adalah karena Sapi. Lebih tepatnya menunggu daging sapi kiriman dari RT setempat.

Waktu masih menunjukan pukul 10 Pagi. Masih terlalu dini untuk menunggu kiriman daging sapi. Motong sapi kan gak bentar. Belum ngulitin, misahin daging dan jeroannya, atau ngebungkus-bungkusin buat di bagiin ke warga.

Intinya, proses pengiriman daging Qurban pada warga harus melalui proses yang panjang. Dan Wonwoo yang notabennya baru pertama kali berlebaran di Indonesia sama sekali tidak tahu dengan segala macam tek-tek bengek tersebut.

Akhirnya, Wonwoo bela-belain mandi subuh dan stand by di kamarnya sejak pagi, duduk sendiri menunggu kiriman daging sapi yang tak kunjung datang hingga sang matahari sudah berada tepat di atas kepala.

Ketika ada orang yang lewat depan kamarnya, daun telinga Wonwoo akan langsung waspada sementara matanya yang berbinar-binar akan mendelik ke arah pintu, berharap itu adalah orang yang akan mengantar daging Qurban untuknya.

Namun, alih-alih menemukan orang yang mengantarkan daging sapi, Wonwoo malah bertemu Dadang yang minta Indomie atau Dijah yang minjem gunting kuku tapi gak pernah di balikin.

Meskipun begitu Wonwoo tidak kecewa sama sekali. Entahlah, hari ini moodnya sedang baik. Saking bersemangatnya, Wonwoo bahkan sudah bersusah payah membuat bumbu kacang, membeli arang, panggangan dan tusuk sate, serta Spirtus – karena gak ada yang jual minyak tanah -.

Well, gak susah-susah amat sih sebenernya, toh semuanya sudah tersedia di Supermarket. Wonwoo tinggal beli doang.

Pukul 4 sore. Wonwoo masih setia menunggu…

Menunggu…

Dan tetap menunggu…

Saat ini proses penyembelihan hewan qurban pasti telah selesai. Jam segini biasanya panitia qurban sekitar sudah mulai mendistribusikan daging-daging tersebut pada warga.

Wonwoo kemudian membuka jendela kamarnya. Aroma khas daging langsung tercium oleh indera penciumannya. Sepertinya beberapa warga sudah mulai memanggang sate sehingga membuat Wonwoo jadi envy.

Ia lalu menghirup aroma sate itu dalam-dalam, kemudian membuang nafas secara perlahan. Ahh, baru mencium asapnya saja sudah membuat Wonwoo semakin bersemangat.

“Tunggu saja, sebentar lagi Aku akan membuat sate yang sangat lezat!” Ujar Wonwoo bermonolog sendiri.

Wonwoo kemudian berguling-guling dengan gemes di atas kasur. Sesekali ia nyengir kuda dan ketawa sendiri. Pria itu sudah tidak sabar. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum dirinya bisa nyate seperti orang-orang.

Pria bersurai hitam pekat itu sudah membayangkan akan membuat apa saja dengan daging sapi yang akan di terimanya nanti. Mulai dari Sate, Rendang, Gepuk, hingga Tongseng sudah masuk ke dalam listnya.

Well, listnya terlalu muluk sih. Wonwoo gak tahu aja kalau daging sapi kiriman RT itu cuman sekresek kecil. Itu juga gak full daging karena biasanya di campur sama tulang dan jeroan.

Tapi mengingat ini adalah pertama kalinya untuk Wonwoo, jadi wajar ajalah dengan ketidaktahuannya yang menyerempet bego itu. Lagian di kiranya masak Rendang dan Gepuk itu gampang, eoh. Si Wonwoo mah masak Indomie rebus aja malah jadi Indomie Goreng.

Wonwoo masih tetap setia menunggu hingga Matahari mulai turun ke peraduan. Hangatnya Matahari senja membuat tampang Wonwoo yang belum mandi sore jadi kumel bak gembel Tanah Abang.

Senyum yang sedari mengembang dan semangatnya yang menggebu-gebu kini telah pudar, berganti dengan ekspresi masam yang membuat orang lain enggan untuk mendekatinya.

Mood seorang Jeon Wonwoo sudah jatuh ke level paling terbawah. Bad mood to the max lah pokoknya mah.

“Jahat banget. Kok Ibu Kost gak ngirimin Aku sate atau lontong sayur, sih?!” Keluh Wonwoo ketika mendengar Ibu Kost dan Keluarganya sedang bakar-bakar sate di luar sana.

Nasib anak kost emang begitu. Ketika Ibu Kostnya sedang asyik berpesta, anak kost mah cuman bisa termenung, berharap dapet kiriman makanan. Meskipun gak dapet daging, Wonwoo ikhlas kok meskipun cuman dapet tulangnya.

*Pukpuk Wonwoo* *Pray for Wonwoo* *Wonwoo Pasti Kuat* *Wonwoo Anak Sakatonik ABC*

Mengetahui fakta Ibu Kostnya sedang bersenang-senang, nyatanya membuat mood Wonwoo semakin buruk saja. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya, frustasi.

“AH, KAMPRET. PERSETAN DEH SAMA IBU KOST DAN DAGING SAPI!!” Teriak Wonwoo kesal.

Dengan kemarahan yang gak bisa di tahannya lagi, Wonwoo kemudian mengambil sweater dan dompetnya.

“DASAR RT SIALAN. KAN AKU UDAH BAYAR SUMBANGAN QURBAN 10 REBU, MASA AKU GAK DAPET JATAH DAGING, SIH?!!” Umpat Wonwoo mengutuk ketua RT tempat tinggalnya.

Setelah ngomel-ngomel sendiri, Wonwoo akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar. Ia lelah menunggu kiriman daging yang tak kunjung datang. Wonwoo merasa tersakiti karena sudah di PHP-in sama Ketua RT.

Yah, Wonwoo memang sudah menyumbang iuran qurban sebesar 10 Ribu Rupiah pada RT setempat. Itu juga karena di paksa sih sebenernya.

Tapi karena Wonwoo sudah membayar, ia jadi berharap akan mendapatkan jatah daging sapi. Namun kenyataannya tidak sama sekali.

Batin pria itu terasa sakit dan perih. Sesuatu di dalam dadanya rasanya sesak dan ingin meledak. Wonwoo merasa hina sekali karena sudah mengharapkan sesuatu yang tak pasti.

Sekarang, Wonwoo akan balas dendam. Ia akan pergi ke depan Gang dan membeli sate 100 tusuk untuk di makannya sendiri. Wonwoo sudah tidak peduli dengan daging kiriman dari RT, yang jelas sekarang ia harus makan sate meskipun harus membelinya sendiri.

Pokoknya harus pake banget!!!

oOo TAMAT oOo

Don’t forget to Comment, like my Fanpage, and Subcribe our blog.

Baca Fanfiction Seungwon Lainnya di SEUNGWONATION.BLOGSPOT.COM

3 responses to “[Fanfiction] Wonwoo Yang Tersakiti

  1. aku ngakak banget asli di bagian foto pencitraan (karena dari awal liat foto itu emang udah yakin itu aslinya pencitraan) ((yha)).
    wonu siateh kasep-kasep teu modal heuh aing sedih unstan yeuh :(((((

  2. Sumpah ngakak banget gilaa :v si Wonwoo kayak anak ilang yang tersesat di dunia antah berantah. dia gatau sama sekali tentang pembagian daging qurban/? wonwoo otaknya gesrek emang :’v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s