(Sequel of Married With A Gay) Tian Mi Mi Chapter 3

SAH

Title     : Tian Mi Mi

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : 17 +

Length : Multi chapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by :

 

***

“Kau tidak memakan makan siangmu.”

“Aku ada rapat mendadak.”

“Kau juga tidak meminum vitaminmu.”

“Ayolah, bahkan aku tidak sempat makan.”

“Yasudah, aku tidak akan mengantar makan siang ke kantormu kalau begitu. Sekretarismu bisa mencari makanan yang mungkin lebih menarik untuk lidahmu,” kata Ariel dengan nada kesal setegah mati. Ariel tidak ingin seegois ini, tapi akhirnya Ariel tetap meninggalkan meja makan pagi itu –juga meninggalkan sarapannya beserta Luhan yang tengah duduk berhadapan dengannya.

Luhan mendengus keras. Tanpa sadar, ia menjatuhkan sendoknya dengan keras ke atas mangkuk sup di hadapannya. Ini sudah hari keenam semenjak Ariel dan Luhan bertengkar hebat tempo hari. Dan setengah hati Luhan berharap, Ariel akan berusaha membuat Luhan agar mau bersikap normal lagi padanya.

Tapi jangankan melihat perempuan itu berusaha sekeras itu, bahkan sudah dua hari terakhir ini Ariel tidak lagi mengantarkan makan siang Luhan secara langsung. Alasan yang sederhana, karena Luhan tidak ada di tempat saat itu. luhan sempat senang saat Ariel kesal karena sikap Luhan, tapi keesokan harinya justru Ariel tidak lagi datang. Dan yang terparah, justru hari ini Ariel berkata tidak akan datang ke kantornya.

Ini membuat Luhan semakin gila. Demi Tuhan! Bukan ini yang ia inginkan dari Ariel, ia juga tidak bermaksud sejahat itu pada Ariel. Ariel juga sudah sering meminta maaf pada Luhan, tapi Ariel terlalu mudah menyerah. Ariel bahkan terlihat menantang sikap dingin Luhan.

“Beginikah sikapmu padaku setelah semua yang terjadi?” suara Luhan terdegar sangat dingin. Sedingin hatinya. Ia ingin meluapkan semua amarahnya, tapi ia tidak tahu apa yang diinginkannya, juga bagaimana cara ia meluapkan seluruh amarahnya itu.

Ariel mendesah kasar. Ia pun menjawab tanpa berbalik dari westafel di depannya, “Kau bahkan tidak ingin mendengar penjelasanku. Bagaimana aku tidak kesal padamu?”

“Kenapa kau bersikap seolah-olah semua ini salahku?”

Ariel pun berbalik dengan gusar, “Kau tahu ini masalah serius, dan kau pikir dengan bersikap menghindariku tanpa mau mendengar penjelasanku adalah sikap rasional? Begitukah cara kita menyelesaikan masalah?”

“Kau harus mengerti perasaanku!”

“Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apa kau pikir aku sedang bahagia sekarang sedangkan kau terus saja bersikap seperti ini?”

“Kau egois…” Luhan pun bangkit dari kursinya, menyambar cepat jas dan juga tas kerjanya.

“Ya, aku egois. Aku tidak sesabar Wu Yifan saat menghadapimu.”

Skakmat. Luhan langsung membalik tubuhnya dan melemparkan tatapan tajam ke arah Ariel, “Kenapa kau harus membawa-bawa Wufan dalam masalah ini?”

Ariel tersenyum gusar, “Kau kira aku tidak tahu kau masih menghubunginya saat sedang ada masalah? Bahkan denganku?” Ariel pun kembali membalik tubuhnya, berpura-pura mencuci peralatan masaknya, “Kau bertanya soal perasaanmu. Lalu bagaimana denganku? Apa disini hanya kau yang satu-satunya punya perasaan?”

Luhan ingin membalas lagi. Tapi kali ini ia tahu tidak ada waktu baginya untuk membalas ucapan Ariel. Ada rasa bersalah yang menggerayangi dadanya, ia tidak tahu kenapa. Tapi Luhan sendiri juga enggan untuk meminta maaf atau membicarakan semua ini lebih lanjut.

Dan pilihan akhirnya, Luhan berangkat kerja pagi itu. membuat seluruh kegiatan hariannya tetap normal, meskipun tidak dengan hatinya.

 

***

 

Whitney mengangkat gelas kopinya dengan hati-hati, itu gelas kopi terakhirnya, dan setelah itu ia akan segera menaiki pesawat dan kembali ke London. Dulu, Whitney selalu berpikir bahwa ia tidak punya alasan untuk merasa tegang saat menaiki pesawat –meskipun ia selalu ingat bagaimana perasaannya saat pertama kali menaiki peswat untuk meninggalkan rumah tercintanya.

Dan setelahnya, setelah bertahun-tahun ia tinggal sendiri dengan segala ambisi dalam hidupnya, untuk pertama kali Whitney merasa enggan. Entah kenapa, padahal semuanya tetap sama, semuanya baik-baik saja. Meskipun…yeah, ia memikirkan nama Ariel selama beberapa hari ini.

“Hai, Carissa! Apa kabar? Lama sekali tidak mendengar kabarmu.
Aku membawa kabar tentang gadis kecil kesayanganmu yang mulai tumbuh menjadi remaja yang cantik, Saeron. Dia amat sangat baik, dan meskipun awalnya ia mendapati kesulitan untuk beradaptasi dengan keluarga barunya (tentunya saat ia juga harus mengubah marganya), tapi akhirnya ia bisa hidup dengan sangat normal. Bahagia tentunya.
Aku sangat berharap kau mau berkunjung ke Ottawa sesekali. Yeah, kau tahu, ini sudah hampir 3 tahun kau tidak lagi menginjak Kanada, bahkan menemui Saeron.
Jujur saja, dia tidak pernah menanyakanmu, tapi dia justru menanyakan pria yang pernah datang bersamamu ke pemakaman 4 tahun lalu.
Jangan tersinggung, kau tahu dia tetap anak-anak yang belum mengerti apapun.
Tapi kuharap, kau mau berkunjung ke Ottawa, rumah baru Saeron. Juga menemuiku yang kini bekerja di salah satu restoran. Mengabdi menjadi anggota band tidak buruk juga, sesuai saranmu.

Someone who miss You, Max.”

Ada guratan senyum saat Whitney membaca e-mail yang dikirimkan teman lamanya. Whitney ingin berteriak histeris dan memeluk pria tinggi kesayangannya –pria Asia yang tumbuh dan dibesarkan di Kanada, sama seperti Whitney.

Bedanya, dulu Whitney putri seorang konglomerat yang membuat orang berdecak kagum bercampur iri. Sedangkan Max sejak awal hanya berasal dari keluarga sederhana, Ayah Max bekerja menjadi manajer sebuah perusahaan elektronik, dan ibunya membuka kafe kecil. Max dan Whitney tidak berteman akrab meskipun mereka sudah saling mengenal sejak Junior High School. Tapi semua berubah drastis saat Whitney jatuh cinta untuk pertama kali, juga dijatuhkan saat cintanya mulai membengkak semakin besar dari hari ke hari.

Whitney mengulas senyum pahit. Ini alasan kenapa ia tidak ingin memenangkan rasa rindunya terhadap Kanada, tapi ia tidak bisa mengontrol luka lamanya yang keterlaluan karena negara tempatnya dilahirkan.

“Ah! Ibuku selalu saja mengusikku!”

Whitney buru-buru memutar kepalanya ke arah Sungmin yang entah sejak kapan sudah duduk di samping kanannya, kemudian menggerutu soal…ibunya.

“Saeun lagi?” tebak Whitney dengan nada bosan. Sungmin sering mengeluhkan nama itu belakangan ini, nama gadis yang katanya sedang dijodohkan dengan Sungmin. Yeah, Whitney agak geli dengan yang satu ini. Sungmin bukan tipe pria yang mau diatur, dan kedatangannya ke Korea seperti menjadi berkah yang terasa pahit bagi Sungmin.

Sungmin pun menoleh ke arah Whitney dengan ragu, “Aku menunggumu. Dan ibuku selalu tidak sabaran menunggu…”

Whitney tersenyum penuh arti, “Saeun cinta pertamamu. Lalu apalagi? Dia cantik, aku sudah melihat fotonya. Dia juga cerdas, lulusan Oxford tidak akan main-main, kan? Dan dia…”

“Dia tidak membuat jantungku berdebar sama seperti dirimu. Dan alasanku tidak ingin memikirkan ulang semuanya, karena aku menyukaimu, White.”

Whitney diam. Ia tak memiliki jawaban karena…yeah, Sungmin pun sudah tahu jawaban yang akan terlontar dari Whitney. Jadi ia hanya diam, kemudian mengecup singkat ujung bibir Sungmin.

“Aku tidak memintamu untuk menungguku. Kau tahu, aku masih punya banyak ambisi…”

“Dan aku ada disana untuk bersamamu, dengan seluruh ambisimu…”

Whitney tergelak, “Kau bisa lelah karena mencintai, Sungmin…”

“Tidak, selama itu kau. Kita bahkan belum mencobanya…”

“Dan kau meninggalkanku saat kau mlai lelah.”

Sungmin ingin menyangkal lagi. Tapi ia lelah berargumen dengan Whitney. Gadis itu terlampau melankolis. Dia terlihat kuat dari luar, tapi sebenarnya sangat rapuh, lebih rapuh daripada gelembung yang melayang di udara. Dan Sungmin berharap, ia lah yang membuat Whitney menjadi kuat.

“Kita akan bertemu lagi minggu depan. Selesaikan dulu urusanmu disini, dan aku menunggumu di London…tentunya sebelum aku pergi ke Paris untuk…”

“Aku tahu,” Sungmin pun menarik dagu Whitney dan menciumnya dalam, “Tunggu aku. Aku akan kembali secepatnya…

 

***

 

“Hallo Luhan! Bagaimana kabarmu? Tidak merindukanku?
Yeah, bahkan aku tidak yakin apakah kau mengingatku atau tidak. Tapi tidak masalah.
Aku ingin mengabarkanmu soal Saeron. Masih ingat padanya, kan? Dia menanyakanmu untuk yang kedua kali setelah kau pulang dari pemakaman. Sebentar lagi ulang tahunnya, kau mau datang ke Ottawa? Ah, iya. Dia tinggal di Ottawa sekarang. Jika kau berkenan, mungkin kau bisa membalas e-mailku dan aku akan mengabarimu lebih lanjut.

Teman lamamu, Max.”

Luhan tertegun selama beberapa saat setelah membaca e-mail yang masuk 10 menit lalu tersebut. Entah sejak kapan dada Luhan bergemuruh hebat, ada sayatan hitam yang menggerogotinya perlahan. Dan seperti dulu, Luhan akan mengeluarkan keringat dingin tiap kali ia mengingat kenangan lamanya –kenangan yang bahkan hampir ia kubur dalam-dalam.

Refleks, jemari Luhan mencari nama Wufan dikontaknya –dan ujung jarinya terhenti ketika ia hampir menyentuh ikon call di layar ponselnya. Suara Ariel kembali menyentuh gendang telinganya –protesnya soal Wufan yang selalu menjadi pelariannya.

Luhan mendengus kasar. Emosinya kembali naik saat ia sadar Ariel benar-benar tak menghubunginya hari ini. Sama sekali tidak. Dan ini kelewat menyulitkan Luhan untuk merasa lebih baik –ia juga merindukan Ariel, sangat.

Meskipun ia meninggikan egonya lagi dan lagi, namun ia semakin sadar jika ia tidak bisa menahannya semakin lama –juga rasa bersalahnya. Luhan pun bangkit dari kursinya, ia mungkin harusnya tidak berurusan dengan Wufan, jika itu yang membuat Ariel tidak percaya padanya.

Ya. Saat ini ia harus meyakinkan Ariel jika tak ada kekhawatiran yang harus mengusiknya..

 

=TBC=

20150914 PM1134

Dont be angry because this part is short -_-“ i’m sorry ~

9 responses to “(Sequel of Married With A Gay) Tian Mi Mi Chapter 3

  1. Selama aku baca ff ini aku baru denger saeron. apakah max dan saeron tokoh baru?
    masih belum engeh cerita nya kemana agak rumit tapi semuanya aku suka karena ff ini yang selalu aku tunggu2 ya walaupun agak sedikit kecewa karena yang ini pendek banget but its oke.

  2. Ow tunggu, Luhan, Shaeron, Whitney dan Max sepertinya mereka saling berhubjngan. Dan melihat reaksi Luhan yang ketakutan seperti menghadapi sebuah trauma atau dilema pasti ada sesuatu. Jangan jangan Shaeron anak Luhan dan Withney hasil hubungan gelapnya. Oh kenapa aku jadi berpikiran ngelantur ya thor, tapi wajar kan kalau menduga seperti itu dan menaruh curiga akan reaksi mereka berdua.

  3. Update lagi
    Waaayyyyy

    Tapi mendadak sedih karna cuma sepanjang drabble TT.TT
    Kenapa dan ada apa???
    Hahahaha

    Ini masih berlanjut Luhan sama Ariel marahan?

    Aku g ada review apa2 lagi
    Masih menyenangkan dan patut ditunggu seperti biasa😀

    Penasaran si mau nuntut alasan kenapa ini pendek banged
    Tapi ya sudahlah gpp
    Jadi readers yang baik aja
    Hehehe

    Ditunggu next updatenya ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s