Way of Two Rings (Chapter 1)

11254390_1017512361622541_3350536423931142051_n

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Cover by :

 

***

Namanya Luhan. Laki-laki paling awet muda yang pernah Ariel temui di seumur hidupnya. Laki-laki itu lebih tua tiga tahun darinya. Dia kakak kelas Ariel sekarang, dan sekarang dia sangat terkenal di sekolah. Sunbae paling tampan, sunbae paling keren, sunbae paling bla bla bla. Dan banyak lagi. Dia anggota band sekolah, dan dia jadi vokalis. Dia juga sangat suka olahraga, terutama sepak bola. Jadi jangan heran jika dia sering dikerubuni di pinggir lapang. Dia punya banyak teman kencan, tapi setahu Ariel, Luhan tidak pernah benar-benar berpacaran dengan mereka. Luhan hanya suka bermain-main.

Karena…Luhan sudah terikat sebuah cincin dengan Ariel. Iya. Mereka bertunangan. Dijodohkan. Tepatnya satu bulan lalu. Meskipun Ariel tidak yakin sejak kapan orang tua Ariel dan Luhan sudah merencanakan ini. Mereka juga serumah –karena Ariel tinggal di rumah Luhan. Jangan tanya kemana orang tua Ariel, mereka sangat sibuk dan sering berpindah-pindah tempat tinggal. Dan karena saat Junior High School Ariel harus menyelesaikan dulu ujian akhirnya, Ariel akhirnya diminta untuk tinggal sementara bersama keluarga Luhan.

Sementara, katanya. Tapi ini sudah satu tahun. Bukannya tinggal bersama Henry yang juga tinggal di Korea, Ariel malah bertunangan dnegan laki-laki paling cerewet sedunia. Laki-laki paling narsis, terlalu banyak gaya, fashinable –bahkan lebih dari dirinya.

Ariel sendiri masih berkewarganegaraan Kanada, karena Ariel lahir di Kanada. Tapi karena bisnis yang tidak terlalu Ariel mengerti, akhirnya Ariel dan keluarganya harus berpindah-pindah negara. Kanada, Cina, Thailand, Singapura, dan Korea. Orang tuanya saat ini berada di Los Angeles. Dan tahun lalu mereka berada di Hong Kong. Bulan depan, katanya mereka akan pindah ke New York atau Boston. Akan menetap, katanya.

Tapi percuma saja. Menetapa tau tidak, Ariel akhirnya tidak bisa kemana-mana.salahkan cincin sialan yang mengikatnya seperti orang bodoh. Ariel bahkan belum tahu rasanya jatuh cinta, ia juga belum pernah punya pacar, tapi ia malah diharuskan menjalankan hubungan absurd dengan laki-laki yang paling suka mengupil sambil menonton TV itu.

Mereka dekat?

Tentu saja. Ariel dan Luhan sering belajar bersama. Maksudnya, Luhan suka mengajari Ariel saat belajar. Mereka sama-sama berdarah Cina, tapi Ariel tidak pernah mempelajari apapun tentang Cina selain kakek dan neneknya yang bahkan tidak pernah lagi bertemu setelah bertahun-tahun. Mulai dari aksara cina, bahasa cina, semuanya. Luhan juga mengajarkan Ariel bahasa Korea. Awalnya dia tidak ikhlas, sih. Dia selalu menggerutu sepanjang hari jika sudah menemani Ariel belajar, tapi akhirnya dia tetap melakukannya.

Mereka membenci pertunangan ini?

Ariel sih tidak. ia biasa saja menanggapi semua ucapan Mama Lu –begitu lah Ariel memanggil ibu Luhan. Ariel tidak merasa terganggu ataupun senang. Ia kenal Luhan. Ia tahu bagaimana sifat Luhan. Ia juga dekat dan selalu kemana-mana bersama Luhan. Mereka juga bertengkar setiap hari, dan Ariel menikmatinya. Jadi, ia tidak keberatan. Setidaknya untuk saat ini, entahlah bagaimana ke depannya.

Tapi jika soal Luhan, Ariel sama sekali tidak tahu. Ariel tidak berani bertanya selama satu bulan ini. Mereka juga tidak lagi sedekat itu semenjak hari pertunangan mereka. Ariel bingung, dan mungkin Luhan juga gugup.

Dan Ariel hanya tinggal menunggu waktu kapan tanggal pernikahan ditetapkan. Tapi ia harap tidak dalam waktu dekat ini, orang tua Luhan tidak pernah main-main jika bicara soal hubungan Ariel dan Luhan. Ia baru kelas satu SMA, dan Luhan baru kelas tiga. Ia ingin menikmati dulu masa remajanya.

 

***

 

“Keren, ya?”

Ariel memutar kepalanya ke arah samping, ke arah Min Jung Ah yang baru saja bersuara sambil terus menatap ke depan. Band XOXO. Mereka sedang berada di sebuah pesta yang diadakan sekolah. Festival seni, katanya. Meskipun Ariel tidak bisa menikmatinya karena ia tidak terlalu mengerti seni.

“Siapa yang keren?” tanya Ariel akhirnya ikut-ikutan melihat ke arah depan. Ada Luhan, Chanyeol, Yixing, Mino, dan Hoseok yang sedang tampil sambil dihujani pujian disana-sini.

“Chanyeol Oppa…” katanya menatap Ariel dengan mata berbinar, “Tapi Luhan Oppa juga keren, sih. Suaranya menggoda, iya kan? Hahaha.” Ia kembali menatap panggung sambil tertawa keras. Tidak ada yang lucu sih sebenarnya. Tapi Ariel ikut tersenyum saja –Luhan memiliki suara yang menggoda katanya—tentu saja suaranya menggoda, Luhan kan selalu berkencan dnegan shower di kamar mandinya sambil menyanyikan lagu-lagu cinta.

“Harusnya Luhan Oppa jadi trainee saja. Jadi artis, jadi model atau aktor juga keren. Wajahnya tampan sekali…”

Ariel menaikkan sebelah alisnya. Teruskan khayalanmu Min Jung Ah. Karena sampai kapanpun Luhan takkan bisa jadi artis, atau Papa Lu akan menjewer Luhan dan memukul kakinya. Ya. Luhan tidak boleh jadi artis, dan Luhan punya cita-cita kecil jadi penyanyi. Tidak ada satupun yang setuju soal ide itu. Kecuali Ariel…mungkin. Luhan memang tampan sih, jadi cocok-cocok saja dia jadi artis.

“Dan lau terakhir ini ingin kupersembahkan pada seseorang…”

Aula seketika menjadi hening ketika suara Luhan memenuhi udara. Wow, momen seperti ini memang selalu menarik perhatian. Semua orang langsung saja melihat ke arah panggung, ke arah Luhan.

Dana Ariel sempat berdebar keras sekali saat mendapati mata Luhan justru tertuju padanya. Ariel menoleh ke kanan dan ke kiri. Iya. Dirinya. Luhan melihat dirinya. Luhan tidak bermaksud membongkar hubungan mereka, kan? Luan sendiri yang bilang, akui saja hubungan mereka sebagai sepupu yang tinggal serumah.

Dada Ariel semakin berdebar seperti akan meledak ketika Luhan mulai membuka mulutnya, “Jung Soojung…”

Ariel hampir menjatuhkan gelas di tangannya saking terkejut mendengar nama gadis yang dipanggil oleh Luhan. Soojung. Jung Soojung. Tentu saja Ariel mengenalnya. Satu sekolah mengenalnya. Wakil ketua OSIS yang mengikuti ekstrakulikuler menari. Idola para siswa laki-laki di sekolah.

Ariel tidak lagi mendengar apapun selanjutnya. Bukan karena riuh tepuk tangan yang memenuhi udara ruangan ini. Entahlah, ia malah mendnegar detak jantungnya yang menggila dengan keterlaluan.

Ariel mendengus kecil. Ia pun memberikan gelas kola-nya pada Jungah, “Kenapa diberikan padaku? Kau mau kemana?” tanya Jungah bingung sambil menatap gelas di tangannya.

“Aku ingin ke toilet…”

“Di saat momen penting begini?” jerit Jung Ah tak percaya.

Ariel hanya menggeleng dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu. Ia tidak betah disana, entah kenapa. Luna, Jinri, Seulgi, dan banyak lagi gadis lain yang dekat dengan Luhan. Dan sekarang Soojung? Huh! Dasar player! Lihat saja jika sampai Mama Lu tahu soal ini, Luhan pasti akan diomeli habis-habisan.

“Ariel, kan?”

Ariel terpaksa menghentikan langkah kakinya saat mendengar namanya dipanggil. Suara yang tidak asing. Suara ketua kelasnya, Chunji. Lee Chunji –nah, yang satu ini adalah primadona kelas. Dia ulzzang…sedikit informasi.

Ariel mengangguk sambil menarik sudut bibirnya, “Ya? Ada apa?” Ariel memang tidak bisa basa-basi. Jadi, maafkan Ariel, Chunji-ya…

“Mau bantu aku membawa barang-barang dari kelas kita ke gudang belakang? Huh…yang lain menyebalkan. Masa setelah pameran kelas di tutup mereka langsung bubar untuk menoton band…”

Ariel terkekeh mendenegar keluhan Chunji. Ia pun mengikuti laki-laki itu menuju kelas yang mulai sepi, hanya ada beberapa orang disana. Tentunya mereka harus membereskan kelas yang telah disulap menjadi ‘dimensi fantasi’, sesuai tema pameran untuk festival seni sekolah mereka.

“Kau sendiri tidak menonton band itu?” tanya Chunji setelah mereka sampai di dalam kelas.

Ariel mengedikkan bahunya, “Aku bosan. Aku mendengar suara Luhan dimana-mana saat menyanyi. Rasanya aku ingin muntah,” sahut Ariel sambil mencebikkan bibirnya secara refleks.

Chunji pun tertawa, “Tapi dia dewa di sekolah ini,” komentarnya.

Ariel kembali mencebik, “Mana ada dewa yang mengupil sambil menonton, berteriak mengerikan di kamar mandi, dan selalu memakai celana pendek bermotif kartun.” Oh, maafkan tunanganmu ini, Luhan. Ia memang selalu kehilangan kontrol pada lidahnya.

 

***

 

Luhan langsung berlari ke hamalan sekolah setelah mendapat sms singkat dari Ariel. Gadis itu mau pulang sekarang. Pulang sendirian. Dasar gila! Sudah tahu ibunya selalu menekankan bahwa Ariel adalah tanggung jawab Luhan. Ariel tentu harus pulang dengan Luhan, tidak mungkin Luhan membiarkan gadis itu pulang sendiri jam 10 malam begini. Dan masalahnya, Luhan belum mau pulang. Acara belum selesai. Tidak asyik sekali, apalagi jika ia harus melewatkan teater yang akan menjadi puncak acara.

Luhan pun akhirnya mendapati Ariel dengan pakaian kasualnya –ugh! Gadis itu benar-benar tidak bisa berdandan. Luhan pun segera mendekati Ariel yang sedang berdiri dengan gadget di tangannya.

“Kenapa menyuruhku menunggu? Kau mau pulang sekarang?” tanya Ariel setelah Luhan sampai di hadapan Ariel.

“Yak! Kau bercanda?! Kau mau Mama memarahiku gara-gara membiarkanmu pulangs endiri? Acara belum selesai, Ariel Lau! Tunggu sebentar lagi, aku ingin menonton teater itu,” kata Luhan dengan nada kesalnya. Dasar pemarah.

Dan…teater? ah, ia hampir lupa. Seulgi kan pemeran utama di teater kali ini. Pantas saja Luhan ingin menontonnya.

“Tapi aku mau pulang, Luhan! Aku ngantuk!” ketus Ariel sambil melipat tangannya di dada, “Lagipula aku bisa naik taksi, tidak akan ada apa-apa kok…”

Luhan menggeleng keras. Ia pun menarik Ariel dengan kencang, “Tidur di UKS. Aku belum mau pulang,” kata Luhan tanpa mempedulikan Ariel yang mulai mereonta minta dilepaskan.

“Brengsek! Lepaskan aku! Aku tidak suka tempat sepi dan gelap!”

Luhan langsung menghentikan langkah kakinya, oh, gadis kecil ini benar-benar. Entah karena dia berasal dari barat atau bagaimana. Tata kramanya parah sekali. Tidak mau memanggilnya ‘Oppa’ atau ‘Gege’, selalu mengumpat, memanggil Luhan bodoh atau jelek, selalu berteriak dan marah-marah.

“Kau ingin aku menggigit lidahmu?” kata Luhan dengan nada kesal.

Ariel langsung menjulurkan lidahnya, “Gigit saja jika kau bisa! Dasar idiot!” katanya dan sekali lagi ia menjulurkan lidahnya.

“Kau yang idiot, dasar alien!” Luhan pun menoyor Ariel.

Dan Luhan tidak terkejut saat Ariel balas menoyor Luhan, “Sekali brengsek tetap saja brengsek. Dasar player!”

“Yak!!!”

“Wae Wae Wae?”

Luhan mendengus panjang. Dan ia kembali menarik tangan Ariel lagi saat gadis itu sudah melangkahkah kakinya hendak meninggalkan Luhan, “Kau ini kenapa, sih?! Bukannya kau yang bilang kau juga ingin mengikuti acara ini sampai selesai?” Luhan pun mulai jengkel. Gadis ini benar-benar.

Ariel menarik kembali tangannya, “Melihat teman kencanmu maksudmu? Huh! Kau putus dari Seulgi ya sampai berani memanggil Soojung seperti tadi?”

Luhan menaikkan sebelah alisnya, “Apa maksudmu?”

“Dasar…motherfucker….” Ariel langsung menggigit lidahnya yang sekali lagi tak terkontrol. Yeah…itu kata keramat yang paling tidak Luhan sukai. Bajingan, Luhan sangat benci kata itu.

Luhan menghembuskan napasnya kasar, “Ariel, tatap aku.” Kata Luhan dengann ada dingin. Ariel benar-benar merasa merinding ketika Luhan sudah mengeluarkan auranya yang satu ini.

Ariel tetap menunduk dengan salah tingkah.

“Ariel, kau tuli? Kubilang tatap mataku.”

“A…aku…aku tidak sengaja. Maaf…”

Luhan kembali mendengus panjang, “Kau harus kuhukum,” kata Luhan lagi dengan nada yang menakutkan di telinga Ariel.

“Lagipula kau juga menyebalkan. Sudah tahu aku tidak suka tempat sepi. Ruangan di sekitar UKS sepi sekali! Bagaimana jika terjadi sesuatu padaku? Gara-gara pacar-pacarmu itu ya makanya kau mau lepas tanggung jawab? Lagipula apa bedanya pulang dneganmu atau sendiri…”

“Ariel…”

Ariel menepis tangan Luhan dengan sebal, “Sudahlah! Aku mau pulang. Titik. Kau juga bisa kan mengantarku pulang dulu dan kemari lagi nanti, hah? Katanya tanggung jawab. Sekali brengsek ya brengsek…” Ariel langsung membalikkan badannya dan meninggalkan Luhan. Ia sedag malas bertengkar dengan Luhan. Sungguh. Ia hanya ingin tidur dan bangun siang sekali besok.

Luhan tentu saja tidak diam. Ia pun menarik tangan Ariel. Tidak. luhan tidak membawanya ke gedung sekolah dan membiarkan Ariel tidur sendirian di UKS. Gadis itu dibawa ke parkiran. Hari itu Luhan membawa motor, jadi mau tak mau Ariel juga harus naik motor –meskipun ia yakin setelah ini akan dimarahi karena Ariel rentan sakit, dan angin malam tidak sehat, katanya.

Manja. Cengeng. Menyebalkan. Huh…

“Kita mau kemana?” tanya Ariel bingung saat Luhan memasangkan helm di kepala Ariel, juga melepas jaket merahnya dan memakaikannya pada Ariel, “Ke rumah. Kemana lagi? Kau mau ikut ke club?”

“Yak!!!”

Luhan tidak bergeming saat Ariel memukul lengannya. Luhan langsung menaiki motornya, “Ayo naik! Katanya kau ngantuk, kan?”

Ariel mengerutkan dahinya, “Kau memakai kaos tipis. Bagaimana jika kau sakit?”

Luhan pun memutar bola matanya, “Dengar ya, Tuan Putri. Aku lebih tidak suka saat Mama memarahiku gara-gara membuatmu sakit daripada aku sendiri yang sakit. Dan aku juga rela meninggalkan acara menyenangkan ini demi dirimu, si Tuan Putri yang penakut dan cengeng.”

Ariel menirukan gerakan bibir Luhan –mengejeknya, “Kau juga penakut,” Ariel masih membela diri saat ia menaiki motor Luhan.

“Tapi aku tidak pernah menjerit sambil melompat tidak jelas saat melihat kecoak.”

“YAK!!!”

 

=to be continued=

20151112 AM0101

9 responses to “Way of Two Rings (Chapter 1)

  1. lagi-lagi author yang satu ini bener-bener daebak dalam membuat ff.
    semua nya aku suka.jadi gak sabar nunggu kelanjutan yang sequel mwg chap 3 dan yang ini😀

  2. Wkwk chapter 1nya aja udah seru,, jadi bukan sepupu asli toh..

    Disini juga lucu ariel bener bener manja,, aku suka karakternya

    Aku baca chap selanjutnya ya
    Hwaiting ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s