(Sequel of Married With A Gay) Tian Mi Mi (Chapter 4)

SAH

Title     : Tian Mi Mi

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : 17 +

Length : Multi chapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Simple Shine @HSG

***

Luhan menatap punggung Ariel dari kejauhan. Seperti biasa, Ariel tengah berkutat di dapur dan membuat makanan aneh dengan rasa yang aneh pula. Makanan Eropa, dan entah kenapa Ariel begitu terobsesi untuk membuat semua menu-menu yang bahkan menurut Luhan tidak perlu repot-repot dibuatnya. Dan sebenarnya, Ariel bisa menerjemahkan buku seperti biasanya, atau menulis. Luhan kadang-kadang tidak tega melihat tangan Ariel yag lecet karena kegiatannya di dapur.

Luhan sebenarnya ingin langsung mendekati Ariel dan memeluk tubuh kurus itu dari belakang. Pelukan yang menjadi candu bagi Luhan, entah mengapa ia selalu merasa nyaman dan tenang saat ia memeluk tubuh Ariel.

Tapi karena tema hari itu mereka tengah bertengkar, akhirnya Luhan hanya duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya. Ia tidak tahu harus mencari apa di dalam ponselnya, karena satu-satunya yang ia pikirkan adalah…menyelesaikan masalahnya dengan Ariel.

“Astaga, Luhan! Apa yang kau lakukan? Mengagetkan saja!” Ariel melotot ke arah Luhan dengan tangan yang mengusap dadanya. Hari ini Ariel terlihat aneh –rambutnya terkepang rapi ke belakang, sesuatu yang sangat langka. Karena Ariel hanya bisa menggerai dan mengikat satu rambutnya secara asal.

“Kenapa kau sudah pulang? Kau tidak enak badan?” tanya Ariel tanpa mendekat ke arah Luhan, ia pun melirik sekilas jam dinding yang menempel di salah satu dinding. Kemudian ia pun hampir berbalik sambil berkata, “Mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam…”

“Ariel…”

Dan berhasil, Ariel kembali berbalik sambil menatap Luhan, “Ada apa?”

Ketus sekali, gerutu Luhan dalam hati. Ariel gadis yang cuek, tidak peka, dan kaku sejak awal. Dan nada bicaranya saat mereka bertengkar seperti ini selalu terdengar lebih dingin dari biasanya. Jujur saja, itu membuat hati Luhan sedikit terluka.

“Kau…tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Luhan ragu, tanpa sadar ia memainkan jarinya dengan gugup.

Ariel menaikan sebelah alisnya, kemudian sebuah dengusan meluncur pelan, “Mandilah dulu…”

“Tapi kita harus bicara!” kata Luhan sangat cepat sebelum Ariel kembali ke dapur.

Ariel kembali mendengus. Ia pun memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Luhan, “Baru sekarang kau memintaku bicara?” kata Ariel masih dengan nada marah. Ariel pun membuka jas Luhan, juga membuka dasi dan mengambil ransel Luhan –jangan berpikir lelaki itu menggunakan tas jinjing, Luhan lebih suka memakai ransel ke tempat kerjanya, “Mandi dulu, nanti kita bicarakan apa yang ingin kau dengar…”

“Maaf…” lirih Luhan sambil menatap Ariel serius, “Aku…benar-benar minta maaf.”

Ariel juga ingin marah pada Luhan, mengamuk karena tigkah menyebalkannya dan…yeah, akhirnya ia hanya menunduk dan ikut meminta maaf, “Aku juga…aku terlalu egois sampai tidak memikirkanmu saat mengambil keputusan…”

Luhan pun menarik tubuh Ariel dan memeluknya erat. Ada rindu yang meletup-letup did alam dada Luhan, membuat Luhan semakin memperdalam pelukan mereka, seolah-olah ingin menelan tubuh Ariel ke dalam tubuhnya. Dan…yeah, akhirnya ia kembali melalui satu kerikil lagi dalam perjalanan pernikahan mereka.

 

***

 

Luhan bukan tipikal pria romanis, Luhan kembali mendengus panjang saat pikiran itu terus menggerayanginya sepanjang perjalanan mereka di taman kota. luhan ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Ariel, sesuatu yang akan membuat wanitanya terkesan terhadapnya. Yeah, dan sejauh ini semua itu masih sebatas keinginannya.

Nyatanya, saat ini Luhan dan Ariel hanya bersepeda mengelilingi taman di sekitar taman Haidian, tidak ada yang spesial, selain karena Luhan tidak tahu bagaimana membuat Ariel terkesan terhadapnya, Ariel juga bukan tipikal perempuan yang suka hal-hal berbau roantis yang picisan –Ariel tidak suka bunga, tidak suka belanja, juga tidak terlalu tertarik untuk makan malam di restoran mewah. Bahkan Luhan belum tahu hal romantis apa yang bisa membuat perempuan itu terkesan terhadapnya, tanpa kesan picisan tentunya.

“Ini benar-benar langka,” sayup-sayup Luhan mendengar suara Ariel ikut menyerbu gendang telinganya, bersaing dengan kebisingan lain yang sibuk mengusik telinga Luhan. Bising sekali.

“Apanya yang langka?” tanya Luhan sambil menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang. Sepeda untuk dua orang. Dan Luhan menyesali keputusannya untuk mengambil sepeda ini, ia tidak bisa melihat Ariel.

Di balik punggung Luhan, Ariel pun menarik seutas senyum di bibirnya, “Tentu saja berjalan-jalan denganmu. Ini langka. Kau terlalu sibuk. Hah…ini alasan kenapa dulu aku tidak mau meikah dengan orang kantoran sepertimu,” Ariel tidak memiliki maksud papun dalam ucapannya barusan. Meskipun…yeah, dengan sedikit menyesal ia harus mengakui ia kembal membayangkan Zhang Yixing yang memainkan tuts piano dan berkeliling dunia bersamanya.

Oh, berhenti menyelingkuhi Luhan dengan pikiran idiotmu Ariel Lau!

“Maaf…” kata Luhan dengan suara pelan, ia tidak yakin apakah Ariel akan mendengarnya atau tidak, “Lain kali aku akan mengosongkan jadwal khusus untukmu.”

Ariel tertawa kecil mendengar ucapan Luhan yang terdengar sedikit…konyol. ayolah. Luhan bukan lagi mahasiswa yang bisa memutuskan jadwal kencan sesuka hati. Luhan adalah CEO dari perusahaan terbesar di Tiongkok, dan Ariel tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Luhan lebih memilih untuk menghabiskan banyakw aktu dengannya. Egois sekali.

Dan yang terburuk dari semuanya, Ariel tidak ingin ibu mertuanya datang dan melabrak Ariel karena alasan yang tidak masuk akal –Ariel kesepian karena Luhan terlalu banyak bekerja.

“Tidak perlu…” kata Ariel sambil menepuk pundak Luhan pelan, “Jaga dirimu baik-baik, itu saja sudah lebih dari cukup. Kau tidak tahu sih, aku selalu mengkhawatirkan kesehatanmu.”

Jika tidak sedang bersepeda, mungkin Luhan sudah menarik Ariel ke dalam pelukannya. Mungkin ini yang membuat Luhan jatuh hati pada Ariel, karena Ariel tidak banyak menuntut pada Luhan. Ariel selalu mempoisisikan dirinya untuk mengerti sudut pandang Luhan, terlepas apakah Ariel menyukainya atau tidak.

Dan akhirnya mereka berhenti di dekat sebuah bangku panjang bercat coklat. Dengan langkah kekanakan, Ariel langsung mendekati bangku itu dan menempati bangku itu dengan rakus.

“Duduk disini! Sebelum ada orang lain yang menempati!” Ariel menepuk permukaan bangku di sisi kanannya. Dan jika sudah seperti ini, Luhan tidak akan lagi berpikir jika Ariel wanita dewasa. Makan sampai belepotan, berjingkrak saat berjalan, mengoleksi boneka –bahkan Luhan pernah melihat Ariel bicara pada salah satu bonekanya, menunjuk orang saat membicarakannya, dan…dia tidak terlihat seperti Ariel yang sering mengomeli Luhan tentang ini dan itu, melarang ini dan itu, menceramahi panjang lebar, membuat masakan aneh, dan juga saat di atas ranjang…ah! sudahlah.

Selama beberapa menit, Ariel dan Luhan hanya duduk santai tanpa bicara sepatah katapun. Luhan yang asyik dengan pikirannya, dan Ariel yang asyik memperhatikan remaja laki-laki yang tengah bermain dengan seekor anak anjing dengan bulu putih.

“Jadi…kau ingin membicarakan sesuatu, kan?”

Ariel terpaksa menoleh ke samping kanan ketika tangan kanannya sedikit diremas oleh tangan Luhan yang menggenggamnya. Ariel pun menatap Luhan yang enggan melihat ke arahnya.

Ariel pun tersenyum kecil, kemudian menarik tangannya dan melingkarkannya pada tangan Luhan. Juga, Ariel menyandarkan kepalanya ke pundak Luhan. Membuat beberapa pasang mata menatap mereka dengan iri –Luhan yang tampan dan Ariel yang manis. Pada posisi seperti itu, mereka seperti pahatan sempurna milikNya.

“Aku memang sengaja berencana untuk menunda kehamilanku…” Ariel sedikit mengeratkan pegangannya pada punggung tangan Luhan ketika rahang pria itu mengeras, “…tapi bukan berarti aku tidak ingin memiliki anak darimu, apalagi sampai meninggalkanmu. Lagipula kau menonton film apa sampai berpikir jauh kesana?” Ariel terkekeh kecil melihat Luhan mendelikkan matanya ke arah Ariel.

“Kau tahu sendiri, untuk tidak melihat pria lagi, kau memerlukan waktu yang panjang dan juga perjuangan yang tidak mudah. Dan menurut psikiater yang kutemui, kesembuhan seperti itu bisa terjadi, dan kemungkinan kau kembali…melirik pria di sekitarmu juga tetap ada,” Ariel pun memejamkan matanya, mencoba membuat tubuhnya rileks meskipun ia tahu Luhan tidak dalam posisi nyaman sekarang, “Kau terlalu sering berhubungan dengan Kris, dan jujur saja, aku tidak tenang setiap kali memergokimu tengah menelponnya. Kau rumahku sekarang, tempat aku kembali bersandar dan berbagi air mata juga senyuman, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tiba-tiba pergi dengan Kris…”

“Tapi Kris tidak…”

“Iya aku tahu, Kris tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan mengusik kebahagiaan orang lain. Sifat yang membuatku kagum terhadapnya, sekaligus takut…” Ariel masih memejamkan matanya, mencobamenghirup udara sore Haidian, “Dia terlampau baik dan bisa menjadi magnet…juga untukmu. Makanya, aku memutuskan untuk menunda kehamilanku dulu sampai aku yakin, kau tidak tersengat magnet Kris.”

“Dan soal Baekhyun,” Ariel mengubah posisi tangannya menjadi memeluk pinggang Luhan, “Dia memberitahuku jika Whitney ada di Korea. Dan dia seorang model.”

Luhan dengan cepat memutar kepalanya ke arah Ariel. Wow, drama apalagi sekarang? Whitney berbohong pada keluarganya? Selama ini Luhan memang belum pernahbertemu dengan Whitney, kakak Ariel yang sering dibanggakan oleh Lim Jin Ha. Salah satu nama yang tertulis di lembar kertas kontrak pernikahannya dulu. Dan setelah pengorbanan sebesar itu, ternyata Whitney mengkhianati keluarganya?

“Baekhyun tidak sengaja bertemu dengannya, dia mengenali cincin keluarga kami yang dibuat oleh Mom. Seingatku Baekhyun tidak terlalu memperhatikan kalung yang pernah kutunjukkan padanya dulu, tapi ternyata dia malah masih mengingatnya.”

Luhan sebenarnya cemburu dan memprotes lidah Ariel yang begitu lancar menyebutkan nama Baekhyun, seolah Baekhyun begitu mengenal Ariel lebih daripada Luhan. Tapi akhirnya Luhan hanya mengeratkan rangkulannya pada pundak Ariel.

“Well…kita sudah menikah beberapa bulan, tapi aku belum pernah bertemu dengan kakak-kakak iparku sendiri…”

Ariel sedikit menegakkan tubuhnya untuk melihat wajah Luhan, “Kau tidak sedang mengatakan kau mau menemui mereka, kan?”

“Sebenarnya aku tidak terlalu senang untuk meninggalkan perusahaan, tapi karena berhubug kita juga belum pernah benar-benar berbulan madu…bagaimana jika kita pergi menemui keluargamu di Kanada? Aku juga ingin melihat wajah ayah mertuaku.”

 

***

 

SETELAH MEMENANGKAN HATI CEO MG GROUP CALIFORNIA, CEO MUDA INI BERKENCAN DENGAN SANG ISTRI

 

Judul berita picisan, dan tentunya berita itu tidak begitu penting. Tapi foto kemesraan Luhan dan istrinya begitu ramai dibicarakan di beberapa kalangan, dan meskipun berita ini menggunakan foto Luhan dan istrinya, tapi berita ini masuk ke dalam beberapa berita ekonomi baik di Asia dan luar Asia. Tentu saja berita itu bukan membahas tentang kencan Luhan dengan sang istri, melainkan keberhasilannya meraih hati William Stamford selaku Direktur Utama perusahaan MG Group California, perusahaan yang selama ini menjadi target utama Wendy Son –atau mungkin ayah Wendy.

Yang membuat Wendy ingin tertawa, Luhan adalah kakak kelasnya saat SMA dulu di Korea. Wendy tidak mengenal pria brengsek yang dulu sempat dibicarakan karena mencampakkan pacarnya yang super cantik, tapi sejak sekolah dulu, Luhan memang seorang bintang. Luhan yang sering dibicarakan anak perempuan di sekolahnya, membuat Wendy juga ikut mengetahui apa saja yang berhubungan dengan Luhan, termasuk ketika Luhan tiba-tiba pindah ke Tiongkok.

Dan…yeah, sedikit bocoran, Wendy juga sebenarnya salah satu dari fans Luhan saat sekolah dulu. Wendy sempat penasaran, apakah di kemudian hari ia bisa kembali melihat Luhan dengan senyum manisnya? Tapi bukannya saling bertemu dengan sapaan basa-basi ataupun obrolan ringan seputar kegiatan masing-masing, justru Wendy harus bertemu dengan Luhan lewat berita seperti ini. Berita yang membuat ayahnya semakin bebal terhadap perusahaan yang sempat dipimpin oleh Xi Mao –ayah Luhan.

Wendy juga sedikit sakit hati ketika membaca berita pernikahan yang menghebohkan penggemar CEO muda nan tampan itu. Yeah, Luha telah menikah dengan seorang gadis biasa berkewarganegaraan asing. Tidak ada banyak berita mengenai profil wanita itu, menurut yang Wendy dengar, pihak Luhan sengaja menutupi profil wanita itu demi kenyamanan privasi. Dan tentu saja, Wendy juga tidak terlalu berminat untuk mencari tahu siapa gadis yang berhasil menggaet hati Luhan.

Luhan memang cerita lama, tapi ia ternyata masih menyimpan harapan kecil pada pria yang pernah dikaguminya itu.

“Dia memang keren. Cerdas, liar, berani, dan tidak bisa ditebak. Pengusaha Tiongkok juga begitu harus menggigit jari ketika Luhan dan pengusaha Wu Yifan adalah sahabat. Tiongkok negara yang kuat secara ekonomi, dan perusahaan mereka adalah sala satu pilarnya,” Max tiba-tiba muncul dengan wajah polosnya, memberi kometar dan sedikit menerangkan bagaimana sosok Luhan yang memang sering terdengar belakangan ini. Pengusaha baru yang tengah menumbuhkan lagi perusahaannya.

Wendy sedikit memukul lengan Max. Tidak habis pikir, bagaimana bisa pria itu tiba-tiba muncul dengan wajah seolah tak terjadi apapun. Dan…yang benar saja, ia baru saja tiba di Ottawa, dan Max sama sekali tidak menyambutnya padahal mereka sudah lama sekali tidak bertemu.

“Sejak kapan kau berdiri disana?” tanya Wendy dengan ketus.

Max langsung tertawa renyah, “Tentu saja sejak tadi adikku sayang…” Max pun mencubit pipi adik sepupunya itu. Tirus. Dan Max tidak suka fakta jika Wendy sengaja menguruskan tubuhnya seperti sekarang.

“Ah…tapi aku penasaran, kenapa kau datang kemari saat ibumu melakukan perjalanan bisnis dengan suaminya? Kau sengaja kemari untuk melihat Saeron?” Max pun mengangkat kepalanya, menatap lantai atas yang tetap terlihat sunyi seperti biasanya.

Wendy mendengus kecil, ia pun menarik Max untuk duduk di samping kanannya. Rumah ibu Wendy dengan suaminya memang selalu terlihat sepi, padahal sudah dua tahun terakhir ini ibu dan ayah tirinya mengangkat seorang anak. Remaja 14 tahun yang berwajah imut dengan watak dingin. Bahkan, Wendy tidak yakin apakah gadis yang baru saja mengubah marganya menjadi Kim itu akan menyapanya sepulang sekolah nanti.

“Tidak, aku sedang ada liburan saja. Selain itu…”

“Ayahmu memarahimu karena kau tidak berhasil menarik hati CEO William? Dan justru dia malah tertarik pada proyek Chengdu itu?”

Wend memutar bola matanya, “Kau pandai dalam hal bisnis, kenapa tidak bergabung dengan kami saja? Kau harus tahu, kelak saat kau akan menikah, kau tidak mungkin selamanya menggantungkan semuanya pada band-mu itu.”

Max mengibaskan tangannya, “Kau berencana akan menikah ya? Kenapa tiba-tibamembahas pernikahan?”

Wendy pun mencibir, “Tentu saja. Aku hanya tinggal menunggu waktu kapan ayahku akan membawa seorang pria membosankan ke hadapanku.”

Max langsung tertawa terpingkal mendengar ucapan Wendy. Tentu saja ia tahu siapa yang dimaksud oleh Wendy, yah…jika biasanya para ibu-ibu yang akan heboh memikirkan masalah kencan buta untuk anak-anak mereka,maka Wendy justru akan direpotkan oleh ayahnya yang akan terus meributkan soal pernikahan dan lain sebagainya.

“Ya?”

Max langsung menghentikan tawanya saat Wendy tiba-tiba berbicara dengan seseorang di sebrang telpon. Dan Max langsung menaikan alisnya ketika Wendy langsung berteriak keras dengan bahasa asing.

“BYUN BAEK? KAU KAH ITU?!”

Yeah, Wendy baru saja menggunakan bahasa Korea. Dan Max tidak bisa bicara bahasa korea meskipun ia berdarah Korea.

 

***

 

Ariel memandang takjub artikel yang terpampang di layar ponselnya. Ia tahu Luhan memang seorang pengusaha terkenal, tapi ia tidak tahu bahkan Luhan memiliki penggemar yang mau membaca bahkan mengoleksi foto mereka berdua.

“Aku tidak tahu kau seterkenal ini? Dan memangnya siapa CEO yang berhasil kau tarik hatinya itu?” tanya Ariel saat Luhan menghampirinya dengan dua gelas kopi di tangannya. Luhan benar-benar menepati janjinya untuk berbulan madu ke Kanada.

Luhan pun melirik jam di tangan kirinya, masih setengah jam lagi sebelum keberangkatan, “William Stamford. Aku juga tidak tahu dia akan tertarik pada beberapa proyekku. Padahal aku tidak merasa ini proyek besar sampai bisa menarik investor asing. Targetku hanya investor lokal, karena ini…” Ariel langsung membekap mulut Luhan. Ia tidak mengerti apa yang baru dibicarakan Luhan, dan ia tidak tertarik mendnegar lebih jauh tentang proyek apapun.

“Lebih baik kita bicarakan hal lain daripada kau terus membicarakan bisnismu yang tidak aku mengerti.”

Luhan terkekeh pelan, “Tadinya Mama ingin mengajakmu berbisnis, tapi aku tidak yakin bisnisnya akan berkembang jika kau bahkan tidak tahu siapa itu William Stamford,” ledek Luhan yang langsung dibalas injakan di kakinya.

“Oya, apa kau yakin ibumu tidak ingin ikut ke Kanada? Kita bisa pergi kesana bersama,”

Ariel mengibaskan tangannya pelan, “Tidak mungkin. Mom sangat menghindari Dad semenjak perceraian mereka.”

Meskipun tidak menunjukkan raut wajah yang sedih, tapi Luhan tahu perasaan berat yang dialami oleh Ariel. Menerima kenyataan bahwa banyak hal yang telah berubah, termasuk kebahagiaan yangs elama ini mengatapinya, pasti tidak mudah untuk terbang ke tempat dimana bahagia yang menguap itu berkeliaran.

Luhan pun mengecup puncak kepala Ariel yang dibalas sikutan di perut Luhan, “Aku tidak mau lagi-lagi masuk berita karena dirimu.”

“Biar saja, aku ingin memamerkan pilar hidupku pada dunia.”

“Gombal.”

Luhan pun mengecup Ariel sekali lagi, kali ini di pipi, “Jika kau protes lagi aku akan menciummu di bibir.”

Mesum. Ariel mendesis kecil dan sedikit menggeser duduknya. Luhan buka orang yang harus dilawan. Meskipun menyebalkan, tapi sikap Luhan cukup menghibur Ariel. Ia tegang sekali. Bagaimanapun, ia masih sering merasa sedih ketika menyadari keluarga hangatnya telah menguap. Semua punya kehidupan masing-masing.

Dan Ariel tidak yakin, apakah ia benar-benar siap untuk kembali melihat perasaan kelabunya dengan mata masa kini.

 

***

 

Whitney memungut bajunya yang berserakan di lantai, dan dnegan cepat ia pun mengenakan seluruh pakaiannya. Dengan satu lirikan singkat ke arah jam dinding di kamarna, Whitney langsung menghitung waktu untuk keberangkatannya ke Kanada. Keberangkatan dadakan. Entah mengapa e-mail dari Max tempo hari terus mengusiknya.

“Ini terlalu mendadak. Kau benar-benar akan pergi ke Kanada? Manajermu pasti akan menggila saat tahu ia harus mengatur ulang seluruh jadwalmu,” kata Sungmin yang masih berbaring di atas ranjang dan hanya berbalut selimut. Dan tentunya, bukan hanya manajer Whitney yang akan menggila, tapi juga dirinya. Ia baru sampai semalam dan langsung mendatangi apartemen Whitney, lalu sekarang ia akan ditinggal sendiri?

Whitney tidak menjawab. Ia langsung sibuk mengemasi barang-barangnya. Sungmin benar, ini keberangkatan dadakan. Ia memesan tiket semalam dan…entahlah. ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba ingin datang ke Kanada. Apalagi, semalam kakaknya –Clinton—mengatakan jika ia akan mengadakan pernikahan bulan depan. Sedikit bocoran, kekasihnya yang telah dipacari oleh Clinton selama 7 tahun itu tengah hamil 5 minggu.

“Apa aku perlu ikut denganmu?”

“Kau gila!” bentak Whitney dengan mata sedikit melotot, “Kau bisa dipecat jika kau main-main dengan pekerjaanmu!”

“Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga akan terkena masalah jika kau bersikap gegabah seperti ini?” Sungmin menaikan nada bicaranya. Ia pun menyingkap selimutnya, kemudian berjalan mendekati Whitney, memeluk wanita itu dari belakang, “Kau tahu aku benar-benar frustasi karena merindukanmu. Dan kau akan meninggalkanku begitu saja sekarang?”

Whitney pun melepas lingkaran tangan Sungmin, kemudian mengecup sekilas bibir pria itu, “Dengar. Kakakku akan menikah bulan depan. Aku harus bertemu dengannya, juga dengan calon kakak iparku. Dan sepertinya semua akan berkumpul di Toronto, kecuali Mom…mungkin.” Whitney pun berjalan menjauhi Sungmin menuju kamar mandi, “Dan…omong-omong soal pekerjaanku, kontrakku hampir habis. Kurasa aku akan menandatangani kontrak baru dengan agensi lain yang lebih besar. The Young Agency juga sudah menanyaiku soal kontrak lamaku.” Katanya menambahkan sebelum masuk kamar mandi.

 

=TBC=

20151005 PM1040

Cek cek. Aku kembali dengan FF yang gak jelas alurnya ini.

Emmmm….sedikit ngejawab beberapa komentar (maaf banget ya aku belum bisa langsung bales komentar, soalnya aku baca komentar juga dari email yang masuk T_T)

Tian Mi Mi itu artiny apa? Tian Mi Mi itu diambil dari lagu aransemennya Teresa Teng yang dinyanyiin Luhan. Tau kaaaan? Artinya Sweet as Honey atau Verry Sweet. Yeah, semanis Luhan lah gimana ._.v

Terus…sekali lagi, jangan dulu tebak alurnya gimana ._. aku juga gak pengen Luhan Ariel gimana-gimana, huhu

Oke, sekian dulu dari saya. Gnight ~

#puter backsound Your Song by Luhan

3 responses to “(Sequel of Married With A Gay) Tian Mi Mi (Chapter 4)

  1. wow aku sangat suka dengan ini dan aku kira bakal ada banyak kejutan di chap selanjutnya.
    sungmin habis ngapain tuh😀
    di tunggu terus kelanjutannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s