[TRILOGY] “Breakeven” -1st

breakeven2

Park Chanyeol | Original Character [Song Namna] | Byun Baekhyun

Romance | Comfort |Angst

[1st]

JIHAN KUSUMA © 2015 [[1st published on pixiexoxo.wp.com]]

Note : No plagiarism please. This is truely from my brain. Just read and give opinion🙂

warning


-Breakeven [First]-

Alunan musik dengan dominasi biola terdengar formal mengiringi para tamu yang sedang berlalu lalang mencari tempat duduk disebuah concert hall. Hawa-hawa klasisis tercium begitu kental disana. Semuanya mengenakan gaun berwarna pastel yang dipadu dengan renda-renda, untuk lelaki mengenakan dasi kupu mungil yang tersangkut diatas kancing kemeja mereka. Beberapa pelayan menekuk lengan, menyangga nampan berisi makanan-makanan mahal. Kepiting, salmon, lobster, babi, gurita, semuanya tersaji dengan garnish yang mempercantik tatanan. Sementara diluar sana dua orang pengawal sedang memeriksa undangan para tamu yang baru datang, alih-alih memastikan salah satu atau dua dari mereka tidak membawa bom atau dinamit untuk mengacaukan wedding party ini.

Jauh disudut ruangan yang tertutupi selambu-selambu warna pale, dua orang lelaki berdiri disana. Salah satunya –yang berkumis- mengenakan sarung tangan putih seperti yang biasa dikenakan pesulap.

“Kau sudah mencoba hubungi Namna?” tanya lelaki paruh baya bersarung tangan tadi kepada puteranya yang enam belas centi lebih tinggi darinya.

“Aku sudah mencobanya hampir tiga belas kali, tetapi sepertinya dia lupa mengisi baterai ponselnya.” jawab Chanyeol, si mempelai pria yang ternyata harus menunggu mempelai perempuannya yang datang terlambat pada acara pernikahan mereka. Chanyeol tahu jika Namna sangat pelupa, tetapi Namna mungkin tidak sepelupa itu untuk melupakan hari apa sekarang.

Abojinya menyingkap sarung tangannya yang menutupi jam tangan. “Tiga menit lagi pestanya akan dimulai. Kurasa aku harus mengirim salah satu pengawal untuk menjemput calon isterimu.” lelaki berkaca mata plus itu berlari kecil masuk kedalam ruang persiapan yang tidak jauh dari sana.

Chanyeol menggeser kontak bernamakan ‘Honey’ lalu mendekatkan ponsel itu ketelinganya untuk yang keempat belas kali. Dan sekali lagi dia harus menerima jawaban yang sama dari operator.

“Dimana dia…” pekiknya lirih.

Dua orang lelaki dengan pakaian yang kembar menghampiri Chanyeol. Salah satunya bertubuh pendek dengan alis tegas yang memayungi mata angel-nya, sedangkan yang satu lagi adalah lelaki tinggi dengan hidung mancung dan rambut pirang.

Chanyeol menjabat tangan mereka satu persatu. Senyuman terpancar begitu melihat kehadiran dua sahabat terdekatnya itu.

Congratulation brother-nim… akhirnya mimpimu tercapai juga.” Suho menepuk pundak Chanyeol.

Allright… kukira kau tidak akan datang. New York-Korea bukan dua tempat yang bersebelahan.” jawab Chanyeol sambil meringis mempertontonkan gusinya yang terlalu rajin dibersihkan.

“Aku sengaja membatalkan meeting dengan seorang klien lalu cepat-cepat mengepak barang-barang hingga akhirnya take off tepat waktu. Haha, nyaris saja aku menjatuhkan dompetku di bandara.” Suho tertawa-tawa.

“Kapan-kapan aku akan membooking sebuah restoran untuk malam malam kita Hyung, trimakasih untuk datang disela-sela aktivitasmu yang serbasibuk.” balas Chanyeol. “Oh ya Sehun, kukira kau juga tidak bisa datang. Bagaimana kuliahmu?”

Sehun mengendikkan bahu. “Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk. Namun akhir-akhir ini cuaca di London kurang bersahabat. Aku juga mendapat tawaran untuk magang di beberapa perusahaan, tapi aku sengaja menunda sesi wawancara itu. Jangan lupa mengajakku juga usai kau booking restoran dengan Suho Hyung…”

Ketiganya sama-sama tertawa –dengan penuh wibawa tentunya. Hubungan persahabatan mereka memang sangat erat walaupun sama-sama sibuk di tiga negara yang berbeda. Suho sibuk di AS, Sehun pulang pergi dari London ke Korea setiap akhir bulan untuk berkumpul bersama keluarganya, dan Chanyeol yang stay di Korea harus secepatnya mengambil alih posisi ayahnya sebagai dirut sebuah perusahaan yang sudah memiliki cabang hingga ke negara sanghai.

“Hey bukannya itu mantan pacar Namna? Kau mengundangnya juga ternyata. Kukira dia memiliki hubungan yang tidak baik denganmu. Melihat pernikahan mantannya dengan namja lain itcan hurt him deeper…” Suho menuding seorang lelaki yang baru saja melintasi pintu masuk. Bow tie yang dikenakannya sedikit banyak menyamarkan bentuk tubuh lelaki yang cenderung kurus itu. Rambutnya yang kecokelatan disisir merata kesamping, perfeksionis.

“Baekhyun? Dia kan… sepupuku. Mana mungkin aku tidak mengundangnya. Lagi pula itu sudah lama sekali Hyung.” Chanyeol bermaksud bersikap santai tetapi guratan dimatanya begitu terlihat jelas sampai-sampai Suho dan Sehun bisa menemukan keanehan itu. Ayolah, sudah hampir sepuluh tahun mereka bersahabat, Suho dan Sehun bisa melihat itu.

“Kalian pernah bertengkar hingga sama-sama dirawat di rumah sakit karena merebutkan Namna, bukan begitu?” ungkit Sehun setengah berbisik.

Chanyeol menatap sosok kecil sepupunya yang sedang mencari celah-celah kecil diantara para tamu yang menganakan kostum terlalu mengembang. Untuk sejenak pikirannya melambung ke masa lalu dimana terjadi perang dingin diantara dia dan Baekhyun. Hingga pada puncaknya keduanya bertengkar demi satu nama, Namna, di gadis manis yang membuat perang saudara itu terjadi. Baekhyun sempat mendapatkan Namna, namun itu hanya sebentar. Namna berpaling kepada Chanyeol karena sadar mana yang lebih baik untuknya. Dan beginilah jadinya, mereka menikah.

“Jangan bilang jika kau sengaja mengundangnya untuk memamerkan kemenanganmu…” Suho tersenyum.

“Ah, Hyung… kau bicara apa. Tentu saja tidak. Dia kan saudaraku. Tidak mungkin aku melakukannya. Hubungan kami sudah membaik, seperti saudara biasa.” Chanyeol mengumbar senyumnya yang sekering gurun pasir.

Tiba-tiba seorang pengawal berlari menerobos kerumunan dan menyerukan sesuatu. “Pengantin perempuannya…! Dia kecelakaan!” serunya mengundang perhatian seluruh isi concert hall. Pekikan kaget dan suara bisikan mulai memenuhi ruangan. Nyonya Park, ibunda Chanyeol langsung tergeletak pingsan di lantai.

“Omoni…” si pengantin lelaki itu berlari menyelamatkan bundanya yang bernafas lemah sementara kedua sahabatnya segera mengikuti.

“Chanyeol-ah, sebaiknya kau segera mencari Namna. Biar kami yang mengurus Omoni-mu.” saran Suho.

“Gomawo Hyung, aku harus memastikan Namna selamat!” Chanyeol melempar jas hitamnya keatas karpet Persia yang melapisis lantai kayu concert hall kemudian segera merebut kontak mobil milik salah satu pengawal.

.

“Nona Namna mengalami luka di kaki kanannya yang terjepit seat ketika mobil terguling. Dia sempat kehilangan kesadaran namun tim medis sebisa mungkin mempertahankan keselamatannya. Terjadi benturan yang cukup kuat pada kepala. Ada sedikit retakan namun kami rasa itu tidak terlalu membahayakan. Namun, persentase kemampuan mengingatnya belum dapat diprediksi… dalam kata lain… bisa saja dia-“

“Amnesia?” potong Chanyeol dengan lantang.

Ibu Namna yang sedang duduk disamping Chanyeol seketika terisak-isak sambil memeluk lengan calon menantunya itu. Sang Dokter menaruh kacamatanya sambil menghela nafas berat. “Bisa dibilang begitu…” jawabnya dengan sedikit keraguan.

“Jika untuk penyebab kecelakaannya; polisi menyelidiki ada lubang di ban belakang mobil yang pasien tumpangi. Pengemudinya meninggal di tempat. Mungkin Tuhan masih berbaik hati, calon isteri Anda diselamatkan walau peluang hidupnya sangat tipis. Kami akan mengerahkan tenaga yang kami miliki untuk mengembalikan Nona Namna hingga sembuh seperti semula.”

Meski begitu, Ibu Namna masih menyembunyikan hidungnya dibahu Chanyeol. Dia menangis sesenggukan sampai-sampai kehabisan nafas.

“Baiklah, terima kasih Dokter. “ Chanyeol yang sudah kehabisan kata menuntun calon mertuanya keluar dari ruang dokter. Diluar sana sudah ada Ayah Namna yang komplit dengan Nyonya Park, Tuan Park dan satu lagi, Baekhyun.

“Apa katanya?” tanya Tuan Park tidak sabaran.

“Sulit kuceritakan Aboji.” Chanyeol melirik Ibu Namna. “Eomma… Namna akan baik-baik saja. Yakinlah.” bujuk Chanyeol sambi menepuk-nepuk lembut bahu wanita bermarga Song itu.

“Dia akan baik-baik saja kan?” tanya Nyonya Park.

Chanyeol tersenyum kecil, berusaha meyakinkan mereka –dan dirinya sendiri- jika Namna akan sembuh. “Kita lihat saja, apakah Namna bisa mengingat siapa calon suaminya.”

.

Sudah hampir dua puluh empat jam Namna mengalami koma. Dia hanya berbaring, menutup mata, sambil bernafas menghirup udara dari tabung oksigen. Kaki kanannya bertumpu pada anyaman nilon yang digantung pada bingkai-bingkai ranjang bertirainya. Untuk sesaat gadis berusia dua puluh dua tahun itu terlihat seperti manekin pura-pura sakit yang disimpan pada kotak kaca. Tekstur kulitnya tetap sama, seperti velvet putih yang dilapisi cat kuku warna bening. Sisa-sisa make up masih menempel diatas kelopak matanya, membuat sepasang indera menglihatan itu dibingkai butiran glitter yang diam-diam berkelip ketika ditimpa cahaya lampu kamar.

Chanyeol duduk diluar ruangan itu. Jemarinya tertaut dengan erat, menggenggam satu sama lain sementara pikirannya terbang hingga bercabang-cabang. ‘Bagaimana jika Namna tidak bisa berjalan dengan normal lagi? Bagaimana jika ingatannya rusak seperti apa yang dikatan dokter?’ pikirnya. Chanyeol bukan tipe lelaki yang akan meninggalkan kekasihnya ketika gadis itu ketumpahan air keras dibagian wajahnya. Chanyeol bukan seseorang yang menyukai wanita hanya dari halaman depan. Yang Chanyeol khawatirkan adalah, bagaimana jika Namna tidak lagi merasa pantas untuk Chanyeol. Chanyeol takut Namna akan meninggalkan Chanyeol karena dirinya tidak lagi sempurna.

Seseorang menyodorkan sekaleng soda kedepan wajah Chanyeol yang sedang menunduk dengan dalam. “Mau soda?” tanya seseorang itu. Chanyeol melihat seulas senyuman di bibir lawan bicaranya. Lelaki itu duduk disamping Chanyeol sambil menyesap sodanya.

“Kenapa kau kemari?” tanya Chanyeol.

“Kau tidak suka?” balas Baekhyun.

Keduanya saling memandang dengan canggung. Semenjak kejadian di SMA itu semuanya berubah sudah. Di masa kanak-kanak, Chanyeol dan Baekhyun selalu membeli kaos atau sepatu yang sama, permen favorit yang sama, juga mainan yang sama. Mereka sekolah di satu sekolah yang sama. Namun fakta menyakitkannya adalah mereka menyukai seorang gadis yang sama pula. Chanyeol yakin, hingga sekarang Baekhyun belum bisa merelakan Namna sepenuhnya.

“Aku turut sedih. Jadi aku kemari.” balas Baekhyun. Kata-katanya seperti masih bersambung, namun Chanyeol segera memotongnya.

“Tentu saja kau juga sedih. Dia mantan kekasihmu.”

Ups

Mungkin Chanyeol yang keliru. Salahkan Chanyeol mengapa harus memulai topik ini, padahal dia sudah berusaha membungkam bibirnya. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol.

“…dan kau adalah calon suaminya.” sambung Baekhyun, berusaha menata kembali pembicaraan ini kembali kearah yang semestinya. Dia tidak mau lorong rumah sakit ini menjadi saksi bisu peperangan dingin mereka.

“Namun kau masih mencintai Namna.” tuduh Chanyeol yang rupanya tidak bisa diajak kompromi. Dia sudah menggesek kepala korek ke wadahnya, dan kini siap untuk menjatuhkannya keatas kayu bakar milik Baekhyun.

“Haha… itu memang kisah yang menyedihkan tapi setidaknya itu masih benar.” kali ini ganti Baekhyun yang menyiram kayu-kayunya dengan sebotol bensin.

Chanyeol terbelalak, kaleng soda dalam genggamannya nyaris terbanting ke lantai. “Jadi benar?”

“Tapi tenang saja. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan bahagia jika Namna berbahagia. Dan aku tahu kebahagiaan gadis itu ada pada dirimu, aku tidak semunafik itu untuk tidak menerima kenyataan.” senyuman Baekhyun membuat Chanyeol harus menyulut dirinya sendiri dengan korek tadi. Baekhyun tidak sejahat itu. Chanyeol jadi merasa kejam, diam-diam menyimpan api untuk Baekhyun.

“Kita bersama sejak kecil, sejak lahir.” Baekhyun menepuk punggung Chanyeol.

Tiba-tiba seorang suster keluar dari kamar Namna. “Pasien sadar.” ujarnya lantang.

Chanyeol dan Baekhyun berjingkat dari tempat duduk lalu berjalan menghampiri suster. “Namna… sudah sadar?” tanya Chanyeol.

“Ya, tapi pasien belum bisa menerima tamu. Saya akan panggilkan dokter!”

Suster itu berlari pergi.

“Baekhyun, cepat hubungi Aboji dan Omoni. Aku akan menghibungi Eomma Namna.”

.

Namna sadar lebih cepat dari yang diperkirakan dokter. Para suster sudah melepas respirator dari hidungnya. Kini gadis itu perlahan membuka matanya yang berat. Kelopak matanya bergerak perlahan membasahi matanya yang lebar tanpa bantuan pisau bedah. Bola keabu-abuannya bergerak kesana-kemari menelanjangi kamar barunya yang tidak lagi dipenuhi alat-alat perawatan yang mengeluarkan bunyi-bunyian aneh.

“Agh…” rintihnya sambil meraba keningnya yang terbalut perban tebal.

“Jangan banyak bergerak Namna…” bisisk Eommanya dengan lembut.

Chanyeol meremat jemarinya sendiri, menanti gadis itu melihatnya –menanti Namna menanggil namanya.

Namna melirik wanita yang paling dia kasihi itu. “Eomma…” pekiknya lirih. Wanita paruh baya itu menangis haru begitu sadar Namna masih mengingat orang yang sudah melahirkannya. “Ne… Eomma disini Namna…” tangisnya.

“Eomma, aku kenapa?” tanyanya lemah.

“Simpan tenagamu sayang. Kau di rumah sakit. Mobilnya terbalik dan syukurkan Tuhan masih menyelamatkanmu…”

“Mobil… mobil yang mana? Agh…”

“Sudah jangan banyak berpikir. Tenangkan dulu dirimu.” Eomma merapikan selimut Namna yang tersingkap.

Namna melihat sekeliling. Beberapa wajah bahagia menatapnya penuh rasa syukur, sementara gadis itu masih mengamati satu-persatu, mengumpulkan ingatan tentang mereka yang masih tersisa. Chanyeol tersenyum kearah Namna begitu gadis itu menyimpitkan mata kearahnya.

“Namna, kau mengingatku?” Chanyeol maju beberapa langkah untuk menghampiri gadis itu. Namna terus memokuskan pandangannya kearah Chanyeol, menggali pikirannya sendiri tentang identitas lelaki didepannya itu.

“Kau…”

Chanyeol mengangguk kecil sambil tersenyum semakin lebar.

“Kau… siapa?”

‘Aku siapa?’ ulang Chanyeol dalam hati.

“Maaf aku tidak mengenalmu, tapi bisakah kau panggilkan Baekhyun? Aku ingin meminta maaf karena terlambat di acara pernikahan kami.” Namna berkata dengan ngelantur. Seisi kamar kaget mendengarnya. Bagaimana bisa gadis ini melupakan siapa yang dia cintai? Apakah gagar otak menyebabkan gagar hati juga? Apakah kerusakan pada pikirannya juga menyebabkan perubahan pada perasaannya?

“Namna, ini aku… Chanyeol.” Chanyeol mengguncang bahu gadis itu.

“Ah benar, aku ingat. Kau sepupu Baekhyun. Tapi aku ingin bertemu Baekhyun sekarang juga…”

Appa Namna menghampiri ranjang gadis itu. “Namna, dia… calon suamimu, Chanyeol.” tutur Appanya. Namun Namna segera menggeleng. “Appa jangan bercanda. Aku akan menikahi Baekhyun, lelaki yang sangat aku cintai.” jelasnya sekali lagi.

Chanyeol merasa hancur menjadi kepingan kecil-kecil yang sulit disatukan. Memang benar ingatan Namna kembali, namun tidak seperti semula. Namna sudah melupakannya.

Seseorang masuk kedalam ruangan. Baekhyun datang membawa beberapa kotak makan siang untuk semuanya. “Namna sudah sadar?” tanyanya heran. Seluruh pasang mata langsung tertuju pada sosok itu. Begitu pula Chanyeol dan Namna.

“Baekhyun” pekik Namna dengan gembira.

Baekhyun menaruh barang bawaannya kemudian melangkah mendekati gadis yang paling dia cintai itu. Tatapannya bingung. Keheningan menguar sementara Namna masih tersenyum manis kearah lelaki yang dianggapnya sebagai calon suami.

Baekhyun terkejut begitu kedua lengan Namna melingkari lehernya. “Baekhyun, maaf aku terlambat untuk acara pernikahan kita…”

.

TBC

.

.

.

Fyuh! Gimana gimana? Chanbaeknya kurang sangar gimana disini? Mereka yang di real lifenya nempel kek perangko sengaja Han bikin musuhan disini wkwk

Ini udah pernah Han publish di page Han sendiri Pixie Xoxo yang mau main mungkin? Ntar han suguhin cogan-cogan EXO dah😄

Oh ya, yang udah baca harap kasih komentar. Buat yang ga komen, kalo ntar malem kalian muntah paku… itu karena Han😄 *hajar saya*

Thanks for reading!

Kalo komentarnya ga berbobot, ga bakal dilanjut nih wkwk😀

Selamat berkomen!!!^0^)/

4 responses to “[TRILOGY] “Breakeven” -1st

  1. Yaamploooopp… JLEB sekali itu chanyeol, udah mah gagal nikah, calon iayri amnesia, ehh malah ngaku mau nikah sama sepupu sendiri. Astagaaa… Benar2 kejam nih authornya… Sepertinya namna emang gak cinta sama chanyeol deh, eh tapi gak tau ding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s