[Chapter] Blue Garnet – 1/3

received_m_mid_1420635736278_d652ea6068452f2b03_0

Blue Garnet – [Chapter 1: Meeting] | wineonuna

AU, Action | Short Chapter (3 Chapters) |PG-13

poster by. Indri Art

Cast: Kang Seungyoon – Nam Taehyun

Support Cast: Song Mino, Kim Jinwoo, Lee Seunghoon, Hime (OC)

Desclaimer: Ide cerita bukan berasal dari saya, saya hanya mengembangkannya menjadi sebuah cerita

Author’s Note: was chaerin jingyo >///< 

WARNING!!! Tidak ada Cast POV semua dari sudut pandang orang ketiga jadi hati-hati membacanya karena tidak ada pemberitahuan pemilik scene dalam cerita ini tapi saya berusaha menggambarkan dengan jelas pemilik situasi ini.

don’t be a plagiator ^^

——————————————————-

New York, 2024

“Kau benar-benar tidak mau memikirkannya lagi, Kang?”

Pria itu tersenyum manis dan menyeruput sisa kopinya lalu berdiri dan kembali menyusun beberapa buku dan berkas ke dalam kotak berukuran 60cmx60cmx40cm yang sudah hampir penuh. Namun kemudian ia berhenti pada sebuah pigura yang memajang sebuah foto sepasang suami istri yang tengah menggendong seorang anak laki-laki yang mungkin berusia tiga tahun.

“Aku rindu kampung halamanku, Smith. Seperti kau yang kadang merindukan Oklahoma.”

“Yah… Tapi kau kan bisa sepertiku, kadang mengambil cuti lalu pulang dan tetap bekerja di sini.”

Pria yang bernama Kang Seungyoon –terlihat dari nametag di dada kanannya- itu tak lagi menanggapi ucapan pria berkulit hitam yang memiliki postur tubuh sedikit lebih tinggi darinya dan berseragam seperti dirinya. Smith –si pria yang daritadi berdiri di dekat meja Seungyoon- akhirnya memilih pergi setelah tak bisa menahan Kang untuk tetap tinggal.

Mejanya kini sudah bersih dan hanya menyisakan satu unit komputer dan beberapa berkas di atasnya, Seungyoon memandang kotak yang sudah terisi penuh. Dua belas tahun hidup di New York, menempuh pendidikan di akademi kepolisian kota New York dan mewujudkan cita-citanya menjadi seorang detektif lalu sekarang ia berencana untuk kembali ke Korea Selatan, bukan keputusan yang mudah bagi Seungyoon. Ia harus memutuskan ini setelah memikirkannya setahun terakhir.

Alasan terbesar yang membuatnya mengambil keputusan itu hanyalah karena ia ingin mengungkap kematian kedua orang tuanya tiga tahun yang lalu, Seungyoon tak pernah menerima alasan kematian kedua orang tuanya yang mendadak. Yang ia yakini, kematian kedua orang tuanya adalah pembunuhan berencana.

“Kang… Kau dipanggil Mr. Phill!”

Seungyoon tersentak dari lamunnya, ia meninggalkan kardusnya dan mulai berjalan menuju ruangan mr. Phill atasannya selama ia bertugas di kepolisian kota New York. Seungyoon masuk setelah dari dalam mr. Phill mempersilakannya masuk, ia berdiri dengan sikap sempurna menghadap mr. Phill yang menyambutnya dengan senyuman.

“Kau sudah selesai, Kang?”

“Sudah, pak.”

“Aku sudah menghubungi kepolisian kota Seoul dan berbicara langsung dengan pimpinan disana mr. Kim Bongguk membicarakan tentang kepindahanmu, kata mr. Kim kau bisa masuk kapanpun kau siap.”

“Terima kasih, Pak.”

“Aku sebenarnya tidak begitu rela kau kembali ke Korea Selatan. Aku kehilangan salah satu detektif terbaik yang bisa kuandalkan, tapi yah.. Aku harap, kau bisa segera mengungkap pembunuhan atas orang tuamu.”

“Terima kasih, Pak.”

“Setelah itu, kalau kau ingin kembali ke sini. NYDP masih menerimamu, Kang.”

Setelah mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan ke atasannya mr. Phill. Seungyoon keluar dan kembali ke mejanya. Ia mulai mengangkat kardus miliknya dan berpamitan dengan teman-temannya lalu berjalan keluar menuju parkiran mobil.

Ia sudah berada di dalam mobilnya yang ia laju di jalanan kota New York untuk kembali ke apartemennya. Seungyoon kembali melarutkan pikirannya ke Seoul dan peristiwa tiga tahun yang lalu.

.

.

“Kami turut berduka cita, nak. Orang tuamu adalah orang yang baik.”

Matanya tidak tampak tergenang air mata yang biasa orang tunjukkan ketika mereka merasakan kepiluan, kesedihan yang teramat. Matanya justru menatap kosong dan penuh tanya sekalipun ia selalu membalas bungkukan orang-orang yang mengucapkan belasungkawa untuk kedua orang tuanya.

Bukankah ini tidak wajar?

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Mereka dibunuh?

Apa mereka punya musuh?

Ia hanya bisa melempar tanya dalam hatinya, bagaimana tidak. Empat hari sebelum akhirnya ia kembali dan berdiri dengan setelan hitamnya, ia masih berhubungan bahkan bercanda dengan kedua orang tuanya. Lalu dua hari yang lalu ia mendapat telepon yang mengabarkan kedua orang tuanya meninggal karena keracunan gas.

“Ini musibah, Seungyoon-ah. Kau harus tabah dan tegar.”

Tidak… Ini bukan musibah.

.

.

Seungyoon sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur ukuran queen size miliknya, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna kuning kecoklatan karena terpapar sinar matahari yang mulai turun untuk berganti malam.

Penerbangannya esok pagi dan malam ini menjadi malam terakhirnya di New York.

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

Tokyo, 2024

“Aku menugaskanmu, ketua Taehyun, untuk kembali ke Korea.”

Seorang pria dengan umur berkisar 30 tahun mengangguk mengerti atas perintah pria tua yang duduk di hadapannya dan dikelilingi beberapa pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam. Pria tua itu kemudian melanjutkannya ke pria lain yang ada di sebelahnya.

Setelah pertemuan itu, pria yang bernama Taehyun tadi berjalan menuju mobil yang sudah siap di hadapannya,namun langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya dari belakang.

“Ketua Taehyun… Aku akan mendampingi anda ke Korea besok. Perkenalkan namaku Song Mino.”

Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Song Mino membungkuk di depan Taehyun. Taehyun berbalik dan kembali berjalan menuju mobil yang diikuti oleh Mino. Ia duduk di belakang sementara Mino duduk di kursi depan di samping pengemudi, mereka kembali ke kediaman Taehyun.

“Aku akan kembali ke Korea, paman. Tolong siapkan sebuah rumah di tengah kota Seoul untukku.”

Taehyun memandang keluar, ia melihat gadis kecil sedang berlari mengejar layang-layang yang di halaman rumahnya lalu berhenti dan melambai padanya dengan senyum cerianya. Taehyun membalas lambaian tangan gadis kecil itu dan tersenyum lembut. Matanya memandang teduh gadis kecil itu dan membuatnya melangkahkan kakinya ke pintu dan berdiri di beranda kediamannya.

“Hime…”

Gadis kecil itu berlari menuju Taehyun yang sudah berlutut dan membuka lebar kedua tangannya untuk menyambut gadis kecil itu. tubuhnya terhentak begitu gadis kecil itu memeluknya, Taehyun memeluk lembut gadis kecil yang dipanggilnya Hime dan menggendongnya.

“Daddy…. Aku kangen.”

“Daddy juga…. Hime-chan… Besok kita akan kembali ke Korea, tempat Daddy lahir.”

“Eee? Kenapa kita pindah? Aku senang di sini, Daddy.”

“Daddy sekarang bekerja di Korea. Hime-chan harus ikut daddy, Hime-chan sayang daddy kan?”

“Iya, aku sayang Daddy. Tapi nanti di Korea, aku akan punya teman seperti Hana-chan dan Toru-chan kan?”

“Ya sayang. kau akan memiliki teman seperti mereka.”

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

Seoul, 2024

Pesawat dari New York yang membawa Seungyoon kembali ke Korea sudah mendarat 30 menit yang lalu namun ia masih harus menunggu di dalam bandara karena orang yang dijanjikan menjemputnya belum juga terlihat.

Sementara pesawat dari Tokyo baru saja mendarat, Taehyun dan puteri kecilnya Hime sudah berjalan di koridor yang akan membawanya ke ruang pengambilan koper. Bersama Mino pria yang diperintahkan ikut bersamanya, mereka menunggu koper yang mereka bawa.

“Ketua Taehyun, sebaiknya anda dan nona Hime istirahat di sebelah sana. biar saya yang membawa kopernya nanti lalu kita akan langsung ke hotel untuk istirahat sebelum pindah ke rumah yang disiapkan ketua Watanabe.”

Taehyun mengajak puterinya Hime untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tunggu bandara. Hime yang sangat periang tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu, ia berjalan ke sana-kemari berpindah-pindah melihat pesawat yang berada di luar.

“Hime… Jangan jauh-jauh.”

Setelah memperingati Hime untuk tidak main jauh-jauh, Taehyun membuka ponselnya dan mulai menghubungi Ketua Watanabe memberitahu keberadaannya sekaligus memberitahu perihal tempat tinggalnya selama di Korea.

Di sisi lain, Seungyoon yang sedang menerima panggilan telepon dan hendak berjalan keluar bertabrakan dengan seorang gadis kecil hingga gadis itu terjatuh, bukannya menangis ia justru tertawa membuat Seungyoon berlutut untuk membantunya bangun dan membersihkan gaunnya yang berwarna kuning dengan bunga kecil berwarna peach.

“Kau tidak apa-apa, gadis manis?”

“Tidak apa-apa, paman.”

“Maafkan paman… siapa namamu?”

“Hime…”

Setelah memberitahu namanya, Hime langsung berlari meninggalkan Seungyoon yang hanya melihatnya sambil tersenyum lembut lalu keluar dari ruang tunggu. Dari arah berlawanan, Mino masuk membawa semua kopernya dan menghampiri Taehyun.

“Sebaiknya kita pergi sekarang ketua Taehyun.”

Taehyun memanggil Hime dan mulai menggandeng tangannya, berjalan keluar dari bandara dan memasuki mobil yang sudah dipersiapkan untuk membawa Taehyun dan Hime menuju kediaman baru mereka.

 

========= Blue Garnet ===========

 

Pagi ini Seungyoon bangun lebih cepat atau mungkin ia masih mengalami jetlag yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Ia menghirup udara pagi dari jendela apartemen yang sengaja ia buka, merasakan udara Seoul yang tidak pernah ia rasakan selama ini.

Dari lantai 17, ia memandang lalu lalang kendaraan dari balik kaca apartemennya. Pemandangan yang hampir sama dengan kota New York namun ini adalah kota kelahirannya tentu saja menjadi berbeda baginya. Seungyoon melirik jam yang ada di dinding tepat di atas televisinya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi, ia menghela nafasnya pelan lalu berbalik dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

Seungyoon memakai kemeja putih yang sudah berlapis jas dan celana dasar hitam licin, memandang bayangannya yang terpantul dari cermin yang ada di kamarnya yang membawanya pada kenangan musim semi empat tahun lalu dimana ia pulang ke korea untuk mengunjungi kedua orang tuanya.

.

.

“Kau harusnya pindah ke sini, Yoon. Ayahmu bisa mengurus kepindahanmu ke kepolisian Seoul jika kau mau.”

“Aku suka di New York, bu. Kalian lah yang seharusnya pindah ke sana, aku bisa mengenalkan Emily kepada kalian.”

“Uhuk…. Emily? Kekasihmu yang genit itu?”

Wanita yang sedang memoleskan selai ke roti terkekeh mendengar nada bicara yang terdengar geli dari suaminya. Seungyoon hanya mengerucutkan bibirnya sambil menerima roti yang sudah selesai dioles ibunya.

“Bagaimana aku tidak bilang ia genit. Aku yang sudah tua begini diberikannya ciuman di pipi. Aku bahkan bukan pamannya.”

.

.

Seungyoon masuk ke dalam mobilnya, sesaat membiarkan mobilnya hidup lalu mobilnya melaju keluar dari basement apartemen dan masuk ke jalanan kota Seoul, ia akan menuju kantor kepolisian kota Seoul untuk melaporkan kehadirannya dan mulai bertugas di sana.

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

“Daddy… Bangun…”

Hime menggoyang-goyangkan tubuh Taehyun dengan riang, ia seperti tidak sabar untuk mendapatkan sesuatu di lingkungannya yang baru. Taehyun setengah mengerang, ia masih merasa sedikit pusing karena semalam ia memenuhi undangan kolega yang selama ini menjadi klien Taehyun.

“Daddy… Ayo kita jalan-jalan… Aku mau ke taman…”

Taehyun mengintip puteri kecilnya yang sudah terlihat sangat cantik dengan baju terusan berwarna kuning dengan bunga biru. Wajah riang puterinya selalu berhasil menghapus kekosongan yang ia rasakan di relung hatinya. Tangan kirinya sudah terangkat dan ujung telunjuknya sudah menempel di pipinya, ia menunjuk-nunjuk pipinya untuk menunjukkan keinginannya dicium puteri kecilnya.

-chu~-

Ciuman singkat dari Hime mampu mengembalikan seluruh ruhnya yang terserak, ia sudah benar-benar sadar dan kini, ia sudah duduk di tepi tempat tidurnya. Hime memandang ayahnya yang terlihat berantakan, ia bergegas berlari mengambil sesuatu dari kamar mandi dan menyerahkannya pada Taehyun.

“Mandilah, daddy. Kau lebih jelek dari paman Oh.”

Taehyun tersenyum lembut lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak akan pernah melupakan Aiko, mendiang istrinya karena Hime sangat mirip dengan Aiko. Namun ia juga merasa pilu bila mengingat penyebab kematian Aiko.

Taehyun pikir, jika ia sudah membunuh pembunuh Aiko maka hatinya akan tenang tapi itu salah. sekalipun pembunuh Aiko sudah mati terhunus samurai miliknya tapi itu tak menghilangkan kepiluannya tentang kematian Aiko, wanita yang ia cintai.

“Daddy…. Jangan lama-lama.”

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

“Lapor pak. Saya Kang Seungyoon, siap bertugas di sini.”

Seungyoon berdiri dengan sikap sempurna menghadap atasannya yang bertubuh tambun untuk ukuran pria korea dan berkacamata, atasannya Kim Bongguk –terlihat dari nametagnya- tersenyum hangat pada Seungyoon, ia mengangguk lalu memberi arahan ke Seungyoon untuk duduk di hadapannya.

“Aku sudah melihat resume milikmu, Seungyoon-ssi. kau lulusan terbaik di angkatanmu dan jabatanmu di NYPD sudah termasuk sangat baik, kau bahkan pernah mengambil bagian sebagai detektif di kasus pencurian barang bersejarah di museum besar kota New York. Lalu, apa alasanmu kembali ke Korea dan menerima jabatan sebagai detektif junior di kepolisian Seoul? Terus terang saja, ini agak menggelitik pikiranku.”

Seungyoon paham betul keingintahuan atasan barunya. Ia mengerti seseorang yang sudah memiliki karir di luar yang cukup bagus akan menyisakan pertanyaan bukan hanya dari satu orang tapi hampir semua orang bila ia kembali ke negerinya dan memiliki jabatan yang tidak sebaik saat ia berkarir di luar negeri. Seungyoon tersenyum.

“Alasan yang klise, pak. Home sweet home.”

Kepala Kim Bongguk mengangguk dan mengerti, ia berdiri dan mengulurkan tangannya ke Seungyoon yang langsung Seungyoon sambut. Kepala Kim memberi ucapan selamat datang kepada Seungyoon dan mulai mengantarnya keluar menemui beberapa staff yang kebetulan sedang ada di kantor.

Setelah perkenalan, Seungyoon menempati meja yang berada di dekat pintu masuk ruang office, menata mejanya dengan buku-buku yang ia keluarkan dari kardus yang ia bawa tadi. Terdengar suara berisik yang menuju ke arah dalam.

-Braak-

“Hahaha… Kau yang terbaik, Jinwoo hyung.”

“Eh… Petugas baru… jangan-jangan…”

Seungyoon berdiri dan memberi salam kepada kedua orang yang berpakaian dinas kepolisian kota Seoul. Kedua orang itu balas membungkuk dan menunjukkan wajah bingungnya.

“Kang Seungyoon, junior detektif kepolisian kota Seoul.”

“WWOOOAAAHHHH….”

“KANG SEUNGYOON….”

Kedua orang itu bersuara sangat besar hingga petugas lainnya mengarahkan mata ke mereka bertiga, hanya Seungyoon yang merasa tidak enak dengan petugas yang lain. sementara kedua orang yang tampak bodoh itu tidak peduli, mereka justru saling sikut dan tersenyum aneh ke Seungyoon.

“Aku Kim Jinwoo, dari bagian umum. Dia Lee Seunghoon, dari bagian kriminal. Kau sudah makan? Sepertinya ini sudah masuk jam makan siang.”

“Ah… Terimakasih, tapi aku akan ke ruang arsip. Sampai jumpa, senang bertemu anda.”

Seungyoon membungkuk dan berjalan keluar dari ruangan itu, ia tidak terlalu memikirkan dua orang aneh yang baru saja ia temui. Berjalan lurus sambil melihat papan yang menempel di bagian atas pintu, ia sedang mencari ruang arsip untuk mencari sesuatu yang ia sendiri belum yakin akan ada atau tidak di sana.

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

“Nah Hime-chan, kita sudah tiba. Ini restoran jepang terbaik di Seoul.”

Taehyun menggandeng tangan puterinya masuk ke dalam restoran. Kacamata hitamnya semakin menambah kesan arogan yang terpancar dari dirinya. Mereka tidak masuk berdua, Song Mino mengekor di belakang dengan mata yang menyisir isi restoran.

“Duduklah, Mino-san. Nikmatilah makan siangmu dengan kami… Hime-chan, kau mau makan apa sayang?”

Mino duduk di hadapan Taehyun yang sedang membantu Hime memilihkan menu bento dalam berbagai bentuk. Tangan kanan Mino memainkan sesuatu sebesar sebuah kelereng berkilauan berwarna biru terang, sesekali ia melirik ke arah tangannya lalu kembali memandang sekeliling restoran.

“Ada apa, Mino-san? Sepertinya ada yang mengganggumu.”

Taehyun masih sibuk dengan Hime dan hanya melirik sesaat ke Mino yang menegang begitu ia tegur. Setelah mencatatkan pesanannya ke pelayan restoran, Taehyun memberikan Hime sebuah notepad untuk menyibukkan dirinya sementara Taehyun akan mengorek informasi yang sedang Mino tahan darinya.

“Kau tidak mau cerita karena ada Hime?…. Hime-chan, pergilah ke meja paman Oh.. Kau harus menunjukkan lukisanmu padanya.”

Hime yang sudah menyelesaikan gambarannya di notepad mengangguk dan mulai berlari menuju dua meja di belakang mereka. Wajah teduh Taehyun berganti dengan wajah dingin menatap Mino dengan air muka seriusnya. Tangan kanan Mino perlahan diletakkannya di atas meja, genggamannya terbuka dan menunjukkan sebuah permata berwarna biru yang sangat indah ke depan wajah Taehyun.

“Blue Garnet..”

“Iya, ketua Taehyun. Ini adalah Blue Garnet, permata langka yang jadi incaran banyak kolektor batu berharga di dunia. Saya mendapatkan ini dari sebuah keluarga di korea, ketua Watanabe ingin anda memegang permata ini sampai minggu depan dan langsung menyerahkannya ke tuan Freddy.”

“Freddy?”

“Benar, tuan Freddy berhasil membeli permata ini dengan harga 10 kali lipat dari penawaran yang tuan Watanabe berikan bulan lalu. anda akan menyerahkannya pada pesta dansa yang diadakan duta besar Perancis minggu depan.”

Taehyun mengambil batu permata itu dari tangan Mino dan memandangnya dengan sangat lekat. Sebelumnya akhirnya ia segera menyimpannya ke dalam saku jas karena Hime sudah kembali dan pelayan restoran mengantarkan pesanannya.

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

Setelah tiga jam berada dalam ruang arsip, Seungyoon keluar dan kembali ke ruangannya. Ia tidak menemukan sesuatu yang berarti untuk memecahkan penyebab kematian kedua orangtuanya yang ia yakini sebagai kasus pembunuhan berencana. Ia menghela nafasnya dengan pelan.

Dua orang yang tadi memperkenalkan diri di hadapannya muncul kembali, mereka terlihat seperti orang kembar siam yang tidak memiliki pekerjaan. Seungyoon sudah pernah menghadapi orang macam mereka di New York, mungkin ia lupa berdoa kepada Tuhan agar Tuhan tidak mengirimkan orang seperti Ted dan Carol selama ia tinggal di Korea.

“Seungyoon-ssi. sepulang kerja nanti, kami akan pergi ke noraebang. Kau mau ikut?”

“Maaf mungkin lain kali.”

“Kau ada janji?”

“Tidak, tapi aku masih jetlag.”

Jetlag?… Ya, Kim jinwoo, kau tahu apa itu jetlag?”

“Tidak… Apa itu semacam nama makanan?”

Seungyoon tidak memedulikan kedua orang itu dan mulai membuka berkas yang tersedia di atas mejanya, ia benar-benar berharap kedua orang itu menerima banyak sekali tugas dan sangat sibuk daripada hanya berdebat tanpa arti seperti orang bodoh di dekat mejanya.

Ia membaca setiap baris berkas yang ada di tangannya, mulai memahami kasus yang tertuang di sana. Seungyoon merasa kasus kejahatan di Seoul tidak jauh berbeda dengan kasus kejahatan di New York hanya saja para criminal di Seoul tidak sepintar criminal di New York, mereka masih meninggalkan jejak-jejak yang bisa terbaca oleh detektif. Namun ia merasa detektif di sini bekerja sangat lamban, dari laporan yang ia baca, seharusnya untuk kasus pembunuhan ibu rumah tangga dimana pembunuhnya adalah tetangganya sendiri bisa dipecahkan paling lama satu minggu karena pembunuhnya meninggalkan jejak yang jelas sebilah pisau dengan inisial. Tapi detektif di sini menyelesaikannya dalam waktu dua minggu, satu minggu lebih lama dari prediksi terlamanya.

Karena ini hari pertamanya, sebenarnya Seungyoon tidak harus selalu berada di kantor tapi ia memilih untuk terus berada di kantor karena ia belum terlalu mengenal kota Seoul. Tentu saja ia sampai di kantor karena GPS yang membimbingnya.

“detektif Kang…”

Seungyoon langsung berdiri mendengar namanya disebut, ia berbalik dan menemukan atasannya berdiri di belakangnya. Kontan Seungyoon langsung membungkuk memberi salam pada pria tambun yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari bahu Seungyoon.

“Kenapa kau masih ada di sini? Harusnya kau pulang saja, kau pasti masih jetlag.”

“Sebentar lagi, pak. Saya masih membaca beberapa kasus terakhir yang ditangai kepolisian Seoul.”

“Besok saja, kau pulang saja sekarang. Ayo keluar bersamaku.”

Seungyoon membungkuk dan berjalan selangkah di belakang kepala Kim. setelah berpisah dengan kepala Kim, Seungyoon masuk ke dalam mobilnya dan memikirkan apa yang ia lakukan setelah ini. tentu saja ia tak tahu karena tadinya ia berencana pulang jam 8 malam dan langsung tidur. Tapi ia keluar dua jam lebih cepat dari perkiraannya, rasa kantuk pun ia tak rasakan saat ini.

 

========= Blue Garnet ===========

 

Taehyun masuk ke dalam sebuah café, kali ini tanpa Hime dan hanya ditemani Mino. Mereka akan menemui seorang klien di sana. pelayan datang membawa pesanan mereka, secangkir hot Americano dan green tea lengkap dengan sepiring cheese cake.

“Tuan Nam Taehyun…”

“Tuan Yun Daemin..?”

“Benar… Maaf, saya tidak bisa lama-lama karena saya harus segera ke bandara. Ini adalah…..…”

Bunyi ring pintu yang terbuka, Seungyoon masuk ke dalam dan langsung menuju meja kasir untuk memesan ice Americano dengan triple shot, sambil menunggu pesanannya ia duduk di salah satu meja terdekat yang masih kosong. Ia melihat sekeliling café lalu kembali fokus pada alarm pesanan miliknya.

“Terimakasih tuan Nam. Semoga anda bisa menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu.”

Yun Daemin, klien dari Taehyun bersalaman dan langsung meninggalkan mereka di sini. Taehyun kembali duduk sambil melihat isi amplop yang ia pegang, membaca yang tertulis di sana lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop dan menyerahkannya ke Mino. Keduanya beranjak pergi dari meja di café, Taehyun berjalan keluar sementara Mino berjalan menuju meja kasir.

Alarm Seungyoon berbunyi menandakan kopi yang ia pesan sudah ada. ia berjalan menuju meja kasir untuk mengambil pesanannya ice Americano, setelah memegang pesanannya, Seungyoon berbalik namun tubuhnya bertabrakan dengan seseorang hingga menggoyangkan keseimbangan tubuhnya.

“Maaf..”

“Maaf.”

Setelah saling mengucapkan maaf, Seungyoon berjalan lurus keluar café. Mino yang tadi bertabrakan tiba di meja kasir lalu membayar pesanan mereka tadi dan keluar menyusul Taehyun yang sudah menunggunya di dalam mobil.

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

“Daddy… Aku mau makan es krim!”

Taehyun mengintip puterinya dari balik Koran, ia melihat puteri kecilnya sedang melahap sereal kesukaannya dengan lahap. Tersenyum lembut dan kembali membaca Koran. Hime yang merasa ayahnya tidak menggubris permintaannya mulai turun dari kursi dan berjalan mendekat ke Taehyun.

“Daddy… Mau berkencan denganku kan hari ini?”

Suara yang renyah khas anak-anak menghilang ketika ia berusaha menggoda Taehyun dengan menyandarkan kepalanya di pundah Taehyun. Taehyun seperti seorang pria muda yang sedang jatuh cinta, hatinya meleleh mendengar ajakan kencan dari puterinya. Taehyun melipat korannya dan menatap lembut Hime.

“Tentu saja, Hime-chan. Jika itu tentang dirimu, daddy tidak pernah bisa menolaknya.”

Hime mendaratkan pelukannya ke Taehyun, ia baru berusia tujuh tahun tapi terkadang Taehyun merasa puterinya sudah sangat dewasa. sikap Hime yang seperti itulah yang membuat ia bertahan pada kesendiriannya, Hime pun tidak menunjukkan sikap bahwa ia ingin seorang ibu.

“Aku sayang Daddy.”

“Daddy lebih menyayangimu.”

 

 

========= Blue Garnet ===========

 

 

Ini weekend dan Seungyoon ingin menghabiskan seluruh waktunya di rumah dengan mempelajari semua berkas yang kemarin ia bawa pulang, namun akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke supermarket karena isi kulkasnya mulai menipis.

Setelah mandi dan berpakaian, Seungyoon keluar dari apartemennya dan membawa mobilnya melaju ke sebuah supermarket yang jaraknya hanya 45 menit dari rumahnya. dari kejauhan, pusat perbelanjaan yang akan Seungyoon kunjungi sudah terlihat.

Seungyoon memposisikan mobilnya di samping sebuah sedan hitam yang terlihat luxury karena mobilnya tampak biasa saja. Ia turun dan mulai berjalan masuk ke dalam, layaknya pusat perbelanjaan. Keadaan yang ramai dan beberapa tempat terlihat crowded sudah menjadi pemandangan umum, terlebih pasangan muda-mudi yang bergandengan tangan atau saling merangkul. Ia tidak merasa iri karena Seungyoon hanya tersenyum melihatnya.

Supermarket yang ia tuju sudah terlihat, langkah kakinya semakin cepat dan tiba-tiba saja tubuh Seungyoon menabrak sesuatu, ia melihat ke bawah dan mendapati seorang gadis kecil terduduk di dekatnya.

“Ah…. Kau tidak apa-apa?”

Gadis kecil itu berdiri, ia tersenyum dan membungkuk ke Seungyoon. Seorang pria mendekat ke mereka, pria itu membantu gadis kecil itu membersihkan dress yang ia kenakan.

“Maaf, tuan. Aku tidak sengaja menabrak puteri anda.”

“Maafkan puteriku juga……… Kang Seung—yoon??”

Seungyoon terkejut melihat pria yang berdiri di hadapannya. Ia menegang begitu pula pria itu, perlahan ia menarik mundur puterinya masuk ke dalam dekapannya. Kedua iris hazel mereka bertemu, pandangan yang awalnya lembut perlahan berganti dengan tatapan membunuh.

“Ayo Hime… Kita pergi.”

Pria yang ternyata adalah Taehyun sedikit menarik Hime agar puterinya mengikuti langkahnya dan menjauh dari Seungyoon. Mino yang daritadi memperhatikan gerak-gerik Taehyun dan puterinya dari jauh mulai menerka sosok Seungyoon, ia merasa pernah melihat Seungyoon sebelumnya namun tak begitu yakin ia mengenal Seungyoon.

 

-to be continued-

2 responses to “[Chapter] Blue Garnet – 1/3

  1. Pingback: [Chapter] Blue Garnet – 2/3 | FFindo·

  2. Pingback: [Chapter] Blue Garnet – 3/3 (END) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s