Broke Up – Ficlet by Raditri Park

Broke Up_Diffuse Glow

BROKE UP
Raditri Park
Kim Jongin [EXO] & Park Nira [OC]
Romance, angst
Teenage
Ficlet
.
.

Di saat seperti ini aku merasa menjadi wanita paling menyedihkan di dunia.
Bagaimana kau bisa tetap mencintai orang yang bahkan sudah tidak memikirkanmu lagi? Mencampakkanmu dan bersikap seperti hari kemarin yang pernah dilalui bersama hanyalah bayangan semu.

Aku baru saja putus dengan Kim Jongin. Secara sepihak, karena aku tidak pernah menginginkannya. Aku masih menganggap Kim Jongin adalah kekasihku. Dan biarkan aku tetap berpikir seperti ini.

Dia bilang dia tidak memiliki alasan kenapa memutuskanku. Hanya kata ‘bosan’ dengan menunjukkan wajah datarnya saat aku bertanya alasannya. Bahkan saat mengatakannya ia tidak pernah memandangku, lebih terkesan tidak menginginkan untuk membahasnya lagi.

Bahkan hingga kudesakpun ia tetap sama. Justru aku menyesal. Aku hampir menangis saat kulihat tatapannya tidak ada kebohongan sedikitpun. Dengan tegas dia bilang, “Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Park Nira. Kumohon, jangan menemuiku lagi.”

Lalu ia pergi setelah mengatakannya. Tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Dan aku diam menahan sakitnya di tenggorokanku yang semakin lama semakin mencekik. Hanya bisa menatap punggung lebarnya yang menjauh. Tanpa sadar linangan air mata jatuh tanpa kuminta dan segera kuhapus cepat-cepat.

Aku menahannya dengan menarik napas dalam dan menghembuskannya setenang mungkin. Mungkin saja Kim Jongin hanya bercanda. Bisa saja ia berniat memberiku kejutan ulang tahun. Tapi… sayangnya ulang tahunku sudah lewat satu bulan yang lalu. Dan aku masih ingat saat itu ia bilang ia mencintaiku, hanya aku satu-satunya yang dimilikinya.

Atau… mungkin Jongin sedang memiliki masalah dan terlalu frustasi hingga bisa berkata seperti itu. Tapi Jongin tidak pernah memiliki masalah apapun dengan orang lain, dia selalu cerita jika ada masalah.

Atau jangan-jangan… sumpah demi apapun aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Bahkan untuk memikirkannya saja aku tidak mau. Aku bahkan menganggap kata selingkuh menghilang dari segala kamus di dunia ini. Aku tidak mau membayangkan jika hal itu benar terjadi di hubunganku. Aku tidak mau.

Aku tidak pernah mau membayangkan Kim Jongin memiliki kekasih di belakangku. Karena itu sama saja seperti seseorang memberiku racun dalam takaran standar di setiap minuman rutinku dengan sepengatahuanku. Akan terasa sakit baik fisik maupun bathin, secara perlahan dan berakibat buruk di akhirnya.

Dan aku harus rela menelan kenyataan pahit itu bulat-bulat karena apa yang kutakutkan selama ini terjadi juga. Demi Tuhan, aku ingin menangis untuk diriku sendiri.

Aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri. Kupikir mereka berbohong, mengatakan padaku kalau Jongin memiliki kekasih bahkan sebulan sebelum Jongin memutuskanku. Kupikir itu hanya desas desus omong kosong yang tidak bermutu. Tapi malam ini aku harus mengakui pernyataan mereka.

“Sungguh?” Aku mengenal betul suaranya, jadi aku menoleh. Dan aku melihat mereka berdiri disana.

Malam ini membosankan, aku memutuskan pergi menghirup udara malam. Tidak kusangka malam ini begitu dingin dari sebelumnya dan aku mampir ke sebuah swalayan besar untuk membeli segelas coklat panas. Tapi apa yang kutemukan membuat semua seleraku menghilang. Dan yang semula udara terasa dingin berubah suhu menjadi panas bak di kelilingi api bara.

“Ya, aku menyukainya.” Aku mendengar nada manja itu dan Jongin tersenyum untuknya.

“Kalau begitu kau bisa ambil sesukamu.”

Gadis itu tersenyum bahagia. “Benarkah?” Senyumnya begitu cantik sampai-sampai membuatku iri.

Aku tidak mendengar lagi pembicaraan mereka, tapi aku melihat Jongin pergi meninggalkanya sendiri. Dan gadis itu melanjutkan kegiatannya memilah-milah baju di deretan sana.

Entah kenapa aku selalu memperhatikan gadis itu. Kepalaku dipenuhi pertanyaan tidak penting dan sialnya membuatku penasaran. Siapa gadis itu? Apa dia yang dibicarakan teman-temanku?

Perhatianku tidak bisa lepas darinya. Terus memperhatikan dari ujung rambut hingga kaki. Mengira-ngira apa yang membuat Jongin menyukainya. Apa rambut lurusnya yang panjang hitam legam? Apa matanya yang kecil? Hidung mancungnya? Bibirnya yang semerah delima? Wajahnya yang secantik Putri Korea? Apa kulit putih pucatnya yang bersih? Mungkin tubuhnya yang tinggi, atau juga bentuk tubuhnya yang indah? Ataukah kaki mulusnya yang jenjang? Sungguh! Aku tidak menyangka akan iri hanya dengan melihatnya. Kenapa Jongin lebih memilihnya?

Kurasa aku harus menemuinya dan mengatakan apa yang dilakukannya bersama Jongin kekasihku. Tapi tololnya aku berhenti sebelum bertindak. Aku melihat Jongin dari kejauhan datang kemari–tidak! Dia datang untuk gadis ini. Dan itu menyakitkan melebihi apapun.
Bodohnya aku lebih memilih mundur dan menjauh karena jika aku melakukannya aku akan tampak lebih bodoh dan memalukan. Aku tidak akan bisa menahan air mataku keluar.

Pengecut! Sekalipun menjauh perhatianku tidak bisa lepas dari eksistensi mereka. Aku melihat Jongin tersenyum jenaka setelah menunjukkan apa yang ia sembunyikan di balik punggung. Dua buah Ice Cream Cone. Gadis itu menerimanya dengan bahagia dan mereka makan Ice Cream bersama.

Rasanya aku ingin menyerah. Ini sama saja seperti aku membiarkan sebuah tangan asing meremas-remas hatiku. Nyeri dan ngilu. Aku benar-benar tidak bisa menahannya.

Sialnya tubuhku tidak menuruti kata hatiku. Seolah menyiksa diri, aku terus mematung dalam jarak pandang cukup jelas. Mereka tidak canggung melakukannya bahkan tidak segan-segan mengumbar kemesraan secara serakah. Memamerkan keromatisan seakan-akan hanya mereka yang bisa melakukannya.

Dengan bodohnya aku melangkah mendekati mereka. Berhenti dengan mengambil jarak tertutupi etalase-etalase tinggi penuh boneka. Hingga aku bisa mendengar Jongin menyebutkan nama gadis itu. Soo Jung. Ya, nama yang cantik. Jongin tidak salah pilih mencari penggantiku.

Melihat mereka saling mencumbu. Saling berbisik di antara cuping. Lalu gadis itu tersenyum seolah baru saja mendengar pujian terindah yang pernah diucap. Jongin pun turut tersenyum. Dan senyum itu untuk gadis lain. Punggungku terasa panas. Jujur, aku benar-benar iri. Di saat tangan kekar itu menyentuh pinggir mulutnya. Dengan tawa renyah bak dunia milik mereka. Lalu dengan kilat Jongin mengecup singkat pinggir bibirnya.
Aku merasakan detak jantungku berhenti sesaat. Tawa mereka menjadi senyuman getir bagiku. Kurasa aku harus benar-benar melepasnya. Jongin sudah menemukan hal yang membuatnya lebih nyaman. Tapi, demi apapun aku tidak pernah rela. Sebelum tangis memalukan jatuh, kupejamkan mataku sesaat menahan emosi. Menahan segala emosi negatif.

Dengan pertahanan yang tersisa, aku membiarkan Jongin melakukan hal itu pada gadis lain. Aku tidak menyangka ia akan setega ini. Aku tidak tahu seperti apa keadaanku sekarang. Terasa kacau dan menyesekkan. Dunia serasa mengkhianatiku habis-habisan.

Seperti baru saja memikul beban berat, aku memutar tubuh dengan sisa tenaga yang kupunya. Terasa lemas dan tidak bersemangat. Mati-matian kutahan lesakkan air mata yang memaksa keluar. Lalu aku mendongak dan menemukan ekspresi yang sama, kurasa.

Dari arah jarum jam 12, dengan jarak kurang dari dua meter, aku melihat seorang pemuda yang menatapku. Aku tidak mengenalnya, tapi aku cukup tahu ekspresinya. Pria tinggi berkulit putih pucat itu semula tampak tidak bersemangat. Menunjukkan raut kecewa yang mendalam dan amarah yang tertahan. Bahkan aku melihat cahaya matanya yang tampak menyedihkan. Tapi begitu kutemukan mata itu, seakan berbicara dengan cukup jelas, kurasa kami baru saja mengalami kejadian serupa. Karena tanpa sengaja, aku melihat pasangan mesra di belakang tubuhnya.

Tanpa kusadari, pria itu tersenyum kecil. Dan entah dorongan darimana, meski hati ini masih terasa nyeri, bibirku terangkat dengan sendirinya. Membentuk senyum kecil menyambutnya.

Well, kebetulan sekali. Tidak tahu kenapa beban sakit ini terasa berkurang karenanya.

End!
031115

wanna get more my fanfic, you could go on this site Raditri Park :3

5 responses to “Broke Up – Ficlet by Raditri Park

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s