[Chapter] Blue Garnet – 2/3

received_m_mid_1420635736278_d652ea6068452f2b03_0

Blue Garnet – [Chapter 2: Meeting-2] | wineonuna

AU, Action | Short Chapter (3 Chapters) |PG-13

poster by. Indri Art

Cast: Kang Seungyoon – Nam Taehyun

Support Cast: Song Mino, Kim Jinwoo, Lee Seunghoon, Hime (OC)

Desclaimer: Ide cerita bukan berasal dari saya, saya hanya mengembangkannya menjadi sebuah cerita

Author’s Note: was chaerin jingyo >///< 

WARNING!!! Tidak ada Cast POV semua dari sudut pandang orang ketiga jadi hati-hati membacanya karena tidak ada pemberitahuan pemilik scene dalam cerita ini tapi saya berusaha menggambarkan dengan jelas pemilik situasi ini.

don’t be a plagiator ^^

prev: chapter 1 |

——————————————————-

Hari ini Seungyoon kembali ke ruang arsip, ia kembali mencari sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan pencariannya. Tapi ini berbeda, dengan setengah hati bahkan cenderung tidak mau, Seungyoon membiarkan Jinwoo dan Seunghoon membantunya atau lebih tepatnya membuat keributan di sekitarnya.

“Catatan kematian tiga tahun lalu bulan oktober.”

“Baiklah…”

“Tapi, Seungyoon-ssi… Kenapa kau tidak mulai dengan mencarinya di TKP lebih dulu?”

“Kau ini bodoh sekali, hyung. itu sudah tiga tahun yang lalu. TKP mana mungkin masih menyisakan tanda.”

Seungyoon menghentikan membaca berkas. Pikirannya mencerna ucapan Jinwoo berkali-kali. TKP….. Apa TKP masih menyisakan tanda… Apa TKP memiliki bukti yang tersembunyi… Apakah TKP bisa membantunya mengungkap kejadian yang sesungguhnya?

Seungyoon bergegas berdiri dan berjalan terburu-buru, ia bahkan tidak menghiraukan panggilan dari kedua teman yang rela membantunya. Seungyoon segera menyalakan mobilnya dan mengendarainya masuk ke jalan raya, kali ini ia tahu kemana mobilnya harus melaju.

Isinya kepalanya terus berputar mencari kemungkinan yang bisa saja terjadi, bagaimana bila ternyata ini memang kematian yang wajar atau siapa yang membunuh kedua orangtuanya… apa modus tersangka? Tidak ada barang yang hilang, semua utuh termasuk berangkas ayahnya yang ada di balik lukisan, tidak bergeser sedikit pun.

“Apakah rumah keluarga Kang sudah terjual?”

“Aku akan ke sana, tolong tunggu saya di sana. Terima kasih.”

Seungyoon mempercepat laju mobilnya namun tiba-tiba bunyi ponselnya menyeruak membuatnya harus mengurangi kecepatan, ia menyambungkan ponselnya dengan handsfree yang menempel di telinga kirinya.

“Ya?”

“Baiklah… Aku segera ke sana.”

Sial bagi Seungyoon, ia harus membatalkan rencananya dan putar arah menuju ke lokasi yang disebutkan penelepon tadi. Suasana hatinya sudah berantakan, ia menghela nafasnya dengan panjang.

30 menit kemudian, Seungyoon sudah tiba. Ia terlihat kaget dengan apa yang dilihatnya. Sebuah mobil sedan hitam luxury yang kemarin ia lihat. Seungyoon melangkah dengan cepat menembus kerumunan dan mencari petugas untuk mengetahui kejadian di sini.

“Siapa korbannya?”

“Tuan Ahn Soekjin, 54 tahun, pengusaha kasino di Incheon. Mati dengan 3 tusukan, satu di dada, dua di perut. Perkiraan kematiannya sudah 12 jam.”

“Rekaman cctv parkiran ini?”

“Mati, pak. Saat kejadian, cctv di sekitar parkiran sini tidak menyala.”

Seungyoon meraih catatan TKP dari petugas, ia mendatangi mobil dan melihat isi dalamnya. Mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku jasnya dan mulai menelisik ke dalam mobil dari sisi yang berlawanan dengan tempat duduk korban.

“Dimana mayatnya?”

“Sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk autopsy.”

“Keluarga korban?”

“Dalam perjalanan ke sana juga, Pak.”

“Pindahkan mobilnya ke kantor dan bersihkan TKP dari sisa darah yang menetes. Jangan kaburkan semua yang ada di dalam mobil ini. Catatanmu…. Aku bawa.”

Seungyoon meninggalkan lokasi dan bergegas ke rumah sakit dengan mobilnya.

========= Blue Garnet ===========

~~ Breaking news. Pengusaha kasino Gok2 ditemukan tewas dalam mobil tadi pagi pukul 9…..

“Tuan Yun, pesaing anda sudah tidak ada lagi.”

Seringai dingin yang mampu membuat mental lawan bicaranya menciut baru saja ia keluarkan usai menghubungi kliennya. Pria itu berdiri dan mengambil jasnya lalu pergi dari rumah itu. ia memasuki mobilnya.

“Kita ke gudang X.”

Laju mobilnya mulai terlihat, ia sendirian di dalam mobil lalu melihat pesan yang tadi ia terima.

= Kau harus menanganinya sendiri. =

Matanya sesaat melihat jajaran toko dan café yang ia lewati, lalu ia mengalihkan pandangannya ke sisi tempat duduknya yang kosong dan hanya ada koper di atasnya. Perlahan ia mengangkat koper itu dan memposisikannya di atas kedua pahanya, koper itu terbuka dan isinya terlihat.

Ia mengambil sarung tangan dan memakainya lalu mulai mengambil barang kecil yang ia lihat, menimangnya lalu menaruhnya kembali jika ia tak terlalu suka. Tanpa ia sadari, mobil yang ia naiki sudah berhenti di halaman sebuah gudang.

Ia membuka jas dan menggantinya dengan leather jacket. Menyelipkan sebuah benda di saku jaketnya dan turun, berjalan dengan angkuh memasuki gudang itu. suasana di dalam tidak terlalu gelap karena hari yang semakin siang namun tetap sepi karena gudang ini sama sekali tidak terpakai.

“Ketua Taehyun… Anda sudah datang.”

Taehyun mendekati anak buahnya yang sudah lebih dulu tiba di sana, ia juga melihat seseorang sedang duduk dan terikat pada sebuah kursi dengan kepala yang tertutup kain berwarna hitam. Wajahnya yang selalu terlihat menenangkan jika bersama Hime tidak terlihat saat ini, wajahnya justru terlihat dingin seolah sedang mengumpulkan amarahnya.

-sreeett-

Taehyun membuka penutup kepala orang itu, wajah orang itu sudah lebih dulu terluka. Mulutnya tertutup dengan lakban hitam. Rambutnya berantakan dan baju kemejanya berwarna putih sudah tak lagi putih, ada beberapa noda bekas darah yang menempel. Nafasnya pun terengah dan bergetar.

“Park Yoonjae… Kau tahu kenapa kau berada di sini?”

“Kau tahu apa yang kau lakukan sangat salah….”

Taehyun mengangkat dagu pria yang bernama Yoonjae agar ia bisa melihat dengan jelas wajah pria yang akan dihajarnya. Pria itu tak lagi memiliki tenaga untuk melawan, Taehyun membuka penutup mulut Yoonjae dan dengan cepat pria itu meludah ke Taehyun.

“Taik kau, Taehyun. Ketua Watanabe sangat salah memilihmu menjadi pemimpin kelompok Yakuza miliknya di Korea. Kau Cuma pria lemah tidak ada gunanya..”

-BUUGGHH-

Taehyun melayangkan pukulannya ke wajah pria itu hingga darah segar menetes dari ujung bibirnya. Ia terlihat sangat marah dengan Yoonjae, tanpa menunggu pria itu siap menerima pukulannya yang bertubi. Taehyun kembali memukul pria itu hingga tubuhnya terjatuh bersama kursi yang terikat dengannya.

“Haaahh…. Haaah…. Buka pengikat tubuhnya, Mino-san. Biarkan dia bertarung denganku.”

Mino membuka tali yang mengikat tubuh pria itu dan membantunya berdiri untuk bisa melawan Taehyun. Seringai mengejek muncul dari wajah Yoonjae.

“Kau salah melepasku, Nam Taehyun.”

Pria bertubuh proporsional itu mulai maju untuk menghajar Taehyun, entah darimana tenaga yang ia punya, semua kekuatannya sudah bertumpu pada kepalan tangan yang ia arahkan ke Taehyun. Yoonjae menghantamkan pukulannya ke Taehyun namun Taehyun berhasil menghindar dan membuat Yoonjae tersungkur.

Taehyun tak melewatkan kesempatan ini, ia segera menarik baju pria itu dan mulai memukulnya yang membuat pria itu terjatuh. Kembali mengulanginya lagi hingga nafasnya kini terdengar kasar. Pria yang daritadi ia pukuli sudah benar-benar kehilangan tenaganya. Darahnya menetes dari pelipis dan bibir miliknya yang sudah robek. Wajahnya sudah lebam karena pukulan Taehyun.

“Selamat tinggal, Park Yoonjae!!!”

-Sreett-

Taehyun menusukkan pisau ke perut Yoonjae. Sebuah pisau kecil yang ia simpan di dalam saku leather jacket-nya berada dalam genggamannya yang ia hunuskan ke tubuh Yoonjae. Lalu Taehyun mendorong tubuh pria itu hingga ia terjatuh dan meringkuk. Evil smirk-nya kembali ia perlihatkan. Iris hazelnya tak lepas dari pria yang tengah meregang nyawa di hadapannya, ia begitu menikmati pemandangan itu dan baru mengalihkan pandangannya ketika pria itu sudah tidak bergerak.

“Bereskan tempat ini, jangan tinggalkan jejak.”

Taehyun melepas sarung tangan dan menyerahkannya kepada Mino lalu pergi meninggalkan tempat itu seperti tidak terjadi apa-apa ia masuk ke dalam mobil lalu kembali ke rumah.

========= Blue Garnet ===========

“Ketua Watanabe sudah mendapatkan foto kematian Yoonjae, beliau senang karena anda tidak melupakan keahlian anda. Dan lagi, beliau juga mengingatkan agar anda menyerahkan permata blue garnet itu tiga hari lagi di pesta dansa kedutaan Perancis.”

Mino menemui Taehyun yang tengah menyesap kopi di ruang kerjanya. Sebelah tangannya menggenggam permata blue garnet. Tapi pikirannya tidak pada benda yang sedang dibicarakan oleh Mino, pikirannya justru kembali di hari ia bertemu dengan Kang Seungyoon.

Sementara itu, Kang Seungyoon keluar dari kantornya dengan wajah yang lusuh. Ia masih belum menemukan sesuatu yang bisa menghubungkan kematian Ahn Soekjin dengan pembunuhnya. Seungyoon berjalan menuju mobilnya, pikirannya masih tertinggal di kasus kematian bos besar sebuah kasino tapi kemudian ia ingat tentang rumahnya.

Ia membawa mobilnya masuk ke jalanan kota Seoul, ia tidak punya waktu lagi jika harus menunda urusan pribadinya lagi karena kasus yang sedang ditanganinya akan menyedot semua perhatiannya. Perjalanan 45 menit sudah membawanya ke sebuah rumah yang gelap gulita tanpa penerangan. Rumah yang terlihat usang dan tidak terpakai lagi.

Rumah ini menjadi saksi bisu kematian orang tuanya. Seungyoon memasuki halaman rumahnya, rumput tumbuh tinggi dan tidak terurus. Kenangan-kenangan masa lalu bersama kedua orang tuanya bermunculan dan ini membuat Seungyoon lebih emosional, ia menahan semua perasaannya untuk bisa fokus pada tujuannya.

Pintu utama terbuka, tidak ada yang berubah atau bergeser. Semua furniture di ruang tamu masih sama dan tidak berkurang. Ia tidak pernah kembali setelah kematian orang tuanya dan ini adalah kunjungan pertamanya setelah tiga tahun berlalu. Ia berjalan menuju sakelar listrik untuk menghidupkan listrik di rumahnya.

Kini rumah yang gelap itu sudah kembali terang, Seungyoon masih bisa melihat dengan jelas kejadian-kejadian yang mereka lewati bertiga. Ia mulai membuka pintu kamar tidur orang tuanya. Ia memulai penyelidikannya. Pertama ia ke meja kerja ayahnya yang berada di ujung ruangan. Ia mulai membuka laci kecil di sisi meja kerja ayahnya, mengeluarkan semua berkas dan barang yang ada di dalamnya. Mencoba mencari petunjuk yang mungkin berguna namun tidak ada yang mencurigakan, Seungyoon beralih ke laci selanjutnya.

Di dalam laci kedua, ia kembali tidak menemukan sesuatu yang bisa jadi petunjuk. Seungyoon menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerja ayahnya. Kenangan bersama kedua orang tuanya kembali muncul satu persatu. Dari ujung matanya mengalir liquid bening tapi Seungyoon tidak mau larut dalam kesedihannya. Ia beranjak keluar dari kamar itu dan beralih menuju kamar tidurnya.

Ia tidak yakin kamarnya menyimpan sebuah petunjuk yang berharga jadi ia hanya ingin melihat kamar yang hanya ia tempati ketika natal atau tahun baru lunar. Duduk di pinggir tempat tidurnya, ia menjelajahi setiap sisi kamarnya. Kemudian Seungyoon berdiri dan mendekat ke dinding yang ada di dekat rak bukunya, di sana terpampang sebuah dobok dengan sabuk hitam yang masih terikat di sana. senyum singkatnya muncul setelah melihat beberapa medali dan piala yang berjejer di dalam rak. Ia juga melihat beberapa foto dirinya saat masih berusia 18 tahun bersama teman-temannya.

Tapi kemudian ia sedikit terkejut ketika tidak menemukan sebuah foto yang hanya ada dirinya dan sahabatnya saja. foto itu mungkin tidak terlalu penting tapi Seungyoon sangat yakin foto itu harusnya ada di antara foto-foto yang lain. tubuhnya kini membungkuk bahkan kedua lutut dan tangannya sudah menyentuh lantai mencari foto yang hilang. Namun nihil. Ia tidak menemukan foto itu.

Seungyoon kembali berdiri dan mulai berpikir tentang sesuatu. Wajahnya tampak ragu namun di dalam kepalanya semua berusaha ia sambungkan. Mungkinkah, benarkah, ataukah, bagaimana bisa. Seungyoon keluar dari kamarnya, ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga. Masih belum menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan kematian orang tuanya.

Langkahnya terhenti. Ia mengingat sesuatu yang berhubungan dengan foto yang hilang itu. Seungyoon bergegas kembali ke kamar orang tuanya, ia membuka lemari pakaian orang tuanya. Mengeluarkan semua pakaian yang tersusun di sana, laci-laci yang ada di sana. bibirnya terus mengucapkan kata ‘tidak mungkin’ dengan tangan yang terus berpindah sangat cepat dari satu laci ke laci lain. namun ia masih tidak menemukan sesuatu.

“Kau tahu, batu ini sangat mahal. Teman ayah dari Jerman memberikan ini minggu lalu.”

“Woaah… Teman Ayahmu sangat baik, Seungyoon-ah.”

“Iya aku rasa juga begitu. Kau mau memegangnya, Hyun-ah?”

“Bolehkah?”

“Tentu saja. Kau kan sahabatku.”

“Seandainya ini milikku.”

‘KETEMU!!’ Seungyoon berucap dalam hatinya. Ia menemukan kotak kecil yang ada di laci meja kerja ayahnya. Sebuah laci yang sangat tersembunyi, namun ia ragu untuk membukanya. Seungyoon sangat berharap ia salah menduga, tangannya bergetar membuka kota itu.

‘HILANG!’

========= Blue Garnet ===========

“Daddy~~”

Hime membuka pintu kamar Taehyun, ia menemukan ayahnya masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya. belum sempat ia masuk, Hime memilih menutup kembali pintu kamar Taehyun dengan perlahan. Gadis kecil itu terlihat cantik dengan dress berwarna peach yang ia kenakan, ia berjalan menuju dapur dengan wajah riang seperti biasanya.

“Paman Oh…”

“Ya nona Hime?”

“Bisakah kau menemaniku ke toko roti? Aku ingin membeli sebuah cake untuk ayah.”

“Baik, nona.”

Hime pergi menggandeng tangan paman Oh, supir keluarga Taehyun. Keduanya menuju mobil yang terparkir di depan halaman utama kediaman Taehyun. Hime terlihat sangat senang dengan pemikirannya hari ini, ia ingin membeli sebuah cake untuk ayahnya. Sebenarnya hari ini tidak ada yang special, bukan hari dimana Taehyun atau Hime ulang tahun atau hari yang harus diperingatkan. Tapi gadis kecil itu sangat menyukai membuat sebuah kejutan untuk ayahnya.

Kepergian ibunya dua tahun lalu membuatnya tumbuh dewasa lebih cepat dari umurnya, sekalipun sang ayah Taehyun selalu terlihat gagah di depannya tapi Hime mengerti ada saatnya Taehyun menjadi lemah dan rapuh terlebih pekerjaan Taehyun yang Hime coba pahami di umurnya yang masih sangat muda.

“Hime-chan..”

“Eh paman Mino.. Kau mau ikut? Aku mau membeli cake untuk daddy.”

“Aku boleh ikut?”

“Tentu saja paman. Kau kan teman Daddy.”

Hime melepas gandengan tangannya ke paman Oh menuju Mino dan mulai meraih tangan pria tampan dengan tubuh atletis berbalut setelan jas hitam. Gadis kecil berusia enam tahun itu selalu mengumbar senyumnya. Ia membuat suasana disekitarnya terasa hangat, Hime juga tak sungkan berbagi cerita kepada Mino yang baru beberapa bulan ini dikenalnya.

“Kita sudah sampai nona Hime..”

Hime turun begitu pintu mobil terbuka, ia melangkahkan kaki mungilnya masuk ke dalam sebuah toko roti yang kecil namun menarik baginya. Mino mengiringi langkah Hime tepat di belakangnya, Hime berjalan mengitari etalase pendingin yang di dalamnya berjejer cantik kue dengan beragam hiasan.

“Apakah hari ini ayahmu ulang tahun, Hime-chan?”

“Tidak… Aku membelikan daddy kue karena aku ingin dia ada di rumah hari ini.”

-tring-

Bunyi pintu terbuka, seorang pria tinggi masuk ke dalam toko roti. Ia menuju stand yang berjejer roti di sana. mengambil beberapa roti dan menaruhnya di atas nampan yang ia bawa lalu berjalan menuju meja kasir. Tubuhnya bersenggolan dengan tubuh seseorang. Ia menundukkan wajahnya dan menemukan seseorang yang pernah ia temui sebelumnya.

“Ah kau…?”

“Maaf paman. Aku tidak sengaja. “

“Kau tidak apa-apa, Hime-chan?”

“Tidak apa-apa, paman.”

Setelah memastikan Hime tidak apa-apa, Mino menatap pria yang bersenggolan dengan Hime. Ia menemukan Seungyoon berdiri di samping Hime dengan tatapan penuh tanya. Sesaat ia mengamati wajah Seungyoon dengan seksama seperti merasa ia pernah melihat wajah itu sebelumnya tapi ia tidak yakin dimana.

Seungyoon yang berdiri, kini menekuk sebelah lututnya dan memberikan sebuah cokelat yang bertangkai kepada Hime lalu mengusap kepalanya sebentar dan pergi setelah mengucapkan sebuah kalimat perpisahan kepadanya.

“Baiklah Hime, maafkan paman ya. Makanlah cokelat ini. sampaikan salam kepada ayahmu dari paman.”

“Eung… Terima kasih, paman. Tapi… Paman siapa?”

“Aku teman sekolah ayahmu, Kang Seungyoon.”

Hime mengangguk kecil dan tersenyum pada Seungyoon. Ia pergi setelah menatap Mino sesaat dan membungkuk kecil. Ia menghidupkan kembali mobilnya dan mulai menjalankannya menuju kantor.

Seungyoon mengunyah rotinya sambil menatap layar komputer di hadapannya. Ia memeriksa database kependudukan yang hanya bisa diakses oleh beberapa bagian yang berwenang saja. mencoba mencari tahu seseorang yang ia duga terlibat dengan semua ini.

“Apa kau sudah menemukan petunjuknya, Seungyoon-ssi?”

“Sedang aku cari. Ah ini roti untuk kalian, yah tidak seberapa tapi ini ucapan terima kasih karena sudah membantuku akhir-akhir ini.”

Jinwoo dan Seunghoon saling menatap lalu seringai mereka keluar dan segera meraih roti itu dengan cepat lalu meninggalkan Seungyoon yang mulai menyeruput cappuccino miliknya.

“Dimana dia… Ayolah… berapa banyak orang dengan nama dan marga yang sama?”

Seungyoon perlahan mencari nama kenalannya itu satu persatu, mengamatinya dengan seksama. Kemudian…

[Nam Taehyun, 20 tahun, IMIGRASI tujuan JEPANG, 17 Juli 2014]

‘SUDAH PINDAH!’

Seungyoon kemudian menghubungi kantor imigrasi, mencari Changmin yang merupakan kerabat keluarganya. ia mulai meminta file yang berisi kedatangan turis dari Jepang dari dua hari sebelum tanggal 22 Oktober 2021 dan file keberangkatan pada tanggal itu sampai dua hari setelahnya.

Sekali lagi ia merasa adrenalinnya terpompa dengan cepat membuat ia sedikit kesulitan mengatur nafasnya. Ia sangat berharap orang yang sedang dicarinya bukanlah orang yang ia kenal seperti Taehyun. Ia sangat berharap itu bukan dia.

“Yoon-ah… Kau akan melanjutkan sekolah kemana?”

“Kenapa kau menanyakannya tiba-tiba?”

Seungyoon memalingkan pandangannya dari menatap langit yang cerah ke wajah sahabat yang tak memalingkan wajahnya dari langit hanya untuk membalas tatapan Seungyoon. Langit musim panas selalu tampak cerah dan menyilaukan namun kedua orang itu tak gentar menatapnya dari bawah rindangnya pohon oak.

“Aku hanya ingin tahu… Ah, apa jadwal ujian kenaikan sabuk sudah keluar?”

“Aku tidak tahu.. Apa menurutmu kita akan bertanding?”

“Bisa saja… Kim sunbae selalu punya kejutan.”

“Kalau begitu, kau jangan ragu untuk melawanku jika kita memang bertemu nanti.”

Lamunannya pecah ketika Taehyun mendengar suara Mino memanggilnya. Ia menaruh alat makannya dan memandang Mino dengan seksama. Pria itu sedang menjelaskan target mereka berikutnya. Tapi Taehyun tidak begitu mendengarkannya. Ia berdiri dan meninggalkan meja makan, berjalan menuju ruang kerjanya yang dijaga beberapa penjaga bersetelan jas hitam.

“Ketua Watanabe ingin merebut wilayah Yunhyeong dalam waktu dekat ini.”

“Tapi bukankan hari itu, kita akan menyerahkan blue garnet ke tuan Freddy?”

“Diundur, ketua. Tuan Freddy akan mengambilnya akhir bulan ini.”

Taehyun meraih map yang Mino bawa, ia duduk di kursi yang ada di belakang meja kerjanya. Membuka map itu dan memperhatikan blue print wilayah yang diinginkan oleh ketua watanabe. Wilayah yang akan direbutnya bukan wilayah yang besar namun berada di dekat pusat kota juga bukan wilayah yang sepi.

Taehyun memikirkan cara yang paling tepat untuk bisa mendapatkan wilayah itu. mulutnya mulai terbuka dan kata demi kata mulai keluar dari bibir tipisnya, ia menjelaskan cara yang bisa ia lakukan dan meminta mino menjelaskan dengan detil bagaimana keadaan di sana.

Diskusi mereka berlangsung lebih dari satu jam. Namun Taehyun masih belum merasa bahwa rencana yang ia persiapkan akan berjalan dengan baik.

“Aku ingin sehari sebelum penyerangan, kau melaporkan lagi situasi di sana. kita tidak bisa menyerang begitu saja mengingat wilayahnya GongMin tidak terlalu jauh dari kantor polisi.”

“Saya mengerti.”

“Tolong persiapkan mobil, aku akan pergi sebentar.”

“Mau kemana, tuan?”

“Hanya mengingat masa kecilku saja.”

“Baiklah.”

Setelah Mino keluar, Taehyun mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya lalu menaruhnya sesaat di atas meja. Ia menghela nafasnya ketika mengingat apa yang disampaikan puterinya tadi pagi. Sebuah salam dari teman lama yang bernama Kang Seungyoon.

Taehyun memandang sesaat foto yang terlihat usang. Dua orang remaja memakai baju taekwondo yang sama-sama mengigit sebuah medali sambil saling merangkul. Sesaat ia tersenyum tipis lalu menatapnya dengan dingin. Begitu mendengar suara Mino dari luar menyatakan mobilnya telah siap, Taehyun meraih foto itu dan membawanya dalam genggaman tangannya berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju mobil yang sudah menunggunya di depan pintu utama.

“Kita kemana, Tuan?”

“Ke sekolah Hanyori.”

Mobil sedan hitam mulai melaju keluar dari kediaman Taehyun, entah apa yang sedang ia pikirkan tapi ia sangat ingin kembali ke sekolahnya dulu dimana ia menghabiskan waktu mudanya bersama murid lain termasuk Kang Seungyoon.

========= Blue Garnet ===========

“Bagaimana perkembangan kasus pembunuhan tuan Ahn Soekjin.”

Seungyoon dengan sigap berdiri dan menghadap atasannya. Ia melaporkan bahwa tuan Ahn Seokjin dibunuh dengan pisau dengan jenis balisong, tuan Ahn Seokjin memiliki pesaing bisnis yang sudah lama bersaing dengannya tapi Seungyoon belum bisa membuktikan bahwa pesaing bisnis tuan Ahn terlibat dalam kasus ini karena sebenarnya ia memiliki beberapa musuh yang berasal dari orang-orang yang diperasnya melalui pinjaman dengan bunga yang tinggi.

“Kami sedang melakukan panggilan kepada nama-nama yang berhubungan dengan tuan Ahn, pak.”

“Bagaimana dengan saksi mata?”

“Petugas Go melaporkan ada seorang saksi mata yang melihat seseorang keluar dari mobil korban. Tapi pak, saksi tidak bersedia memberikan keterangan tentang itu.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan, detektif Kang?”

“Siang ini, saya akan mencoba menemuinya.”

“Baiklah. laporkan semuanya secara rutin, detektif Kang. Reputasi kepolisian kota Seoul sedang dipertaruhkan.”

“Baik, Pak!”

Bunyi mesin fax muncul sesaat setelah kepala polisi Kim pergi, Seungyoon segera mengambil kertas yang sudah tercetak dari mesin fax, memperhatikan dengan seksama lalu beralih ke kertas yang lainnya. Matanya tak lepas dari kertas-kertas yang ada di kedua tangannnya saat ini. hingga mesin fax berhenti berbunyi dan kertas terakhir juga tidak mencantumkan nama yang ia cari.

‘Jika bukan dia lalu siapa?’

Ia berdiri kaku di dekat mesin fax, tangan kanannya sudah mengepal erat kertas yang ia pegang. Benaknya kini penuh tanya, siapa orang itu.

Seungyoon mengenakan leather jacket dan memasukkan kertas itu ke dalam saku jaketnya. ia bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil sedan hitamnya yang ia laju menuju tempat kerja saksi mata. Seungyoon tak lagi memikirkan tentang orang yang ia curigai. Yang ia pikirkan sekarang adalah tentang kasus tuan Ahn Seokjin. Sudah lima hari berlalu namun kasus ini tidak banyak mengalami perkembangan yang mengarah ke tersangka.

Pisau yang digunakan dari jenis balisong, tidak ada sidik jari di mobil dan jenazah, cctv yang mati dan waktu kematian 12 jam.

“Itu waktu saat aku juga ada di sana!”

Taehyun sudah sampai di sekolah Hanyori. Ia turun dari mobilnya dan mulai memandang halaman sekolah itu, satu persatu sekilas kenangan saat ia masih sekolah kembali hadir. Ia tak mengerti mengapa ia meluangkan waktunya untuk kembali ke sekolah ini. Taehyun hanya mengikuti kata hatinya saja tanpa pernah tahu atau menduga apa yang akan ia temuinya nantinya. Setiap ia tiba di sebuah tempat  yang tidak biasa, ia berhenti sesaat memandang tempat itu dan diam lalu berjalan lagi.

Langkah kaki Taehyun membawanya tiba di sebuah ruangan yang tertutup, ia menggeser pintu itu dan aroma khas segera menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Matras biru terbentang di lantai ruang itu, bangku kayu panjang berada di dekat dinding menghadap ke arah matras. Ruang latihan taekwondo itu masih sama seperti 12 tahun yang lalu.

Sesaat Taehyun tersadar lalu keluar dari ruangan itu, ia sedikit bergegas keluar dari sekolah menuju parkiran mobilnya. Sampai di luar, ia berhenti. Pandangannya lurus ke arah orang yang berjalan menuju tempat ia berdiri. Tatapannya berubah dingin, orang yang berjalan ke arahnya tak kalah dingin menatap Taehyun. Pria itu Seungyoon.

Seungyoon melempar tanya dalam benaknya, kenapa Taehyun muncul di sekolah ini. Namun ia lebih penasaran dengan hal lain yang sangat ingin ia ketahui dari Taehyun. Ia menghentikan langkahnya di samping Taehyun, tidak di hadapannya. Seungyoon terlalu enggan menatap wajah Taehyun, ia sedang menahan dirinya untuk tak memukul Taehyun saat ini.

“Untuk apa kau ke sini?”

“Kau sendiri?”

“Kau tidak perlu tahu.. Ah, apa puterimu sudah menyampaikan salamku?”

“Jangan ganggu dia. Kau hanya dendam padaku, Kang Seunyoon.”

“Haha… Aku tidak akan mengganggunya, lagipula itu sudah lama. Ya sudah, aku akan masuk ke dalam. Sampai jumpa, Nam Taehyun.”

Taehyun berjalan meninggalkan Seungyoon, tapi tak lama kemudian ia berhenti mendengar pertanyaan Seungyoon.

“Apa kau tahu orang tuaku sudah meninggal?”

Taehyun tidak mengalihkan pandangannya atau berbalik menatap Seungyoon yang tangan kanannya sudah mengepal keras menahan emosinya.

“Aku tahu.”

Taehyun kembali berjalan meninggalkan Seungyoon yang kedua matanya membulat setelah mendengar jawaban Taehyun. Emosi dalam dirinya benar-benar berkecamuk, ia tak lagi bisa menahan dirinya. Tuduhan-tuduhan yang selama ini ia tolak justru semakin meruncing ke arah Taehyun, tertuduh yang ia sangkal selama ini karena Seungyoon masih meyakini bahwa Taehyun masih punya hati.

Begitu mobil Taehyun melintas keluar gerbang sekolah, Seungyoon segera menyusul dengan mobilnya. Ia menekan pedal gasnya untuk bisa tepat berada di belakang Taehyun. Seungyoon mengikuti arah mobil Taehyun yang membawanya ke pemukiman yang berada sedikit jauh dari pusat kota dimana rumah-rumah yang ada di sana terbilang mewah.

‘Sebenarnya apa pekerjaanmu, Nam Taehyun?’

Seungyoon menghentikan mobilnya tidak berapa jauh dari sebuah rumah dengan gerbang tinggi dan pintu otomatis berwarna cokelat. Ia belum ingin beranjak pergi sekalipun pintu gerbang itu sudah kembali merapat, seperti ada perasaan yang menahannya untuk tinggal lebih lama di sini.

Lima belas menit sudah berlalu, Seungyoon masih bertahan dengan hanya memperhatikan rumah itu saja. Namun kemudian, sebuah mobil sedan hitam yang mewah membunyikan klakson di depan gerbang rumah Taehyun. Tak lama, gerbang itu terbuka dan mobil itu menghilang dibalik gerbang yang tertutup. Seungyoon kembali berdiam, menerka dengan semua pikirannya. Sebuah mobil kemudian masuk lagi ke dalam rumah itu. pertanyaan Seungyoon semakin banyak saat lima menit kemudian mobil ketiga masuk.

“Apa yang kau lakukan dengan orang kaya itu?”

Seungyoon melihat seseorang berjalan keluar dari rumah itu, orang itu memakai pakaian biasa. Seungyoon memutuskan untuk mengikuti orang itu dengan mobilnya. Dengan pelan, ia mengikuti orang itu yang masih berjalan dan tak menyadari keberadaannya.

Getar ponselnya membuyarkan konsentrasinya terlebih itu adalah panggilan dari kantornya.

“Ya?”

“… Baiklah aku akan segera kembali ke kantor.”

Seungyoon tidak ada pilihan lain selain meninggalkan tanya tentang Taehyun. Ia melaju mobilnya kembali ke kantor.

========= Blue Garnet ===========

“Terimakasih, kalian sudah memenuhi undanganku.”

“Cih, kami memenuhi undangan ini juga karena tuan Watanabe bukan karena ingin.”

Taehyun menatap tajam ke pria paruh baya yang duduk di sebelah kirinya, jamuan makan malam yang sengaja dipersiapkannya untuk mengambil hati para tetua di sini agar mau membantunya dalam merebut wilayah yang menjadi incaran tuan Watanabe. Tapi tatapan tajam itu hanya sebentar, kini bibirnya sudah mengulas senyum dan tatapannya berubah menjadi ramah.

“Aku masih sangat baru di sini. sekalipun ini adalah kota kelahiranku, tapi aku sudah lama tidak pulang ke sini jadi aku mohon petunjuk para tetua untuk bisa bertahan di sini.”

“Aku tidak mengerti kenapa kau yang terpilih untuk menjadi pemimpin di sini, aku pikir Kimimaki yang akan kembali ke sini.”

“Yah, betul. Aku juga berpikir Kimimaki yang akan kembali. Ternyata bocah sombong ini yang kembali.”

Taehyun meremas taplak meja karena ia tidak terima direndahkan oleh orang-orang yang ada di hadapannya ini. ia tidak pernah menyukai ketiga tua bangka ini, mereka selalu merendahkan dirinya yang diangkat anak oleh tuan Watanabe. Tapi Taehyun tidak bisa marah, ia membutuhkan ketiga tua bangka ini untuk bisa meminjam pasukannya. Ia sedikit menghempaskan tangannya di atas meja hanya agar ketiga orang itu diam dan menghentikan kicauan pedas tentang dirinya.

“Aku tidak menjamu kalian untuk mendengarkan komentar negatif tentangku, tuan-tuan. Aku baru bisa menjamu kalian malam ini sejak aku tiba dari Jepang karena beberapa kesibukanku. Maafkan aku.”

Taehyun memberi kode kepada Mino yang berdiri tidak jauh darinya agar hidangan yang sudah disiapkan segera tersaji di hadapannya dan tamunya. Bisik-bisik kecil masih ia dengar namun dihiraukannya agar makan malam ini segera selesai dan ia bisa segera ke inti pembicaraannya.

Seungyoon langsung menghadap kepala polisi Kim yang ada di ruang rapat. setelah mendengar ditemukan barang bukti, ia bergegas kembali ke kantor. Di dalam ruang rapat sudah hadir juga beberapa petugas kepolisian kota Seoul yang bekerja untuk kasus yang sama dengannya juga hadir petugas dari tempat penghancuran mobil yang menemukan barang bukti pertama kalinya.

“Detektif Kang, apa kau tadi sudah bertemu saksi mata?”

“Belum pak, saya belum bertemu saksi mata.”

“Kalau begitu, kau sudah harus bertemu dengannya besok. Dan tuan Min ini yang menemukan balisong di bawah badan mobil.”

Seungyoon beralih ke petugas yang menemukan balisong di badan mobil sesaat setelah kepala polisi Kim meninggalkan ruangan. Ia menanyakan dengan detil bagaimana orang itu menemukan pisau itu lalu meminta petugas lain untuk memeriksa sidik jari yang mungkin tertinggal di sana.

Satu setengah jam berlalu, Seungyoon menyudahi pertemuannya dengan petugas dari tempat penghancuran mobil. Ia keluar dengan membawa catatan yang ia buat lalu ia cukup terkejut mendapati seseorang duduk di depan meja kerjanya. Seungyoon bergegas mendekat dan langkahnya terhenti saat Seunghoon menghalanginya dan berbisik.

“Dia saksi mata yang tidak diketahui siapapun. Dia ke sini karena akhir-akhir ini ada yang menerornya. Aku rasa—“

“Terimakasih, petugas Lee.”

Seungyoon menepuk pundak Seunghoon dan berjalan mendekat ke dispenser untuk membuatkan secangkir kopi. Matanya tak lepas dari orang itu karena pakaian yang ia kenakan saat ini. Benar, penampilan orang itu sangat tertutup. Ia membalut tubuhnya dengan coat panjang dan syal, lalu menyembunyikan dirinya dengan snapback hitam. Setelah membuat kopi, Seungyoon membawa kopi itu menuju mejanya dan meletakkannya di atas meja.

“Kang Seungyoon, petugas yang menangani kasus pembunuhan tuan Ahn Soekjin.”

Seungyoon mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh tangan orang itu, ia merasa orang itu sedikit bergetar karena rasa takut.

“Jang Mirae, saksi mata pembunuhan itu.”

Suaranya tampak bergetar dan terdengar seperti perempuan. Seungyoon duduk di hadapannya, mencoba menelisik di balik snapback apakah dugaannya benar bahwa saksi matanya adalah seorang perempuan. Tiba-tiba Seungyoon terkejut karena orang itu membuka snapbacknya dan menunjukkan wajahnya, ia benar seorang wanita. wajahnya tampak pucat sekalipun ia mungkin sudah memoles bibirnya dengan lipstick.

“Aku hanya ingin ini segera selesai, pak. Aku sangat takut karena akhir-akhir ini aku selalu diteror orang yang tidak dikenal. Sepertinya mereka tahu aku mengetahui perbuatan mereka—“

“Mereka? pelakunya lebih dari satu orang?”

“Aku rasa begitu, seseorang keluar dari pintu pengendara sementara yang lainnya keluar dari pintu penumpang. Aku tidak sengaja melewati mobil itu saat aku berjalan menuju mobilku yang terparkir tidak jauh dari mobil korban.”

“Apa kau tahu seperti apa orang-orang itu?”

“Mereka bertubuh tinggi…”

Seungyoon memanggil Seunghoon untuk membantunya membuat ilustrasi tersangka. Namun, saksi mata itu terbata-bata menyebutkan ciri-ciri tersangka. Beberapa kali Seungyoon berusaha menenangkannya agar tidak panik atau merasa takut.

Dua jam berlalu, Seunghoon memberi tanda ke Seungyoon bahwa dia sudah menyelesaikan sketsa kasar dari tersangka. Sebelum ia melihatnya sendiri, Seungyoon meyakinkan saksi mata bahwa yang sketsa yang Seunghoon buat mendekati ke wajah tersangka. Ia menarik sketsa itu dan melihatnya sendiri.

‘DIA!!??’

-To Be Continued-

One response to “[Chapter] Blue Garnet – 2/3

  1. Pingback: [Chapter] Blue Garnet – 3/3 (END) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s