PRINCE OF THE DARKNESS (PROLOG)

prince of the darkness

Title : Prince of the Darkness (Mortem)

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Park Yeon Min (OC)
  • Xi Luhan
  • Kim Jongin / Kai (Exo)

Genre : Fantasy, dark

 

Author’s note:

Hai! Akhirnya ini fanfic chapter pertama Vankyu dengan genre Fantasy😉 Semoga para pembaca suka. Di dalam cerita ini mungkin akan ada adegan kekerasan dan kata makian, jadi untuk semua pembaca jangan ditiru ya hehehe. Untuk para pecinta Kyuhyun, semoga senang dengan perubahan karakter yang selama ini ada di pikiran kalian. Selamat membaca dan selamat jungkir balik dalam kehidupan Kyuhyun🙂

Jangan lupa untuk mengunjungi blog pibadi Vankyu ya!

Once again, Cho Kyuhyun belong to God, but this story is belong to me 🙂

**********************************

Ketika dunia tidak menginginkanmu, haruskah kau mengakhiri hidupmu? Atau adakah rahasia besar yang sedang menanti untuk terkuak?

*Kyuhyun POV*

Kriiiing. Aku mengernyitkan dahiku dan mengambil bantal untuk menutup kedua telingaku. Kriiiiiing!! Sekali lagi weker di sampingku berteriak tanpa ampun. Cukup sudah! Dengan sekali gerakan tangan, aku mengambil jam itu dan melemparnya ke dinding. Hancur dan berantakan, persis seperti diriku.

Dengan malas aku membuka mata untuk melihat sinar kekuningan yang menari di antara celah-celah tirai. Pagi. Aku selalu membenci pagi hari. Waktu dimana aku harus terpaksa membuka kedua mataku dan menjalani rutinitas monoton. Tidak terhitung berapa kali aku berharap mata ini terpejam untuk selamanya. Seakan setiap inchi dari tubuhku berteriak untuk menghabisi nafas ini. Aku benci kehidupanku dan sepertinya kehidupan juga membenciku.

*************

Aku mengacak rambutku yang pada dasarnya sudah berantakan dan berusaha merapikan seragam yang melekat di badanku, walaupun hal itu sia-sia saja karena sampai kapanpun penampilanku akan terlihat serampangan. Dengan menghela nafas, aku keluar dari apartemen dan berjalan menuju sekolah. Sudah 17 tahun hidup seperti ini, sendiri tanpa ada satu orang pun yang mendampingiku. Aku sendiri kagum dengan kemampuanku untuk bertahan hidup.

Di depanku terlihat seorang ayah sedang menuntun anaknya yang hendak pergi ke sekolah. Betapa bahagia wajah anak itu, berbeda sekali denganku saat seumur dirinya. Tidak ada orang tua yang mengantarku untuk bersekolah di hari pertama, tidak ada orang tua yang membuatkan aku sarapan, tidak ada orang tua yang menemaniku jika malam tiba dan aku kesulitan untuk memejamkan mata. Aku sudah mati rasa. Tidak akan banyak ekspresi yang terlukis di wajahku. Jadi jangan mengharapkanku untuk tersenyum.

Aku, Cho Kyuhyun. Selama 17 tahun ini aku tidak bisa mendefinisikan kebahagiaan karena hidupku jauh dari kata bahagia. Seperti yang sudah kukatakan tadi, aku hidup sebatang kara, tanpa orang tua, tanpa teman, dan tanpa orang yang aku cintai. Tidak tahu apa yang sudah aku lakukan sehingga dunia membenci diriku. Sempat terbersit di benakku, bahwa aku berada di dunia ini bukan karena dilahirkan, tetapi karena dibuang oleh surga yang tidak menginginkan keberadaanku.

Rasanya sudah lelah untuk menangis karena aku tahu bahwa airmata tidak akan merubah keadaan. Sudah ratusan malam aku habiskan untuk menahan sakit di dadaku ini, begitu sakit sampai-sampai diriku tidak bisa merasakan apa-apa lagi sekarang. Manusia tanpa perasaan? Ya, itulah aku. Tidak ada lagi yang tersisa dari diriku. Kosong dan hampa.

Segerombolan ibu-ibu terlihat dari sudut mataku. Mengobrol dan menertawakan hal yang aku yakini tidak penting. Sama seperti hari-hari sebelumnya, mereka sontak menghentikan pembicaraan saat aku lewat. Mereka menghujamku dengan tatapan hina, seakan aku manusia menjijikan. Entah apa salahku, mereka bahkan tidak mengenalku. Sehalus apapun bisikkan yang dikeluarkan dari bibir mereka yang beracun tetap akan terdengar oleh telingaku. Kata-kata menyakitkan sudah menjadi makananku sehari-hari.

Aku melanjutkan perjalananku dan memasuki pintu gerbang neraka yang bernama sekolah. Tempat dimana para manusia dididik dan diberi pembelajaran untuk menjadi bekal dalam kehidupan mereka ke depan. Cih, omong kosong! Tempat ini hanya akan menghasilkan anak-anak berandal dengan otak yang tidak akan menyamai seekor kera sekalipun.

Dengan malas aku meraih kenop loker milikku. Klek! Aku sudah tahu apa yang berada di dalam lokerku. Setumpuk kertas dengan tulisan dan ukuran yang berbeda-beda. Aku menyeringai, “Ayo kita lihat apa yang mereka tulis kali ini. Hmm ‘Pergi dari sekolah ini’, ‘dasar orang aneh’, ‘tidak ada seorang pun yang menyukaimu’, ‘dasar pria pembawa sial’. Cih, apa mereka tidak punya kreatifitas? Kata-kata yang sama setiap hari. Oops, tunggu dulu sepertinya ada yang menarik,” Aku mengambil dan membaca kertas terakhir.

Cho Kyuhyun tidak pantas untuk hidup di dunia ini. Wah baik sekali, andai orang yang menulis ini tahu, betapa bahagianya diriku jika hal ini terjadi,” ucapku sinis sambil merobek semua kertas di tanganku dan membuangnya ke tempat sampah.

***********

Aku merapatkan jaketku. Angin berhembus dengan kencang sore ini, sepertinya akan turun hujan. Kling. Bel di pintu kafe berbunyi saat aku melangkah masuk. Sepasang bola mata menatapku dari balik mesin kasir, seringai lebarnya tercetak dengan sangat jelas dan membuatku bergidik tidak nyaman. “Kyuhyun hyung, kau baru sampai?” tanyanya dengan suara berat. Aku hanya mengangguk dan melangkah menuju ruang belakang.

“Cepatlah ganti seragammu dan bantu aku melayani kafe ini. Sebentar lagi pasti ramai karena jam pulang kerja,” ucapnya sambil tetap tersenyum. Aku tidak menggubrisnya dan terus berjalan untuk berganti pakaian. Aku tidak suka pria itu, lebih tepatnya aku tidak suka kepada ras manusia pada umumnya. Mereka munafik, egois, dan sederet kata-kata negatif lainnya yang sering terlontar dari bibir mereka untuk mengejekku. Kai. Pria itu bekerja bersamaku menjadi pelayan di kafe ini. Dari awal dia sudah menunjukkan sisi hangatnya kepadaku. Aneh sekali bukan? Disaat semua orang menghindariku, hanya satu pria yang mencoba bersahabat denganku. Bukankah orang sok baik seperti itu patut diwaspadai?

“Kyuhyun, berikan kopi ini kepada tamu di meja tiga belas,” ucap Luhan si barista kepadaku. Aku melirik ke arahnya dengan kesal. Sudah hampir empat jam aku bekerja dan belum sekalipun aku beristirahat, tapi orang menyebalkan di depanku tidak ambil pusing dan mengangkat cangkir kopi sialan itu ke depan wajahku.

“Ini kopi pesanan kalian,” ucapku jauh dari kata ramah. Aku melirik sekilas ke arah penghuni meja tiga belas. Dua orang berpakaian rapi di depanku langsung menatap wajahku dan melemparkan tatapan menilai, tipikal orang kaya sombong. Dengan hati-hati aku mengangkat cangkir di nampanku. Drrt drrt, suara ponsel yang tiba-tiba membuat salah satu dari kedua orang itu mengangkat lengannya dan tanpa sengaja mendorong tanganku. Cangkir berisi kopi panas tersebut jatuh tepat di atas jas pria tadi.

“ARRRRGH! PANAS! DASAR PELAYAN BODOH,” teriak pria itu sambil berdiri dan mengibaskan tangannya. Aku mengambil lap di atas meja dan berusaha membantunya.

“Maafkan saya. Saya tidak sengaja,” ucapku. Pria tadi menepi tanganku dengan kasar. Jari telunjuknya mengacung tepat di depan mataku.

“Jangan sentuh jasku. Kau kira dengan kata maaf saja cukup? Gajimu selama dua tahun juga tidak akan mendekati harga jas ini. Dasar pelayan sialan!”

Aku menautkan kedua alisku saat mendengar kata-kata kasar dari pria tua di depanku. Memang aku terbiasa dengan kalimat hinaan seperti itu, tapi sekarang rasanya ada yang terbakar di dalam dadaku.

“Pelayan sialan? Setidaknya saya punya sopan santun untuk tidak mengumpat siapapun. Saya jadi ragu, apakah bapak pernah bersekolah? Lagipula apa bagusnya jas itu? Bukankah mudah bagi anda untuk membeli jas yang baru? Oh iya, terlepas dari harga jas tersebut, seharusnya yang minta maaf itu anda. Bukankah anda yang tadi menyenggol tangan saya dan menyebabkan kopi itu tumpah?” Teriakanku sepertinya menarik perhatian pengunjung kafe. Kulihat pria tadi menahan amarahnya.

“Ada masalah apa di sini?” Manajer kafe memunculkan dirinya di tengah-tengah perdebatan kami.

“Pelayan anda sudah menumpahkan kopi ke atas jas saya dan dia tidak mau mengakui kesalahannya, bahkan pelayan ini bertindak kurang ajar!” Aku ingin tertawa mendengar kalimat pria itu.

“Apa anda tuli? Saya sudah minta maaf tadi,” ucapku. Wajah pria di hadapanku semakin merah.

“Lihat kan! Benar-benar tidak tahu diri! Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun, hah? Dasar manusia tidak berguna.”

Aku selalu bisa mengontrol amarah. Tidak ada satu pun perkataan atau perlakuan seseorang yang dapat mempengaruhiku. Benteng pertahanan diriku begitu sempurna. Terlalu sempurna. Entah mengapa kali ini aku membiarkan seluruh rasa panas mengalir dalam badanku. Darahku berdesir dengan cepat dan detakan jantungku menggila. Sekan-akan bom waktu yang kusimpan rapi selama tujuh belas tahun kini siap untuk meledak. Prang! Bunyi pecahan cangkir yang jatuh dari meja akibat hembusan angin dahsyat yang tiba-tiba datang tidak menyita perhatianku. Desahan kaget orang-orang akibat perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak tidak menghilangkan fokusku terhadap amarah yang membara dalam diriku.

“Kau lah orang yang tidak berguna. Merendahkan orang lain, seakan-akan kau punya kuasa untuk melakukannya. Aku memang tidak punya orang tua, tapi itu lebih baik daripada punya ayah sepertimu.” Aura intimidasi dariku menguar. Mata pria tua tadi tidak lagi memancarkan percaya diri. Sekelibat mata itu menatapku takut. Pria itu menjatuhkan dirinya ke atas kursi. Terduduk dan termangu memandangku.

“Kyuhyun. Hentikan. Kau sudah melewati batas” Luhan memegang bahuku. Aku memalingkan pandanganku ke arahnya. Tatapan dari kedua bola mata besarnya tegas, menyaratkan aku untuk berhenti.

“Aku keluar dari kafe ini,” ucapku sambil menepis tangan Luhan, melempar seragam kerja bodoh ini dan mengambil barang-barangku.

Persetan dengan semuanya. Aku lelah, sangat lelah. Hidupku memang sudah tidak berharga. Kakiku terus melangkah ke arah gedung kosong dan terus berlari menaiki tangga sampai lantai teratas. Dadaku bergerak naik turun, menahan setiap amarah, frustasi dan kesedihan. Kulayangkan pandanganku kepada langit gelap.

“Kenapa? KENAPA HARUS AKU YANG MENDAPATKAN KEHIDUPAN SEPERTI INI? APA SALAHKU? KENAPA DUNIA BEGITU MEMBENCIKU?” Airmata yang sudah sekian lama kupendam akhirnya tumpah juga, menyatu dengan rintik hujan dan gemuruh petir.

Sakit. Aku menggenggam dadaku yang sakit. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungku. Apa aku tidak layak untuk hidup? Aku melangkah semakin dekat ke arah pinggir gedung. Lampu kota di bawahku seakan menghipnotis. Apa aku akhiri saja hidup ini? Mungkin aku bisa menemukan kebahagiaan dalam kematian. Lagipula dunia tidak menginginkan keberadaanku. Tinggal selangkah lagi aku bisa terbebas dari rasa sakit.

Aku menutup kedua mataku dan tersenyum.

“Selamat tinggal dunia dan selamat datang kematian,” ucapku sebelum terjun dari atas gedung.

-TO BE CONTINUED-

AAAAAAAAAAHHHH BAGAIMANA? Apa kalian suka prolognya? Pasti makin penasaran kan? Hehehe. Sampai ketemu di chapter selanjutnya! Jangan lupa tinggalkan jejak🙂

teaser for the next chapter:

Gelang yang melingkar di pergelangan tangannya berbinar biru. Tanda bahwa orang yang dicarinya sedang berada dalam bahaya.

“Kau tidak aneh. Arti namaku memang pembawa terang. Cukup aneh untuk kaum kita sebenarnya,”

“Tenang lah Mortem, Aku tidak akan menyakitimu. Yang perlu kau lakukan hanyalah diam dan dengarkan penjelasanku.”

🙂

🙂

🙂

15 responses to “PRINCE OF THE DARKNESS (PROLOG)

  1. Ini kan genrenya fantasi yah, kyuhyun jdi apa ya nantinya? Trus di teaser part 1 ada kata kaum kita, berarti itu bkn mnusia ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s