[OneShot] Heartbeat

heartbeat

Title: Heartbeat

Author: @Miithayaaaa

Genre: Romance

Length: Oneshot

Main Cast:

  • CN BLUE’s Minhyuk as Kang Minhyuk
  • F(x) Krystal’s as Jung Soojung

Support Cast :

  • CN BLUE’s Jungshin as Lee Jungshin
  • Song Minguk, Song Manse, Kang Hyena (OC)

Rate: PG-16

Thanks For Beautiful Poster By @LittleCookie

Hujan.

Pelangi.

Senyuman.

Sunshine.

Sunshine.

Sunshine.

Benturan.

Hilang.

Tangisan.

Minhyuk menarik napas dalam hingga membuat dadanya terangkat, lalu menghembuskannya kuat seakan-akan bernapas adalah hal yang tersulit baginya. Dia membuka matanya.

Mimpi.

Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencoba mengumpulkan memori-memori beberapa hari yang lalu, mesin elektrodiagraf, tiang infuse, rumah sakit, transpalansi jantung. Berhasil. Operasinya berhasil, dia masih hidup.

Dia tersenyum simpul, sebelum meletakkan tangannya di atas dada, merasakan debaran jantung barunya, debaran yang begitu kuat.

Sunshine. Sunshine. Sunshine.

Apa itu tadi? Sakura? Siapa perempuan itu? Cincin? Mimpi apa itu?

Minhyuk mengerutkan dahinya dalam, dia merasakan tubuhnya sangat lemah, bahkan sangat lemah untuk berpikir sesuatu. Tapi mimpi itu membuatnya penasaran, dia tidak pernah memimpikan itu sebelumnya, juga ‘Sunshine’, adalah kata pertama kali dia tahu dalam hidupnya. Dan berpikir Sunshine membuat jantungnya berdegup kencang.

“Bos! Kau bangun!” Jungshin, sekretarisnya, berteriak gembira, bahkan matanya berkaca-kaca. “Terima kasih Tuhan, akhirnya kau bangun Bos!” Histerisnya bahkan menghambur memeluk Bosnya, Minhyuk, namun Minhyuk sedikit bergeser sebagai tanda penolakan. Dia mengedipkan matanya sayu, berkata lemah,

“Siapa kau?”

Jungshin mendelik, “Bos, kau tidak ingat aku? Kau tidak kenal aku?” Tanyanya panik.

Minhyuk menggeleng lemah.

“Bos! Aku sekretarismu, Lee Jungshin. Kalau kau tidak kenal aku, lalu siapa yang akan menggajiku nanti!” Rengek Jungshin berpikir bahwa Minhyuk benar-benar lupa ingatan, dan berpikir kesejahteraan hidupnya akan menurun.

“Bodoh.” Gumam Minhyuk, tersenyum simpul.

“Hmm?”

“Tentu saja aku yang akan menggajimu, bodoh. Aku hanya bercanda. Aku ingat kau, sekretaris maniak.” Katanya tertawa lemah.

“Kau benar-benar ingat aku?”, Minhyuk mengangguk, “Oh Bos! Syukurlah. Aku kira, aku akan jatuh miskin mendadak.” Kali ini Jungshin benar-benar menghambur ke pelukan Minhyuk, dia lupa kalau bosnya ini baru selesai operasi.

“Jungshin, lepaskan pelukanmu atau kau benar-benar aku pecat dan jatuh miskin.” Minhyuk meringis, karena tubuh Jungshin sedikit mengenai jahitan di dadanya.

“Maaf, Bos.” Jungshin menyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Aku akan memberitahu dokter kalau kau sudah sadar.” Lalu berbalik kearah pintu, namun sebelum dia benar-benar keluar, Minhyuk berseru,

“Jungshin, bisa kau bawakan aku sesuatu yang manis.”

“Apa?!”

***

Jungshin benar-benar tak habis pikir, sejak kapan bosnya ini suka makanan manis? Sejak kapan dia menjadi maniak permen? Sudah dua hari ini, bosnya selalu merengek untuk di bawakan permen kerumah sakit. Dia bertanya pada dokter jika sesuatu ada yang salah dengan bosnya, tapi dokter mengatakan itu hal yang wajar bagi seseorang yang baru saja mengalami operasi, pasien akan bertingkah seperti orang lain. Bosnya memang aneh, bahkan jika bukan karena operasi pun, bosnya akan tetap aneh. Tapi ini hal yang berbeda, seaneh-aneh bosnya, Minhyuk tidak akan pernah meminta permen, dia sangat benci itu.

Lalu Jungshin teringat kalimat terakhir dari dokter, ‘Bisa jadi itu adalah sifat yang di bawa dari si pendonor. Jika jantung si pendonor di terima di tubuhnya, percaya atau tidak, pemilik jantung baru akan bertingkah sesuai dari si pendonor, bahkan sisa dari memori si pendonor’.

“Kau mau kemana, Bos?” Tanya Jungshin bangun dari lamunannya, ketika Minhyuk bergerak turun dari tempat tidurnya.

“Taman.”

Jawab Minhyuk langsung menuju pintu tanpa perlu repot-repot melihat sekretarisnya. Dia perlu udara segar. Setelah operasi, ada sesuatu yang aneh menurutnya, jantung baru ini selalu berusaha mengingatkannya pada ’Sunshine’ yang selalu di mimpinya bahkan dia sendiri tidak tahu persis apa itu.

Mungkinkah nama orang?

Tidak Mungkin.

Atau nama peliharaan hewan?

Tidak, terlalu berlebihan.

Lalu apa itu?

Aishh.

Minhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Mungkinkah benar apa yang di katakan dokter, kalau jantung si pendonor akan mempengaruhinya juga. Minhyuk terus berjalan memasukkan kedua tangan di saku seragam pasien dengan semua pikiran-pikiran yang ada dikepalanya, sampai suara merdu dan lembut terdengar samar-samar olehnya yang seketika membuat Minhyuk menghentikan langkahnya, kemudian tanpa sadar tangannya meraba dada sebelah kirinya tempat dimana jantungnya yang saat ini sedang berdetak cepat, berdetak cepat dua kali lipat dari biasanya.

Dia tetap seperti itu. Merasakan detak jantungnya yang membawa ke perasaan baru, perasaan lain saat dia secara tak sengaja teringat Sunshine.

Rindu.

Ya, ini adalah perasaan barunya. Detak jantungnya sekarang menginginkan orang yang ingin di temuinya, memeluk sesorang yang sangat ia rindukan, dan sialnya Minhyuk tidak tahu siapa itu.

Mungkinkah Sunshine?

Ini benar-benar membuatnya gila.

Bahkan sekarang debaran jantungnya semakin kuat. Dia melihat ke sekitar lorong rumah sakit merasa yakin bahwa ada seseorang yang membuat jantungnya berdebar seperti ini. Dia bisa merasakannya, dia bisa merasakan ‘orang’ itu ada disini. Dan dia bisa menyimpulkan, ‘orang’ ini memiliki hubungun khusus dengan jantung barunya.

“Pasien di kamar 307 baik-baik saja sekarang, suster Jung.”

Minhyuk menajamkan pendengarannya, masih memegang dadanya, tanpa ia sadari kakinya bergerak  membawanya ke tempat dimana sumber yang membuat jantungnya berdetak seperti ini. Semakin dekat langkahnya, semakin cepat pula detak jantungnya berdegup, sampai-sampai ia merasa jantungnya akan melompat dari tubuhnya.

Minhyuk menyipitkan matanya, mencoba memperjelas pandangannya dari seorang perempuan yang berdiri berpakaian putih seperti suster lainnya, bersandar pada meja receptionist berbicara seolah-olah menanyakan sesuatu. Perempuan itu tersenyum, membuat debaran jantung Minhyuk lebih tak karuan.

Dia semakin penasaran, dia terus berjalan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya pada perempuan itu, namun saat dia beberapa meter dari tempat perempuan itu berdiri, Minhyuk terhalang oleh beberapa dokter dan beberapa dokter magang yang berhenti di depannya. Membuatnya harus berjinjit, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mendapatkan sisi kosong untuk memastikan perempuan itu masih disana.

Tepat ketika para dokter-dokter itu pergi, saat itu pula, Minhyuk kehilangan perempuan itu. Dia berlari kecil ke tempat perempuan itu sebelumnya, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang menurutnya dia sudah sangat-kenal, tapi perempuan sudah hilang dan perlahan jantungnya kembali normal.

“Suster Jung pasti benar-benar merasa kehilangan. Aku turut berduka.”

Minhyuk sekilas mendengar kalimat salah satu dari dua suster yang berjalan melewatinya. Dan kalimat itu entah kenapa sangat mengganggu dirinya. Membuatnya ingin tahu, apa maksud dari perkataan suster itu.

Suster Jung?

***

Suara nyaring dari tawa anak-anak membuat perasaan Jung Soojung sedikit lebih baik dari kejadian beberapa hari yang lalu yang membuat kehilangan orang yang dia cintai, dan tak pernah bisa untuk dilihatnya lagi.

Dia sangat terpukul bagaimana kecelakaan yang merenggut nyawa tunangannya, Kris, tepat beberapa meter darinya. Hujan yang sangat dia sukai sekarang berubah menjadi hal yang paling dia benci, karena di bawah hujan, dia kehilangan orang yang dia cintai. Setidaknya, dengan disini tempat di mana anak-anak lucu di rawat dia bisa menemukan senyumnya walaupun itu sulit. Dia terlihat tegar, tapi sesungguhnya dia membutuhkan seseorang untuk penopangnya.

“Suster Jung, apa kau sedang sedih?” Tanya anak laki-laki berumur lima tahun memakai penutup kepala.

Soojung mengangguk dengan wajah cemberut lucu, mencoba meyakinkan anak laki-laki  di depannya dengan sedikit main-main.

Waeyo? Apa karena Dr. Kris?” Tanyanya lagi dengan polos.

“Ya.” Soojung mengangguk lagi, kali ini memanyunkan bibirnya. “Dia pergi tanpa pamit padaku.”

Anak laki-laki yang dipanggil Song Minguk itu berdecak kesal, melipatkan tangannya di depan dada berlagak seperti orang dewasa yang membuat Soojung tidak bisa menyembunyikan senyum melihat kelucuannya.

“Sudah aku duga dia itu tidak lebih baik dariku.” Minguk menggeleng-gelengkan kepalanya. “aku bahkan tidak pernah membuatmu menangis, ya, kan?”

Soojung mengangguk dengan mulut terkatup menahan tawanya.

“Tertawalah Soojung-ssi, aku tahu kau menahannya.” Ujar Minguk menggodanya, seketika itu pula tawa Soojung meledak di iringi tawa Minguk membuat anak-anak yang lain ikut memperhatikan mereka.

“Suster Soojung!!!” Seru anak-anak lainnya menghambur ke pelukan Soojung membuat Soojung kebingungan karena tangannya tidak cukup untuk mencakup semuanya. Dia tertawa bagaimana anak-anak selalu membuatnya gembira.

“Halooo!”

“Suster Jung, kau curang. Kenapa kau selalu menyapa Minguk duluan!” Kata gadis kecil dengan rambut pendek disisi kirinya.

“Iya. Aku cemburu.”

“Aku juga.” Kata anak lainnya yang diikuti dengan yang lainnya.

“Terima saja, kalau suster Soojung itu hanya mencintaiku.” Kata Minguk sombong.

Soojung tertawa, mengacak rambut gadis kecil yang berada di depannya. “Tidak. Aku mencintai kalian semua. Bukan hanya Minguk.” Soojung tersenyum melirik anak laki-laki yang ia kenal dengan nama Manse berdiri di sebelah Minguk, mengejek Minguk. “Aku hanya masuk dan kebetulan Minguk sudah berada di depan pintu. Jadi dia yang duluan aku sapa.” Jelas Soojung perhatian.

Soojung bisa melihat muka cemberut Minguk dari sudut matanya, dia tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Suster Jung, apa kau kemari ingin bermain petak umpat bersama lagi?”

Soojung mengerutkan bibirnya kesamping, lalu menggeleng pelan, “Mianhe. Aku ingin sekali. Tapi aku kesini untuk pamit pada kalian.”

Waeyo??” Tanya anak-anak serempak dengan wajah sedih.

“Kau mau pergi?”

Soojung mengangguk lesuh, sekarang dia menyesal mengatakannya karena membuat anak-anak sedih. “Aku mengambil cutiku. Hanya sebentar.” Kata Soojung mencoba menghibur anak-anak.

“Kami akan merindukanmu.”

“Aku juga. Pasti saaangat merindukan kalian.”

“Apa karena Dr. Kris?” Lagi-lagi kata Minguk berhasil membuat Soojung, terdiam.

“Ada apa dengan Dr. Kris?” Tanya gadis kecil berambut panjang bernama Kang Hyena, bingung.

“Dia membuat suster Jung sedih. Dr. Kris pergi.” Celetuk Minguk asal, tanpa tahu apapun.

“Yah, jaga ucapanmu. Lihat, Suster Jung menangis.” Bisik Manse di sebelahnya, memperingatinya. Minguk menggigit bibirnya lalu melihat Soojung yang memalingkan wajahnya, menyeka air matanya.

Minguk berjalan mendekat, mengangkat tangannya tanda menyesal dan bersalah. “Suster Jung, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku-Oh, berhentilah menangis, kau membuatku ingin menangis juga.” Suara Minguk terdengar serak, dia benar-benar menyesal, dia tidak bermaksud untuk membuat orang yang dia sayang menangis. Soojung seperti ibu untuknya. Walaupun dia tidak menyukai Dr. Kris, tapi dia sudah berjanji padanya pula untuk tidak membuat Soojung menangis. Itu janji laki-laki, dan dia harus menepatinya.

“Kau tidak akan sendirian, walaupun Dr. Kris pergi, kau masih memiliki kami disini, kami semua menyayangimu, Suster Jung.” Sambung Hyena yang juga mendekat ke Soojung.

“Aku akan memukul Dr. Kris untukmu.”

Soojung tidak bisa tidak menangis, di campur haru dan sedih. Soojung tidak bisa menyalahkan mereka, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apapun. Mereka tidak tahu arti kata pergi yang dia maksud. Oh betapa, dia akan sangat merindukan anak-anak ini.

Soojung menghapus air matanya, berusaha tersenyum. Dia mengambil tangan Minguk untuk menurunkannya. “Aku tidak menyalahkanmu, justru aku berterima kasih padamu.” Katanya tulus, mengelus pipi Minguk. Kemudian dengan tangan mungil Minguk, dia menghapus sisa air mata Soojung yang mengalir.

“Aku akan sangat merindukanmu.” Soojung memeluk Minguk, mengelusnya lembut, lalu melihat ke anak yang lain, merentang tangannya masih memeluk Minguk untuk meminta pelukan lainnya dari anak-anak lain, sehingga rombongan kecil menghambur memeluk Soojung dengan penuh kasih sayang.

“Aku sangat menyayangi kalian. Terima kasih.”

***

“Aku tidak mau tahu. Kau-harus-mencari-Suster-Jung.” Ucap Minhyuk penuh penekanan untuk ke sekian kalinya.

“Tapi Bos-“ Sela Jungshin.

“Tidak ada tapi-tapian. Kau harus menemukan Suster Jung ‘itu’.”

“Bos!”

“Kau berani membentakku?” Bentak Minhyuk melototin Jungshin yang ingin menyela ucapannya.

“Bukan begitu.” Desah Jungshin dengan wajah ditekuk, “Kau tahu sendiri yang memiliki marga ‘Jung’ itu banyak apalagi dirumah sakit besar ini. Bukan hanya satu. Bahkan marga nenekku juga ‘Jung’. Setidaknya Bos memiliki hal lain untuk memudahkan menemukannya.”

Minhyuk mengerutkan keningnya. “Aku tidak peduli. Kau harus membawa Suster Jung ‘ini’ padaku. Sekalipun kau harus membawa nenekmu kesini.”

Jungshin mendesah. “Baiklah. Jangan salahkan aku, jika aku tidak menemukan-Aww!!” Belum selesai Jungshin menyelesaikan kata-katanya, satu pasang sandal rumah sakit sudah melayang di wajahnya. “Bos!!”

“Sekali lagi kau menyela, maka sandal yang lain akan menyelesaikannya.”

“Oke. Aku akan menemukannya.” Kata Jungshin cemberut. “Sekarang bersiaplah untuk pulang. Kau tidak ingin tinggal selamanya dirumah sakit, kan?”

“Kau benar-benar sekretaris yang menjengkelkan.”

“Kau juga benar-benar bos yang menyebalkan.” Kata Jungshin berbisik untuk dirinya sendiri, tapi entah kenapa bisa di dengar oleh Minhyuk. Sehinggal satu sandal yang lain melayang lagi padanya.

“Boss!!!”

***

Jungshin meringis, gelisah, tak tahan, bahkan muak. Oh, benar-benar. Dia tidak bisa menafsirkan lagi bagaimana dengan bosnya saat ini. Sejak mereka masuk ke mobil keluar dari rumah sakit, kupingnya seakan ingin pecah mendengar nyanyian seorang Kang Minhyuk, dia bersumpah, dia lebih baik mendengar ribuan nyamuk yang mengelili kupingnya dari pada mendengar suara bosnya bernyanyi.

“…Tell me why~~, Wae mami mami jakku heundeullini~~”

“…Nanana electric~ Nanana electric shock~~~

Yeogi buteora, modu moyeora~~, yeah~~ Fantastic baby.”

Jungshin merapatkan wajahnya ke arah jendela, untuk menghindarkan suara Minhyuk yang benar-benar ingin memecahkan telinganya. Dia benar-benar ingin protes. Tapi takut akan mendapatakan semprotan lagi dari bosnya. Kemudian Jungshin ingin tertawa melihat ekspresi Minhyuk ketika menyanyikan lagu sedih. Dia menggigit bibirnya untuk menahan tawanya. Benar-benar, wajah bosnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya.

“…Jigeumeun hajima geumal say good bye~~

“Hahaha!” Tawa Jungshin akhirnya meledak ketika Minhyuk menyelesaikan lirik terakhir dari Lagu Don’t say goodbye dari CN Blue dengan wajah cemberut, menekan dadanya seakan-akan itu sakit karena ditinggal pacarnya.

“Bos! Stop! Kau membuat perutku sakit dengan ekspresimu!” Lanjut Jungshin di sela-sela tawanya menatap lurus kedepan, tidak tahu kalau Minhyuk sudah menegakkan tubuhnya menatap dingin padanya.

Jungshin bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merindingkan bulu kuduknya. Dia tahu pasti Minhyuk sudah mulai mengeluarkan tanduknya. Jadi dia tersenyum manis, lalu berpaling ke arah Minhyuk sejenak, “M-maksudku, e-ekspresimu sangat lucu-menggemaskan. S-suaramu juga sangat bagus.”

“Aku tahu kau menghinaku.”

“Syukurlah, kalau bos sadar.”

“Yah!! Kau-“

Deg.. Deg..

Belum selesai dia ingin memarahi Jungshin. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Jantungnya berdetak kencang kembali seperti dia mengingat Sunshine. Minhyuk memegang dadanya, meremasnya, lalu tiba-tiba saja perasaan sedih menghampirinya.

Apa yang terjadi denganku?

Gumam Minhyuk dalam hati. Dia melihat kedepan dan kesekitar jalan, itu penuh dengan pohon sakura. Perasaan akrab menghantuinya, ada sekilas tawa dan senyuman seorang gadis yang sangat cantik melintas di pikirannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun seakan-akan ia habis di kejar oleh ribuan orang.

…Sunshine.. Dimana kau bersembunyi…

Kali ini Minhyuk bisa mendengar suara laki-laki dari pikirannya yang dia tidak tahu siapa itu. Pikirannya bermain dengannya.

“Bos? Kau tidak apa-apa?” Tanya Jungshin sedikit melirik ke arah Minhyuk yang pucat.

“Bos?” Panggilnya lagi.

“Berhenti.”

“Eh?”

“Hentikannya mobilnya!!” Teriak Minhyuk tanpa sadar pada Jungshin yang spontan membuat Jungshin terkejut dan gagap menghentikan mobilnya.

Minhyuk dengan cepat melompat keluar dari mobilnya ketika Jungshin menghentikan mobil mereka di pinggir taman yang sama sekali ia tidak pernah tahu. Tapi rasanya ia seperti-sudah kemari untuk ribuan kali.

Minhyuk memandang sekeliling taman yang terdapat pohon sakura yang berjajar manis di sepanjang jalan taman. Kakinya mulai melangkah tanpa ia sadari kemana arah yang ia tuju. Kenangan-kenangan abstrak yang ia tidak tahu terus bermain di kepalanya. Ayunan merah. Minhyuk melihatnya, itu sama persis seperti yang ada di ujung taman ini.

Cincin.

Pelukan.

Minhyuk memejamkan matanya, menarik napas lalu menghembuskan napasnya kuat-kuat. Dia bersumpah, dia akan menemukan apa yang membuatnya menjadi seperti ini.

Selangkah demi selangkah kakinya menuntunnya berjalan, seiring dengan tuntunan hatinya yang membuat jantungnya semakin berdetak cepat. Sampai ia berdiri di depan seorang perempuan yang duduk menunduk dengan gaun biru langit, rambut panjang gelombangnya menutupi wajahnya. Bahu perempuan itu bergetar yang menandakan ia sedang menangis.

Terkunci.

Terkunci seperti seorang pemanah yang membidik tepat ditargetnya. Seperti itulah jantung Minhyuk yang menemukan orang yang tepat.

Jantung Minhyuk berdetak bahkan tiga kali lipat dari biasanya. Kenapa? Aku bisa mati dengan jantung berdetak secepat ini. Tapi kenapa detakannya seakan menghangatkanku, siapa perempuan ini?”

Dengan perlahan Soojung menegakkan tubuh dan mendongakkan kepalanya, saat melihat sepasang sepatu yang berdiri tepat dihadapannya.

Ada sengatan yang menjalar di tubuh mereka saat tatapan mata mereka bertemu. Soojung melihatnya sendu, masih dengan cegukan sisa tangisannya. Dia melihat, seseorang seperti malaikat yang akan membawa lukanya, seseorang yang akan membawa kesedihannya pergi. Tapi haruskan dia percaya dengan semua itu? ketika semua apa yang dia lihat adalah orang asing dengan wajah bingung, dan lelaki didepannya ini menangis. Kenapa?

Minhyuk mengangkat tangannya ke wajahnya saat merasakan cairan yang mengalir di pipinya. Dia menyentuh dengan ujung-ujung jarinya. Betapa terkejutnya dia saat ia tahu, itu adalah air matanya sendiri. Bahkan hatinya seperti di tusuk ketika perempuan itu menatapnya dengan tangisannya.

…Yah, Sunshine, kau pasti sangat mencintaiku……

Lagi, suara-suara dalam pikirannya berkata.

“Kenapa?” Minhyuk menatap tak percaya pada ujung jarinya, dan kemudian beralih ke arah Soojung, “Kenapa? Kenapa aku menangis? Kenapa aku menangis, saat aku melihatmu menangis?”

….Jung Soojung…Jangan menginhadariku……

Minhyuk memejamkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya mencoba untuk menghilangkan suara-suara yang terus berteriak dalam pikirannya. Lelaki ini? Kalau bukan ini ada kepalanya, dia bersumpah kalau saat itu juga dia akan menghantukkan kepalanya ke pohon yang terdekat.

Lalu, siapa perempuan ini? Kenapa dia bisa berdiri didepannya? Dan apa? Minhyuk menangis untuknya. Untuk orang yang bahkan sama sekali ia belum pernah temui.

Jantung sialan ini, kenapa kau harus berdetak pada orang yang aku bahkan tidak tahu dan seakan-akan kau akan mati jika tidak melihatnya, ironisnya, aku menangis untuknya?

“Aku…gilaa..” Gumam Minhyuk pada diri sendiri. “Aku pasti sudah gila..”

Minhyuk mengingatkan dirinya untuk segera pergi, tapi otak, hati dan kakinya seakan bekerja sama untuk melawannya agar tidak pergi meninggalkan perempuan ini. Minhyuk mencoba melihat perempuan ini lagi yang kebetulan juga sedang menatapnya, dia melihat ke bawah yang tatapannya langsung terpaku pada kilauan cantik dari cincin yang melingkar di jarinya. Cincin itu, cincin yang ada di mimpinya.   

“Siapa-, Siapa kau?” Tanya Minhyuk langsung menatap matanya.

Deg.

“Kenapa? Kenapa jantungku berdetak kencang untukmu?”

“Kenapa aku menangis untukmu?”

Deg.

Detak jantungku adalah detak jantungmu… Aku tidak peduli, jika awan menutupi matahari dan bumi menjadi gelap… karena matahariku adalah kau.. 

“..Detak jantungku adalah detak jantungmu… Aku tidak peduli, jika awan menutupi matahari dan bumi menjadi gelap… Karena matahariku adalah kau..” Minhyuk berucap menggantung tanpa sadar mengikuti kata-kata yang ada di kepalanya. Dia melihat perempuan di depannya berdiri dengan wajah jelas terkejut, seakan-akan dia mendapat kabar buruk.

Soojung spontan berdiri dari tempat duduknya, dia tak percaya apa yang dia dengar, orang asing ini, bagaimana bisa dia mengucapkan hal-hal yang bahkan ia tidak bisa ia lupakan. Kalimat yang selalu tunangannya katakan padanya, dan itu hanya dia dan tunangannya yang tahu.

Soojung mendesah, mungkin dia masih tidak bisa merelakan kematian tunangannya, sehingga dia hanya mengigau hal-hal tak masuk akal. Mungkin saja barisan kalimat itu sudah tak menjadi miliknya dan tunangannya. Semua orang bisa saja menjadi puitis, bukan? Dan kebetulan orang asing ini salah satunya, mungkin juga orang asing ini  sama sepertinya, kehilangan orang yang mereka cintai. Tapi lanjutan dari kalimat itu, hanya ada satu orang yang tahu kalau kalimat itu ditujukan untuknya, dan orang asing didepannya ini tidak mungkin tahu, dan pasti akan mengatakan hal lain. Jadi, Soojung menegakkan tubuhnya berniat meninggalkan lelaki ini.

Hanya dua detik Soojung bergerak untuk melangkah, dia merasa pergelangan tangannya di tarik dan di remas seakan-akan orang asing ini tidak ingin membiarkannya pergi dari hidupnya.

Soojung menatap, Minhyuk masih meneteskan air matanya.

Dua pasang mata yang beradu.

Dua jiwa yang di pertemukan.

Detak jantung yang menjadi satu.

Hanya dia.

Soojung mencoba melepaskan tangannya dan pergi, saat kalimat yang keluar dari mulut orang asing ini membuatnya menetap dan tak bergerak.

“…Karena matahariku adalah kau, Sunshine…

“…My Sunshine, Jung Soojung.”

Selesai Minhyuk dengan kesungguhan beriring detak jantungnya yang bedegup kencang. Dia tidak tahu siapa perempuan ini, tapi yang pasti dia tahu. Dia mencintainya dan harus menjaganya. Bahkan hanya dengan satu detik menatap matanya.

“Aku menemukanmu…Sunshine.”

END

 

Gantung ya?

Sengaja. Hahaha. Disini aku cuman mau ceritaiin gimana mereka bertemu melalui detak jantung Minhyuk yang menuntunnya untuk bertemu dengan Krystal. Garing ini cerita, sedihnya gagal. Tapi semoga kalian manikmatinya🙂

Oiya, maaf juga karena epilog blue series  gak nongol2, saya author ‘mood2’-tan, maklumin ya. Hihihi. Maaf typo yang bertebaran. Jangan lupa komentarnya🙂

Thank you sooo much :*

20 responses to “[OneShot] Heartbeat

  1. sedddiiiihhhhh😥
    Jadi jantungnya Minhyuk itu jantungnya Kris. Minhyuk sakit apa sampe dia harus terima donor jantung?
    Pertama baca, aku pikir itu jantung Soojung. Tapi oh terima kasih mitha, itu ternyata Jantung Kris. Jadi Soojung disini itu miris banget. Udah tunangan dan BAM! tunangannya meninggal😥 Tapi tenang, kan jadi a Kang Minhyuk gantinya. Hihi.

    DAN AS ALWAYS JUNGSHINAAAAAAH!!!! puhleeeease!!! plis stop bikin aku ngakak-ngakak karena kekonyolanmu, darling. huahahahahhahaha. Masaya anak buah begitu kelakuannya sama boss (perlu dicontoh)😄

    “..Detak jantungku adalah detak jantungmu… Aku tidak peduli, jika awan menutupi matahari dan bumi menjadi gelap… Karena matahariku adalah kau..” Aduuuuh scene ini menyayat hati. Aku perlu Jungshin jadi dokter bedah jantung sekarang!!😄 Kasian dy jadi satu-satunya orang yang clueless disini.

    Oke, aku nerima ini sebagai one-shot. Trimikisi sudah menciptakan ff yang menyayat hati. hihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s