[Chapter] Blue Garnet – 3/3 (END)

received_m_mid_1420635736278_d652ea6068452f2b03_0

Blue Garnet – [Chapter 3: The Truth] | wineonuna

AU, Action | Short Chapter (3 Chapters) |PG-13

poster by. Indri Art

Cast: Kang Seungyoon – Nam Taehyun

Support Cast: Song Mino, Kim Jinwoo, Lee Seunghoon, Hime (OC)

Desclaimer: Ide cerita bukan berasal dari saya, saya hanya mengembangkannya menjadi sebuah cerita

Author’s Note: was chaerin jingyo >///< 

WARNING!!! Tidak ada Cast POV semua dari sudut pandang orang ketiga jadi hati-hati membacanya karena tidak ada pemberitahuan pemilik scene dalam cerita ini tapi saya berusaha menggambarkan dengan jelas pemilik situasi ini.

don’t be a plagiator ^^

prev: chapter 1 | chapter 2

————————————————————

Mino membuka pintu ruang kerja Taehyun sore itu namun ia tak menemukan Taehyun di sana, ia berjalan masuk ke dalam dan mendekat ke meja. Sebenarnya Mino sedang mencari peta wilayah Yunhyeong tapi sepertinya peta itu tidak berada di atas meja kerja Taehyun, ia justru menemukan secarik foto lama yang membuatnya tertarik. Mino lantas mengambil foto itu dan memperhatikannya dengan seksama, ia seperti mengenal sosok yang melingkarkan tangannya di bahu Taehyun.

“Apa yang kau cari, Mino-san?”

Sigap tangan Mino yang segera meremas foto itu dalam kepalan tangan kirinya dan segera menjauh dari meja kerja Taehyun. Suara Taehyun mengagetkannya yang tengah sibuk berpikir. Mino membungkuk kecil sebagai ganti sapaan ke bos-nya itu.

“Saya sedang mencari peta wilayah Yunhyeong, tuan. Tapi sepertinya tidak ada di sini.”

“Peta itu di sebelah sana.. Hime-chan, pergilah bermain dengan nona Han dan paman Oh. Daddy ingin bicara dengan paman Mino dulu.”

I love you, Daddy. Dah paman~”

Hime mencium pipi Taehyun dan berjalan membelakangi Taehyun lalu menghilang dibalik dinding. Setelah yakin puterinya pergi, Taehyun masuk lalu menutup pintu ruang kerjanya. Tatapannya kembali dingin, ia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursinya menunggu Mino yang tengah mengambil peta wilayah yang dicarinya.

Mino membentang peta wilayah itu di atas meja kerja Taehyun sementara Taehyun membuat dirinya nyaman dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Malam penyerangan itu akan berlangsung besok malam dan saat ini Mino tengah menjelaskan situasi terakhir di sana dan jumlah anak buah yang dimiliki Yunhyeong. Taehyun mengingat semua ucapan Mino dan memikirkan langkah apa yang harus ia ambil untuk bisa memuluskan pekerjaannya.

“Tuan. Saya rasa rencana penyerangan ini sudah diketahui Yunhyeong karena orang yang bertugas mengawasi Yunhyeong mengatakan bahwa Yunhyeong menambah kekuatannya di beberapa titik.”

“Begitu.. Apakah sudah ada kabar dari ketiga orang tetua yang kemarin? Apakah mereka akan membantu kita?”

“Ketua Yamasaki setuju membantu kita, ketua Takeda dan ketua Lee menolak.”

“Mereka menolak? Aku akan membuat mereka berubah pikiran.”

Taehyun beranjak dari kursinya dan berjalan keluar meninggalkan Mino. Mino kembali tertegun, ia melonggarkan genggaman tangannya dan kembali memandang foto usang itu.

 

 

.

 

“Bagaimana perkembangan kasus pembunuhan dan saksi kunci kasus itu, Seungyoon-ssi?”

“Saya sudah meminta petugas Go untuk berpatroli di sekitar rumah saksi sampai kasus ini terungkap pak. Dan mengenai tersangka, saya sedang mencari tahu tentang identitas tersangka.”

“Baiklah, aku akan meminta petugas Lee dan Kim untuk membantumu.”

Seungyoon keluar dari ruangan atasannya dan kembali ke meja kerjanya. Ia sebenarnya sudah tahu siapa orang yang ada di dalam sketsa itu, ia bahkan sudah lebih dulu meminta bantuan Seunghoon untuk mendapatkan informasi tentang orang itu. Awalnya Seunghoon menolak mengikuti permintaan Seungyoon tapi kemudian ia mengubah pikirannya.

“Ini illegal Kang Seungyoon. Jika pak kepala mengetahuinya, tamatlah riwayatku.”

Seunghoon meneguk habis soju yang terisi penuh di gelasnya lalu menuangkan isi botol itu ke dalam gelasnya kembali. Setelah melakukan investigasi dengan saksi kunci, Seungyoon mengajak rekannya itu untuk minum bersama. harusnya mereka tidak berdua saja, tapi Jinwoo memilih untuk pulang setelah menerima panggilan telepon dari istrinya.

“Aku tahu. Aku akan bertanggung jawab untuk itu. Tapi bantu aku Seunghoon-ssi.”

“Aku tidak mengerti kenapa kau sangat ingin mengetahuinya sebelum penyidikan resmi berlangsung. Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?”

Seungyoon tidak menyangka jika rekannya ini akan sepintar ini tanpa petugas Kim Jinwoo di sampingnya. Seunghoon menatap selidik kepadanya dan itu membuat Seungyoon semakin bingung apakah ia harus menceritakan semua kepada rekannya itu atau tidak. Ia cukup lama menimbang apakah rekannya ini perlu tahu atau tidak tentang hal yang membuatnya mendesak rekannya itu.

“Aku tidak akan membantumu jika—“

“Baiklah aku akan cerita…”

Seungyoon mulai menceritakan penyelidikannya selama ini, tentang kematian kedua orang tuanya, tentang alasan ia kembali ke Korea, lalu tentang bagaimana ia bisa mengenal salah satu orang yang ada di sketsa itu menggambarkan hubungan apa yang mereka miliki, juga tentang semua kecurigaan dan temuan di rumahnya yang mengarah pada orang itu. Kali ini ia tak berusaha menutupi apapun lagi karena sudah tiba bagi dirinya untuk mengungkap semua.

Raut wajah Seunghoon selama mendengarkan cerita Seungyoon selalu berganti-ganti tapi yang paling terarsir jelas adalah raut ketegangan dari wajah putih Seunghoon. Ia sangat serius mendengarkan cerita Seungyoon, beberapa kali terlihat mengangguk tanda memahami cerita Seungyoon dan terkadang ia menunjukkan rasa iba kepada rekannya itu.

“Sebenarnya aku ingin menolak bahwa dia adalah satu-satunya kemungkinan pelaku pembunuhan orang tuaku, tapi semua bukti yang aku temukan terlalu mengarah padanya. Mau tidak mau, aku harus menyelidikinya untuk mengetahui semua.”

“Aku akan membantumu, Seungyoon-ssi.”

“Terima kasih. Aku memerlukannya segera.”

Seungyoon keluar dari ruangan atasannya, berjalan kembali menuju meja kerjanya dan duduk menghadap komputer lalu mulai mengetikkan sesuatu di sana, seketika saja deretan kata muncul di dalam tabel. Seungyoon mengarahkan kursor-nya ke icon printer dan kurang dari sedetik mesin printer mulai bekerja.

“Itu adalah semua data yang kau minta.”

“Terima kasih, aku tidak mengira ternyata kau bisa diandalkan.”

“Ya… Maksudmu apa huh? Aku menggunakan semua koneksiku untuk mendapatkan itu.”

“Hahaha… Kau yang terbaik Seunghoon-ssi.”

Seunghoon menunjukkan dua jarinya ke Seungyoon lalu pergi dengan hati yang senang karena mendapat pujian dari rekan kerjanya yang entah bagaimana dia mendeskripsikan Seungyoon yang seorang detektif dari Amerika.

Seungyoon mengambil kertas-kertas yang sudah tercetak informasi yang berhasil dikumpulkan Seunghoon. Ia mulai membaca setiap baris yang tercetak di sana

[Nam Taehyun, 30 tahun. Tahun 2014 imigrasi ke Jepang.

Winter 2014, Pernah bekerja sebagai kuli bangunan pada proyek pembangunan rumah susun di Osaka,

Spring 2015, Terlibat perkelahian dengan seorang anak buah yakuza dan dipenjara selama 6 bulan.

Winter 2015, Pindah ke Tokyo.

Summer 2020, Bekerja di jaringan Yakuza sebagai pengawal pribadi Watanabe Hyugi…]

“Seungyoon. Ke ruanganku sekarang.”

 

========= Blue Garnet ===========

 

“Hime-chan… Apa kau ingin pergi ke bukit yang pernah Daddy ceritakan itu?”

“Apa Daddy akan mengajakku ke sana?”

“Eung… Daddy akan mengajakmu ke sana tapi Daddy punya pekerjaan di sini yang belum selesai. Sore ini, pergilah dengan nona Han ke airport. Di sana paman Lee akan menemuimu dan nona Han, ikutlah paman Lee. Dia akan mengajakmu ke bukit itu.”

“Lalu Daddy?”

“Daddy masih ada pekerjaan di sini tapi Daddy janji akan menyusulmu begitu pekerjaan Daddy selesai. bagaimana Hime-chan?”

“Janji?”

“Janji!”

Hime memeluk Taehyun dengan riang, ia merasa bahagia akhirnya bisa berlibur dengan ayahnya ke pulau Nami yang selalu ayahnya ceritakan. Taehyun balas memeluk Hime, ia mencium lembut aroma strawberry dari rambut panjang cokelat milik puteri tunggalnya. Setiap hari ia selalu merasa seperti seorang pemuda yang jatuh cinta kepada kekasihnya acap kali mereka bertemu dan menghabiskan waktu berdua seperti pagi ini.

Taehyun tak pernah membayangkan bagaimana harinya bila Hime tak pernah lahir di dunia, sudah pasti ia akan menjadi manusia tanpa hati atau mungkin ia akan gila karena melarutkan dirinya dalam kesedihan karena ditinggal Aiko.

Hime mulai merenggangkan pelukannya, begitu juga dengan Taehyun.

“Daddy…”

“Eung?”

“Berjanjilah untuk menyusulku. Janji yang benar-benar janji. Janji yang tidak akan Daddy ingkari.”

“Eee~ Puteri Daddy kenapa? Tumben sekali ingin janji seperti itu. Apa Hime-chan takut Daddy ingkar?”

Hime menggeleng kecil namun raut wajahnya berkata lain. Seolah memahami yang terjadi dibalik sikap ayahnya, Hime terlihat rapuh tak seperti biasanya hingga membuat Taehyun memutar otak untuk mengalihkan rasa khawatir Hime tentang dirinya.

“Apa kau mau kita makan eskrim? Kita bisa makan eskrim dulu sebelum Hime-chan ke bandara. Bagaimana?”

“Tidak mau. Aku mau bersama Daddy. Ceritakan satu kisah tentang Seoul dan Daddy padaku.”

.

.

“Baiklah Tuan, saya akan memberitahukan ini padanya. Tuan… Bagaimana dengan puterinya?”

“Baik, Tuan. Akan saya laksanakan.”

Mino memutus sambungan telepon sambil tetap memandang ke halaman dimana Taehyun baru saja beranjak pergi bersama puteri kecilnya menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Kemudian Mino mengalihkan pandangannya ke foto yang ia genggam sedari tadi.

“Hanya keluarga ini satu-satunya yang mempunyai permata blue garnet, ini info tentang mereka.”

Mino memegang map dan mulai membukanya, tertulis nama Kang Youngji dengan umur 63 tahun dan nama istri Na Rin 60 tahun lengkap dengan alamat mereka juga tentang anak mereka yang tidak tinggal bersama mereka lagi. Ia juga menerima amplop dengan tiket pesawat di dalamnya.

“Kau akan dibantu oleh beberapa anak buah ketua Ryugi di sana.”

Mino mengangguk dan pergi bersama map yang diterimanya. Ia segera menaiki mobil yang sudah menunggunya di pintu depan kediamannya menuju bandara untuk segera terbang ke Seoul. Sekali lagi Mino membaca data yang ia terima dan mengingat kembali perintah yang ia dapatkan.

Dering ponsel membuatnya menghentikan kegiatannya dan menjawab penelepon itu. ia kembali mendengarkan detil dari tugas yang ia terima. Mata menatap lalu lintas di depannya namun menyiratkan aura pembunuh yang dalam.

Pandangan Mino tak lepas dari isi map itu, ia memandangi foto kedua suami istri itu dengan tatapan dingin sekalipun pesawat sudah mendarat di Gimpo airport. Ia memakai kaca mata hitam dan menarik penuh leather jacket dengan warna senada dengan kaca mata yang ia kenakan, berjalan keluar dari pesawat dengan angkuh dan dingin.

Sampai di lobi airport tak butuh waktu lama baginya untuk mengenali orang yang akan membantunya dalam tugas kali ini karena orang itu adalah teman yang pernah berlatih bersama di Jepang. Mereka berjabat tangan sesaat lalu bersama berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka.

“Aku akan membantumu dalam tugas kali ini.”

“Yah aku sudah tahu itu. Besok kita akan melaksanakan eksekusinya. Apa kau sudah mengatur semuanya?”

“Sudah. Besok kita akan menjadi petugas yang akan memeriksa kebocoran selang gas mereka, aku akan membuat mereka sibuk sementara kau menaruh bubuk karbon monoksida dalam perapiannya lalu kematian mereka akan telihat alami.”

 

 

 

 

“Kau sudah siap, sayang?”

“Sedikit lagi, Daddy. Apa Daddy akan mengantarku?”

“Maafkan Daddy, sayang… Dengarkan Daddy, Hime-chan tidak boleh memberitahukan kemana Hime-chan pergi. Tidak juga ke paman Mino. Jika ia memaksa untuk tahu, katakan saja bahwa Hime-chan akan ke busan bertemu dengan kakek di sana. Hime-chan mengerti?”

Hime mengangguk penuh dan tersenyum lalu memeluk Taehyun dengan erat. Taehyun mengecup lembut bahu puterinya lalu menggendong Hime dan berjalan keluar dari kamar puterinya membawanya ke ruang kerja dimana nona Han pengasuh Hime dan paman Oh supir pribadi yang juga orang kepercayaan Taehyun sudah menunggu kedatangan mereka.

“Ada info bahwa Taehyun dan anak buahnya yang lain akan menyerang wilayah Yunhyeong malam ini. Sebaiknya kau berjaga di dekat rumah Taehyun, aku akan berjaga di rumah seorang Yakuza yang akan membantu Taehyun dalam penyerangan ini. petugas Kim dan beberapa staff akan berjaga di sekitar wilayah Yunhyeong.”

“Darimana kau mendapat info ini, Seunghoon-ssi?”

“Itu… Ah seperti yang aku bilang tadi, aku mengerahkan semua koneksiku untuk menyelesaikan kasus ini.”

“Hahaha.. Kau memang hebat petugas Lee.”

Jinwoo menunjukkan jempol dengan jari yang lain terlipat kepada Seunghoon, ia menjadi salah tingkah melihat rekannya yang lain menjadi kagum pada kemampuannya. Seungyoon tak kalah memberikan senyumannya kepada rekannya itu. Setelah itu, mereka mulai bergerak ke lokasi yang sudah Seunghoon berikan tadi.

Seungyoon membawa serta map berisi info tentang Taehyun bersamanya, ia belum sepenuhnya selesai membaca informasi itu. Sepuluh menit perjalanan menuju rumah Taehyun, Seungyoon dikejutkan dengan kenyataan bahwa hasil sidik jari dari Balisong itu sudah diketahui dan orang yang menggunakan Balisong itu untuk membunuh pengusaha kasino itu adalah Nam Taehyun, orang yang juga ia curigai sebagai pembunuh kedua orang tuanya untuk mencuri permata blue garnet milik keluarganya.

“SHIT!! Kenapa harus kau, Nam Taehyun?!?! Aku sudah menghindari berurusan denganmu tapi mengapa semua harus berakhir dengan namamu?”

Seungyoon melampiaskan kekesalannya dengan memukul stir mobilnya. Ia benar-benar tidak habis pikir setelah 12 tahun berlalu, ia akan kembali berurusan dengan mantan sahabatnya Nam Taehyun.

“Aku dengar dia sengaja melakukannya, Seungyoon-ah. Dia iri karena kau menjadi perwakilan sekolah untuk pertandingan taekwondo tingkat kota.”

“Yah yang aku dengar juga begitu.”

Seungyoon yang berumur 18 tahun saat itu hanya bisa memandang keluar jendela kamar rawatnya, ia bisa melihat dengan jelas langkah kaki Taehyun yang semakin menjauh dari rumah sakit. Tangannya sudah meremas seprai ranjangnya dengan sangat erat bahkan ucapan dari teman-temannya tidak lagi ia dengar, telinganya berdenging hampa lalu detak jantungnya yang berdetak kencang mulai terdengar memenuhi rongga kepalanya. Ia sangat marah dengan Taehyun, bagaimana bisa ia dengan sengaja menyerang bagian lutut yang notabene-nya tidak termasuk dalam area sasaran.

Sejak kejadian itu juga, Seungyoon tak pernah melihat Taehyun berada di sekolah atau bahkan tidak pernah lagi datang ke rumah. Seungyoon sendiri tak mencarinya karena hatinya masih dipenuhi kebencian kepada Taehyun.

Seungyoon berhenti dengan jarak kurang dari 50 meter dari rumah Taehyun, sesaat ia menelisik mencoba mendapatkan sesuatu yang mungkin bisa ia tambahkan ke dalam laporannya nanti. Tapi karena tidak ada pergerakan berarti, Seungyoon kembali membaca data yang ia bawa tadi.

[Dijuluki ‘Knife Prince’ karena keahliannya menggunakan balisong lebih hebat daripada samurai.

Nama Jepang Nam Taehyun adalah Aoki Kanaro.

Istri Rin Aiko, menikah musim semi 2017.

Puteri Aoki Hime, lahir musim dingin 2018.]

Sebuah mobil keluar dari gerbang utama kediaman Taehyun, Seungyoon telah waspada dan saat mobil itu melintas, bukanlah mobil yang ditumpangi Taehyun. Ia melihat seorang gadis kecil yang ia yakini sebagai puteri Taehyun dan seorang wanita dewasa di dalamnya. Ia ingin mengikuti mobil itu tapi fokus sebenarnya adalah Taehyun hingga akhirnya Suengyoon menghubungi seorang kenalannya untuk mengikuti mobil itu.

 

========= Blue Garnet ===========

 

“Tuan, ada perubahan rencana.”

Mino bergegas memberitahu Taehyun yang baru keluar dari ruang kerjanya. Wajahnya tidak menunjukkan sesuatu yang Taehyun harapkan namun ia masih memandang dingin Mino. Ia terus berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mulai bersiap.

“Tuan Watanabe menginginkan anda untuk menyerahkan blue garnet ke tuan Freddy malam ini.”

“Bagaimana dengan penyerangannya?”

“Tuan Yamasaki akan menanganinya untuk anda.”

Taehyun tertegun sesaat, baginya ini sedikit tidak biasa. ia mengenal tuan Watanabe dari tahun 2015 lebih tepatnya sejak ia keluar dari penjara dan tuan Watanabe hanya akan mengganti tugas pengikutnya jika pengikutnya itu memiliki sebuah masalah dengannya saja. ia tidak tahu ada rencana apa dibalik perubahan ini tapi ia akan lebih hati-hati mulai dari sekarang.

“Baiklah. Dimana aku harus bertemu dengan tuan Freddy?”

Mino memberitahukan lokasi pertemuan dengan pemilik permata blue garnet yang baru dengan Taehyun yang persiapannya hampir selesai. Taehyun berkaca, penampilannya tidak sembarangan. Sekalipun ia akan berkelahi nantinya, penampilannya menjadi hal yang penting dalam menjaga mood-nya. Kali ini ia menggunakan leather jacket berwarna cokelat tua hampir hitam dengan zipper full menutupi pakaian di dalamnya. Celana yang ia gunakan berbahan semi-jeans dengan bahan yang kentur dan lembut untuk memudahkannya bergerak. Sarung tangan tak ketinggalan bersamaan dengan balisong yang terselip di dalam leather jacketnya.

Taehyun mengambil permata blue garnet dari kotak kecil di dalam lemari pakaiannya dan menyimpannya di saku jaket sebelah kanan. Ia berbalik dan mendapati Mino masih berdiri di dekat pintu kamarnya.

“Kau ikut dalam penyerangan atau bersamaku?”

“Saya ikut dalam penyerangan.”

Taehyun mengangguk samar dan berjalan keluar dari kamarnya.

Langit senja yang sudah menghitam membuat Seungyoon melirik jam tangannya, pukul 10 malam, sebuah mobil sedan keluar dari gerbang utama. Seungyoon memperhatikan seksama siapa orang yang mengendarainya.

“Itu dia!”

Setelah mobil sedan hitam itu melewatinya, Seungyoon segera menghidupkan mesin mobil dan memutar arah untuk mengikuti mobil yang ia yakini ada Taehyun di dalamnya. Di dalam mobil yang Taehyun kendarai, sesekali ia memandangi kotak kecil yang ia taruh di atas dashboard, ingatannya kembali ke waktu pertama kali ia menerima  blue garnet ini dari Mino.

“Sebuah keluarga di Seoul? Ini adalah permata langka, keluarga Seoul seperti apa yang menyerahkan batu ini pada tuan Watanabe?”

Laju mobilnya tidak terhenti kecuali oleh lampu lalu lintas, ia harus menyerahkan permata ini di area parkir pusat perbelanjaan yang ada di pinggir kota. Taehyun menerima telepon dari nona Han yang menyatakan bahwa mereka sudah tiba di tempat yang ia tentukan dan Hime sudah tertidur dalam perjalanannya menuju villa.

Helaan nafas lega mengiringinya, tapi kemudian ia menarik nafasnya karena perjalanan satu jam ke pusat perbelanjaan sudah akan berakhir karena lokasi itu sudah terlihat di depan matanya. suasana yang sudah sepi dengan lampu dari pusat perbelajaan yang sudah berkurang karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Perlahan Seungyoon mengurangi kecepatannya, ia mematikan lampu mobilnya dan menghentikannya di pinggir jalan sebelum akhirnya ia benar-benar masuk tiga menit berselang setelah mobil Taehyun masuk. Ini tidak seperti lokasi yang dimaksud Seunghoon untuk melakukan penyerangan antar Yakuza. Lalu untuk apa Taehyun ke sini?

Taehyun melambankan laju mobilnya, dari kejauhan sudah terlihat sebuah mobil yang memberinya sinyal dengan lampu jauh. Ia baru benar-benar menghentikan mobilnya ketika jarak antara mereka tersisa kurang dari 10 meter. Ia mempersiapkan dirinya jika terjadi sesuatu, sebuah revolver ia ambil dari laci dashboard mobilnya dan ia selipkan di pinggangnya, kemudian ia mengambil kotak kecil dengan isi permata blue garnet itu dan keluar dari mobil. Dari arah berlawanan, seorang pria asing berdiri di depan mobil range rover hitam dengan dua orang yang berdiri di kanan-kirinya menunggu Taehyun yang berjalan mendekat.

Sementara Seungyoon yang berada selantai di bawah lokasi Taehyun, segera menaiki tangga darurat yang ada di parkiran. Ia berjalan mengendap-endap diantara kegelapan, perlahan ia mulai mendengar percakapan yang terjadi di sana.

“Dimana permatanya?”

“Ada bersamaku. Kau tidak perlu khawatir.”

Taehyun menunjukkan permata itu dari kotak yang ia buka. Freddy tersenyum melihat permata itu ada, ia memberi perintah agar Taehyun melempar permata itu kepadanya. Jarak mereka tidak berubah, keduanya berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat. Taehyun melempar kotak yang berisi blue garnet itu ke arah Freddy.

“Terima kasih. Bereskan!”

Freddy masuk ke dalam mobil meninggalkan dua anak buahnya di hadapan Taehyun, mobilnya melaju melewati Taehyun begitu saja. smirk muncul dari wajah dingin Taehyun menandakan ia telah tau hal ini akan terjadi.

Satu persatu anak buah Freddy muncul dari kegelapan dan membentuk barisan yang siap menyerang Taehyun kapanpun seperti kumpulan macan yang kelaparan dan menunggu mangsanya untuk bergerak melarikan diri. Seungyoon yang memperhatikan dari jauh mulai meraih senjata yang ia sematkan di jeans yang ia kenakan. Ia sudah siaga untuk melakukan penyergapan tapi sepertinya tersangka yang ia incar sedang mendapat masalah.

“Siapa yang menyuruh kalian seperti ini?”

“Kau sudah tidak berguna lagi, Nam Taehyun.”

Langkah orang-orang itu mulai menggema di area parkir itu, gesekan pemukul baseball dari besi semakin jelas terdengar namun Taehyun masih tidak bergeming. Ia masih berdiri di tempatnya seolah menunggu siapapun dari mereka menyerang lebih dulu.

“Aku memang sudah muak berada di dunia ini.”

“Jangan banyak bicara, serang!!!”

Derap langkah itu semakin menderu, langkah kaki mereka berubah menjadi sebuah larian. Dua dari mereka mulai melayangkan pemukul baseball ke arah taehyun, dengan segera Taehyun menghindar ke belakang, lalu ia berlari menghindar dari mereka. Seungyoon yang daritadi memperhatikan perlahan sudah jalan mendekat. Ia dengan sigap menarik seorang dari mereka dan memukulnya tepat di bagian perut lalu memukulnya di antara leher dan bahu hingga pingsan.

Taehyun telah berhasil melumpuhkan lawannya, dengan kemampuan pisau yang ia miliki. Balisongnya telah melukai setidaknya tiga orang dari banyaknya orang yang menyerangnya saat ini. Kehadiran Seungyoon sudah mulai disadari oleh anak buah Freddy. Mereka secara spontan membagi pasukan menjadi dua.

Seungyoon sebenarnya menjadi ragu untuk melawan mereka mengingat lututnya beberapa sering terasa ngilu karena terlalu lama bergerak. Tapi ia tak punya pilihan lain, bukan untuk membantu Taehyun tapi untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena saat ini ia telah menjadi sasaran mereka.

Selagi keduanya sibuk menghadapi orang-orang yang menyerangnya, seseorang memperhatikan mereka dari jauh, tangannya sudah berada pada posisi siap menembak. Matanya sedang mengunci sasarannya yang masih sibuk menghadapi beberapa orang suruhannya.

-DOR-

Tembakannya meleset, ia justru mengenai rekannya sendiri. Taehyun dan Seungyoon otomatis terkejut melihat seseorang tertembak bahkan diantara mereka yang ada di sana tidak ada yang memegang tembakan. Taehyun segera mengalihkan tempat dengan menghindari lokasi itu, ia masuk ke dalam kegelapan bukan hanya untuk mengaburkan pandangan tapi juga untuk mencari tahu si penembak. Seungyoon terjatuh, lengan kirinya terkena pukulan ketika ia lengah tadi.

“Sial!”

Desis Seungyoon. Ia segera bangkit dan menangkis pukulan yang kembali datang untuknya. ia menarik pemukul itu hingga membuat orang yang memegangnya mendekat, lalu ia segera memukul pergelangan tangan orang itu hingga genggamannya melemah, saat itulah Seungyoon mengambil pemukul dan bergegas memukul kepala orang itu hingga terjatuh.

Suara tembakan lainnya terdengar, Seungyoon bergegas menyelesaikan urusannya dengan menghajar orang-orang itu dengan pemukul yang ada di tangannya dan membuat mereka tak berdaya. Perlahan ia menghilang di antara kegelapan.

Taehyun dengan keahlian yang ia punya tetap saja merasakan pukulan demi pukulan yang dilayangkan kepadanya. Bibirnya sudah robek, begitu juga pelipisnya. Tapi ia tak melemah, ia semakin giat menghajar orang-orang itu sekalipun beberapa kali terdengar suara tembakan.

Seungyoon masih mencari lokasi orang yang memegang senjata di antara gelapnya sisi parkiran, hingga ia mendengar suara gesekan di lantai parkiran. Ia merasa semakin dekat dengan posisi orang itu, dari balik mobil yang terparkir di dekatnya, ia menemukan orang itu. memperhatikannya sesaat ketika orang itu hendak menembak ke posisi Taehyun yang terlihat.

-BUGH-

Seungyoon menendang orang itu hingga tersungkur ke depan dan senjatanya terlepas dari pegangannya. Seungyoon segera mendekat dan menarik orang itu untuk kembali memukulnya namun seketika tubuh Seungyoon membeku dan ia mematung begitu saja melihat orang yang berdiri di hadapannya saat ini.

“Petugas Lee?”

Lirih Seungyoon. Seunghoon yang sudah terlanjur ketahuan memanfaatkan kesempatan ini untuk memukul Seungyoon. Ia mengarahkan pukulannya ke bagian wajah Seungyoon hingga membuat Seungyoon terjatuh ke kanan. Dan segera mengambil kembali senjata yang terjatuh tadi lalu mengarahkannya ke kepala Seungyoon.

“Kau terkejut, Kang Seungyoon? Ah harusnya aku menembakmu lebih dulu tapi perintahku hanya menembak dia, sahabatmu.”

Taehyun masih sibuk meladeni dua orang terakhir yang ada di hadapannya. Ia masih bertahan dengan sisa tenaga yang ia miliki dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Taehyun dengan wajah yang penuh keringat, rambut yang sudah basah, sudah tak lagi memegang balisongnya setelah sebelumnya balisongnya terjatuh. Sayatan di lengan kirinya mengalirkan darah yang tak lagi deras seperti sebelumnya.

Ia menghajar orang yang menyerangnya dengan samurai dan melumpuhkan orang itu hingga samurainya terlepas dari genggamannya, saat itulah Taehyun meraih samurai dan menyayatkan samurai itu di perut orang terakhir dan menusuk seorang yang tadi memegang samurai dengan menghunuskan samurai itu tepat di tengah perut orang itu saat ia akan menyerang dirinya lagi.

Taehyun diam sesaat, nafasnya tersengal dengan keringat yang sudah bercampur darah. perlahan ia menyelinap di antara kegelapan dan mencari waktu yang tepat untuk menyerang Seunghoon yang masih mengoceh ke Seungyoon.

Taehyun memulai ancang-ancang untuk mendekat dan seketika saja teriakan muncul dari bibir tipis Seunghoon bercampur dengan bunyi senjata yang jatuh. Mata Seungyoon membelalak melihat kucuran darah segar mengalir dari tangan Seungyoon.

“AAAACCCCKKKKKKK…”

Seunghoon memegangi tangannya yang terus mengeluarkan darah segar, ia merasakan sakit dengan amat sangat. Taehyun melirik sinis ke arah Seunghoon, Seungyoon segera bangkit masih dengan wajah terkejutnya.

“TAI!!!! KAU MEMOTONG TANGANKU!!! BRENGSEK KAU NAM TAEHYUN!!! HARUSNYA AKU MEMBUNUHMU DARITADI!! AAACCKKK!!!”

Seunghoon meracau dengan rasa sakit yang ia derita. Seungyoon segera melepaskan kemeja yang melapisinya dan langsung menutup luka Seunghoon dengan kemejanya itu.

“HEY!! Biarkan saja dia menderita, mengapa kau membantunya?”

Seungyoon tak menggubris ucapan Taehyun, setelah menolong Seunghoon ia segera menghubungi kantor polisi untuk melaporkan kejadian di sini, namun dengan cepat Seunghoon menendang Seungyoon dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga tubuh Seungyoon terhuyung ke belakang lalu lari dan menghilang di kegelapan.

Taehyun mendengus kesal melihat yang Seungyoon lakukan. Ia membantu Seungyoon berdiri lalu berjalan dengan menenteng samurai di bahunya.

“Tunggu!!”

“Aku harus menghajar Song Mino dan rekanmu itu.”

“Kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan!”

“Nanti saja tangkap aku jika aku sudah berhasil membunuh mereka.”

“Tunggu!!”

Sekali lagi Seungyoon menghentikan langkah Taehyun, ia yang sudah menggeram dengan tingkah Seungyoon berbalik dan mendatanginya dengan wajah penuh kekesalan.

“Aku akan membunuhmu jika mereka berhasil lari dan mengincar anakku!”

“Mengapa permata blue garnet itu ada padamu? Apa kau mencurinya?”

“Apa aku lebih terlihat seperti pencuri daripada pembunuh?”

Taehyun berbalik dan berjalan pergi namun sekali lagi langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaan Seungyoon. Iris hazelnya membulat dan membawa semua kejadian terulang dalam benaknya.

“Apa kau yang membunuh orang tuaku?”

Taehyun ingat tentang bagaimana Mino mendapatkan permata itu, dan mengapa harus ia yang memberikan permata itu pada Freddy.

“Bukan aku yang membunuh mereka, tapi aku tahu siapa pembunuhnya. Kalau kau ingin bergabung denganku tanpa polisi dulu, silakan. Jika tidak, jangan halangi aku. Aku tidak akan segan-segan melukaimu!”

Taehyun mulai berlari seolah tahu kemana ia akan pergi. Seungyoon masih diam di tempat ia berdiri, seolah berpikir dan akhirnya ia menyusul Taehyun ke lantai bawah, decitan mobil sudah terdengar, membuat Seungyoon semakin mengencangkan larinya.

Mobil yang Taehyun kendarai berhenti saat ia melihat Seungyoon berdiri, ia memberi kode agar Seungyoon masuk.

“Aku memang tidak menyukaimu menjadi perwakilan sekolah di ajang taekwondo tingkat kota, dan sengaja melukaimu tapi aku tidak pernah tahu bahwa itu justru membuatmu tidak bisa latihan lagi dan menjadi atlit taekwondo seperti cita-citamu dulu,”

“Sulit untuk bisa terus menjadi temanmu setelah kejadian itu, jadi aku memilih untuk pergi. Tapi rasa bersalah itu terus menyiksaku. Hingga aku putuskan untuk pergi ke Jepang. Lalu aku tidak pernah tahu apapun lagi tentang keluargamu sampai saat aku mendapat kabar dari pamanku bahwa orang tuamu meninggal.”

Entah darimana asalnya, saat ini Taehyun tengah mengeluarkan ganjalan di dalam hatinya yang kadang membuatnya kesulitan bernafas karena bayang-bayang rasa bersalah pada Seungyoon. Mata Seungyoon tak bergeming, ia masih menatap jalanan kota Seoul yang sepi dan hanya mendengar pengakuan Taehyun tanpa ingin menyela.

“Aku tidak pernah tahu siapa pemilik permata itu dan baru menyadarinya beberapa menit yang lalu. Aku dijebak, kau dijebak. Harusnya kita mati malam ini tapi sepertinya takdir berkata lain,”

“Apa kau tahu Seunghoon adalah salah satu dari mereka?”

“Seunghoon adalah seorang yakuza, ia sebenarnya orang Jepang, nama Jepangnya adalah Harada Ryugi. Watanabe sengaja mengirimnya sebagai mata-mata di kepolisian, dan aku rasa laporan tentang kau yang mencari pembunuh orang tuamu sudah sampai di Watanabe.”

Seungyoon masih diam, ia baru sadar tentang semua informasi yang ia dapatkan dari Seunghoon. Harusnya ia sadar tentang itu, paling tidak ia harus mencurigai Seunghoon. Ucapan Taehyun tak lagi memenuhi kepalanya, ia masih merasa sangat bodoh tidak mencurigai rekannya sendiri.

Taehyun menghentikan mobilnya, ia menajamkan pandangannya diantara kegelapan yang ada di depannya. Seungyoon sudah kembali ke realita, ia ikut melihat keadaan yang ada di depannya.

“Aku rasa, Mino dan Ryugi ada di sana. Penyerangan ke Yunhyeong pasti sudah ditangani orang lain. Ayo turun!”

Taehyun mengambil samurai yang tadi dibawanya dan turun dari mobil, berdiri di depan mobil menunggu Seungyoon yang sedang berperang melawan sisi dirinya yang lain untuk turun. Matanya sangat mawas, geram karena Seungyoon tak juga keluar dari mobil, Taehyun menepuk kaca mobil sedikit kencang untuk membuat Seungyoon sadar.

Keduanya berjalan mengendap-endap mendekat ke sebuah rumah yang tak berpagar dan kecil, rumah persembunyian ini diketahui Taehyun saat ia masih di Jepang. Beberapa Yakuza yang melarikan diri akan tinggal di sini selama beberapa waktu, ini juga rumah yang tadinya akan menjadi tempat tinggalnya waktu ia tiba di Korea namun ia tidak mau menggunakan rumah ini.

Beberapa penjaga lewat lengkap dengan samurai yang bertengger di pinggang mereka, Taehyun menarik Seungyoon menyandar ke dingding dan menyembunyikan diri di balik kegelapan. Saat penjaga itu mulai tidak terlihat lagi, Taehyun kembali mendekati pintu masuk.

“Berhenti!”

Bukan hanya Seungyoon yang menegang, Taehyun pun menegang mendengar ada yang menegur mereka dari belakang. Langkah kakinya memenuhi gendang telinga keduanya yang masih tak berbalik, desisan samurai yang keluar dari tempatnya menambah tingkat kewaspadaan mereka.

-Bugh-

Seungyoon menyikut perut orang itu begitu posisinya sudah tepat berada di belakangnya, suara ringisan orang itu terdengar. Taehyun berbalik dan melawan seorang lagi dengan samurainya. Keduanya beradu samurai, bunyi samurai yang bertemu membuat orang-orang yang ada di dalam rumah menjadi panik.

Mino dan Seunghoon terlihat panik sekalipun mereka hanya menegang di tempatnya.

“Brengsek! Kalian halangi mereka di depan pintu. Aku dan Seunghoon akan pergi lewat pintu belakang. Ingat! Taehyun adalah pemberontak, sebaik apapun Taehyun pada kalian dulu sekarang dia adalah pemberontak!”

Suara Mino bergetar saat memberi perintah itu, ia sendiri tak merasa yakin bisa menghadapi Taehyun sendirian. Seunghoon masih terus memegangi tangannya yang meskipun sudah terbalut kemeja yang Seungyoon berikan tadi masih mengeluarkan darah, sesekali ia meringis kesakitan. Keduanya bergegas menuju dapur.

Setelah selesai dengan yang di luar, Seungyoon sudah tiba di depan pintu. Kakinya yang panjang sudah siap untuk menendang pintu itu namun belum sempat kaki itu melayang, Taehyun lebih dulu menariknya.

“Kita lewat belakang saja.”

Taehyun berbisik sambil menunjuk arah lain. perlahan keduanya meninggalkan pintu depan dan bergegas menuju pintu belakang. Seperti dugaan Taehyun, dua orang yang mereka cari terlihat sedang bergegas keluar dan pergi menuju mobil terdekat.

“Kau memang pengecut Song Mino-ssi.”

Langkah mereka terhenti, senyum mengejek muncul dari wajah dingin Taehyun. Ia merasa puas karena sudah berhasil membuat Mino ketakutan. Seunghoon melirik sesaat ke Mino, melihat apa yang dilakukan oleh orang itu dan senyum kelicikan muncul dari bibir tipisnya.

-DOR-

Seungyoon bergegas mengambil pistol di belakang pinggangnya dan menembak Mino tepat di dadanya hingga ia terjatuh begitu saja, Seunghoon bergegas menghindar namun Seungyoon menembaknya tepat di paha kanannya dan sekali lagi teriakan keras muncul dari bibir Seunghoon yang melampiaskan kesakitan. Seungyoon kembali melepaskan tembakannya setelah melihat kemunculan beberapa anggota yakuza yang muncul dari balik pintu. Ia menembaki dengan penuh amarah dan kekesalan.

Keheningan menyeruak, sesekali terdengar umpatan dari Seunghoon yang terduduk di atas tanah sambil memegangi kakinya. Seungyoon terduduk lemas melihat yang sudah ia lakukan, selang beberapa detik suara ringisan terdengar di telinganya. Ia bergegas menghampiri Taehyun yang tergeletak di tanah, sebuah peluru menembus sela antara dada dan perutnya. Seungyoon menutup luka Taehyun berharap tangannya dapat mengurangi darah yang keluar.

Tangan satunya melempar pistol ke tanah dan merogoh ponsel dari saku celananya, ia menghubungi kantornya untuk meminta bantuan dan mengirim ambulance. Matanya tak lepas dari wajah Taehyun, tak ada lagi dendam yang ia rasakan pada pria yang tengah melawan maut di hadapannya ini.

“Bertahanlah, Taehyun. Ambulance akan segera tiba.”

“Ten—tu saja a—ku harus ber—ta—han. Hime sedang menung—guku. K—kau bo—doh seka—li, he.”

Seringai mengejek muncul dari wajahnya yang tengah menahan sakit, langit yang gelap sudah mulai berganti terang hingga Seungyoon mampu melihat seringai itu dari wajah yang entah apa saat ini Seungyoon menganggapnya, musuh atau teman.

 

========= Blue Garnet ===========

 

Seungyoon menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga, dengan setelan jas hitamnya ia melangkah masuk ke dalam toko bunga mencari bunga desy lengkap dengan hiasannya. Wajah tirusnya tak lagi terlihat kaku, lingkar hitam di matanya pun sudah tak terlihat lagi. Sebuah senyuman sudah menghiasi bibirnya saat ini.

“Untuk siapa bunga ini, paman?”

“Untuk orang tua paman. Sebelum kita menjenguk ayahmu, kita ke rumah makam untuk menjenguk orang tua paman dulu ya. Tidak apa-apa kan, Ahreum-ya?”

“Apa orang tua paman juga sakit?”

“Paman rasa, mereka tidak sakit lagi. Mereka pasti sedang bahagia.”

Cuaca yang cerah, angin musim panas yang menyejukkan, dan seorang gadis kecil yang cantik menambah kehangatan di dalam hidupnya. Iris hazelnya sesekali melirik gadis kecil yang duduk di sebelahnya, ia merasa seperti mempunyai seorang puteri sejak gadis kecil ini tinggal bersamanya.

 

 

.

 

“Daddy…”

Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam pelukan pria yang mengenakan pakaian berwarna abu-abu. Memeluknya dengan sangat erat, menghantarkan segala kerinduan yang ia rasakan melalui sentuhan-sentuhan yang diberikannya.

“Ahreum semakin besar dan lihat… Woaah… Tingginya sudah di atas perut daddy.”

Pria itu tertawa bahagia melihat perkembangan puterinya, matanya memancarkan kerinduan juga kekaguman terhadap puteri tunggalnya yang menurutnya semakin terlihat seperti ibunya. Seungyoon hanya berdiri melihat pemandangan di depannya, ia memperhatikan wajah pria yang tengah bersenda gurau dengan Ahreum, kumis dan janggutnya sudah semakin berkurang sejak terakhir ia mengunjunginya namun wajah tirus itu belum berubah.

“Kau merawatnya dengan baik, Kang Seungyoon.”

“Tentu saja, aku harus merawat calon isteriku dengan baik.”

“Ya! Aku ayahnya dan aku tidak akan mengizinkan puteriku menikahi ahjushi seperti kau.”

“Ahreum-ya… Ayahmu tidak mengizinkan kita menikah, bagaimana ini?”

Ahreum menoleh lalu mendekat ke ayahnya. Ia berbisik lalu kembali sibuk dengan barang-barang yang ia siapkan untuk ayahnya selama masa tahanan yang hanya tinggal satu bulan lagi.

“Kau melakukan apa padanya? Dia berbisik untuk diizinkan menikah denganmu.”

Gelak tawa menyeruak di ruang pertemuan, Ahreum tersipu malu sementara ayahnya melotot ke arah Seungyoon. Sudah tiga tahun sejah kejadian itu ia hidup bersama Ahreum dan bulan depan ia dan Ahreum akan menyambut kebebasan temannya itu.

“Kau suka nama koreanya?”

“Aku tidak bisa protes walaupun aku lebih menyukai nama Hime daripada Ahreum.”

“Hahaha… Tapi, apa kau tidak apa-apa aku mengganti nama keluarganya?”

“Sejauh dia tidak memanggilku dengan sebutan paman, aku tidak masalah. Lagipula ini untuk keselamatannya. Watanabe tidak akan dengan mudah melepaskan kami.”

.

.

-END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s