THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

 

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from Gwangdam Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager (another side : Gwangdam’s palace witch Kim Ahyoung)

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Junghwa High School’s new headmaster

 

Rating : PG15 – NC17

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

Part 4 : Secret Page

Part 5 : Helpless

Part 6 : Destiny

Part 7 : Dream

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Awal dari kenyataan yang mengerikan telah dimulai.

Naeun telah melakukan kesalahan besar, keberadaan dirinya di dunia nyata dalam waktu cukup lama dengan melihat Myungsoo setiap hari di sekolah membuatnya tak bisa terus-terusan menghindar dari sisi baik L itu, yang telah membuat pengakuan bahwa ia menyukai Naeun. Sebagai gadis normal, Naeun tentu tak bisa membohongi perasaannya bahwa Myungsoo memanglah lelaki yang mengagumkan dan pantas untuk dicintai.

Namun disaat ia ingin mulai membiarkan perasaannya pada Myungsoo berjalan alami, L mengetahui semuanya. Mengetahui bahwa Myungsoo telah hidup berkat ramuannya, mengetahui Myungsoo bertemu dengannya, bahkan jatuh cinta padanya.

Dan itu menjadi masalah yang sangat serius sebab telah memanggil kembali sifat jahat L yang telah dikubur dalam-dalam sejak Lin lahir.

Hingga sekali lagi, L membuktikan bahwa ia adalah penyihir yang mengerikan dan benci dibohongi. Pelampiasan amarahnya dimulai dari tindakan nekatnya mencuri ramuan portal milik Howon dan Hyerim, menampakkan dirinya di depan Myungsoo, hingga berujung pemerkosaan terhadap Naeun, istrinya sendiri, di dalam mimpi kirimannya.

Beruntung, sifat murni Naeun sebagai penyihir yang baik membuatnya sadar dan mengakui kesalahannya. Tanpa menaruh dendam apapun, meski telah menerima perlakuan yang jelas akan membuatnya trauma seumur hidup, ia berhasil membuat L berhenti bertindak gila dengan kata maaf.

Setelah perdamaian diantara keduanya, siapa yang tahu bahwa itu bisa saja menjadi pertemuan terakhir mereka?

Sebab L terbangun di tempat asing yang menjadi tujuannya secara tiba-tiba.

Ia memang bertemu dengan Ahyoung.

Namun juga bertemu dengan Kim Hyoyeon.

 

Apa yang akan terjadi setelah itu? mungkinkah ‘pertarungan’ sesama penyihir hebat itu benar-benar akan terjadi dan menyisakan satu pemenang?

 

Selamat membaca.

***

 

THE PORTAL 2 : PRE-FINAL

Part 8 : Sacrifices

 

Author POV

 

Krieet..~

 

Suara decitan pintu terdengar jelas ketika Taeyeon membuka pintu rumah kosong itu. Dengan tetap merapatkan Lin dalam gendongannya, ia masuk.

Malam ini ia memutuskan untuk keluar dari istana sejenak. Bersama Lin, ia ingin menginap di rumah L dan Yeoshin yang kini kosong karena sepasang pengantin muda itu sama-sama sedang pergi ke tempat yang jauh.

“ Kupikir rumah ini akan lenyap karena tidak dihuni beberapa hari..” gumam Taeyeon, mengingat rumah berukuran sedang tersebut hanya dibuat L selama lima belas menit, dalam pertandingan sihir setahun yang lalu.

Hooaam~”

Taeyeon tertawa kecil, mencubit gemas hidung Lin karena penyihir kecil itu baru saja menguap. Ia segera melangkah menuju kamar dan membaringkan Lin di atas tempat tidur.

“ Aku senang kau mengantuk. Kukira kau tak akan bisa tidur karena merindukan L dan Yeoshin..” ia menyelimuti Lin, mengusap rambut tipis kecoklatan cucunya itu.

“…tidurlah, aku akan menjagamu.”

Lin menurut, tangan mungilnya sedikit meremas selimut dan ia memejamkan matanya perlahan.

Taeyeon berdiri dan menutup jendela, setelah sebelumnya menatap bangunan istana negeri Junghwa yang megah di bawah sinar rembulan. Ia berharap situasinya tetap baik-baik saja meski ia dan Lin tak ada disana. Ia yakin para penyihir yang masih tinggal disana bisa menjaga Howon dan Hyerim, dan tentunya menjaga diri mereka sendiri.

Malam ini, entah mengapa Taeyeon sangat menginginkan ketenangan. Kepergian L ke negeri Junghwa lama-kelamaan membuatnya berperasaan tak nyaman, radar sihir dalam kepalanya yang selalu meramal setiap saat terus menakut-nakutinya.

“ Anak berandal itu.. semoga dia baik-baik saja.”gumamnya, ia beralih dari jendela dan duduk di kursi meja kamar, membuka beberapa buku yang sedikit berantakan disana.

“ Rancangan materi sekolah sihir untuk satu semester..?” Taeyeon menemukan salah satu buku yang menarik perhatiannya, “…tak kusangka L mempersiapkannya sampai seperti ini bahkan dengan tulisan tangan di buku setebal ini. Apa ia terlalu senang menjadi guru?”

Taeyeon membukanya. Membaca segala rencana mengajar yang telah L susun dengan rapi dan teratur dengan sedikit tak percaya. Kapan L mengerjakan hal semacam ini disaat ia terus disibukkan dengan segala masalah yang ada? Ia bahkan mempersiapkan beberapa rencana kejutan untuk setiap muridnya yang akan berulang tahun, termasuk Kim Namjoo.

“ Apa sekarang kau berkepribadian ganda? Kau masih ingin menyakiti Yeoshin disaat kau sudah bisa mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk murid-muridmu?”

Taeyeon menggelengkan kepalanya, tak habis pikir sekaligus merasa bangga hingga merasa ingin menangis.

Bukankah seharusnya ia merasa kecewa? Sebab sejak L lahir, ialah yang terus berambisi dan membuat L tumbuh menjadi penyihir terjahat seperti yang ia inginkan agar bisa melawan Hyoyeon dan menuntaskan iri hatinya pada adik perempuannya itu.

Tapi Taeyeon tak merasa kecewa.

Ia sadar cinta bisa merubah segalanya.

Ia tahu Yeoshin telah membuat banyak perubahan besar dalam diri L, dan itu membangkitkan hati nuraninya.

Sekarang, ia justru merasa takut dan khawatir jika suatu saat putra semata wayangnya itu akan benar-benar berhadapan dengan Hyoyeon. Ia begitu ingin menghentikan perseteruan dalam keluarga penyihir Kim ini, karena hanya ia, Hyoyeon, L, dan Lin generasi yang tersisa.

Namun rasanya sudah terlambat. Permasalahan hanya akan selesai jika Hyoyeon dan L berhadapan hingga salah satu dari mereka mati. Atau mungkin keduanya.

 

Taeyeon berusaha membuang pikiran-pikiran buruk yang kembali mengganggunya, ia menutup buku yang dibacanya dan menyimpan benda itu di dalam jubahnya.

 

“ Kau sudah merancang semuanya dengan rapi, L. akan sangat sia-sia jika kau berhenti mengajar dan mengecewakan murid-muridmu. Aku akan melanjutkannya untukmu. Setidaknya selama kau pergi, atau selamanya jika kau tidak kembali…”

*****

 

“ Uh.. sakit.. dingin.”

Naeun mencoba membuka kedua matanya dengan susah payah, saat menyadari bayang samar botol infus yang bergantung di atasnya, matanya bergerak refleks dan terbelalak.

“…aku.. di rumah sakit?”

 

“ Selamat pagi, bagaimana keadaanmu?”

Seorang lelaki jangkung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri pinggiran tempat tidurnya.

“ Sungyeol sunbae?”

“ Hm, ini aku.”

“ Mengapa aku ada disini?”

“ Lebih tidak masuk akal jika kau tetap di sekolah dalam keadaan telanjang dan berdarah-darah.”

“ A..apa?”

Mata indah Naeun sontak membesar, darah dengan cepat naik ke wajahnya, membuatnya merah seperti buah plum.

Memalukan.

“ Kau.. menemukan.. aku?”

“ Jam empat pagi di laboratorium Kimia, dia menemukanmu tidur di lantai penuh beling dalam keadaan berdarah-darah di sekujur tubuh yang hanya dilapisi tirai jendela.”

Naeun menyadari keadaan terakhirnya saat bertemu L dalam mimpi.

“ Dia..siapa? yang menemukanku?”

“ Siapa apanya? Tentu saja Kim Myungsoo.”

“ Myungsoo sunbae!?”

Wajah Naeun semakin merah, rasa malu membakarnya. Sungyeol terkekeh pelan.

“ Jangan khawatir, ia tidak melihat tubuh telanjangmu. Dia laki-laki yang baik. Kau tahu sendiri, kan?” ucap cenayang itu seraya menunjuk sebuah tirai yang teronggok di sudut ruangan, “…lihat, ia tetap membiarkan tirai jendela itu menutupimu sampai perawat rumah sakit yang mengganti pakaianmu.”

Gadis itu menghela nafas lega, meski rasa malunya masih tertinggal. Seharusnya ia bangun lebih cepat setelah L meninggalkan mimpinya.

Tapi ia merasa beruntung karena lelaki sebaik Myungsoo yang menemukannya.

“…kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana keadaanmu?”Sungyeol mengulang pertanyaannya, Naeun menatapi sekujur tubuhnya yang ditempeli plester dan beberapa lilit perban.

“ Lebih baik, kurasa.”jawab Naeun pelan, “…bagaimana caranya Myungsoo sunbae membawaku kesini?”

“ Kami meminjam lamborghini Woohyun, pastinya. Berangkat di pagi buta membawamu kesini.”

“ Woohyun oppa?! Jangan bilang ia sudah tahu…”

“ Yah.. dia bahkan Chorong sudah tahu L sempat kesini. Tapi..” Sungyeol sedikit mendekat ke telinga Naeun.

“…yang tahu mengapa kau bisa berakhir seperti itu di laboratorium, hanya aku.”

Gadis itu menatap Sungyeol dengan gugup. Tak ingin mendengar lagi namun Sungyeol melanjutkan bisikannya.

“…L melecehkanmu dengan brutal di dalam mimpi. Iya kan?”

“ Hentikan!”

Naeun sedikit menjerit dan menutup telinganya karena merasa trauma, Sungyeol menjauh dan tersenyum sinis.

“ Berterimakasihlah padaku, Son Naeun. Aku membohongi Woohyun, Chorong, bahkan Myungsoo. Aku bilang kau hanya kelelahan dan stres hingga berakhir seperti itu di laboratorium.”

“ Lalu bagaimana bisa kau tahu bahwa sebenarnya aku dan L—“

“ Jangan ragukan ilmu ramalku.”

Naeun menghela nafas dengan berat, rasa malunya sudah mencapai ubun-ubun. Tapi setidaknya ia bisa merasa lega karena Sungyeol mau merahasiakannnya.

“ Baiklah. Aku minta tolong, Sungyeol sunbae. Tidak perlu katakan itu pada yang lain.”

“ Tenang saja. Aku akan tutup mulut.”

“ Syukurlah. Terimakasih Sungyeol sunbae, terimakasih..” Naeun berusaha duduk dan membungkukkan badannya pada Sungyeol dengan susah payah.

“ Sudahlah.. istirahat lagi. aku akan kembali ke asrama.”

“ Hm.. kemana.. Myungsoo sunbae?”

“ Kenapa kau mencarinya?”

“ Tentu saja ingin berterimakasih.”

“ Kau tidak akan takut atau trauma melihatnya?”

Naeun menggeleng cepat. Ia sudah berdamai dengan L, rasa takutnya sudah berkurang meski trauma masih menghinggapinya.

Lagipula rasanya kurang ajar jika ia masih tak mau menemui Myungsoo yang sejak kemarin terus berkorban dan menolongnya.

Sungyeol meletakkan satu kemasan roti dan sebotol susu yang sudah diberinya beberapa tetes darah di atas meja agar Naeun bisa sarapan, setelah itu ia memanggul tasnya dan beranjak menuju pintu keluar.

“ Dimana Myungsoo sunbae?” Naeun mengulang pertanyaannya dengan sedikit tak sabar.

“ Myungsoo di bangsal 9, ruang 16.”

 

“ Ia dirawat juga…?”

***

 

“ Apa kau sudah kesana? Apa wartawan sudah pergi?”

Chorong masih diam di tempatnya, bimbang apakah harus menunggu Woohyun selesai menelepon atau pergi saja dari hadapan lelaki itu.

“…kau bisa lawan mereka, bodoh! Cepat bawa Kai ke hadapanku!”

Gadis itu mengangkat kedua alisnya, terkejut karena Woohyun tiba-tiba mengumpat.

Sebaiknya ia pergi saja. Chorong mulai memutar kakinya.

“…aku akan memecatmu kalau kau gagal.”

Woohyun mengucap kata-kata terakhirnya di telepon sembari meraih lengan Chorong kuat-kuat, setelah itu menurunkan ponselnya.

“ Mau kemana, Park Chorong? Bukankah kita belum selesai?”

“ Siapa yang kau marahi pagi-pagi begini?”

“ Hanya bodyguard rumah.”

“ Kalau aku tidak salah dengar, kau meminta mereka menjemput Kai?”

“ Kalau iya kenapa?”

“ Untuk apa?”

“ Ia harus tahu kakaknya sakit. Lagipula ia tidak bisa terus-terusan bolos.”

Chorong tersenyum tipis.

“ Kau mulai peduli ya dengan Myungsoo.”

“ Aku hanya ingin membuatmu senang dengan cara seperti ini.”

Mwo?”

“ Kau senang, kan?”

Chorong memilih untuk diam, daripada Woohyun besar kepala nantinya.

“ Sungyeol kemana, sih?” gadis itu justru mengalihkan pembicaraan sembari melirik jam silver yang melingkar di pergelangan tangannya berkali-kali, “…apa Naeun belum sadar juga? Sungyeol akan terlambat masuk kelas kalau begini.”

“ Sudahlah. Oh ya, sebenarnya aku memanggilmu kesini untuk—“

“ Ah! Sungyeol-ah, baru saja aku khawatir kau terlambat!” Chorong berlari kecil menuju halaman parkir SMA Junghwa ketika melihat sahabat laki-lakinya itu datang dengan duduk di jok belakang motor besar seseorang.

Woohyun mengacak-acak rambutnya dengan salah tingkah, ia ikut melangkah menghampiri Sungyeol yang entah datang dengan siapa.

“ Apa adikku sudah sadar?”

“ Naeun? Hm.. setelah dia sadar aku segera pergi.”jawab Sungyeol sembari melepas helmnya.

“ Kau memberitahu dia kalau Myungsoo juga dirawat?”tanya Chorong, Sungyeol mengangguk dengan santai mesti tahu Chorong tak akan suka hal itu.

“ Kukira kau naik kendaraan umum. Maaf ya terpaksa meninggalkanmu duluan.”kata Woohyun lagi, Sungyeol mengangguk lagi dan menepuk bahu si pemilik motor besar yang membawanya ke sekolah.

“ Terimakasih ya tumpangannya, maafkan aku sudah meremehkan niat baikmu kemarin.”

Si pemilik motor terpaksa melepas helmnya hingga rambut panjangnya menjuntai, Woohyun dan Chorong terkejut ketika mengetahui bahwa gadis yang membawa motor besar ini rupanya adalah Kim Yura.

“ Tidak usah berterimakasih. Kau kira aku ikhlas mengantarmu kesini? Tujuanku ke rumah sakit kan untuk menengok Myungsoo-ku.”balas gadis itu sinis.

“ Bagaimanapun juga, terimakasih.”

“ Huh. Ya sudah, aku ingin ke rumah sakit lagi. Mumpung Myungsoo-ku sedang sendirian.”

Aigoo..” Woohyun geleng-geleng kepala, sementara Chorong hanya bisa menahan rahangnya yang mengeras.

“ Pergi sana. Aku tidak peduli lagi sekolahmu sedang libur atau gurunya sedang rapat. Kalau keseringan bolos kau sendiri juga yang tidak lulus nantinya.”

Sungyeol berbalik dan meninggalkan tempat parkir duluan. Yura mengangkat kepala tangannya dengan kesal seakan ingin menghajar lelaki itu, namun langsung buru-buru memasang helmnya lagi, menyalakan mesin motornya yang berisik dan melesat meninggalkan area sekolah dengan kecepatan tinggi.

“ Gadis macam apa dia? Dengan tingkah seperti itu bisa membawa motor besar dengan gagah.” Woohyun tak habis pikir, “…kapan-kapan aku jadi ingin mengajaknya balapan.”

Chorong memutar bola matanya dan berbalik, berniat menyusul Sungyeol. Namun Woohyun menahan lengannya lagi.

“ Sebenarnya kau mau apa, Nam Woohyun?”

“ Kau ingat kemarin Myungsoo meminjam motorku dan kau yang akan ‘membayar’nya?”

“ Kau ingin menagihnya sekarang?”

“ Ya.”

“ Apa yang kau inginkan?”

“ Aku—“

Drrt.. drrt..

“ Haa~ brengsek..” lelaki itu sedikit mendengus karena ini sudah kesekian kalinya pembicaraan ia dan Chorong terputus, dengan sedikit kasar ia mengangkat telepon yang masuk ke ponsel mewahnya.

“…apa!?”

J..jeosonghamnida, tuan muda. Kami benar-benar tidak bisa menerobos masuk ke apartemen Hoya. Kalau kami nekat, para wartawan mungkin akan ikut masuk.”

Chorong mendengarnya meski samar-samar, dan gadis itu sedikit terkejut.

“ Dasar payah. Kalian kupecat.”

Tap.

Woohyun menurunkan ponselnya dengan santai, menatap gemas wajah Chorong yang kini sedikit menganga.

“…beberapa bodyguard kehilangan pekerjaan hari ini hanya karena mereka tak bisa membantuku meloloskan adik Myungsoo dari apartemen. Kau lihat betapa aku peduli dengan Myungsoo sekarang? Seharusnya kau senang.”

Chorong benar-benar tak tahu apakah saat ini Woohyun sedang bicara tulus atau sedang menyombongkan dirinya.

“ Lanjutkan saja pembicaraan kita yang tadi. Apa yang kau inginkan dariku?”

“ Jawab dulu pertanyaanku, Park Chorong. Kau senang kan aku peduli pada Kim Myungsoo?”

Gadis itu memutar bola matanya dengan sedikit jengkel.

“ Aku senang. Puas?”

“ Nah, itu yang ingin kudengar..” Woohyun tersenyum dan mengacak-acak poni Chorong, “…jadi aku tahu apa yang harus kuminta darimu.”

“ Apa yang kau inginkan?”

“ Buatlah aku senang juga.”

Mwo?

“ Pikirkanlah, aku akan sabar menunggu.”

Lelaki itu pun berbalik dan berjalan meninggalkan Chorong, membiarkan gadis itu kebingungan.

 

“ Hah.. dia yang memutuskan aku kemarin, dan sekarang dia juga yang mulai bersikap manis duluan padaku? Aku benar-benar dipermainkan..”

***

 

“ Bangsal 9.. ruang 16..”

Sembari menyeret tiang infusnya, Naeun berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit, mencari ruangan tempat Myungsoo dirawat, batinnya terus bertanya-tanya mengapa lelaki baik hati yang biasanya kuat itu bisa ikut dirawat di rumah sakit, bahkan setelah mengantarnya.

Apa itu dampak bertemu penyihir sejahat L untuk pertama kalinya? Myungsoo pasti masih merasa syok.

“…ah, ini dia.”

Naeun menggeser pintunya perlahan, menghampiri seorang lelaki berseragam pasien yang tengah duduk bersila sembari memperbaiki sesuatu di atas tempat tidurnya. Naeun merasa cukup lega, ia pikir terjadi sesuatu yang serius pada Myungsoo, tapi sepertinya lelaki itu baik-baik saja.

Myungsoo nampak terlalu serius hingga tidak menyadari kehadiran Naeun, matanya masih tertuju pada benda yang sedang ia perbaiki. Dan Naeun tak ingin mengganggunya, jadi gadis itu hanya duduk di pinggiran tempat tidur.

Hingga ia menyadari apa yang sedang dikerjakan oleh lelaki itu.

“ Eh, itu kan—”

“ Tolong lemnya.”

Naeun meraih lem yang ada di dekatnya, menyerahkan benda tersebut pada Myungsoo yang meminta tanpa melihat kearahnya sama sekali.

“ Apa yang sedang kau..—“

“ Jarum.”

Naeun menurut lagi dan mengurungkan pertanyaannya, dengan hati-hati menyerahkan satu jarum yang juga berada di dekatnya pada Myungsoo.

“ Sebenarnya kau sedang ap—“

“ Pita, tolong pitanya.”

Masih dianggap asisten rupanya. Kini Naeun meraih pita hitam di atas tempat tidur dan menyerahkannya pada Myungsoo, lalu memperhatikan lelaki itu melilit benda yang ia perbaiki dengan pita tersebut hingga terlihat cantik.

“…nah, selesai.”

Dan mata teduh itu akhirnya terangkat dan menatapnya, mengunci tatapan dengan Naeun sejenak kemudian menyerahkan benda yang sejak tadi diperbaikinya pada gadis itu.

 

“ Aku menemukannya di laboratorium dalam keadaan patah.”

Naeun sedikit malu, dengan salah tingkah memain-mainkan tongkat sihir di tangannya. Benda sakral yang telah disatukan lagi oleh Myungsoo hanya dengan lem, jarum, dan pita.

“ L selalu mematahkannya. Tapi pada akhirnya, ia selalu menyatukannya lagi.”

Myungsoo mengangguk pelan sambil tertawa ringan.

“ Karena kali ini aku yang memperbaikinya, tanpa sihir apapun.. aku tidak tahu apakah benda itu masih bisa berfungsi. Aku hanya tidak ingin melihatmu sedih jika tongkatmu masih terbelah dua.”

Benar juga. Naeun masih memutar-mutar tongkatnya.

“ Aku akan mencobanya.”kini gadis itu celingukan mencari sesuatu yang bisa ia sihir.

“ Hmm.. kita lihat apa yang bisa kau lakukan dengan ini..”Myungsoo meraih sebuah apel dari meja ruang perawatan disampingnya dan meletakkan buah itu di tangannya. Naeun mencoba mengetuknya dengan tongkat yang ia pegang.

Apel tersebut terbelah sempurna menjadi enam bagian.

“ Wow. Sepertinya baru kali ini aku melihat sihir yang sesungguhnya dengan mata telanjang.”lelaki tampan itu nampak takjub dan memperhatikan setiap potongan apel di tangannya.

“…ini masih aman untuk dimakan, kan?”

Naeun menggangguk sembari tertawa, meraih satu potong apel tersebut dan mengisyaratkan agar Myungsoo membuka mulutnya. Dengan senang hati lelaki itu menyambutnya.

“ Masih bisa dimakan, kan?”tanya gadis itu sembari terkekeh karena kelihatannya Myungsoo begitu kelaparan.

“ Bahkan jika sekarang kau merasa sedang menyuapi L, aku tetap senang.”

Baiklah. Myungsoo mulai membuat pembicaraan ini menjadi tidak begitu nyaman.

“ Apa yang kau bicarakan? Aku sedang bersama Kim Myungsoo.”

Dan setelah jawabannya ini, Naeun berharap Myungsoo berhenti menyebut nama suaminya itu. Ia masih belum bisa merasa nyaman membicarakan L pada Myungsoo setelah apa yang terjadi semalam.

“ Lalu mengapa kau memberi apel ini padaku? Aku tahu ini hal yang sepele.. tapi.. kau yang melakukannya.”

“ M..maksudmu, sunbae?”

“…kau tahu sendiri kan betapa berartinya hal-hal kecil yang kau lakukan padaku?”

“…”

“ Sudahlah, lupakan. Aku bisa makan sendiri.” Myungsoo melahap potongan apel di depannya lagi dan menyisakan tiga potong untuk Naeun yang masih melamun di depannya.

Sunbae..

“ Hm?”

“ Terimakasih, sudah memperbaiki tongkatku. Aku tidak menyangka ini bisa berfungsi tanpa harus diperbaiki dengan sihir. Apa lagi yang kau gunakan untuk memperbaikinya selain lem, jarum, dan…pita ini?”

Myungsoo terkekeh pelan dan meminjam tongkat itu sejenak kemudian memain-mainkannya.

“ Apa sebelumnya hanya L yang bisa memperbaiki tongkat sihirmu ini?”

“ Yah.. kau benar.”

“ Hmm.. kalau begitu, selama ini L tidak memperbaiki tongkatmu dengan kekuatan sihirnya.”

Mwo? Lalu dengan apa menurutmu?”

“ Cinta.”

“ Cinta?”

“ Ya. karena aku juga memilikinya untukmu. Dan aku bisa membuat benda ini berfungsi.”

Naeun mengunci mulutnya sejenak, mencoba berpikir mengapa Myungsoo masih saja mempertahankan perasaannya bahkan setelah bertemu L dan melihat betapa bahayanya penyihir itu.

Haruskah ia mempertanyakan itu? sekarang?

“ Myungsoo sunbae, apa yang terjadi padamu? Mengapa kau ikut dirawat disini?”

Naeun menyimpan pertanyaannya. Saat ini gadis itu lebih ingin tahu mengapa Myungsoo masuk rumah sakit.

Myungsoo sedikit kesal melihat jarum infus yang menancap di tangan lebarnya.

“ Aku juga tidak tahu kenapa.”

“ Maksudmu?”

“ Setelah mengantarmu kesini, aku hanya pingsan.”

“ Pingsan? Kau merasa kesakitan? Pantas saja kau ikut dirawat..”

“ Aku tidak merasa seburuk itu. aku benar-benar baik-baik saja sekarang. Tepatnya setelah melihat wajahmu. Aku senang sekali kau yang mencariku kesini.”

Myungsoo selalu tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya. Dan jujur, Naeun merasa sedikit malu, namun ia juga tak ingin selamanya menjadi canggung.

“ Berterimakasihlah karena aku sudah muncul di hadapanmu. Jadi sekarang katakan, mengapa kau bisa pingsan?”

Lelaki itu mengacak-acak rambut bergelombangnya dengan sedikit gemas.

“ Daya tahan tubuhku menurun drastis. Kau sendiri tahu kan penyebabnya.”

Menjadi loper buletin dan tidak tidur malam, pertandingan basket dengan Woohyun, jam belajar yang panjang, pergi menengok Haeyeon ke penjara, dan melakukan perlawanan mendadak pada L, Naeun masih ingat betapa banyak hal yang Myungsoo lakukan akhir-akhir ini.

Tentu saja Myungsoo akan tumbang, mengingat bahwa lelaki itu manusia biasa yang tak sekuat L. Membawa Naeun ke rumah sakit adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan sebelum energinya benar-benar habis.

Dan setelah merasa cukup beristirahat, Myungsoo kembali bekerja lagi dengan beberapa peralatan sederhana untuk memperbaiki tongkat sihir Naeun.

Kim Myungsoo. Energi dalam tubuhnya bisa habis, namun kebaikannya tak akan pernah demikian.

 

“ Sekarang gantian. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu hingga berakhir mengerikan di laboratorium. Aku merasa belum puas dengan penjelasan Sungyeol, aku ingin dengar langsung darimu.”

Naeun mengatupkan bibirnya, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa ia diperkosa oleh L?

“ Ruangan ini menyesakkan. Aku ingin jalan-jalan saja.”

Gadis itu menyerah, mencoba melarikan diri dari pertanyaan yang baru saja ia dengar dan berdiri, bersiap untuk pergi.

“ Ide bagus. Kau mengajakku, kan?”

Dengan percaya diri Myungsoo ikut berdiri dan memposisikan tiang infusnya, kemudian menyatukan tangannya dengan tangan Naeun yang sama-sama terinfus. Gadis itu tidak bisa menolak, hanya diam seribu bahasa dan mulai berjalan beriringan dengan lelaki itu, keluar dari ruang perawatan.

“…aku tahu sebenarnya kau tidak mengajakku. Tapi aku masih ingin mendengar jawabanmu, jadi aku tak ingin kau pergi dan membuatku penasaran.”

Naeun menunduk, semakin malu karena Myungsoo seakan mampu membaca pikirannya.

“ Aku akan menjawabnya, sunbae. Tapi.. tidak sekarang.”

“ Lantas?”

“ Saat kita keluar dari rumah sakit ini, aku.. akan menjelaskannya.”

Sesungguhnya Naeun sudah putus asa. Sebisa apapun ia menghindari pertanyaan Myungsoo, lelaki itu mungkin akan terus mengikutinya bahkan sampai ke ujung dunia. Menjawab jujur memang pilihan satu-satunya.

Kini Naeun sadar bahwa ia tak hanya tak bisa menyembunyikan apapun dari L, tetapi juga Myungsoo. Kedua lelaki ini punya daya memaksa yang sama.

“ Kapan kau akan keluar dari rumah sakit ini?”tanya Myungsoo kemudian.

“ Mungkin.. besok.”

“ Baiklah, kalau begitu aku juga besok.”

“ Kau masih ingin mengikutiku?”

“ Yah.. tentu saja salah satunya itu. tapi.. aku memang tak bisa berlama-lama disini, aku masih merasa khawatir..”

“ Khawatir?”

“ Ya, dengan Kai.”

“ Ah.. Kai. Apa dia masih di dalam apartemen Hoya?”

***

 

“ Harus berapa kali kujelaskan? Mulutku sudah hampir berbusa. Ayolah.. percaya padaku!”

Sepasang suami istri di depannya hanya saling bertatapan dan mengangkat bahu mereka, membuat Kai mulai stress.

“…apa penjelasanku tidak masuk akal?”

“ Tentu saja!” Tuan Doojoon menyahut duluan, disusul anggukan istrinya, nyonya Gayoon.

“ Lalu menurut kalian dia siapa?”Kai menunjuk seorang gadis yang sedang mengacak-acak pakaian di koper Bomi.

Ya, Krystal.

“ Aku sedikit percaya dengan Kai, sih.”sahut Bomi yang kelihatannya sudah pasrah dengan pakaiannya yang berserakan di lantai.

“ Kau terlalu banyak baca dongeng.”sela Tuan Doojoon.

“ Bagaimana mungkin ada tuan putri dan sebagainya..” nyonya Gayoon masih menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kai sudah kehabisan kata-kata.

Ini sudah semalam sejak Bomi dan keluarganya datang ke apartemen Hoya untuk menolong Kai dan Krystal yang terjebak disana. Keluarga angkat Eunji itu datang tengah malam disaat para wartawan yang berjaga di depan sana tertidur pulas. Sayangnya, mereka tak bisa membawa Kai dan Krystal untuk ‘lolos’ dari sana dan justru ikut terjebak karena keesokan harinya dan sampai sekarang, wartawan semakin siaga. Untungnya, mereka membawa pakaian dan makanan.

Dan tentu saja bisa ditebak, mereka bingung dengan ‘orang baru’ yang mereka temui.

Kai dihadapkan pada situasi yang sulit, namun ia memilih untuk jujur tentang Krystal. Tak hanya tentang Krystal, tapi semuanya. Keluarganya, Hyerim, Howon, bahkan L dan Naeun sebenarnya.

Sekali lagi tentu saja, hal itu sangat sulit untuk dipercaya oleh siapapun yang baru saja mendengarnya, termasuk keluarga Yoon. Entah karena memang pendirian, atau usaha melawan logika karena Krystal jelas-jelas memakai gaun kerajaan dan bertingkah aneh di depan mata mereka.

 

Yang jelas, Kai merasa sudah cukup bercerita sampai ke akar-akarnya. Percaya atau tidaknya keluarga Yoon bukan lagi urusannya, setidaknya ia sudah jujur.

“ AH! Ini bagus! Aku mau yang ini!!”

Krystal meraih sepotong kaos merah muda dan jeans ketat milik Bomi dari dalam koper lalu berlari kecil menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Namun berhenti sejenak di depan Nyonya Gayoon.

“ Hei. Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku ingin ada makanan di atas meja. Makanan yang sama seperti yang kau buat tadi pagi. Oke?”

“ YA! berani-beraninya—“ Bomi nyaris menghajar gadis itu, namun Kai segera mencegahnya.

“ Sudah kubilang dia tuan putri. Wajar saja dia begitu!”

“ Hah..~ aku bisa gila..” Tuan Doojoon berdiri dan menggantikan nyonya Gayoon memasak ke dapur karena istrinya masih terbengong-bengong.

***

 

Tok..tok..

“ Ada tamu!”

Namjoo keluar dari kamarnya ketika mendengar suara pintu depan rumah keluarga Son diketuk dari luar.

“ Tunggu!”

Langkahnya terhenti, Gain muncul dari dapur dan menyuruhnya diam. Dongwoon ikut muncul dengan menggenggam tongkat sihir dan berjalan hati-hati menuju pintu.

“ Semua penyihir ada di istana.. hanya kita yang ada di luar istana saat ini. Jadi siapa yang bertamu..?”gumam Dongwoon dengan penuh kecurigaan dan semakin mendekat ke arah pintu.

“ Cepat lakukan saja.”perintah Gain, Dongwoon perlahan mengangkat tongkat sihirnya.

“ Siapa di luar sana?”tanya Namjoo, sebab ia tahu Dongwoon sedang berusaha untuk mencari tahu.

“ Sialan, kita mau diapakan lagi..”umpat Dongwoon tiba-tiba.

“ Siapa!?”

“ Kim Taeyeon.”

 

“ Yaaa.. ya.. ini aku. Kalian kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana? Cepat buka pintunya sebelum aku murka.”

Dongwoon dan Gain menelan ludah, Taeyeon menyahuti dari luar.

Tanpa ragu Namjoo membuka pintunya, hingga terlihat wanita berjubah hitam yang berdiri dengan jenuh dan bola mata yang hampir melompat keluar.

“ Ampun! Ampun.. madame..” Dongwoon dan Gain gemetaran dan langsung membungkukkan badan mereka. Taeyeon hanya tertawa sinis lalu mendekat dan mengacak-acak rambut Namjoo.

“ Bagaimana kabarmu?”

“ Hah? Aku.. baik saja.”jawab Namjoo sedikit bingung. Apa Taeyeon datang hanya untuk memeriksanya?

“ Kalian kenapa diam? Bukannya sedang memasak di dapur?”Taeyeon melempar pandangannya lagi pada Dongwoon dan Gain, kedua kakak Naeun itu langsung mundur dan berlari kecil ke dapur.

“ Wow, kau hebat. Kau bahkan tahu kita sedang memasak.”Namjoo mencairkan suasana, Taeyeon mengelus kepalanya lagi.

“ Benar kan kau baik-baik saja?”

“ Iya. Dongwoon dan Gain tidak melakukan apapun padaku. Mereka justru memasak makanan yang enak-enak sejak tadi malam.”

“ Haha. Benarkah?”

“ Hm. Jangan khawatir. Bagaimana situasi di istana?”

“ Sebentar lagi aku akan mengajar.”

“ Mengajar?”

Taeyeon mengangguk, “ Ya. makanya aku kesini untuk mengajakmu ke istana. Bukankah kau siswi L juga?”

“ Ah.. jadi kau akan melanjutkan pekerjaan L dan mengajar di istana? Wah.. kenapa kau tiba-tiba ingin melakukan ini?”

Pertanyaan Namjoo membuat firasat buruk tentang L kembali menghantui batin Taeyeon.

“ Anak-anak sekolah sihir sudah banyak tertinggal pelajaran karena situasi negeri Junghwa dan kepergian L. aku akan melanjutkannya untuk sementara saja, sampai L kembali.”

“ Semoga L segera kembali.” Namjoo tersenyum optimis, Taeyeon kembali mengangguk.

“ Bersiaplah. Ajak Dongwoon dan Gain juga, aku perlu mereka untuk memasak makan siang para penyihir.”

“ Siap!”

Namjoo masuk ke dalam kamar dengan semangat sambil memanggil Dongwoon dan Gain.

Sedangkan Taeyeon menunggu di teras seraya menatap sekolah sihir Junghwa yang kosong dan sunyi.

 

“ Semoga kau bisa segera kembali mengajar disini, anakku.”

***

 

“ Hmm.. kita berakhir disini lagi.”

“ Lapangannya jauh lebih bersih daripada saat pertama kali kita datang kesini.”

“ Jadi? Kau ingin melihatku bermain basket lagi?”

Naeun menggeleng dan mengajak Myungsoo untuk duduk di pinggir lapangan basket unit rumah sakit jiwa yang pernah mereka datangi sebelumnya saat Naeun dirawat dulu. Dengan tangan yang masih sama-sama terinfus, keduanya menikmati udara segar disana.

Hyung! Noona!”

Dari kejauhan sesosok bocah kecil yang sedikit botak berlari kearah mereka sembari membawa bola basket di tangannya.

“ Hei, kau anak yang meminjamkan kami bola basket waktu itu?”tanya Naeun ramah, anak itu mengangguk dengan semangat.

Hyung dan noona sama-sama sedang sakit? Yah.. kukira kita bisa bermain bersama-sama sekarang.”

“ Hei kawan, kenapa kau memotong rambutmu?”goda Myungsoo sembari mengusap-usap kepala anak itu dengan gemas, Naeun tertawa kecil melihatnya.

Ani.. ini.. rontok.”jawab anak itu dengan polos.

“ Rontok? Kau—“

“ Dia sakit.”Naeun berbisik pelan, mata penyihirnya mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan bocah kecil di depannya.

“…siapa namamu, anak tampan?”Naeun mengusap wajahnya dan Myungsoo diam memperhatikan.

“ Min.”jawab bocah itu singkat, “…hyung dan noona?”

“ Min? hampir sama seperti Lin.”Naeun bergumam dengan senyum kecil. Ia semakin merindukan putranya.

“ Aku Naeun. Dan.. pria tampan ini namanya Myungsoo.”

“ Myungsoo hyung, ini untukmu saja.” Min menyerahkan bola basketnya pada Myungsoo, lelaki itu menerimanya meski dengan wajah bingung.

“ Kenapa untukku?”

“ Hmm.. karena besok-besok.. mungkin aku tidak bisa main lagi.”

Myungsoo terdiam, sementara Naeun mengelus kepala Min dengan lembut sembari mengulurkan jari kelingkingnya.

“ Kau pasti bisa bermain lagi. janji ya datang lagi ke lapangan ini minggu depan. kita akan main sama-sama.”

Min mengangguk dengan polos dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Naeun.

“ Nah.. sekarang kau istirahat saja. Bola ini aman denganku.”Myungsoo ikut mengelus kepala botaknya dan tersenyum ramah, Min menurut dan ia berpamitan.

“ Semoga Myungsoo hyung dan Naeun noona cepat sembuh ya. kalian sangat baik.”

Mereka saling melambaikan tangan, Min berlari menuju rumah kecilnya yang menyatu dengan unit rumah sakit jiwa tempat orangtuanya bekerja.

“ Bagaimana kau tahu.. dia sakit?”

Myungsoo melirik Naeun yang masih memperhatikan sosok Min hingga menghilang.

“ Matanya.”jawab gadis itu singkat, “…ada sesuatu yang berbeda di mata manusia yang sedang sakit parah. Aku pernah melihat mata seperti itu sebelumnya, makanya aku tahu. lagipula rambutnya rontok.”

“ Apa dia kena kanker?”

“ Ya.”

“ Artinya.. kau pernah bertemu dengan manusia yang terkena kanker juga sebelumnya?”

Naeun menoleh dan tersenyum tipis, “Oh iya, aku belum cerita padamu soal itu ya. Woohyun oppa, dia sempat terkena kanker, waktu itu kau masih meninggal.”

Myungsoo terhenyak, baru tahu rivalnya sempat sakit parah.

“ Benarkah? Kanker apa? Bagaimana bisa? Lalu sekarang ia baik-baik saja kan?”

“ Kau terlihat khawatir. Kau benar-benar teman yang baik, Myungsoo sunbae. Padahal Woohyun oppa sangat membencimu.”

“ Berhenti memujiku, kau membuat perasaanku semakin besar saja.”

Naeun terdiam. Apa ia salah bicara? Tanpa sadar Myungsoo membuat wajahnya merah lagi.

“…lanjutkan.”sambung lelaki itu, Naeun mengambil nafas dulu sejenak.

“ Woohyun oppa sempat kena kanker tulang, tapi jangan khawatir.. ia sudah sembuh total.”

“ Syukurlah.. dengan apa ia bisa sembuh? Bukankah kanker tidak ada obatnya?”

“ Dengan sihir, tentunya. Itulah mengapa aku berani menjanjikan Min kalau ia bisa bermain lagi. Aku akan membuatkan ramuan penyembuh untuknya, seperti yang diminum Woohyun oppa dulu.”

Myungsoo sedikit menganga, takjub.

“ Aku percaya padamu. Membuat pembangkit kematian saja bisa, apalagi penyembuh. Kau hebat, Son Yeoshin.”

“ Terimakasih, sunbae.”

“ Inilah salah satu alasanku mencintaimu.”

Hentikan.

Naeun nyaris tak tahan lagi. Jantungnya terasa hendak meledak dan batinnya selalu diselimuti rasa berdosa pada L setiap kali mendengar pengakuan Myungsoo. Ia masih tak bisa memungkiri bahwa debarannya sama seperti saat ia mendengar kata-kata cinta dari L.

Sunbae, kau sudah bertemu L, dan melihat betapa mengerikannya dia. Mengapa.. kau.. masih..—“

“ Mencintaimu?”

“ Ya.”

Myungsoo sudah menduga Naeun akan mempertanyakan hal ini.

“ Apa kau terganggu setiap kali aku mengungkapkan perasaanku?”

“ Tidak. Bukan begitu.. tapi—“

“ Aku ingin meluruskan sesuatu padamu, Yeoshin-ssi. Dengarkan aku baik-baik.”

Naeun mengunci pandangannya dengan mata Myungsoo, lelaki itu nampak serius.

“ Aku tidak mengharapkan cintamu. Tapi segala yang kulakukan adalah bukti cintaku padamu.”

Myungsoo beralih dan bersandar di bangku, menatap langit-langit Seoul yang mendung.

“…aku tidak bisa berbohong, pertemuanku dengan L semalam memang menakutkan. Bisa dibilang, aku mungkin trauma melihat wajahku sendiri.”

“…tapi aku bisa memaklumi mengapa ia semarah itu. karena aku terlalu sengaja mengungkapkan perasaanku padamu. Sekeras apapun L memukulku, itu adalah resiko yang harus kuterima. Sebab aku memilih untuk tidak membuang perasaanku padamu, sampai kapanpun. Bahkan sampai aku menemui kematianku yang abadi.”

Myungsoo memejamkan matanya ketika langit mulai menerang karena silau. Naeun sedikit bergeser dan mengangkat tangannya untuk melindungi wajah tampan lelaki itu dari sinar matahari.

“…maaf jika aku terlalu sering mengganggu telingamu dengan kata-kata cinta. Tapi itulah yang kurasakan. Hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku tahu aku tidak mungkin memilikimu. Aku hanya suka mengekspresikannya, bukan mengharapkannya.”

Entah mengapa, Naeun benar-benar merasa perih sekarang. Pengakuan Myungsoo terlalu menyedihkan untuk ia dengar.

“ Maafkan aku, Myungsoo sunbae.”

“ Hanya maaf? Kau tidak ingin memintaku untuk berhenti?”

Naeun menggelengkan kepalanya. Tak mungkin melarang Myungsoo untuk mengungkapkan perasaannya disaat hanya itu saja yang bisa ia lakukan.

“…menjauhlah dariku, kalau perasaanku ini mengganggumu.”

“ Tidak akan. Aku tidak bisa.”

“ Kalau begitu ciptakanlah sedikit jarak di antara kita mulai sekarang. Aku tahu kau akan terus merasa berdosa pada L jika terus menerus mendengar bahwa aku mencintaimu. Ini demi kebaikan kita berdua, Son Yeoshin.”

Dalam situasi seperti ini, seharusnya Myungsoo yang terlihat lebih sakit. Namun Naeun menjatuhkan airmatanya lebih dulu.

Karena seorang Kim Myungsoo juga sangat berharga baginya.

“ Apa yang harus kulakukan, sunbae?”

“ Setelah keluar dari rumah sakit ini, aku akan fokus belajar untuk ujian kelulusan, bersamaan dengan itu.. aku juga akan mulai mencari pekerjaan lain untuk mendapat uang lebih banyak. Aku harus bersungguh-sungguh demi kebahagiaan Kai. Dan kau, tolong untuk bersikap biasa saja padaku, selayaknya hubungan sunbae dan hoobae. Hindari aku jika itu memungkinkan. Dan kita lihat bersama-sama, apakah aku sanggup melalui semuanya tanpa harus sedekat ini denganmu.”

Ide yang sangat bagus. Namun Naeun terlalu sedih untuk menyetujuinya. Kepalanya terpaksa mengangguk karena ia juga tak ingin membuat Myungsoo semakin tersiksa karena perasaannya. Ini benar-benar rumit.

Myungsoo membuka matanya, meraih tangan Naeun yang sejak tadi melindungi wajah tampannya dari sinar matahari. Ia menegakkan duduknya kembali dan menyeka airmata yang turun di pipi halus gadis itu dengan lembut.

 

“…jangan salah paham, sudah kubilang aku tak akan membuang perasaanku.”

***

 

Aula istana negeri Junghwa masih dipenuhi penyihir siang itu. tak hanya anak-anak sekolah sihir yang ingin mengikuti pelajaran, tetapi juga orangtua dan penyihir lainnya yang ingin melihat bagaimana penyihir nomor empat –sekarang nomor tiga- yang terbiasa sinis dan licik kini menjadi guru demi menggantikan anaknya yang sedang pergi ke negeri Gwangdam.

Taeyeon masih berdiri di depan dengan percaya diri, perasaannya cukup lega melihat para penyihir yang antusias ingin mendengarkan ‘kuliah’nya. Sudah hampir satu jam ia membawakan materi ilmu ramal yang telah disusun rapi oleh L dalam buku ajar yang ia bawa. Predikatnya sebagai ahli ramal terjitu di negeri Junghwa membuat para penyihir bersemangat mengikuti pelajaran. Termasuk Kim Namjoo, tentunya.

“ Sudah hampir memasuki jam makan siang. Bagaimana kalau kita tutup saja untuk hari ini?”tawar wanita muda itu dengan ramah. Hal yang sama sekali tidak biasa ia tunjukkan sehari-hari.

“ Untuk penutup, bagaimana kalau kami melihat kau menunjukkan kemampuan ramalmu?”salah seorang penyihir memberi saran, dan hampir semua menyetujuinya.

“ Apa aku harus meramal kapan kepulangan L?” batin Taeyeon, kakinya perlahan melangkah ke belakang meja, menghadapi bola kristal milik mendiang Madame Sunny untuk ia gunakan.

Tangannya mulai bekerja, mencoba mencari tahu keberadaan anak semata wayangnya itu dengan sedikit tergesa-gesa karena sepanjang hari ia terus dirundung kekhawatiran.

BLAM!

Seisi bola kristal itu mendadak hitam.

“ Apa yang terjadi?” semuanya terkejut. Beberapa anak penyihir berdiri dan mencoba melihatnya dari dekat.

Taeyeon menelan salivanya setengah mati.

Tenang. Ia harus tenang.

“ Maaf, aku hanya sedang mengetesnya. Kalian tahu ini milik Sunny, aku tidak bisa langsung menggunakannya begitu saja.”

Syukurlah, para penyihir percaya.

“ Coba ramal kapan keluarga kerajaan dan warga negeri Junghwa tiba disini!” usul Namjoo.

Ide bagus. Ini lebih baik daripada Taeyeon memaksakan diri meramal keberadaan L. warna gelap dalam bola kristal tu membuatnya ketakutan.

Keluarga kerajaan.. keretanya.. tiba di istana..”

Wanita muda itu berkonsentrasi dengan bola kristalnya. Para penyihir menunggu dengan penasaran.

“…MALAM INI!?”

Taeyeon membuka matanya dengan wajah syok.

“ Apa yang ‘malam ini’, Taeyeon?”semua bertanya-tanya dengan heran.

“ Keluarga kerajaan dan warga negeri Junghwa akan tiba di istana malam ini.”

Seisi aula mendadak riuh dan panik. Tentu karena mereka harus segera angkat kaki dari istana dan setidaknya harus mempersiapkan acara penyambutan untuk keluarga kerajaan.

 

Taeyeon beranjak dari bola kristalnya, keluar dari aula dan berdiri di balkon dengan murung. Beribu pertanyaan terlintas dalam benaknya.

Mengapa bola kristalnya mendadak hitam disaat ia mencoba mencari keberadaan anaknya?

Mengapa keluarga kerajaan tiba secepat ini ke negeri Junghwa? Bukankah mereka seharusnya memakan waktu 15 hari?

 

Taeyeon tahu. Sesuatu yang tidak beres pasti telah terjadi.

***

“ Astaga. Kau masih begini!?”

Sungyeol membuka pintu kamar asrama Chorong dan melihat sahabat perempuannya itu masih memainkan ponselnya dengan posisi random di atas tempat tidur yang berantakan.

“ Hei, kau berhasil masuk asrama putri?”sahut gadis itu cuek, Sungyeol benar-benar gemas dan menariknya dari atas tempat tidur.

“ Cepat bersiap! Kau tidak kasihan dengan Myungsoo yang menunggu lama di rumah sakit!?”

“ Iya iya aku tahu!” Chorong terpaksa berdiri, Sungyeol merampas ponselnya agar ia tidak bermain lagi.

“ Apa yang kau lakukan sejak tadi hah? sudah kubilang jam empat.. bersyukurlah kita diizinkan monster Sunggyu untuk keluar asrama.”omel Sungyeol sembari iseng membuka ponsel gadis itu.

“…haha, kau sedang mencoba membuka video yang aku password di grup kita?”

“ Iya, aku mengaku. Aku penasaran, mengapa kau mengirim video misterius itu, aku ingin tahu apa isinya.”jawab Chorong kesal sembari membuka lemarinya dan mencari-cari pakaian yang ingin ia kenakan.

“ Sudah kubilang aku akan beritahu passwordnya disaat yang tepat.”

“ Setidaknya beri aku petunjuk video itu isinya tentang apa..”

“ Jangan banyak tanya. Ganti saja pakaianmu.”

“ Sedang kulakukan, bodoh.”

“ YA!! masuk kamar mandi sana!” Sungyeol melempar Chorong dengan bantal karena gadis itu melepas pakaian dengan santai di depannya. Baiklah, mereka sudah bersahabat bertahun-tahun, tapi Sungyeol tak pernah tahu Chorong sudah menganggapnya sejauh ini.

“ Ck, aku malas. Lagipula kau gay juga kan?”sahut Chorong sembari tertawa mengejek.

“ Sialan. Aku tunggu di luar.” Sungyeol berdiri dan bermaksud meninggalkan kamar, namun Chorong justru menahan lengannya.

“ Jangan. Aku ingin bertanya.”

“ Apa? Apa?”

“ Apa yang harus kulakukan untuk menyenangkan Woohyun?”

“ Dia memintamu untuk membuatnya senang?”

Gadis itu mengangguk.

“ Aku tahu keinginannya sederhana, ia akan senang jika kau tidak lagi berpaling darinya. Hanya itu. kau tidak perlu sampai melepas baju di depannya, seperti yang kau lakukan sekarang.”

Sungyeol melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.

“ Cepat pakai bajumu, kita pergi dengan mobil Woohyun.”

*

“ Kenapa kalian tidak satu mobil saja sih? Kau ini membuatku repot saja..”

D.O mengeluh sembari menyalakan mobilnya dan mulai keluar dari lapangan parkir SMA Junghwa dengan kecepatan sedang. Woohyun yang ada disampingnya terkekeh.

“ Aku kan hanya ingin menjemput Naeun, tidak menjemput rivalku yang sialan itu.”

“ Tapi kenapa kau meminjamkan mobilmu pada Sungyeol dan Chorong untuk menjemput Myungsoo?”

“ Semata-mata untuk membuat Chorong senang saja. Kau tidak lihat aku sedang berusaha membuatnya jatuh hati lagi padaku?”

“ Hubungan kalian sudah aneh sejak dulu, sebenarnya siapa yang mencintai siapa? Aku heran..”

“ Sudahlah cepat saja, kasihan Naeun menunggu lama di rumah sakit.”

*

 

“ Kita sudah sampai.”

Sungyeol dan Chorong saling bertatapan, merasa canggung untuk turun dari mobil duluan mendahului supir mereka : Kim Sunggyu.

Kepala sekolah berpredikat ‘monster’ itu rupanya ikut bahkan membawa mobilnya menuju rumah sakit. Selain alasannya untuk mengawasi siswanya yang keluar asrama, ia juga ingin mencari anaknya, Kim Yura, yang sepertinya mengikuti Myungsoo seharian di rumah sakit.

“…ayo! Kenapa kalian diam saja!?” Sunggyu turun duluan dari mobil, Sungyeol dan Chorong segera melepas seatbelt mereka dan mengikuti sang kepala sekolah memasuki gedung rumah sakit.

 

“ Myungsoo sakit apa?”tanya Sunggyu dalam perjalanan menuju kamar perawatan, Sungyeol dan Chorong saling tatap lagi.

“ Daya tahan tubuhnya menurun.”jawab Chorong gugup.

“ Ia kuperbolehkan istirahat di asrama. Sebentar lagi ujian, ia tidak boleh sakit.”

“ Terimakasih.”

“ Mengapa tiba-tiba peduli pada teman kami?”tanya Sungyeol iseng. Sejak dihukum oleh Sunggyu kemarin, ia berpikir menjadi kurang ajar sekalian sepertinya tidak masalah.

“ Yura menyukainya, Yura akan membenciku kalau aku sinis pada Myungsoo.”

“ Haha.. kau orangtua yang baik, Sunggyu songsaenim.”

Sunggyu tertawa ringan, “ Tapi itu bukan berarti aku merestui perasaannya pada Myungsoo. Ada seseorang yang lebih cocok untuk Yura.”

“ Ah.. jinjja? Kalau boleh tahu, siapa—“

“ Yura!”

Sunggyu melihat anak angkatnya itu di tengah keramaian lobi rumah sakit, sepertinya Yura hendak berjalan menuju pintu keluar.

“…sudah kuduga ia disini.”Sunggyu geleng-geleng kepala dan tiba-tiba menyenggol lengan Sungyeol.

N..ne songsaenim?”

“ Kejar dia. bawa pulang ke asrama.”

“ Hah?”

“ Cepat!”

“ Eh.. n-ne..ne arasseo songsaenim.”

Dengan wajah bingung Sungyeol tetap menuruti perintah Sunggyu, ia berlari kearah Yura setelah saling bertatap heran dengan Chorong.

 

“ Hei! Yura! Kim Yura! Aigoo~ jalanmu cepat sekali.”

“ Kamu!?” Yura heran karena Sungyeol tiba-tiba mendatanginya.

“ Ayo pulang.” Lelaki itu merampas kunci motornya dan menarik tangannya keluar dari gedung rumah sakit.

“ Hei hei tunggu dulu! Bukankah kita sedang bertengkar?”

“ Persetan dengan itu, aku tidak mau disikat Kim Sunggyu. Jadi ayo pulang!” Sungyeol menariknya lagi menuju tempat parkir, kali ini dengan paksa.

“ Biar aku yang bawa motornya..”

“ Aku saja.”

Sungyeol menemukan motor besar milik Yura, memakaikan helm di kepala gadis itu lalu mulai melaju keluar dari area rumah sakit.

“ Aku..lapar.”

“ Kemana saja kau seharian ini hah? kenapa belum makan?”

“ Kenapa kau tiba-tiba galak hah!?”

“ Maaf.. maaf.”

“ Aku mau makan dari siang, tapi uangku ketinggalan.”

“ Ya sudah, makan di asrama saja.”

“ Aku tidak punya jatah di asrama, aku kan bukan siswi SMA Junghwa, bodoh!”

“ Jadi bagaimana?”

“ Tidak tahuu..”

“ Ya sudah.”

“ Ah, aku lapar sekali..”

“…”

“ Lambungku, duh..”

“…”

“ Aku akan mati..”

Sial. Sungyeol tahu ini kode apa. Tapi ia juga tak membawa uang yang cukup di sakunya.

Ia membelokkan motornya, membawa Yura ke tempat yang sekiranya membuat gadis itu berhenti mengoceh tentang perutnya yang kelaparan.

 

“ Turun.”

Yura menurut, Sungyeol berharap gadis itu tidak mempermalukannya karena telah membawanya ke tempat seperti ini, tempat yang cocok dengan uang yang ia bawa.

“ Bakso ikannya 5! Hei cenayang, kau mau juga?”

“ Eh, tidak.. k-kau saja.”

“ Benar? Kau yang membawaku kesini tapi kenapa tidak ikut makan..”

Sungyeol menghela nafas lega, bahkan cukup senang karena ternyata Yura menyukai tempat makan mereka : warung bakso ikan pinggir jalan.

“ Apa yang kau lakukan seharian ini di rumah sakit?” Sungyeol duduk di samping gadis itu dan memulai interogasinya.

“ Bukannya aku sudah bilang? Mengikuti Myungsoo-ku.”

“ Sampai tidak peduli dengan perutmu yang kosong?”

Yura menunduk dan mulai melahap bakso ikannya dengan murung.

“…lalu apa yang kau dapatkan hari ini? Mengobrol banyak dengan Myungsoo?”

Gadis itu menggeleng dan mengunyah makanannya pelan-pelan.

“…lalu apa?”

“ Aku hanya.. memperhatikannya dari jauh.”

“ Kenapa tidak menghampirinya?”

“ Tidak mungkin.”

“ Biar kutebak, ia pasti bertemu dengan Naeun.”

“ Ck! Tidak usah disebut!” Yura mengangkat tusuk baksonya dan mengancam akan melukai Sungyeol jika lelaki itu menyebut nama Naeun lagi.

“ Tapi aku benar kan?”

“ Yah.. yah.. kau benar. Mereka mengobrol banyak di dekat unit RSJ. Aku menguping dari awal sampai akhir meski ada beberapa yang tidak kudengar jelas. Aku banyak merasa kecewa hari ini, tapi aku punya kabar baik juga untuk diriku sendiri.”

“ Kau bisa beritahu aku apa yang membuatmu kecewa, dan kabar baik itu.”

“ Aku kecewa karena firasat burukku terjawab, Myungsoo-ku memang menyukai gadis aneh itu.”

“ Akhirnya kau tahu sendiri. Lalu, ‘kabar baik’nya?”

“ Mereka sepakat menjadi sunbae dan hoobae biasa, mereka sepakat untuk tidak dekat lagi.”

Kali ini alis Sungyeol terangkat.

“ Benarkah?”

Sungyeol yakin ini pasti karena pertemuan Myungsoo dengan L semalam.

“ Iya. Myungsoo bilang, dia tetap tidak akan membuang perasaannya. Tapi kalau mereka berjauhan, siapa tahu perasaannya berubah. Saat itulah aku akan menggunakan kesempatan—“

“ Kau benar-benar menyukai Myungsoo?”

“ Tentu saja. Kenapa kau tanya lagi?”

“ Asal tahu saja, Sunggyu tidak akan merestui perasaanmu pada Myungsoo.”

“ Heh? Mana mungkin! Tahu darimana?”

“ Sunggyu sendiri yang bilang padaku. Dia bilang ada orang lain yang lebih cocok untukmu.”

“ Haha. Tidak mungkin. Jangan mengada-ada ya, bilang saja kau cemburu.”

“ Hah, untuk apa aku cemburu!? Aku hanya kasihan padamu. Dengar ya, Myungsoo itu sudah menjadi sahabatku bertahun-tahun, aku tahu betul siapa dia. dia bukan orang yang mudah jatuh cinta, kupikir akan susah baginya melupakan Naeun. Jadi jangan banyak berharap dan menghabiskan waktumu untuk sesuatu yang belum tentu bisa kau miliki.”

Yura terdiam sejenak, bibir bawahnya maju tanda hendak menangis sekarang juga.

Namun Sungyeol tetap bersikap tega, mungkin ia terlalu gemas dengan Yura yang terlalu banyak menghabiskan waktunya hanya untuk melihat dan mengikuti Myungsoo.

Lelaki itu merogoh saku jaketnya, mengeluarkan setumpuk kartu tarot yang dililit karet dan membukanya, lalu menatanya di atas meja warung.

“ Baiklah, kau mau lihat sendiri seperti apa masa depan kehidupan asmaramu? Kita lihat apa kau benar-benar bisa mendapatkan Myungsoo di masa depan.”

“ Kenapa aku harus percaya pada kartu-kartu ini!?”

“ Aku menggunakan benda ini bertahun-tahun, dan apa yang kukatakan tidak pernah meleset.”

Yura menelan bakso terakhirnya lalu menegakkan duduknya.

“ Baiklah, akan kucoba!”

***

 

“ Seharusnya kau masih dirawat, Naeunnie. Kenapa ingin cepat-cepat pulang ke asrama sih?”

Woohyun mengajak Naeun berbicara lewat spion dalam, adik angkatnya itu tengah melamun dengan kening menempel di kaca mobil.

“ Aku tak mau ketinggalan pelajaran.”jawab gadis itu seadanya.

“ Tapi kebetulan sekali kau dan Myungsoo sama-sama mau pulang hari ini.”sindir Woohyun.

“ Oh ya, apa benar Myungsoo sunbae dijemput Sungyeol dan Chorong sunbae?”

“ Ya. mereka memakai mobilku.”

“ Benarkah? Terimakasih oppa, sudah peduli pada Myungsoo.”

“ Hahaha.. dia hanya ingin membuat Chorong senang.”sela D.O, Woohyun tertawa kecil.

“…by the way, rasanya sudah lama aku tidak melihat Eunji. dia tidak muncul di sekolah atau menghindar dariku?”tanya D.O kemudian.

Eunji. Naeun jelas ingat bahwa terakhir kali ia bertemu sahabatnya itu di negeri Junghwa sebelum berangkat ke negeri Gwangdam untuk menghadiri upacara pernikahan Krystal.

Setelah itu ia tak tahu lagi. keadaan misterius di negerinya yang tak pernah diberitahu L mungkin telah mengubah keberadaan Eunji.

“ Ia.. sedang piknik ke tempat yang jauh.”jawab Naeun seadanya.

“ Apa ia masih berpacaran dengan artis itu?”

“ Ya. kurasa.. masih.”

Sial, Naeun bahkan tak tahu juga perkembangan hubungan Howon dan Eunji.

 

Ia sadar, sudah terlalu lama ia di dunia nyata.

Gadis itu semakin menyandarkan keningnya di kaca mobil yang berembun.

 

“ L.. kapan kau datang menjemputku?”

***************

 

Negeri Junghwa kini tak lagi menjadi negeri penyihir.

Keluarga kerajaan dan warga negeri Junghwa telah kembali dengan selamat. Dengan mempersatukan kekuatan, para penyihir berhasil mengadakan penyambutan meriah dengan menghias istana dan membuat makan malam besar untuk keluarga kerajaan.

 

Namun situasi yang meriah itu hanya bertahan sesaat. Sebab Raja, Ratu, Daehyun, dan Ilhoon terkejut dengan adanya Hyerim di istana. Bukankah putri pertama mereka seharusnya berada di negeri Gwangdam dan menemani Krystal?

Mengapa Hyerim ada di istana bahkan ditemani oleh Howon?

 

Hyerim duduk dengan tenang di meja makan malam besar yang disiapkan para penyihir malam itu, mencoba merangkai kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi sehingga ia bisa berada di istana saat ini. Ia masih terlalu takut untuk memberitahu keluarganya tentang penderitaan yang dialami Krystal setelah menikah dengan Baekhyun.

 

“ Ini sangat membingungkan.” Raja Yonghwa memijat kepalanya, meminta Hyerim untuk segera membuka mulut.

“ Jelaskan pada kami, nak.”pinta Ratu Seohyun.

“ Bagaimana bisa kau ada disini sekarang?”tanya Daehyun.

“ Dimana Krystal sekarang?”tanya Ilhoon.

Howon mengelus punggung Hyerim yang gemetaran, mencoba menenangkan gadis itu. ia sama sekali tak bisa bicara.

 

“ Sebenarnya, banyak hal diluar dugaan yang terjadi disaat kalian meninggalkan negeri ini.”

Keluarga kerajaan menoleh, Taeyeon muncul dari salah satu ruangan dengan menggendong Lin. Ia baru menampakkan diri setelah seharian di dalam sana bersama cucunya itu.

“ Apa saja yang terjadi?”tanya Raja tak sabaran.

“ Pertama. Menurut kalian mengapa semua penyihir tinggal di istana ini? Mereka butuh perlindungan.”

“ Perlindungan?”

“ Hyoyeon bukanlah mitos lagi. ia muncul dan menculik bangsa kami satu per satu, lalu berencana membunuh anakku setelahnya.”

Keluarga kerajaan saling bertatapan, namun entah mengapa, mereka nampak tak terkejut. Ini memunculkan pertanyaan baru dalam benak Taeyeon, namun masih ia tahan.

“ Kedua, kalian harus tahu bahwa..”

“ Bahwa..?”

“ Sekarang aku menjadi penyihir nomor tiga.”

“ Kemana Madame Sunny!?”

Kali ini mereka terkejut.

“ Hyoyeon tidak main-main dalam menjalankan rencananya membunuh L. hingga membuat Sunny harus turun tangan.”

“ Madame.. pantas saja aku tidak melihatnya…” Ratu Seohyun langsung menangis mendengarnya, Daehyun dan Ilhoon berlari keluar istana untuk mencari makamnya. Sementara Raja justru berpikir setelah mendengar kabar itu dari Taeyeon.

“ Taeyeon, aku akan mengangkatmu menjadi penyihir istana.”

Wanita muda itu terkejut. Secepat ini? Bahkan Raja tidak memperlihatkan rasa dukanya terhadap kematian Sunny.

“ Tidak sekarang, raja. Maaf.”jawab Taeyeon menolak.

“ Kenapa?”

“ Aku ingin pengangkatanku sebagai penyihir istana disaksikan oleh L.”

Ratu Seohyun mengangkat kepalanya, menatap Raja Yonghwa dengan penuh isyarat setelah mendengar nama L terucap dari bibir Taeyeon.

“ Jangan katakan padanya. Jangan.”

Tapi bukan Taeyeon namanya jika ia tak tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh keluarga kerajaan yang baru saja tiba di negerinya itu.

“ Apa yang kalian rahasia—“

“ Krystal baik-baik saja, kan?”

Ratu Seohyun memotong pembicaraan dengan menanyakan Krystal pada Hyerim. Taeyeon tahu ini pengalihan, namun ia memilih untuk mengalah karena Krystal pun penting untuk mereka bicarakan.

“ Ya. Krystal baik-baik saja. Dia di dunia nyata dan tidur di apartemenku. Ia sangat ingin tahu dunia nyata, jadi Hyerim mengajaknya kesana. Kebetulan Hyerim punya ramuan portal dari Yeoshin. Yang jelas, Krystal aman sekarang.”

Howon yang menjawabnya, dengan berbohong. Tetapi nampaknya Raja dan Ratu percaya dengan perkataannya. Ternyata latihan aktingnya di dunia nyata tidak sia-sia.

“ Apa Baekhyun ada disana bersama Krystal?”

“ Tidak. Krystal ingin sendiri. Kalian tahu sendiri kan dia bagaimana..” jawab Hyerim gugup.

“ Kapan dia akan pulang dari sana? Ia tak bisa meninggalkan suaminya lama-lama setelah baru saja menikah.”

“ Segera. Ia akan segera pulang.”jawab Howon seadanya, daripada harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Waktunya sama sekali belum tepat.

“ Kalian harus beristirahat. Daehyun dan Ilhoon juga..” Hyerim berdiri dan mempersilakan kedua orangtuanya untuk beristirahat. Para penyihir yang ada disana pun ikut berdiri untuk menghormati Raja dan Ratu yang akan pergi beristirahat.

 

Sementara Taeyeon masih terpaku di tempatnya. Lin berkali-kali menarik jubahnya, seakan ingin menyampaikan sesuatu padanya.

 

“ Aku tahu, Lin. Aku tahu. ada yang mereka rahasiakan dariku.”

***

 

2 hari kemudian…

Maaf kalau aku menulis hanya disaat aku sedang sedih dan sendirian.

Benar-benar terasa setelah aku sepakat untuk menciptakan jarak dengan Myungsoo sunbae, aku tidak punya teman disini. Aku tak tahu pada siapa aku harus bercerita..

Sisi baik L itu benar-benar menjalankan kesepakatan dengan baik. Ia fokus belajar untuk ujian akhir, ia juga mendapat pekerjaan baru sebagai petugas piket kebersihan asrama untuk hari-hari tertentu, tapi ia masih menjadi loper buletin juga. Ia membuktikan perkataannya, ia benar-benar bekerja keras. Aku takut daya tahan tubuhnya menurun lagi.

Tapi aku tak bisa menanyakan keadaannya lagi. karena setiap kami berpapasan, ia hanya memberiku senyum sosial, selayaknya kakak kelas pada adik kelasnya.

Aku kagum.

Ia bisa menekan perasaannya sehebat itu.

Kesepakatan kami mungkin memang sudah yang terbaik. Tapi secara tidak sengaja Myungsoo sunbae membuatku kesepian.

Seandainya ada Hyerim disini..

Sekarang dia dimana, ya? apa ia masih di Gwangdam? Apa pernikahan Krystal berjalan lancar?

Sial sekali, aku tidak tahu apapun.

Ini sudah dua hari dan L tidak datang sama sekali. Perasaanku mulai tak nyaman. Apa dia masih merasa bersalah karena telah melecehkanku dengan brutal?

Aku sudah memaafkanmu, L. bahkan aku berharap kita bisa memiliki anak kedua setelah apa yang kau lakukan padaku.

Karena jika aku mengandung, tak ada alasan bagiku untuk berlama-lama disini.

Aku ingin segera pulang, L.

Jemput aku.

Aku ingin segera tahu kenapa Madame Sunny meninggal..

Aku merindukan dan mengkhawatirkan Lin.

Aku merindukan Taeyeon.

Aku merindukan Dongwoon oppa dan Gain unnie.

Aku juga merindukanmu..

Aku ingin pulang..

 

Naeun menutup buku hariannya yang sudah usang. Sudah lama ia tidak menumpahkan isi hatinya disana.

Sejak keluar dari rumah sakit, gadis itu benar-benar merasa kesepian. Myungsoo benar-benar tidak mendekatinya lagi, Kai yang bisa ia jadikan teman pun entah mengapa belum kembali dari apartemen Hoya.

Dan L yang ia harapkan untuk mengunjunginya dalam mimpi dan menjemputnya pulang pun sama sekali tidak menampakkan dirinya sejak pemerkosaan itu. hal inilah yang paling mengganggu Naeun, ia selalu menangis setiap bangun tidur karena L tak mengunjunginya dalam mimpi.

 

Gadis itu berdiri dan keluar dari kamarnya, tangan kirinya menjinjing sebuah keranjang berisi komposisi ramuan.

Seharusnya malam ini ia bergabung untuk belajar kelompok di perpustakaan seperti biasanya, tapi kali ini ia memilih membuat ramuan penyembuh untuk Min, bocah kecil yang ditemuinya di lapangan basket rumah sakit dua hari yang lalu.

Dengan langkah hati-hati ia berjalan menuju dapur asrama yang sedang kosong.

 

“ Mungkin kau berpikir aku benar-benar menjalankan kesepakatan kita dengan baik. Tapi kau salah, Son Yeoshin.”

 

Seorang lelaki tampan keluar dari balik dinding koridor, mengikuti langkah gadis yang berjalan beberapa meter di depannya.

***************

 

Teng! Teng!

Hyerim membunyikan bel dari dapur, sebagai pertanda bahwa makan malam akan segera dihidangkan.

 

Taeyeon menghela nafas lega, ini artinya sebentar lagi ia akan selesai mengajar.

Ya, Taeyeon masih tetap mengajar para penyihir di istana meskipun keluarga kerajaan telah kembali menghuni istana. Perbedaannya, ia mengajar malam hari karena siangnya, para penyihir diizinkan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Ini membuat istana menjadi tidak sepi, Raja dan Ratu bahkan ikut menyaksikan Taeyeon mengajar di aula.

Entah mengapa, sepasang pemimpin negeri Junghwa itu terus memperlakukan Taeyeon dengan sangat baik sejak mereka pulang. Memberi izin untuk tetap mengajar di aula istana adalah hal yang aneh bagi Taeyeon. Terlebih, Lin pun masih diizinkan untuk tinggal di istana agar dapat dirawat dengan baik oleh pegawai istana.

Meski mencurigakan, Taeyeon tetap menerima semuanya karena melanjutkan pekerjaan L dan memberi perlindungan serta perawatan yang baik untuk Lin adalah kewajibannya saat ini, walaupun ia menjalaninya dengan sedikit stres, sebab kekhawatirannya pada L semakin membesar setiap harinya.

 

Wanita muda itu merasa cukup untuk hari ini. Setelah menutup sesi mengajarnya, ia segera bergegas menuju ruangan tempat Lin berada dengan terburu-buru.

 

“ Taeyeon kelihatan semakin tidak tenang. Kekhawatirannya terhadap L tertular padaku juga.”Howon yang sedang menata meja besar untuk makan malam memperhatikan Taeyeon yang berjalan buru-buru selesai mengajar.

“ Aku tidak bisa menebak apa L sudah bertemu Ahyoung atau belum, mengapa dia tidak pulang juga ya..”sahut Hyerim, “…jika sesuatu terjadi, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku yang membuat perjanjian itu dengan Ahyoung..”

“ Ini bukan salahmu, Hyerim.”

“ Ini salahku. Aku banyak berbuat kekeliruan. Ramuan portalku dicuri L sampai kita berdua tidak bisa pulang lagi ke dunia nyata. Maafkan aku, Howon. Kekacauan pasti terjadi lagi di dunia entertainment karena kau menghilang.”

“ Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Ini pilihanku untuk mengikutimu kesini.” Howon memeluk Hyerim dan mengusap-usap rambut gelap gadis itu dengan lembut.

“ Aku juga masih memikirkan Naeun, apa yang sudah L lakukan padanya? Kita tidak bisa apa-apa selain menunggu disini..”

“ Sudah..sudah.. tenangkan pikiranmu. Keluargamu pulang, bukankah seharusnya kau senang?”Howon melepas pelukannya dan menarik kedua ujung bibir Hyerim agar gadis itu tersenyum.

Gadis itu menurut, ia kembali melanjutkan pekerjaannya membantu pegawai istana mempersiapkan makan malam.

PRANG!

“ Astaga! Sudah kubilang tenanglah..” Howon terkejut karena Hyerim memecahkan gelas kosong dan mengejutkan seisi ruangan, gadis itu buru-buru menggeleng.

“ Bukan.. itu.. tadi aku melihat..”

“ Melihat apa?”

“ Itu..”

“ Siapa?”

Hyerim terus menggerakkan kepalanya, mengikuti sesuatu yang ditangkap oleh pandangannya.

“ Kenapa dia ada disini?”

“ Siapa yang kau bicarakan, Hyerim?”

Gadis itu tak menjawab, ia berjalan menuju para pegawai istana yang mulai membagikan makan malam pada para penyihir yang berbaris dan ikut membantu mereka.

Howon terus mengawasinya, lelaki itu mengambil duduk di samping Taeyeon yang sedang bersama Lin di sudut tangga istana.

“ Hyerim melihat seseorang, tapi dia tidak bilang itu siapa.”lapor Howon tanpa menoleh ke arah ibu L itu.

“ Benarkah?”mata Taeyeon memicing, memperhatikan Hyerim yang sedang membagikan makanan.

Dan ia merasakan Lin kembali menarik-narik jubahnya, kali ini lebih keras dari biasanya.

“ Sepertinya ada sesuatu yang tak bisa aku lewatkan.”

Taeyeon menitipkan Lin pada Howon, wanita muda itu berdiri perlahan dan mendekati kerumunan penyihir yang sedang berbaris untuk mengambil makan malam, mengawasi Hyerim tanpa berkedip.

 

“ Itu dia.”

Hyerim sedikit gugup, piring di tangannya bergetar. Seseorang yang sejak tadi ia lihat rupanya berpura-pura ikut bergabung dengan para penyihir dan akan mengambil makan malamnya.

Ia ada di depan Hyerim dengan kepala menunduk, tangannya dengan gemetar menerima piring dari gadis itu.

“ T-terimakas—“

“ Kim Ahyoung?”

Ia langsung mengangkat kepalanya. Dengan wajah ketakutan mengisyaratkan Hyerim untuk tutup mulut.

“ D-diamlah.. n-nanti kujelaskan, jangan bilang siapa-s—“

“ Kenapa kau ada disini!? Apa yang terjadi, Kim Ahyoung!?” Hyerim sengaja mengeraskan suaranya karena ia heran mengapa penyihir kerajaan Gwangdam tiba-tiba muncul di negeri Junghwa dan menyamar untuk masuk ke dalam istana.

Howon berdiri, terkejut karena Taeyeon tiba-tiba memasuki kerumunan dan menghampiri Hyerim serta Ahyoung yang masih berhadapan.

 

“ Jadi kau yang bernama Kim Ahyoung? Penyihir negeri Gwangdam yang meminta anakku untuk mengambil ramuan portal dari tanganmu?”

PRANG!

Ahyoung semakin ketakutan, ia menjatuhkan piringnya lalu mundur dengan wajah stress.

Suasana mendadak tegang, para penyihir memusatkan perhatian mereka pada penyihir negeri Gwangdam itu.

Taeyeon mulai panas, ia maju mendekati Ahyoung yang terus melangkah mundur dengan ketakutan.

Wanita muda itu menatapnya tajam dengan bola mata yang semakin besar dan berkilat-kilat.

 

“ DIMANA L SEKARANG?”

***

 

01:59:59 AM

 

Myungsoo melirik jam digitalnya sejenak, setelah itu kembali memusatkan pandangannya pada salah satu lubang kecil pintu dapur asrama putri, satu-satunya celah yang bisa membantunya memperhatikan gadis yang ia cintai membuat ramuan di dalam sana.

“ Kenapa kau terus memecahkan botolnya? Sesuatu pasti sedang mengganggu pikiranmu..”

Entah sudah berapa jam Myungsoo menghabiskan waktunya untuk sekedar mengintip. Naeun membuat ramuan penyembuh berkali-kali namun selalu berakhir terhempas dan merembes di lantai karena kecerobohannya.

Dan meski jam sudah mulai menunjukkan waktu dini hari, gadis itu mencoba fokus dan berharap kali ini pekerjaannya selesai.

Myungsoo mulai menguap. Apa ia kembali saja ke asramanya? Mungkin sejak tadi Naeun gagal karena merasa ada seseorang yang memperhatikannya.

“ Tidak.. tidak. Aku akan tetap disini. Aku ingin menjagamu, Son Yeoshin.”

Myungsoo terduduk di lantai dan menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya perlahan terpejam.

***

 

“ Meninggalkan seorang Son Yeoshin memang sulit, kan?”

“ Hah?”

Myungsoo membuka matanya dan terkejut melihat refleksi dirinya tiba-tiba muncul di depannya dan berbicara padanya.

Tidak. Bukan refleksi dirinya. Myungsoo menyadari itu ketika melihat pakaian mereka berbeda, dan tato itu…

Tak salah lagi.

Dia L.

Myungsoo mencoba tenang, berusaha untuk melihat sejenak ke lubang kecil tempatnya mengintip.

Namun bahunya dicengkeram, L menariknya.

“ Tak ada siapapun disini selain kita berdua.”

“ B-bagaimana bisa?”

“ Ini mimpi. Mimpimu.”

Myungsoo paham. Tapi mengapa.. seorang L mengiriminya mimpi?

“…kau pasti bingung, dan takut.”

“ Apa kau akan balas dendam?”

L menggeleng dengan wajah datar.

“…lalu?”

“ Karena hanya kau yang bisa kukirimi mimpi.”

“ Hanya aku?” sekarang Myungsoo tak mengerti, “…kenapa.. hanya aku?”

L tersenyum getir sejenak, kemudian ikut bersandar di dinding, di samping Myungsoo.

Dan seperti biasa, ia membakar rokok, lalu menghembuskan asapnya dengan nafas pasrah.

“ Roh penyihir yang memiliki tato di tubuhnya memiliki keistimewaan. Meski sudah terpisah dari jasadnya, ia tetap bisa mengirimkan mimpi. Tapi hanya pada satu orang, sisi baiknya.”

Mata elang Myungsoo membesar.

“ L, tidak mungkin..”

 

“ Tentu mungkin. Buktinya aku ada disini.”

***

 

“ Ia diam saja sejak tadi.”

Taeyeon mulai geram, Ahyoung masih menutup mulutnya meski ia sudah bertanya dengan penuh ancaman berkali-kali.

Istana benar-benar sunyi, tak ada yang berani mendekati Taeyeon yang masih menahan Ahyoung di tengah ruangan. Termasuk Raja dan Ratu, mereka mulai khawatir tanpa sebab.

“…baiklah, jika kau masih tidak mau membuka mulutmu..”

Taeyeon mengeluarkan sebotol cairan dari saku jubahnya. Mata Ahyoung tiba-tiba membesar dan ia semakin depresi.

“ T-tidak.. j-jangan… kumohon..”

“ Kau tahu ramuan apa ini?”

Para penyihir terkejut, mereka semua tahu ramuan apa yang dipegang oleh Taeyeon.

Ramuan kejujuran. Rasanya tak kalah pahit dari ramuan identitas yang pernah diminum Hyerim ketika hendak mencari tahu siapa Kim Hyoyeon.

“ Minum. Sebelum aku yang memasukkannya dengan paksa ke mulutmu.”

Taeyeon meminta dengan penuh penekanan, ujung tongkat sihirnya tepat menempel di ulu hati Ahyoung.

Penyihir negeri Gwangdam itu tak punya pilihan.

Ia meneguknya.

BRAK!

Dan terkapar di lantai karena tak tahan dengan pahitnya.

Ramuan itu bekerja, Ahyoung mulai membuka mulutnya.

 

“ Aku masih takut mengingat semuanya..

Hari itu, semuanya tidak sesuai rencanaku.

L muncul begitu saja di menaraku, dalam keadaan tertidur pulas ia tiba-tiba mengisi ranjangku. Aku senang, tapi karena merasa heran.. aku mencoba mencari tahu selama ia tertidur. Rupanya ada seorang penyihir yang mengambilnya dari kereta kerajaan Junghwa dan membawanya ke negeri Gwangdam.

Aku sendiri terkejut, aku tak tahu siapa penyihir yang mengirimkan L padaku. Pada awalnya, aku mengira penyihir itu ingin mempercepat pertemuanku dengan L. jadi aku berencana untuk berterimakasih.

Tapi aku salah.

Aku tak tahu bahwa pangeran Baekhyun berkonspirasi dengan Kim Hyoyeon, penyihir yang sejak dulu kukira sudah mati dan menjadi mitos, ternyata ia benar-benar ada.

Dan dialah yang mengambil L dari kereta kerajaan Junghwa.

Sebentar, aku.. aku sangat merinding. Aku sungguh terkejut bahwa Kim Hyoyeon benar-benar ada.

Kim Hyoyeon dan pangeran Baekhyun saling mengenal, mereka bahkan bekerjasama. Mereka mengetahui rencana transaksi ramuan portal antara aku dengan L, dan mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menjebak L.

Makanya aku katakan, semua tidak sesuai rencanaku.

Aku berencana memberikan ramuan portal pada L jika dia mau menikahiku, atau tidur denganku semalam saja. Tapi ia menolak, ia marah besar dan hampir membunuhku. Aku keras kepala, aku tetap memaksa, sebab aku ingin tahu apakah L benar-benar berani membunuhku..

Dan pada akhirnya kuakui, L jauh lebih kejam dari yang kuketahui selama ini. Ia menodongku dengan tongkat sihir tanpa keraguan, aku hampir mati.

Saat itulah pangeran Baekhyun datang dan menolongku. Ia sempat disandera oleh L, tapi batal karena Hyoyeon datang dan langsung mengejutkannya.

Dari sanalah, aku baru tahu bahwa ternyata selama ini Hyoyeon dan L adalah musuh besar. Dua penyihir hebat yang merupakan satu keluarga adalah musuh besar. Hal itu benar-benar mengejutkanku.

Di tempat itu juga, Hyoyeon langsung menantang L.

Pertarungan besar benar-benar terjadi.

Dan ini semua karena aku, yang secara tidak sengaja mengantarkan L pada situasi yang sangat mengancam nyawanya.

 

L tidak lari. Ia penyihir yang pemberani dan membenci kekalahan. Ia justru tersenyum sinis dan menerima tantangan Kim Hyoyeon. Ia bahkan berkata bahwa saat-saat seperti inilah yang ia tunggu-tunggu.

Dan pada akhirnya, hari itu, negeri Gwangdam menjadi panas. Seluruh rakyat termasuk para penyihirnya mengetahui akan ada pertarungan besar antara mantan penyihir nomor satu dan penyihir nomor dua.

Kukira pertarungan akan langsung dimulai, namun kedua penyihir hebat itu sepakat untuk berunding terlebih dahulu secara empat mata.

Aku masih ingat situasinya. Mereka menggunakan ruang tengah istana untuk duduk berhadapan. Aku mengawasinya dengan sangat hati-hati.

Mereka saling memberi kesempatan untuk menulis wasiat.

Hyoyeon menulis wasiatnya dengan sangat cepat. Ia berdiri duluan dan tiba-tiba membakar seluruh ruangan. Tapi L berhasil meloloskan diri, dan mengamankan wasiat yang telah ia tulis.

L mulai emosional dan kemarahannya memuncak. Ia terlihat sangat siap menghabisi bibinya sendiri.

Pertarungan dimulai, mereka merusak istana dengan berbagai cara. Mereka bertarung dengan menggunakan seluruh keahlian yang mereka miliki, mulut mereka pun tidak berhenti saling mengumpat satu sama lain.

Seluruh pegawai dan pengawal ketakutan dan keluar dari sana. Sementara aku tetap bertahan, dengan setengah mati mencoba menyelamatkan diri namun tetap mengawasi L, aku benar-benar tak ingin dia mati.. tapi aku terlalu takut untuk menolongnya.

Hingga L melakukan satu kesalahan besar, ia menyandera Raja dan Ratu Gwangdam untuk membuat Hyoyeon menyerah.

Namun itu justru memperparah keadaan, ia justru membuat pangeran Baekhyun marah besar dan memerintahkan seluruh pengawalnya, seluruh penyihir, dan seluruh rakyatnya agar berpihak pada Hyoyeon dan membantai L.

Ketika seluruh penduduk negeri bergerak untuk ikut menyerang L, keadaan semakin mengerikan, dan aku masih bersembunyi.

Satu per satu, rakyat mati. Entah dibunuh L secara langsung atau terbunuh oleh yang lain. Keadaan L dan Hyoyeon sama-sama mulai parah, Hyoyeon menggunakan para penyihir yang masih hidup untuk terus menerus menyerang L.

Pertarungan itu terjadi semalaman. Dan aku merasa takjub karena L masih bertahan hidup meski keadaannya sudah memprihatinkan. Ia menghabisi seluruh penyihir yang menyerangnya. Ia juga tak berhenti melukai Hyoyeon. Ia sangat kuat.

Meski ia nomor dua, ia lawan yang kuat untuk Hyoyeon.

Hingga ketika matahari hampir terbit, negeri Gwangdam sudah berubah menjadi kota mati. Hanya tersisa mereka berdua di halaman istana dengan keadaan berdarah-darah.

Dan aku, yang masih bersembunyi dengan cerdik hingga tak terlihat oleh mereka.

Hyoyeon menghilang, ia masuk ke dalam istana dan mengambil senjata terakhirnya, yang merupakan kelemahan terbesar L : ramuan.

Hyoyeon memasuki menaraku, mengambil seluruh ramuan pembunuh yang ada disana dan melemparkan semuanya pada L sambil berteriak “ RASAKAN APA YANG PERNAH KURASAKAN DULU!”

Aku menjerit, L tidak bisa bangkit lagi dan terkapar di tanah, mengerang kesakitan.

Hyoyeon berdiri di depannya dan mulai menertawainya. Namun apa yang kulihat?

L masih bisa merampas tongkat sihir penyihir itu, menyatukan tongkat itu dengan tongkat sihirnya, lalu dengan cepat dan terengah-engah menarik bibinya hingga jatuh.

Dengan segenap sisa kekuatan terakhirnya, L menusukkan tongkat yang ia satukan itu ke leher Hyoyeon dengan sangat brutal.

Hingga pada akhirnya, Hyoyeon yang mati mendahuluinya, dengan dua tongkat sihir menembus leher bagian kanan dan kirinya.

L masih tersiksa, ramuan pembunuh yang membanjiri tubuhnya menyiksanya terlebih dahulu sebelum membuatnya benar-benar mati.

Aku keluar dari persembunyianku dengan ketakutan yang teramat sangat.

Begitu banyak mayat di sekitarku.

Aku berlari menuju L dan Hyoyeon yang mati berdekatan. Aku sangat berharap L masih bernafas, tapi..

Sudah tidak lagi.

 

Hasil pertarungan itu seri. L benar-benar membuktikan bahwa ia adalah penyihir yang tak bisa dikalahkan.

 

Aku mencabut dua tongkat sihir yang menancap di leher Hyoyeon, seketika itu juga jasad kedua penyihir hebat yang sama-sama mati itu menghilang. Menyisakan asap dan kertas wasiat yang sama-sama telah mereka tulis.

 

Aku menangis ketakutan, mengambil tongkat sihir dan wasiat itu lalu berlari keluar dari negeri Gwangdam yang sudah menjadi kota mati.

Hingga pada akhirnya, aku memilih untuk pergi ke negeri Junghwa.

***********************************************

 

Ahyoung menutup ceritanya. Dengan mata yang mulai terbuka, tangannya mengambil dua tongkat sihir dan dua surat wasiat yang berlumuran darah dari dalam jubahnya, .

“…aku memilih untuk pergi ke negeri Junghwa. Karena.. karena aku harus mengantar ini..”

Taeyeon meraih kedua benda tersebut dan menatapnya lekat-lekat, mencoba menyangkal bahwa ini benar-benar milik saudara perempuan dan anak semata wayangnya.

“ Tidak..”

“…kau pasti berbohong..”

“…tidak mungkin saudaraku.. dan anakku.. anakku..”

“…mati..”

“ TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!!! BRENGSEK!!!!! TIDAK MUNGKIN ANAKKU………”

Ilhoon dan Daehyun berlari dengan sigap untuk menahan Taeyeon yang mendadak gila setelah mendengar cerita Ahyoung. Wanita muda itu meronta hebat dan menangis hingga terduduk di lantai.

Howon tak mampu menolong Taeyeon, tubuhnya mendadak lemah dan untuk pertama kalinya ia menangis di depan Hyerim. Gadis itu pun sama, ia tak bisa membayangkan nasib Yeoshin jika mendengar semuanya.

Sementara para penyihir serta Raja dan Ratu hanya bisa terdiam karena masih tak percaya. Beberapa anak penyihir yang merupakan murid-murid L mulai menangis bersama.

Dongwoon dan Gain mengangkat Namjoo. Gadis itu pingsan sesaat setelah Ahyoung menyelesaikan ceritanya.

Istana Junghwa kini diliputi duka.

Dan Taeyeon tak sudi berada di situasi ini.

Penyihir wanita itu mulai kehilangan akal sehatnya. Matanya semakin berkilat-kilat, dan wajahnya kini ribuan kali lipat lebih frustasi dari Ahyoung. Ia mati-matian mendadak sesak di dadanya, dengan sekuat tenaga berdiri dan menghampiri Ahyoung yang mulai membuka matanya, ujung tongkat sihirnya yang tajam kembali mengarah ke ulu hati penyihir kerajaan Gwangdam itu.

“ Ya.. bunuh saja aku.. bunuh saja.. setidaknya aku sudah sempat bertemu dengan L..”

Ahyoung menyerah dan tersenyum pasrah, ia tahu ia tak akan bisa lolos dari amarah Taeyeon.

“ Ya, lagipula kau tak pantas hidup.”

“ ARGH!!!”

 

“ Tidak! Ssh.. ssh..”

Hyerim dan Howon menutup mata dan telinga Lin, tak membiarkan penyihir kecil itu menyaksikan pembunuhan di depannya.

 

Darah segar mengalir di lantai istana.

Taeyeon benar-benar membunuh Ahyoung dengan menusuk penyihir itu tepat di ulu hatinya.

Namun ini tentu sama sekali tak membuatnya lega. Ia justru semakin frustasi. Setelah melepas tongkat sihirnya dari ulu hati Ahyoung, ia berdiri dan berbalik.

Menodongkan tongkat berdarahnya pada Raja dan Ratu.

 

“ KENAPA.. KALIAN.. TIDAK.. MENJAGA.. L.. DI .. KERETA.. KERAJAAN?”

Ratu Seohyun bergetar hebat, tak berani berbicara dan melindungi dirinya di belakang suaminya. Raja Yonghwa masih memikirkan kata-kata yang harus ia keluarkan agar Taeyeon tak semakin berang.

“…APA ITU YANG KALIAN RAHASIAKAN DARIKU? KALIAN MELEPAS L DARI KERETA KALIAN DAN MEMBERIKANNYA PADA HYOYEON? IYA?”

Taeyeon semakin mendekat, ujung tongkat sihirnya semakin dekat dengan kedua orang yang sedang diancamnya.

“…tidak.. kita akan tamat..” Ratu Seohyun semakin ketakutan, Daehyun, Ilhoon, dan Hyerim mulai berjaga-jaga dan mengawasi orangtua mereka.

 

“ Kau benar, Taeyeon. Dan sebagai gantinya.. Hyoyeon memulangkan kami lebih cepat ke negeri ini.”

Karena tak ingin kehilangan wibawanya, Raja Yonghwa menjawab dengan jujur dan mengejutkan para penyihir. Secara sengaja ia telah membuat Taeyeon semakin marah.

“ Begitu ya?” Taeyeon tersenyum sinis, namun airmatanya terus berjatuhan. Ia nyaris pingsan, namun mencoba untuk tidak runtuh karena sepertinya ada satu hal yang harus ia lakukan.

Membunuh Raja dan Ratu.

“…ini penghormatan terakhirku, Yang Mulia.”

Taeyeon mulai berlari dan mengangkat tongkat sihirnya, namun sebelum ujung tongkat sihirnya kembali memangsa nyawa baru, Hyerim, Daehyun, dan Ilhoon menariknya sekuat tenaga untuk menyelamatkan orangtua mereka.

“ SADARLAH!”Daehyun dan Ilhoon berteriak karena tak ingin orangtua mereka terbunuh. Hyerim mencoba menenangkan Taeyeon dengan gemetaran.

“ KALIAN SEMUA AKAN MATI. ANAKKU TIDAK MATI. AKU YAKIN ANAKKU TIDAK MATI. KALIAN YANG AKAN MATI!”

Taeyeon menjerit dan pada akhirnya ia menyerah. Tangannya merogoh jubah yang masih menyelimuti jasad Ahyoung, mengambil berbotol-botol ramuan portal dari sana lalu menghilang dengan menyisakan asap di depan wajah Hyerim.

******

 

“ Aku sudah tinggal di alam bawah sadarmu dari tiga hari yang lalu. Tepat setelah aku mati, aku berlari menolak kegelapan yang akan menelan nyawaku. Dengan sisa-sisa kekuatan, aku mencarimu. Saat itu.. aku menemukanmu di rumah sakit, daya tahan tubuhmu lemah, jadi aku bisa memasuki alam bawah sadarmu dengan mudah. Terimakasih sudah menjadi tempat perlindungan bagiku dari kegelapan.”

L kembali menghembuskan asap rokoknya. Myungsoo masih tegang, masih sulit mempercayai apa yang ia dengar.

“ Kenapa kau bisa mati, L? apa yang terjadi?”

“ Ceritanya panjang. Yang jelas, aku mati sebagai pemenang.”

“ Sebagai pemenang?”

“ Pernah dengar sesuatu tentang Kim Hyoyeon?”

“ Saat aku bangkit dari kematian, dia adalah orang pertama yang kulihat di ruang penyimpanan mayat. Hoya dan Eunji pernah membicarakan dia padaku, mereka bilang.. kalian adalah keluarga, sekaligus musuh besar.”

“ Dia satu-satunya orang yang lebih kuat dariku. Tapi kau tahu, aku orang yang tak pernah mau dikalahkan.”

“ Apa kau bertarung dengannya?”

“ Ya.”

“ Dan kau kalah?”

“ Hahaha..” L tertawa sinis, “…aku punya prinsip, siapapun yang membunuhku, aku juga harus menyeretnya ke dalam lubang kematian.”

“ Jadi kalian sama-sama mati?”

“ Penyihir disebut benar-mati jika ia sudah masuk dalam kegelapan. Hyoyeon sudah tiba disana, sedangkan aku masih disini, tinggal di dalam alam bawah sadarmu. Aku beruntung karena sisi baikku hidup, jadi aku menemukan tempat berlindung.”

“ Berterimakasihlah pada Yeoshin. Berkat dia aku hidup, dan akhirnya bisa menjadi tempatmu berlindung.”

Penyihir tampan itu tersenyum tipis dan pandangannya mulai buram oleh airmata.

“ Sayangnya aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. kurasa tak lama lagi aku akan gila karena itu.”

Myungsoo terdiam, tak tahu harus berkata apa. Seharusnya ia senang karena mungkin saja mulai saat ini ia berkesempatan memiliki Naeun.

Tapi melihat L saat ini, membuatnya tetap merasa tak berhak untuk itu.

“ Apa yang bisa kulakukan untukmu, L?”

Penyihir itu menoleh, sedikit heran.

“ Kau ingin membantuku?”

Myungsoo mengangguk yakin.

“…walaupun aku jahat?”

Myungsoo kembali mengangguk.

“…meskipun aku orang yang dicintai Yeoshin?”

Myungsoo mengangguk lagi, dengan lebih yakin meski harus menekan perasaannya.

“ Katakan padaku, L. apa yang bisa kulakukan untukmu?”

L menghisap rokoknya sejenak sembari berpikir.

“ Pertama, jangan pernah katakan pada Yeoshin bahwa aku sudah mati.”

“ Jadi kapan ia harus tahu?”

“ Aku akan pikirkan nanti. Yang jelas jangan sekarang. Ia sudah cukup tertekan tinggal di dunia nyata dan tak bertemu Lin berbulan-bulan. Aku takut ia akan gila dan bunuh diri. Yeoshin punya jiwa yang sangat rapuh.”

“ Bukankah jika Yeoshin ikut mati, kalian akan bertemu nantinya?”

“ Kau mau Yeoshin mati?”

Myungsoo menggeleng cepat-cepat.

“ Tidak, tentu saja aku tidak mengharapkan itu.”

“ Aku juga. Yeoshin harus hidup selama mungkin untuk menikmati kebahagiaan, sepanjang hidupnya ia sudah cukup menderita karena aku. Lagipula jika ia mati, kami belum tentu bisa bertemu. Itulah yang kutakutkan dari kematian, sangat mustahil kami bisa bertemu dalam kegelapan.”

“ Aku mengerti, L.”

“ Apa kau masih dekat dengannya?”

“ Tidak. Sudah dua hari ini kami memutuskan untuk menjaga jarak. Tapi seperti yang kau lihat, aku masih mengikutinya dari belakang.”

“ Apa kalian menjaga jarak karena aku?”

“ Ya. aku tahu sampai kapanpun aku tak mungkin memiliki istrimu. Hanya kau yang ada di hatinya, aku sadar.”

“ Kau pasti merasa ini tidak adil, kan? Aku tahu kau selalu memperlakukannya dengan baik dan manis, tapi ia tetap memberikan hatinya pada orang yang kasar padanya. Itulah mengapa aku menyebutnya bodoh, aku sudah menyiksanya hingga airmatanya habis, dan ia masih mencintaiku.”

“ Kenapa kau sangat suka menyiksanya, L?”

L menggeleng pelan, sedikit kesulitan untuk menjelaskan kebiasaannya itu.

“ Aku.. sudah hampir tiga belas tahun mengenal Son Yeoshin. Saat ia menjadi siswa baru di sekolah sihir, aku mulai menyukainya. Dan setelah tahu ia adalah penyihir baik, aku terus mengganggunya, aku juga sering menyiksanya agar mendapat perhatian. Kau tahu kenapa aku melakukan itu? karena aku memang suka melukai orang, dan Son Yeoshin tak akan pernah membalas tindakanku. Hingga lama kelamaan, kebiasaanku itu menjadi cara mengungkapkan cinta padanya. Aku suka dengan airmata Yeoshin, aku suka melihatnya menangis, memohon, dan menuruti kata-kataku.”

“ Benarkah begitu, L?”

Myungsoo benar-benar tak habis pikir.

“ Kau pasti menyebutku psikopat gila, kan?”

“ Ya, kau gila.”

Penyihir tampan itu tertawa kecil, tangannya kemudian meraih liontin kalung panjang yang dikenakan oleh sisi baiknya.

“ Benda ini adalah simbol kekejamanku pada Yeoshin. Aku merenggut auranya sebelum kami menikah, dan menyimpannya di dalam sini.”

Myungsoo terkejut. L telah menjawab pertanyaan terbesar dalam kepalanya.

“…sekarang kau tahu kan mengapa kau bisa jatuh cinta padanya?”

“ Apa jika aku melepas kalung ini, aku bisa melupakan perasaanku pada Yeoshin?”

“ Sayangnya tidak. Meski kau melepas kalung ini, kau akan tetap bisa merasakan aura Yeoshin, karena kau sisi baikku. Kalung ini justru memperkuat perasaanmu, itulah alasan mengapa kau tidak bisa berhenti mengekspresikan rasa cintamu padanya.”

“ Kau tahu aku sering berkata pada Yeoshin bahwa aku mencintainya?”

“ Tentu saja. Aku sudah tinggal di alam bawah sadarmu beberapa hari, aku mendengar apapun yang kau ucapkan.”

Wajah Myungsoo memerah.

“ Maafkan aku, L. kau boleh memukulku sekarang.”

“ Aku sudah tidak punya kekuatan untuk itu. lagipula aku mengakui, cintamu pada Yeoshin sama besarnya dengan cintaku padanya. Kita sama-sama menikmati aura itu.”

“ Mungkin perasaanku akan berkurang jika aku mengembalikan kalung ini.” Myungsoo bersiap melepas kalungnya, namun L memintanya berhenti.

“ Simpan saja. Anggap saja hadiah perpisahan dariku.”

“ Perpisahan? Tidak bisakah kau tinggal di alam bawah sadarku selamanya? Aku sama sekali tidak keberatan..”

“ Tentu saja tidak bisa. Aku akan semakin lemah hari demi hari karena kegelapan mengejar jiwaku, aku.. akan menghilang perlahan dari sini.”

L menunduk, membiarkan airmatanya berjatuhan namun tak ingin dilihat oleh Myungsoo. Ia merasakan tangan sisi baiknya itu di bahunya, memberi ketenangan.

“ Apa tidak ada jalan lain? Haruskah aku meminta Yeoshin untuk membuat ramuan pembangkit kematian?”

Tangisan penyihir tampan itu justru semakin terdengar jelas.

“ Tidak.. sialnya.. jasadku hancur, karena banyaknya ramuan pembunuh yang Hyoyeon tumpahkan padaku.. aku tak bisa hidup lagi dengan usaha apapun sebab aku sudah kehilangan jasadku..”

Tanpa disadari, airmata Myungsoo ikut menitik, ia semakin tak bisa merasa senang dengan kematian L. ini kematian termiris yang pernah ia dengar, lebih menyakitkan daripada jatuh di gunung saat hiking seperti yang ia rasakan dahulu.

“ Apa lagi yang bisa kulakukan untukmu, L? beritahu aku. Akan kulakukan, apapun itu.”

L mengangkat kepalanya setelah menyeka pipinya yang basah.

“ Mari kita buat kesepakatan, Kim Myungsoo.”

“ Kesepakatan?”

“ Ya.”

“ Kesepakatan apa?”

“ Aku ingin kau membuat Yeoshin membalas cintamu, dengan cara apapun. Jika berhasil, aku akan pergi dengan tenang karena itu artinya ia bisa bahagia denganmu. Tapi jika gagal, aku ingin kau memberitahunya bahwa aku mati tanpa membuat dia menangis.”

Apa L sudah gila? Ia telah membuka kesempatan besar bagi Myungsoo, tetapi ini sedikit…

“ Itu tidak mungkin, L. tidak mungkin ia membalas cintaku, dan tidak mungkin juga ia mendengar kabar tentangmu tanpa menangis.”

“ Anggap saja ini tantangan dariku, Kim Myungsoo. Kau bilang akan melakukan apapun untukku.”

“ L..”

“ Kumohon.”

Kepala Myungsoo mendadak berkunang-kunang. Apa ia harus benar-benar melakukan ini?

Ini terasa tidak benar baginya.

Ia harus menemukan jalan keluar yang lain.

 

“ Sunbae? Myungsoo sunbae?”

 

Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar di sela pembicaraan kedua lelaki itu.

“ Itu Yeoshin.”ucap L, “…ia menemukanmu.”

Myungsoo memukul kepalanya, “ Astaga. Apa yang harus kulakukan!?”

“ Bangunlah, dan jangan katakan apapun tentang aku.”

“ L..”

“ Sampai jumpa. Jangan berani-berani bertindak terlalu jauh pada istriku, aku akan tahu itu.”

 

Myungsoo membuka matanya.

Rambut panjang Naeun yang menjuntai sedikit menggelitik wajahnya. Gadis itu menunduk dan menunggunya benar-benar sadar.

“ Na..Naeun?”

“ Apa yang kau lakukan disini? Nanti ketahuan penga—“

Naeun terdiam, Myungsoo berdiri dan langsung memeluknya erat.

Dan lelaki itu menangis.

Sunbae.. kau kenapa?”

“ Aku masih belum percaya itu.. tidak mungkin..” ia berbicara dengan tersendat-sendat.

“ Percaya.. apa?”

Myungsoo masih belum mempercayai pertemuannya dengan L. seandainya saja ia sanggup untuk mengatakannya sekarang juga.

“…tenanglah… kau kenapa?” Naeun semakin bingung karena tangisan Myungsoo semakin dalam.

“ Naeun..”

“ Ya?”

“ Kesepakatan kita.. yang di rumah sakit.. lupakan saja.”

“ A-apa?”

“ Aku tidak akan menjauh lagi darimu.. dan kau, jangan menghindariku.”

“ Tapi.. kenapa tiba-tiba..”

“ Kau merindukan L, kan?”

“ Sangat.. hingga aku tersiksa.”

Myungsoo semakin tak sanggup menahan rasa sedihnya.

“ Aku tahu aku tak akan pernah bisa seperti dia, tapi aku.. sangat ingin membuatmu senang. Anggap saja aku L, teruslah bersamaku disini. Kumohon..”

Gadis itu tak punya pilihan selain menyetujuinya. Karena memang hanya melalui sosok Myungsoo, ia bisa mengobati kerinduannya pada L.

Tapi kenapa?

Kenapa Myungsoo tiba-tiba begini?

***

 

“ T-Ta..Taeyeon..”

Dengan berhati-hati Namjoo masuk ke dalam rumah keluarga penyihir Kim dengan membawa Lin dalam gendongannya. Sesaat setelah sadar dari pingsan dan mulai sedikit tenang, ia langsung ingin mengunjungi Taeyeon.

“ Ya Tuhan.. Taeyeon..”

Namjoo terkejut dengan kondisi rumah yang benar-benar kacau dan berantakan. Seluruh benda bertebaran dalam keadaan rusak, lemari-lemari antik milik keluarga Kim pun rubuh semua.

Apa yang telah Taeyeon lakukan? Ia menghancurkan rumahnya sendiri untuk melampiaskan guncangan yang ia rasakan.

 

“ Taeyeon lanjutkan mengajar di sekolah sihir

Yeoshin boleh mengajak Dongwoon dan Gain tinggal di rumah, Namjoo juga

Taeyeon, jadilah penyihir istana

Tongkat sihirku berikan untuk Lin saat usianya setahun

Sebelas peti emas kerajaan kembalikan, jika ditolak, semuanya menjadi milik Yeoshin

Tak perlu ada pemakaman

Buku-buku sihirku semua untuk Lin

Harta bendaku untuk Taeyeon

Apapun yang kutinggalkan sepertinya sudah kutitipkan

Hanya cintaku pada Yeoshin yang kubawa sampai mati

 

L “

 

“…hahaha.. hahaha.. wasiatmu berantakan, L.. kau pasti menulisnya terburu-buru. Ini tidak sah, ini tak bisa digunakan.. kau belum mati.. kau belum mati. Hahahaha si Ahyoung itu hanya membohongiku, aku tahu.. sekarang dia mati karena membohongiku.. hahahaha!”

 

Namjoo membeku. Merasa takut untuk masuk ke kamar tempat dimana Taeyeon berada. Penyihir wanita itu dalam keadaan yang benar-benar tidak stabil dan mulai gila, ia masih tak mempercayai kematian anaknya.

“ T..tae-yeon..”

Mulut kecil Lin bersuara, Namjoo terkejut.

Lin tampak tenang, bahkan saat Ahyoung menjelaskan kematian L di istana, bayi kecil itu sama sekali tak menangis dan justru memejamkan matanya. Ini membingungkan bagi semua orang, Namjoo bahkan awalnya mengira Lin akan menangis kencang semalaman.

Nyatanya tidak. Apa Lin mengetahui sesuatu? Entahlah.

“ T..tae-yeon..”

Lin memanggil Taeyeon untuk kedua kalinya, Namjoo masih mengunci dirinya sebab tak berani mendatangi Taeyeon.

“ Namjoo? Lin..” Taeyeon keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan wajah basah. Benar-benar tidak karuan. Tangan kanannya masih meremas surat wasiat, dan tangan kirinya menggenggam tongkat sihir L dan Hyoyeon yang berdarah kering karena L sempat menusuk leher Hyoyeon dengan benda itu.

“ Taeyeon.. aku turut berduka..”

“ Hahahaha.. duka apa?”

Namjoo semakin gemetar. Ia memilih untuk tidak bicara lagi dan menyerahkan Lin pada Taeyeon dengan hati-hati.

“ Hei, Hyoyeon hanya ingin kau bahagia.” Taeyeon meletakkan surat wasiat Hyoyeon di tangan Namjoo, “…ia lupa masih punya saudara. Haha, dari kecil kami memang sudah tidak akur. Aku benci dengan kenyataan bahwa ia adalah penyihir nomor satu, akhirnya L-ku lahir dan menjadi nomor dua. Dan sekarang dia membunuh anakku. Ayolah.. apa salah L? apa!!?? Ini salahku! Kenapa dia membunuh L?! KENAPA!?”

Namjoo mundur beberapa langkah, ia benar-benar takut. Haruskah ia lari sekarang? Bisa saja Taeyeon menerkamnya.

“…Kim Hyoyeon bodoh.. mengapa ia memilih pertarungan.. ia membuat generasi penyihir Kim berkurang. Sekarang hanya aku dan Lin. Kami bisa apa.. huhuhu..” Taeyeon mengusap-usap wajah Lin, membuat Namjoo khawatir putra kecil itu menjadi sasaran amarah Taeyeon.

“ Tolong jaga Lin dengan baik, Taeyeon..”ucap Namjoo pelan, Taeyeon mengangguk berkali-kali.

“ Aku menjaga Lin, aku selalu menjaga Lin dengan baik.. tidak seperti keluarga kerajaan yang tidak menjaga L dalam kereta mereka. AAAAH… keluarga kerajaan. Aku belum membunuh mereka, kan? Aku akan menghabisi semuanya… haha.. sekarang juga!”

Namjoo tersentak, Taeyeon berbalik dan menempatkan Lin di atas tempat tidur, setelah itu memasang jubahnya untuk bersiap ke istana.

“ Taeyeon.. jangan—“

“ Pulanglah, Kim Namjoo. Aku bisa sendiri, haha.”

“ Gawat..”

Mata gadis itu mendadak tertuju ke lantai, beberapa botol ramuan portal dari jubah Ahyoung berserakan disana.

“…ya.. aku..pulang. selamat malam, Taeyeon.”

Dengan gerak cepat Namjoo meraih satu botol dan berlari kencang menuju istana.

***

 

“ Ah.. sudah berkurang wartawannya. Mungkin mereka mulai bosan karena tidak dibukakan pintu. Sebentar lagi kita bisa keluar dari sini..”

Kai mematikan layar di dekat pintu apartemen, setelah itu kembali ke tempat duduknya di depan televisi.

“ Tapi Hoya semakin di cap buruk. Kau harus bertanggung jawab..” kata Tuan Doojoon yang sedang menonton infotainment disampingnya. Rupanya wartawan yang memaksa di depan pintu mulai berkurang, namun pemberitaan miring tentang Hoya semakin parah di media.

“ Apa yang harus kulakukan? apa aku harus bilang ke wartawan bahwa Hoya sedang di negeri Junghwa?”

“ Itu lagi itu lagi..”

“ Ckck, ini sudah berapa hari? Kalian masih belum percaya dengan apa yang kuceritakan?”

“ Tingkah laku gadis itu memang tidak seperti manusia modern, tapi tetap saja kami masih menyangsikan ceritamu nak..” sahut nyonya Gayoon yang ikut bergabung dengan membawa sepiring roti panggang. Ia benar-benar penyelamat Kai dan Krystal dari kelaparan selama di apartemen.

Kai menggigit rotinya lalu memperhatikan Krystal yang sedang terbengong-bengong diajari menggunakan ponsel oleh Bomi.

“ Ia asyik saja bermain hp dan tidak membantuku meyakinkan keluarga Yoon bahwa dia seorang putri. Dasar..” sungut Kai.

“…baiklah, jadi apa yang harus kulakukan untuk membuat kalian percaya?” Kai menatap Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon bersamaan.

 

“ Kami perlu bukti yang lebih kuat.”

***

 

“ Ayolah.. waktu kalian tidak banyak, Taeyeon akan segera kesini..”

Namjoo hampir menangis putus asa, ini sudah kesekian kalinya ia meminta keluarga kerajaan untuk menyelamatkan diri ke dunia nyata dengan ramuan portal yang ia ambil dari rumah Taeyeon beberapa saat yang lalu.

Mereka menolak, tak ingin meninggalkan negeri mereka dengan berbagai alasan.

“ Siapa yang akan mengurus dan memimpin negeri ini kalau kami pergi?”tanya Raja Yonghwa.

“ Negeri ini bisa saja hancur, apalagi Taeyeon sedang dalam kondisi seperti sekarang.”timpal Ratu Seohyun.

“ Apa yang kami lakukan di dunia nyata nanti? Kami tak tahu apapun tentang situasi disana.”Ilhoon cemas.

“ Ada aku dan Hyerim. Kami tak akan membiarkan kalian.”ucap Howon, ia sangat setuju dengan ide Namjoo karena ia juga ingin segera pulang dan melanjutkan pekerjaaannya.

“ Howon benar. Ayolah.. disana aman, apalagi ada Krystal. Kita bisa berkumpul.”tambah Hyerim.

“ Apa ada jaminan negeri ini akan aman dan baik-baik saja setelah kami kembali?” tanya Daehyun.

“ Aku akan berusaha mengendalikan situasi disini, terutama Taeyeon. Dongwoon dan Gain juga bisa membantu, percayalah.”jawab Namjoo, “…ayolah.. bersedia, kan?”

“ Kalian harus bersedia. Ke dunia nyata, atau mati dibunuh Taeyeon. Pilih salah satu.” Howon meraih botol ramuan portalnya dari tangan Namjoo dan menyiramkannya ke dinding koridor istana.

“ Ayolah, Taeyeon semakin dekat!”Namjoo semakin cemas.

“ Semoga ini keputusan yang tepat.” Daehyun melompat masuk duluan ke dalam portal.

“ Ini pertama kalinya aku masuk portal..” Ilhoon menyusul kakaknya.

“ Terimakasih, Namjoo. Baik-baiklah disini. Aku tahu kau mampu mengatasinya.” Howon memeluk Namjoo sejenak sebelum ia memasuki portal.

“ Aku tak akan melupakan kebaikanmu, Kim Namjoo. kau menyelamatkan kami. bertahanlah disini.” Hyerim ikut memeluk Namjoo dan setelah itu menuntun kedua orangtuanya untuk ikut masuk portal bersamanya.

 

Portal tertutup. Dan lutut Namjoo langsung melemah.

Tangannya membuka gumpalan kertas yang sejak tadi ia pegang, wasiat dari Hyoyeon.

 

Maaf karena aku membuatmu sulit, Kim Namjoo. tempatmu seharusnya di dunia nyata, tapi karena aku, kau justru tumbuh di negeri ini.

Semua yang kumiliki, terutama buku Rahasia Dunia Luar, jadi milikmu. Gunakan buku itu sebaik-baiknya untuk mempelajari sihir.

Aku harap Taeyeon mau mengasuhmu. Jika tidak, kembalilah ke dunia asalmu dan temukan kebahagiaanmu.

Lupakan saja aku, aku hanya penyihir jahat yang mengangkatmu sebagai anak dan meninggalkanmu begitu saja.

Aku tidak pantas dikenang.

 

Namjoo terduduk dan memeluk lututnya, menangis sekeras yang ia bisa.

 

“ Aku tetaplah anakmu, Kim Hyoyeon.”

***

“ Ah.. bukti yang lebih kuat? Apa ya..” Kai berpikir sembari mengunyah rotinya, “…kita serba terbatas disini. Coba saja kita bisa keluar dari tempat ini, aku akan mempertemukan kalian dengan Naeun, bahkan Myungsoo hyung, kalau kalian masih belum percaya dulu dia sempat mati dan digantikan oleh penyihir jahat bernama L.”

“ Nah, benar itu!” sahut Krystal, Kai sedikit nyengir karena akhirnya gadis itu mendukungnya.

“ Kalau begitu nanti saja, yang jelas untuk saat ini kami masih belum percaya,” jawab Tuan Doojon, disambut anggukan Nyonya Gayoon.

“ Coba saja ada ramuan portal, kita ke Junghwa sama-sama!” Krystal mendukung Kai lagi.

“ Nah, benar itu.”sahut Kai.

“ Ckck, kami bahkan tidak percaya ramuan portal itu—”

“ Itu.. itu ada apa disana?” Bomi yang sejak tadi asyik dengan ponselnya terkejut karena dinding dapur apartemen tiba-tiba berlubang kecil dan semakin membesar dan mengeluarkan sinar yang menyilaukan.

“ Itu.. tidak mungkin!” Kai dan Krystal berdiri duluan, disusul keluarga Yoon yang ikut mengantisipasi.

 

BRUK!

“ Arrgh, pinggangku..”

Hyung, kita dimana?”

 

“ Daehyun oppa!!!!!! Ilhoon!!!!!!!”

Krystal berteriak dan berlari memeluk saudaranya. Ia semakin girang ketika melihat kedua orangtuanya beserta Hyerim dan Howon muncul.

“ Ayah! Ibu!!!! Astaga.. apa ini nyata!?” Krystal memeluk kedua orangtuanya sambil menangis, Raja Yonghwa dan Ratu Seohyun ikut terharu bertemu Krystal lagi.

 

Tidak mungkin..” keluarga Yoon menganga, tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

“ Bukti yang benar-benar kuat, kan?”ucap Kai, meski ia sendiri tak menyangka keluarga kerajaan tiba-tiba datang ke dunianya.

 

Temu kangen itu selesai, kini yang tersisa adalah situasi yang benar-benar aneh.

***************

 

From : Nam Woohyun

To : Park Chorong

 

Sahabat kesayanganmu dihukum di ruangan Kim Sunggyu karena tertangkap keluar dari asrama putri.

Kebetulan aku sedang disini. Mau kutitipkan salam?🙂

 

Pagi itu Naeun terkejut, ini artinya Myungsoo tertangkap pengawas setelah mengantarnya ke kamar tadi malam.

“ SMS dari siapa?!”

Terdengar suara Chorong dari kamar mandi, ia tahu Naeun yang membuka ponselnya.

“ Woohyun oppa.”jawab Naeun singkat, sebab pikirannya tertuju pada pesan Woohyun. Lebih tepatnya, hukuman macam apa yang sedang Myungsoo lakukan?

“ Woohyun?! Mau apa lagi dia..” Chorong keluar dengan tergesa-gesa dari kamar mandi dan mengambil ponselnya dari tangan Naeun.

“ Aku ke sekolah duluan, sunbae.

“ Naeun.”

“ Y..ya?”

“ Apa kau di asrama saja tadi malam? Kau tidak bergabung ke kelompok belajar, Myungsoo juga.”

Sudah kuduga. Batin Naeun. Chorong pasti akan mempertanyakan hal itu setelah membaca sms Woohyun.

“ I..iya. aku membuat ramuan disana. tapi.. tapi soal Myungsoo sunbae, aku tidak tahu.”

Gadis itu berbohong. Sebisa mungkin ia tak ingin memperlihatkan kedekatannya lagi dengan Myungsoo pada Chorong.

“ Myungsoo tidak menyerah juga, kukira kalian sudah benar-benar tidak dekat lagi..” sindir Chorong, kemudian jemarinya menekan-nekan layar ponselnya untuk membalas pesan Woohyun.

“ Aku pamit ke sekolah duluan, sunbae.”

“ Tidak mengunjungi Myungsoo dulu di ruangan kepala sekolah? Ini pertama kalinya ia dihukum. Dan itu karenamu.”

“ Tidak. Aku harus segera ke kelas.” Naeun berpamitan lagi kemudian keluar kamar dengan buru-buru. Ia memang tak akan menemui Myungsoo disana, ia tak ingin membuat lelaki itu malu.

***

 

From : Park Chorong

To : Nam Woohyun

 

“ Naeun yang membuka pesannya. Tapi kelihatannya dia tidak peduli.”

 

“ Haha. See~” Woohyun yang sedang duduk santai di sofa menunjukkan layar iPhonenya pada Myungsoo yang masih sibuk mengepel lantai ruangan Kim Sunggyu.

Myungsoo membacanya, dan ia mengangguk saja kemudian melanjutkan kegiatannya.

“…heh, apa yang terjadi? Naeun sudah menolakmu?”tanya Woohyun dengan sedikit mengejek.

“ Yah.. anggap saja begitu.”sahut Myungsoo. Ia tak ingin berbicara terlalu banyak hari ini.

Pertemuannya dengan L semalam masih menjadi beban dalam otaknya.

Apa ia harus menuruti kemauan L? meski ia sudah meminta Naeun untuk tak lagi menghindarinya, tetap saja Myungsoo merasa semuanya mustahil untuk dilakukan.

“ Aku tidak akan menganggapnya begitu, Kim Myungsoo. Aku yakin Naeun peduli padamu, Chorong saja yang mengada-ngada karena tak ingin cemburu.”ucap Woohyun sembari membalas pesan Chorong.

“ Cemburu apa..” Myungsoo hanya terkekeh pelan sambil terus mengepel.

“ Kau ini bodoh atau benar-benar tidak sadar kalau Chorong menyukaimu?”

“ Ia sahabatku sejak lama.”

“ Aku tahu, tapi dia menyukaimu.”

“ Aku juga menyukainya, sebagai sahabat. Kebahagiaannya adalah nomor satu bagiku.”

“ Ia hanya akan bahagia jika kau menerimanya.”

“ Sebagai sahabat.”

“ Aaarggh susah bicara denganmu!” Woohyun kesal dan menendang ember di depannya hingga sabun pelnya tumpah ke lantai.

Myungsoo menghela nafas, untung saja ia sudah terbiasa sabar. Lagipula mengingat perkataan Naeun bahwa Woohyun sempat kanker, membuat Myungsoo tak tega untuk marah pada rivalnya itu.

“ Nam Woohyun.. Nam Woohyun.. ini lantai kepala sekolah lho..”lelaki itu hanya sedikit menyindir dan mulai membersihkan lantainya.

“ Kau tidak marah?”

“ Masih pagi. Aku tidak mau buang-buang energi.”

Woohyun tersenyum sinis. Sejak dulu ia tak pernah berhasil membuat Myungsoo jengkel, justru ia sendiri yang merasa jengkel karena Myungsoo terlalu sabar dan tak pernah memberinya perlawanan.

“ Aku membencimu, Kim Myungsoo.”

“ Aku tahu.”

“ Kau membenciku juga kan?”

“ Tidak. Aku menyukai adik angkatmu. Jika aku mengajak Naeun pergi kencan, aku harus izin denganmu dulu. Jadi aku tidak bisa benci padamu.” Myungsoo sedikit bercanda, atau mungkin serius?

“ Kau.. sungguh-sungguh menyukai Naeun?”

“ Ya. Naeun untukku, Chorong untukmu. Adil, kan?” Myungsoo masih saja bercanda.

“ Jangan mengalihkan pembicaraan.”

“ Kau tidak mau membahas Chorong? Kukira dengan mendengar namanya saja kau sudah senang.”

“ Untuk apa membahas orang yang tidak menyukaiku.”

“ Jangan pernah lupa, Nam Woohyun. Chorong sudah memberikan segalanya untukmu, dan kau masih bilang dia tidak menyukaimu?”

“ Dia menyerahkan semuanya karena ia menginginkan hartaku. Give and take.

“ Tapi hartamu tidak akan pernah sebanding dengan kehormatannya.”

Woohyun terdiam sejenak, merasa mulai malu pada Myungsoo.

“ Aku dan Sungyeol sangat menyayangkan hal itu, Nam Woohyun. Kami ingin sekali marah padamu, tapi Chorong melarang kami.”

“ Sudahlah, itu sudah berlalu.”

“ Tetap saja kehormatannya tidak kembali.”

“ Lalu aku harus bagaimana!?”

“ Pikirkan dengan nuranimu.”

Woohyun merenung sejenak. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa takut melihat Myungsoo yang mulai bicara serius padanya. Jika ia di posisi Myungsoo, ia juga tentu akan marah jika terjadi sesuatu pada sahabat perempuannya.

Lelaki itu berdiri, meraih satu gagang pel di sudut ruangan, mendekati Myungsoo dan tiba-tiba ikut membantu rivalnya itu mengepel lantai.

“ Maaf, Kim Myungsoo. Karena sudah menyakiti sahabatmu.”

Myungsoo tersenyum, sedikit tak percaya juga mendengar kata ‘maaf’ dari Woohyun.

“ Minta maaf juga pada Sungyeol.”

“ Aku akan kehilangan harga diri, minta maaf pada cenayang gila itu.”

“ Maafmu tidak sah jika kau tidak minta maaf juga pada Sungyeol.”

“ Yaa.. yaa.. aku akan minta maaf juga padanya. Tapi.. apa dengan aku meminta maaf, kau dan Sungyeol masih merasa aku pantas untuk Chorong?”

“ Aku justru tak ingin kau meninggalkan dia. Kalian sudah berbagi banyak hal sejak dulu, kalian sudah terikat satu sama lain. Aku tahu Chorong, anggaplah dia memang suka padaku, tapi yang ia butuhkan adalah kau. Lagipula kau tidak bisa berlari setelah mengambil mahkotanya.”

“ Tapi—“

“ Kau mencintainya, kan?”

“ Sangat.”

“ Tunjukkan padanya.”

“ Dukungan apa yang bisa kau berikan untukku?”

“ Ayo berteman, Nam Woohyun. Kebencian Chorong padamu akan berkurang sampai sembilan puluh persen jika kita menjadi teman baik.”

“ Hah? Kau gila?”

Deal?” Myungsoo mengulurkan tangannya.

“ Tidak mau.”

“ Ayolah.. Naeun sudah menolakku, kau jangan menolakku juga.”

Woohyun tak mampu menahan tawanya, ia pun menjabat tangan Myungsoo dengan kuat dan tersenyum malu.

“ Deal.”

 

“ Ini akan menjadi berita bagus di SMA Junghwa.”

***

 

BREAKING NEWS !!!

‘SDC’ HOYA LEE AKHIRNYA MEMBUKA PINTU APARTEMENNYA

 

Terjawab sudah rasa penasaran media dan masyarakat tentang kabar miring mengenai Hoya yang disebut-sebut membawa gadis ke dalam apartemennya.

Rabu malam kemarin, sang artis akhirnya membuka pintu apartemennya dan menemui para wartawan untuk meluruskan kabar tersebut.

Rupanya, selama beberapa hari ini sang artis memiliki acara keluarga pribadi dalam apartemen besarnya. Terbukti dengan munculnya banyak anggota keluarga dari dalam apartemennya, Hoya bahkan memperkenalkan keluarga tersebut, yang ternyata adalah keluarga dari kekasihnya, Jung Eunji. di sana pun hadir keluarga dari pelatih sepakbolanya, Yoon Doojoon.

Hoya mengatakan bahwa ia memaafkan semua pihak yang telah menyebar rumor mengenai dirinya. Ia bahkan meminta maaf karena telah menghilang dan tak memberikan keterangan di hari-hari sebelumnya karena ingin menikmati acara keluarganya dengan tenang dan tanpa liputan.

 

“ Entah mengapa aku merasa ini bohong.”

Minah melempar koran harian yang baru saja ia baca ke atas meja dan menatap rekannya dengan penuh curiga.

Memang bohong. Batin Hoya. Itu hanya akal-akalannya karena terkejut dan bingung dengan situasi yang ia temukan setelah pulang dari negeri Junghwa.

Seandainya Hoya tak punya kesabaran tingkat tinggi, mungkin ia sudah menghajar Kai kemarin malam. Untung saja ia masih bisa berpikir jernih, dan keluarga kerajaan bisa diajak ‘bekerjasama’ untuk muncul di depan para wartawan.

“ Kapan keluarga Eunji datang? Aku tidak lihat. Seharusnya aku lihat, kita kan bertetangga.”tanya Minah.

“ Mungkin kau sedang di luar waktu mereka datang.”

“ Masa?”

“ Terserah kalau tidak percaya.”

Drrt..drrt..

“…bilang manajer aku terima telepon di luar.” Hoya meraih ponselnya dan keluar dari lobi kantor agensinya. Minah hanya memutar bola matanya.

 

“ Halo?”

“ Wah.. Hoya hyung. Bagaimana? Sudah sampai kantor dengan selamat?”

“ Jangan sok akrab.”

“ Yah.. hyung, kau masih marah padaku?”

“ Aku marah padamu sepanjang hidupku.”

“ YA! aku kan sudah minta maaf..”

Hoya tertawa jahil. Tapi jujur, ia memang masih gemas pada adik Myungsoo ini.

“ Ada apa menelponku?”

“ Kau dimarahi CEOmu tidak?”

“ Untungnya tidak.”

“ Syukurlah..”

“ Lalu apa? Jangan basa-basi.”

“ Ng.. ini.. aku, Bomi, dan Eunji ingin pulang ke asrama SMA Junghwa. Kau tahu sendiri kan sudah berapa lama kami tidak masuk sekolah, kami akan digoreng oleh Sunggyu songsaenim, hehe.”

“ Bagaimana dengan keluarga kerajaan? Mereka.. tidak akan tinggal di apartemenku, kan? Aku tidak sanggup, mereka bisa saja heran dan mengkritik segala yang aku lakukan.”

“ Nah! Soal mereka.. kabar baik, mereka akan tinggal di rumah keluarga Yoon. Krystal juga.”

“ Ah.. bagus sekali. Hmm.. hyung, aku dan Krystal sudah tahu apa yang terjadi di negeri Junghwa sampai keluarga kerajaan harus kesini. Aku.. turut berduka. Meski dulu L sangat kejam padaku, kini L sudah sangat baik padaku. Aku benar-benar belum bisa mempercayai ini semua.”

Hoya menunduk, mencoba menahan tangisannya.

“ Tolong jangan beritahu Naeun dulu.”

“ Siap, hyung. Eunji juga sudah mengingatkanku.“

“ Bagus. Kalau begitu.. aku akan mengantar kalian ke asrama, bersiap-siaplah.”

******

 

“ HOYA!! ADA HOYA DI SEKOLAH KITAAAAA!!!”

Naeun mendadak kehilangan konsentrasi belajarnya, para siswi SMA Junghwa menjerit-jerit histeris dan berlarian keluar kelas. Guru yang sedang mengajar di kelasnya pun tiba-tiba berdiri karena ingin melihat sang artis yang tiba-tiba datang ke sekolahnya.

“ Howon? Apa yang dia lakukan..” Naeun akhirnya ikut berdiri dan keluar kelas, sedikit terkejut juga dengan melihat banyaknya siswa yang sudah berkumpul di halaman sekolah untuk melihat sang artis. Mobil-mobil stasiun televisi dan para wartawan pun berdatangan.

Naeun mencoba menerobos kerumunan hingga dapat melihat dengan jelas.

Hoya turun dari mobil agensinya disusul dengan tiga orang berseragam SMA Junghwa.

Mereka Bomi, Kai, dan Eunji. Para siswa semakin histeris.

“ Tenang.. tenang.. aku kesini untuk mengantar teman-teman dekatku, dan.. yah.. kalian tahu dia kan?” Hoya memberi keterangan sembari melirik Eunji. Para siswa semakin heboh.

“…disini, aku ingin menemui kepala sekolah secara pribadi. Ingin memohon maaf karena mereka tidak masuk sekolah berhari-hari karena mengikuti acara keluarga yang sudah kujelaskan pada konferensi pers dadakan tadi malam..”

Menggunakan artis untuk menghindari hukuman, istilahnya. Ini ide Kai.

Para wartawan kini berdesakan untuk meliput Hoya yang masuk ke dalam ruangan Kim Sunggyu. Sementara Eunji, Kai, dan Bomi diserbu para siswa dan dihujani banyak pertanyaan.

“ HYERIM!!!!” Naeun berteriak memanggil sahabatnya itu, ia benar-benar girang meski hatinya kebingungan. Bukankah Eunji seharusnya di negeri Gwangdam?

“ YEOSHIN!!!” Eunji pun berlari dan memeluk Naeun erat, ia hampir menangis, tak tega melihat Naeun yang masih tersenyum.

“ Bagaimana ceritanya? Kapan kau kembali kesini?”

“ Ng.. setelah semuanya selesai, hehe.”

“ Bagaimana pernikahan Krystal?”

Sepertinya mulai saat ini Eunji harus pandai-pandai memutar otak untuk berbohong.

“ Nanti saja ya dibahasnya, yang jelas aku senang kita bertemu lagi.”

Mereka kembali berpelukan erat.

“ Oh ya, dengan ramuan portal siapa kau bisa kesini? Dan kenapa keluarga kerajaan ada disini juga? Aku sempat membaca koran tadi pagi..”tanya Naeun penasaran.

“ Itu.. itu..”

Eunji harus berhati-hati, sahabatnya itu tak tahu sama sekali tentang resep baru, apalagi keadaan kacau di negeri Gwangdam dan Junghwa akibat pertarungan L dan Hyoyeon.

“ Ramuan portal milik Taeyeon. Keluargaku kesini.. karena ingin tahu dunia nyata.”

“ Benarkah? Tapi.. aku ingin tahu, apa resep portal diubah? Resep portal yang kumiliki tidak bisa—“

“ Ssshh.. nanti saja ya? ramai sekali disini.”

Naeun mengangguk, Eunji bernafas lega karena ia berhasil mengalihkan pembicaraan.

“ Hei, nona Yeoshin. Apa kabar?”

Seseorang menepuk bahu Naeun, rupanya Hoya, ia sudah keluar dari ruangan Kim Sunggyu. Apa semudah itu menghadapi sang monster?

“ Halo, Howon. Kabarku.. sangat buruk. Aku merindukan semuanya.”jawab Naeun dengan sedikit muram, Hoya semakin merasa iba.

“ Hyerim tidak akan jauh darimu lagi. kalian bersenang-senanglah disini.”

Naeun kembali mengangguk.

“ Hei, apa kata kepala sekolah monster itu?” Kai menghampiri Hoya dengan wajah cemas karena takut Sunggyu akan tetap menghukumnya.

“ Beres. Ia penggemarku, hanya dengan tandatangan kalian lolos dari hukuman.” jawab Hoya enteng.

“ Wah.. ternyata penggemar seperti aku. Syukurlah. Terimakasih, Hoya!” Bomi yang mendengarnya merasa sangat lega.

“ Kalau begitu aku pamit, ya.” Hoya bersiap untuk kembali ke kantornya, dan semua mata serta kamera masih tertuju padanya.

“ Aku minta tolong, kalau bisa sering-seringlah menjenguk keluargaku di rumah keluarga Yoon dan lihat apa mereka bisa menyesuaikan diri. Aku belum tentu bisa keluar asrama lagi.”pinta Eunji, Hoya mengangguk.

“ Dan kalau kesana, aku titip salam untuk Krystal. Kelihatannya dia galau karena berpisah denganku.”kata Kai.

“ Iyaa.. iya. Oh ya, kalau kau masih ingin ikut audisi SDC season 2, persiapkan dirimu. Aku tak akan meloloskanmu kalau penampilanmu buruk.”

“ Aku akan berlatih keras. Terimakasih, hyung!”

“ Terimakasih, Howon. Selamat bekerja lagi.”ucap Eunji, Hoya mendekat dan memeluknya, membuat situasi semakin heboh.

“ Tolong jangan beritahu apapun dulu pada Naeun..” bisik Hoya dalam pelukannya, Eunji mengangguk mengerti.

“…bagus, kalau begitu aku pergi sekarang.”

Cup.

Sang artis meninggalkan ciuman singkat di bibir Eunji, menciptakan suasana yang semakin ramai sebelum ia benar-benar pergi.

***************

 

“ Jadi Hoya datang dan mengantar Hyerim ke sekolah?”

“ Ya. dan.. kau tahu? keluarga putri Hyerim semuanya ke dunia nyata, Hoya memperkenalkan mereka ke media. Aku baca beritanya tadi pagi.”

L terkejut mendengar kabar dari Myungsoo. Sisi baiknya itu menyempatkan diri untuk tidur di dalam kelas selama jam pelajaran hanya untuk menemuinya dalam mimpi dan menyampaikan hal ini.

“ Mereka sudah tiba dari negeri Gwangdam rupanya. Mungkin setelah mengeluarkanku dari kereta mereka, Hyoyeon membantu mereka agar tiba ke Junghwa lebih cepat. Hmm..ini menarik.” Penyihir tampan itu menyeringai.

“ Apa ini ada hubungannya dengan kematianmu?”tanya Myungsoo yang sama sekali tak mengerti.

“ Aku tak punya kemampuan untuk melihat itu lagi. aku hanya bisa menebak. Kurasa ibuku sudah tahu aku mati, dan sekarang ia mendadak gila. Ia pasti ingin membunuh keluarga kerajaan, jadi mereka kabur ke dunia nyata.”

“ Sepertinya sudah banyak yang tahu kau mati, L.”

“ Tak masalah, selama itu bukan Son Yeoshin. Bagaimana? Kau sudah mulai menjalankan apa yang kumau? Apa kau sudah menyapa Yeoshin hari ini?”

Myungsoo menunduk, “ Aku bisa melakukan apapun. Menyapanya, mengobrol, mengajaknya kemanapun. Tapi aku tak bisa membuatnya jatuh cinta padaku.”

“ Ia mengidamkan sosok lelaki yang baik. Dan kau sudah sempurna untuk itu. Kita lihat saja.”

“ Tapi apa kau benar-benar rela jika Yeoshin bersamaku?”

L tersenyum pahit.

 

“ Tidak. Tapi aku tak bisa mengutamakan egoku lagi.”

***

 

“ Jadi kau sudah berteman dengan Woohyun oppa? Wah! Ini kabar yang sangat bagus!”

Sore itu Naeun dan Myungsoo berjalan bersama di koridor rumah sakit tempat mereka dirawat beberapa hari yang lalu. Keduanya akan menemui Min, bocah kecil yang merupakan teman baru mereka di lapangan basket rumah sakit.

“ Makanya aku bisa mengajakmu keluar hari ini, Woohyun melobi Sunggyu songsaenim lagi.”

“ Sepertinya peraturan Sunggyu songsaenim tak berguna untuk kita, hahaha.” Naeun tertawa, Myungsoo tahu gadis itu sedang dalam mood yang bagus karena telah bertemu Eunji tadi siang.

“…sayangnya aku tidak bisa mengajak Eunji. dia harus belajar karena banyak ketinggalan pelajaran..”sambung Naeun sedih.

“ Aku juga tidak bisa mengajak Kai. Dia tidak belajar, dia malah berlatih dance. Kurasa aku saja yang nanti mengerjakan tugas-tugas sekolahnya agar nilainya tetap stabil.”

“ Kau kakak yang sangat baik, Myungsoo sunbae.”

“ Sudah kubilang jangan memujiku.”

Naeun tersenyum malu, ia pun berlari kecil memasuki lapangan basket, menghampiri Min yang sedang bermain sendirian disana.

Gadis itu menepati janjinya, ia memberikan ramuan penyembuh yang telah ia buat pada Min dan bermain bersama bocah kecil itu dengan bola basket yang Myungsoo bawa.

Hyung! Ayo main!” Min berteriak manja karena Myungsoo hanya duduk di pinggir lapangan dan memperhatikan mereka. Memperhatikan Naeun yang begitu bahagia hari ini.

“ Kenapa diam saja? Ayo sini!” Naeun ikut mengajaknya, tapi lelaki itu menggeleng. Ia tak tega melihat Naeun yang masih tersenyum cerah dan tak tahu apapun tentang L.

“ Aku ingin melihatmu saja, lebih menyenangkan.”

Sebenarnya Myungsoo hanya tak tega melihat Naeun yang masih tersenyum cerah dan tak tahu apapun tentang L.

Gadis itu menggelengkan kepalanya, sebelum lebih malu, ia akhirnya melanjutkan permainannya dengan Min.

Myungsoo kembali bersandar di bangkunya, menatap langit-langit Seoul yang redup dan memejamkan matanya.

*

 

“ Kenapa tidak ikut main? Ini kesempatan untuk membuat Yeoshin menyukaimu.”

Myungsoo membuka matanya, menemukan L duduk di bangku yang sama dengannya. Lapangan basket dan rumah sakit yang kosong.

Ini mimpi lagi.

“ Aku juga sebenarnya sudah berjanji untuk mengajaknya bersenang-senang. Tapi aku baru sadar, aku tidak sanggup. Melihatnya tersenyum seperti itu..”

“ Jangan membuatnya curiga. Bermainlah dengannya.”

 

Myungsoo membuka kembali matanya, terbangun dari mimpi yang singkat. L benar-benar hidup dalam alam bawah sadarnya.

Ia sadari tangan halus Naeun kembali berada di atas wajah tampannya, melindunginya dari sinar matahari.

“ Kau mengantuk? Pantas saja tidak bisa main.”ucap gadis itu dengan sedikit kecewa, “…Min sudah pulang, aku memintanya agar meminum ramuanku cepat-cepat.”

“ Maaf ya. ” Myungsoo menegakkan duduknya dan menurunkan tangan gadis itu, lalu menggenggamnya erat, “…aku sedikit lelah, aku sedang fokus-fokusnya belajar untuk ujian kelulusan.”

“ Ah.. aku mengerti. Ujiannya tiga minggu lagi, kan?”

“ Ya. tapi jika kau membutuhkan aku, aku akan tetap menemuimu.”

“ Aku tidak ingin mengganggu belajarmu, sunbae.”

“ Aku tak pernah merasa terganggu olehmu.”

Naeun menatap tangannya yang masih digenggam oleh Myungsoo.

“ Tanganmu dingin, sunbae.”

“ Benarkah?”

“ Apa kau baru saja bermimpi buruk?”

Myungsoo bahkan tak tahu, setiap pertemuannya dengan L adalah mimpi buruk atau sebaliknya.

“…kau baik-baik saja kan, sunbae?”

“ Boleh aku memelukmu lagi?”

Naeun tak dapat menolak, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Myungsoo. Perlahan lengannya ikut melingkari tubuh lelaki itu dengan erat.

“ Aku sangat merindukan L. aku ingin memeluknya seperti ini.”

 

Myungsoo menunduk, mengelus rambut indah Naeun dan tersenyum getir.

 

“ Aku tahu. aku tak akan berhasil.”

***

 

3 minggu kemudian…

 

“ APA!? Kau.. kau hamil?”

Naeun mengangguk dengan semangat, Eunji menganga lebar dan tak mampu berkata-kata. Gadis itu berdiri dan menutup pintu kamar mereka agar tak didengar siapapun.

“ Tidak.. tidak mungkin.. anak kedua.. jangan terlalu senang.. duh..” Naeun girang sendiri, “…aku sakit perut dan muntah-muntah seminggu ini. Ini gejala yang sama seperti aku mengandung Lin dulu.”

“ Tapi.. b-bagaimana bisa?”

“ Ah.. ini sudah lama. Sebenarnya memalukan, jadi aku tidak ceritakan padamu.”

“ Kapan kau.. melakukannya?”

Naeun sedikit menekuk wajahnya sekarang.

“ Mungkin sekitar sebulan lalu. L..”

“ L?”

“ Ya.”

Eunji teringat akan niat L untuk menyakiti Naeun sebelum ia pergi ke negeri Gwangdam hingga mencuri ramuan portal miliknya saat itu. Mungkinkah..

“ Apa dia memperkosamu?”

“ Bagaimana kau tahu!?”

Gila. Eunji tak menduga ini sebelumnya. Jika Naeun tahu L sudah tak ada lagi, mungkin ia akan lebih gila dari Taeyeon.

“…tapi aku tak mengerti, Hyerim. Kejadian itu adalah terakhir kali aku bertemu dengan L. setelah itu ia tak pernah menemuiku lagi, sampai sekarang. Ia berjanji akan segera membawaku pulang, tapi mana? Apa kau tahu apa urusannya di negeri Gwangdam? Kenapa dia tidak kembali juga? Apa dia tidak mengerti betapa aku merindukan Lin. Aku takut Lin tidak mengenaliku lagi setelah aku pulang karena aku terlalu lama meninggalkannya..”

Eunji terdiam sejenak, berpikir. Ia tak boleh salah bicara.

“ Aku juga tidak tahu, Yeoshin. L sangat misterius.”

Naeun memegangi kepalanya, mulai bingung.

“ Eunji.”

“ Ya?”

“ Kau tahu? sangat banyak pertanyaan berputar di kepalaku. Saking banyaknya aku tak tahu harus menanyakan yang mana. Sepertinya aku terlalu banyak tidak tahu disini. Aku sudah seperti makhluk dunia modern saja.”

“ A..apa yang ingin kau tanya?”

“ Keadaan di negeri kita sebenarnya bagaimana?”

“ B-baik..”

“ Tidak mungkin.”

“ Kenapa kau bertanya kalau tidak percaya jawabanku?”

“ Kau bohong, Hyerim. Sudah lama aku menyimpan rasa penasaran ini, tapi aku melupakannya dan terus berusaha untuk bersenang-senang disini, Myungsoo sunbae selalu bisa menghiburku.”

“ Aku minta maaf karena kita tak bisa banyak bercerita sejak aku datang, aku ketinggalan banyak pelajaran dan harus mengejarnya agar naik kelas.

“ Aku paham.. tapi sekarang kau punya waktu, kan? Jawab pertanyaan-pertanyaanku dengan jujur.”

Tidak akan. Eunji tak ingin menjadi orang yang memberitahu kematian L pada Naeun.

“ A-apa yang mau kau ketahui?”

“ Apa kau sudah tahu Madame Sunny meninggal? L memberitahuku, tapi ia melarangku menanyakan alasannya. Ia benar-benar jahat.”

“ Madame Sunny.. dia dibunuh Hyoyeon.”

Mata Naeun membesar, syok. Eunji terpaksa memberitahu hal yang satu ini karena tak tega dengan sahabatnya yang benar-benar tak tahu apapun.

“ Bagaimana bisa? Apa yang terjadi!?”

“ Aku tak tahu detailnya, itu terjadi saat negeri Junghwa masih kami tinggalkan. Saat para penyihir saja yang berada di negeri kita, banyak hal aneh yang terjadi. L, Madame Sunny, dan Taeyeon mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk melindungi bangsa kalian, sampai memindahkan mereka semua ke istana kami. hebat, bukan? Mereka bertiga terkenal jahat, tapi bisa melakukan hal itu.”

Airmata Naeun menitik. Eunji merasa tak sanggup melanjutkan kisahnya karena sampai di titik ini saja Naeun sudah mulai menangis.

“ Apa sekarang negeri Junghwa baik-baik saja?”

“…”

“ Hyerim, jawab aku.”

“ Ya. baik-baik saja.. kurasa.”

“ Apa Hyoyeon masih meneror negeri kita?”

“ T-tidak. Tenang saja.”

“ Dimana Hyoyeon sekarang?”

“ Entahlah. Ia sangat misterius.”

“ Apa masih ada yang kau sembunyikan dariku?”

“ T-ti-tidak.. aku sudah menjelaskan semua yang kuketahui, Yeoshin.”

Naeun mengacak-acak rambutnya dengan gusar.

“ Tentang ramuan portal. Itu yang paling menggangguku, aku yakin betul resepnya diganti.”

“ Soal itu.. aku tidak..”

“ Kau pasti tahu sesuatu, iyakan?”

“ Tidak.”

“ Jujurlah, Hyerim. Kau tidak kasihan padaku? Aku ingin pulang, aku hamil.. aku tak bisa disini..”

Eunji hampir gila, ia tak bisa memikirkan banyak alasan lagi.

“ Kau pasti pulang, Yeoshin. Percaya padaku..”

Hanya itu yang bisa Eunji ucapkan. Gadis itupun berdiri dan meraih ranselnya.

“ Kau yakin tidak ingin ikut?”

Naeun menggeleng lemah, “ Bersenang-senanglah dengan keluargamu. Selamat berlibur.”

Eunji memeluk sahabatnya itu erat dan buru-buru menghapus airmatanya yang tak mampu ia tahan.

“ Jadi kemana kau akan menghabiskan waktu liburmu? Kau tidak mungkin bersama Myungsoo sunbae, kan? Dia ujian.”

“ Entah. Aku masih punya waktu sehari dengannya, ia mengajakku ke penjara Kim Haeyeon sejam lagi.”

“ Apa kau akan memberitahunya.. bahwa.. kau hamil?”

“ Tentu saja, ini kabar gembira.”

“ Tapi itu akan menyakitkan hatinya.”

“ Ia memahamiku.”

“ Baiklah. Semoga harimu menyenangkan. Jangan banyak berpikir dulu, hanya akan membuat kandunganmu tidak sehat.”

Naeun mengangguk lemah, Eunji melepas pelukannya dan memintanya untuk tersenyum.

“ Aku pergi, ya.”

“ Salam hormat untuk keluarga kerajaan yang sepertinya sudah betah disini.”

Eunji tertawa kecil. Ia memang selalu mendapat kabar dari keluarga Yoon bahwa keluarganya mulai kerasan di dunia nyata.

Gadis itu tersenyum dan keluar dari kamarnya, berjalan cepat-cepat sembari terus menyeka airmatanya.

 

“ Mengapa nasibmu begitu malang, Son Yeoshin?”

****

 

“ Ia pulang..aku tahu.. ia.. akan.. kembali..”

 

Para penyihir sudah menyerah, tak ada lagi yang berniat membantu Namjoo untuk membujuk Taeyeon agar mau makan. Penyihir wanita yang biasanya segar dan cantik itu kini kurus dan pucat, ia sama sekali tak mengurus dirinya dan hanya merokok seraya bernyanyi-nyanyi kecil di depan jendela kamarnya setiap hari. Ia sempat mengunjungi negeri Gwangdam sendirian untuk menjadi jasad L, namun yang ia dapatkan hanyalah nihil dan pulang dalam keadaan semakin frustasi.

Beruntung Namjoo bisa mengurus Lin dengan baik di istana, Dongwoon dan Gain pun membantunya. Satu-satunya masalah di negeri Junghwa saat ini hanyalah kegilaan Taeyeon. Ia bisa menjadi pendiam, namun suatu waktu ia bisa saja menjadi liar dan membunuh siapa saja.

Lin, penyihir kecil ini justru menimbulkan banyak kebingungan, sebab tangisannya sama sekali tak pernah terdengar. Ia menjalani hari-harinya dengan tenang, ia bahkan semakin pintar di usianya yang sudah memasuki empat bulan. Ia tak mungkin tak merindukan kedua orangtuanya. Tapi mengapa ia seakan tak memiliki emosi dan tak menangis sejak mendengar kematian L?

 

“ Apa Lin sudah menangis hari ini?”

Namjoo terkejut karena Taeyeon yang sejak tadi bersenandung tiba-tiba mengajaknya bicara.

“ Belum, Taeyeon.”

“ Aneh.. apa keadaan ini terlalu berat baginya sampai ia tidak bisa menangis?”

“ Hmm.. entahlah.”

Taeyeon mengangkat sebotol ramuan portal dari jubah Ahyoung, sudah berhari-hari ia tak melepaskan botol ramuan itu dari tangannya karena terlalu banyak berpikir.

“ Namjoo, aku titip Lin.”

“ K-kau mau kemana?”

“ Sebentar saja. Menjemput ibunya.”

“ Yeoshin?”

“ Hm.”

“ Apa.. kau sanggup?”

Taeyeon merapikan rambutnya yang acak-acakan dan jubahnya yang kusut, kemudian berdiri dan membuang rokoknya.

Ia bersiap untuk pergi.

 

“ Ya. sampai kapan keadaan begini kalau aku tak bergerak.”

***

 

“ Kim Haeyeon, ada kunjungan!”

 

Myungsoo dan Naeun menunggu dengan sabar di ruang tamu penjara.

“ Sudah lama aku tidak menjenguknya, aku benar-benar menyesal.” Myungsoo membuka pembicaraan, “…oh ya, terimakasih ya mau menemaniku kesini. Aku tak bisa mengajak Chorong dan Sungyeol, mereka masih meditasi untuk kesiapan ujian besok.”

“ Dan kau sepertinya tenang-tenang saja, sunbae. Kau pasti sudah yakin lulus.”

“ Haha. Aku memang harus lulus.”

“ Kau belum beritahu aku kemana kau nanti setelah lulus SMA. Apa kau akan kuliah?”

“ Hmm.. entahlah. Kurasa aku kerja dulu untuk mengumpulkan biayanya.”

“ Bagaimana jika Woohyun oppa membantumu? Aku akan bilang padanya.”

“ Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan.”

“ Ini tidak merepotkan. Kau boleh menganggapnya hutang. Kurasa kau harus kuliah, sunbae. Sangat sayang jika orang sepintar dirimu tidak lanjut ke perguruan tinggi.”

“ Sudah kubilang jangan memujiku.”

“ Aku serius. jurusan apa yang kau inginkan?”

“ Matematika. Aku suka itu.”

“ Kalau begitu kuliahlah, sunbae.”

“ Aku akan berusaha. Sudahlah, jangan dibahas lagi, membuatku semakin tegang saja dengan ujian besok.”

“ Maafkan aku. Semoga kau sukses besok.”

“ Terimakasih. oh iya, di jalan kau bilang ingin memberitahuku kabar gembira. Kau bisa beritahu sekarang.”

“…”

Naeun terdiam sejenak. Mengapa bibirnya jadi tercekat untuk memberitahu Myungsoo tentang kehamilannya?

“ Tidak jadi.”

“ Yah. Jangan buat aku penasaran.”

Gadis itu sendiri tak mengerti dengan dirinya. Mungkin benar kata Eunji, berita ini hanya akan menyakiti hati Myungsoo.

“ Astaga! Permisi sebentar!”

Naeun merasa mual lagi, ia berlari kecil mencari toilet terdekat.

*

 

“ Dimana aku?”

Taeyeon baru saja keluar dari portalnya, ia muncul di suatu tempat yang asing baginya.

“…ugh.. tenanglah.. tenang..” ia mencoba meluruskan pikirannya, ia tak boleh kehilangan kendali di tempat ini.

“…ah..ini.. penjara? Sialan, kenapa aku tiba di tempat seperti ini..”

Taeyeon berjalan pelan menjelajahi gedung sel, mencari pintu keluar.

 

“ K..kamu! siapa kamu!?”

Taeyeon menoleh, seseorang dari dalam sel yang dilintasinya memanggil.

Mata mereka bertemu.

“ K-kau.. Kim.. Haeyeon?”

“ Dan kau sisi jahatku itu? Kim Taeyeon?” sahutnya dengan suara serak. Wajahnya sama pucatnya dengan Taeyeon, keadaannya pun tak kalah berantakan,yang membedakan mereka hanyalah seragam tahanan dan jubah yang mereka kenakan.

Taeyeon baru ingat bahwa sisi baiknya itu dipenjara karenanya, karena L. mengapa mereka harus bertemu sekarang?

“ Aku baru percaya kau benar-benar ada..”ucap Haeyeon lagi dengan lebih serak, ia menyeret-nyeret langkahnya untuk mendekat ke jeruji.

 

“ Kim Haeyeon! Ada kunjungan! Dari Kim Myungsoo dan Son Naeun!”

Terdengar suara sipir sedikit berteriak dan langkah kakinya mendekati sel.

“ Ah..”

“ Kau kenapa?”

Haeyeon benar-benar terlihat lemah, apa ia sedang sakit keras?

“ Aku tahu ini kurang ajar, kita baru saja bertemu dan aku.. aku minta bantuanmu.”Haeyeon meminta dengan lemah.

“ Apa itu, Kim Haeyeon?”

*

 

Seorang wanita berseragam tahanan memasuki ruang tamu. Myungsoo menyambutnya.

Annyeong, Kim Haeyeon songsaenim. Bagaimana kabarmu? Maaf aku baru mengunjungimu sekarang.”

Wanita itu membeku, menatap lelaki tampan di depannya dengan kaku dan tak berkedip. Matanya mulai berkaca-kaca karena mengingat anaknya.

L ..

Tidak. Ia tidak boleh gila disini.

“…m..maksudku, Myungsoo.. kau bersama Naeun?”

“ Ya, tadi dia ke toilet sebentar.”

“ Aku datang. Annyeonghaseyo, Kim Haeyeon songsaenim..” Naeun muncul, ia langsung membungkukkan badannya dan tersenyum ramah.

Wanita itu menarik satu ujung bibirnya, mengeluarkan senyum khasnya untuk memberi isyarat pada Naeun.

Gadis itu mengenalinya.

 

“ Kim Taeyeon?”

***

“ Tadi sore aku pergi mengunjungi Kim Haeyeon di penjara, bersama Yeoshin. Tapi sepertinya kami tidak menemuinya.”

“ Maksudmu?”

“ Yang kami temui, sepertinya hanya wanita yang mirip dengannya.”

“ Kim Taeyeon? Ibuku?”

Myungsoo mengangguk, L cukup terkejut dengan hal ini.

“ Mengapa kau bisa yakin itu Taeyeon?”

“ Aku sangat tahu Kim Haeyeon, ia punya cara berbicara dan gesture yang berbeda. Lagipula selama kunjungan, ia terlihat sedih saat melihatku. Ia memelukku erat sekali saat kami hendak pulang. Dan ia juga meminta Yeoshin menemuinya lagi besok. Sudah pasti itu bukan Kim Haeyeon. Aku tidak tahu mengapa ibumu tiba-tiba yang menggantikannya.”

“ Apa Taeyeon akan membawa pulang Yeoshin?” L merasa takut, “…tidak, jangan sampai.”

“ Tapi itu kemungkinan besar, L.”sela Myungsoo.

“ Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Yeoshin? Apa ia sudah menyukaimu?”

Myungsoo diam saja, ini masih sulit dan rumit untuk ia bicarakan. Hatinya masih tak nyaman.

“…beritahu aku. Aku akan lega jika ia mulai menyukaimu.”sambung L, meski sedikit tercekat.

“ Kau berbohong, L.”

“ Ya, aku akui itu. tapi aku benar-benar ingin tahu, bagaimana Yeoshin padamu sekarang?”

“ Ia sangat nyaman bersamaku. Tapi aku masih tidak mengetahui isi hatinya. Yang kutahu, ia masih merindukanmu dan putra kalian. Oh ya. tadi juga..”

“ Ada apa?”

“ Sepertinya Yeoshin sedikit tidak enak badan, ia terus-terusan mual dan muntah.”

“ Benar dugaanku..” L bersandar di dinding kamar Myungsoo dengan pasrah.

“ Kau tahu sesuatu?”

“ Kemungkinan besar dia hamil.”

“ A..apa? t-tapi aku tidak melakukan apapun padanya.”

“ Memang bukan kau, tapi aku.”

“ Kau?”

“ Ya. bahkan sebelum aku menemui ajalku, aku masih sempat melakukan kekejaman terbesarku pada Yeoshin. Aku memperkosanya di laboratorium sekolah, hanya karena aku terlalu marah dan mengira Yeoshin benar-benar menyukaimu.”

Jadi ini penyebab Naeun ditemukan dalam keadaan mengerikan di laboratorium. Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Myungsoo.

“ Kau selalu lebih jahat dari yang kuduga, L. tapi sekarang kau justru ingin Yeoshin menyukaiku.”

“ Sudah kubilang, ini karena aku tak bisa lagi menggunakan egoku.”

“ Bagaimana jika Naeun melahirkan tanpamu?”

“ Tidak akan.”

“ Kenapa?”

“ Ia masih hamil muda, sangat muda. Sangat mungkin baginya untuk keguguran karena stres, apalagi jika ia sudah tahu kabarku.”

“ Aku tak bisa membayangkan..” Myungsoo menggigit bibirnya, “…dia pasti akan sangat terpukul. Aku tidak akan bisa menenangkannya lagi.”

“ Berhentilah memikirkannya untuk sementara. Kau harus fokus ujian. Maaf jika aku berbagi penderitaan denganmu, Kim Myungsoo.”

“ Tak apa, L. aku akan terus menemuimu.”

L tersenyum lemah, membiarkan Myungsoo bangun dari tidurnya karena hari telah pagi dan sisi baiknya itu akan mengikuti ujian kelulusan.

***

 

Minum sebelum ujian.

Semangat, sunbae🙂

 

S.N.E

 

Myungsoo masih memegangi sebotol kecil ramuan berwarna oranye yang ia temukan tadi pagi di depan pintu kamarnya yang diberi label “ramuan pengingat”. Sebuah senyum terukir di bibir tipisnya. Naeun sudah memperhatikannya sejauh ini? Apa ini pertanda baik?

“ Jangan senyum-senyum, Naeun memberi aku juga.” Woohyun yang bangkunya tepat disamping Myungsoo menyadarkan lelaki itu sambil menunjukkan botol miliknya.

“ Ah.. benarkah?” kini Myungsoo tampak salah tingkah.

“ Aku juga.” Sungyeol yang duduk di depan Myungsoo ikut berbalik dan memperlihatkan botolnya yang sudah kosong.

“ Setelah memberi kami ramuan ini, dia bilang padaku, dia ingin pergi menemui seseorang.”sambung Chorong.

“ Benarkah?”

Pasti Kim Taeyeon. Mereka memang sudah janjian sejak kemarin.

Ini membuat Myungsoo menjadi sedikit tak tenang.

Bagaimana jika Naeun benar-benar diajak pulang ke negeri Junghwa?

Apa yang terjadi jika gadis itu akhirnya mendengar kabar tentang L?

Dan.. akankah Myungsoo bertemu lagi dengannya?

 

Lelaki itu mulai diselimuti oleh berbagai pikiran buruk hingga lembar soalnya basah oleh airmata.

 

“ Kuharap kau baik-baik saja dan kita bisa bertemu lagi, Son Yeoshin.”

*****

 

“ Bagaimana kabarmu, Son Yeoshin?”

“ Aku tidak tahu apakah aku baik-baik saja atau merasa sangat buruk. Aku sangat merindukan semuanya, aku sedih karena sepertinya melewatkan banyak hal di negeri kita. Tapi.. disini,ada saja orang yang selalu menghiburku.”

“ Kim Myungsoo?”

Naeun mengangguk.

“ Kuharap kau tidak marah karena aku dekat dengannya. Dia lelaki yang sangat baik, aku tidak bisa menghindarinya..”

Taeyeon mengangguk paham.

“ Kalau aku jadi kau, mungkin aku juga akan seperti itu. untuk mengobati kerinduan pada L.”

“ Mengapa L sama sekali tidak menampakkan dirinya lagi padaku sejak sebulan yang lalu? Apa ia masih berurusan di negeri Gwangdam?”

“…”

“ L sudah pulang ke Junghwa, kan? Kenapa dia tidak menjemputku? Mengapa kau yang menjemputku?”

“…”

“ Taeyeon.. jawab aku. Aku terus bertanya-tanya, Hyerim menjawab kebingunganku, tapi jawabannya sama sekali belum membuatku puas. Sebenarnya apa yang telah aku lewatkan?”

Taeyeon tiba-tiba menyeringai tipis.

“ Kau akan ikut gila, seperti aku. Nanti..haha. nanti..”

Naeun semakin penasaran, dan sedikit takut melihat Taeyeon yang kelihatan aneh di depannya.

“…kajja, kita pulang.”

Taeyeon berdiri dan mengulurkan tangannya pada Naeun.

“ Hei, mau kemana kalian? Kau tidak bisa kemana-mana, Kim Haeyeon.”sipir penjara yang menjaga mereka memberi peringatan.

“ Oh iya, kita tidak bisa pergi karena kau menggantikan Haeyeon.”bisik Naeun, Taeyeon tersenyum sinis.

“ Tentu saja bisa.”

Wanita itu berdiri.

“ Kim Haeyeon sekarat dalam selnya. Kalau tidak percaya, cek saja.”

“ Kau sudah gila!?”bentak sipir itu.

Taeyeon hanya tersenyum. Naeun semakin tidak mengerti.

“ Taeyeon, apa maksudn—“

 

Tuuut.. tuuut!

Alarm di penjagaan yang tak jauh dari ruang tamu mendadak berdering.

Narapidana 402 meninggal dunia… narapidana 402 meninggal dunia. Cepat bergerak! Hubungi rumah sakit. Hubungi rumah sakit!”

“ Tidak mungkin..” sang sipir mendadak kebingungan dan mengangkat walkie talkienya.

“…Narapidana 402 sedang melakukan kunjungan, tidak mungkin—“

“ Kau ini bicara apa!? Kami sedang mengangkat mayatnya di sel.”

 

“ Apa yang terjadi?” Naeun ikut panik, namun Taeyeon tetap tenang dan meraih tangannya, mengajaknya keluar dari gedung sel dan melintasi sang sipir yang masih syok.

***

 

“ Dia sakit keras, dan baru saja meninggal pagi ini. Karena kau adalah walinya, segeralah ke rumah sakit dan mengurus pemakamannya.”

Hoya benar-benar syok dengan panggilan dari polisi yang ia terima pagi ini.

“ Baik. Baiklah aku akan segera kesana.”

“ Kalau boleh tahu, apakah saudara Kim Haeyeon punya saudara kembar? Salah satu sipir kami mengaku melihatnya melakukan kunjungan. Aneh, bukan?”

“ A-apa?”

“ Baiklah, kami akan jelaskan keterangannya. Ibu Kim Haeyeon meninggal pagi ini, pukul tujuh lewat lima. Tapi di waktu yang sama, ada kunjungan untuknya dari seorang gadis bersama Son Naeun, dan sipir mengaku bahwa Kim Haeyeon memenuhi kunjungan tersebut. Saat alarm mengumumkan bahwa ibu Kim Haeyeon meninggal, wanita yang menyerupai ibu Kim Haeyeon itu masih di ruang kunjungan, dan akhirnya pergi begitu saja bersama gadis yang mengunjunginya. Kami menyesali hal ini, seharusnya kami tetap menahan mereka.”

Taeyeon. Jelas. Ini Taeyeon.

Hoya segera berdiri, keluar dari kantor agensinya secara sembunyi-sembunyi dengan bimbang dan gusar, apakah ia harus mengurus pemakaman Kim Haeyeon lebih dahulu, atau mencari Taeyeon yang kini bersama Naeun?

***

 

“ Bukan aku yang memaksa untuk menggantikannya. Dia yang memintaku untuk melakukan kunjungan sejak kemarin.”

“ Mengapa Kim Haeyeon tiba-tiba meninggal? Myungsoo sunbae akan sangat terpukul jika tahu hal ini disaat ia sedang ujian..” Naeun benar-benar khawatir.

“ Kehilangan orang yang dicintai memang selalu seperti itu rasanya.. aku merasakannya.”

“ Maksudmu..?”

Taeyeon masih menahan diri untuk memberitahu menantunya sebelum mereka benar-benar menemukan tempat yang aman untuk membuka portal, saat ini mereka masih berjalan di tempat yang ramai.

“ Haeyeon menitipkan ini untukmu.” Taeyeon mengeluarkan sebuah buku kecil dari jubahnya, menyerahkannya pada Naeun.

“ Ah.. ini buku ramuanku, aku memang meminjamkannya pada Haeyeon.” Naeun membukanya hingga menemukan secarik kertas terselip disana.

 

Kau masih tidak mengasihaniku, Son Yeoshin?

Aku telah melakukan pengorbanan yang sangat besar, berani dihukum atas kesalahan yang tak kuperbuat

Hanya satu yang kuminta, teruslah di sisi Myungsoo selamanya.

 

Naeun membalik kertasnya, ternyata terdapat tulisan lagi disana.

 

Aku tidak cocok dengan kehidupan penjara.

Disini benar-benar tidak sehat.

Jangan beri lagi ramuan pembangkit kematian, aku sudah tak punya gairah untuk hidup lagi.

Jadi tolong buatlah aku pergi dengan tenang, cukup dengan berada di sisi Myungsoo selamanya.

 

“ Teruslah di sisi Myungsoo. Tidak apa-apa. Aku tak akan melarang.” Taeyeon membuyarkan lamunan Naeun.

“ Benarkah? Mengapa kau tidak melarang?”

“ Karena sekarang kau bebas mencari pilihanmu yang lain.”

“ Apa maksudmu?”

“ Kita sudah di tempat yang aman. Siap untuk pulang?”

Taeyeon berhenti di tempat yang sepi, Naeun mempersiapkan dirinya saat Taeyeon membuka ramuan portal.

“ Apa itu ramuan portal yang baru? Warnanya berbeda.”Naeun menyadarinya.

“ Kau bisa mengurai bahan-bahannya sendiri dan mencari tahu.”

“ Ini membuatku semakin tidak sabar. Ayo kita pulang!”

“ Apa kau akan kembali kesini, Son Yeoshin?”

Naeun berbalik sejenak, menatap kota Seoul di sekitarnya dan memusatkan pandangannya pada gedung SMA Junghwa yang tak jauh dari mereka.

“ Ya. aku sudah berjanji pada Myungsoo sunbae untuk menghadiri pengumuman kelulusan dua minggu lagi.”

Taeyeon tersenyum, tak sabar dengan apa yang akan terjadi setelah mereka memasuki portal yang telah ia buka lebar.

 

“ Baiklah, kita lihat apakah setelah ini kau benar-benar bisa kembali.”

**************************

 

“ Naeun pulang ke negeri Junghwa.”

“ Benarkah!?”

Eunji menunjukkan layar ponselnya pada keluarganya, “ Ia mengirimiku pesan sebelum benar-benar pergi.”

“ Taeyeon menjemputnya?” tanya Ratu Seohyun tak percaya.

“ Ya. kurasa ia sedang sadar.”

“ Syukurlah Taeyeon tak memburu kita disini.”Raja Yonghwa bernafas lega.

“ Kalian tidak apa-apa disini, kan? Keluarga Yoon sangat baik dan menyenangkan.”

“ Tentu, lihat saja.”

Ratu Seohyun memperhatikan Daehyun dan Ilhoon yang sedang berlatih sepakbola bersama Tuan Doojoon di lapangan dengan gembira, dan Krystal yang semakin akrab dengan Bomi.

“ Kemarin juga Gayoon mengajakku ke tempat belanja dan membelikan kami pakaian-pakaian modern. Kami tak menyangka akan diperlakukan sebaik ini.”jelas Ratu Seohyun.

“ Dan setiap pagi mereka sering mengajak kami berkumpul bersama di lapangan bola untuk berolahraga dan makan-makan, seperti sekarang ini, sampai Daehyun dan Ilhoon menemukan hobi baru mereka. Krystal juga sekarang punya teman, aku lega.”sambung Raja Yonghwa.

“ Tak apa kan jika kalian harus tinggal disini untuk waktu yang agak lama?”tanya Eunji, kedua orangtuanya mengangguk, membuatnya merasa lega dan bahagia. Ia akan terus melindungi keluarganya di dunia nyata sampai negeri Junghwa benar-benar aman dan Taeyeon menemukan kesadarannya kembali, entah kapan itu.

“ Aku mengkhawatirkan Yeoshin, apa yang akan terjadi padanya? Ia jelas akan segera mendengar tentang L.”

Daehyun ikut bergabung, rupanya ia mendengar pembicaraan kedua orangtua dan kakaknya.

“ Aku senang L mati! Hahaha!” Krystal menyahut, dan semua memakluminya.

“ Tapi ia sudah membunuh Baekhyun untukmu.”sela Ilhoon.

“ Iya juga ya..”

“ A..apa ini? Kalian sudah tahu tentang Krystal dan pangeran Baekhyun?”Eunji terkejut.

“ Sudah. Krystal memberitahu kami. akhirnya kami mengetahui lebih jelas tentang Ahyoung dan L. jujur kami menyesal membiarkan L diambil dari kereta—“

“ Sudahlah. Semuanya sudah terlanjur. Berharaplah semoga situasi akan segera baik-baik saja.”

Hyerim menenangkan keluarganya.

Mereka hanya perlu menikmati dunia baru mereka disini.

***

 

“ Yeoshin, makanlah dulu. Kami menjadi koki istana baru-baru ini.”

Dongwoon meletakkan sepiring makanan di depan adiknya, disusul dengan Gain yang menuangkan minuman untuknya.

“ Haha. Benarkah? Tapi…kenapa kalian sampai seperti ini padaku? Aku bisa makan sendiri..” Naeun merasa sedikit malu, tapi ia benar-benar senang dengan kenyataan bahwa kedua kakaknya kini berubah seratus delapan puluh derajat. Apa karena sudah terlalu lama mereka tak bertemu?

“ Kau harus mengajak kami ke dunia nyata kapan-kapan, Yeoshin.”kata Gain.

“ Dunia nyata adalah tempat yang menyenangkan, kan?”sambung Dongwoon.

“ Ya. tentu saja. Aku akan memperkenalkan kalian dengan Woohyun oppa, kakak angkatku. Lalu Chorong, Sungyeol, dan sisi baik L, Kim Myungsoo. Mereka semua sangat baik padaku.”

“ Sisi baik L?”

“ Ya. aku begitu dekat dengannya, hanya dia yang bisa mengobati kerinduanku pada L. Ah.. sebenarnya L dimana, sih? Ini sudah malam dan aku sama sekali belum bertemu dengannya. Apa dia tidak tahu aku pulang..”

Dongwoon dan Gain saling bertatapan.

“ Makanlah dulu, kau belum makan dari pagi.”

Naeun akhirnya menurut.

“ Kau mau makan juga? Hm?” gadis itu mendekati wajah Lin yang ada dalam gendongannya. Sejak bertemu dengan putranya itu dari pagi, ia sama sekali tak melepaskan Lin dari gendongannya karena ingin melepas kerinduannya.

“…setelah aku makan, bisakah kalian bercerita tentang situasi negeri ini secara rinci padaku?” tanya Naeun pada kedua kakaknya.

“ Tapi kau akan tinggal disini, kan?” Dongwoon dan Gain memastikan terlebih dahulu agar adiknya tinggal bersama mereka di rumah keluarga Son, tempat mereka berada sekarang.

“ Tergantung L. jika dia ada di rumah kami, aku harus kesana.”

“ Rumah kalian kosong.”

“ Lalu L dimana? Kenapa sejak aku pulang tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Kalau dia masih di negeri Gwangdam, bilang saja. Aku tidak apa-apa, aku akan menunggunya pulang.”

“ Yeoshin—“

“ Ahh.. aku baru ingat, dia kan punya rumah sendiri. Rumah keluarga penyihir Kim, mungkin dia disana. Sejak Taeyeon mengantarku, dia juga langsung pulang kesana. Pasti L ada disana..”

Naeun buru-buru menghabiskan makanannya, setelah itu memasang jubahnya lagi dan mengganti selimut Lin.

Dongwoon dan Gain sedikit panik.

“ Yeoshin. Kau tidak lelah? Seharian ini kau mengajak Lin jalan-jalan, kau tidur saja dulu disini, ya?”

“ Aku harus menemui suamiku. Aku akan mencarinya sendiri kalau kalian tidak ada yang mau menjawab. Aku harus bertemu L, ada kabar gembira untuknya.”

“ Kabar gembira?”

Naeun sedikit mendekat dan berbisik dengan penuh senyuman.

“ Lin akan punya adik.”

“ Apa!?”

“ Kabar bahagia, bukan? Keluarga penyihir Kim punya generasi baru, dan kalian punya keponakan baru. Mana mungkin aku tidak memberitahu L secepatnya. Jadi biarkan aku pergi sebentar, ya?”

Naeun berpamitan pada kedua kakaknya dan pergi bersama Lin menuju rumah keluarga penyihir Kim.

 

“ L pasti ada disana. Apa ia sedang mempersiapkan kejutan untukku?”

***

 

Annyeong..

Naeun memegang knop pintu dan memasuki rumah megah milik keluarga penyihir Kim.

“…a..apa ini?”

Gadis itu terkejut. Rumah tersebut benar-benar kacau. Seluruh benda yang bertebaran dalam keadaan rusak dan hancur berkeping-keping, lemari-lemari antik milik keluarga Kim pun tak ada lagi yang berdiri tegak.

Rumah itu seperti baru saja terkena gempa bumi.

 

“ Ha.. ha.. datang juga akhirnya.”

Taeyeon keluar dari kamarnya, menyambut Naeun dengan senyuman aneh dan… sedikit mengerikan.

“ Apa yang terjadi, Taeyeon? Mengapa rumahmu jadi..”

“ Sudah kubilang, Yeoshin.. sudah kubilang..”

“ Apa? Kau bilang apa?”

Taeyeon mengambil Lin dari gendongan Naeun, mengayun-ayun putra kecil itu, yang sampai saat ini belum juga menangis sama sekali.

“ Sudah kubilang.. kau.. akan gila juga..”

Naeun benar-benar tak mengerti.

Kakinya langsung melangkahi barang-barang di lantai yang menghalangi jalannya.

“ L.. kau dimana..? L ?”

“ Hahahaha!” terdengar suara Taeyeon menertawainya, gadis itu semakin kebingungan.

“ L.. kau dima—“

Naeun berhenti di depan pintu kamar Taeyeon karena menemukan tongkat sihir L di atas mejanya.

“… nah, benar kan kau ada disini, L. tapi..”

“…kenapa tongkatmu..”

Naeun menyentuh darah kering yang menempel di tongkat tersebut.

“…tidak..tidak mungkin..”

“ Tentu saja mungkin, hahaha. Lihat!”

Taeyeon muncul di ambang pintu dan melempar segumpal kertas padanya, wasiat L yang sudah ia remas-remas.

TIDAK..”

Tangan gadis itu bergetar hebat selama membacanya, pandangannya mulai kabur dan airmatanya membasahi kertas yang sudah rapuh itu.

Hingga perlahan semua tulisan L disana menghilang, dan berubah.

Naeun menyeka airmatanya sejenak, mencoba menguatkan dirinya untuk membaca tulisan baru di depan matanya.

 

Jika kau membaca ini sekarang, itu artinya airmatamu sudah jatuh di atas kertas wasiatku, Son Yeoshin.

Dengan sedikit sihir, aku menulis pesan tersembunyi untukmu.

Untukmu, yang selalu menjadi obsesiku.

Aku tak akan meminta maaf atas segala yang pernah kuperbuat padamu, aku tahu itu tak pantas untuk dimaafkan

Aku hanya menyesal telah membuat kita berjauhan sampai aku mati

Mungkin ini harga yang harus kubayar atas segala kekejamanku.

Kau sudah bilang bahwa kau hanya mencintaiku. Aku akan ingat itu selamanya, sampai kegelapan benar-benar menenggelamkan jiwaku

Besarkan uri Lin sampai ia menjadi penyihir yang lebih hebat dariku, dan lebih baik darimu. Janji?

 

Selamat tinggal.

 

BRUK!

Detak jantung Naeun melemah secara drastis dan ia rubuh di lantai kamar.

************

 

2 minggu kemudian…

 

“ Semoga kau pergi dengan damai.”

Myungsoo, Sungyeol, Woohyun, dan Chorong membungkukkan badan mereka bersamaan, memberi hormat di depan loker abu milik Kim Haeyeon.

Drrt.. drrt..

Sungyeol menegakkan badannya, berbalik dan menjauh sedikit lalu mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya.

“ Ya halo?”

“ KAU DIMANA!? SUDAH MAU PENGUMUMAN!”

“ Aishh..” ia segera menjauhkan ponsel yang ia pegang dari telinganya.

“ CEPAT KESINI!”

“ Iyaa.. iya..”

Klak. Sungyeol mematikan teleponnya sebelum telinganya semakin sakit, ia kembali berbalik.

“ Pengumumannya sebentar lagi. ayo kembali ke sekolah.”

Woohyun merangkul Myungsoo yang masih menunduk di depan loker.

“ Bisa kita pergi sekarang?”

Myungsoo mengangkat kepalanya dan mengangguk, dengan berat hati meninggalkan tempat peristirahatan Kim Haeyeon dan berjalan keluar bersama ketiga sahabatnya.

 

“ Siapa yang menelponmu?”tanya Chorong pada Sungyeol.

“ Biasalah.”jawab lelaki itu dengan sedikit kesal.

“ Kau sudah jadian dengannya?”goda Woohyun.

“ Tidak! Mana mungkin..”

“ Hahaha.. mengaku saja!”

“ Kalian yang mengaku, kalian sudah balikan, kan?”

“ T-tidak.. kapan kami balikan!?”

“ Ckck, aku tahu.. aku tahu..”

Myungsoo hanya bisa tersenyum tipis, merasa terhibur karena kini tak ada lagi perselisihan dalam persahabatannya. Woohyun, Chorong, Sungyeol, dan ia menjadi sahabat yang lebih dekat sejak ujian selesai dan berhasil membuat Myungsoo bangkit dari kesedihannya atas kematian Kim Haeyeon.

Kini, satu-satunya yang masih menjadi beban Myungsoo hanyalah keinginan L yang masih belum ia penuhi, sebab Naeun tak muncul lagi dihadapannya sampai sekarang. Ia tahu gadis itu kini berada di negeri Junghwa, entah bagaimana kondisinya.

Ia bahkan tak mengharapkan gadis itu datang untuk ikut mendengar pengumuman kelulusan.

Sebab rasanya tidak mungkin.

Naeun sudah benar-benar menghilang darinya.

***

 

“ Ah.. cantik sekali. Kau siap untuk berangkat?”

Naeun hanya memandang wajahnya dengan datar di kaca. Gain sudah selesai meriasnya.

“ Kau yakin akan pergi?” Dongwoon menghampirinya dan mengelus pundaknya, gadis itu mengangguk lemah.

“ Aku..sudah janji.”

“ Kau yakin akan baik-baik saja?”

“ Ya, semoga saja..”

“ Seandainya kami bisa mengikutimu. Kami harus menjaga Lin disini.”

“ Aku bisa sendiri. Tolong jaga Lin, ya..” Naeun berdiri dan menghampiri putranya sejenak dalam pangkuan Gain.

“…aku pergi sebentar saja. Baik-baiklah dengan paman dan bibi.”

Ia mengecupi wajah Lin dengan penuh kasih sayang untuk berpamitan ke dunia nyata.

Ia ingin menepati janjinya pada Myungsoo untuk menghadiri acara pengumuman hasil ujian.

 

Gadis itupun membuka ramuan portal yang telah ia buat, dengan resep baru yang telah ia ketahui.

“ Sampaikan maafku karena tidak sempat pamit pada Taeyeon.”

Dongwoon dan Gain mengangguk kompak.

Annyeong Yeo-shin..~” Gain melambaikan tangan Lin, Naeun ikut melambaikan tangannya sebelum benar-benar memasuki portal.

 

“ Semoga dia baik-baik saja.”Dongwoon masih menyesali keputusannya mengizinkan Yeoshin untuk pergi setelah dua minggu adiknya itu mengalami masa-masa sulit karena kehilangan L.

Ia mengalami kondisi yang jauh lebih buruk dari Taeyeon.

“ Dia baru saja keguguran.”

“ Dan dia baru saja bangun dari koma.”

*******

 

“ Kuat. Aku harus kuat.”

Naeun memegangi lututnya yang gemetaran. Tubuhnya memang masih sedikit kaku karena sempat tak sadarkan diri berhari-hari, tepat setelah ia mengetahui kematian L. ia bahkan sudah kehilangan janinnya, yang tadinya hampir menjadi kabar gembira.

Jika tak ada Lin disisinya, mungkin ia tak punya pilihan lagi untuk melanjutkan hidup.

Gadis itu berdiri di belakang, cukup jauh dari barisan siswa kelas tiga, namun ia sudah menangkap sosok Myungsoo.

Si pemilik raga yang ia rindukan.

Lelaki tampan itu terlihat murung, tak bersemangat mendengar pengumuman sama sekali. Membuat Naeun tak tega menampakkan kesedihannya juga.

“ Myungsoo sunbae pasti menjadi juara. Ini harus menjadi hari yang bahagia untuknya..”

Naeun menggenggam satu buket bunga yang sempat ia beli sebelum ia tiba di sekolah. Dengan perlahan berdiri dan merapikan mini dressnya, kemudian mencoba untuk tersenyum dan menekan dukanya kuat-kuat.

Ia berjalan pelan menuju barisan depan agar bisa menunjukkan kehadirannya pada Myungsoo.

“ Aku kuat karenamu, L. Aku terus melihat sosokmu di seberang sana, aku tak pernah menyesal membuat ramuan pembangkit kematian untuknya. Ia satu-satunya orang yang membuatku bisa terus melihat wajahmu setiap hari.”

Naeun tersenyum haru ketika mendengar nama Kim Myungsoo akhirnya disebut sebagai juara umum ujian kelulusan. Lelaki berhati malaikat itu mendapat sorakan yang meriah dari semua orang.

Ia naik ke atas mimbar dan memulai ucapan terimakasihnya. Wajah tampannya yang murung mulai terlihat cerah ketika akhirnya ia menemukan sosok Naeun di tengah para siswa.

Gadis itu menepati janjinya.

 

Keberhasilanku masih jauh untuk kugapai. Kelulusan ini adalah awal dari segalanya, aku akan bekerja dan belajar lebih keras di masa depan. Aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku yang sangat dalam pada semua pihak yang terus memberiku dukungan. Kim Haeyeon songsaenim yang sudah berada di surga, kepala sekolah kita yang hebat, Kim Sunggyu songsaenim.. Kai.. adikku yang tampan, Sungyeol, Chorong, dan sahabat baruku, Nam Woohyun.”

Para siswa kembali bersorak, awal persahabatan Kim Myungsoo dan Nam Woohyun memang merupakan hal termanis di SMA Junghwa.

“…dan aku juga mengucapkan terimakasih pada adik Woohyun, Naeun. Atas segalanya. Atas senyumannya untukku, kebaikannya, dan kesabarannya mendengar kata-kata cinta dariku.”

Naeun tak menyangka ia akan menjadi pusat perhatian juga. Myungsoo terdiam sejenak di atas mimbarnya, menatapnya lurus tanpa berkedip.

“…biarkan aku mengucapkannya lagi disini, Son Naeun. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.”

Gadis itu menundukkan kepalanya dan menangis. Mengapa Myungsoo masih belum menyerah?

Semua orang memberi tepuk tangan yang meriah. Tak sepantasnya gadis itu menangis disini.

Naeun mengangkat kepalanya, semua orang di depannya memberi jalan untuknya menghampiri Myungsoo yang telah turun dari mimbar.

 

“ S-selamat.. atas.. kelulusan, dan nilai sempurnamu.”

Naeun menyerahkan buket bunganya, Myungsoo menerimanya dan jemari lelaki itu langsung menghampiri wajah cantiknya, menghapus airmatanya. Diam-diam memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah.

Tak ada perubahan yang berarti, ia malah menjadi lebih kurus. Myungsoo yakin perkataan L terbukti, Naeun mengalami keguguran, dan mungkin lebih parah dari itu.

Terbaca dari sorot matanya yang sendu, Naeun pasti sudah mengetahui kematian suaminya.

“ Terimakasih, nona Yeoshin.”

Semua mata kini memandang kearah mereka berdua. Apa mereka menunggu pemandangan yang manis?

“ M-Myungsoo sunbae..”

Gadis itu mulai gemetar, hatinya terguncang menatap wajah Myungsoo lama-lama.

“ Ya?” Myungsoo menunggu perkataan Naeun selanjutnya dengan sabar.

“ L.. L.. dia..”

Naeun tak mampu melanjutkan kata-katanya, dan Myungsoo tak sanggup melihatnya serapuh ini.

“ Aku tahu.. aku tahu..”

“ L.. L..” gadis itu masih saja berusaha bicara meski tersendat oleh sesak di dadanya.

“ Sssh..” Myungsoo memintanya untuk diam, gadis itu mendadak tak tenang.

“ L—“

Myungsoo mengunci mulutnya, mencium bibir Naeun yang bergetar dengan lembut hingga menimbulkan kehebohan bagi semua orang.

Dengan kesadaran penuh Naeun mendorongnya pelan,

“ L.. aku ingin L. maafkan aku, sunbae. Aku hanya ingin penyihir biadab itu. aku hanya mencintainya.. L… aku—“

“ Berhentilah. Aku sudah cukup mendengarnya.” Myungsoo menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

 

“…kita sudah mendapatkan jawabannya, L. aku gagal.”

***

 

“ Jadi kau akan tinggal di apartemen Hoya?”

“ Ya. aku akan bekerja aktif lagi menjadi manajernya.”

“ Kau tidak kuliah?”

“ Entahlah..”

“ Ayolah.. kuliah saja, Kim Myungsoo. Biar aku ada teman.”bujuk Sungyeol sambil mengangkat dus-dus yang berisi barang-barangnya ke depan pintu.

“ Kau akan kembali ke rumahmu, kan?” tanya Myungsoo yang juga tengah mengosongkan kamar asrama mereka.

“ Tidak. Aku akan tinggal di rumah pribadi Kim Sunggyu.”

“ Hah? Benarkah?”

“ Permintaan dadakan. Yura tidak lulus ujian dan dia stres, aku disuruh kepala sekolah monster itu untuk menghibur anaknya sambil mempersiapkan ujian masuk universitas.”

“ Astaga..”

“ Myungsoo. Kuliahlah, ya? aku rela deh masuk jurusan Matematika asal bisa satu kelas lagi denganmu.”

Myungsoo masih belum bisa menjawab.

“ Lanjutkan ya, Yeol. Aku istirahat dulu.” Myungsoo berhenti sejenak dan berbaring di atas tempat tidur asramanya.

Ini malam terakhirnya tinggal di asrama SMA Junghwa.

*

 

“ Selamat atas kelulusan dan nilai sempurnamu, Kim Myungsoo.”

L muncul dan mengulurkan tangannya, mengucapkan kata-kata sama seperti yang diucapkan oleh Naeun.

“ Terimakasih, L. senang masih bisa melihatmu.” Myungsoo menjabat tangan sisi jahatnya itu.

“…tanganmu dingin sekali, L.”

“ Kegelapan itu sangat dingin.”

“ Maksudmu?”

“ Kau pantas senang melihatku disini, Kim Myungsoo. Mari manfaatkan waktu kita dengan baik karena ini kesempatan terakhirmu.”

“ L, jangan bilang kau akan..”

“ Aku tak akan pergi, kegelapanlah yang akan menelanku. Aku sudah tidak bisa menghindar lagi. seharusnya aku sudah disana dari lama.”

“ Jangan, L. jangan sekarang. Kumohon..”

“ Kenapa? Kau masih belum berhasil?”

Myungsoo menggeleng.

“ Bukan belum berhasil, tapi tak akan berhasil.”

“ Kenapa? Kukira ia akan jatuh hati padamu setelah kau menciumnya.”

“ Jadi kau tahu?”

“ Tentu saja.”

“ Maaf. Aku sudah putus asa.”

“ Jika saja aku masih hidup mungkin kau sudah kubunuh.”

Myungsoo tertawa pedih, ia menepuk bahu dingin L.

“ Kalau begitu hiduplah, L.”

L tersenyum getir, ia sudah terlihat lebih dari pasrah.

“ Jangan bicarakan hal yang tidak mungkin, Kim Myungsoo. Terimakasih sudah berusaha menuruti kemauanku. Aku sedikit bangga kau gagal, aku bangga Yeoshin tetap mencintaiku.”

“ Ia sudah tahu kau mati. Kau benar, L, dia sudah kehilangan janinnya. Dari wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang kaku, aku yakin juga ia sempat tak sadarkan diri setelah mengetahui kematianmu. Kau akan meninggalkannya begitu saja?”

‘ Lalu apa yang bisa kulakukan!?” L berteriak depresi.

Tubuhnya terasa semakin hampa, kematian sesungguhnya akan segera datang padanya.

“ Sudah kubilang. Hiduplah, L.”

“ Bukankah aku sudah bilang juga aku tak akan bisa lagi hidup dengan usaha apapun karena jasadku sudah hancur?”

Myungsoo menggeleng dan tersenyum getir.

 

“ Kau masih punya, L. Disini. Di depanmu.”

 

To be Continued

 

Setelah berbagai rintangan kuhadapi akhirnya kepost juga ini part panjang

Maaf ya ini panjangnya luar biasa kan? Aku bikin sepanjang ini buat nebus kengaretanku berbulan-bulan hehe :”

Semoga masih penasaran dengan final partnya. Aku usahain kelar setidaknya sebelum tahun baru, biar ff ini tidak semakin tua(?)

Sampai jumpa di final part !! komentar kalian akan sangat mempengaruhi ending, jadi harap tinggalkan jejak yaa ^^

 

Next >> Part 9 [FINAL] : The Real Ending

93 responses to “THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]]

  1. Ini ff myungeun terkeren yg pernah aku baca, sampe banjir bacanya apalagi di chapt ini :”‘
    Walaupun update nya lama, sampe lupa udah baca sampe chapt brapa :’v tapi ff ini emang patut ditunggu >< ff myungeun terfavorit lah pokonya. Seandainya dijadiin novel~~
    FIGHTING CIT! terus berkarya, ditunggu ff myungeun yg lain. Sekali" ff woorong juga gapapa. Wkwk.

  2. kacau setahun thor!!!nunggunya setauuun!!!
    tapi tertebus juga keterlambatannya. ini panjaaaaaaaaaaaaaaaang sekaaaaaaliiiiii uhuy😊

    dan apa ini maksudnya? myung mau rela mati lg? bgmn dg seungyeol dan chorong? wew ini ga bakal ketebak sapa yg bahagia😢😢😢😢

    great job thor!💐💐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s