[Twoshoots] Love Him Like Dying

 photo lyld_zpsmhg3i6w7.jpg

| Love Him Like Dying |

| Kim Liah (b2utyinspirited.wordpress.com) |

| Two Shoots |

| Byun Baekhyun, Park Jiyeon, Bae Sooji, Oh Sehun |

| Romance, Dramatic, Sad, Tragic |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism! Be careful of typo(s) |

.

.

.

Mencintai seorang Byun Baekhyun bukanlah perkara mudah bagi Jiyeon. Baginya mencintai Baekhyun sama saja dengan mencintai Tuhan, DIA selalu ada untuk kita namun kita sangatlah sulit menjangkaunya. Cinta sebelah pihak? Bukan, pria bersenyum kotak itu sangatlah mencintainya bahkan mungkin kadar cintanya lebih besar dari apa yang Jiyeon rasakan. Namun cinta juga bukanlah senjata kuat yang mampu menyatukan mereka. Satu rintangan besar itu tak mampu diruntuhkan oleh besarnya cinta mereka.

Jiyeon benci melihat pria berambut coklat ini berseragam biru garis-garis khas pakaian pasien rumah sakit. Jiyeon juga benci menghirup aroma obat dan infuse yang sangat menyengat diruangan yang sudah menjadi kamar kedua bagi Baekhyun.

“Waeyo?”

Baekhyun tengah memakan dengan lahap potongan apel yang disuapkan oleh Jiyeon tadi, namun kegiatan mengunyahnya terhenti begitu melihat wanita yang paling dicintainya itu malah melamun dalam diam.

“Anni, manhi mogo Bacon-a”

Senyum penuh paksaaan itu terlihat kecut diwajah cantik Jiyeon, menghindari menjawab pertanyaan Baekhyun, ia malah kembali menyuapkan potongan apel ke mulut baekhyun. Ia teringat ucapan dokter tadi yang tak sengaja ia curi dengar, kondisi jantung Baekhyun semakin memburuk dan sangat membutuhkan transpalasi jantung secepat mungkin.

Namun mencari manusia yang mau mendonorkan jantungnya bahkan memiliki kecocokan yang sama dengan Baekhyun adalah sesuatu yang bisa dibilang mustahil meski ia memiliki banyak uang sekalipun. 2 minggu, jika dalam 14 hari jantung itu tak segera tergantikan, maka ia harus bersiap melepas Baekhyun untuk selamanya.

“Kau bosan disini?” Baekhyun menarik piring yang tengah Jiyeon pegang. “Pulanglah! Bukankah kau paling benci rumah sakit?” ia merasa sebagai kekasih yang paling jahat sedunia, Jiyeon memang anti dengan rumah sakit karna dia memiliki kenangan buruk ketika melihat keluarga yang paling ia sayangi terenggut nyawanya. Hanya ia satu-satunya keluarga, kekasih dan orang yang paling dia harapkan untuk tidak akan meninggalkannya juga ditempat tabu bernama rumah sakit. Namun nasib berkata lain, wanita itu malah jatuh cinta padanya yang ternyata memiliki kerusakan pada organ terpenting ditubuhnya.

“Eoh, aku merasa gatal berada disini. Aroma obat itu sungguh menusuk” hampir saja tangisannya pecah jika Jiyeon tak berupaya bersikap kesal pada Baekhyun, ia bangkit berdiri memunggungi Baekhyun “Sembuhkan sakitmu itu dan jangan pernah mengajakku kesini lagi” ia berjalan cepat menyisiri lorong rumah sakit dan berjongkok lemas didepan lift. Sungguh kenapa nasib buruk menimpanya seperti ini? Baginya sudah cukup kehilangan keluarganya dan ia tak ingin Tuhan mengambil lagi orang terkasihnya.

***

1 minggu ini Jiyeon menahan keinginannya untuk menemui Baekhyun, ia hanya menunggu akan ada kabar baik dari calon mertuanya bahwa kekasihnya itu akan kembali menjadi pria normal dan berada disampingnya selama-lamanya. Namun harapan itu juga tak terdengar sama sekali, hanya permintaan dari ibu mertuanya saja yang memintanya kembali menemani Baekhyun di rumah sakit.

Pelan-pelan tangan Jiyeon menarik knop pintu kamar Baekhyun, dadanya terasa sesak mengingat harapan hidup Baekhyun tinggal menghitung hari saja. Tangisannya merembes membasahi pipinya begitu melihat Baekhyun terbaring lemas diranjang itu. Ia genggam erat tangan besar itu dan menangis tanpa isakan. Ia tahu Baekhyun benci melihatnya menangis dan terlihat lemah seperti ini.

Sebuah tangan terasa dingin dipipi Jiyeon, Baekhyun membelai pipi Jiyeon dan menghapus air mata itu. Sekali lagi ia memang pria kejam, ia melarang Jiyeon menangis namun ia juga yang menyebabkan Jiyeon menangis sendu seperti ini.

“Wasseo?” Senyum khas itu terbentuk diwajah tampan Baekhyun, senyum bahagia bercampur duka. “Aku bosan disini Ji-a. Bagaimana kalau kita pulang saja? Aku rindu kamarku” ia tak mau lagi memberi harapan palsu pada keluarganya dan juga Jiyeon. Lebih baik ia habiskan sisa waktunya bersama mereka daripada hanya terbaring tak berdaya dikamar yang menurut Jiyeon sangatlah pengap akan obat-obatan.

Isakan itu tak terbendung lagi, Jiyeon merasa ucapan Baekhyun bagaikan pertanda bahwa memang ia harus menyerah dan mengembalikan Baekhyun pada Tuhan.

“Yaa uljima, jincha kau jelek sekali Ji-a” Baekhyun sekuat tenaga bangkit duduk dan menarik Jiyeon dalam pelukannya. Meskipun Jiyeon terlihat kuat sebenarnya dia sama lemahnya seperti wanita lainnya, ia sungguh tak tahu bagaimana Jiyeon nanti jika ia menghilang.

.

“Kau yakin akan betah menemaniku disini?” ranjang sempit itu bukan hanya terbaring Baekhyun disana, tapi juga Jiyeon yang kini berada dalam dekapan Baekhyun “Apa kau lupa kalau kau sudah membuatku gila selama seminggu kemarin hah?” berpisah seminggu saja dari Jiyeon ia merasa seperti sudah tak punya harapan hidup, bagaimana dengan Jiyeon yang memang akan kehilangannya selamanya?

Detak jantung yang tak beraturan itu terdengar mencekam ditelinga Jiyeon, ia seolah mendengar jantung ini tak akan pernah berdetak lagi nanti. Batinnya bergemuruh dan tangisan itu hampir kembali menyeruak jika ia tak memeluk Baekhyun semakin erat.

“Waeyo? Apa kau juga begitu merindukanku hah?” Baekhyun turut mengeratkan pelukannya, ia sadar ini sebuah isyarat bahwa Jiyeon tak akan mampu melepas kepergiannya. “Yaa otte? Kita pulang saja? Ranjang ini terlalu kecil Jiyi-a”

Jiyeon menggeleng dibalik dada Baekhyun “Anni, kau lebih aman disini Bacon-a” Setidaknya semua alat medis dikamar ini mampu memberi harapan bagi kesembuhan Baekhyun meski hanya membantu selama seminggu terakhir ini. “Aku mulai suka rumah sakit” dustanya.

“Jincha? Wah seminggu kau tak disini ternyata yang kau rindukan adalah bangunan berbau obat ini daripada aku kekasihmu. Ckcckck” canda Baekhyun, ia tak sebodoh itu, ia sudah mengenal Jiyeon luar dalam, ini hanya sebuah keterpaksaan demi kebaikannya.

“Eoh, Jo uisangnim sangat pantas dirindukan. Dia tinggi, tampan dan dokter pula” balas Jiyeon, Jo adalah dokter yang sudah menangani Baekhyun selama beberapa tahun ini. Kepadanya pulalah ia mengemis kesembuhan Baekhyun dengan berbagai cara termasuk melakukan uji kecocokan jantungnya dengan Baekhyun. Namun sayang jantungnya juga tak cocok dengan darah Baekhyun.

“Maja Jo uisangnim memang jjang” Baekhyun menunduk menatap wajah Jiyeon yang bersembunyi didadanya “Hay, bagaimana kalau aku meminta bantuan padanya saja?”

“Bantuan apalagi Bacon-a? Kau sudah terlalu sering menyusahkannya bukan?”

“Jika aku pergi…” Baekhyun mengambil jeda sebentar, pengandaian yang sangat ia benci meski kemungkinannya memang 100% “Kau perlu seseorang yang akan menjagamu Jiyi-a” sekali lagi ia mengambil jeda “Kau ini wanita yang rapuh, emosian dan …lemah” ia tertawa kecil “Kurasa kau akan aman jika kutitipkan pada Jo uisangnim. Bukankah dia singl….” Ucapannya terpotong begitu Jiyeon bangkit duduk dan memberinya tatapan tajam dari mata sembabnya itu.

“Babo!! Mana ada pria sepertimu? Kau…” Baekhyun sudah menyakiti Jiyeon dengan penyakitnya, harapan kosongnya dan sekarang pria itu malah berbicara ngawur seperti ini “Jincha omong kosong macam apa itu. Nan…” tatapan mata Baekhyun sama sendunya seperti dirinya, pria itu berusaha tegar dengan candaan gila macam ini “Aku akan tetap bersamamu” ia kembali berbaring didekapan Baekhyun, menyembunyikan tangisan kecilnya dengan memeluk Baekhyun semakin erat.

**

Prediksi Jo uisangnim tak berjalan sesuai kenyataan, masih tersisa 3 hari namun Baekhyun sudah tak sadarkan diri. Pria itu tak bisa lagi Jiyeon ajak bercengkrama maupun memeluknya erat. Kondisinya semakin memburuk dan harapannya semakin kecil.

Jiyeon mengecup hangat kening Baekhyun dan memeluknya pelan. Kecupan dan pelukan terakhirnya, ia bahkan tak sempat mendengar kata perpisahan dari Baekhyun karna dia sudah terlebih dahulu tak sadarkan diri.

Keputusannya sudah bulat, ia kendarai mobil putihnya menuju sebuah pantai yang memiliki banyak kenangan dengan Baekhyun. Pantai bertebing tinggi ini menjadi saksi percintaan mereka dan segala event pentingnya dalam perjalanan romansa mereka.

Suara deburan ombak terdengar jelas ditelinganya, ia parkirkan mobilnya sembarang ditepi pantai. Gaun putih setinggi lutut pemberian Baekhyun itu tertempel manis ditubuhnya. Ia berjalan menapaki pasir pantai dengan bertelanjang kaki, ia tak peduli tajamnya bebatuan karang yang ia pijaki menyayat kaki mulusnya. Pandangannya kosong dan pikirannya hanya tertuju pada puncak tebing dimana ia dan Baekhyun sering berkemah disana.

Gaun pendeknya tertiup angin pantai, begitu pula rambut terurai panjangnya ketika ia sampai dipuncak tebing. Benar, ia akan menyusul Baekhyun meski mungkin ia duluan yang akan berada disurga. Lebih baik ia mengikuti jejak Baekhyun daripada harus hidup sendiri dan kembali kehilangan orang yang paling ia sayangi dalam hidupnya. Ia sangatlah yakin bahwa ia tak akan mampu bertahan hidup jika tak ada lagi Baekhyun disisinya. Ia yakin sekali ia hanya akan menyesali hidupnya dan terpuruk dalam kesedihan mendalamnya.

Senyum miris itu terlekuk diwajah muramnya “Kau mengambil semuanya dariku” ia menatap langit luas yang berada jauh didepannya “Kau membuatku kehilangan untuk kedua kalinya” air matanya jatuh tertiup angin “Bacon-a, aku akan menunggumu disurga” kali ini senyumnya tulus, kedua kakinya ia langkahkan kedepan hingga tak ada lagi pijakan dan suara khas benda jatuh kedalam air pantai itu terdengar riuh.

.

Tuan dan Nyonya Byun menunggu dengan gelisah dikamar Baekhyun. Mereka sungguh mengharap keajaiban Tuhan saat ini juga. Mereka tak ingin kehilangan putra semata wayangnya, mereka juga tak ingin melihat calon menantunya menderita melihat kepergian Baekhyun.

“Sudah eomma. Kita tidak bisa menolak takdir Tuhan. Mungkin memang umur Baekhyun cukup sampai disini saja” Tuan Byun merangkul erat Nyonya Byun yang menangis dalam pundaknya, meski ia sama sedihnya namun ia masih bisa bersikap tegar dan semua demi kebaikan Baekhyun dialam surga.

Nyonya Byun masih saja menangis sendu, mana ada ibu yang bisa merelakan kepergian putra kesayangannya, apalagi Baekhyun adalah putra satu-satunya. Kesedihannya sama mendalamnya seperti Jiyeon, ia juga tak menyangka jika sisa waktunya melihat Baekhyun terpotong seperti ini.

Suara khas knop pintu terbuka dengan tergesa-gesa, pria berseragam putih dengan stethoscope terkalung dilehernya. Jo uisangnim, dokter yang sudah seperti keluarga bagi mereka nampak memasang wajah sumringah.

“Tuan Nyonya, harapan itu sudah ada”

Tuan dan Nyonya Byun menoleh tak percaya “Mworago uisangnim?” tanya mereka bersamaan.

“Kita sudah menemukan jantung yang cocok”

.

Wanita berambut panjang itu nampak muram melihat pria jangkung berambut blonde terurai tak berdaya di brankar dorong yang baru saja membawa pria terkasihnya itu ke dalam UGD. Darah segar masih tercium dikedua telapak tangannya, tubuhnya menggigil mengikuti isakan tangisnya.

Flashback On

Sooji mendelik kesal melihat Sehun malah asik menyetir sambil berbicara panjang lebar dengan sahabatnya bernama Chanyeol. Selalu seperti ini, pria jangkung itu selalu menganggu kebersamaannya dengan Sehun. Ia merasa tak sebanding dengan Chanyeol.

Lampu penanda jalan nampak berwarna merah, ia buka pintu disampingnya dan berjalan keluar mobil. Ia sudah muak mendengar perbincangan dua sahabat itu sepanjang jalan, lebih baik ia pergi daripada batinnya semakin tersakiti.

Mata sehun membulat melihat Sooji berjalan melewati mobilnya “Yeol-a, kita lanjut nanti ne?” ia lempar headset ditelinganya ke dashboard mobil lalu berlari keluar mobil mengejar Sooji “Sooji-a, chakkaman” Sooji tak menggubrisnya, dia malah semakin berlari ke selatan dan hendak menyebrang sembarangan tanpa tahu lampu sudah hampir memerah karna memang tak ada pengendara dijalan itu. “Sooji-a, jebal” Sehun berlari ke arahnya, hampir saja ia menggapai tangan Sooji, jika saja sebuah motor hitam tak menghempas tubuhnya hingga terlempar jauh ke aspal jalan.

“She…” lidah Sooji terasa kelu, tubuhnya terasa lemas pula “Sehun-a” ia hampiri tubuh Sehun yang terbujur kaku dan bersimbah darah lalu mengangkat kepala Sehun dalam pangkuannya “Oh Sehun, ireona, ireona”

Flashback Off

Sooji tak peduli dengan gaun putihnya yang sekarang sudah dipenuhi bercak darah, Sooji tak peduli pula dengan wajahnya yang terbanjiri air mata dan nampak jelek dan Sooji tak peduli jika Sehun mengacuhkan kebersamaannya dengan menimpali ucapan Chanyeol. Ia hanya ingin melihat Sehun lagi dan mencium aroma tubuh Sehun lagi.

Tangan bersimbah darah itu ia katupkan dan untaian doa ia lantunkan kepada Tuhan. “Tuhan jebal, selamatkan Sehun, jebal Tuhan” isakannya semakin terdengar kencang.

Seorang pria berseragam hijau khas ruang operasi nampak keluar dari ruang UGD itu dengan wajah muramnya, ia lepas masker diwajahnya dan segera menimpali deretan pertanyaan dari Sooji.

“Uisangnim otte? Bagaimana dengan Sehun-ku? Sehun-ku tidak apa-apa ne? Dia….” Sooji tahu makna dari siratan penyesalan diwajah dokter tersebut, ia berjongkok lemas dan berakhir jatuh pingsan.

.

Tuan dan Nyonya Byun nampak cemas menunggu didepan ruang operasi, akhirnya ada juga pendonor jantung yang cocok dengan Baekhyun. Tak henti-hentinya mereka berucap syukur kepada Tuhan, namun tak henti-hentinya pula mereka mengharap kesuksesan operasi pencangkokan jantung yang sudah berlangsung selama 6 jam ini.

“Yejin-a, dimana Jiyeon? Hubungi dia, dia pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini” Mereka sampai melupakan keberadaan Jiyeon karna terfokus pada Baekhyun.

“Ne” Yejin mendial nomor di iphone-nya, tak ada jawaban hanya sebuah balasan suara khas operator ketika no tujuannya sedang tak terjangkau “Nomernya tidak aktif oppa”

Tak selang kemudian Jo uisangnim keluar dari ruang operasi dengan wajah sumringahnya, operasinya berhasil, jantung cangkokan itu sudah tertanam ditubuh Baekhyun. “Chukkae Tuan dan Nyonya Byun, operasinya lancer”

“Oppa” Yejin memeluk suaminya dengan erat ketika sebuah brankar dorong membawa sebuah tubuh yang tak sengaja terlihat wajahnya karna selimut penutupnya tertiup angin.

“Apa pria itu yang sudah mendonorkan jantungnya untuk uri Baekhyun, uisangnim?” Tuan Byun melihat jelas wajah tampan yang terbaring tak bernyawa di brankar tadi.

“Ne, pria itu sudah sejak lama mendonorkan organ tubuhnya jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya” Jo uisangnim nampak memasang wajah sendu “Dan naasnya dia baru mengalami kecelakaan sehingga merenggut nyawanya” jelasnya.

Ada kebahagiaan diwajah kedua orangtua Baekhyun, namun juga ada kesedihan karna kehidupan putranya harus mengorbankan hidup orang lain.

TBC

5 responses to “[Twoshoots] Love Him Like Dying

  1. Annyeong eonni apa kabar finally aku bisa baca ff eonni lagi setelah sekian lama sibuk sama kuliah *gadaygtanya u.u tp knp ini storynya nyedihin huhu part endingnya di tunggu ya sekalian aku tunggu ff2 eonni yg lain, fighting (:

  2. waaah gmn nasib jiyi, bknx dy bnih diri…brharap nyusul bakhyun eh mlah baekhi hdup…tyus kl jantung sehun d baekhie jgan2 ntar baekhie suka sooji…jiyi mana jiyi???
    Dtggu next partx g pake lama…

  3. Aigoo..was2..
    Apa nnti krna jantung sehun ada pada baekhyun akan menyebabkan perasaannya goyah trhdap jiyeon?
    Dan jiyeon mana dirimu? Jngn bilang kau bunuh diri ji..
    maldo andweeee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s