MEDALS (Chapter 1)

untitled-200

Title     : MEDALS

Genre  : Romance, Fantasy

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG 17

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Revenclaw @ArtFantasy

 

***

Ariel kembali mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke atas permukaan meja ketika guru sejarahnya mulai menjelaskan asal mula tulisan aqua –tulisan yang berlaku di Planet Bosaidong. Ah, kalian para penghuni bumi bisa membacanya ‘poseidon’. Kembali pada Ariel yang mulai menguap lebar, gadis berusia 19 tahun itu mulai menuliskan membuat pohon silsilah yang membuat tulisa aqua bisa semodern sekarang.

Planet Bosaidong merupakan salah satu planet tetangga yang terdapat pada Galaksi Bima Sakti. Merupakan planet dengan jarak 75 juta tahun juta cahaya dari bumi, dan memiliki suhu sekitar 20C atau kurang dari itu. Hanya memiliki ‘bintang cebol’-begitulah bahasa astronomi menyebutnya, dan cahaya bintang tersebut hanya sedikit menyentuh planet. Hanya terdapat satu daratan luas –jangan membayangkan luasnya seluas Benua Asia ataupun Amerika, daratan ini hanya seluas Benua Australia, dan sisanya hanya ada samudra. Dan untuk memenuhi kebutuhan daratan, dengan pesatnya kemajuan teknologi, akhirnya pemerintah membuat misi besar-besaran untuk program ‘Daratan Buatan’. Bangunan di atas air.

Kemudian dengan berjalannya waktu, akhirnya daratan yang disebut ‘Istana Arang’ diperuntukkan khusus untuk para petinggi pemimpin mahluk penghuni Poseidon. Dan untuk daratan buatan yang disebut ‘Daratan Aqua’ diperuntukkan untuk rakyat sipil.

Planet sebesar Pluto dengan massa delapan kali bumi ini memiliki peradaban yang tidak jauh berbeda dengan mahluk di bumi. Atau bahkan, bisa dikatakan sama. Hanya saja, ada dua ras di Poseidon, yang terbanyak adalah ras Hrown, bermata sipit, bermata coklat, dan berambut coklat. Yang kedua adalah ras Hilver, bermata agak bulat, berambut putih agak kekuningan dan bermata biru. Dan yang ketiga disebut ras campuran. Dan selebihnya, penghuni Poseidon memiliki cirri fisik yang dimiliki manusia –kecuali kekuatan ‘lebih’ yang dimiliki secara alamiah. Ah, sedikit tambahan, karena bangsa Poseidon sudah lama ‘mempelajari bumi’, satu fakta menarik ditemukan. Akrasa cina tradisional rupanya hampir mirip, bahkan bisa dikatakan sama. Bahkan bahasa yang digunakan pun hampir mirip.

Dan karena banyaknya kemiripan tersebut, akhirnya bangsa Poseidon mengamati bumi secara diam-diam. Meskipun pernah membalas sinyal yang dikirim oleh bumi, namun ternyata manusia belum pernah benar-benar memahami sinyal tersebut. Ini lah alasan pendidikan Poseidon dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama untuk mempelajari bumi, dan yang kedua dikhususkan untuk membangun Poseidon agar menjadi lebih baik. Meskipun tentu saja aka nada kelompok ketiga, dimana mereka akan bekerja untuk mendapatkan makanan.

Dan Ariel, merupakan ras campuran. Meskipun cirri ras Hrown lebih mendominasi, namun warna rambutnya justru hitam –sesuatu yang langka. Ariel telah diarahkan untuk mempelajari antropologi. Sehingga sejarah, budaya, sosiologi, dan hal-hal semacam itu sudah menjadi konsumsinya sejak kecil. Namun, sejak kecil semua anak diwajibkan untuk belajar eksak dasar dan semacamnya.

“Baiklah, kelas hari ini selesai. Untuk pertemuan minggu depan, aku ingin kalian merangkum materi yang saya sampaikan hari ini. Aku akan menunggu tugas kalian hingga pukul 23.00. paham?” suara Mrs.Nana begitu mencekam di telinga Ariel. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang bahkan tak didengarkannya selama dua jam ini akan bisa dikumpulkan tepat waktu? Well, sedikit informasi, jika di bumi satu hari adalah 24 jam, maka di Poseidon adalah 23 jam. Jika di bumi satu tahun adalah 365 hari, maka di Poseidon adalah 270 hari. Namun karena bangsa Poseidon memiliki umur yang lebih muda, dengan kata lain, proses penuaan bangsa Poseidon lebih lambat daripada manusia di bumi. Sulit menjelaskannya memang. Sehingga kalian bisa menghitung satu tahun usia poseidon, sama dengan 810 hari usia manusia.

“Lagi-lagi aku harus membatalkan liburanku ke utara,” gerutu Bobby dengan dahi mengerut.

Ariel hanya bisa tertawa menanggapi teman sebangkunya tersebut, kemudian Ariel pun menepuk pundak Bobby tanpa niat menghiburnya, “Nikmati saja. Pacarmu juga tidak akan selingkuh, kok. Kudengar di sana tidak ada laki-laki yang bisa berlari lebih cepat darimu,” Ariel pun tertawa keras yang langsung dibalas oleh jitakan keras.

“Dan kau sendiri? Kau terus saja sendirian, kesepian, benar-benar membuat orang lain sangat kasihan,” Bobby balas mengejek dan langsung menyambar tasnya. Mood Bobby terlanjur rusak total.

Ariel pun mengikuti Bobby –masih tertawa. Entah mengapa Ariel senang sekali mengejek Bobby seperti sekarang. Meskipun kelihatan Manly, tapi Bobby tipe orang yang sangat moody. Membuat Ariel ingin terus menjahilinya sepanjang hari –jahat sekali bukan?

“Ariel, pernah tidak kau punya impian untuk mempelajari bumi? Pergi ke bumi, melihat terangnya matahari, merasakan salju, juga musim panas? Atau melihat pelangi mungkin?” tanya Bobby disela-sela langkah kaki mereka di antara langit sore yang terlihat agak mendung. Di Poseidon hanya ada satu musim, musim hujan.

Ariel pun tiba-tiba mengangkat kepalanya, seolah-olah melihat bumi di atas langit yang berwarna abu-abu tersebut, “Tidak sih,” Ariel pun menghela napas panjang, “Aku mencintai Mama dan Papa, juga kakakku Henry. Menikah dengan seseorang yang kucintai, memiliki anak, lalu membiarkannya memilih apapun yang dia suka. Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan Bosaidong.”

Bobby tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya, “Memangnya siapa pria yang kau cintai itu?” tanyanya iseng –ia bahkan tidak tahu jika Ariel punya seseorang yang dicintai.

Tiba-tiba, Ariel melompat ke belakang Bobby dan sedikit berjinjit sambil menatap seorang laki-laki yang juga berambut hitam sepertinya tengah berbicara dengan wanita yang merupakan salah satu guru di sekolah mereka, “Senior Kris Wu,” bisiknya kemudian.

Dan jangan salahkan Bobby jika kali ini ia yang menertawakan Ariel habis-habisan. Orang yang dimaksud Ariel tentu bukan orang biasa. Tampan, cerdas, dan kaya. Harusnya dia berada di daratan Istana Arang karena dia merupakan bangsawan, dan bukannya berada di daratan Aqua.

“Dia itu membosankan tahu!” Bobby pun langsung berjalan yang langsung diikuti langkah kecil Ariel.

“Memangnya kau juga menyukainya sampai mengomentarinya begitu?” sinis Ariel yang membuat Bobby kembali tertawa.

 

***

 

“Ini masih terlalu dini untuk aku memulai misi, Yah.” Tolak Luhan sambil mendorong kembali sebuah dokumen yang baru saja diserahkan padanya.

Ayah Luhan hanya menarik sudut bibirnya, paham kemana arah perasaan Luhan berlari. Bagaimana pun, impian Luhan bukan sejauh itu –bukan sampai harus datang ke bumi sebagai mata-mata. Baginya, memata-matai terbilang cukup buruk.

“Aku cukup mempelajari semuanya di Poseidon, tidak perlu sampai harus ke bumi. Tujuanku tidak sampai sejauh itu,” jelas Luhan lagi, berharap ayahnya berhenti meminta karena Luhan tahu ia akan kalah pada permintaan ayahnya.

Ayahnya pun bangkit dari kursi dan memperhatikan titik air yang mulai menyentuh tanah –sebutlah daratan buatan itu tanah, meskipun tidak ada tanah seperti di bumi, “Kau pernah bermimpi untuk menulis sejarah, Nak?” tanyanya masih memunggungi Luhan.

Luhan menarik napas panjang, dan ikut menoleh ke arah ayahnya, “Mempelajari Kimia adalah keinginanku. Aku hanya ingin mempelajari banyak planet lainnya di luar Poseidon, seperti bumi yang lainnya, menyamakan susunan kimia tanah, cairan, atmosfer, dan masih banyak lagi. Aku juga telah mengikuti kemauan Ayah untuk berbelok mempelajari astronomi. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk pergi ke bumi.”

“Kau pernah memiliki impian memiliki rumah di bawah air, kan? Kau pernah meliat binatang air dari bumi? Mereka cantik bukan? Dan dengan susah payah akhirnya bangsa kita berhasil membuat mutasi gen hewan air Poseidon dengan hewan air Bumi. Dan karena keterbatasan daratan kita, kita tidak mungkin membuat impianmu menjadi nyata, bukan?”

Luhan tersenyum mengejek, “Ayah, itu impianku saat berada di tingkat dua. Menurutku…”

“Menurutku itu bisa terjadi. Kau bisa ‘mencipta’ di bumi. Di bumi, terdapat air asin dan air tawar. Terdapat sungai, danau, dan tidak akan terjadi banjir sampai bermeter-meter hanya karena hujan semalaman karena tidak adanya serapan dari tanah kita,” Ayah Luhan pun kembali berbalik, “Aku tawarkan negosiasi menarik. Ini permintaan terakhirku. Pergilah ke bumi. Misimu hanya untuk memata-matai anggota kita di sana. Setelah selesai, lakukan sesukamu. Kau bahkan bisa mundur dari semua bidang dan beralih profesi menjadi pustakawan dan pengajar, seperti impianmu.”

Mata Luhan langsung membulat saat mendnegar penawaran ayahnya –ini langka. Otoriter adalah sifat alamiah di Poseidon. Kepala keluarga berhak mengatur semua yang akan dilakukan oleh keluarga. Dan jika Luhan sudah mendapatkan As-nya, Luhan bahkan kehilangan kelakar untuk mencari alasan mendapat negosiasi lebih dari ini.

“Ayah…serius?”

Ayah Luhan pun kembali mendorong dokumen yang ditolak oleh Luhan, “Aku serius. Sampai kau di bumi, aku akan mengurangi pantauanku, dan aturan keluarga ini untukmu akan berakhir setelah misimu selesai.”

Luhan pun mengangguk setuju yang dibalas senyuman sang ayah. Tanpa menunggu lama, Luhan langsung membuka dokumennya dan langsung membulatkan matanya ketika mendapati profil partnernya.

“Partnerku…perempuan? 19 tahun? Pelajar tingkat 5?” Luhan mengangkat kepalanya bingung, “Dia masih muda. Meskipun usiaku baru 21 tahun, tapi aku sudah lulus tingkat 7, dan dia baru di tingkat 5? Tingkat kami jauh sekali…”

“Kritis, tajam, peka, semuanya mendapat nilai 80%. Dan pengetahuannya sudah mencapai 48%. Dia tidak terlalu cerdas, tapi dia memiliki memori tinggi dan ketajaman yang bagus. Dia akan cepat dalam belajar.”

Luhan mendengus, “48% sangat sedikit…”

“Standar untuk tingkat 5 adalah 60%, paling rendah adalah 40%, dan rata-rata paling tinggi adalah 88%. Gadis itu bahkan masih ada di kelas satu. Kelas satu dengan pengetahuan 55% apakah sedikit menurutmu? Dengan kecerdasan otaknya, harusnya ia baru sampai di 20%.”

“Mesin penghitung pengetahuan memang sialan,” umpat Luhan tak percaya, “Lalu kenapa harus perempuan? Kenapa tidak laki-laki?”

“Kau bisa menyuruhnya memasak, mencuci, atau membereskan kamarmu nanti jika sudah sampai di bumi,” canda sang ayah yang membat Luhan mendelik.

“Dia memang tidak terlalu cepat dalam berlari, tapi dia cepat dalam melayang dan melompat. Dia tidak bisa membaca pikiran, tapi dia memiliki kekuatan telekinesis dan bisa mengendalikan air dengan baik…”

“Kita semua bisa mengendalikan air, Ayah.”

“Golongan empat.”

Luhan langsung diam dan menatap ayahnya dengan tatapan terkejut sekali lagi, “Setinggi itu?”

Ayahnya mengangguk, “Dia ras campuran. Dia bisa belajar lebih cepat. Bahkan tanpa dia tahu, dia bisa mengendalikan api dan listrik,” sang Ayah menjeda dengan menyesap minumannya, “Tapi karena dia di bidang sosial, dia tidak pernah mencoba melatih kekuatannya. Dia gadis luar biasa, makanya ia terpilih.”

Luhan pun termenung, hingga ia pun kembali melirik profil gadis tersebut dan membaca alamat sekolahnya, “Apa dia sudah tahu soal ini?”

Ayahnya menggeleng pelan, “Jika kau sudah setuju, maka saatnya ia yang diberitahukan. Karena posisinya hanya partnermu.”

 

=to be continued=

20151215 PM1022

5 responses to “MEDALS (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s