That Girl

That Girl

Author : Isabelladj
Main Cast : Infinite L | APink Naeun
Support Cast : Infinite Sungyeol — Sungjong
Gendre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rating : PG-13
Type : Fictlet
Summary :
Myungsoo benci hujan. Tapi perasaan itu berangsur-angsur menghilang, sebab tiap kali hujan datang, Myungsoo selalu dipertemukan dengan Naeun.

-oOo-

Kehangatan dari cangkir kopi ekspresso dalam tangkupan kedua tanganku rasanya cukup mengusir hawa dingin nan pekat sore ini. Di sinilah aku berakhir, kedai kopi bernuansa klasik, seorang diri menghindari derasnya hujan yang mengguyur kota Seoul. Netraku terpaku pada titik demi titik air yang jatuh sembari mengeluh dalam hati. Aku benci hujan. Err… sebenarnya aku benci petir yang mengiringinya. Dulu, sewaktu tahun pertamaku di SMA, aku hampir mati tersambar petir. Bukanlah sebuah memori baik (kecuali kalau petir itu memberiku kekuatan super), aku jadi sedikit trauma setelahnya. Tiap kali hujan turun, aku akan segera berteduh di ruangan tertutup.
Pemandangan gadis-gadis berpayung yang lalu-lalang di depan kedai kopi mengingatkanku pada satu hal. Belakangan ini, rasa benciku pada hujan tidak lagi sebesar dulu. Malahan aku sering mendapati diriku menunggu hujan turun tiap kali langit berubah kelabu. Lucu, bukan?
“Kim Myungsoo-ssi?”
Sebuah panggilan lembut membuatku menoleh. Mataku membulat sempurna begitu sosok perempuan berbalut summer dress motif bunga-bunga dengan cardigan dan wedges putih muncul dalam jarak pandangku. Bumi seolah berhenti berotasi seiring dengan oksigen yang kian lama kian menipis tatkala kaki jenjangnya menghampiriku. Kurva melengkung dari bibirnya membuat tubuhku mendadak disfungsi. Aku melihatnya lagi, si gadis hujan. Jika kalian bertanya-tanya apa alasanku tidak lagi membenci hujan, dialah jawabannya.
“Masih ingat padaku?” tanyanya.
Mulutku membuka, namun tidak ada suara yang keluar. Kerongkonganku tercekat. Tidak ada pilihan selain mengangguk.
“Benarkah? Kalau begitu, siapa namaku?”
“Son Naeun, kan?” Akhirnya suaraku keluar.
Gadis itu menjentikan jarinya dan tersenyum lebih lebar (jantungku sampai unjuk rasa, denyutnya cepat sekali!).


Naeun mengambil tempat di seberang kursiku. “Jadi, kau sendirian? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Berteduh. Aku tidak bisa pulang karena hujannya lebat sekali.”
“Apa kau masih takut pada hujan?”
Alisku bertaut bingung. “Kau…..tahu dari mana aku takut hujan?”
“Kau pernah cerita waktu kita bertemu.” Naeun memandang keluar kedai kopi. “Kalau aku tidak salah, kita selalu dipertemukan oleh hujan.”
Aku tersenyum begitu keping-keping memori pertemuan kami berputar di benakku. “Ya, kita selalu bertemu saat hujan datang. Kita berkenalan pada hujan pertama Seoul di bulan Agustus kemudian bertemu lagi di halte bus pada hujan bulan Oktober lalu.”
“Ingatanmu kuat sekali, aku kagum.”
“Kau juga, kupikir kau tidak akan mengingatku. Kita hanya bertemu dua kali dalam jangka waktu yang lumayan jauh.”
Aku tidak tahu kenapa Naeun tertawa mendengar kata-kataku. Sambil menunggu tawanya berhenti, aku memperhatikan wajahnya; mata bulat yang kini menjadi garis berbentuk bulan sabit, hidung mungil, serta bibir cherry yang melengkung indah memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Aku berusaha menyimpan setiap gambaran lekuk wajah rupawan serta suara tawa indahnya dalam benakku, tidak keberatan jika harus menghapus beberapa ingatan penting untuk melakukannya. Bagiku, Son Naeun adalah sebuah mahakarya.
“Aku tak mungkin lupa pada lelaki asing yang tiba-tiba mengenggam tanganku sambil berteriak karena suara petir,” jawabnya.
Aku diam. Rasa-rasanya ada yang memukulku dengan palu besar. Oh ayolah, dari semua peristiwa, kenapa hanya itu yang paling dia ingat? Kata-katanya seolah menelanjangiku. Aku malu sekali. Tolong, siapapun yang mendengar jeritan hatiku, kumohon kubur aku hidup-hidup detik ini juga.
“Kau malu, ya? Wajahmu merah sekali, Oppa!” ledeknya sambil tertawa lagi.

Aku sontak menunduk sambil membuang nafas berat. Sumpah mati, ini sangat memalukan. Kenapa image keren yang kubangun susah payah harus hancur di hadapan gadis ini? Eh, tapi tunggu—Naeun….bilang apa tadi?
“Kau panggil aku apa?”
Tawanya otomatis berhenti.
“Oppa….” ia memandangku was-was, “maaf kalau aku bertingkah sok akrab, Myungsoo-ssi.”
“Eh? Tidak, bukan begitu!” balasku cepat. “Aku hanya… terkejut. Tak pernah ada yang memanggilku begitu.”
“Kalau kau tidak suka, aku akan—“
“ TIDAK! Aku suka, kok! Aku suka sekali, apalagi kalau kau yang mengucapkannya!”
Detik berikutnya, aku menangkap senyuman penuh arti di bibir Naeun. Aku menggigit bibirku kuat-kuat, apa yang barusan kukatakan?! Memang seharusnya aku mati saja sekarang. Para pengunjung kedai kopi bahkan memandangiku dengan tatapan aneh. Selamat Kim Myungsoo, kau baru saja mempermalukan dirimu lagi.
“Kau sungguh menarik, oppa,” ungkap Naeun, masih dengan senyumannya yang menawan.
Aku sudah berusaha bersikap cool menanggapi kata-katanya tapi tulang pipi sialan ini berhianat. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. Ah tidak, aku tidak boleh begini. Ini akan membuatku terlihat murahan. Dengan segenap keberanian, aku menatap manik mata lawan bicaraku.
“Kuanggap itu pujian—“ agak ragu, aku melanjutkan, “—Naeunie.”
Gadis itu berpose menopang dagu seraya menatapku intens. Kalau boleh jujur, aku gugup.
“Mau tahu sesuatu? Dadaku berdebar oleh caramu memanggilku.”
Aku tidak menyangka kalau akan ada rasa berdesir dalam dadaku. “Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan memanggilmu Naeunie.”
Kami berdua saling tersenyum malu. Naeun…..semburat merah di pipnya terlihat menggemaskan.
“Myungsoo hyuuuuuung~”
Sebuah suara cempreng memekakan telinga membombardir indra pendengaranku. Sungjong, adik sepupuku itu tiba-tiba muncul dan berdiri di sisi kanan meja kami. Kulemparkan tatapan mau-apa-kau-di-sini meski bibirku menyunggingkan senyum manis.
“Hai, Sungjong. Ada apa?” tanyaku dengan nada seramah mungkin. Apa yang dilakukannya di sini? Mengganggu saja!
“Aku langsung kemari begitu melihatmu. Aku membawa mantel hujan, pasti kau tidak mau pulang karena cuacanya,” ucapnya riang tanpa menghiraukan pandangan mematikan dariku.
“Aku tidak bisa pulang sekarang,” ujarku. “Oh ya, Sungjong, kenalkan ini temanku Son Naeun. Naeun, ini sepupuku, Lee Sungjong.”
“Halo Sungjong, senang berkenalan denganmu!” sapa Naeun seraya tersenyum. Tapi Sungjong diam saja. Matanya tidak lepas dari sosok Naeun. Hah, dasar bocah tengik! Lihat tampang bodohnya itu! Dia pasti terpesona oleh Naeun. Tak akan kubiarkan!
“Hei, Sungjong—“ aku menarik tangannya agar melihatku, “—apa kau tidak keberatan pulang duluan?”
“Te-tentu, hyung,” balasnya terbata dengan mata yang masih curi-curi pandang ke arah Naeun. Sudah kukatakan, pesona gadis hujan ini dasyat sekali. “Aku pulang dulu.”
“Hati-hati!” ucapku begitu Sungjong pergi dengan tergesah-gesah. Aku menghela nafas panjang. Akhirnya pengganggu hilang.
“Sepupumu manis sekali, ya,” puji Naeun. Aku menatapnya tajam.
Aku tidak suka mendengar pujian itu dari bibir cherry Naeun.
“Kau tidak menyukainya, kan?” tanyaku tiba-tiba. Gadis itu pun tergelak seketika.
“Aku? Aku tidak tertarik pada lelaki yang berwajah manis,” jawabnya.
Aku mencoba untuk tidak terlihat senang dengan cara menyesap kopiku yang tak lagi hangat. Aku pun baru sadar kalau Naeun tidak memesan apapun sedari tadi.
“Naeun, apa kau tidak mau memesan mi—“
“Aku tertarik padamu, Oppa,” akunya tiba-tba.
Aku mendadak lupa caranya bernafas.
“A-apa? Coba ulangi, aku tidak dengar.”
“Aku tertarik padamu, Kim Myungsoo. Aku menyu—“
“Myungsoo-a!”
Interupsi tidak terduga datang lagi dan aku hampir saja menggebrak meja saking kesalnya. Aku menoleh, mendapati Sungyeol, sepupuku sekaligus kakak Sungjong, menarik kursi untuk duduk di sampingku.
“Apa yang kau lakukan di sini, hah?!” bisikku murka. Ini saat-saat penting, kenapa dia malah mengganggu?!
Sungyeol menyodorkan botol berisi teh yang sedari tadi dipegangnya padaku.

“Minumlah dan aku akan pergi setelahnya.”
“Kenapa tidak nanti saja? Aku sedang sibuk, tidakkah kau lihat?”
“Minumlah, Myungsoo.”
Aku memutar bola mataku sebal. Dengan terpaksa, aku meminum teh pemberian Sungyeol. Sensasi panas dan pahit langsung menguasai mulutku, terlalu kuat sampai aku memejamkan mata rapat-rapat.
“Teh apa ini?” tanyaku. Apa Sungyeol memberiku racun?
“Obat,” jawabnya singkat sembari mengambil botol dan menutupnya.
“Obat? Obat apa?”
“Obat agar Skizofenia tidak mengendalikanmu.”
“Aku? Skizofenia? Yang benar saja!”
“Coba kutanya, kau bicara dengan siapa tadi?”
“Temanku, Son Na—“ kalimatku terhenti begitu mendapati kursi Naeun kosong. Refleks aku berdiri dan celingukan, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kedai kopi. “Naeun?”
Sungjong tiba-tiba muncul dari belakang dan menepuk-nepuk pundakku pelan. “Kau berkhayal, hyung. Sebab dari tadi, aku melihatmu duduk sendirian.”

END

Skizonefia :
Penyakit kejiwaan yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi dan halusinasi.

Ketika mengalami ketakutan, penderita Skizofenia akan berhalusinasi untuk menetralisir rasa takutnya. Tubuh Myungsoo (sebagai penderita) membuat benteng pertahanan untuk mengusir rasa takut dengan membayangkan sosok penyelamat. Itulah kenapa ia selalu bertemu dengan Naeun saat hujan datang. Son Naeun sendiri merupakan sosok wanita yang selama ini Myungsoo idam-idamkan, makanya penggambaran atas Naeun begitu detail dan terperinci.

13 responses to “That Girl

  1. Oh my god!!!!!!!
    Padahal aku pikir ini akan jadi fluff lho

    Ternyata eh ternyata
    Myungsoonya ….
    Buahaahahahahahahaha
    Myungsoo, kamu tidak sendirian *peluk Myungsoo* petir memang horror
    Hahahahaha

    Ceritanya asik
    Diksinya pun bagus
    Tapi mungkin cuma butuh edit aja kali ya sebelum dipost

    Saran aja sih
    hehehehehehe
    Soalnya itu g ada jarak sama sekali antara monolog sama dialognya
    Jadi agak sedikiiiittt kurang nyaman aja
    But overall, it’s so nice

    Thank you for the story😀
    Ditunggu karya lainnya🙂

    • aduh aku ketawa baca ‘petir memang horror’ xDD
      wah, masih ga ada jarak ya? padahal aku udah edit sampe dua kali tapi belum keluar juga ternyata…….

      terima kasih udah baca dan komen, plus reviewnya jugaaaaa❤

  2. oh my goddd!!!
    sngguh tak t’duga dng endingny mba’eeee
    make it myungeun againn,,,please
    i’m waiting,,,
    thank u,,kamsa^^

  3. Baru baca………..
    Pantes sepanjang aku baca fic nya ngerasa something wrong sama naeun. Kok ini orang straightforward sekali dan yg aneh itu, kenapa si sung brothers ngeganggu nya agak nanggung (got the point? Lol) ternyata emang bener ada yg salah sama si myungsoo. Merasa sedikit bangga pd diri sendiri udah bisa nebak wk.
    Fyi, setengah taun yg lalu aku pernah ngetes penyakit ini dan hasilnya aku kena skizofenia loh ._. Tp hasilnya gak akurat jadi masi fine” aja ampe sekarang wkwkkwkwkwkw

    • late reply banget ya mbayu hohoho ampuni, baru on di pc (lah curhat malah -___-)
      Sung brothers yolo banget ya kalo seandainya Naeun ga cuma khayalan hahaha waaaaa mbayu Nita skizofenia?? eserius?? .-. waaaa

      eniwei terima kasih udah baca dan komen mbayuuuu❤

      • Iyaloh aku aja dah lupa pernah ngomen disini wk
        IH TAPI SUNGYEOL CHERRY BOY ITU NGEGEMESHIN DI INFINITE SHOWTIME AAAAAAAA
        Iya katanya. Cuma itu efek stress berat aja kok ga lebih. Jd emg delusional sesaat aja gitu wkwkkw. Yosh samasamaaaaa ^^

  4. Ini keren banget… Bener2 nggak ketebak, myungsoo ternyata agak gak waras¿

    Iya juga sih, kenapa coba naeun jujur banget kalo dia tertarik sama myungsoo. Eh si bujang ini minta dipuji ternyata(?)😄

    • sebentar aku ngakak dulu hahahhaha bujang minta dipuji, kayaknya Myungsoo desperate banget gitu ya ampe ngehayal hahahah

      terima kasih udah baca dan komen yaa❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s