Betrayal

15-12-19-20-05-05-540_deco

Betrayal

by ditjao

Starring 17’s Choi Seungcheol & Twice’s Im Nayeon | Hurt, Tragedy | PG-15 | contains 1170 words.

“Aku akan menghabisimu, tapi tunggu aku habiskan kopiku dulu.” 

Choi Hyojung sedikit bergidik begitu kata-kata itu terlontar ketika dirinya baru saja meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kerja sang bos. Tetapi, demi mempertahankan profesionalitas, sebisa mungkin Hyojung bersikap normal; menampakkan segaris seyum samar dengan raut wajah yang cenderung kaku. Di hadapannya, sang bos mengangkat sebelah tangannya ke udara, memberi isyarat bahwa Hyojung sudah bisa tinggal. Sekretaris muda itu menurut, membungkuk patuh lalu bersiap pergi meninggalkan ruangan. Sebelum benar-benar tinggal, diliriknya terlebih dahulu sang lawan bicara bosnya yang terduduk di tengah-tengah ruangan dengan tangannya yang diikat ke belakang kursi menggunakan seutas tali. Setengah hatinya merasa iba, tetapi juga di satu sisi tetap menaruh perasaan gemas. Siapa gerangan di dunia ini yang sudah bosan hidup sehingga berani bermain-main dengan seorang Choi Seungcheol?

Pintu ditutup. Satu-satunya orang yang berani bersuara di ruangan itu—Seungcheol—mengambil cangkir kopi lantas menyesap isinya, mereguk cairan hitam itu pelan-pelan seraya meresapi rasa pahit yang mengaliri kerongkongan. Seolah sekedar membasahi tenggorokan, dia mulai bicara kembali.

“Im Nayeon,” katanya, sambil meletakkan kembali cangkir di atas meja.

“Dua puluh dua tahun. Terakhir kali mengenyam pendidikan di jurusan hukum, tapi terhenti di tingkat tiga karena terkendala biaya. Yatim piatu. Hanya tinggal bersama seorang sepupu jauhnya yang bernama Park Chorong yang juga menderita penyakit cukup serius.”

Seungcheol mengatakannya dengan maniknya yang menatap lurus-lurus ke arah sang lawan bicara—meski yang bersangkutan sama sekali tidak memberikan tanggapan. Seungcheol membeberkan semua yang ada pada dirinya seakan-akan kata-katanya itu telah berada di luar kepala, atau barangkali tergambar jelas di wajahnya sehingga Seungcheol dapat membacanya dan menyebutkannya dengan begitu lugas.

“Karena tidak mampu membayar biaya pengobatan rumah sakit, kau terpaksa bekerja di bar. Hidupmu dirundung kesulitan bertubi-tubi, sebelum akhirnya kau bertemu dengan Kim Joonmyun di sela-sela pekerjaan.” Seungcheol melanjutkan penuturannya, namun Im Nayeon sama sekali bergeming. Tanpa perasaan takut, maniknya balas menatap lurus tatapan sang pemuda yang tidak berada jauh di depan—meski sebagai lawan bicara dia kelihatannya tidak diperkenankan tampil cukup layak, mana bisa dirinya ikut mengobrol santai dengan kondisi tangannya yang terikat di kursi?

“Lalu, entah bagaimana, pengusaha Kim yang kaya raya itu menawarimu pekerjaan yang lumayan. Kau dilatih, lalu dipekerjakan sebagai mata-mata, sebelum akhirnya pria brengsek itu mengirimkanmu kepadaku, demi memperdayaiku, demi menyabotase aset kekayaanku, dan demi menghancurkan semua bisnis yang telah keluargaku bangun dengan susah payah.”

Mengambil jeda, Seungcheol kembali menyeruput kopinya sejenak. Untuk ukuran pengusaha yang kehidupannya berada di ambang pailit, Seungcheol terlampau baik hati untuk tidak menghujani sang dalang yang telah memprakarsai segala nestapa yang menimpanya dengan makian dan sumpah serapah. Intonasi suaranya ketika berbincang dengan gadis Im itu begitu halus, tenang, tanpa terselip sedikitpun emosi—masih sama seperti gaya bicaranya yang Nayeon ingat saat Seungcheol masih sering mengajaknya bercengkrama dengan hangat, dulu.

“Joonmyun sialan itu menggunakanmu sebagai ‘senjata’ untuk—hm, bagaimana aku menyebutnya sebagai pengganti ‘menggoda’? Ah, ya, anggaplah dia berhasil membuatmu menarik simpatiku, lalu selanjutnya, pelan-pelan kau juga diperintahkannya untuk menguras seluruh harta kekayaanku, dengan imbalan bahwa Joonmyun akan menyejahterakan hidupmu dan menanggung seluruh biaya pengobatan sepupumu itu jika kau berhasil menghancurkan hidupku. Sampai sini, aku benar, ‘kan?” Seungcheol membubuhkan pertanyaan pada akhir kalimatnya. Diambilnya kembali cangkir kopi di atas meja.

“Kopinya tinggal setengah, jadi lebih baik segera kuhabiskan saja.”

Nayeon masih enggan memberikan reaksi. Sorot matanya yang dingin terus memerhatikan Seungcheol yang kini telah meneguk kopi hitamnya hingga habis tak bersisa. Nayeon masih belum mengerti, bagaimana akhirnya secangkir kopi berhak menentukan ajal seseorang. Semudah itukah manusia menilai kehidupan dan kematian—semudah dirinya yang berhasil memporak-pondakan kehidupan seorang pria?

“Kopinya sudah habis, jadi kita mulai saja, ya?”

Seungcheol meletakkan cangkirnya kembali ke tempat semula, berganti menguasakan jemarinya menjamah satu buah revolver yang masih teronggok di atas meja. Tanpa keraguan sedikitpun laki-laki itu berjalan menghampiri Nayeon yang masih bergeming tanpa daya.

“Kau pengkhianat.”

Nayeon sudah tahu bahwa kata-kata ini akan tercetus dari mulut Seungcheol, tetapi yang tidak pernah dia duga adalah kenyataan bahwa Seungcheol masih dapat menyuarakan makiannya dengan begitu tenang.

“Dan aku membenci diriku sendiri yang telah dengan bodohnya jatuh ke dalam pelukan seorang pengkhianat. Aku idiot. Aku menjijikkan. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang begitu mudahnya terperdaya.”

Seungcheol tersenyum miring. Dia sudah tahu ke mana ujung revolvernya harus diarahkan. Seungcheol bisa melihat pupil Nayeon yang sedikit melebar—terkejut—meski tetap enggan menyuarakan kata-kata.

“Ada kata-kata terakhir yang ingin kausampaikan kepadaku, Im Nayeon? Barangkali, menertawakan kebodohanku yang bisa-bisanya bertekuk lutut di hadapan wanita sepertimu, atau hal bodoh lainnya, huh?”

Nayeon tetap bungkam, mengunci mulutnya rapat-rapat. Seungcheol tertawa keras.

“Aku tahu kau bukan wanita yang bodoh. Hanya simpul tali sederhana tidak akan membuat tubuhmu kaku seperti itu. Kau pasti sudah melepaskannya diam-diam sedari tadi, bahkan ketika anak buahku baru membawamu masuk ke dalam ruangan ini. Kau bisa kabur dengan mudah, Nayeon. Kau bisa melakukannya kalau kau mau, tapi mengapa kau tetap bertahan sejauh ini? Mengapa terus bertahan dengan kedokmu yang busuk itu dan terus berpura-pura mencintaiku? Seberapa besar kau ingin mengolok-olokku sebagai pria idiot, huh?”

Diam seribu bahasa masih menjadi pilihan Nayeon. Secara naluriah, dia tetap berusaha memasang sikap waspada. Bagaimanapun, ada satu nyawa yang sedang dipertaruhkan di sini.

“Setelah semuanya berakhir nanti, bawalah pistol ini bersamamu. Aku tahu, dua orang bodyguard yang berjaga di depan ruangan kerjaku sama sekali bukan tandinganmu, kau akan dapat membereskan keduanya dengan mudah. Tetapi, bila dalam keadaan darurat, pergilah ke lantai bawah. Aku sudah memerintahkan Hyojung untuk mengurus semuanya. Larilah yang jauh dari sini, lari ke manapun kau suka, berlarilah dariku. Aku membebaskanmu, Nayeon. Dengan cara ini aku memaafkanmu, dan diriku sendiri.” Seungcheol tersenyum. Tidak ada guratan penyesalan, apalagi kesedihan dan amarah. Berbeda dengan Nayeon yang diam-diam mulai gelisah. Tubuhnya menjadi sulit digerakkan, kendati apa yang dikatakan Seungcheol sepenuhnya benar; tali-tali sialan yang mengikat tangannya sudah berhasil dilepaskannya sedari lalu.

“Aku tidak pandai mengucapkan selamat tinggal, dan kupikir aku juga tidak berniat untuk mengatakannya. Jadi, bolehkah aku mengatakan ini saja; perasaanmu kepadaku selama ini, memang nyata atau sekedar dusta belaka?”

Seungcheol tidak membiarkan Nayeon menjawab—dan memang tidak mempersiapkan diri untuk mengetahui jawaban yang sesungguhnya. Dia membiarkan gadis itu melihat senyumnya untuk terakhir kali, sebelum dia mendekatkan ujung revolvernya ke pelipis, sebelum dia menarik pelatuk, sebelum dia dapat melupakan segalanya—semuanya terlanjur menjadi gelap.

Peluru miliknya telah bersarang di kepala.

Sedetik berlalu setelah Choi Seungcheol meninggalkan dunia. Sejenak Nayeon merasakan tubuhnya benar-benar membeku. Sukmanya ikut terempas meski Nayeon tahu betul raganya masih menginjak alam semesta. Dengan kaki gemetar, Nayeon beringsut dari kursi lantas menghampiri kolam darah yang mengitari jasad Seungcheol yang menelungkup. Diambilnya revolver yang telah berlumuran cairan amis—sesuai dengan apa yang dipesankan laki-laki itu sesaat lalu.

Nayeon tertegun, memerhatikan revolver dan tangannya yang sama-sama bersimbah darah. Dengan penuh kehati-hatian, Nayeon menggenggam benda itu sebagaimana seharusnya. Seungcheol benar. Dia harus mulai berlari sejauh mungkin—tetapi, ke mana gerangan dia harus berlari setelah ini?

“Choi Seungcheol, kau salah mengartikan cintaku sebagai dusta. Barangkali, kita dapat kembali merajut kisah kita yang sesungguhnya, meski harus menunggu berjumpa di alam baka.”

Nayeon telah memutuskan tempat mana yang akan dia tuju.

Terdengar satu tembakan lagi dari ruangan kerja Choi Seungcheol—yang makin tergenang oleh darah.

fin.

.

.

.

kado super telat buat icha onnie dan aku tau ini ancur. banget. parah. maafkanlah otakku yang baru ngebul abis uas ;_; terus dosa banget belum ngucapin ultah sama yang punya hajat ya Allah.

WILUJENG TEPANG TAUN TETEH ICHA (perlu pake caps). semoga berkah umurnya dan semakin bahagia hidupnya, tak lupa semakin jaya otp-nya kiwkiw yang baru move on ke otp baru hehehey.

fic kacau ini disponsori oleh salah satu dialog mz peeta yang berbunyi, “You love me. Real or not real?”

serta gambar berikut ini

large

nb: – maaf kalau fic-nya tidak sesuai dengan apa yang onnie mau :(((

-readers ffindo masih ada yang inget aku gak? :(((

23 responses to “Betrayal

  1. AKU INGET KAK!!! AKU INGET KAKAK!! YANG SUKA NGAKUIN ANGGOTA BOYBEN KECE JADI PACAR KAN? YAKAN YAKAN? YANG PERNAH POSTING EMBER DI INSTAGRAM KAN?! AKU INGET KAAAAK AKU INGEEEET!!!😀😀😀😀

  2. “Choi Seungcheol, kau salah mengartikan cintaku sebagai dusta. Barangkali, kita dapat kembali merajut kisah kita yang sesungguhnya, meski harus menunggu berjumpa di alam baka.”

    Suka bagian itu😦
    Sudah jelas Nayeon mencintaimu Choi Seungcheol, huh!!!
    Ya, semoga mereka bisa bertemu di alam baka kiranya hanya bertegur sapa hahahaha😀
    Buat FF Twice yang lainnya lagi ya Authornim🙂

    • jangan di alam baka aja dong, moga-moga mereka berdua juga bisa saling tegur di dunia nyatanya ahahaha😄 /shipper kumat/
      in sha Allah ya, suka twice juga ya dear? mudah-mudahan ke depannya bisa buat lagi, thanks sudah mau baca🙂

  3. Udah lama kayanya nggak baca ff, dan sekalinya baca benar-benar tepat membuat pilihan.
    Nggak cheesy tapi kerasa banget ada sweet di cerita mereka😀 such an amazing story❤
    Nggak punya too much drama tapi touching banget😀
    THUMBS UP❤❤

    • wahahaha aku malah ngerasanya ini ancur banget abis bikinnya buru-buru, maaf kalau tulisannya masih kacau di sana-sini, terima kasih banyak sudah mau baca! ;;;❤

  4. astaga saengi, aku kira nayeon nya yang bakalan dibunuh sama seungcheol,ternyata..malah seungcheol yang bunuh diri -.- dan nayeon juga ternyata malah ikut bunuh diri juga, andai seungcheol dengerin jawaban dari nayeon tentang pertanyaannya itu yaaa, pasti bakalan sedikit happy kan endingnya?

    • hahaha itu seungcheol nya gak punya nyali aja buat denger jawaban nayeon takutnya emang nayeon bener gak ada perasaan sama dia jadi dia lebih milih mati daripada nerima kenyataan, jangan ditiru kak(?) trims sudah mau baca yaa😀

  5. shock pertama dit, karena nayeon itu spy.
    shock kedua, yakali junmyeon main kotor gitu.
    shock ketiga, seungcheol yg tetiba jadi baik abis ngambil revolvernya dan malah bunuh diri.
    empat, nayeon kenapa ngomongnya belakangan melotot mulu, kalo ngomongnya drtd kan siapa tau abang gajadi bunuh diri, kalian gausah bunuh diri. kabur berdua kan bisa. emang yakin dialambakasana masih bakal ketemu? huft sedih😦

    • haiii riseukiii. ngakak dulu baca komen kamu yang kedua keknya junmyeon udah melekat sekali dekat imej pria baik-baik nan berbudi pekerti luhur ya jadi susah bayangin dia jadi jahat ;;;
      hehehe iya sih siapa tau di alam sana gak jadi ketemu kan siapa tau nayeon nya nyasar pas mau ketemu seungcheol😦 duh ngomongnya ngelantur huehe makasih banyak riseuki sudah mau sering2 berkunjung ke lapak akoeh!❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s