[4 Season Series] JunieL’s Story : Winter’s Night

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Junhee [Singer]

*) Kim Myungsoo [Infinite]

Genre : General, AU, Friendship, Romance

Length : >3500 words

Disclaimer : I just own the storyline

a/n : setaun apa dua taun ini kepending? Maaf sebelumnya😄 aku bikin untuk versi Winter sampe ada lima versi dan versi yang ini yang bisa beres. Ceritanya agak flat sih, tapi bikinnya sampe gak sadar panjang banget, jauh lebih panjang dari yang sebelumnya. Jadi aku putusin buat pajang sebagian ceritanya tanpa mengubah konten cerita, kalo mau yang lengkap (ada Juniel’s POV) bisa baca di sini. Terima kasih untuk yang menyempatkan baca dari musim semi yang lalu.

HAPPY READING ^^

Aishita Season : Autumn, The Last Petals |Irresistable Lover |

Asuchi Season : Spring : Goodbye Days | Summer Rain | Fall in L |

JUNIE-L’S STORY : WINTER’S NIGHT

Myungsoo menyambar ponselnya begitu dia selesai mandi, hanya mengenakan celana pendek. Dia membuka aplikasi chat yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Junhee. Belum ada balasan dari pesan terakhir yang dia kirim. Pesannya pun belum dibaca oleh Junhee.

Junhee-ya.. kau sibuk?

Senyum tak lepas dari wajah Myungsoo saat dia mengetikkan pesan di ponselnya. Dua bulan sejak terakhir dia bertemu dengan Junhee di taman. Dia mengajak Junhee bertemu lagi sebelum perempuan itu kembali ke Jepang tapi gagal.

Ada ujian mendadak dari dosen Junhee dan Junhee mempercepat waktu menjenguk ayahnya.

Tapi sejak saat itu hubungan mereka lebih dekat dari sebelumnya. Myungsoo tidak pernah memberi tahu Junhee kalau dia sudah mendengar pesan cintanya, dan Junhee tidak pernah membahas hal itu. Myungsoo berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan Junhee agar dia tidak kehilangan kesempatan yang dia punya. Waktu memberi tahu Myungsoo kalau dia sudah benar-benar melupakan Chaeri yang dia suka cukup lama. Untuknya saat ini adalah Junhee, dia menyukai gadis itu.

Myungsoo belum tahu apakah Junhee akan pulang saat liburan musim dingin atau tidak. Junhee sempat bilang padanya kalau dia tidak berniat pulang. Alangkah baiknya jika Junhee pulang.

Myungsoo ingin mengucapkan perasaannya langsung pada Junhee. Mengikat gadis itu dengan status yang jelas. Dan Myungsoo bisa lebih mudah mengucap semua rasa yang dia punya. Sekarang dia hanya bisa menahan diri.

Waktu terus berlalu. Myungsoo sudah mengenakan pakaiannya. Dia sudah memainkan lima kali balapan mobil di ponselnya, tapi tak juga mendapat balasan dari Junhee. Dia mengecek aplikasi chat, pesanannya masih belum juga dibaca oleh Junhee. Padahal ini bukan kali pertama, tapi Myungsoo merasa sedikit tidak sabar.

Dia menunggu. Dan menunggu. Sampai kemudian Myungsoo tertidur.

.

.

Myungsoo merasa gelisah. Dia belum berkomunikasi lagi dengan Junhee satu minggu terakhir. Junhee tidak merespon pesanannya, bahkan mengabaikan panggilan darinya. Myungsoo merasa ada yang kurang di harinya.

Dia mau bertanya pada Minhwan tapi segan juga enggan. Dia tidak ingin orang lain tahu banyak tentang apa yang dirasakannya saat ini. Setidaknya sampai dia memiliki status yang lebih dari seorang teman dengan Junhee.

Menghilangkan rasa tidak jelas yang ada di dirinya, Myungsoo menyimpan ponselnya di saku dan mengambil tas berisi kamera miliknya. Mencoba menemukan objek foto yang bisa menguras konsentrasinya.

Myungsoo tidak pergi jauh, dia pergi ke taman yang letaknya tak jauh dari SMA tempat dia sekolah dulu. Langit sore tidak terlalu cerah. Cuaca musim dingin makin terasa dingin. Langit sudah memutih, dan Myungsoo berharap ada salju turun sore itu. Rasanya dia ingin memotret hujan salju.

Dia mengabaikan dinginnya udara dan duduk di sebuah bangku kayu, matanya berkeliling mencoba mencari objek lain sambil berharap ada salju turun.

“… baik. Aku akan melakukan hal yang lain.”

Mata Myungsoo refleks mencari sumber suara dari seseorang yang bicara di sekitarnya. Telinganya begitu merasa familiar dengan suara itu. Myungsoo memutar kepala juga kakinya dan dia menemukan objek yang dia cari ketika tubuhnya sudah berdiri menghadap bangku yang tadi dia duduki.

Dia ada di sana. Gadis yang meresahkan Myungsoo beberapa hari terakhir sedang berjalan sambil melingkarkan tangannya di lengan seseorang.

Dukk…

“Aw….” Myungsoo lupa kalau di depannya ada sebuah bangku. Dia bergerak maju dan betisnya langsung mengenai dudukan bangku itu. Dia mengelus tempat betisnya tadi terantuk pada bangku.

“Junhee-ya!” Seru Myungsoo sambil melambaikan tangannya, mencari perhatian perempuan yang sedang dilihatnya.

Junhee menoleh, begitu pun orang yang berjalan bersamanya. “Myungsoo oppa.” Dia membalas panggilan Myungsoo. Dia dan rekannya saling menatap sebelum mereka berdua berjalan menghampiri Myungsoo.

“Kau pulang? Kenapa tidak pernah bilang? Kenapa tidak membalas pesanku? Kau marah padaku?” Myungsoo tidak sadar dia langsung memberondong Junhee dengan banyak pertanyaan. Dia kemudian merasa kalau dia tidak keren. “Oh, maaf.” Ucapnya kemudian.

“Aku pulang minggu lalu oppa. Tapi karena aku ingin istirahat, aku tidak memberitahu siapa-siapa soal kepulanganku.” Terang Junhee. “Ah iya, eonni kenalkan dia Myungsoo oppa, temannya Minhwan oppa.” Ucap Junhee sambil menoleh pada orang yang berdiri di sampingnya. “Dia Cho Ah eonni, sepupuku.” Lanjutnnya.

Mereka bertiga kemudian duduk di bangku kayu taman. Berbincang sedikit tentang apa saja yang terpikirkan oleh ketiganya. Junhee selesai menemani Cho Ah belanja. Cho Ah baru saja menemui rumah temannya yang lokasinya tidak jauh, makanya mereka bisa ada di taman yang letaknya dua halte bis dari pusat perbelanjaan. Lama kemudian Junhee dan Cho Ah pamit untuk pulang. Junhee sudah bilang pada ibunya dia akan pulang sebelum makan malam.

“Aku akan mengantarmu. Rumahku tak jauh dari sini, kau tunggu sebentar di sini. Aku akan ambil motorku sebentar. Tidak lama.” Ucap Myungsoo saat mengetahui kalau jalan pulang Junhee dan Cho Ah berbeda.

Myungsoo langsung pergi begitu dia mendapatkan persetujuan Junhee. Dia setengah berlari berusaha secepatnya sampai ke rumahnya. Saat dia berbalik untuk sekedar meyakinkan diri bahwa Junhee tidak pergi meninggalkannya, dia melihat Cho Ah dan Junhee sedang berbincang dengan Cho Ah terlihat terkikik dan Junhee memukul pundak saudara sepupunya itu.

.

.

Myungsoo berguling di atas ranjangnya. Dia berguling dan berguling. Reaksi Junhee saat bertemu lagi dengannya tadi tidak sesuai dengan harapannya. Dia berharap kalau Junhee akan memperlihatkan wajah super senang. Tapi Junhee terlihat biasa saja.

Dia bingung apakah Junhee sudah tidak lagi menyukai dia. Dia sama sekali tidak bisa menebak. Dulu memang dia tidak tahu perasaan Junhee karena dia sibuk menyukai perempuan lain, jadi dia mengabaikannya. Tapi sekarang, Myungsoo menyukai Junhee jadi dia jelas ingin tahu perasaannya masih terbalas atau tidak.

Myungsoo berhenti berguling. Dia kemudian mengambil ponselnya, membuka aplikasi chat dan mengetikkan beberapa kata.

Besok kamu ada acara? Kalau tidak oppa ingin mengajakmu ke suatu tempat.

Myungsoo memegang ponselnya dengan tangan kiri, matanya terus menatap ke layar ponselnya. Jari tangan kanannya berada di bibir Myungsoo, dia terlihat cemas. Menunggu balasan dari Junhee.

Suara khas notifikasi aplikasi chat membuat Myungsoo sedikit terlonjak.

“Aishh….” Keluh Myungsoo saat melihat kalau yang dia terima bukan balasan dari Junhee tapi pesan dari kenalannya, Lee Sungyeol. Hanya basa-basi, meminjam DVD film yang dia beli seminggu yang lalu.

Ada notifikasi lain dan Myungsoo tersenyum begitu ada lima pesan dari Junhee.

Besok? Aku tidak ada kegiatan sih
Memangnya
oppa mau mengajakku kemana?
Aku sih tidak masalah
Asal jangan ke tempat yang jauh
Aku harus makan malam di rumah

Myungsoo buru-buru mengetikkan balasan.

Tidak jauh, oke besok jam tiga oppa jemput kamu.

Hanya beberapa detik kemudian Myungsoo mendapatkan balasan ‘oke’ dari Junhee.

Kemudian Myungsoo diam. Dia sama sekali tidak punya gambaran mau mengajak Junhee kemana. Dia hanya berpikir untuk menemui Junhee, secepatnya. Tapi dia sama sekali tidak punya rencana. “Aah, bodoh.” Umpat Myungsoo pada dirinya sendiri.

Myungsoo memilih tidur, berharap dia bisa bermimpi mengunjungi satu tempat di mimpinya yang bisa jadi referensi untuknya besok.

.

.

Semalam Myungsoo mimpi dikejar anjing tetangga, kemudian anjing itu berubah jadi raksasa berwarna hijau yang berlendir. Lalu dia bermimpi kalau dia bangun pukul empat sore dan ponsel Junhee tidak bisa dihubungi setelah Myungsoo mendapatkan pesan kalau Junhee sangat tidak suka dengan orang yang ingkar janji. Myungsoo kemudian berlari keluar rumahnya dan melihat Junhee sedang berjalan dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.

Myungsoo bangun dengan nafas berat dan pendek. Dia mengambil jam beker di atas nakas dan melihat waktu menunjukkan pukul lima pagi. Dia bernafas lega. Dan memilih untuk tidak tidur lagi, dia tidak ingin terlambat, padahal jam janjian dia masih sepuluh jam lagi.

Dia banyak melamun di atas ranjangnya memikirkan tempat yang akan dia kunjungi bersama Junhee. Dia kemudian teringat ucapan seorang teman dan sebuah senyum merekah di bibirnya. Dia bernafas lega karena sudah mendapatkan tempat untuk dia kunjungi nanti.

Myungsoo turun dari ranjangnya dan memilih untuk bermain game online di laptopnya setelah membersihkan diri di kamar mandi dan mengambil beberapa camilan, menunggu ibunya memanggil dia untuk sarapan.

Myungsoo menyetel alarm ponselnya di jam dua, dan bekernya setengah jam lebih lama untuk bersiap nanti.

Setelah alarm ponselnya berbunyi, Myungsoo menjejerkan beberapa kemeja dan kaos, memilah mana yang akan dia pakai. Dia kemudian mengambil kaos putih, sebuah kemeja pajang hijau tua motif kotak dan jaket tebal berwarna hitam yang senada dengan celana jeansnya. Dia mengembalikan pakaian yang tidak akan dia pakai dan mengambil kaosnya untuk dia pakai. Dia lantas pergi mandi.

“Satu race saja.” Monolog Myungsoo yang langsung bermain game di ponselnya begitu dia selesai mandi. Kemeja, jaket dan jeansnya dia simpan di tepi ranjang. Tidak menyadari kalau bumi mulai basah oleh salju.

.

.

Myungsoo melepaskan sarung tangan yang dia gunakan dan menyelipkannya di saku celananya. Dia beruntung salju tidak turun dengan lebat dan bahkan sudah berhenti turun di perjalanan dia menuju rumah Junhee. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan sebelum dia menekan bel rumah Junhee. Tak lama dia mendengar suara klik pelan tanda pintu pagar rumah Junhee terbuka. Myungsoo melewati pintu pagar dan menghampiri pintu rumah Junhee.

Myungsoo kaget begitu pintu rumah Junhee dibuka oleh ibunya. Dia pikir karena pintu pagar dibuka cepat, Junhee lah yang membukakan pintu. Dia kemudian mencoba mengenalkan diri, bisa saja ibu Junhee lupa padanya. Tapi ternyata ibu Junhee masih mengenalinya. Myungsoo salah tingkah begitu dia menyadari kalau ibu Junhee tahu dia akan mengajak Junhee pergi. Dia sudah menyangka sebenarnya, Junhee dan ibunya cukup akrab tapi tetap saja Myungsoo merasa tiba-tiba gugup. Untungnya dia tidak berhadapan lama dengan ibu Junhee dan mereka pergi menghampiri motor Myungsoo begitu Junhee menutup pintu.

Oppa kita akan pergi kemana?” Junhee bertanya begitu Myungsoo menyerahkan satu helm pada Junhee.

“Satu tempat, entah kau akan suka atau tidak. Kita datang saja dulu, kalau kau tidak menyukainya, kita bisa mencari alternatif tempat lain. Kau tidak keberatan kan kalau nanti aku memintamu merekomendasikan tempat lain? Jujur aku mengajakmu dan hanya bisa memikirkan satu tempat yang bisa kita kunjungi.” Jawab Myungsoo sambil berusaha untuk tidak melirik ke arah Junhee. Penampilan Junhee biasa saja, tapi Myungsoo merasa Junhee lebih cantik dari biasanya.

Junhee hanya mengangguk menerima penjelasan panjang Myungsoo.

“Bagus.” Kata Myungsoo dengan senyumnya.

Myungsoo menyalakan motornya, dia melajukan motornya ke jalan utama. Sekitar lima belas menit kemudian dia keluar dari jalan utama. Myungsoo menemukan sebuah café bawah tanah yang dia cari. Dia lantas memarkirkan motornya di tempat parkir seberang café.

Mengetahui mesin motor sudah mati, Junhee turun dari motor dan menyerahkan helm yang dia kenakan pada Myungsoo. Junhee merasa wajahnya beku Karena terpaan angin musim dingin sepanjang perjalanan tadi. Dia meletakkan tangannya yang dibungkus sarung tangan bulu ke pipinya, merasa sedikit hangat meski masih kaku.

Myungsoo menyadari sikap Junhee, dia memberikan senyumnya. “Aku minta maaf, kau pasti merasa kedinginan.” Ucapnya sambil meletakkan tangannya ke tangan Junhee yang masih ada di pipinya.

Myungsoo tidak menyadari pipi Junhee memanas dan jelas bukan karena hangat dari kedua pasang tangan di pipinya.

“Ayo masuk.” Ajak Myungsoo saat Junhee menurunkan tangannya, dia juga menurunkan tangannya.

Myungsoo mengajak Junhee masuk ke dalam café. Dia menoleh pada Junhee dan mendapati Junhee diam berdiri di depan jalan masuk. matanya mengarah ke poster yang ditempel di papan di pintu masuk. “Ada apa?” Myungsoo bertanya, mendekat pada Junhee yang tanpa sadar tertinggal dua langkah di belakang.

“Mereka perform siang ini?” Junhee bertanya, dia menoleh pada Myungsoo.

Myungsoo menangkap maksud pertanyaan Junhee, band bernama Toxic akan bermain di café hari itu. “Ya. Kau suka bandnya tidak? Kalau kau tidak suka, kita bisa pergi ke tempat lain.” Jawab Myungsoo.

“Aku menyukainya oppa.” Ucap Junhee dengan seulas senyum yang membuat Myungsoo senang. “Ayo masuk kalau begitu.” Ajaknya tanpa sadar menarik pergelangan Myungsoo.

Myungsoo kaget, tapi dia kemudian mengacuhkan tangan Junhee, dia bahkan merasa senang.

.

.

Mereka memesan makanan dan minuman, mengobrol kegiatan masing-masing selama mereka tidak bertemu. Beberapa sudah mereka ceritakan lewat chat sebelumnya, temanya kemudian berubah ke seputar musik. Junhee mengatakan kalau dia sudah menciptakan beberapa lagu baru sejak libur musim dingin tapi hanya satu lagu yang sudah lengkap lirik juga nadanya. Dan Junhee bilang dia tidak mau Myungsoo mendengarnya karena lagu itu terlalu melo. Myungsoo memberikan protesnya karena kecewa dan akhirnya mereka tertawa bersama.

Tak lama, dua anggota Toxic naik ke atas panggung kecil di café itu. Junhee dan Myungsoo menghentikan obrolan mereka untuk menikmati live music hari itu.

Junhee pamit pada Myungsoo untuk pergi ke toilet setelah tiga lagu dinyanyikan oleh Toxic.

Myungsoo didatangi oleh seseorang yang dia kenal tak lama setelah Junhee pergi ke toilet.

“Kau kemana saja hyung? Aku tidak melihatmu dari tadi.” Myungsoo bertanya.

Laki-laki yang mendekati Myungsoo memberikan tatapan tidak suka. “Aku yang tadi memperkenalkan Toxic di depan. Ah, kau tadi sibuk memperhatikan pacarmu jadi tidak sadar.” Terang laki-laki itu. Di name tag yang dia pakai tercetak nama Nam Woohyun. Dia adalah kenalan Myungsoo yang memberi tahu Toxic tampil di café hari ini sekaligus saudara pemilik café.

“Dia bukan pacarku. Dia sepupu dari temanku.” Terang Myungsoo.

“Kalian tidak ada alasan untuk pergi berdua kalau dia hanya sekedar sepupu temanmu.” Ucap Woohyun tidak percaya. “Ngomong-ngomong, kau mau naik ke panggung? Toxic akan istirahat setelah lagu kelima. Aku rencananya akan menyanyi, tapi kalau kau mau tidak masalah sih. Aku malah senang.” Tawarnya kemudian.

“Ada dua gitar? Aku akan coba ajak temanku duet kalau dia mau.” Tanya Myungsoo.

Woohyun mengangkat jempolnya pada Myungsoo sebanyak jawaban. “Aku akan berikan sandwich dan softdrink sebagai hadiah.” Ucapnya.

“Hanya itu?”

Tak ada jawaban. Woohyun langsung pergi setelah dia bicara.

“Siapa?” Junhee bertanya pada Myungsoo saat dia duduk. Dia melihat Myungsoo bicara dengan Woohyun saat menuju mejanya.

“Teman. Kau mau menemaniku bernyanyi? Dia menyuruhku mengisi waktu selama Toxic istirahat, aku sudah mengiyakan. Tapi akan menyenangkan kalau ada teman.” Myungsoo bertanya. Junhee terlihat berpikir, cukup lama. “Kita ke panggung setelah lagu ini selesai.” Terang Myungsoo.

Junhee menoleh ke panggung, lagu sudah setengah jalan. Dia kemudian mengangguk. “Some? Lagu itu cukup populer. Aku hafal kunci nadanya.” Dia bertanya.

Call!” Ucap Myungsoo dengan senyum senangnya.

Tak lama setelah lagu berhenti, Woohyun naik ke atas panggung dan mengatakan ada penonton yang mau menyumbangkan satu lagu sambil menunggu Toxic bernyanyi lagi nanti. “Kita sambut mereka, Kim Myungsoo dan sepupu dari temannya.” Woohyun bicara sambil menunjuk meja Myungsoo dan Junhee.

Myungsoo membuang muka saat dia sadar Junhee menoleh padanya. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar ‘sepupu dari teman’ sebagai panggilan untuk Junhee. Salah dia tidak menyebutkan nama Junhee dengan benar tadi pada Woohyun. Myungsoo menatap Woohyun yang memberikan senyum jahilnya.

Tepukan tangan dari pengunjung membuat Myungsoo mengabaikan rasa malunya terhadap Junhee dan mengajak Junhee untuk naik ke panggung.

“Baik, ada kata-kata yang mau kalian katakan sebelumnya?” Woohyun bertanya pada Myungsoo begitu dia dan Junhee sudah duduk di atas kursi dengan gitar di pangkuan mereka. Junhee terlihat sibuk mengeset nada gitarnya.

“Err… sebenarnya kami tidak berencana untuk bernyanyi, dan lagi ini duet pertama kami setelah cukup lama. Dan tanpa latihan sama sekali, jadi… semoga tidak ada masalah. Terima kasih.

“Mau berkata sesuatu?” Woohyun bertanya sambil menyodorkan mikrofon yang dia pegang pada Junhee.

“Hanya ingin bilang… saya kecewa tidak diperkenalkan dengan benar tadi. Saya punya nama tentunya.” Ucap Junhee. Dari nada bicaranya jelas dia hanya bercanda karena diselingi tawa. “Choi Junhee imnida.”

Kemudian, keduanya siap dengan gitar mereka, saling pandang sejenak. Junhee memberikan isyarat pada Myungsoo untuk memulai dan Myungsoo mengangguk.

Myungsoo memetik gitarnya, masuk ke intro dan kemudian mulai bernyanyi.

Lagu ‘some’ milik Soyou dan JunggiGo dinyanyikan oleh Myungsoo dan Junhee dengan lancar. Mereka mendapatkan tepukan meriah sebagai apresiasi dari penonton.

Waktu berjalan cepat. Jam di ponsel Junhee menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit saat dia mengecek ponselnya ketika keluar dari café.

.

.

Angin musim dingin terasa begitu Junhee bertemu jalanan. Hujan salju yang turun selama mereka di dalam café membuat dingin itu lebih terasa. Junhee otomatis memeluk dirinya sendiri. “Oppa, kita tidak ada rencana kedua? Aku makan malam pukul delapan. Masih ada waktu kalau misal kita mau kemana dulu.” Tanya Junhee sambil mengikuti Myungsoo menuju tempat motor terparkir.

Myungsoo memperhatikan Junhee yang terlihat kedinginan. Dia kemudian mengambil sesuatu dari bagasi motornya, sebuah kantong plastik dan mengeluarkan isi dari kantong itu. Myungsoo melingkarkan syal tebal berwarna biru ke leher Junhee. “Hadiah. Karena sudah menemaniku.” Ucapnya sambil tersenyum.

Junhee kaget tapi dia menerima syal itu dengan senang, dia memang membutuhkannya karena dia lupa untuk membawa syal miliknya. Rasa hangat terasa lebih di lehernya dan syalnya cukup untuk menutupi wajahnya. “Terima kasih.” Ucap Junhee samar karena bibirnya tertutup syal.

“Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Lebih baik kau menghangatkan diri di rumahmu. Kita pergi lagi kapan-kapan kalau cuaca tidak sedingin sekarang.

Junhee mengangguk sebagai ungkapan persetujuan, meski dia merasa sedikit kecewa.

Myungsoo melajukan motornya lebih cepat agar Junhee bisa cepat sampai ke rumahnya, dan lagi, hujan salju mulai turun lagi tak lama setelah dia berada di jalan utama.

Oppa mampir dulu. Aku akan buatkan cokelat panas, atau kopi di rumah.” Ajak Junhee begitu mereka sudah sampai di depan pagar rumah Junhee.

Myungsoo mengangguk, dia tidak bisa menolak karena dia memang membutuhkan minuman hangat. Sedikit bersyukur karena dia mengabaikan usulan dirinya sendiri untuk meminjam mobil ayahnya sebelum dia berangkat tadi.

Dia masuk mengikuti Junhee setelah memarkirkan motornya di garasi rumah Junhee.

Ibu Junhee mengintip Myungsoo dan Junhee dari arah dapur. Dia tidak mendekati keduanya yang duduk di ruangan depan, tapi jelas dia penasaran apa dia bisa mengajak Myungsoo makan malam atau tidak. Dia sudah memberikan syarat pada Junhee kalau Myungsoo bisa makan malam jika ada pernyataan suka dari Myungsoo, tapi sepertinya belum ada.

Myungsoo dibuat salah tingkah dengan sikap ibu Junhee dan dia sama sekali tidak mengerti kenapa. Ibu Junhee jelas bukan orang asing tapi sikapnya berubah karena yang Myungsoo temui adalah putrinya dan bukan keponakannya. Myungsoo berusaha untuk mengabaikan ibu Junhee dan meminum minumannya secepat mungkin lalu pergi.

.

.

Myungsoo pamit pulang tak lama setelah cangkir berisi cokelat panas yang diberikan Junhee sudah kosong. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah Junhee dengan suasana yang canggung seperti itu.

Oppa hati-hati di jalan.” Ucap Junhee saat mengantarkan Myungsoo ke tempat motor Myungsoo terparkir.

Myungsoo mengangguk sebagai jawaban. Dia mengenakan helmnya kemudian pamit “Aku pergi. Terima kasih untuk hari ini.” Ucapnya sebelum kemudian pergi.

Rumahnya berjarak lima belas menit dari rumah Junhee. Dia melajukan motornya di jalan utama dan melihat beberapa toko sudah penuh dengan aksesoris khas Natal. Padahal Natal masih beberapa hari lagi.

Myungsoo sampai di rumahnya kurang dari lima belas menit. Dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur begitu dia sampai. Myungsoo baru bangun lagi ketika ibunya memanggil dia untuk makan malam. Dia tidak terlalu lapar sebenarnya, tapi tetap mengisi perutnya.

Myungsoo kembali ke kamarnya begitu dia selesai dengan makan malam. Dia mandi dan setelahnya menatap gitar dan kamera yang tersimpan berdampingan. Myungsoo mengambil gitarnya, mulai menyanyi satu lagu yang sudah dia hafal. Lagu cinta dari Junhee untuknya. Nadanya dia ubah sedikit untuk menyesuaikan dengan suaranya. Dia lantas mengambil ponselnya setelah menyelesaikan lagu itu. Myungsoo mencari aplikasi perekam dan mulai menyanyi ulang lagu itu setelah menekan tanda merah di layar ponselnya.

Myungsoo kemudian langsung mengenakan jaketnya dan mengambil kunci motornya. Lalu dia pergi dari kamarnya. “Aku keluar sebentar.” Pamit Myungsoo pada ibunya ketika mereka bertemu di samping dapur.

Myungsoo melajukan motornya untuk pergi ke rumah Junhee lagi. Dia merasa dia tidak bisa menunggu. Dia harus mengucapkannya hari ini. Tidak ada jaminan Junhee mau atau bisa menemuinya lagi setelah hari ini.

Mesin motor Myungsoo matikan setelah dia sampai di depan rumah Junhee. Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa kalimat pada aplikasi chatnya.

‘Kalau kau belum tidur, aku ada di depan. Aku menunggumu selama lima belas menit, kalau kau tidak datang berarti kau sudah tidur.’

Myungsoo turun dari motornya dan memarkirkan motor itu di seberang jalan. Dia berdiri sambil memunggungi rumah Junhee. Mencoba menyusun kalimat yang akan dia ucapkan jika Junhee mau menemuinya.

“Myungsoo oppa.”

Mata Myungsoo membulat, dia tidak berpikir Junhee akan keluar secepat itu. Myungsoo berbalik dan tersenyum meski mungkin terlihat samar karena tempat dia berada sekarang tidak terkena lampu jalan. Dia kemudian berjalan mendekati pintu pagar Junhee, melihat Junhee yang juga berjalan menuju pintu itu.

“Ada apa? Apa ada yang ketinggalan?” Junhee bertanya dengan tampang bingung. Dia sudah membuka pintu pagar dan dengan isyarat menyuruh Myungsoo masuk.

Myungsoo menggeleng. Kalimat yang belum selesai dia rangkai di otaknya tadi sekarang menghilang. Dia tidak tahu harus berkata apa. Namun kemudian Myungsoo mengambil headset ponselnya, dan menyerahkannya pada Junhee. “Aku ingin kau mendengarnya.” Ucapnya. Dia mencari folder dimana rekaman yang tadi dia buat tersimpan saat Junhee menerima headset masih dengan tampang bingung. “Dengarkan.” Lanjutnya. Dia menekan panel play di layar ponselnya saat Junhee sudah memasang headset itu di telinganya.

Lagu yang sangat Junhee kenal mengalun di telinganya. Suara penyanyinya jelas berbeda. Dia mendengar tiga baris lirik sebelum mencopot headset itu dari telinganya. “Apa ini?” Dia bertanya.

“Aku sudah tahu. Aku tahu musim panas lalu kau membuat lagu itu. Minhwan memberikan CD itu saat perempuan yang kau pikir adalah pacarku menikah. Aku tahu setelah membuatmu salah paham. Aku minta maaf karena tidak memberi tahumu. Tapi aku yakin kau memang tidak ingin aku tahu. Lagu itu, aku mendengarkannya hampir tiap hari. Aku merasa harus menyanyikan lagu itu untukmu karena sekarang perasaanku sama seperti yang kau rasa saat membuat lagu itu. Entah kau masih suka padaku atau tidak. Tapi yang jelas, saat ini, sejak mungkin gugur yang lalu, aku menyukaimu.” Myungsoo menghela nafas panjang setelah dia menyelesaikan kalimatnya tanpa memutus kontak mata dengan Junhee.

Dia menunggu. Menunggu reaksi yang akan diberikan oleh Junhee atas pernyataan cinta yang sama sekali tidak terdengar romantis juga manis.

Sebuah senyum terukir di bibir Junhee. Senyum itu berubah jadi tawa kecil.

Myungsoo gugup, bingung, tapi dia ikut tertawa bersama Junhee meski dengan canggung.

“Aku masih menyukaimu oppa.” Ucap Junhee kemudian.

“Ya?” Myungsoo masih belum sadar penuh mendengar jawaban Junhee.

“Aku masih menyukaimu.” Ulang Junhee.

“Ooh.” Myungsoo tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum senang. Kali ini, cinta yang dia punya tidak bertepuk sebelah tangan. “Boleh aku memelukmu?” Dia bertanya selang beberapa saat.

Junhee terkekeh kemudian merentangkan kedua tangannya. “Tentu.”

Myungsoo tak membuang waktu, dia langsung merengkuh tubuh Junhee dalam pelukannya. “Terima kasih.” Ucapnya.

-END-

2 responses to “[4 Season Series] JunieL’s Story : Winter’s Night

  1. Author terimaksih udah di posting… setelah sekian lama aku menununggu hhh…
    Choi junhee beruntung sekali cintanya terbalaskan🙂
    Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak /big hug/😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s