[OneShot] Her Brothers & My Death

hbandmd

Thanks For Beautiful Poster by Xilverspear

 

Title: Her Brothers & My Death

Author: @Miithayaaaa

Genre: Comedy, Family, Romance.

Length: Oneshot

Cast:

  • CN BLUE’s Minhyuk as Kang Minhyuk
  • F(x) Krystal’s as Jung Soojung
  • CN Blue’s Yonghwa as Jung Yonghwa
  • CN Blue’s Jonghyun as Jung Jonghyun
  • CN BLUE’s Jungshin as Jung Jungshin
  • SNSD’s Yoona as Im/Jung Yoona

Rate: PG-15

Brother 1

.

Apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya hidup di penjara seumur hidup?

Apa kau pernah merasakan bagaimana dirimu di campakan ke dalam jurang yang dalam dengan bambu runcing yang menyambutmu di bawah?

Apa kau pernah merasakan bagaimana sakitnya saat dadamu ditusuk hingga menembus jantung?

Apa kau pernah merasakannya? Semuanya?

.

.

Minhyuk, Kang Minhyuk merasakannya, sekarang.

Entah sudah berapa lama dia berdiri di depan pagar besi yang menjadi pembatas rumah dengan jalan, namun tidak berani untuk menekan bel interkom yang menandakan kedatangannya. Dia mengumpat, mengumpat lebih untuk menenangkan dirinya, merapikan kemeja biru yang sudah entah keberapa kali yang menurut dia belum rapi, padahal kemejanya itu sudah rapi sehalus kain sutra.

Tangannya terkepal, keringat dingin bercucuran di sekitar dahinya, dan perutnya seperti di remas sekuat-kuatnya.

Tuhan, aku hanya ingin menemui kakaknya, bukan menemui seratus preman pasar.

Gusar Minhyuk dalam hati.

Dia maju selangkah, mengangkat tangannya untuk menekan bel namun dengan cepat menariknya kembali.

Ani, ani, ani, ani..” Minhyuk menggeleng tidak siap.

Dua hari yang lalu ketika pacarnya, Soojung, mengatakan bahwa kakak-kakaknya ingin bertemu dengannya, ekspresi Minhyuk seakan-akan mendapat kabar bahwa rumahnya telah di bom oleh para teroris.

Bertemu kakaknya? Ketiga kakaknya??!!

Oh. My. God.

Soojung bilang, itu adalah undangan makan malam biasa, tapi menurut Minhyuk itu adalah undangan kematian. Bagaimana tidak? Dari semua cerita yang ia dengar dari mulut ke mulut, bahwa lelaki yang habis bertemu kakak-kakak Soojung, mereka seperti mayat hidup, atau mereka memang sudah menjadi mayat, tapi masih di beri jiwa, oh, baiklah, sekarang dia (Minhyuk) mulai gila.

“Oh Soojung… Aku memang cinta sama kamu, tapi kalau mati muda-” Minhyuk meringis ketakutan membayangkan bagaimana nasibnya yang akan keluar hanya dengan tubuh dingin dari gerbang ini.

Dia menggeleng-geleng takut, lalu berbalik ingin pergi.

“Tidak, tidak, tidak. Aku lelaki, kakak-kakaknya juga lelaki, jadi apa yang harus ditakutkan. Aku berani, demi-Soojung.” Katanya mengepalkan kedua tangannya, mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Minhyuk kembali mendekati bel dengan berani, namun saat jari telunjuknya satu centi dari bel, Dia menggeleng kembali.

Heol.

Yah, Kang Minhyuk, kau lelaki apa banci!

Sekarang satu dari sisi dirinya mulai mengatainya.

“Kalau aku keluar dari rumah ini sudah tidak bernyawa, bagaimana dengan hutangku? Bagaimana dengan ‘Cita Chitata’ (Chici Thata)? Siapa yang akan merawatnya?” Gerutunya lagi sambil berbalik, lagi.

Hutang?

Bukan hutang seperti yang kalian bayangkan, bukan hutang uang ataupun hutang jangka panjang lainnya, melainkan hutang yang akan ia bawa seumur hidupnya, hutang untuk membahagiakan Jung Soojung, dan Chici Thata, baiklah itu nama kedua kucing kesayangannya, kalau dia mati siapa yang akan memberi makan kucingnya, siapa yang akan menina bobokkan kucingnya? Itu harus dia, haha.

Kang Minhyuk. Himnae!!

Kemudian Minhyuk kembali berbalik menghadap bel, berbalik memunggunginya, berbalik lagi menghadapinya. Oh Shit!

Ting.. Nong.. Ting.. Nong..

“Yah!! Apa yang kau lakukan!!” Minhyuk menjerit tanpa sadar pada tangannya sendiri yang gemetar, menatap tak percaya kalau baru saja dia menekan bel.

Dia mundur selangkah, mengerakkan kedua kakinya asal. Spontan mengalihkan kepalanya ke arah gerbang yang mulai terdengar langkahan kaki mendekatinya.

Bagus, sekarang kau akan mati, Kang Minhyuk.

Minhyuk mundur sekali lagi, dan berniat berjalan menjauhi gerbang. Mungkin tidak sekarang, mungkin Soojung bukan jodohku, aku pengecut, tapi aku mencintainya.

Saat Minhyuk ingin melangkahkan kakinya, suara merdu yang sangat ia kenal, mengalun indah di telinganya. “Minhyuk-oppa?”

Minhyuk spontan menegakkan tubuhnya, haruskah dia kembali? Haruskah dia melanjutkannya?

Kau harus, Minhyuk. Kau mencintainya.

Minhyuk menegakkan tubuhnya, berdeham untuk membasahi tenggorokkannya, dan mulai berbalik perlahan menghadapi pacarnya, Soojung.

“H-hi..” Sapa Minhyuk sebiasa mungkin.

“Oppa, Are you okay?” Tanya Soojung dengan kening berkerut melihat wajah Minhyuk yang sedikit pucat.

Of Course! Aku baik-baik saja. S-sangat baik.” Jawab Minhyuk sulit, menelan ludah, memberikan cengiran paksa.

“Kau berkeringat, oppa.”

Soojung maju selangkah mendekatinya, dan dia bisa melihat dengat sangat jelas bulir-bulir besar keringat di dahi Minhyuk. Soojung menghapus keringatnya dengan ujung lengan sweaternya yang berhasil membuat Minhyuk sedikit lega.

Kekasihku memang pengertian. Ucap Minhyuk dalam hati sembari memperhatikan wajah Soojung yang serius mengusap keringat di dahinya.

“Apa kau takut?”

“Eh? A-aniyo, apa yang harus aku takutkan? Aku hanya menemui kakak-kakakmu, bukan m-monster.” Jawab Minhyuk bohong, mengambil tangan Soojung dari dahinya. Jauh dalam hatinya, dia sangat takut, sangat takut sampai dia ingin melarikan diri.

Keure?”

Minhyuk hanya mengangguk, memberikan lagi cengiran paksa.

Soojung mengangguk setelah melihat keyakinan di wajah Minhyuk. Sesungguhnya dia ingin tertawa melihat wajah kekasihnya yang pucat pasih karena takut. Namun dia hanya diam, dia ingin menggoda Minhyuk lebih jauh.

“Ayo masuk. Kakakku sudah menunggumu, oppa.”

Itu dia. Itu dia, undangan yang paling membahagiakan untuk sisi penakutnya.

Sekarang Minhyuk bertanya-tanya, dimana sisi keberaniannya? Dimana sisi keberaniannya saat seperti ini?

“Aku senang kau datang, oppa.” Kata Soojung mengalungkan lengannya di lengan Minhyuk, berjalan memasuki rumah.

“Kenapa? Kau berkata seolah-olah baru akulah yang datang kerumahmu dan menemui kakakmu.”

“Bukan begitu. Banyak yang datang, tapi kau tahu, mereka hanya berani menekan bel lalu pergi, ada juga yang berhasil masuk, namun saat melihat kakak-kakakku mereka kabur tanpa aku tahu.”

Minhyuk menelan ludah, sulit.

“Mungkin kakak-kakakku terlalu menakutkan.”

Memang menakutkan Soojung.

“Oppa, kau dengar aku?”

“Y-ya.”

“Kau-takut, ya?” Soojung menyelidik mimik wajah Minhyuk.

Spontan Minhyuk mengibas-ibaskan kedua tangannya dia depan Soojung. “Tidak. Tidak Soojung, aku tidak takut sama sekali.”

“Bahkan, kalau kakak-kakakku mematahkan lehermu?”

“Apaa??!!” Minhyuk melotot tak percaya, spontan memegang lehernya, seolah-olah ingin melindungi dari bahaya. Sekarang ketakutannya bertambah, dan semakin bertambah pula Soojung menahan tawanya.

Dia sangat suka menggoda kekasihnya ini.

“Aku hanya bercanda, oppa.” Katanya tersenyum manis, “Ayo masuk.”

***

Ketika Minhyuk memasuki rumah, yang pertama dilihatnya adalah foto keluarga yang berukuran besar yang terpajang di dinding ruang tamu di sebelah kanannya. Tampak kedua orang tua Soojung yang tampak saling mencintai dan penjaga-tiga orang kakak-kakak Soojung dan dua orang perempuan muda lagi yang ia tidak tahu satunya, satunya lagi Soojung. Harmonis. Itulah yang dipikiran Minhyuk sekarang.

Kemudian dia melihat ke sekitar rumah yang penuh dengan barang-barang antik mahal bergaya seperti perumahan Paris.

Untuk sekian detik dia lupa dengan ketakutannya yang akan menemui kakak-kakak Soojung ketika melihat poto kecil yang ia yakinin itu Soojung berjajar di meja panjang di bawah lukisan. Menggemaskan, pikirnya. Dia merasakan elusan lembut di lengannya dan melihat Soojung tersenyum manis padanya.

“Tunggu sebentar.”

Minhyuk mengangguk kemudian mengikuti langkah Soojung dengan matanya yang ia yakinin itu adalah dapur. Dari tempat Minhyuk berdiri, dia bisa mendengar suara Soojung memanggil nama salah satu dari kakaknya, juga ada suara tawa dari perempuan lain yang juga berada di dapur.

“Jonghyun oppa.”

Suara Soojung berhasil membuat Minhyuk spontan menegakkan tubuhnya, hanya mendengar Soojung memanggil nama kakaknya saja sudah membuatnya was-was. bagaimana jika selanjutnya kakaknya-, dia menggeleng keras, dia meyakinkan dirinya kalau dia bisa melalui ini, dia bisa, untuk Soojung. Namun jauh masih dalam hatinya, ada sedikit, tidak, itu banyak, ketakutan yang menyelimutinya.

Minhyuk mendengar suara recokan yang di iringi dengan tawa semakin mendekat, dia bahkan sudah melihat bayangan tiga bayangan yang akan muncul dari dapur. Tenang, tarik napas-buang napas.

Itu dia.

Jonghyun, Jung Jonghyun.

Seorang pengacara tangguh yang tak ada kata menyerah untuk kasus yang dia tangani. Seorang pengacara dingin, yang tanpa memandang lawannya walaupun yang ia hadapi seorang mafia besar, dia pasti akan bisa menang untuk menyelamatkan kliennya. Orang-orang bilang, pukulannya adalah yang nomor satu.

Minhyuk mengedipkan matanya gugup, ketika Soojung membawa kakaknya, Jonghyun dan satu perempuan yang ia lihat tadi di foto keluarga menggandeng lengan Jonghyun berjalan mendekat.

“Hai.”Sapa Jonghyun datar, mengulurkan tangannya.

Annyeong haseyeo.” Sapa Minhyuk sopan, menundukkan kepalanya.

Jonghyun menaikkan satu alisnya. Menatap Minhyuk dingin, lalu mengalihkan tangannya yang masih menggantung. “Kau tidak mengambil uluran tanganku?”

“Ne?” Minhyuk berkerut bingung, masih dalam keadaan membungkuk menatap Jonghyun. Jonghyun menghendikkan dagunya ke bawah menunjukkan tangannya.

Sial.

Karena terlalu gugup saat melihat Jonghyun tadi, Minhyuk langsung sapa membungkuk tanpa melihat Jonghyun yang mengulurkan tangannya.

“M-maaf.” Ucap Minhyuk lirih, kemudian menerima uluran tangan Jonghyun, tapi sebelum Minhyuk menjabat tangannya, Jonghyun sudah menarik tangannya duluan, sengaja, sehingga membuat Minhyuk terlihat bodoh.

“Satu minus untuknya Soojung.” Umum Jonghyun tanpa mengalihkan tatapan tajamnya ke Minhyuk. Sedangkan Soojung dan Yoona, istri Jonghyun, sedang menahan tawa mereka.

“Belum waktunya, oppa.” Yoona memukul pelan lengan suaminya kemudian beralih ke Minhyuk, tersenyum manis, “Halo, aku Yoona. Istri Jonghyun, kakak ipar Soojung.”

Ah, jadi dia istrinya si Jonghyun ini. Istrinya baik, sayang suaminya sangar.

Minhyuk mengumpat dalam hati sembari menundukkan kepalanya menyapa kembali Yoona. “Halo. Senang bertemu dengan kalian.”

“Kau yakin senang bertemu dengan kami?” Kata Jonghyun sengit.

“Oppa.” Kali ini Soojung yang memperingati kakak keduanya.

“Siapa namamu?” Tanya Yoona lembut.

“Aku-“ Belum sempat Minhyuk memberitahu namanya, tiba-tiba saja punggungnya di dorong, sengaja, maju ke depan membuat tubuhnya hampir menyentuh tubuh Yoona. Oops, untung saja Minhyuk bisa rem mendadak tubuhnya, itupun karena tatapan melotot dari Jonghyun. Kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Padahal jika terjadi, hal yang akan menguntungkan buatnya. You know-lah, lelaki.

“Hai dude!” Sapa Jungshin, kakak ketiga Soojung, tiba-tiba datang. Jungshin menilik lelaki yang berdiri disampingnya dari atas kepala sampai kakinya dengan manggut-manggut penuh arti. “Kau pacar Soojung, ya?” Tanya Jungshin blak-blakan merangkul kuat bahu Minhyuk. Jungshin bisa merasakan bagaimana tubuh Minhyuk yang tiba-tiba tegang dan tidak nyaman.

“Y-ya.” Minhyuk mengangguk sebagai jawaban dan berusaha menjaga senyuman atau bisa dibilang cengiran kakunya ketika kakak Soojung, Jung Jungshin merangkulnya,tidak,ini bukan rangkulan. Rangkulan tidak sekuat ini. Dia juga masih-tetap berusaha menjaga jantungnya yang tiba-tiba saja takut akan copot.

Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?

Gumam Minhyuk dalam hati, was-was apa yang akan selanjutnya terjadi. Satu saja belum selesai, dan sekarang masuk kakak Soojung yang lain.

Jungshin, Jung Jungshin.

Soojung bilang, kakaknya Jungshin seorang dokter bedah. Dia baru saja lulus dua bulan yang lalu dan sekarang dia sudah bekerja di rumah sakit ternama di Seoul. Sebenarnya, bukan itu yang di permasalahkan Minhyuk. Dari yang dia dengar dari temannya, Lee Jaejin, yang pernah satu sekolah dengan Jungshin, temannya bilang kalau Jungshin adalah orang yang suka usil sama orang yang baru di kenalnya. Buktinya, baru datang saja dia sudah seperti itu pada Minhyuk. Apalagi nanti waktu kedepannya, bisa-bisa Minhyuk di suntik tanpa sebab olehnya, atau gimana kalau Soojung nangis terus dia mengadu sama kakaknya Jung Jungshin, Oh men!! Jantung Minhyuk bisa di belah saat itu juga.

“Malam Hyung.” Sapa Jungshin riang, “Malam kakak ipar.” Sapanya manis, lalu melihat adik kecilnya, Soojung, dengan mengerutkan keningnya.

“Apa?” Ketus Soojung.

“Kau terlihat beda malam ini, adik kecil.” Jungshin mengerutkan keningnya, mengetuk-ketuk dagunya berpikir. “Sedikit, cantik. Aku kira.” Selesainya, menjulurkan lidah pada Soojung.

“Dasar kacang panjang. Kemari kau.” Kesal Soojung mengangkat tangannya ingin memukul Jungshin. Tapi Jungshin segera bersembunyi di balik tubuh Minhyuk, yang membuat Minhyuk terguncang ke kanan dan ke kiri, Minhyuk sedikit pusing, tapi dia senang. Setidaknya, dia berpikir Jungshin tidak seseram yang teman-teman kampusnya pikirkan.

“Buncis gendut.” Balas Jungshin tak mau kalah.

Jonghyun dan Yoona tertawa melihat tingkah Soojung dan Jungshin yang membuat Minhyuk juga tanpa ia sadari ikut tertawa dalam kegembiraan keluarga ini. Soojung dan Jungshin memang selalu seperti ini, selalu berkelahi tapi itu pula yang akan mewarnai rumah mereka dengan kebisingan mereka.

Sampai kepala Jungshin sudah berada di lengan Soojung. Soojung mengeratkan apitannya semakin kuat, membuat Jungshin menyerah, tapi Soojung tidak mau melapasnya, dan jurus terakhir Jungshin akhirnya keluar ketika melihat kakak tertua mereka keluar dan menuruni tangga.

“Oh, Yonghwa hyung! Tolong aku!” Seru Jungshin penuh drama.

Yang merespon seruan Jungshin pertama kali adalah Kang Minhyuk. Dia spontan menghentikan tawanya walaupun Jonghyun dan Yoona masih tertawa melihat adiknya. Tiba-tiba saja, rasa takut kembali meliputinya. Kali ini dia tidak bisa membayangkannya dan dia tidak bisa menganggap enteng kakak tertua Soojung.

“Terus saja mengadu. Dasar pengecut.” Kata Soojung sembari melepaskan kepala Jungshin, dan mendengus ke arah Jungshin.

“Apa?” Tantang Jungshin ke Soojung.

“Jung Jungshin.” Seru Yonghwa dari atas tangga.

Lihatlah, lihatlah. Bahkan suaranya yang wibawa sudah membuat Minhyuk merinding. Soojung memang tidak menceritakan apa-apa tentang Jonghyun dan Jungshin sebelumnya, tapi Soojung pernah bilang dua hari yang lalu, kalau Minhyuk harus berhati-hati dengan kakak tertuanya, Jung.Yong.Hwa.

Minhyuk menelan ludah sulit, saat tak sengaja matanya bertemu dengan mata Yonghwa yang perlahan menurunin anak tangga.

Langkah demi langkah terlalui dan semakin dekat jarak Yonghwa dengan mereka, semakin dekat pula ketakutan Minhyuk yang akan meledak.

Yonghwa, Jung Yonghwa.

Apa kau pernah mendengar cerita, bagaimana seorang lelaki berumur dua puluh satu tahun melawan dua puluh preman sendirian? Dan seorang lelaki itu menang? Kau bisa menanyakannya langsung dengannya, sekarang. Bagaimana dia menghajar preman-preman itu, menghabisi dan menjatuhkan mereka satu persatu. Karena lelaki itu kakaknya Soojung, Jung Yonghwa, seorang mantan preman dengan ‘predikat’ tertinggi di kalangan kelompok preman yang ada di Seoul.

Yonghwa anak sulung dari keluarga Jung. Dialah yang memiliki hak (tanggung jawab) tertinggi di keluarganya. Bukan berarti dia berkuasa seenaknya, dia tetap menjadi kakak yang terbaik dari ketiga adiknya, penyayang, setidaknya ada sisi dari seorang Jung Yonghwa yang tidak di takuti Minhyuk.

Jika, pukulan Jung Jonghyun nomor satu, maka pukulan Jung Yonghwa adalah yang terbaik. Dan Minhyuk harus bisa menghindari itu.

Sialnya, kakak favorit Soojung adalah Jung Yonghwa. Jadi, Minhyuk harus berusaha mati-matian untuk mengambil hati seorang mantan preman.

Semangat Minhyuk!! Dan Tuhan, Lindungilah aku.

“Buncis, lihatlah ekspresi kekasihmu. Seperti kelinci yang akan di panggang, haha.” Jungshin berbisik ngejek di telinga Soojung yang kemudian mendapat sikut dari Soojung sehingga membuatnya meringis. Walaupun begitu, Jungshin tidak kapok, dia semakin bersemangat untuk mengerjai kekasih adiknya ini. Jadi dia menghampiri Minhyuk, berbisik, “Hati-hati dengan lehermu, Yonghwa hyung bisa mematahkan lehermu hanya sekali putar.” Lalu menjauh untuk berdiri di sebelah Jonghyun.

“Jungshin oppa!” Desis Soojung penuh peringatan.

Jungshin hanya menghendikkan bahunya dan menjulurkan lidahnya mengejek.

“Jangan dengarkan omongan Jungshin oppa. Aku akan disisimu.” Soojung berkata padanya, mengamit lengan Minhyuk dan mengelus lembut seperti memberi semangat. Dia tahu, sangat tahu, kalau kekasihnya ini benar-benar takut sekarang. Dia tahu itu, walaupun Minhyuk mengatakan kalau dia tak takut pada kakaknya, tapi coba lihat, bagaimana orang percaya padanya kalau ekspresi wajahnya seperti mayat seperti itu.

Kalau bukan karena kau, Soojung. Aku tidak akan masuk kekandang harimau seperti ini.

Batin Minhyuk. Dia ingin berkata sejujurnya pada Soojung, kalau dia sebenarnya takut. Tapi situasi sudah seperti ini. Bagaimana bisa dia akan kabur begitu saja, dia tak mau di cap pengecut oleh kekasihnya sendiri. Jadi, Minhyuk. Harus berani. Bisa saja, kan, kakak-kakaknya Soojung memang menakutkan, tapi memiliki hati Hello Kitty. Dia sangat berdoa untuk itu.

“Kau pasti, Minhyuk?” Tanya Yonghwa langsung ketika dia sudah berada di antara Jonghyun dan Jungshin.

Lihat, diantara semua kakak-kakak Soojung, cuman Yonghwa yang tahu namanya. Itu berarti Soojung cuman bercerita pada Yonghwa.

“Oii?” Seru Yonghwa datar. “Kau tuli? Halo?” Katanya lagi melambaikan tangan di depan wajah Minhyuk.

“Ohh, namanya Minhyuk.” Sambung Jungshin dan Jonghyun manggut-manggut saling memandang yang membuat Yoona menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Jika saja Minhyuk menoleh kesampingnya, dia pasti bisa juga melihat Soojung yang berusaha menahan tawanya.

“Eh? Y-ya. Aku Minhyuk. Kang Minhyuk.” Sadar Minhyuk dari lamunannya. Sedikit menudukkan kepalanya. Tunggu, kenapa ekspresi wajah mereka (Jungshin dan Jonghyun) seperti itu. Dia mempunyai firasat buruk, sesuatu akan terjadi.

“Kau cukup berani untuk datang kesini.” Kata Yonghwa dingin langsung menatap matanya, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Setelah itu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Jonghyun, membisikkan sesuatu yang membuat Minhyuk mengernyitkan dahinya. Sumpah, Minhyuk yakin, Soojung ataupun kakak-kakak Soojung maupun kakak iparnya pasti bisa mendengar detak jantung Minhyuk yang berdetak sepuluh kali lipat.

Tuhan, mereka merencanakan apa? Apa aku akan di tenggelamkan di bak mandi?

Yonghwa berdeham, yang membuat Minhyuk waspada. Sebentar dia melirik Soojung yang berada di sebelah Minhyuk, sebelum berkata. “Kau tegang sekali. Tenang, aku tidak akan menenggelamkanmu.”

Mati aku. Kenapa dia bisa tahu apa yang kupikirkan!!

“Karena Yonghwa oppa sudah disini. Bagaimana kalau kalian menunggu di ruang keluarga. Aku akan menyiapkan makan malam.” Seru Yoona mencairkan suasana yang tegang, ya, suasana tegang untuk seorang Kang Minhyuk.

“Aku akan membantumu, unnie.” Seru Soojung sembari melepaskan pegangannya di tangan Minhyuk yang Minhyuk mencoba untuk menahannya. Soojung tersenyum penuh arti, sebelum meninggalkannya mengikuti Yoona ke dapur.

Mwoya? Dia bilang, dia akan disisiku. Soojung, Oh, Soojung.

“Tidak ada yang bisa kau harapkan dari Jungie. Keputusan ada ditangan kami.” Kali ini Jonghyun bersuara seolah-olah dia bisa membaca pikiran Minhyuk yang mencari perlindungan dari Soojung. Dude! Kau tidak bisa.

“Aku tidak mencari perlindungan. Aku hanya ingin-hmmff” Belum selesai Minhyuk bicara, tiba-tiba tangan Jungshin sudah membengkam mulutnya. Apa-apaan ini! Ini penculikan!

“Jangan menggoda Soojung di depan Yonghwa hyung. Kau akan-“ Jungshin melanjutkan ucapannya dengan isarat tangannya yang melintas di lehernya. Minhyuk mendelik, lalu dia takut-takut menatap Yonghwa yang sudah menatapnya seakan-akan ingin membunuhnya.

Gila. Ini Gila. Kakak-kakak Soojung, mereka semua mafia. Terutama Yonghwa.

“Aku lebih dari mafia.” Celetuk Yonghwa.

Minhyuk mendelik lagi, kali ini lebih besar dengan mulut menganga. Dia benar-benar bisa membaca pikiranku!!

“Hhahahaha!!!”

Tawa Jungshin meledak begitu melihat ekspresi Minhyuk yang seperti itu. “Ayo!” merangkul bahu Minhyuk membawanya ke ruang keluarga, mengikuti Yonghwa dan Jonghyun yang sudah mendahului mereka. Hebat! kakak tertuanya ini, dia sedang memainkan perannya dengan baik.

Disisi lain dari ruang dapur. Soojung memperhatikan kakak-kakaknya dengan kekasihnya. Dia sedikit khawatir mengingat sifat ketiga kakaknya yang sedikit ‘aneh’ walaupun dia yakin kalau Minhyuk pasti bisa mengatasi mereka yang di iringi rasa takutnya. Soojung menggelengkan kepalanya, tersenyum. Bagaimana hasilnya nanti?

Dan di satu sudut rumah mewah itu, kematian Minhyuk datang dari ketiga kakak kekasihnya, Jung Soojung.

***

Entah sudah berapa kali Minhyuk menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang menurut dia kering seperti sungai yang tak berair. Lelaki dengan kemeja putih bercorak garis-garis tipis itu duduk gelisah ditempatnya, di depannya tepat duduk kakak tertua Soojung, Jung Yonghwa, dengan kaki di lipat menatap lurus padanya. disisi kanan Yonghwa ada Jungshin yang duduk dengan siku tangannya bersandar ke sofa menopang kepalanya menatapnya dengan mulut berkerut. Dan disisi kiri Yonghwa ada Jonghyun yang duduk bersandar menatap sepele ke arah Minhyuk.

Tidak ada yang bicara, tiga pasang mata dingin itu dengan lekat-lekat menatap Minhyuk yang gelisah setengah mati mencengkram kedua lututnya. Hanya detak jam dinding yang terdengar di ruang keluarga itu. Suasana tegang, seperti berada di ruang pengadilan. Dengan Minhyuk sebagai tersangka, Jonghyun sebagai jaksa penuntut, Jungshin sebagai saksi, Yonghwa sebagai hakim yang siap menjatuhkan hukuman padanya, dan tentunya Soojung sebagai korban walaupun dia tidak berada disini. Dengan kasus, penculikan adik tercinta.

Minhyuk berdeham membersihkan tenggorokannya, “T-terima kasih atas undangan kalian untuk mengundangku makan malam.” Katanya memulai pembicaraan.

“Kami tidak mengundangmu makan malam, kami hanya ingin melihatmu. Dan kau datang.” Jawab Jonghyun sekenanya.

Ck, bukankah itu sama saja dengan undangan?

“Apa kau memang selalu seperti itu?” Yonghwa bersuara.

“Apa?” Tanya Minhyuk, bingung.

“Menjawab dan mengumpat dalam hati.” Jawab Yonghwa datar.

Seketika tubuh Minhyuk tegang. Tuhan, apa benar-benar orang yang di depannya ini bisa membaca pikiran? Tapi itu mustahil. Ini seperti dalam drama artis kesukaannya Lee Boyoung. Sebenarnya, dia mengakui, sejak dia masuk ke dalam rumah ini. Dia memang terlalu banyak mengumpat akibat ketakutannya.

“Kau satu kampus dengan Buncis?” Pertanyaan Jungshin menyelamatkannya dari ujung jurang. Jung Jungshin, Minhyuk akan menyukaimu untuk pertama kalinya. Dan kau di coret dari daftar seram Minhyuk dari ketiga kakak Soojung.

“Ya, Hyung.” Angguk Minhyuk, kaku.

“Sudah berapa lama kau berkencan dengan Soojung?” Kini giliran Jonghyun bertanya.

“Sekitar setengah tahun.”

“Dan kau baru datang sekarang setelah selama itu? Wahhh…” Sambung Jungshin histeris.

Minhyuk menarik napas.

“Berani sekali kau berkencan dengan adikku. Kau pikir, kau siapa?” Kata Yonghwa tegas, menegakkan badannya. “Kau harus berhadapan dengan kami dulu sebelum kau mengencani adikku.”

“Aku tahu.” Jawab Minhyuk. Walaupun takut menyelimutinya, tapi Minhyuk berusaha untuk terlihat biasa. Dia ingin membuktikan kalau dia bukan pengecut di depan kakak-kakak kekasihnya.

“Kau tahu tapi kau tidak minta maaf.” Kata Jungshin, kini merubah posisinya jadi bersandar nyaman di sofa.

“Karena tidak ada yang salah dengan aku mengencani Soojung. Aku mencintai Soojung, dan Soojung mencintaiku kembali. Sebenarnya, bukan aku tidak ingin menemui kalian. Hanya saja, aku ingin membuat diriku menjadi lebih baik terlebih dulu sebelum menemui kalian.”

“Bilang saja kalau kau takut.” Seru Jonghyun blak-blakan yang membuat Jungshin tertawa.

“Aku tidak.” Minhyuk menggeleng cepat.

“Lututmu gemetar, dude!” Ceplos Jungshin di sela tawanya sambil mengendikkan dagunya ke arah kaki Minhyuk yang terlihat gemetar.

Minhyuk spontan menekan lututnya dengan kedua tangannya. Sial. Dia tak sadar kalau lututnya bergetar karena takut. Sungguh memalukan. Dia menggigit bagian sisi dalam mulutnya. Melihat Yonghwa yang sedari tadi tak lepas dari mengincarnya dengan mata elangnya, sedangkan dua orang yang lain sibuk menertawainya.

“Ryu atau Messi?” Tanya Yonghwa tiba-tiba, membuat Jonghyun dan Jungshin meredakan tawa mereka.

Kemudian tiga pasang mata dingin kembali menatap sepasang mata Minhyuk yang kembali menatap mereka bergantian, dan menetap di Yonghwa.

“Ryu.” Jawab Minhyuk. “Aku lebih suka menonton pertandingan baseball daripada sepak bola.”

Yonghwa mengerutkan dagunya. “Tapi Soojung sangat menyukai Messi.”

“Aku tahu.” Seru Minhyuk. “Perbedaan akan membuat hubungan lebih menarik. Kami bisa bertukar cerita tentang kesukaan kami. Aku bisa menjadi lebih tahu apa yang aku tidak tahu, begitu juga sebaliknya dengan Soojung.”

“Kau berkata seperti kau telah berpengalaman dalam suatu hubungan.” Seru Jonghyun, Jungshin manggut-manggut di tempat.

“Soojung, pacarmu yang keberapa?” Tanya Yonghwa, sembari menyandarkan punggungnya di sofa.

“Pertama.” Jawab Minhyuk mantap. “Dan akan menjadi yang terakhir.”

Yonghwa, Jungshin, Jonghyun tertawa mengejek. “Kau yakin sekali.” Kata Yonghwa.

“Aku bersumpah.” Seru Minhyuk dengan kesungguhan.

“Jangan bersumpah. Kau tidak akan tahu apa yang terjadi kedepannya. Bisa saja kau bertemu dengan perempuan yang lebih baik dari adikku dan meninggalkan adikku begitu saja.”

“Aku pastikan itu tidak akan terjadi.”

“Kau berjanji?”

“Ya.”

Yonghwa mengangguk pelan. “Akan ku pegang janjimu.”

“Kau-, walaupun aku sering kesal dengan Buncis, tapi dia sangat berharga untukku dan keluargaku. Jika kau menyakitinya itu secara tidak langsung menyakiti kami juga. Jadi, berjanjilah untuk tidak membuatnya menangis.” Kata Jungshin menatap langsung ke mata Minhyuk.

“Aku tidak berjanji untuk itu. Cepat atau lambat dia juga akan menangis.” Jawab Minhyuk was-was ketika melihat Jonghyun yang menegakkan tubuhnya seakan menyerangnya.

“Kau ini-,” Jungshin menggeram di tempatnya, dia ingin bangkit untuk menerkam Minhyuk, tapi di cegah Yonghwa dengan tenang.

“Dengarkan dulu kata selanjutnya.” Seru Yonghwa. Dia menarik. Pikirnya.

“Maksudku, bukankah seorang perempuan identik dengan menangis, setegar apapun seorang perempuan, sekuat apapun mereka, jika datang ke hal yang sedih mereka pasti akan menangis, kan? Walaupun aku bersumpah aku tidak akan menyakiti Soojung, tidak akan membuatnya menangis, bukan berarti aku tahu bahwa kedepannya hubungan kami akan baik-baik saja. Bahkan air yang mengalir dengan tenang bisa tersumbat karena sesuatu.” Jelas Minhyuk panjang, lalu dia menatap ketiga kakak kekasihnya bergantian, penuh harap. “Kalian pasti mengerti maksudku.”

Ekspresi wajah Jonghyun yang semula marah, kini terlihat kembali tenang dan menyandarkan punggungnya kembali dengan kaki di lipat. Sedangkan Jungshin yang kesal, entah kenapa sekarang merasa terkesan dengan kalimat kekasih adiknya ini.

“Wah… Kau pandai sekali berbicara. Aku sampai terkesan.” Kata Jungshin menggelengkan kepalanya.

Lalu, dari sudut mata Minhyuk. Dia bisa melihat kalau Yonghwa juga menyunggingkan senyum karena penjelasannya. Ketakutannya sedikit berkurang. Dia tak menyalahkan dengan sikap kakak-kakak kekasihnya yang dingin terhadapnya, dia sadar, kalau dia sudah mengambil sebagian dari harta yang sangat berharga dari mereka, jadi dia pantas mendapat hal seperti ini.

“Apapun yang kau katakan. Jika suatu hari adikku menangis karenamu, kau harus merelakan lehermu itu.” Kata Yonghwa.

“Harus merelakan kebebasanmu di dalam penjara.” Lanjut Jonghyun.

“Setelah itu, aku akan memotong tubuhmu di ruang operasiku.” Lanjut Jungshin.

“Aku siap dengan itu semua.” Jawab Minhyuk tegas, tapi waspada karena wajah ketiga kakak kekasihnya ini sekarang benar-benar menakutkan.

“Aku ingin tanya satu hal padamu.” Kata Yonghwa.

Bukankah dia sedari tadi sudah bertanya.

Yonghwa terkekeh melihat ekspresi Minhyuk yang segera di sadari Minhyuk kalau dia ketangkap basah karena dia membatin lagi.

“Jika dua hal yang paling berharga dalam hidupmu masuk ke dalam jurang bersamaan, dan salah satunya adalah Soojung. Siapa yang akan kau selamatkan?”

Jungshin dan Jonghyun spontan bersamaan menatap kakak tertua mereka. Mereka tersenyum Yonghwa mengeluarkan senjatanya. Dia mengeluarkan profesinya. Lalu mereka berpaling ke arah Minhyuk menanti jawaban lelaki itu.

Minhyuk berkedip ditempat, dia bingung, pertanyaan macam apa ini? Bagaimana dia harus menjawabnya? Siapa yang dimaksud Yonghwa satu hal yang berharga lainnya? Ibunya? Kalau iya, ya, pasti dia harus menyelamatkan ibunya terlebih dahulu. Kalau tidak, dia bisa di cap anak durhaka, terus gak bisa rasaain masakan ibunya lagi, mati dong, dia, gak makan. Tapi, kalau dia jawab itu, bagaimana dengan Soojung? bisa-bisa langsung di belah hidup-hidup dia disini.

Ya Tuhan, sesulitkah jalan cintaku ini untuk Soojung.

Tidak ada pilihan lain. Minhyuk menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan dengan menatap Yonghwa tegas. “Aku akan memilih untuk masuk jurang bersama mereka.”

Yonghwa mengerutkan dahinya. Jungshin mengangkat kakinya ke sofa menjadi duduk bersila, sedangkan Jonghyun meletakkan kepalan tangan di pipinya, sebagai penopang wajahnya.

“Aku akan memilih untuk masuk jurang bersama mereka.” Ulang Minhyuk, “Aku tidak akan memilih siapa pun, baik Soojung ataupun orang lain yang berharga lain untukku. Karena mereka sangat berarti untukku. Jika mereka mati dalam jurang, maka aku juga akan mati dalam jurang tersebut. Karena, bukankah kehidupan kekal adalah kematian yang sesungguhnya. Jika aku tidak bisa hidup bersama mereka di dunia, maka aku memilih untuk hidup bersama mereka di dunia yang abadi.” Jawab Minhyuk, menghela napas. Dia tersenyum simpul, puas dengan jawabannya sendiri.

“Dan orang yang berharga lainnya untukku, tidak lain adalah ibuku. Bukan orang lain.” Tungkas Minhyuk.

“Aku merasa, kau seperti berkhotbah.” Celetuk Jonghyun dari tempatnya.

“Aku suka jawabannya, hyung.” Kata Jungshin ke Jonghyun, lalu beralih ke Yonghwa. “Bagaimana denganmu, hyung.”

Absurd.” Bisik Yonghwa, tapi tersenyum penuh arti pada Minhyuk.

“Yah, kau dapet restu dariku, pria imut.” Kata Jungshin, senang. “Jawabanmu tadi, membuatku benar-benar ingin menyuntik pantatmu, haha.” Lalu berdiri, merogoh saku belakangnya.

Pertama, Minhyuk senang karena sudah mengantongin satu kemenangan. Tapi begitu Jungshin berdiri dan melihatnya merogo sakunya. Dan apa yang dia takutkan datang. Minhyuk mendelik kaget melihat barang yang di keluarkan Jungshin.

Suntik.

Tuhan! Aku akan disuntik!!

Minhyuk, langsung berdiri tegak. Tidak, tidak, tidak. Jika ini yang terjadi, maka dia tidak butuh restu dari Jungshin. Selangkah dari Jungshin, se-mundur dari Minhyuk walaupun kakinya sudah tak bisa mundur karena sofa dibelakangnya. Dia berdoa diam-diam pada Tuhan untuk menyelamatkannya. Demi Tuhan, itu jarum suntik, itu yang paling dia takutkan. Dan Jungshin seenaknya saja memainkannya di depan dia.

“Kenapa kau memejamkan matamu?” Tanya Jungshin yang sudah di depan Minhyuk.

“Hah?” Minhyuk membuka matanya takut-takut.

“Ulurkan tanganmu.” Pinta Jungshin. Minhyuk menurut.

“Ini hadiah, karena kau lulus dariku untuk kekasih Soojung.” Jungshin menyengir sambil meletakkan jarum suntik ditelapak Minhyuk yang gemetar. “Wajah takutmu, sangat cukup membuatku menghibur.” Lalu memukul bahu Minhyuk, “Hah.. Aku lapar.” Sebelum pergi ke arah dapur dia berpaling ke arah Yonghwa dan Jonghyun dan berkata, “Selebihnya, kalian yang urus, hyung.”

Seketika Jonghyun melihat Yonghwa, dia menaikkan satu alisnya dan tersenyum mengingat rencana mereka. Yonghwa menggigit ujung bibir bawahya menahan tawa untuk menjaga ekspresi wibawanya.

“Hah! Aku juga lapar. Sebaiknya kita makan dulu.” Kata Jonghyun sembari berdiri menyusul Jungshin.

Minhyuk juga melihat Yonghwa yang ikutan berdiri menyusul kedua adiknya. Apa ini? Sudah? Gimana dengan restu dari mereka?

“Kau tidak ingin makan?” Tanya Yonghwa yang sudah selangkah di di depan Minhyuk. “Ayo.”

“N-ne, hyung.” Minhyuk mengangguk, memiringkan kepalanya bingung, tapi juga mengikuti Yonghwa menuju dapur.

***

“Kau baik-baik saja, kan, oppa?” Tanya Soojung, memegang tangannya di bawah meja. Sekarang mereka semua duduk di meja makan, Minhyuk duduk di sebelahnya kanannya, didepannya Jonghyun, Yoona dan Jungshin sedangkan Yonghwa duduk di ujung meja makan di sebalah kiri Soojung.

“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Minhyuk, tersenyum manis. Setelah perjalanan panjang yang ia lalui, akhirnya dia bisa bernapas kembali setelah melihat Soojung. Walaupun tidak benar-benar semuanya berjalan mulus karena Yonghwa dan Jonghyun belum memberikan restu.

“Oppa, kalian ngomongin apa aja, sih, kok lama?”

“Urusan lelaki.” Jawab Yonghwa datar.

“Kau pasti sangat gugup menghadapi mereka. Aku juga dulu seperti itu, sewaktu Jonghyun membawaku kerumah ini untuk pertama kalinya.” Kata Yoona lembut sambil meletakkan sepotong daging di atas sendok nasi suaminya, Jonghyun. “Dan kau tahu, Soojung adalah yang paling menakutkan.” Canda Yoona.

Unnie!

“Mereka kakak-kakak yang sangat protektif. Dan Soojung adalah adik kesayangan mereka, jadi harap mengerti.” Lanjut Yoona.

“Dia aman, Soojung.” Kata Jonghyun sembari memasukkan sesuap nasi kemulutnya. “Lihat, dia tidak apa-apa, kan?”

“Kekasihmu sangat hebat Buncis, sangat manis dalam berbicara.” Celetuk Jungshin. “Pantas saja kau jatuh cinta padanya.”

“Yonghwa oppa, bagaimana menurutmu.” Tanya Soojung pada kakak kesangannya.

“Bagus.”

“Itu saja?”

“Ya.” Yonghwa mengendikkan bahunya. Lalu dia melihat ke arah Minhyuk, “Minhyuk, kata Soojung kau sangat menyukai pedas?”

“Aku tidak-Aww!” Jonghyun menginjak ujung kaki Soojung, lalu melototin Soojung, memberi isyarat untuk diam.

Soojung berdecak, dia tahu, kakak-kakaknya mulai mengerjai Minhyuk.

“Aku… Hmm, ya, aku suka pedas.” Jawab Minhyuk, khawatir. Melirik Soojung sedikit, yang di balas Soojung dengan senyuman menyesal.

“Kalau begitu, kau harus makan kimchi buatan Yoona, itu sangat lezat dan ekstra pedas. Kau pasti akan ketagihan.” Yonghwa dengan baik-hati memberinya sepiring kimchi pedas di hadapan Minhyuk.

Minhyuk menelan ludah, dia bersumpah, dia sangat benci pedas, karena itu akan membuatnya sakit perut seketika. Dia tak tahan dengan namanya pedas. Tapi melihat Yonghwa yang mengawasinya dengan seksama dan demi menjaga image-nya, jadi dia dengan perlahan meraih piring, dan mengambil sedikit kimchi dengan sumpitnya, memasukkan ragu-ragu kemulutnya.

Sentuhan pertama di lidah, itu seperti bom cabai yang meledak di mulutnya, dia ingin menangis saat itu juga. Betapa dia tidak suka pedas, dan ini adalah pertama kalinya dia memakan pedas seperti ini. Dia mengunyahnya dengan perlahan, lalu tiba-tiba terbatuk saat kimchi memasuki tenggorokannya.

Minhyuk panik meminta air yang langsung di beri Soojung, dia melototin ketiga kakaknya yang sedang menahan tawa di depannya.

“Bagaimana? Enak, kan?” Tanya Yonghwa.

“”Y-ya.” Angguk Minhyuk, kaku.

“Makan lagi, dong.”

“Yonghwa Oppa!”

“Wae?”

“Minhyuk oppa, sudah, jangan memakannya lagi. Aku tahu kau-“

“Tidak, Soojung, ini benar-benar lezat.” Kata Minhyuk sambil memasukkan kimchi lagi ke dalam mulutnya.

Lalu kemudian, Minhyuk merasakan perutnya ‘berkontraksi’, tengkuknya berkeringat dingin, jari-jari kakinya mengkerut menahan sakit perut yang tiba-tiba. Benar-benar sakit. Bahkan wajahnya saja sudah pucat.

“Kau baik-baik saja, Minhyuk?” Tanya Yoona yang juga sedang memperhatikannya, sepasang mata milik Soojung menatapnya khawatir, dan tiga pasang mata lainnya menatapnya bahagia.

“A-aku.. aku.. permisi sebentar.” Dia melihat Soojung, “Dimana toiletnya…” Bisiknya pelan. Soojung menunjukkan letak toilet yang berada di ujung dapur, seketika itu juga Minhyuk meluncur kekamar mandi yang di tunjuk, tanpa melihat ke belakang.

“Hahahahahahaha!!”

Seketika itu juga tawa Yonghwa, Jonghyun dan Jungshin meledak bersamaan. Tertawa sampai perut mereka sakit, tertawa sampai terpingkal-pingkal. Berbicara satu sama lain mengenai wajah Minhyuk yang pucat.

“Sungguh. Aku benar-benar tidak tahan dengan ekspresi wajahnya.” Kata Yonghwa di sela tawanya. “Akhirnya aku terlepas dari sandiwara wibawa ini, ini benar-benar merepotkan. Hahaha!”

“Hyung! Kau lihat bagaimana wajahnya saat aku memberinya jarum suntik- Haha! Benar-benar, hahaha!” Kata Jungshin tertawa keras memegangi perutnya.

“Kau memberikan itu padanya?” Tanya Yoona ke Jungshin tak percaya, Jungshin mengangguk semangat.

“Kau tahu wajahnya saat melihatmu turun dari tangga, hyung? Dia seperti dipanggang ayam yang akan di panggang hidup-hidup. Haha!” Timpal Jonghyun.

“Oppa!! Kalian benar-benar keterlaluan!” Ucap Soojung kesal, memelototi kakaknya satu persatu, termasuk Yoona yang juga ikut tertawa.

“Aku salut denganmu, hyung. Kau berhasil sandiwara dengan tingkahmu yang seperti abeoji yang tegas, padahal sesungguhnya kau yang paling kekanak-kanakan di antara kami dan dibalik semua rencana ini. Akhirnya Minhyuk, berdiri ketakutan. Haha!”

Mereka tertawa puas, sampai Yonghwa menyadari bahwa adik kesayangannya itu hanya diam, marah. Dia berdeham, memberi isyarat pada Jonghyun dan Jungshin untuk diam.

“Soojungie, ini adalah ucapan selamat datang untuknya di keluarga kita. Tidak ada hal lain.”

“Tapi, kan, tidak harus seperti ini. Minhyuk oppa benar-benar tidak bisa makan pedas. Bagaimana kalau dia masuk rumah sakit?”

“Tenang, kita ada Jungshin.” Jawab Yonghwa tenang menunjuk Jungshin dengan dagunya yang diterima Jungshin dengan senyum bangga.

Soojung mendesah kalah, tidak ada gunanya melawan kakak-kakaknya.

Di ruang lain Minhyuk yang mendengar gelak tawa dari ketiga kakak kekasihnya menggerutu marah dalam hati. Jika bukan karena Soojung, dia sudah menghajar kakak-kakaknya saat itu juga, dalam mimpi, pastinya.

Sial, mereka mengerjaiku!!

***

Soojung mengantarkan Minhyuk ke depan rumahnya karena malam semakin larut dan dia harus meninggalkan rumah Soojung. Setelah dia keluar kamar mandi, kakak-kakaknya Soojung meminta maaf padanya karena telah mengerjainya. Mereka juga mengatakan, kalau proses ‘persidangan’ Minhyuk itu menakjubkan. Mereka percaya pada Minhyuk untuk menjaga adik mereka. Dan terutama Yonghwa, yang mengatakan kalau sesungguhnya, mereka sudah merestui hubungan dia dengan Soojung ketika dia memasuki rumah mereka. Hanya saja, mereka ingin bermain sedikit dengannya. Dan itu menyenangkan.

“Oppa, aku minta maaf atas kelakuan mereka padamu.” Kata Soojung menyesal.

Minhyuk mengambil tangan Soojung, menggenggamnya lembut. “Tidak apa. Aku mengerti kenapa mereka seperti itu. Setidaknya, aku sudah tahu, bahwa rumor kalau mendatangi rumahmu yang keluar menjadi mayat adalah omong kosong. Ternyata kakak-kakakmu sangat menyenangkan.”

“Ck. Itu hanya gurauan Jonghyun oppa ketika dia menjemputku dikampus dan menyebarkannya pada anak-anak lain.”

“Ah! Soojung. Aku penasaran dengan Yonghwa hyung.”

“Kenapa?”

“Apa-dia, benar-benar bisa membaca pikiran?” Tanya Minhyuk mengerutkan kening.

Soojung terkekeh sebelum menjawab, “Apa dia menjawab setiap kali kau membatin?” Minhyuk mengangguk, “Pantas kau berpikir seperti itu.”

Minhyuk diam menunggu kata-kata Soojung selanjutnya.

“Sesungguhnya itu adalah tebakan. Tapi entah kenapa itu selalu benar, dan profesinya yang sebagai psikolog membantunya bagaimana dia membaca setiap gerak-gerik dari lawannya.” Jelas Soojung pada Minhyuk.

Minhyuk membalasnya dengan membentuk huruf ‘o’ panjang di mulutnya. Kemudian dia tersenyum, menyelipkan helaian rambut Soojung kebelakang telinganya. “Sudah malam, masuklah.”

“Aku akan melihatmu pergi.”

Minhyuk mengangguk, kemudian mencium puncak kepala Soojung lembut sebelum benar-benar meninggalkan rumah kekasihnya itu. Dia melihat sekilas kebelakang dan melambaikan tangannya pada Soojung, tersenyum.

Akhirnya.. sekarang dia tak perlu lagi takut jika dia akan mengantar Soojung pulang, dan tak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk mengajak Soojung pergi kencan. Yang paling penting, dia pulang dengan selamat menyambut ‘Cita Chitata’ (Chici Thata) dirumah dengan perasaan penuh bahagia.

END

 

Happy long weekend!!!

Gimana-gimana, apakah sudah berhasil membuat kalian tertawa? Karena sungguh aku tertawa ketika melihat ulang FF ini dalam folderku. FF ini udah lama selesai, cuman nunggu waktu buat publish sebagai permintaan maaf karena venom sangat ngaret *alasan* hahaha. Sebenarnya FF ini mau aku publish setelah venom, tapi karena udah terlalu lama jadi ini duluan yang di publish, biar adil, karena aku besok akan update venom. Yeaaahhh!! Pinginnya sih update sekaligus, tapi tetap saya harus patuhi peraturan disini. Jangan lupa komentarnya🙂

Maaf typo. Sampai jumpa besok. Terima kasih🙂

PS : Hati-hati yang lagi di jalan, yang di hati kapan ngajak jalan. Hahahahaha!

22 responses to “[OneShot] Her Brothers & My Death

  1. Aaaah, Minhyuk sih sok berani. Mati kan dikerjain kakak-kakak Soojung. huahahahahhahaha.
    Sumpah asli ngakak ini bacanya mit… ya Alloh, dikasih bom cabe, apa salah Minhyuk ya Alloh? Apa suka sama adik mereka adalah dosa besar sampe dihadiahin bom cabe? xD untung bukan cabe-cabean *eh*

    “Apapun yang kau katakan. Jika suatu hari adikku menangis karenamu, kau harus merelakan lehermu itu.” Kata Yonghwa.
    “Harus merelakan kebebasanmu di dalam penjara.” Lanjut Jonghyun.
    “Setelah itu, aku akan memotong tubuhmu di ruang operasiku.” Lanjut Jungshin.

    Asli ini jahat bingiiits. Siapa yang ga bakal mundur kalo begitu caranya? Pencet bel pintu aja udah suatu keberanian besar. hahahahaha. Km bikin karakter mereka bener-bener pas. yong sok cool, jong songong, shin tukang ngeledek. Oh seandainya mereka keluargaku😄

    Maap yes komennya baru nyampe. hihi. bikin lagi dunk yang komedi kayak gini.

  2. TELAT SEKALIII AKU BARU BACA INI SEKARANG HUHUHU T_T

    Demiapa, ini antara ngakak tapi tegang bacanya 😂 kesian sama Minhyuk tp gemes sama akang-akang yang lain terutama mamas Jonghyun 😂

    Suasananya itulohhh, aku yang baca aja kerasa bangeeeet tegang, seremnya kayak apa. Kalo jadi Minhyuk mungkin udah pucet dan pingsan ditempat kali ya :’v. Kebayang banget gimana ekspresi muka dan suara dingin nan datar mereka yang berasa membunuh pelan-pelan/? dan membuat pikiran berantakan.

    Lalu entah mengapa ini berasa kaya lagi seleksi wawancara osis dulu :v, pertanyaan super skakmat bin ngena plus ucapan dan sahutan-sahutan mematikan yang bikin otak blank, kaget, shock, takut, pucet, dan rasanya empet pengen gampar tapi gaberani/? :v

    Wkwk, ya intinya ini keren! kalo ada typo terampunkan/emg gw syapa/, terus berkarya!

    Salam, Yulbam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s