[Chaptered] Venom (Part IV)

Venom2

Thanks For Beautiful Poster by Leeyaaaa

Title: Venom (Part IV)

Author: @Miithayaaaa

Genre: Angst, Married Life, Romance.

Length: Chaptered

Main Cast:

  • CN BLUE’s Minhyuk as Kang Minhyuk
  • F(x)’s Krystal as Jung Soojung

Support Cast:

  • CN Blue’s Jungshin as Le Jungshin
  • Davichi’s Minkyung as Kang MInkyung
  • Kris/Wu Yi Fan
  • CN Blue’s Yonghwa as Jung Yonghwa
  • SNSD’s Seohyun as Seo Juhyun

Rate: PG-17

Note:

FF ini terinspirasi dari salah satu novel yang aku baca, atau mungkin kalian juga pernah membacanya. Topik masalah mungkin sama, tapi keadaan dan jalan cerita adalah milik saya, dan Hyukstal milik kita semua. Selamat membaca…

.

 || Prolog || Part I || Part II || Part III ||

.

A broken heart

Is the worst. It’s like having broken ribs.

Nobody can see it, but it hurts

Everytime you breathe.

 ……

PS : Garis Miring adalah Masa Lalu

  ……

 

Seattle, Washington.

“Jangan..” Lelaki itu berucap berulang kali, namun tak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya.

Lelaki itu menggeleng putus asa untuk kesekian kalinya, mengisyaratkan pada perempuan yang berdiri di ujung atap bersiap untuk melompat. Wajah perempuan itu penuh air mata, matanya memancarkan kepedihan dan kesakitan yang ia rasakan, juga teriakan meminta tolong untuk membawanya keluar dari rasa sakit yang ia rasakan.

“Oppa.. Tolong aku..”

Lelaki itu mengangguk berulang kali, memenuhi permintaannya. Tentu saja dia akan memenuhi apapun yang perempuan itu minta, termasuk nyawanya. Namun saat lelaki itu maju selangkah untuk mengambil tangannya, perempuan itu sudah duluan menjatuhkan tubuhnya kebawah membuat dia menjerit takut.

“Soojung!!!!”

Lelaki itu membuka matanya, mendudukkan tubuhnya spontan. Dadanya naik turun dan wajahnya penuh keringat. Dia melihat kesekitar dan menemukan tempat yang sangat ia kenali, kamarnya.

Mimpi.

Dan mimpi itu terjadi sudah berulang kali.

Yonghwa mengusap wajahnya berulang kali dan mencoba mengatur napasnya yang berkejaran. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada adiknya, Soojung. Dia tidak pernah memimpikan Soojung seperti ini berulang kali, walaupun mereka tidak pernah saling berhubungan, Yonghwa tahu Soojung akan baik-baik saja. Tapi mimpi itu entah kenapa membuatnya gelisah, menghantui pikirannya, apapun yang dilakukannya pikirannya selalu melayang pada Soojung, atau kegelisahannya ini karena dia merindukan Soojung? Dia tidak tahu, tapi yang pasti, dia harus melihat Soojung.

Walaupun mereka tidak se-ibu, Yonghwa tetap peduli dan sayang padanya, walaupun dia membenci ibu Soojung tapi kelucuan dan keluguan saat Soojung lahir membuatnya mencintai adiknya satu itu.

“Apa kau mimpi buruk itu lagi, oppa?” Tanya Joohyun, istrinya, yang sedari tadi sudah khawatir disampingnya.

“Hmm..” Jawabnya mengangguk lemah, memegang dahinya yang penuh keringat. “Aku harus melihat Soojung, aku harus memastikan dia baik-baik saja.”

“Aku akan menemanimu.” Tawar Joohyun memegang tangannya, ada rasa perasaan tak enak yang menjanggal dalam hatinya kalau suaminya akan pergi sendirian ke Seoul.

“Tidak perlu, kau masih harus menemani Yogeun disini. Tidak apa, aku hanya sebentar.” Jawabnya lembut mencoba menghiburnya.

“Tapi-“

“Aku akan baik-baik saja, Joohyun.” Yonghwa meremas tangan Joohyun lembut untuk menenangkan kekhawatiran yang ia lihat di mata istrinya. “Lagian aku juga ingin melihat suami Soojung seperti apa sampai dia tidak memberitahuku, dan kalau bukan karena Doojoon aku tidak akan tahu dia menikah. Hmm, mungkin dia lebih tampan dariku, atau aku yang lebih tampan, bagaimana menurutmu?” Tanya Yonghwa main-main berusaha menghidupkan suasana, dan berhasil membuat Joohyun tersenyum.

“Bagaimana aku bisa tahu, kalau aku belum melihat suami Soojung. Tapi, bisa saja dia lebih tampan dari oppa.” Balas Joohyun.

“Hmm..” Yonghwa mengerutkan bibirnya kesamping, alisnya bersatu dan matanya menyipit menyelidik Joohyun. “Kau ingin berselingkuh dariku ya..?”

Mwoya!!” Joohyun spontan memukul lengan Yonghwa, kesal.

“Aku hanya bercanda.” Kata Yonghwa terkekeh, mengacak rambutnya sebelum merangkul dan mencium sisi puncak kepalanya. “Selamat pagi buin..”

“Kau tidak akan mendapatkan kopimu.”

“Kau tidak akan berani.” Balas Yonghwa nyengir.

“Rajaku selalu menang.” Kata Joohyun memutar matanya, sembari keluar dari tempat tidur berjalan ke arah pintu.

“Aku akan berangkat siang ini.” Joohyun berhenti memutar knop pintu. “Tidak perlu mengantarku kebandara.”

Joohyun mengambil napas dalam sebelum berbalik melihatnya, “Ahrasseo.”

Tidak peduli seberapa kuat Joohyun menyakinkan perasaannya kalau suaminya akan baik-baik saja, jauh di dalam hatinya masih ada perasaan aneh yang mengatakan sesuatu akan terjadi. Dan benar saja, tidak lama Joohyun mengantarkan suaminya ke depan pintu, hanya selang beberapa menit, Joohyun mendapat telepon kalau suaminya mengalami kecelakaan yang sekarang berada di ruang ICU, sekarat.

Dunia seakan berhenti untuknya, hatinya kalut. Hanya selang beberapa jam lalu dia masih bisa mendengar lelucon yonghwa, dan sekarang dia hanya bisa melihat suaminya yang berjuang antara hidup dan mati dari batasan kaca yang menghubungkan ruang operasi dan ruang tunggu.

Jauh dibalik sudut dinding dari Joohyun menunggu, bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya, menekan tombol ponsel, melaporkan tugas yang sudah dia selesaikan.

All done Mr. K..”

***

Seoul. South Korea.

 

Suara dentuman musik yang memekakkan telinga semakin membuat para penikmat klub semakin bersemangat. Bergoyang pinggul ke kanan dan kekiri, menggoda satu sama lain. Lampu warna-warni yang berkelap-kelip menambah ketertarikan pengunjung klub, tidak kecuali dengan seorang lelaki yang duduk di depan bartender dengan wajah tenggelam di antara lengannya yang menggantung memegang gelas tequila.

Kang Minhyuk, lelaki dengan perasaan yang bercampur aduk, duduk bingung, marah, senang dalam rencana balas dendamnya.

Marah, karena belum sempat dia melakukan apapun untuk balas dendamnya pada Soojung yang tak lain adik dari Jung Yonghwa, lelaki yang telah membuat kakaknya hancur, sekarang sekarat sebelum dia menunjukkan bagaimana penderitaan Soojung padanya. Senang, karena lelaki yang telah membuat kakaknya menderita, sekarang sekarat merenggang nyawa.

Dia harus merayakan hal ini. Tapi masih ada sesuatu yang membuatnya belum sepenuhnya untuk berpesta. Karena, bajingan itu belum mati.

Haruskah dia melanjutkan balas dendamnya? Atau hanya berhenti disini?

Tidak.

Dia tidak bisa berhenti sekarang. Kesakitan Minkyung tidak sepadan dengan apa yang mereka dapatkan. Kesedihan Soojung sekarang, masih jauh dari keadaan Minkyung. Hanya saja, ketika dia selalu menyakiti Soojung perasaan aneh selalu meliputinya yang menimbulkan perasaan lain yang dia kira akan menyakiti kakaknya juga.

Setelah mendapat telepon Kang Minhyuk langsung berlari ke sini, sedikit merayakan kemenangan untuknya. Dia bahkan tidak menghiraukan Soojung yang masih menggedor pintu ketika dia berada di lantai bawah.

Jika saja kakaknya, Minkyung, tidak memilih Yonghwa sebagai lelaki yang ia cintai, mungkin balas dendam ini tidak ada, dan Jika saja Soojung bukan adik Yonghwa, apakah dia juga akan merasakan hal seperti ini ketika dia menyakiti Soojung.

Persetan.

Dia tahu akan mengarah kemana perasaan ini akan membawanya. Sangat tahu. Dia bukan seorang lelaki remaja lagi yang baru merasakan perasaan semacam ini. Dan dia bersumpah dia akan mencampakkan perasaan ini sejauh-jauhnya. Dia masih memiliki hal terpenting untuk dilakukan daripada mengurus perasaan bodoh ini. Dia masih harus membuat Soojung menderita.

Masih dengan mata terpejam, musik yang begitu kuat mampu membuat Minhyuk membuatnya hilang dalam dunianya sendiri. Pikirannya melayang ketika Jungshin untuk pertama kali memberitahu tentang Soojung dua tahun yang lalu. Saat semua balas dendam ia rencanakan.

***

 

Kang Minhyuk menghempaskan punggungnya di atas sofa empuk, menengadahkan kepalanya menatap langit-langit. Dia mendesah, tubuhnya seakan mati rasa setelah menjaga kakaknya Minkyung semalaman di rumah sakit akibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.

Jika Jungshin tidak menelponnya pagi tadi untuk datang ke kantor karena informasi yang dia minta, dia tidak akan rela meninggalkan Minkyung sendirian di sana, menunggu ibunya datang.

Masih menengadahkan kepalanya ke atas, Minhyuk meraba sakunya mengambil ponsel untuk menelpon Jungshin. Tapi ketika dia hendak menelpon, Jungshin sudah duluan muncul membuka pintu kantornya.

“Apa yang kau dapatkan?” Tanya Minhyuk langsung. Dia mengikuti gerakan Jungshin dengan matanya yang mengambil duduk di depannya.

Jungshin mendesah, sebelum menyerahkan map merah pada Minhyuk di atas meja. Minhyuk menatap Jungshin penuh dengan tanda tanya sebelum mengalihkan tatapannya pada map merah di atas meja yang menantangnya untuk di buka.

“Semua jawaban yang kau minta, semua ada di dalam map itu.” Kata Jungshin pelan.

Minhyuk menegakkan punggungnya kemudian dengan setenang mungkin dia membuka map merah itu. Hal pertama yang ia liat adalah sebuah foto kakaknya, Minkyung, yang merangkul hangat dua lelaki yang ia kenal satunya adalah Yoon Doojoon, sepupunya. Sedangkan satunya lagi ia tak tahu, tertawa ke arah kamera begitu bahagia.

Minhyuk mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat wajah lelaki yang di sebelah kanan Minkyung. Tapi ia tak bisa menemukan apapun. Kang Minkyung, kakaknya itu selalu cerita soal apapun yang ia alami bahkan soal percintaannya pada Minhyuk, Minkyung juga selalu mengenalkan teman-temannya pada Minhyuk. Dia tahu semuanya. Tapi pria di samping kanan kakaknya ini terlihat asing. Ini pertama kali dia melihatnya.

“Jung Yonghwa. Lelaki yang disebelah kanan Minkyung itu Jung Yonghwa.” Seru Jungshin seakan tahu kebingungan Minhyuk. Dia melipat kaki dan bersandar nyaman di sofa empuk.

Minhyuk menatap Jungshin dengan dahi berkerut, menunggu kata-kata Jungshin selanjutnya.

“Dia mahasiswa pindahan dari Busan saat Minkyung berada di tingkat tiga bersama Doojoon.” Jungshin menarik napas. “Kau tahu sendiri bagaimana Minkyung sangat maniak dengan orang-orang baru. Dia mendekatinya dan karena kebetulan Yonghwa orang baru dan tak mengenal siapapun mereka menjadi teman bersama sepupumu, Doojoon. Kau tahu sendiri tidak ada pertemanan murni antara perempuan dan lelaki. Kakakmu Minkyung melewatinya, dia menyukai Yonghwa.”

“Apa Yonghwa juga menyukai Minkyung noona?”

“Tidak.” Jungshin menggeleng menyesal. “Jung Yonghwa sudah memiliki kekasih ketika dia berada di sekolah tinggi. Bahkan dia sudah bertunangan dengan kekasihnya sebelum pindah ke Seoul.”

“Jadi, noona, mencintai orang yang bahkan tidak membalas perasaannya? Maksudmu begitu?” Tanya Minhyuk menilik wajah Jungshin lekat-lekat. Dia menarik napas panjang melihat Jungshin menangguk sebagai jawaban. Bahkan emosinya sudah mulai menyulut.

“Apa orang ini tahu, kalau Minkyung noona mencintainya?” Tanya Minhyuk lagi.

“Ya.”

“Bajingan.” Geram Minhyuk penuh emosi, rahangnya mengeras karena dia mengatupkan giginya kuat.

Pandangannya kembali teralih pada foto ditangannya sebelum meremasnya kuat dalam genggamannya.

Bodoh.

Sekarang dia berpikir bahwa kakaknya adalah orang terbodoh yang ia kenal. Bagaimana bisa kakaknya mencintai orang yang bahkan-jelas tidak memberikannya kebahagian, melainkan memberikannya rasa sakit.

Semuanya masuk akal. Tingkat tiga, itu sekitar musim semi dua tahun yang lalu. Kang Minhyuk, memejamkan matanya kuat sembari memijat pelipisnya mengingat kembali bagaimana kakaknya waktu itu memasuki rumahnya dengan wajah yang super bahagia, senyum bahagia yang terlihat jelas menghiasi wajahnya. Bahkan, kakaknya menari-nari di hadapannya, memandang Minhyuk berbunga-bunga penuh kasih sayang sebelum memeluk adik kesayangannya penuh kehangatan. Minhyuk berpikir kalau kakaknya ini baru saja memenangkan lotre, tapi menilik kembali ekspresinya yang seperti ini, dia bisa menebak kalau ini lebih dari sekedar memenangkan lotre, bahkan lebih menyenangkan dari pada cetak biru kakaknya terpilih sebagai cetak biru paling terbaik di antara calon arsitek lainnya.

… Aku menemukannya, Hyukkie. Kau pasti tidak akan percaya, kalau aku menemukan cinta sejatiku..

Cinta sejati, bulshit. Kau bahkan terbaring koma, tak berdaya, karena cinta sejati sialanmu itu.

Umpat Minhyuk dalam hati, mengingat kembali kata-kata kakaknya waktu itu. Oh Tuhan, dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana Kang Minkyung, kakaknya, saat tahu kalau pria yang dia cintai sudah memiliki orang lain. Terlebih lagi, sudah bertunangan dan akan segera menikah. Kakaknya pasti sangat terluka. Dia tidak tahu itu, karena Minkyung selalu bercerita kalau dia sangat bahagia setiap kali dia bertemu dengan orang itu, bahagia seakan-akan hidupnya hanya bergantung pada orang itu. Tapi yang ia tidak tahu, bahwa disetiap cerita bahagia kakaknya dengan orang itu, adalah senjata yang membunuh kakaknya dengan perlahan.

Tunggu.

Kang Minhyuk, membuka matanya, teringat sesuatu saat dia menghadapi dokter yang menangani kakaknya semalam. Lalu dia menegakkan tubuhnya kemudian memandang Jungshin yang seakan-akan sudah tahu apa yang akan di lontarkan Minhyuk.

“Minkyung noona, hamil.” Seru Minhyuk tegas, yang lebih tepatnya untuk menuntut Jungshin memberikan penjelasan dari nada suaranya.

“Kang Minhyuk…” Seru Jungshin pelan dengan wajah menyesal.

“Katakan. Katakan semua yang kau tahu!!!” Teriak Minhyuk kuat penuh emosi. Dia mengepalkan tangannya kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya menunjukkan betapa marahnya dia sekarang.

“Minhyuk..”

“Aku membayarmu untuk mencari tahu semuanya!!” Teriaknya lagi lebih kuat, melotot ke arah Jungshin. Tapi melihat ekspresi Jungshin yang juga mengeraskan rahangnya, seperti menahan emosi. Dia tahu, kalau kata-katanya barusan sudah menyinggung temannya. “Maaf.”

Tapi keadaannya sekarang lebih membuatnya mendesak, dia butuh informasi apa yang terjadi sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa kakaknya.

Jelas dia ingat malam itu, saat dia baru pulang dari rumah temannya, dia melihat Minkyung sedang berbicara di telepon dengan seseorang, dia tidak tahu apa yang kakaknya bicarakan, karena Minkyung berbicara sangat pelan dan terlihat emosi, juga… frustasi.

Dia bertanya apakah ada sesuatu yang buruk terjadi, tapi Minhyuk hanya mendapatkan tatapan hancur dari kakaknya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Minhyuk begitu saja. Tentu saja Minhyuk tidak membiarkan kakaknya untuk pergi tanpa meninggalkan penjelasan apa yang terjadi dan dengan keadaan yang tak begitu baik. Dia mencegah Minkyung tapi Minkyung tetap tidak memperdulikannya dan hanya pergi menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi.

Kang Minhyuk pikir dia hampir gila melihat kakaknya seperti itu, selama dia hidup, dia tidak pernah melihat wajah dan tatapan hancur dari kakaknya seperti itu. Itu adalah pertama kalinya, pasti ada sesuatu hal yang membuatnya seperti itu. Dan melihat Minkyung membawa mobil seperti orang kerasukan, Minhyuk segera mengikutinya sebelum kehilangannya terlalu jauh dan terjadi apa-apa padanya. Dia menelpon kakaknya berulang kali, mencoba menyuruh kakaknya untuk memberitahu dimana dia berada dan berhenti membawa mobil dalam kecepatan tinggi, tapi Minkyung hanya membiarkannya bahkan menon-aktifkan ponselnya yang membuat Minhyuk semakin frustasi.

Kang Minhyuk mencampakkan ponselnya ke dasbor mobil dengan kuat sebelum menekan pedal gas mobilnya kuat menelusuri jalanan mencari kakaknya. Perasaannya kalut, ada perasaan takut bercambur khawatir mulai menghantuinya. Dan pikiran-pikiran buruk yang terlintas di otaknya tidak membantu sama sekali, malah semakin membuatnya takut.

Dia berterima kasih pada Tuhan saat dia melihat mobil kakaknya yang terparkir tidak jauh dari tempat dia berada di daerah Gangnam, Minhyuk menghentikan mobilnya beberapa meter di belakang mobil Minkyung, sampai dia hendak keluar, dia melihat kakaknya berbicara dengan seseorang lelaki. Kang Minhyuk tidak bisa melihat jelas siapa lelaki itu, karena lelaki itu membelakanginya. Tubuh lelaki itu tinggi dan kurus, Minhyuk memiringkan kepalanya untuk bisa memperjelas penglihatannya saat lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya.

Dia keluar dari mobil dan betapa terkejutnya dia bisa mendengar jeritan kakaknya yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berada. Dia tidak bisa mendengarkan apa yang mereka katakan, tapi Minhyuk bisa melihat kalau kakaknya sedang bertengkar dengan lelaki itu, apalagi melihat kakaknya yang mulai memukul bahu lelaki itu sambil menangis. Dia bertanya-tanya, apa lelaki itu yang sering di ceritai kakaknya? Lelaki yang telah membuat kakaknya jatuh cinta?

Sialan. Apa haknya untuk menyakiti kakaknya?

Kang Minhyuk mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tidak tahan melihat kakaknya yang menangis, ini berarti sama saja menyakitinya juga.

Tapi pada saat Minhyuk mendekatinya, Kang Minkyung mulai berjalan pergi kembali ke mobilnya tanpa tahu keberadaan Minhyuk yang sedang menuju padanya. Kang Minkyung cepat memasuki mobilnya, bahkan dia tidak mendengar panggilan dari adik kesayangannya, hanya beberapa langkah lagi Minhyuk mencapai mobil kakaknya, Kang Minkyung sudah duluan menginjak pedal gas mobil begitu kuat tanpa melihat rambu lalu lintas yang sudah berubah warna merah tepat di persimpangan tak jauh dari tempatnya semula. Lalu… sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan Minhyuk terjadi begitu saja tepat didepan matanya. Sebuah mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah kiri menabrak mobil kakaknya dengan kuat hingga terseret beberapa meter sebelum membuat mobil Minkyung terguling menabrak trotoar jalan.

Kang Minhyuk, berdiri tak bergeming melihat kejadian di depannya. Kakinya terasa kaku melihat mobil kakaknya hancur terguling. Bahkan kekuatan yang sedari tadi ia kumpulkan untuk menahan kakaknya meluap begitu saja hingga membuat badannya terasa lemah dan tak berdaya, lidahnya terasa kelu dan paru-parunya yang tiba-tiba membuatnya sulit bernapas seakan menyempurnakan untuk membuatnya mati dengan perlahan membayangkan keadaan kakaknya yang berada di dalam mobil.

Entah kekuatan yang berasal dari mana, Minhyuk berhasil menggerakan kakinya menuju mobil kakaknya yang terguling yang sudah dikelilingi orang-orang yang berada di sekitar tempat kecelakaan. Dia menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya, dan tepat saat itu Minhyuk terjatuh berlutut melihat kakaknya, Kang Minkyung, yang penuh wajah ceria dengan senyuman yang menenangkan kini bersimpuh darah di sekujur tubuhnya tak sadarkan diri dengan orang-orang yang membantunya keluar dari mobilnya.

***

Kang Minhyuk berjalan sedikit sempoyongan memasuki rumahnya. Setelah menghabiskan dua botol tequila sudah cukup untuk membuatnya merasa bersenang-senang. Dia berdiri diam di tengah-tengah ruang tamu, berkedip dengan tatapan kosong, lalu tersenyum seperti orang tolol yang tak berdasar.

Lalu detik berikutnya, dia merasa bahwa dia ingin menangis. Dia menundukkan wajahnya, menatap lantai lama sampai setetes air mata berhasil keluar dari sudut matanya. setetes air mata yang kemudian menjadi aliran yang mengalir di pipihnya. Dia merasa bodoh, dia merasa tak berdaya untuk dirinya karena telah gagal untuk menjaga kakaknya. Dia bahkan merasa malu kepada dirinya sendiri, dia mengatakan kalau dia mencintai Kakaknya. Tapi dia bahkan tidak punya waktu untuk memperhatikan kesedihan kakaknya. Seandainya saja dia lebih peka untuk menyadarinya. Seandainya saja…

Kang Minhyuk, menegakkan kepalanya kemudian menatap ke lantai atas, tempat dimana kamar Soojung berada. Semakin lama dia menatap, semakin itu pula dia ingin melihat Soojung. Bahkan perasaan rindu itu mulai menghampirinya yang entah dari kapan dia tak tahu. Ketika ia teringat Soojung meringis kesakitan beberapa waktu lalu karena dia menarik tangannya dengan kuat. Jantungnya juga berdenyut sakit seakan juga merasakan kesakitan Soojung, tapi dia berhasil untuk tetap menahan ekspresinya.

Dan rasa sakit ini… semakin lama semakin menekan perasaannya? Membuatnya sesak dan tidak mampu menahan rasa.

Jung Soojung. Kenapa? Kenapa kau malah membuatku jadi seperti ini?

Minhyuk menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia tidak boleh lemah, walaupun dalam keadaan sedikit mabuk.

Lalu dia teringat kata-kata Jungshin, saat itu. Apakah akhirnya dia akan menyesal? Apa akhirnya ini akan malah membuatnya mendapat kesengsaraan bukannya kesenangan?

***

Kang Minhyuk menarik napas, mencoba mengatur emosinya. “Jawab-aku-Lee Jungshin. Apa lelaki yang terakhir kali noona temui, adalah orang yang bertanggung jawab semua ini?”

“Apa dia-Yonghwa?” Tanya Minhyuk lagi, saat Jungshin masih tetap diam.

“Y-ya.”

“Bagaimana bisa!!!” Teriak Minhyuk penuh amarah. “Dia tidak mencintai noona, tapi dia menghamilinya!!!” Minhyuk meninjukan kepalan tangannya ke udara, dan membuang tatapannya acak sekeliling kantor. Mulutnya terbuka menghembuskan napas dengan kuat. Dia jelas sangat-emosi. Sangat emosi sampai ketitik dimana dia ingin membunuh bajingan itu. bajingan yang telah membuat hidup kakaknya hancur.

“Aku menemukan catatan medis kehamilan Minkyung. Itu sekitar dua bulan yang lalu saat dia tahu kehamilannya. Aku mencari tahu, lalu menemukan bahwa dua bulan yang lalu kakakmu, Minkyung, Doojoon dan juga Yonghwa pergi club untuk merayakan keberhasilan proyek mereka membuat rangka dari salah satu gedung seni pertunjukan bertaraf internasional. Aku mendatangi club dan bertanya bartender yang kebetulan yang melayani mereka, bartender itu bilang kakakmu sangat mabuk begitu juga Doojoon, tapi tidak dengan Yonghwa. Kemudian bartender yang melayani mereka di suruh Yonghwa untuk memesan taksi membawa Doojoon pulang, sedangkan Yonghwa dengan kakakmu. Kau bisa menebak, bagaimana kelanjutannya.” Jelas Jungshin, setenang mungkin.

“Maksudmu-kalau Yonghwa mengambil kesempatan pada noona yang mabuk?”

Dan anggukan Jungshin benar-benar tidak bisa membayangkan betapa dia ingin membunuh Jung Yonghwa sekarang itu juga.

“Dan panggilan terakhir dari ponsel kakakmu yang aku selidiki, menguatkan kalau Yonghwa adalah lelaki yang kau lihat malam itu.”

“Dan aku berasumsi, kalau Jung Yonghwa jelas tidak menginginkan bayi itu. Karena, dia memilih tunangannya.” Lanjut Jungshin. Mendengar itu Minhyuk mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memuti.

“Apa Doojoon Hyung tahu apa yang terjadi dengan mereka?”

“Tidak.”

Lalu tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah foto yang tertimpa kertas-kertas di dalam map merah. Dia mengambilnya dan mengerutkan kening menatap foto itu.

“Apa perempuan ini tunangan Yonghwa?”

“Bukan.Itu adik Yonghwa, Jung Soojung.”

Keure. Dia lama menatap foto perempuan yang menunjukkan senyum polos pada kamera. Sebuah senyum kecil tersungging di bibir Minhyuk. Otaknya berputar untuk menghasilkan sesuatu yang akan dia jalankan.

“Jung Soojung..” Ucap Minhyuk pelan. “Apa kau memiliki informasi tentang dia?” Tanya Minhyuk tanpa mengalihkan pandangannya dari foto.

“Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia. Dia adik kesayangan Yonghwa, walaupun Yonghwa sangat membenci eomma-nya-“

“Eomma-nya?” Minhyuk memotong kata-kata Jungshin. Ada sesuatu yang mengganjal dari ucapan Jungshin.

“Ya. Mereka tidak se-ibu. Ayah Yonghwa menikahi ibu Soojung ketika Yonghwa berusia lima tahun. Tapi pada saat Soojung lahir, dia mulai menerima walaupun tidak sepenuhnya, kecuali untuk Soojung. Yonghwa sangat menyayanginya.”

Minhyuk mendengarkan dengan serius. “Apa dia tinggal di Seoul juga?”

“Ya. Hanya berdua dengan ibunya tidak lama setelah Yonghwa pindah ke Seoul juga karena ayahnya meninggal. Ibunya melanjutkan membuka galeri kecil yang ia buka sewaktu di Busan dulu dan dilanjutkan oleh dirinya bersama teman kecilnya di Busan. Soojung sangat berbakat dengan melukis, dia bahkan pergi ke universitas yang sama dengan Yonghwa mengambil jurusan seni rupa. Hanya sesekali saja Yonghwa menemui adiknya.”

Adik kesayangannya. Kang Minhyuk mencatat jelas di otaknya. Otaknya mulai berpikir lagi. Kenapa dia tidak membalaskannya pada adik kesayangannya ini? Ini lebih bagus, dari pada harus mengotori tangannya untuk membunuh bajingan tidak berguna bernama Yonghwa itu. Dia bisa menyakiti adik kesayangannya, sebagaimana Yonghwa yang menyakiti kakak kesayangannya. Adil bukan, bahkan dia harus bisa lebih kejam untuk menyakiti adiknya, agar dia tahu bagaimana rasanya melihat adiknya tersakiti dari orang yang dia cintai.

Ya.

Kang Minhyuk harus membuat Jung Soojung, jatuh cinta padanya. Dan menyakitinya di saat yang sama.

Kau akan melihat itu, Jung Yonghwa. Aku pastikan, kau akan merasakan apa yang aku rasakan.

“Kau-tidak berpikir merencanakan sesuatu padanya, kan, Minhyuk?” Tanya Jungshin ragu menilik gerak-gerik Minhyuk.

“Kenapa tidak?” Jawabnya sarkartis.

“Kau tidak bisa. Dia tidak tahu apapun. Bahkan dia tidak tahu Minkyung.”

“Dan aku tidak mengenal Yonghwa!” Ucap Minhyuk geram memberitahu posisinya yang juga tidak mengenal lelaki itu. “Apa bedanya? Bukankah semakin bagus dan akan-sangat mempermudah.” Lanjutnya. “Semudah Yonghwa menyakiti noona.”

Jungshin mendesah lagi. “Aku peringatkan, jangan, Minhyuk.” Kata Jungshin tegas menatap langsung mata Minhyuk.

Kang Minhyuk tidak memperdulikan tatapan sengit dari temannya itu. keputusannya sudah bulat. “Aku tidak perduli. Kau harus mencari tahu lebih detail tentangnya. Dan-segera membawanya padaku.” Katanya dengan gigi terkatup.

Jungshin hanya mendesah, dia tidak tahu apa yang akan di rencanakannya. Tapi satu yang pasti, ini tidak akan bagus. Lalu dia melihat Minhyuk berdiri dengan meremas map merah yang sebelumnya ia berikan padanya.

“Aku harus kembali ke rumah sakit. Aku harap kau akan memberikan informasi tentang perempuan ini secepatnya.”

“Kau tidak harus seperti ini. Kau hanya harus berfokus untuk kesembuhan Minkyung. Balas dendam tidak akan membuatmu puas, bahkan tidak akan memberimu kesenangan, karena dia tidak tahu apapun. Kau akan menyesal, Minhyuk.”

“Lalu aku harus membiarkan bajingan itu begitu saja?” Tanya Minhyuk sengit. “Tidak bisa, Jungshin. Tidak sampai sejuta tahun.”

“Aku bersumpah akan membuat mereka berdua menderita.” Lanjutnya sebelum benar-benar meninggalkan Jungshin tanpa melihat sedikitpun kebelakang.

Belum sempat emosi Minhyuk teratasi dari apa yang telah di selidiki Jungshin. Kini darahnya mulai mendidih kembali, tepat saat dia sampai di rumah sakit, dia melihat orang itu yang hanya beberapa langkah darinya, Jung Yonghwa berdiri di depan ruang rawat kakaknya dengan perempuan menangis menunduk di hadapannya. Orang itu bahkan memeluk, menenangkannya.

Bajingan, sialan. Kau bahkan berani menunjukkan wajahmu disini.

Malam itu juga setelah menerima semua informasi dari Jungshin, Minhyuk berjanji dengan memegang tangan kakaknya yang lemah dengan tubuh terbaring tak berdaya, wajahnya penuh luka bahkan kakinya di bungkus dengan perban yang sangat tebal, terpejam tak sadarkan diri. Dia akan membalas semuanya. Bahkan hati Minhyuk hancur ketika dokter mengatakan dengan penyesalan tentang kondisi Minkyung saat dia sadar, bahwa kemungkinan besar kakaknya akan buta, lumpuh dengan kondisi mental yang terganggu.

 

***

 

Kang Minhyuk menggigit bagian dalam mulutnya sedangkan matanya menatap kosong keluar jendela kaca besar kantornya. Pikirannya berkutat bagaimana dia harus memulainya, menyusun rencananya. Dia tidak ingin semuanya akan menjadi sia-sia. Dia akan memastikan semuanya akan berjalan semulus yang ia inginkan, tanpa ada kecuriagaan sedikitpun. Sudah hampir dua tahun berlalu saat dia mengetahui semuanya. Dan saat itu pula tidak sedikitpun dia membiarkan Yonghwa dan Soojung tak luput dari perhatiannya

Setelah menyuruh Jungshin untuk mengawasi Soojung dan melaporkan semua yang Soojung lakukan pada Minhyuk secara berkala. Bahkan dari hal-hal yang paling terkecil MInhyuk tak melewatkannya, seperti halnyal, tentang makanan kesukaan Soojung, kesenangannya pada lukisan, film ataupun musik kesukaan Soojung. Semua dicatat dalam ingatannya sebagai bekal untuk mendapatkan Soojung dan menjatuhkan Soojung ke dalam pesonanya.

Lalu kemudian Minhyuk menyiapkan rumah secara terpisah dengan Minkyung, yang dia rencanakan untuk ditempatinya bersama Soojung ketika dia berhasil menjebak Soojung ke dalam rencana dengan menikahinya.

Dan kepergian Yonghwa untuk meninggalkan Seoul dan menetap di Seattle, memudahkannya untuk mendekati Soojung.

Lalu ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, sampai beberapa saat dia menutupnya kembali. Senyum licik menghiasi wajahnya. Investornya, Tuan Gerald dari GL Group, yang baru saja menelponnya, memberinya jalan untuk memulai rencananya. Investornya yang satu ini terlalu maniak dengan lukisan, dan sangat cocok dengan tujuannya, Jung Soojung.

Kang Minhyuk menarik napas dalam sebelum menghembusnya dengan kuat. Dia berdiri, merapikan jas hitamnya dan menegakkan bahunya. Sebelum meninggalkan kantornya, menuju galeri kecil ‘Heaven’ milik Soojung.

Tanpa sedikitpun perhatian Minhyuk teralihkan dari objek pemandangan di depannya. Memperhatikan setiap gerak-gerak dari perempuan yang memiliki wajah polos dengan tawa yang begitu riangnya, begitu riang dan bahagia. Dia meremas kuat setir mobil, karena teringat kakaknya, Minkyung, yang tidak bisa tersenyum seperti itu lagi. Mereka telah merampas semuanya, merampas senyumnya, kebahagiannya, cita-citanya, bahkan kehidupannya.

“Akan kupastikan, tawa itu adalah tawa murni terakhir adik kesayanganmu, Jung Yonghwa.”

 

***

Entah sudah berapa lama Kang Minhyuk berdiri di pinggiran tempat tidur Soojung. Mata sayunya tak luput dari wajah Soojung yang tertidur dengan posisi meringkuk seperti janin. Dia bisa melihat sisa-sisa air mata yang kering dari pipi Soojung. Dia pasti menangis sampai tertidur, pikir Minhyuk.

Kemudian dengan perlahan dia membungkukkan badannya, tanpa sadar tangannya menggapai wajah tidur Soojung. Dengan selembut mungkin dia mengelus wajah Soojung dangan ibu jarinya. Berusaha mencoba menghilangkan jejak air mata walaupun itu tidak mungkin. Sekali, bahkan berulang kali. Lucu memang, dia adalah orang yang membuatnya menangis, tapi lihat sekarang, dia adalah orang yang tidak ingin ada jejak air mata di wajahnya. Apa ini efek dari alkohol atau dari perasaannya sendiri? Entahlah.

Sebenarnya apa yang kau inginkan, Kang Minhyuk?

Tepat pada saat Minhyuk ingin merubah posisi tidur Soojung menjadi lebih nyaman, Jung Soojung secara tak sadar, juga menggerakkan tubuhnya. Minhyuk berhenti sejenak, sebelum melanjutkannya lagi. Namun kali ini, kehati-hatiannya tak mampu membuat Soojung tetap dalam tidurnya.

Mata Soojung terbuka. Yang langsung di sambut dengan tatapan tegas dari Minhyuk yang hanya beberapa centi dari wajahnya.

Satu detik.. Dua detik.. Tiga detik, mereka tetap seperti itu. Tidak ada satupun yang ingin mengalah dari adu pandang keduanya. Sampai akhirnya Minhyuk berdeham sadar apa yang ia lakukan, kemudian dia menarik tangannya dari tubuh Soojung beringsut meninggalkan kamar Soojung. Tidak kalah cepat, Soojung juga mengulur tangannya mengambil tangan kanan Minhyuk yang menggantung, lalu menggenggamnya erat sebelum membawanya ke pipinya, memejamkan mata merasakan hawa dingin yang berasal dari tangan Minhyuk.

“Kenapa tangan yang dulu hangat bisa menjadi sedingin ini?” Ucap Soojung masih memejamkan matanya, lebih ke arah bertanya untuk ke dirinya sendiri.

Kang Minhyuk tak mengerti apa yang sedang Soojung bicarakan. Apa dia mengigau?

“Aku merindukanmu….”

Kang Minhyuk tercenung sejenak. Dia menilik wajah Soojung, mencerna dari kata-katanya. Tapi Soojung masih tetap memejamkan matanya. Ini gila, pikirnya. Dia harus pergi dari sini. Pilihan yang ia ambil untuk memasuki kamar Soojung adalah pilihan yang sangat salah, karena telah membuat debaran jantung dan perasaannya menjadi tak terkendali.

Soojung mempererat genggamannya ketika ia merasakaan Minhyuk mencoba menarik tangannya menjauh. Dia benar-benar merindukannya, bahkan di saat dia ingat beberapa waktu lalu dia menyakitinya. Soojung membuka matanya perlahan, sedikit menggerakan wajahnya untuk bisa melihat siluet wajah Minhyuk dari sudut matanya.

“Jangan pergi terlalu jauh…. Karena mungkin aku tak akan bisa lagi menggapaimu..”

Ada perasaan nyeri yang Minhyuk rasakan setelah mendengar kata-kata Soojung. Dia bisa melihat betapa Soojung sangat tersiksa dari sorotan matanya. Mengatakan bahwa dia harus berhenti untuk menyakitinya, mengatakan bahwa dia benar-benar rapuh untuk semua apa yang di lakukan Minhyuk padanya. Dan dari itu semua, Minhyuk bisa melihat, ketulusan cinta dari seorang perempuan polos yang tak tahu apa-apa, istrinya, Jung Soojung.

Tak sedikitpun Minhyuk mengalihkan pandangannya pada Soojung. Perasaan kebencian terhadapnya meluap begitu saja tanpa ia sadari dan terganti dengan perasaan hangat yang Soojung berikan dari tatapan matanya pada Minhyuk. Perasaan hangat dan nyaman yang tak pernah ia rasakan lagi semenjak dua tahun yang lalu, perasaan hangat yang bahkan dia pikir dia tidak akan bisa merasakannya lagi karena kegelapan dendam yang meguasainya sampai semuanya benar-benar selesai. Dan jika semua selesai, apa dia masih bisa merasakannya?

Minhyuk tidak tahu itu. Tapi disini, dia merasakannya dari perempuan yang bahkan ia sakiti tanpa perasaan, dan dia ingin merasakannya lebih walau itu hanya sesaat sebelum semuanya kembali seperti semula.

Persetan dengan semua balas dendamnya. Dia hanya ingin perasaan hangat ini.

Tanpa menimbang apapun lagi, Kang Minhyuk menggantikan genggaman Soojung yang berada di pipinya menjadi pegangan ke arah tengkuk Soojung untuk membuat wajah Soojung sepenuhnya menghadap ke arahnya. Menyusul dengan satu tangannya lagi yang bebas untuk menyeimbangkan disisi lain wajah Soojung. Dengan-sangat perlahan, Minhyuk menundukkan wajahnya dan meletakkan bibirnya dengan lembut ke bibir Soojung. Minhyuk tak bergerak beberapa saat, membiarkan udara hangat yang keluar dari masing-masing hidung mereka yang menerpa permukaan kulit wajah mereka.

Minhyuk menciumnya dengan perlahan, tidak tergesa-gesa seakan menimbang dengan pilihannya sendiri sembari mengelus pipi Soojung lembut dengan kedua ibu jarinya. Hati-hati, Minhyuk meletakkan tubuhnya hingga berbaring di dekat sisi Soojung. Dan Minhyuk bisa merasakan bagiamana tubuh Soojung tampak gemetar pada sentuhan yang ia berikan. Dan detak jantung yang begitu kuat yang mereka ciptakan, dia bisa merasakannya.

Lampu kecil yang terletak di sisi tempat tidur menjadi salah satu pusat pencerahaan dalam kamar Soojung yang membuat mereka menatap satu sama lain dan menghapal setiap sisi dari wajah mereka masing-masing. Napas mereka yang bergabung yang menyebar di seluruh ruangan, membuatnya ingin lebih untuk memilikinya. Beberapa lebih dari dia dan dirinya.

Bahkan dinginnya udara malam tak terasa karena panas tubuh mereka sudah cukup untuk tempat menghangatkan kebutuhan mereka. Seperti disihir dan terpesona, mereka membiarkan gairah membawa mereka berjalan sepanjang malam dan cahaya bulan yang merayap melalui celah-celah tirai sebagai saksi dari pengakuan yang mereka rasakan dari perasaan masing-masing. Tidak akan ada yang menolak atau mempertimbangkan, karena mereka sendirilah yang memutuskan untuk mengklaim satu sama lain.

Perlahan tapi intens.

Dia dibawa olehnya. Setiap gema udara, setiap detak di dada. Menekan ciuman malas di sepanjang garis wajahnya. Bergerak turun.. lebih rendah… dan… lebih lembut.

Seperti membelai gitar yang telah terlupakan sejak lama, seperti menghayutkan dirinya kedalam sebuah lagu mellow. Tenang penuh dengan kehangatan.

Membiarkan mata yang berbicara satu sama lain, dan hati yang mendengar dengan setiap pons detak jantung yang berdetak.

Meyakinkan bahwa sentuhannya tidak akan pernah menyakitinya…

Meyakinkan bahwa sentuhannya akan memakan semua rasa sakit yang ia berikan selama ini.

Hanya untuk malam ini.

Biarkan mereka untuk menemukan perasaan hangat yang saling mencintai satu sama lain.

***

Jung Soojung duduk termenung di bangku taman belakang rumah. Pikirannya mengembara apa yang telah terjadi semalam. Dia menelan ludah gugup, merasakan kalau pipinya sudah memerah dan memanas mengingat kembali apa yang mereka lakukan semalam. Dia bahkan masih bisa merasakan pelukan hangat Minhyuk tadi malam.

Apa Minhyuk sudah kembali seperti dulu?

Tapi mengingat kembali pagi tadi kalau dia bagun dengan sendirian tanpa ada Minhyuk di sampingnya, malah menemukan suaminya itu berjalan melewatinya begitu saja di depannya, seakan dia adalah sebuah dinding kaca, membuatnya berpikir dua kali kalau Minhyuk sudah berubah. Bahkan itu menimbulkan perasaan nyeri lain di hatinya, menghilangkan rasa bahagia sesaat dalam sekejap.

Atau Soojung hanyalah sebagai mainannya saja semalam?

Pikirannya barusan berhasil membuat dirinya seperti terpental jauh dalam jurang. Kasihan sekali dirinya. Soojung tersenyum pahit, sebelum menghela napas dalam.

Jika memang begitu, baiklah, dia telah mengambil keputusannya semalam, keputusan yang ia buat sebelum dia jatuh tertidur meringkuk tadi malam. Keputusan bahwa di akan menghadapi Minhyuk walaupun menurutnya ini adalah hal yang paling tidak masuk akal, karena dia akan ‘berperang’ dengan suaminya sendiri yang dulu sangat memujanya dalam kebohongan. Cukup sudah. Dia sungguh yakin bahwa Minhyuk memang tidak mencintainya dan tidak pernah mencintainya, entah karena apa lelaki itu menikahinya, yang pasti bukan karena cinta. Kalau Minhyuk tidak akan melepaskannya, maka Soojung yang akan melakukannya.

Soojung menunduk dimana ponselnya berdering di atas pangkuannya. Dia menarik napas, berdeham membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab telpon dari sahabatnya, Kris.

“Halo.”

“Terima kasih Tuhan akhirnya kau menjawab panggilanku, Soojung.” Teriak Kris dari sebrang. Soojung tersenyum lirih menyadari suara kekhawatiran temannya itu. “Apa kau baik-baik saja?”

“Ya.” Jawab Soojung singkat, lalu menjulurkan kakinya sejajar ke bawah.

“Katakan sesuatu yang lebih panjang biar aku tenang. Jangan hanya ‘Ya’.” Gerutu Kris yang membuat senyum Soojung semakin lebar.

“Aku baik-baik saja, Kris. Kau tak perlu khawatir. Tubuhku masih utuh.” Jawab Soojung terkekeh pelan.

“Kau bahkan masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini.” Soojung bisa membayangkan bagaimana wajah Kris yang mulai kesal.

“Untuk menghiburmu.”

“Aku tidak memerlukannya, kau tahu. Apa Minhyuk menyakitimu?”

Soojung hanya mendesah. Sangat susah untuk mengalihkan perhatiannya.

Kau harus meninggalkan Minhyuk.” Sergah Kris lagi dari sebrang.

“Aku tidak bisa, Kris.” Jawab Soojung pelan. “Aku masih harus disini.”

“Untuk apa, Soojungie? Untuk menerima kekasarannya lagi?” Kris terdiam sejenak, menunggu Soojung yang tiba-tiba terdiam. “Soojungie?

“Aku bisa menghadapinya, Kris.” Kata Soojung pelan, tapi dengan nada yang tegas.

Dia sudah mengatakan pada dirinya sendiri, bertekad untuk menghadapi semuanya. Inilah resiko yang harus dia ambil, dia menikah dengan Minhyuk atas keputusannya sendiri, karena dia tertipu oleh sikap manis dan cinta palsu dari seorang Kang Minhyuk. Sekarang Soojung terjebak dalam kebencian Minhyuk yang entah karena apa. Bahkan kejadian semalam telah membuatnya berpikir kalau itu juga bagian dari rencana kekejaman Minhyuk.

“Tapi sikapnya sangat kasar semalam, menarik lenganmu seperti itu sampai kau meringis kesakitan dan dia malah tidak memperdulikannya.” Kata Kris mulai geram, “Aku bahkan tidak pernah sekasar itu pada perempuan manapun.”

Soojung menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca, tiba-tiba dia rindu kehidupan damainya yang dulu, ketika dia bisa menikmati hari yang sibuk hanya dengan mencoret-coret kanvas dan mendengarkan celoteh anak-anak didiknya. Sekarang bahkan untuk mengunjungi galerinya sendiripun Soojung sangat sulit.

“Semua ini pasti ada alasannya. Minhyuk melakukan ini pasti semua beralasan, dan aku harus menemukan itu. Karena aku sangat yakin, Minhyuk tidak akan pernah mau mengatakannya.”

“Jadi kau tidak mau meninggalkannya?”

Soojung tersenyum lemah, “Pernikahan ini kuambil dengan keputusanku sendiri, Kris. Tidak ada yang memaksaku. Dan aku cukup kuat untuk menanggung resikonya. Jangan Khawatir.”

Kris terdiam di seberang sana, mencerna kata-kata Soojung. Lalu kemudian lelaki itu mendesah, “Kalau keadaan semakin memburuk dan kau tidak bisa menahannya. Berjanjilah untuk mengatakannya padaku segera.”

“Aku akan.”

“Jaga dirimu.”

“Ya.” Soojung mengangguk walaupun dia tahu Kris tidak bisa melihatnya. “Aku merindukan anak-anak.”

“Maka kau harus datang.”

“Pasti, Kris.”

“Aku akan menunggumu.”

“Kris..” Panggil Soojung pelan.

“Ya?”

Soojung berhenti sejenak berpikir ulang tentang hal yang ia ingin tanyakan. Tapi jika dia tidak bertanya, dia akan merasa bersalah dan khawatir. “Doojoon oppa… Apa dia baik-baik saja?”

Dia baik-baik saja.

Soojung mendesah lega mendengar jawaban lelaki itu, pasalanya, melihat pukulan yang dilayangkan Minhyuk kemarin malam cukup kuat untuk mememarkan wajahnya. Bahkan ia bisa melihat darah dari sudut bibir Doojoon. “Sejak kapan dia kembali?”

“Tiga hari yang lalu. Sebaiknya kalian harus bertemu langsung untuk banyak bernostalgia.” Kata Kris berusaha untuk menggodanya.

“Apa maksudmu, hah?”

“Tidak ada. Aku akan menelponmu kembali, Jungie.”

Baiklah, Sampai jumpa.”

Soojung memejamkan mata ketika mengakhiri percakapannya dengan Kris. Sekarang dia benar-benar sendirian dalam menghadapi semuanya. Rencananya untuk bertanya pada Jungshin di urungkan niatnya, karena dia berpikir mungkin Jungshin akan mengatakan pada Minhyuk kalau dia mencari tahu semuanya. Dia tidak ingin melibatkan sahabatnya juga, sudah cukup dia membuat Kris terlalu khawatir padanya. Dia tidak ingin menambah beban sahabatnya yang sudah cukup banyak membantunya yang sudah mengurusi galerinya.

Jung Soojung menyandarkan punggungnya perlahan, kepalanya menengadah ke atas dengan mata tertutup, bergumam lirih, “Aku membutuhkanmu.. Yonghwa oppa.”

***

Kang Minhyuk memasuki rumah mewah tempat dimana Minkyung tinggal. Setelah kejadian semalam telah mengganggu pikirannya dari pekerjaan seharian, dia memutuskan untuk mampir ketika dalam perjalanan pulang dari kantornya. Dia butuh melihat kakaknya. Dia butuh menenangkan pikiran, dan butuh dorongan untuk melanjutkan rencananya.

Apa yang telah merasukinya semalam hingga dia melewati batasnya. Apakah karena efek alkohol yang dia minum? Tapi jelas dia tidak mabuk hanya dengan dua botol kecil tequila. Dia ingat semuanya. Terutama saat Soojung memanggil namanya dengan begitu lembut yang membuatnya merasa sangat dicintai.

Dan sialnya, dimana rasa benci yang telah ia tanam padanya berada semalam. Dia tidak menemukannya, bahkan sedikitpun!

Sampai pagi menjelang dan dia terbangun dengan tidur memeluk Soojung hanya dengan selimut yang menutupi mereka berdua. Saat itu juga, dia marah dengan dirinya sendiri. Mengutuk dalam hati, bagaimana bisa dia begitu ceroboh dengan perasaannya semalam.

Sial.

Seketika itu juga dia melepaskan pelukannya, memakai pakaiannya dan pergi tanpa melihat sedikit pun kebelakang. Dia marah. Tapi kenapa sama sekali dia tidak merasa menyesal. Itulah yang membuat dia semakin marah dengan dirinya sendiri.

Melihat kejadian semalam, Minhyuk berpikir kalau Soojung pasti merasa sangat senang. Berpikir kalau dia sudah kembali saat pertama kali mereka bertemu. Bodoh. Jadi untuk mengingatkan Soojung, dia hanya melewati Soojung dengan wajah dinginnya ketika mereka berpapasan untuk menuruni tangga. Bahkan dia sengaja untuk tidak mendengar tawaran sarapan dari Soojung. Bermaksud bahwa kejadian semalam tidak akan mengubah apapun. Tidak berarti apapun. Itu adalah kesalahan.

Kang Minhyuk mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah. Dahinya berkerut bingung, sadar, kenapa rumah tampak begitu sunyi. Dimana ahjumma yang selalu menyambutnya dan memberitahu tentang Minkyung.

Minhyuk mengurungkan niatnya memasuki kamar kakaknya, ketika melihat pintu belakang menuju taman terbuka lebar yang bisa ia lihat dari sudut matanya. Kakinya langsung bergerak menuju taman belakang, dan dia tersenyum ketika mendapati Minkyung tengah duduk di bangku taman ditemani pelayan Choi yang sedang menyelimuti pangkuannya dengan selimut tebal dan memakaikan jaket rajutan hangan padanya.

Seakan menyadari Kang Minhyuk, pelayan Choi memalingkan wajahnya untuk melihat Minhyuk, dia membungkuk dan menyambut Minhyuk. Ketika Minhyuk mendekati kakaknya, pelayan Choi terlebih dulu menghalanginya. Dia memasang wajah menyesal, berkata, “Perasaannya sedang tidak baik sekarang. Dia menangis sedari siang, bahkan dia mencampakkan makanan dan obatnya.”

Kang Minhyuk mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih pada pelayan Choi sebelum pelayan Choi meninggalkan mereka.

Noona, ini aku Minhyuk.” Sapa Minhyuk ketika lembut berjongkok di depannya dan meremas pelan tangan kakaknya.

Mata Minkyung tampak kosong, perempuan itu tidak seperti biasanya, dia tidak bereaksi atas kedatangan Minhyuk.

“Minkyung noona?” Minhyuk merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin, lalu kembali meremas tangan kakaknya, “Ada apa, Hmm?”

Tiba-tiba air mata mengalir dari pipi perempuan itu. Semakin deras dan semakin deras.

“Maafkan aku…” Minkyung berbisik lirih, “Maafkan aku, Yonghwa….” tangisnya semakin keras dan dia terisak-isak.

Minhyuk mengernyit pedih dan menggenggam tangan Minkyung erat-erat, “Noona… Kenapa kau meminta maaf… Dia yang membuatmu seperti ini, seharusnya dia berlutut meminta maaf padamu.” Kesal Minhyuk bercampur bingung.

Apa maksud kakaknya?

Tetapi Minkyung tak mendengarkan Minhyuk. Bahkan tangisannya semakin menjadi. Minhyuk berganti posisi menjadi berlutut. Minhyuk berpikir kalau kakaknya pasti sedang mengingat kejadian malam itu, kejadiaan saat dia bertengkar dengan lelaki sialan itu yang membuatnya menjadi seperti ini.

Dia memahaminya karena Psikiater yang menangani Minkyung mengatakan bahwa akan ada fase di mana Minkyung akan mengingat semua kenangan buruknya. Akan ada fase lain dimana Minkyung seolah-olah ‘kosong’ tanpa ekspresi dan tanpa emosi. Dan akan ada fase dimana seluruh emosi Minkyung meledak dan dia mengamuk, berteriak-teriak tidak jelas, seperti waktu itu. Saat disemua orang tertidur dalam lelapnya, Minkyung menjerit-jerit yang membuat Minhyuk ketakutan karena Minkyung bisa saja melukai dirinya sendiri. Fase yang paling menyedihkan adalah ketika Minkyung mengingat kenangan buruk yang penuh darah pada kecelakaan itu dan kehilangan bayinya, yang membuatnya Minhyuk tak tahu harus berbuat apa selain memeluknya penuh kasih.

Kang Minkyung menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sampai tubuhnya berguncang-guncang. Minhyuk tak tahan melihatnya, dia memeluk kakaknya dan membiarkan perempuan itu menangis di dadanya. Tangisan Minkyung selalu membuatnya merasakan kesakitan yang amat sangat, seolah jantungnya dicabut paksa dan rongga dadanya dipaksa kosong.

Dan tangisan Minkyung telah menghancurkannya sedikit demi sedikit, menumbuhkan dendam yang tak bertepi, yang mendorong Minhyuk sampai di batas nuraninya dan berbuat kejam pada Soojung. Minhyuk memejamkan matanya dan kenangan malam itu membanjirinya lagi, kenangan bagaimana kakaknya berlumuran darah yang masih menghantuinya sampai saat ini.

***

Yang dilakukan oleh Soojung pertama kali adalah mencari informasi. Dia memasuki ruang kerja Minhyuk diam-diam, yang untungnya tidak dikunci. Dia memastikan bahwa pelayan Kim tidak berada di sekitar mencurigainya dengan cara dia memasuki ruang kerja Minhyuk diam-diam.

Tunggu. Soojung berpikir sejenak, buat apa dia diam-diam dari pelayan Kim. Sebagian besar dia juga tuan rumah di rumah ini, apalagi dia istri Minhyuk. Tidak akan ada mencurigainya hanya dengan memasuki ruang kerja Minhyuk. Dia hanya harus berhati-hati dengan Minhyuk. Tapi tetap saja, mengingat bahwa pelayan Kim sudah bekerja lama dengan Minhyuk bisa saja dia melaporkannya pada Minhyuk.

Mengingat Kang Minhyuk yang pulang selalu hampir tengah malam. Soojung melihat jam dinding yang terletak di sebelah kanannya, pukul delapan malam. Hanya tersisa beberapa jam untuk Soojung menemukan sesuatu disini. Dan dia harus cepat.

Sejenak Soojung berdiri ragu sambil menatap ke sekeliling ruang kerja Minhyuk yang besar dan luas, dengan dominasi kayu minimalis yang maskulin. Di sudut ruangan terdapat rak besar yang berisi buku-buku tebal, sedangkan ada meja besar yang melintang tepat berada di depannya yang terletak di tengah ruangan dengan lemari kaca berukuran sedang berada di sisi kanannya. Dia baru menyadari, tidak ada satupun foto yang terpajang di dalam ruangan ini. Satu-satunya yang terpajang di dinding hanyalah jam dinding dengan ukuran yang tak terlalu besar. Sama halnya dengan ruangan yang lainnya, bahkan ruang tengah juga tidak ada satupun foto yang menampakkan pemiliki rumah, hanya ada lukisan abstrak besar yang terlihat ketika membuka pintu utama.

Jung Soojung menimbang bagian mana dulu yang harus dia periksa. Tapi kemudian dia melangkah menuju meja besar yang berada di depannya dan memeriksa laci-lacinya yang masing-masing terletak di dua sisi meja itu. Soojung hanya berharap bahwa laci-laci ini tidak terkunci.

Tetapi apa yang dia bayangkan tak semudah apa yang dia lakukan ketika dia mencoba membuka laci pertama yang ternyata terkunci. Dengan perasaaan kecewa, Soojung mencoba membuka laci yang lain. Sama halnya dengan yang pertama, laci yang kedua juga terkunci.

Dia mendesah dan menghela napas kesal. Berjongkok mengusap wajahnya. Masih berusaha untuk tidak menyerah, Soojung kembali mencoba membuka laci-laci yang lain. Tetapi percuma karena semuanya terkunci.

Sekarang apa yang harus dia lakukan?

Lalu dia berdiri, menggigit bibir bawahnya, berpikir sambil mengetuk-ketukkan jari telunjukknya di sisi tubuhnya sebelum merubah posisinya menjadi satu tangannya berkacak pinggang sedangkan satu tangan yang lain berada di dahinya. Pantas saja pintu ruang kerjanya tak terkunci. Ternyata Minhyuk sudah mengamankan semua barang-barangnya terkunci rapi di dalam laci.

Mata Soojung kembali melihat ke sekeliling ruangan, selain laci meja besar yang berada di depannya. Sampai matanya terhenti pada satu objek kecil berwarna putih yang berada di bawah kolong nakas di dekat rak buku. Di buru-buru mendekatinya, dan kembali menggigit bibir melihat kondisi kertas yang berada di ujung kolong dengan sofa tunggal untuk membaca menghalinya.

Soojung membungkukkan tubuhnya, satu tangannya bertumpu pada nakas untuk menopang tubuhnya sedangkan satu tangannya mencoba menggapai ujung kertas tersebut. Dia berusaha menariknya, meskipun agak kesulitan karena menjaga tubuhnya agar tidak menyenggol lampu hias berada di nakas. Tapi gerakannya malahan membuat kertas itu sedikit masuk ke dalam.

Dia mendesah, kembali menegakkan tubuhnya, dia membutuhkan sesuatu untuk menggapai kertas itu. Dia kembali ke meja kerja Minhyuk dan mengambil sebuah penggaris yang cukup panjang , lalu dia kembali ke nakas. Sedikit demi sedikit usahanya membuahkan hasil, saat menurutnya sudah cukup untuk bisa dia mengambil kertas itu, dia dengan cepat membungkuk dan memungut kertas tersebut.

Romantis.

Itulah yang terlintas dalam pikiran Soojung saat melihat kertas yang ternyata foto dari sepasang manusia yang terlihat bahagia. Dia tertegun bagaimana lelaki di dalam foto tersebut mencium mesra pipi perempuan disebelahnya yang tampak terkejut dan mengalungkan lengannya di leher lelaki itu. Sakit, betapa sakit hatinya melihat itu yang mengakui bahwa lelaki itu adalah Minhyuk, ia suaminya, Kang Minhyuk.

Lututnya terasa lemas. Tangannya juga gemetar, lalu kemudian dengan perlahan membalikkan foto tersebut.

‘My Precious life, M.K.’

Nyawanya?

Perempuan ini adalah nyawanya? Lalu apa aku?

Rasa sakit yang menciptakan buliran-buliran air di pelupuk matanya, mengalir begitu saja ketika Soojung mengedikan matanya pelan. Disusul dengan tetesan air mata selanjutnya. Namun kemudian, Soojung ingat dengan janji untuk dirinya sendiri yang tak akan lagi di kuasai oleh air mata. Jadi dia menghapus air matanya dengan asal dengan punggung tangannya, walaupun dia bisa menghapus air mata, tapi dia tidak bisa menghapus perih yang terasa di hatinya karena ini.

Lalu dengan cepat berbalik untuk meninggalkan ruang kerja Minhyuk. Semakin lama dia disini, mungkin semakin itu pula di tidak bisa mengendalikan perasaan sakitnya. Belum sempat dia meraih kenop pintu, Minhyuk sudah duluan memutar kenop pintu dan membuka pintu mendahuluinya.

Soojung berdiri di tempat, membeku. Hati dan otaknya sangat terkejut melihat Minhyuk yang tiba-tiba datang. Jantungnya berdetak cepat bukan karena melihat orang yang ia cintai, melainkan seperti pencuri yang tertangkap basah.

“Apa yang kau lakukan disini?”

To be continue….

 

Preview Part Selanjutnya.

“Jadi benar-benar tidak ada kesempatan untukku lagi, Soojung.”

“Aku hanya berharap oppa bisa membantuku.”

“Apapun akan kulakukan, untukmu.”

“Kau sangat cantik malam ini.”

“Dan aku sungguh tersanjung dengan kebohonganmu.”

Dia tertawa.

“Aku berharap, aku bisa membalas lebih dari apa yang kau lakukan padaku.”

“Jangan bermimpi.”

“Dan aku cukup yakin, ini lebih dari mimpi. Terima kasih, Kang Minhyuk, telah mengundangku dalam permainanmu.” Soojung tersenyum tipis yang membuat Minhyuk menghentikan gerakan dansanya.

“Minhyuk memiliki seorang kakak??!”

“Kenapa ada sesuatu yang mengganjal disini? Sebenarnya apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu?”

 .

 .

Halooo long time no seeee!!

Seperti yang saya janjikan di fanfic saya sebelumnya, saya update venom part 4. Akhirnya bisa selesai juga bagian ini walaupun masih dihantui sama part selanjutnya, hahaha. Maaf bener-bener maaf karena terlalu lama untuk update, semoga kalian masih ingat dengan cerita ini, dan semoga masih banyak yang menikmati cerita ini. Jadi, kalian sudah tahu bagaimana Minhyuk menjadi kejam, hahaha. Masih ada kejutan lain yang akan terjadi. Tunggu saja. Hahaha. Saya gak bisa janji untuk part selanjutnya untuk update cepat, karena takut akan jadi seperti ini lagi. Tapi tetep di usahakan secepatnya. Hehehehe.

Terima kasih banyak telah menunggu dan mohon tunggu untuk selanjutnya. Hihihi

Maaf typo bertebaran.. Jangan lupa komentarnya🙂

See you 🙂

35 responses to “[Chaptered] Venom (Part IV)

  1. maaf ya lamaaa, hehehe, selanjutnya saya usahain gak selama ini..😄
    ciee uda tahu masa lalunyaa..
    foto siapa kira2, hayoooo?? tebak2 buah mangga hahaha
    thank youuuu yoong🙂

  2. Minhyuk punya perasaan sama kakaknya? 😞.gak percaya kalau yonghwa yang gehamili kakanya minhyuk? Aku harap ada kesalah fahaman. Semangkin kesel sama sikap minhyuk ke soojung.tapi gomong-gomong kenapa kakaknya minhyuk tiba-tiba minta maaf gitu? Duh penasaran next chap aku tungguloh kakk

    • Haii minyoung.. Aku baca semua komenmu, aku bales disni aja semua yaa.. Hihihi boleh kok panggil aku mitha, kan emang itu namaku hahaha
      Thankyou uda mau milih tulisan geje aku ini,makasih juga komentarnyaa, penasaran ya sama minhyuk? Tungguin deh, pasti terjawab semua kok.. Hahahaa
      Salam kenal minyoung, dan semoga gak kapok bca tulisanku🙂
      Thankyouuuuu :*

  3. Great! Ini bener-bener bikin penasaran. Penasaran sama masa lalunya yonghwa dan minkyung, penasaran juga sama foto yang ditemuin soojung di ruang kerja minhyuk. Siapanya minhyuk tuh? Minkyung noona kah? Ah, pokoknya ini cerita keren. Soojung udah banyak menderita karena Minhyuk, kalo bisa sih bikin Minhyuk menderita abis dong biar dia ngerasain apa yang dirasain kle wkwkwk. Btw, i love your story. Update soon yaaaa ^^

  4. Cieeee… Mithayaaa mengurass emosii akunyaaa…
    Smogaaa minhyuk cepett sadarrr….
    Kssiann soojung huhuhuu

    Stalking mitha Jadi teringat sama temen penulis aku mithayaaa. Miripp deh sams mithayaa…Disela sela kesibukannya bekerja dia sempetin tuh nulis beberapa paragrap karya tulisnya. Disaat temen kerja yg laen ngeluh krna kerjaan yg gak kelar..tapi temen aku nyempetin buat nulis story.. Wahh daebak…
    Geleng kepala dehhh…aku memperhatikan dari belakang meja kerjanyaaa..,

    Ditunggu karya tulis nya yaa mithayaaa
    Dalam bentuk bukuu.
    Fighting
    Ditunggu chap slanjutnyaaa

    • who are you?
      do you know me?
      kenapa sepertinya aku kenal sama kmu *lah hahahaha

      tapi kalimat ‘aku memperhatikannya dari belakang meja kerjanya’ buat aku yakin aku kenal kmuuu
      siapa sih? *kepo mode on hahaha

      tapi maksih uda mau baca ceritaku, dan komennya 😃
      bentuk buku??
      aamiin ya Allah, semoga bisa.. hehehe
      thankyouuuu 😆😆

  5. hallo authornim
    semoga cepet debyaa lanjutannnyaa aminnn
    kayaknyaa cewek yg di foto itu kakak minhyjk deh iyaa kagaa sih? wkwkwk
    terusa lanjutannya mungkin doo joon oppa pengen bantu soojung tapi soojung dengn tegas bilang kalo dia cuma anggepnyaa sekedar oppa
    minhyuk bakalan liat soojung balik bales perlakuan minhyuk wkwkwk dan msalah yong oppa kayaknyaa kakaknya minhyuk itu sbenernya bukan dihamilin sama yonghwa atau kakaknya minhyuk yg jebak yonghwa biar bisa dapetin hti yong oppa?
    dan lagi yg aku tunggu bgt tuh penysalan minhyuk yg bakalan kalah karena dendamnya sendiri, dan baru sadar kalo ia bener bner cinta samaa soojungie. abianyaa minhyuk tuhbjahat bgt aama uri soojung yg gatau apapa.
    tapi tetep authornim masih berharap bakalan happy ending dan tetep hyukstal hehehe. suka bgt sama karakter soojung diaini, gadis yg bener” kuat dan tegarrr
    semangat terus authornim hehhe ohiyaa eonni, caranya minta buat poster sama kak leeya itu gimanaa eoni? gomawoyooo eonni semoga di respon yaa eonni

    • simasimi thankyouu uda baca dan komen yg daebak!!
      semua yg kamu bilang bakal terjawab di part2 selanjutnya yaa.. hihihi
      siapa yy di foto, siapa yg buat kakaknya minhyuk jadi gitu, sama penyelasan minhyuk. aku juga pingin liat ituuuu.. hehehehe

      oh iya masalah request poster sama kak lia ya, kamu bisa kunjungin ke blognya langsung, tanya lewat akun yg dia cantumkan di blognya bagian pw.. okeh sim? 😁

      thankyouuuu 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s