[ONESHOT] What’s Wrong?

 photo whats wrong_zpsdiolnigb.jpg

| What’s wrong? |

| Kim Liah |

| Oneshot |

| Kim Hanbin, Park Jiyeon |

| Kim Bobby, Song Mino |

| Romance, Fluff, Teen |

| PG-17 |

| Warning: Kejadian dalam Fanfiksi ini hanya fiktif belaka. Bila terjadi kesamaan, itu hanya kebetulan. No plagiarism. Be carefull of typo(s) |

.

.

.

Dua buah chocolatte serta choco tiramisu tertata rapi disebuah meja yang tepat terlihat jelas dari ujung jalan. Café itu nampak ramai pengunjung, kebanyakan adalah pasangan kekasih yang sedang berkencan disana. Gadis berambut coklat panjang itu menompa dagunya dan memainkan bubble yang ada di cangkir chocolate-nya.

Well, ia memang bosan melihat pria berambut jabrik didepannya yang tengah asik bercengkrama heboh dengan pria bermata sipit yang tak lain adalah orang yang paling ia benci. Selalu seperti ini, jika berkencan dengan pria bermarga Kim ini. Kencan itu hanya berdua, tapi kali ini berbeda, bertiga dan parahnya lagi orang ketiga itu adalah pria.

Mendua? Bukan, ia sangat setia kepada Hanbin, ia tak mungkin menghianati pria yang lebih muda darinya itu. Jangankan menghianati, melirik pria disebelah Hanbin saja ia enggan. Mungkin salahnya juga karna menjalin hubungan dengan bocah seperti Hanbin. Harusnya ia mengencani pria yang lebih matang dalam segala hal, Jinwoon mungkin. Bahkan tetangga Hanbin itu lebih cool daripada Hanbin, namun sayangnya pikiran dan hatinya sudah terkontaminasi segala hal yang berbau Kim Hanbin.

“Kurasa kita memang harus mengikuti festival itu” Bobby nampak berbinar-binar dan bertekad bulat “Kita pasti bisa mengalah rapper itu”

“Tentu saja Bobby-a, jika kita bersama pasti rapper manapun tak akan mampu menandingi kita” sahut Hanbin seraya berhigh five dengan Bobby.

Jiyeon tersenyum mencibir “Bersama? Tak tertandingi? Yaa memangnya kalian itu kembar siam hah hingga apapun harus berdua? Dan apa tadi tak tertandingi? Mendengar rap kalian saja telingaku mau pecah” ia bangkit berdiri melangkah pergi meninggalkan Bobby dan Hanbin yang bersikap biasa saja seolah kemarahan Jiyeon adalah hal yang lumrah.

“Sepertinya kekasihmu sedang datang bulan” Bobby menyendok tiramisu didepannya “Keundae apa ucapannya tak keterlaluan Hanbin-a?”

Hanbin menepuk bahu Bobby santai “Lupakan saja Bobby-a, hormonnya sedang meningkat” ucapnya acuh.

“Wah jincha, kita memang tak salah mengikuti festival ini Hanbin-a” mata Bobby berbinar mengamati penampilan seorang rapper yang akan menjadi saingannya dalam festival rapper ini “Dan dia cukup hebat” ia menunjuk peserta yang tengah melontarkan kata-kata dengan kecepatan yang tak terduga.

“Jangan berpuas hati Bobby-a, lawan besar kita disana” Hanbin menunjuk seorang pria maskulin yang tinggi tegap dengan tampang sangar.

“Argh, Song Min Ho” Bobby menoleh kepada objek yang membuat setiap wanita meleleh dengan gaya maskulinnya “Keundae Hanbin-a” ia menoel bahu Hanbin, dimana dia sedang focus pada penampilanrapper berambut pirang diatas panggung.

“Wae? Aku sedang menganalisis kemampuan rapper itu” jawab Hanbin acuh tanpa sedikitpun melirik Bobby.

“Aku rasa aku melihat kekasihmu yang pemarah itu”

Hanbin mencibir tak percaya “Jangan bercanda Bobby-a, mana mungkin Jiyeon noona sudi singgah ke festival seperti ini. Apa kau lupa apa yang dia katakana lusa? Dia bilang rap kita …” belum sempat Hanbin menyelesaikan kalimatnya, tangan Bobby memutar kepalanya hingga dengan jelas ia bisa melihat seorang wanita tengah berada dalam rangkulan seorang pria yang sangat ingin ia kalahkan.

“Dia Jiyeon noona, kan?” Bobby menggeleng hebat “Hay penampilannya sexy sekali” disana Jiyeon tengah mengenakan blouse hitam seperempat dada dimana memperlihatkan perut datarnya, tak lupa riasan yang begitu mencolok membuat aura sexy-nya semakin kentara “Dan lihat tangan Mino. Ckckcck, sungguh tak pantas” Mino melingkarkan tangannya dengan mesra dipinggang Jiyeon.

Hanbin menyipitkan matanya lalu mengedipkannya menandakan ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Noona-nya tak pernah berpenampilan seperti itu, dia lebih sering bergaya casual dan tak ada unsur feminim sedikitpun. Bahkan ia juga tak pernah sekalipun melihat Jiyeon bersama pria lain selain dirinya, atau mungkin ia saja yang terlalu acuh hingga tak pernah memperhatikan siapa saja yang dekat dengan wanitanya itu.

Seorang MC nampak mendekati Mino begitu penampilan peserta bernomor 9 itu selesai. “Wah bukankah juara kita sangat beruntung sekarang? Ada wanita cantik disampingnya sekarang” ia melirik Jiyeon yang nampak tersipu malu “Bagaimana kalau kau perkenalkan kekasihmu yang cantik ini kepada penonton dengan rap amazingmu itu Mino-ssi?” sarannya.

Mino menatap Jiyeon dengan tatapan menggodanya “She is Park Jiyeon. My future nampyeon. My everlasting love, the only one rushing on my life” ia ucapkan kalimat itu dengan gaya rap-nya yang diakhiri dengan berlutut dan mencium punggung tangan Jiyeon.

“Daebak, romantic sekali kalian. Geurae kita berlanjut ke peserta selanjutnya, peserta no 10” seru MC itu heboh.

“Yaa kau membuat blush on-ku semakin memerah” Jiyeon menyembunyikan wajahnya dipundak Mino.

“Yeppeo” Mino mempererat genggamannya ditangan Jiyeon.

“Yaa Hanbin-a kajja, giliran kita” Bobby menarik Hanbin yang masih terpaku melihat Jiyeon dirayu dan bermesraan dengan Mino “Hanbin-a, kita sudah dipanggung sekarang. Sampai kapan kau mau termenung seperti ini. Ingat tujuan kita, mengalahkan juara hebat itu” ia melirik Jiyeon yang masih nyaman bersandar dibahu Mino “..dan mengambil kembali noona sexy-mu itu” bisiknya pelan dan kembali memampang senyum begitu melihat para penonton bergunjing menunggu penampilannya dan Hanbin.

Hanbin semakin geram mengamati betapa betahnya Jiyeon bersandar di bahu Mino, padahal ketika dengannya saja mereka sama sekali tak ada interaksi mesra seperti itu. Ntah ia yang keterlaluan atau Jiyeon yang tak tahu diri dengan statusnya yang masih menyandang sebagai kekasihnya.

‘Your sneakers under your thin ankles.

A perfect harmony with your denim skinny jeans.

Under your slightly big cardigan.

Your falling, long, straight hair is so pretty.

Your shy eye smile, the look on your face.

When you space out, It all looks so pretty to me, it makes my heart tremble’

Hanbin muntahkan kalimat-kalimat yang spontan terkoar dikepalanya sambil mendekati Jiyeon yang masih berada dalam sandaran bahu Mino. Ia tak peduli dengan tatapan aneh dan garang Song Mino, ia hanya terfokus pada noona kesayangannya yang sekarang berada dalam rangkulan pria lain.

‘Noona, my sweety noona

You’re my primadona

Imma your dongsaeng, your love

I sang love song to pour flavour’

Bahkan ia menarik Jiyeon hingga jatuh dalam pelukannya, sontan saja Jiyeon shock terlebih lagi ia merasa tak asing dengan suara rap yang membuatnya geram itu. Parfum khas percampuran wood dan mint ini, tak salah lagi, ini aroma yang sering ia rasakan jika sedang bersama Hanbin.

‘You’re my type,

Even if you don’t say anything, I have a feeling

From your head to your toes, everything

You’re my type’

Bobby kembali menarik Jiyeon sedikit menjauh dari Hanbin maupun Mino yang tengah beradu mata. Ia memberikan back hug sambil menyanyikan rap-nya tersebut.

Sungguh Jiyeon terkejut melihat tingkah Hanbin dan Bobby yang membawa-bawa dirinya segala. Terlebih lagi ada Mino disana, pria yang sejak lama menautkan hatinya padanya. Ia tersenyum datar menanggapi riukan tepuk tangan dari para penonton dan kembali menghampiri Mino.

“Berikan tepuk tangan lagi untuk peserta no 10, penampilan sungguh wow. Baiklah kita ke peserta selanjutnya” ucap MC yang membuat penonton mengalihkan pandangannya kembali ke atas panggung yang sudah tak kosong lagi.

“Mino-a” Jiyeon tak sekalipun melirik Hanbin “Kajja, aku lelah berdiri” ia menarik Mino menjauh dari kerumunan penonton dan menuju sebuah bangku panjang di ujung taman dimana festival itu diadakan.

“Chakkaman Jiyeon-a, aku..” Mino sungguh tak rela dua peserta anak bawang itu seenak-enaknya menyentuh Jiyeon bahkan merayunya dengan rap mereka.

“Noona”

“Yaa Hanbin-a, acaranya belum selesai” tegur Bobby yang nampak terengah-engah mengejar Hanbin.

“Tepat sekali kau disini” Mino mengayunkan kakinya selangkah lebih dekat dengan Hanbin.

“Wah jincha, kentara sekali” gumam Bobby kagum melihat Mino yang tinggi tegap tak sejajar dengan Hanbin yang setinggi dirinya.

“Yaa Kim Hanbin” gertak Jiyeon.

Mino mengerutkan alis tebalnya “Kau mengenalnya Jiyeon-a?” tanyanya bingung.

Jiyeon tergagap, tentu saja ia mengenalnya, Hanbin adalah pria menyebalkan yang membuatnya mencari kasih sayang lain dari Mino.

“Eoh, dia kekasihku” Hanbin menarik Jiyeon ke sebelahnya.

Mino tertawa meremehkan “Leluconmu garing sekali, bocah” ia melirik Jiyeon seolah mencari kebenaran di wajah yang tertunduk itu “Dia berdusta, ne?” tanyanya.

“Eoh, mana mungkin aku mengenal bocah ingusan seperti dia” Jiyeon menepis genggaman Hanbin.

“Yaa noona, kebiasaanmu marah itu sekarang sungguh keterlaluan” timpal Bobby, kasihan sekali sahabatnya itu.

“Keterlaluan? Kau yang keterlaluan, Kim Jiwon” balas Jiyeon sambil menekan nama asli Bobby.

“Jadi mereka memang sudah menganggumu selama ini Jiyeon-a?” Mino mendorong bahu Hanbin hingga pria yang termenung sedih itu terpental jatuh ke dalam rengkuhan Bobby “Nyali kalian besar sekali hah! Carilah wanita yang sepadan dengan kalian” makinya.

“Sudahlah Mino-a, kajja” Jiyeon menarik lengan Mino untuk kembali ke kompetisi.

“Chakkaman” Hanbin sudah bangkit berdiri dan kini menahan pergelangan tangan Jiyeon “Kenapa kau seperti ini noona?” jelas sekali tatapan sendu itu diwajah datar Hanbin, ia sungguh terluka melihat Jiyeon tak mengakuinya.

Jiyeon menghela nafas panjang “Benar kata Mino, kau seharusnya mencari wanita yang sepadan denganmu dan bukan noona sepertiku Hanbin-a” ledeknya.

“Anni, kita sungguh setara noona. Kau .. hanya kau yang pantas menjadi wanitaku” ucap Hanbin dengan wajah mirisnya.

“Jeongmal?” Jiyeon melirik Bobby yang masih menepuk-nepuk jaket kulitnya yang kotor terkena debu lantai taman “Bukankah Bobby lebih menarik dariku?” tanyanya.

Bobby ternganga tak percaya, kenapa ia dibawa dalam permasalahan hubungan Hanbin dan Jiyeon. Hay, bukankah seharunya Hanbin membela diri. “Naega? Yaa noona, bercandamu tak lucu” tolaknya.

Mino mendengar dengan seksama percakapan Jiyeon dengan bocah yang lebih muda dengannya 2 tahun itu. Ia ingat Jiyeon pernah bercerita padanya bahwa dia pernah dicampakkan oleh pria yang lebih muda darinya hanya karna seorang pria lain.

“Eoh, kalian sungguh menjijikkan” maki Jiyeon, matanya sudah berkaca-kaca.

“Jadi dia bocah ingusan yang sudah mengacuhkanmu itu Jiyeon-a?” sambar Mino seraya menggenggam erat tangan Jiyeon untuk menguatkan wanita yang ia cintai itu.

“Noona” lirih Hanbin.

“Geumanhe Hanbin-a, aku lelah, aku sungguh lelah selalu menjadi patung yang menganggu hubungan kalian berdua” air mata Jiyeon benar-benar telah menetes membasahi pipi mulusnya “Ne, kau dan Bobby sungguh sangat cocok” tambahnya.

Mino menarik Jiyeon dalam dekapan dada bidangnya, membiarkan Jiyeon melepas semua bebannya. “Pergilah bocah, kasihan pasanganmu itu” ia melirik Bobby yang masih ternganga tak percaya mendengar penilaian hubungannya dengan Hanbin.

“Anni” kali ini Hanbin mendorong Mino hingga pelukannya dan Jiyeon terlepas, ia merengkuh kedua bahu Jiyeon “Dengarkan aku noona” ia menguncang bahu Jiyeon karna wanita itu malah berbalik mencemaskan keadaan Mino “Bobby itu tak ada artinya bagiku, aku normal, aku pria normal yang jatuh hati padamu noona” tegasnya.

“Matcji noona, aku juga normal. Aku tak tertarik pada pria flat seperti Hanbin” cibir Bobby.

“Geotjimal, jelas sekali dari mata mereka Jiyeon-a” Mino menghempas kedua tangan Hanbi dari bahu Jiyeon lalu berusaha menghapus air mata di pipi Jiyeon, namun sebuah pukulan mendarat diwajahnya dan menggagalkan aksi romantisnya itu.

“Hanya aku yang boleh menyentuhnya” Hanbin beranjak menghapus air mata Jiyeon dengan ibu jarinya namun ditepis oleh Jiyeon.

Jiyeon tertawa datar dan serak “Kau sungguh pantas menjadi pelawak Hanbin-a” ia mengambil jeda dan air matanya kembali luntur “Sejak kapan kau memperdulikanku? Sejak kapan kau peduli tangisanku?” ia menunjuk Hanbin dengan tatapan tajamnya “Kau… kau yang membuatku cengeng seperti ini. Kau yang selalu menduakanku dengan pria sipit itu “ teriaknya kesal.

“Aku? Kenapa aku lagi?” sambar Bobby tak rela kembali dibawa-bawa dalam masalah percintaan sahabatnya itu.

Hanbin nekat memeluk Jiyeon sangat erat meski Jiyeon berkali-kali berusaha menepisnya. Jadi semua salahnya? Jadi selama ini ia sudah berkali-kali menyakiti Jiyeon dan membuat noona kesayangannya itu menangis sendirian hingga terpikat bersandar kepada mino?

“Aku membencimu Hanbin, aku membenci…” ucapan Jiyeon tersendat ketika sebuah benda kenyal mendarat dibibirnya, Hanbin menciumnya, untuk pertama kalinya Hanbin memperlakukannya seperti seorang kekasih.

“Wow” gumam Bobby tercengang sambil melirik Mino dengan pandangan meledek.

Hanbin mengecup lembut bibir Jiyeon, ia curahkan segala perasaannya ntah rasa sayangnya maupun kekecewaannya pada dirinya sendiri yang sudah menyia-nyiakan noona kesayangannya. Ia melepas pautan bibirnya “Saranghae noona, jeongmal saranghae” dan ia kembali mencium Jiyeon lebih dalam dengan lumatan-lumatan hangat. Ia berjanji tak akan pernah menyakiti Jiyeon lagi, ia berjanji tak akan menduakan Jiyeon dengan Bobby maupun hobby rap-nya.

Mino mengusap darah diujung bibirnya dan tersenyum miris, ia tak percaya ia kalah oleh rapper anak bawang seperti Hanbin. Ia berjalan menjauh kembali ke acara festival rap meninggalkan Jiyeon yang sepertinya memang teramat bahagia bersama bocah ingusan itu.

“Yaa geumanhe. Bagaimana dengan festival itu? Kita bahkan belum mendengar pengumuman juaranya” teriak Bobby gelisah sekaligus jijik melihat dua orang bermesraan seperti itu didepannya.

Hanbin kali ini sungguh menghapus sisa air mata diwajah Jiyeon, ia melepas kemeja merahnya yang ia jadikan cardigan saja lalu memakaikannya ke tubuh Jiyeon. “Kau ambil saja hadiahnya jika kita menang Bobby-a” ia merangkul bahu Jiyeon dan mengajaknya pergi menjauh dari gema festival rap itu.

Be Sociable, Like and comment please!

.

.

.

Thankiess  Good Readers ♥♥♥♥

8 responses to “[ONESHOT] What’s Wrong?

  1. aaaa akhirnyaaaa hanbin-jiyeon kembali bersatu, dasar hanbin sukanya nyuekin jiyeon sih makanya jiyeon ngambek sampe kek gitu wahahaha

  2. HAHA…ngakak
    Suka sama scene dimana jiyeon menyalahkn bobby dlm hubungan Mereka.
    Dan reaksi bobby.. haha
    Makanya hanbin lain kali jngn abaikan keberadaan jiyeon.
    WKwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s