[TRILOGY] Evanesce -2nd

evanesce

Park Chanyeol | Original Character [Song Namna] | Byun Baekhyun

Romance | Comfort |Angst

[2nd]

JIHAN KUSUMA © 2015 [[1st published on pixiexoxo.wp.com]]

Note : No plagiarism please. This is truely from my brain. Just read and give opinion 🙂

warning

Kesadaran Namna yang tergolong sangat cepat dari perkiraan merupakan sebuah keajaiban kecil yang terjadi di dunia. Namun keajaiban tetap saja keajaiban. Keajaiban itu ternyata terlalu kuat untuk merenggut sebagian ingatan Namna. Ingatannya seperti puzzle dari kaca yang sudah terjatuh dan tersebar kesegala arah. Sebagian bisa menyatu, sedangkan beberapa yang lain belum mau merapat.

Chanyeol menggenggam segulung rangkaian bunga tulip yang sudah disirami minyak chamomille sehingga harumnya bisa tercium dari radius tiga meter. Lelaki itu terus berharap dalam hati agar sebuah keajaiban lain terjadi lagi. Siapa tahu setelah bangun dari tidur malamnya, Namna bisa mengingat segalanya dengan jelas lagi, ya, itu harapan mustahil Chanyeol.

Lelaki itu berjalan memasuki kamar inap Namna yang tidak pernah terkunci. Dia sudah menyiapkan senyuman paling tulus untuk menghadapi gadis itu, siapa tahu dia akan mengingat siapa aku begitu melihat senyumanku, itu harapan mustahil keduanya.

Tetapi pupus sudah. Keajaiban memang tidak terjadi setiap waktu, begitu pula Tuhan yang tidak selalu mau mendengarkan harapannya. Chanyeol terpaku, mematung diambang pintu usai melihat Baekhyun sedang menyuapkan sendok demi sendok bubur sayur kearah Namna.

“Chanyeol-ssi.” panggil Namna begitu menyadari kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba.

Secepat mungkin Chanyeol menurunkan rangkaian tulipnya. “H-hai…” sapanya canggung. Namna tidak pernah menyapanya dengan embel-embel ssi. Rasanya begitu aneh.

“Apa itu yang kau bawa?” tanya Namna sambil menunjuk rangkaian tulip yang tersembunyi dibalik tubuh Chanyeol. Sejenak, Baekhyun dan Chanyeol saling bertatapan. Tidak seharusnya Baekhyun mengambil kesempatan emas ini untuk mendekati Namna sekalipun gadis itu sedang lupa ingatan. Walau bagaimanapun Baekhyun tidak memiliki hak untuk merebut Namna kembali sekalipun dia masih memiliki rasa untuk Namna. Chanyeol adalah calon suami Namna yang sesungguhnya.

Chanyeol masih sabar untuk tidak menendang meja hingga terbalik kemudian melontarkan sumpah serapah menjijikkan kepada Baekhyun. Chanyeol sedang berusaha menahan emosinya. Sudah cukup Namna tidak mengenalinya, Chanyeol tidak mau gadis itu melihat sisi monsternya hanya karena rasa cemburu.

“Apakah itu bunga untukku?” tanya Namna seraya menuding rangkaian bunga digenggaman Chanyeol.

“Ini… ini bunga untukmu.” lelaki itu mendekati Namna kemudian menyodorkan bunga yang dia bawa. Namna tersenyum senang sambil menghirup bunga itu. Demi apapun, Chanyeol ingin sekali memeluk dan mencium pipi Namna yang merona, ya andai dia bisa.

“Harum… aku suka, terimakasih Chanyeol-ssi..”

“Baekhyun, aku sudah kenyang.” celetuk Namna.

Baekhyun kembali bangun dari lamunannya. Sepertinya dia juga sadar jika tak seharusnya dia mencuri kesempatan dalam kesempitan. Baekhyun jadi merasa jahat telah mengkhianati Chanyeol. Sesungguhnya Baekhyun ingin menjelaskan kebenarannya kepada Namna… namun dia tidak sanggup. Sulit rasanya menolak cinta yang telah kembali lagi padanya. Ternyata cinta begitu kejam. Cinta telah membuat Baekhyun kecewa dan diliputi rasa egois.

“Arra, aku tidak akan memaksamu makan.” lelaki itu menaruh mangkuk bubur keatas meja nakas yang dipenuhi oleh keranjang berisi buah-buahan.

“Aku ingin berjalan-jalan diluar… aku bosan disini. Pasti di luar sana sangat menyenangkan.” ujar Namna.

“Tapi kau masih belum benar-benar sembuh.” tutur Baekhyun, sementara Chanyeol terus menunduk sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku bisa pakai kursi roda.” bantah Namna. Gadis itu memang keras kepala dan sedikit… manja.

“Aku tidak mau mengambil resiko Namna-ya… sebaiknya kau diam disini dan katakan saja apa yang kau mau, aku akan berikan padamu.” rayu Baekhyun.

Hati Chanyeol terasa terbarkar hingga menghitam seperti arang. Chanyeol tidak percaya jika Baekhyun sengaja memanas-manasinya dengan cara bersikap manis kepada Namna.

“Ayolah. Aku ingin keluar.” bujuk gadis itu.

“Biarkan dia keluar.” potong Chanyeol dengan suara bergetar. Seketika Baekhyun langsung menuding Chanyeol dengan tatapannya yang seperti belati.

“Namna tidak bisa keluar. Dia butuh istirahat total.” tangkis Baekhyun.

“Apakah kau pikir terlalu lama menghirup udara AC bisa membuatnya cepat sembuh? Biarkan dia berjalan-jalan keluar.” untuk kali ini ucapan Chanyeol terdengar berbahaya.

Tiba-tiba Namna meraih pergelangan tangan Chanyeol. Gadis itu menggenggamnya dengan erat sampai-sampai Chanyeol merasa darahnya berdesir lambat ke jantungnya. Chanyeol merindukan sentuhan Namna. Denyut jantungnya berlomba-lomba seperti langkah kuda yang akan perang.

“Chanyeol-ssi… tolong bantu aku keluar. Aku ingin menghirup udara segar. Kau mau kan mengajakku?” Namna berkedip-kedip menampakkan puppy-eyesnya yang selalu bisa membuat hati Chanyeol tergoyahkan.

Untuk sejenak kedua saudara –tidak kandung- itu saling menatap. Menukar emosi satu sama lain yang sudah sama-sama membumbung tinggi. Mungkin, jika ini adalah sebuah peperangan. Pasti Chanyeol telah terlebih dahulu meraih pedang dan menusukkannya tepat di jantung Baekhyun. Pasti. Chanyeol tidak menyangka Baekhyun akan melakukan hal ini padanya. Menusuknya dari belakang? Jangan harap Chanyeol mau memaafkan Baekhyun sekalipun lelaki itu bersujud dan mencium kakinya.

Mata besar Chanyeol berakomodasi. Ada getaran emosi disana dan mungkin Baekhyun mengetahuinya. Perang batin itu ternyata cukup mampu menyulut kemarahan Chanyeol. ‘Aku akan mendapatkannya lagi.’ Kurang lebih kata-kata itulah yang diucapkan pandangan tajam Chanyeol.

“Chanyeol-ssi… kau mau kan?” Namna tidak berhenti mengguncang lengan lelaki –yang sesungguhnya mantan suaminya- itu. Kenyataan yang sangat pedih memang; Calon isterimu tidak lagi mengingat siapa dirimu. Dan parahnya ingatan perempuan itu malah tertuju pada seseorang yang ‘pernah’ kau benci. Mungkin untuk sekarang kata ‘pernah’ itu harus diganti dengan ‘sangat’.

Chanyeol berusaha menata lagi perasannya yang campur aduk. Pandangannya yang tadinya tajam menusuk langsung mengendur begitu terarah pada -mantan- calon isterinya.

“Aku akan mengantarmu berkeliling.”

 

“Um, Chanyeol-ssi. Menurutmu bagaimana Baekhyun itu?” tanya Namna sambil memutar-mutar sekuntum dandelion disela-sela jemarinya.

Ternyata cobaan yang harus Chanyeol lewati bukanlah hal yang ringan. Sepanjang perjalanan ke taman rumah sakit Namna terus bertanya hal-hal yang berkaitan dengan kisah cinta, pernikahan, dan kebahagiaan. Dan fakta menyakitkannya; pertanyaan-pertanyaan itu seluruhnya menjurus kepada Baekhyun. Berulang kali Chanyeol menghembuskan nafasnya yang terasa begitu mendidih begitu nama ‘bajingan’ itu disebut-sebut, sekalipun dari bibir perempuan yang sangat dia cintai.

“Baekhyun?”

“Iya, calon suamiku.” Sekali lagi. Sebuah pukulan dari imajinasinya sendiri telah membuat hati Chanyeol tersentil.

“Dia…baik.”

…baik dalam hal mengkhianati, membohongi, menjegal kakiku dari arah yang tidak pernah kuduga

“Lalu? Selain baik?”

“Baekhyun mirip seorang malaikat yang menolong orang-orang…”

…dan akan mengepakkan sayap merahnya lalu merampas hak yang sesungguhnya bukan miliknya

Chanyeol menahan untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Tidak mungkin jika dia menjelek-jelekkan Baekhyun dihadapan Namna yang notabenenya sedang lupa ingatan.

“Oh begitu ya…” Namna mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tampak semburat pastel di sudut pipinya yang semakin tirus seolah-olah pujian yang Chanyeol berikan juga berlaku untuknya. Chanyeol menahan air matanya untuk tidak tumpah. Dia sangat ingin memeluk dan membisikkan kata-kata cinta kepada gadis itu. Namun apalah daya? Apakah yang bisa dilakukannya saat ini? Ranya seperti terlempar ke lorong waktu menuju dimensi yang begitu jauh dari keadaan semula. Bagi Chanyeol, Namna adalah dunianya, nafasnya, segalanya. Dan untuk sekarang, Chanyeol benar-benar merasa hampa karena kehilangan Namna –secara tidak langsung.

Memang benar jika gadis itu disini, disampingnya, dan tersenyum padanya. Tetapi rasanya begitu jauh. Seperti sebuah pintu surga dijung lorong yang akan terus memanjang seiring langkah Chanyeol mendekat. Chanyeol jadi merasa telah ditipu oleh takdir. Baginya Tuhan telah menjajikan sebuah harapan palsu. Chanyeol sudah terlanjur senang akan menikahi Namna. Tetapi yang terjadi? Sungguh melenceng jauh dari ekspektasi Chanyeol.

“Lalu bagaimana dengan dirimu Chanyeol-ssi? Apakah kau sudah menemukan seorang tambatan hati. Kau tampan, mapan, dan berbudi baik. Tidak mungkin jika terus single di usiamu sekarang.” Namna mendongakkan kepala, melongok kearah Chanyeol yang sedang mati-matian untuk tidak menangis.

‘Orang itu kau Namna, kau. Apakah kau benar-benar sudah melupakan semuanya?’ jerit Chanyeol dalam hati.

Namun suara-suara hati itu ternyata hanya mampu teredam dalam perasaannya. Chanyeol tidak memiliki kekuatan untuk melontarkan semua kegelisahannya didepan Namna. Chanyeol tidak bisa membentak dan menyalahkan Namna masalah ‘mengapa kau bisa melupakan calon suamimu ini’ karena sesungguhnya kecelakaan itu memang murni kehendak Tuhan –yang jahat.

“Uhm, kalau itu… sesungguhnya aku sudah menemukan siapa dia.” Jawab Chanyeol sedikit ragu. Wajahnya memerah entah karena marah atau malu mengakui kesialannya sendiri. Yang pasti Chanyeol sangat ingin menyatakan kebenarannya kepada Namna.

“Wah jinjja? Pasti gadis itu sangat beruntung. Bukan begitu? Dia pasti sangat bahagia bisa mendapatkan hatimu.”

‘Iya Namna. Tidakkah kau merasa beruntung?’ jawab Chanyeol.

Tetapi untuk kali ini Chanyeol tidak kuat lagi mengeluarkan senyuman palsunya. Terlalu sakit. Bibirnya terasa melepuh ketika tersenyum.

Tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampiri Chanyeol dan Namna. Anak itu mengenakan seragam rumah sakit yang bercorak sama dengan yang Namna kenakan. Sekilas, wajah anak itu seperti perempuan. Namun dari postur dan potongan rambutnya sudah pasti jika dia laki-laki.

Anak itu berlarian sambil menggenggam sebuah gitar mini atau yang biasa disebut ukulele. Seorang perawat mengejar-ngejarnya. Perempuan dengan sanggul yang terlalu tinggi itu tampak memegang semangkuk bubur.

“Dong Shin! Ayo sarapan dulu. Setelah sarapan kita harus segera berkemas untuk pulang.” teriaknya kepada anak yang sepertinya hiperaktif itu.

“Tidak mau. Mainkah dulu sebuah lagu…!” seru si anak kecil sambil berlarian mengitari Namna dan Chanyeol. Perhatian keduanya tersita oleh bocah laki-laki yang kini sedang bersembunyi dibalik kursi roda milik Namna tersebut.

“Setelah kita pulang, Appamu akan menyanyikan lagu kesukaanmu Dong Shin-ah. Ayo sekarang makan dulu. Kau bisa sakit.”

“Tidak mau. Aku mau sebuah lagu!” jerit si anak kecil dengan keras kepala.

“Jika kau tidak mau makan, maka aku akan memaksamu. Orang tuamu bisa marah jika kau bersikap seperti ini-“

“Biarkan aku menyanyikan lagu untuknya.” tiba-tiba suara besar Chanyeol terdengar menengahi percakapan itu. Si anak laki-laki yang ternyata bernama Dong Shin itu melebarkan matanya kearah Chanyeol. Begitu pula dengan si suster yang rupanya tidak percaya dengan apa yang baru saja Chanyeol tawarkan.

“Paman mau menyanyikanku sebuah lagu?” tanya Dong Shin sambil bergerak mendekati Chanyeol. Anak itu mendongak untuk bertatap muka dengan lelaki tinggi dihadapannya. Namna ikut mendelik dengan pernyataan Chanyeol.

Lelaki tinggi bertelinga lebar itu bertekuk lutut kemudian mengusap surai bocah didepannya yang lembut seperti nillon. Senyumnya terasa menghangatkan suasana hati bocah laki-laki. Chanyeol mengangguk. “Asalkan kau mau menuruti perintah suster dan memakan sarapan. Kudengar kau akan pulang pagi ini. Apakah kau mau dirawat lagi di rumah sakit karena terlambat sarapan? Tidak kan?” kata-kata itu bagai terdengar dari bibir seorang ayah.

“Aku tidak mau Paman.” Jawab Dong Shin dengan patuh.

“Kalau begitu berikan ukulelemu dan santaplah makananmu.”

Chanyeol menoleh kebelakang, kearah suster muda dibalik punggungnya. “Tidak baik membentak anak kecil. Bisa melukai mentalnya.” tutur Chanyeol terdengar begitu bijak. Suster itu tergagap kemudian mengangguk kecil.

“Namna, kau juga mau mendengar suaraku?”

Chanyeol duduk di bangku taman yang ada disebelan pohon beringin bersama Dong Shin, si suster, tidak lupa dengan Namna yang melipat tangan, bersiap mendengarkan suara merdu Chanyeol yang –pernah- menjadi favoritnya. Namna pernah menyatakan kepada Chanyeol, jika suatu saat Chanyeol terkenal sebagai penyanyi dia akan menjadi fans terberatnya. Tentu saja itu dikatakannya sebeluk kecelakaan terjadi.

Jemari besar Chanyeol membelai senar dengan lembut, menyatukan nada-nada yang selama ini dia simpan rapih didalam kepalanya.

“Lagu apa yang ingin kau dengarkan Dong Shin-ah?” tanya Chanyeol sambil melirik lelaki berpipi balon disampingnya.

“Aku suka sekali dengan lagu buatan Appa. Aku ingin mendengarnya.”

‘Dasar anak kecil’ pekik Chanyeol dalam hatinya.

“Apakah kau hafal dengan lagu buatan Appamu? Bisa kau ajarkan kepadaku?” tanya Chanyeol masih dengan nada lembut.

“Um, aku tidak hafal. Yang pasti lagu itu sangat indah!”

Chanyeol memutar otaknya, sementara Namna terus diam menunggu kata-kata dari bibir Chanyeol. Mana mungkin Chanyeol bisa menyanyikan lagu yang bahkan belum pernah dia dengan sebelumnya?

“Bagini saja. Paman juga punya lagu ciptaan paman sendiri. Kau mau mendengar lagu itu? Aku yakin kau akan menyukainya.” Senyum Chanyeol.

“Paman punya lagu paman sendiri? Aku ingin mendengarnya!” Dong Shin bertepuk tangan tidak sabaran.

“Baik… baik… lagunya seperti ini…”

Petikan gitar dari jemari Chanyeol terasa membaur bersama angin sejuk di pagi itu. Chanyeol hafal betul bagaimana lagunya itu. Sejujurnya lagu itu adalah hasil karya dari dia dan Namna. Namna yang menuliskan puisi dan Chanyeol sebagai komposer. Di masa-masa mereka masih muda, keduanya suka sekali menyanyi berdua. Hingga jadilah lagu itu.

“Dirimu, hanya dirimu. Yang membuat terbuai dengan sebuah senyuman. Dirimu, hanya dirimu yang menghidupkan mesin dalam diriku, membuat emosiku bergejolak.

Dirimu, hanya dirimu. Yang meniupkan semangat dalam hari-hari buramku, meneteskan air di lumbung gersangku, dan membuat cintaku bernafas.

Asmaraku berdetak begitu mendengar suaramu. Senyumanmu layaknya matahari di malam hari.

Dirimu, hanya dirimu.”

Suster dan Dong Shin langsung bertepuk tangan begitu petikan terakhir terlepas dari ujung jemari Chanyeol. Wajah Dong Shin tampak ceria. Dia puas dengan nyanyian Chanyeol. Namun tidak dengan Namna. Gadis itu tampak mengerutkan dahi usai mendengar lagu yang sesungguhnya ikut dia buat. Kepalanya seperti tersengat sesuatu. Sakit.

“Paman. Ternyata paman juga ahli dalam membuat lagu. Suara paman juga sangat bagus! Apa judul lagu itu?” tanya Dong Shin.

“Judulnya-“

“Aku tahu judul lagu itu!” Namna memotong ucapan Chanyeol sesegera mungkin.

Gadis itu berusaha menahan rasa sakit dikepalanya. Gulungan film di ingatannya seakan baru saja jatuh dan menggelinding, membuat gambaran lamanya satu persatu terpampang.

“…itu lagu kita.”

TBC

 

Makasih buat komentar di chapter 1st. Han harap di chapter kali ini makin banyak yang baca dan banyak yang komentar😀 wkwk

No comment, no lanjut/?

One response to “[TRILOGY] Evanesce -2nd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s