[Ficlet] Unspokeable

Unspokable

Storyline by hinatsu
Starring Hansol Vernon Chwe (17’s Vernon) and Yoon Chayeon (OC)
Genre           :  Hurt/Comfort, Friendship
Length          : Ficlet (570 words)
Rating           : PG-13

.

.

Mengabaikan kepulan asap yang mulai menipis di atas mangkuk sup, pria itu berpaling—menatap jendela. Butiran air menghujani bumi, begitu deras hingga warna putih samar tercetak di antara megahnya gedung pencakar langit.

Langit serasa begitu larut, kendati waktu di jam tangan Vernon menunjukkan bahwa hari masih sore—belum waktunya bagi sang surya untuk digantikan dewi malam.

 

“Haha—bodoh,” lelaki itu mengutuk dirinya sendiri—bergumam layaknya orang gila.

 

Ah—bukan.

 

Mungkin memang ia sudah gila.

 

Perkara hati memang tak ada matinya, terlebih saat kau menaruh ekspektasi berlebih. Vernon melakukannya dan ia berakhir tragis—memesan semangkuk sup krim dan memerhatikannya seolah akan menjawab kegelisahannya.

 

Oh—Vernon?”

 

Atensi sang pria teralih pada kedatangan seseorang—basah kuyup diguyur hujan. Senyum manis mencairkan aura Vernon, paling tidak kurva kecil kini terulum di bibirnya seraya mempersilakan si gadis duduk.

 

“Chayeon, basah-basahan begini,” bariton itu tertawa kecil.

 

Sang dara mengacak rambutnya—berharap itu akan kering dengan embusan udara panas penghangat ruangan di depannya. “Apa boleh buat, ‘kan? Ekskulnya selesai lebih lama.”

 

Tertohok oleh kata-kata yang lolos begitu saja dari lisan Chayeon, pria itu meringis—merasa bersalah. Lari dari latihan basket bukan rutinitas yang seharusnya dilakoni.

 

“Maaf aku kabur duluan.”

 

Chayeon terkikik—dia menahan kalimatnya tatkala satu gelas latte hangat mampir ke mejanya. Menyesap lembut hangatnya aroma kopi—ia terlarut terlalu lama hingga melupakan presensi Vernon di hadapannya.

 

“Aku tahu. Sharon, ‘kan?” ucap sang gadis tiba-tiba.

 

Vernon menengadah. Manik pekat itu menatap milik sang gadis—lurus. “Maksudmu?”

 

Well—Sharon. Setidaknya itu nama yang selalu kau sebut saat berbicara denganku,” Chayeon berspekulasi. Jemari kanannya mengetuk cangkir latte—memecah suasana canggung yang mendadak tercipta.

 

Vernon tertawa—meringis salah tingkah. Pria itu kemudian menormalisasi raut wajahnya sebelum kembali menguasai keadaan. “Tidak, bukan karena Sharon,” ia menggeleng pelan.

 

“Jangan coba berbohong. Aku sudah mengenalmu sejak dalam kandungan, Tuan Chwe!” goda Chayeon.

 

“Baik, baik,” dengusnya.

 

“Sharon jadian dengan Jihoon tadi,” lidahnya berkata pahit—memaksa otaknya untuk menghapus memori buruk dari sudut ingatannya.

 

Chayeon mengangguk singkat—tersenyum tipis. “Aku tahu.”

 

Hening kembali membekap keduanya. Semilir angin tak mampu menembus pertahanan dalam diam yang diciptakan.

 

Chayeon menekuni aktivitas barunya—memandang buih latte yang perlahan hilang—senada dengan suara embusan napas tiap detik. Sementara Vernon tenggelam dalam kebisuan—entah apa yang sedang terjadi di tengkorak yang tertutup surai cokelat terang itu.

 

“Vernon, kau tahu aku—“

 

“—aku mencintainya, Cha. Sungguh.”

 

Frasa bertabrakan menjadi pemecah keheningan—walau tak sepenuhnya pantas.

 

Tersentak, sang gadis menarik kembali kata-katanya sekaligus menelan ludah. Dia belum mengatakan semuanya, tapi jawaban sudah diterima—dan kenyataan tak semanis krim latte-nya.

 

“Tadi kau—apa?”

 

Menggeleng, Chayeon membiarkan beberapa juntai rambutnya meninggalkan ikatan kuncir kuda—menggantung di dahinya sebagai helai tunggal. Melepas senyum termanisnya, gadis itu tak bergeming dari tempat.

 

Suara rintik sudah tak terdengar. Klakson mobil mulai bersahutan—lampu sorot telah menerangi jalan. Vernon meninggalkan mangkuknya yang masih penuh.

 

“Sudah dulu, ya, Cha. Sampai ketemu besok. Dah!”

 

Pria itu melambaikan tangan lalu berbalik—menghilang ditelan keramaian. Chayeon masih tetap di sana, netranya menatap kerumunan yang berlalu-lalang mengejar detik. Tangan kirinya masih tergenggam erat—melindungi kertas yang sudah lecek oleh air.

 

Sekali lagi sudut bibir gadis itu tertarik ke atas—tersenyum entah pada siapa. Ia meneguk latte dinginnya cepat, sebelum beranjak pergi—meninggalkan kehangatan di kursi sebagai bukti kehadirannya.

 

 

Well, rencana untuk menyatakan perasaan—dan nonton bersama—mungkin harus diundur.

 

-end

11 responses to “[Ficlet] Unspokeable

  1. Sedihnya dapet banget dan bahasa penuturannya endes banget, sukak :’)
    Dan aku suka bagian pas obrolan mereka tabrakan, spot banget part ituuuu.
    Endingnya juha okee.

  2. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA KA DELLAAAAAAA, YAAMPUN KATA KATA NYA MENYENTUH HATI(?)

    ajarkan aku menulis dengan layak seperti ini.. gakuat gakuatttt wkwkwkkw, yah Chanyeon nya sukak sama vernon yaa.. aaa ini nanclep bgt yaallah. sukakkkk :* :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s