I Knew You Were Trouble!

“Kau tahu, aku benar-benar bersyukur jadi orang yang hidup di zaman sekarang.”

Ivy tidak perlu menoleh untuk memastikan bahwa Jin tengah memasang ekspresi super bosannya yang tipikal. Ia telah hidup di bawah satu atap yang sama dengan laki-laki itu selama lebih dari 15 tahun (suatu hal yang membuat gadis-gadis seisi kampus gigit jari dan berteriak iri padanya), jelas ia telah memahami Jin lebih daripada yang orang-orang mampu bayangkan. Ivy mengerti betul kebiasaan-kebiasaan Jin, makanan dan warna favoritnya, obsesi aneh laki-laki itu pada Super Mario dan Disney Princess, serta titel awkward boy yang telah dengan mutlak disandangnya sejak lahir. Semuanya sudah gadis itu hapal di luar kepala.

Sesungguhnya, Ivy tidak pernah menaruh perhatian atau ketertarikan khusus pada Jin, tidak, tentu saja tidak, Jin pun juga begitu—ia rasa. Hal semacam itu hanyalah sesuatu yang Ivy anggap wajar-wajar saja, sebab, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, mereka bahkan telah saling mengenal selama lebih dari separuh hidup mereka.

“Memangnya kenapa? Bukannya zaman dulu itu justru lebih enak? Barang-barang masih murah dan udara masih segar.”

Ada jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya Jin kembali buka suara, “Aku tidak menyangka orang sepertimu belum menamatkan buku fisiologi.”

Kalimat jujur yang dilontarkan Jin barusan sukses membuat kuping Ivy spontan memerah, “Apa maksudmu dengan ‘orang sepertiku’?”

“Orang yang super rajin sepertimu.”

“Memangnya kenapa dengan orang super rajin sepertiku?” Ivy mulai tidak sabar.

Jin memutar bola matanya, “Aku heran kenapa orang super rajin sepertimu belum menamatkan buku fisiologi manusia, padahal sebentar lagi kita memasuki semester tiga.”

Selain hidup di bawah atap yang sama, Tuhan juga berbaik hati memberikan ‘bonus’ tambahan pada Ivy, yakni menempuh pendidikan di bawah bendera fakultas yang sama dengan Jin. Ivy tidak tahu harus menyebut kondisi ini sebagai keberuntungan atau bahkan kesialan. Jujur, ia memang membutuhkan laki-laki aneh itu untuk menjadi ojeknya setiap kali berangkat ke kampus, dan pergi ke fakultas yang sama jelas semakin mempermudah segalanya. Namun, di lain pihak, ia pun merasa hidupnya begitu menjemukan. Selalu, tidak di rumah, tidak di kampus, matanya dijejali sosok Jin, Jin dan Jin. Jin di sini, Jin di sana, Jin dimana-mana sampai-sampai seolah tidak ada spasi yang tersedia untuk diisi orang lain. Hah!

Awalnya, Ivy benar-benar skeptis, ia nyaris seratus persen yakin bahwa Jin tidak akan diterima di fakultas yang sama dengan pilihannya. Terang saja, sejauh yang ia tahu saat itu, Jin lebih sering meloloskan kuap dari sela bibirnya daripada menekuni buku-buku kumpulan soal ujian masuk universitas. Jin lebih sering mengganggu Ivy karena tertawa keras-keras saat menonton stand up comedy di TV daripada mengganggunya karena ingin bertanya tentang penyelesaian dari sebuah soal Fisika. Dan lalu, dengan seenak perutnya (dan wajah bangga sekaligus sumringah tiada tara), Jin tiba-tiba bilang kalau laki-laki itu telah mendaftar di Fakultas Kedokteran, sama dengan Ivy, tidakkah kalian pikir Ivy ingin tertawa sampai mati saat itu juga?

Tapi, ketahuilah, Tuhan selalu memiliki rencana di luar perkiraan manusia. Rencana yang bahkan tidak pernah tercetus di pikiran manusia sama sekali.

Ivy sama sekali tidak menyangka kalau nama ‘Kim Seokjin’ akan tertera tepat di atas namanya sendiri. Dengan jumlah nilai lima poin lebih tinggi daripada miliknya.

Kau dengar, Kim Seokjin yang itu, ya, Jin yang itu.

Dan itu adalah satu momen yang paling mencengangkan dalam hidup Ivy.

“Memangnya kenapa dengan buku fisiologi manusia?”

“Kau benar-benar belum menamatkannya, ya?” tanya Jin seraya menggelengkan kepalanya, heran. Ia lantas tersenyum miring seolah mengejek Ivy, senang karena merasa selangkah lebih maju daripada gadis di sampingnya itu. “Kalau kau sudah menamatkannya, kau pasti tahu maksud kata-kataku tentang mensyukuri hidup di zaman sekarang.”

Ivy mendesis, lantas memukul dahi Jin dengan gulungan kertas di tangannya, “Jangan bertele-tele dan cepat katakan apa maksudmu!”

Jin terkekeh ringan, menggoda Ivy selalu menjadi kegiatan favoritnya. Melihat gadis itu kehilangan kata-kata dengan muka memerah seperti itu adalah pemandangan yang sejak dulu tidak pernah membuatnya bosan.

“Kau pasti tahu perbedaan antara diabetes melitus dan diabetes insipidus, kan?”

Ivy mengernyitkan dahi, “Diabetes melitus adalah kondisi dimana seseorang mengalami defisiensi insulin atau berkurangnya sensitivitas dari hormon insulin itu sendiri. Kalau diabetes insipidus adalah kondisi dimana kadar hormon antidiuretiknya menurun, atau bahkan tidak terproduksi sama sekali.”

“Tepat.”

“Lalu?” Kening Ivy mengernyit semakin dalam ketika Jin bersikap seolah ia adalah seorang dosen yang tengah mengetes mahasiswanya. Menyebalkan.

“Bagaimana dengan gejalanya sendiri?”

“Sama-sama mudah haus dan banyak buang air kecil.”

“Bagaimana dengan urinnya?”

Ivy mendesah, tapi toh ia tetap menjawab, “Urin penderita diabetes melitus tentu saja terasa manis, sebab kadar glukosa yang berlebihan di dalam tubuh dikeluarkan lewat urin. Urin penderita diabetes insipidus tidak terasa manis karena kadar glukosa tubuhnya cenderung normal.”

Jin tersenyum, tampak puas. “Nah inilah yang sedari tadi ingin aku bilang. Kau tahu, pada zaman dulu, cara membedakan antara pasien penderita diabetes melitus dan pasien diabetes insipidus adalah dengan mengecap rasa urinnya. Kuperjelas lagi; kau HARUS MENCICIPI rasa urin pasienmu untuk mengetahui jenis diabetes apa yang tengah ia derita! Tidakkah kau merasa lega hidup di zaman sekarang?”

Apa?

Kalimat itu sukses membuat Ivy terhenyak.

Kenapa ia baru tahu tentang hal itu?

“Coba bayangkan bagaimana rasanya minum urin orang lain. Itu pun kalau kau langsung dapat merasakannya di percobaan pertama, bagaimana kalau tidak, kau—“

Ivy bergidik, “STOP! Jangan lanjutkan!”

Tentu saja Jin tidak mendengarkan.

“—pasti harus mencicipinya lagi dan lagi sampai ditemukan diagnosis yang pasti. Dan—“

Kalimat Jin terhenti saat telapak tangan Ivy membungkam mulutnya.

“Kita hidup di zaman sekarang, oke? Jadi, lupakan zaman dulu dan berbahagialah,” Ivy bertutur dengan nada mengancam dan sepasang mata melotot lebar.

Segaris senyum Jin adalah pemandangan yang pertama kali ditangkap netra Ivy begitu telapak tangannya menjauh dari mulut laki-laki itu.

Ew, apa-apaan senyum itu?

“Kau tahu, kalau sekarang kita sudah punya Uji Vasopressin sebagai penunjang pemeriksaan diabetes insipidus, dan pemeriksaan kadar HbA1c untuk diabetes melitus, aku rasa di masa depan kita akan memiliki macam-macam uji yang lebih canggih lagi.”

Sang gadis, yang mulai lelah menanggapi ocehan Jin, hanya mengangguk lemah. “Semoga kau jadi orang pertama yang menemukannya, Jin,” katanya asal.

Di luar perkiraan, dengan yakin, Jin mengangguk. “Tentu saja, aku bahkan telah menemukannya sekarang!”

“Apa?”

“Aku bisa mengetahui seseorang itu adalah pasien diabetes atau tidak hanya dengan melihatnya.”

Kali ini, sebuah kepalan tangan menoyor kepala Jin. “Berhenti bercanda dan pergi makan saja sana!”

“Aku serius,” tukas Jin kesal. “Aku bahkan tahu kalau kau adalah penderita diabetes. Ya, kau ivy, adalah seorang diabetisi! Kadar gula dalam tubuhmu sudah tinggi!”

“Apa!? Jangan bercanda!”

“Aku tidak bohong, aku benar-benar bisa melihatnya! Jelas sekali, bahkan tanpa perlu melotot, aku sudah bisa melihatnya!”

Ivy berusaha menemukan tanda-tanda kebohongan di wajah Jin, namun ia tidak menemukan apa-apa selain keseriusan di sana.

Gila. Benar-benar gila.

“Bagaimana kau bisa melihatnya? Buktikan!”

Gila, Ivy merasa dirinya gila karena masih perlu untuk menanyakan hal yang sangat tidak mungkin itu.

Dan senyum manis Jin terkembang lagi.

“Karena tidak seperti gadis-gadis lain, aku selalu merasa senyummu begitu manis. Semanis gula. Manis sekali. Sampai-sampai rambutmu tampak seperti arum manis dan sepasang matamu seperti bola-bola cokelat dan—“

Lagi-lagi, Jin belum sempat merampungkan kalimatnya, Ivy lebih dulu menendang tulang keringnya sekuat tenaga. “Argh, sialan kau, Jin! Sial, bagaimana mungkin aku tadi nyaris percaya kata-katamu, argh! Dasar playboy kampungan, awkward, dasar laki-laki garing! Katakan saja gombalan itu pada calon istrimu nanti!”

Seusai mengerang singkat karena rasa sakit yang ditimbulkan dari tendangan Ivy, Jin tertawa puas, merasa berhasil menyemarakkan kedua belah pipi Ivy dengan warna merah tomat. Ivy boleh saja mengutuknya habis-habisan, tapi toh ia tahu benar kalau gadis itu tengah malu setengah mati sekarang.

“Loh, bagaimana sih, kau kan memang calon istriku, makanya aku mengatakan hal itu padamu.”

Ivy geram. “Tutup mulutmu dan pergi saja sana! Jangan menggangguku! Hah, bagaimana mungkin sih ayah dan ibuku membiarkan makhluk sepertimu tinggal di rumah kami!”

“Tentu saja karena senyumku manis dan wajahku yang tampan ini, kenapa kau masih perlu bertanya?”

Tuhan, atau siapa saja, tolong tenggelamkan laki-laki menyebalkan ini, dimana saja, di rawa-rawa boleh, di kubangan pup sapi juga boleh sekali, di mana saja asal berjarak ribuan kilometer dari tempatku sekarang! Ivy berdoa dalam hati.

“Dengar, Ivy, aku benar-benar ingin kamu jadi istriku.”

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Jin menarik lembut pergelangan tangan Ivy, lalu meletakkan tangan gadis itu diantara kedua belah tangannya besar dan hangat.

Ivy terhenyak, apa-apaan cunguk satu ini?

“Sialan kau, Jin, berhentilah berbicara atau aku akan memanggil dokter untuk menjahit mulutmu!” bentak Ivy galak, berusaha menyembunyikan semburat merah yang dengan seenaknya menyembur di seluruh permukaan wajahnya lagi.

Tapi tentu saja Jin tidak mengindahkan kata-katanya.

“Aku serius. Kali ini aku serius. Ivy, tolong dengar aku.”

Sejauh yang Ivy ingat, tidak pernah sekali pun Jin berbicara dengan nada seintens ini. Biasanya percakapan mereka dipenuhi oleh hal-hal konyol dan cenderung kekanakan yang tidak membawa mereka kemana pun. Biasanya percakapan mereka tidak akan menimbulkan desir aneh yang kini begitu terasa di dalam dada Ivy.

Kemana perginya Jin yang biasanya awkward itu? Apakah cunguk satu ini tengah kerasukan sesuatu? Ivy bertanya-tanya dalam hati.

“Ivy, tolong dengar kata-kataku sekali ini saja.”

Hei, apa-apaan dengan mata yang mendadak melembut itu? Kalimat itu?

“Sebenarnya, aku ingin mengatakannya sejak lama. Aku … aku benar-benar ingin menikah denganmu, Ivy.”

Mendengar pernyataan seserius itu, Ivy jadi tersedak ludahnya sendiri, tak disangka-sangka wajahnya semakin memerah. Bagaimana mungkin Jin mengungkapkan hal semacam itu di saat seperti ini, eh?

Memang sih, kalau dipikir-pikir selama ini, kendati gadis-gadis seisi kampus seolah serentak mengagumi Jin, namun dari pihak Jin sendiri seolah tidak ada respons yang benar-benar ketara. Jin hanya balas tersenyum ramah dan membalas mereka sewajarnya, ia bukan tipikal laki-laki playboy, ia hanya laki-laki aneh yang kadang suka kepedean dan kelewat menyebalkan. Jin tidak pernah pergi berkencan, ia lebih senang melewatkan malam minggu bersama Ivy di rumah, menonton saluran TV yang membosankan, atau menemani gadis itu pergi berbelanja. Jin pun pernah merelakan waktu bermainnya bersama teman laki-lakinya begitu ia tahu kalau Ivy sendirian di rumah.

Ivy menelan ludah, mungkinkah?

Apa ada kemungkinan kalau Jin … Jin jatuh cinta pada Ivy?

Oh, sial, memikirkannya saja sudah membuat muka Ivy memerah lagi.

“Apa … Apa-apaan … itu?”

Oh, kenapa ia harus terbata-bata seperti ini. Ya, Tuhan.

Ivy akui Jin memang tampan, baik, dan …. Ah, sial, kenapa ia jadi begini?

“Apa … apa maksud kata-katamu barusan, Jin?”

Ivy, yang semula menunduk malu-malu, perlahan mendongak. Dan senyum polos milik Jin lah yang pertama kali menyambutnya.

Kepala Ivy sontak dibanjiri firasat buruk.

Ah, jangan bilang kalau …

“Kau tahu kan kalau tingkat kecerdasan seorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu, nah, karena Ivy adalah seorang gadis yang pandai, maka kalau aku yang cerdas menikah dengan Ivy, anak-anak kita akan pintar! Super duper pintar, bahkan mengalahkan Einstein! Bagaimana, bukankah itu terdengar sangat menggiurkan?”

Bersiaplah Jin, tampaknya sebentar lagi kau hanya tinggal nama.

 

___FIN___

Ah, kenapa ini jadi panjang banget gini :”

Maaf banget kalau garing, maklum pemanasan setelah lama nggak nulis, hehe. Sekalinya nulis lagi udah ganti bias aja, hihi, akhir-akhir ini emang lagi demen BTS❤ (telat ya? Hihi)

Yuks dikomen-dikomen yuks, fhay gaminta apa-apa yang memberatkan, cuma minta apresiasi berupa komen yang membangun, terima kasih🙂

Also posted on my private wordpress here

4 responses to “I Knew You Were Trouble!

  1. Lah Jin sialan. Akhir-akhir mikirnya bakal ngomong romantis ternyata….. Asdgfkgkhlj!!!!! Rajam ae Jin nya ke laut. hahahahahaha!

  2. Sempat deg2an pas Jin bilang “Sebenarnya, aku ingin mengatakannya sejak lama. Aku … aku benar-benar ingin menikah denganmu, Ivy.”. Aku kirain Jin bakalan ngelakuin sesuatu ke Ivy 😅😅 tapi ternyata tidak😟. Bagus fhay-ssi. Salam kenal 😊

  3. Suka thor ma ff nya greget ma seokjin jadi pengin nenggelemin ke rawa2
    Seokjin kesambet jin mana dah ngegombal nya gitu bgt
    Lanjutin dong thor..?
    Penasaran ma anak nya mereka berdua “lol”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s