HunHan

1450627101253HunHan
Sehun – Luhan
Angst
Teen
by grewlay

***

Bagaimana kabarmu? Yang mampu tertawa tanpa aku.

***

“Sudah bisa tersenyum. Sudah mulai terbiasa, ya?” Tanya Baekhyun seraya mengoleskan selai stroberry di atas rotinya.

“Tidak juga.”

“Profesional. Kau harus bisa menaikkan moodmu di saat seperti ini.” Petuah Chanyeol yang bahkan terdengar lebih bijak daripada Baekhyun.

Sehun menggerakkan matanya gelisah kemudian mengangguk kecil. “Kupikir, yang lain akan mengerti posisiku.”

“Semuanya pasti mengerti, apalagi setelah berita itu. Kami tidak memintamu untuk melupakannya, hanya saja, bersikaplah layaknya idol yang profesional. Jangan tunjukkan wajah surammu.”

Namun sayangnya, Sehun tidak sekuat itu. Ia goyah. Meskipun ia sadar kalau menangis bukanlah hal yang berguna. Mengutuk dan mengumpat juga tidak bisa mengembalikan Luhan yang mau berbagi sarung tangan saat di atas panggung.

Sehun menunduk dan memijat pelipisnya. Persetan dengan Baekhyun yang merasa sedikit terganggu dengan suara desahan berat yang berhasil lolos dari kerongkongan Sehun.

Kali ini, biarkan Sehun menumpahkan segalanya yang selama ini ia pendam sendirian.

“Hun,” Suho yang baru saja keluar dari kamarnya lantas menghampiri Sehun. Mengusap punggungnya yang terlihat lemah.

Kalau boleh jujur, Baekhyun benci keadaan seperti ini; mengingat kepribadian Baekhyun yang memang suka berisik. Tapi apa boleh buat? Kalau ia sampai membuat gaduh, Chanyeol berani jamin kalau Baekhyun akan mati di tangan Kai.

Perlahan, isakan Sehun mulai terdengar meskipun kecil. Lelaki itu menyembunyikan wajahnya. Bukan karena malu, ia hanya merasa sulit saat melihat wajah teman-temannya. Karena hal itu dapat membuatnya mengingat Kris, Tao dan juga Luhan. Atau mungkin lebih kepada Luhan.

Berat rasanya saat Sehun harus menerima kenyataan bahwa Luhan tidak lagi di sisinya, tidak lagi berbagi tawanya. Anggap saja ini yang terbaik untuk Luhan, tapi tidak untuk Sehun. Karena mencintai Luhan adalah sebuah kebutuhan pokok.

“Kalau kau mau membatalkan pemotretan hari ini, tidak apa-apa. Aku bisa bernegosiasi dengan manager agar mengundurnya beberapa hari.” Sebenarnya Suho sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang ia katakan karena mengundur jadwal tidak semudah mengunyah permen karet.

Sehun tetap bergeming. Isakannya semakin kencang namun suaranya teredam. Kalau sampai Sehun berani buka suara, Baekhyun yakin tangisannya akan semakin tidak terkendali.

“Buat keputusan sekarang, Hun. Percayalah, kami akan melindungimu.” Kali ini Yixing yang angkat bicara.

“Aku akan tetap melakukan pemotretan itu.” Ujar Sehun terbata kemudian tanpa pamit ia meninggalkan meja makan.

Mereka tahu dengan sangat jelas kalau Sehun sedang terpuruk. Ia rapuh. Dalam arti, kehadiran Luhan memang memiliki pengaruh yang besar untuk Sehun; entah dari segi semangat atau yang lainnya.

Sehun memasuki kamar kemudian menguncinya. Ia masih punya waktu dua jam untuk menenangkan hati dan pikirannya. Meski ia tidak bisa menampik fakta bahwa kesedihan itu masih terasa kentara.

“Hold my hand and never let me go.”

Sehun tersenyum miris saat mengingat kalimat itu.

Bukan. Bukan di situ letak permasalahannya.

Beberapa hari yang lalu, Sehun menjemput Yixing di bandara dan tidak sengaja bertemu dengan Luhan. Saat itu, tentu saja hati Sehun bahagia luar biasa. Mata lelaki itu bercahaya bagai bintang. Namun saat mata mereka bertemu, Luhan hanya menatap Sehun dengan datar kemudian melenggang pergi. Dan tanpa sadar, senyuman Sehun memudar seiring hilangnya Luhan yang ditelan keramaian.

Dihapusnya air mata karena itu hanya akan menyita waktunya. Sehun menatap wajahnya di cermin. Suram. Memang benar kata teman-temannya.

Enggan berlama-lama bersedih, Sehun akhirnya keluar dari kamar dan kembali menyantap rotinya; masih dengan mata sembab.

“Sudah merasa tenang?” Tanya Kai. Wajahnya memang terlihat cuek tapi sejujurnya ia sangat peduli.

“Tidak juga.” Jawab Sehun singkat. “Aku hanya perlu tahu kalau aku menyayanginya dan ia menyayangiku. Tidak peduli apa alasannya meninggalkanku.” Tambahnya.

***

Note:

Endingnya nggak greget. Ah, aku juga lagi malas, sebenernya.
Intinya, ini cuma edisi baper pas liat foto di atas. And then, aku males baca ulang buat nge-revisi kalimat yang agaknya kurang pas dibaca.

Hunhan never gagal buat aku nangis.
/dor /bahasainggriskacau /disepaksampaimars

Beteman yuk,
Line/Twitter: sulistyanitya
Wattpad: grewlay

7 responses to “HunHan

    • Aku juga baper kalo liat apa2 yang berbau hunhan. Bahkan sampe nangis /gaknanya.
      Kalau masalah reunian, kayaknya agak gimanaaa gitu. Kecuali kalo mereka reunian bedua aja.

      Galau berat mungkin. Coba aja bayangin kamu ditinggal sahabatmu. Rawr! Aku ditinggal jalan sama sahabatku aja udah marah2 kok, sampe kumaki2 dianya. Wkwkwk /curcol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s