Sausage

39558_original

Sausage

|| Hyun (OC) • Park Bogum (Actor) ||

***

“Gummie…”

Ia terkejut. Bogum, maksudku. Dia sedang duduk di kursi kerjanya, menekuni papan yang mengapit kertas-kertas yang merupakan catatan kesehatan pasiennya yang langsung disimpan begitu melihatku berada di mulut pintu sambil menenteng satu tas kecil yang berisi tiga kotak bekal.

“Waktunya makan siang, kan?” Tanyaku seraya melangkah masuk dan duduk di kursi yang biasa diduduki pasien yang datang untuk konsultasi dengannya.

“Ya. Bawa banyak makanan lagi?”

Walau jarang, Bogum senang sekali jika aku datang dengan membawa bekal. Mungkin semua orang juga sama, tapi Bogum suka sekali makanan rumahan dibanding makanan kantin rumah sakit yang sering kali cenderung hambar. Bogum juga bilang jika lidahnya sudah cocok dengan masakan Ibuku.

Aku membuka tas bekalku. “Ya. Kemarin Ibu belanja ke supermarket dan kalap karena sosis dijual dengan diskon besar. Alhasil kulkas kami tidak muat dan Ibu memasak separuhnya hari ini.”

“Sosis?” Tidak terlalu nampak, tapi aku bisa melihat ada binar di mata Bogum begitu aku bercerita sambil membuka kotak bekal paling besar yang berisi sosis saus teriyaki. Bogum memang berasal dari keluarga yang terbilang mapan, di usianya yang baru dua puluh lima sudah memiliki apartemen pribadi yang tergolong hampir mewah, tapi makanan kesukaannya sama sekali tidak menunjukkan kemewahan. Jajjangmyun, ayam goreng –dan segala olahan ayam lainnya, dan sosis.

Kubuka satu kotak bekal lagi yang berisi nasi dan kuberikan pada Bogum beserta sumpitnya. Setelah itu aku membuka kotak terakhir yang juga berisi nasi untuk diriku sendiri. Aku sengaja membawa lebih untuk Bogum. Ya… setidaknya aku punya alasan untuk mengunjunginya.

“Bagaimana? Enak?”

Bogum mengangguk beberapa kali. “Masakan Ibumu selalu enak,” katanya.

Ya. Walaupun cerewet dan suka berteriak, Ibu memang expert masakan rumahan.

“Oh, ya. Minggu depan aku ada ujian kualifikasi.” Waktunya memulai pembicaraan tentang tujuanku yang lain.

“Benarkah? Sudah memutuskan kualifikasi apa yang akan kau ambil?”

“Aku dan Jisoo memutuskan mengambil ujian kualifikasi jaksa.”

Sebagai sahabat yang bersama bertahun-tahun, tinggal bersebelahan, sekolah di SMA yang sama dan selalu satu kelas, kuliah di universitas dan jurusan yang sama –hukum, kami juga memutuskan mengambil kualifikasi yang sama yaitu menjadi jaksa. Aku dan Jisoo ingin menutup kemungkinan bersaing di kasus yang sama karena posisi kami berbeda, aku jaksa dan Jisoo pengacara, atau sebaliknya.

“Kalian benar-benar sehati,” komentar Bogum sambil menyuapkan satu potong sosis ke dalam mulutnya.

“Tidak juga,” bantahku. “Kau tahu berapa lama kami berdebat sebelum mengambil keputusan itu? Dua minggu.”

Kami banyak berbagi, cerita, rasa suka dan duka, apapun. Tapi kami juga banyak berdebat.

“Lalu bagaimana kalian memutuskan untuk menjadi jaksa?”

“Batu kertas gunting. Kalau aku menang, ambil ujian jaksa, kalau Jisoo yang menang, kami akan berusaha jadi pengacara.”

“Dan kau menang?” Bogum bertanya dengan nada yang ambigu yang kurespon dengan cengiran yang pasti sudah menjadi dugaannya. Bogum tahu sekalu bagaimana aku dan Jisoo bersahabat.

“Jisoo yang menang, tapi kukira dia curang dan kami terus melakukannya hingga aku yang menang.”

“Itu kau yang curang.”

Aku meringis lagi.

Aku cerewet dan Jisoo sedikit lebih pendiam. Untuk urusan berdebat tentang sesuatu yang tidak begitu penting, aku lebih sering menang karena Jisoo yang lebih sering mengalah. Tentang jaksa atau pengacara –walau lebih condong ke pengacara, Jisoo bilang tidak masalah menjadi apa. Toh intinya sama saja, menegakkan kebenaran.

“Emm, untuk ujian itu… boleh aku menumpang belajar di tempatmu lagi? Kau tahu aku tidak bisa konsentrasi belajar kalau di rumah.”

Inilah tujuan utamaku. Di rumah selalu berisik, Ayah dan Ibu selalu berebut remote dengan berisiknya, kakak laki-lakiku sama saja, bermain gitar di balkon lantai dua sambil bernyanyi keras-keras. Mana bisa aku belajar di situasi seperti itu.

Ini bukan pertama kalinya aku minta ijin untuk menumpang belajar di tempatnya, aku sering. Makanya sekarang Bogum langsung setuju. Mengangguk tanpa berpikir lagi.

“Datang saja kapanpun.”

Sudah kuduga. Pintu apartemen Bogum terbuka untukku kapanpun aku mau.

“Dua hari tidak masalah, kan? Pendaftaran ujian itu cukup mahal. Aku tidak mau gagal.”

“Selamanya juga tidak apa-apa. Selama kau betah.”

Aku tertawa. “Selamanya? Bisa-bisa Ibu menghebohkan tetangga dengan bilang kalau anak gadisnya hilang atau diculik dan dilibatkan di perdagangan manusia. Ibuku itu ratu drama.”

Bogum ikut-ikutan tertawa. Walau bukan sosok yang kaku, Bogum jarang sekali tertawa lepas begini. “Bilang saja kau ada di tempatku.”

Aku menggeleng. Menolak usulan itu. “Ibu sangat menyukaimu, Gummie. Kalau tahu aku sudah sampai tahap mau menginap di tempatmu, aku yakin Ibu akan segera menghubungi temannya yang merupakan wedding planner.”

Bogum tidak menyahut kata-kataku lagi. Hanya masih tertawa sedikit dan terus menikmati bekal yang kubawakan. Aku juga. Cepat-cepat menghabiskan bekalku karena jam makan siang Bogum tidak lama lagi. Pasien-pasien centil ‘sakit jiwa’ sudah mengantre hanya untuk bisa tebar pesona pada Bogum.

“Terima kasih makanannya. Ini sangat enak, seperti biasa,” komentarnya setelah kotak bekalnya tandas. Punyaku masih tersisa sedikit lagi.

“Syukurlah kalau kau suka. Nanti akan kubuatkan lagi saat aku ke tempatmu. Sebanyak yang kau mau. Asal kau punya bahannya saja.”

Bogum menampakkan wajah terkejut lagi. “Kau bisa masak?”

“Sedikit. Sebenarnya sosis ini aku yang memasak. Enak, kan?” Sombongku.

Tidak kukatakan sejak awal karena selama ini Bogum terpengaruh doktrin Jisoo yang mengatakan kalau sebagai perempuan, aku ini payah. Tidak bisa memasak, menggerutu saat diminta bersih-bersih rumah. Padahal aku kan tidak separah itu. Memasak ramen, telur gulung dan sosis aku bisa dibilang pintar.

“Enak,” pujinya. “Kalau kau bisa memasak begini, bukannya tidak masalah kalau Ibumu menghubungi wedding planner secepatnya?”

Tsk. Psikiater tampan ini. Dia sedang menggodaku?

“Beli kopi sana. Perut kenyang membuatku mengantuk.”

Aku mengusirnya. Tidak mau Bogum melihat wajahku yang memerah karena perkataannya. Wedding planner? Oh, Hyun. Jangan bayangkan dulu!

Fin!

One response to “Sausage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s