Flashback

Flashback

Flashback

|| Park Bogum • Hyun (OC) • Jisoo (Actor) ||

***

“Kau memang selalu curang. Pokoknya ulangi!”

Tidak ada yang bisa Jisoo lakukan selain mengalah. Sampai kapanpun, untuk urusan bermain video game, ia takkan menang dariku. Sering menang, memang. Tapi kurasa dia selalu curang untuk bisa mengalahkanku, makanya aku selalu minta tanding ulang. Terus saja begitu hingga aku yang menang.

Aigoo…” lalu Jisoo berdecak. “Apa nanti saat kau jadi jaksa atau pengacara, kau akan terus mengajukan sidang ulang setiap kali kau kalah dalam kasus?”

Dan lagi-lagi Jisoo membawa-bawa profesi masa depanku. Memangnya yang akan jadi jaksa atau pengacara hanya aku? Memangnya aku ini kuliah hukum dengan siapa kalau bukan dengannya?

“Main saja! Jangan hubung-hubungkan video game dan persidangan kasus kejahatan.”

Jisoo berdecak lagi beberapa kali sebelum kembali fokus pada layar TV plasma yang berada di ruang tengah rumahku. Hari ini Ayah dan Ibuku pergi ke Yongin untuk menjenguk nenekku yang sakit, kakakku ada acara dengan rekan kerjanya, sementara adikku yang baru kelas tiga SMP sudah tidur. Makanya selagi rumahku longgar, Jisoo yang rumahnya berselang dua rumah dari sini kuminta datang dan bermain. Sesekali Jisoo yang ke rumahku, selama ini aku yang selalu ke rumahnya karena rumahku selalu berisik.

“Hyun, bagaimana kabar dokter itu?” Tanya Jisoo di awal permainan kedua kami.

“Dokter? Park Bogum maksudmu?”

“Ya. Yang kita temui saat di rumah sakit musim panas lalu itu pokoknya. Kalian sering ketemu, kan?”

Benar. Yang Jisoo maksud adalah Park Bogum. Dokter muda yang pertama kali kami temui di rumah sakit Youngwon musim panas lalu. Dokter jiwa lebih tepatnya, psikiater.

“Dia Park Bogum. Dari mana kau tahu aku sering bertemu dengannya?” Seingatku, Jisoo tidak pernah ikut serta saat aku bertemu dengan Bogum.

“Memang apa yang tidak kutahu darimu? Bahkan kebiasaanmu yang selalu kentut setiap makan daging saja aku tahu.”

“Yak!” Sentakku. “Berani bahas itu lagi apalagi di depan orang lain, habis kau!” Ancamku. Jisoo memang bisa dikatakan pendiam. Tapi sekali mau banyak bicara, dia berbahaya. Tidak ada lagi yang namanya rahasia.

“Yes!!!” Seru Jisoo. Stik permainannya ia banting ke atas karpet coklat yang kami duduki. Aku kalah lagi.

“KUBILANG JANGAN CURANG!” Teriakku tidak terima. Mengajakku bicara selama bermain adalah triknya supaya aku lengah dan dia bisa menang dengan mudah. Itu curang namanya.

“Masa bodoh kau mau bilang apa. Aku tidak mau tanding ulang.” Jisoo sudah tahu cara mengurangi sikap mengalah padaku rupanya.

“Tidak. Pokoknya kita–“

“Lebih baik ceritakan tentang kau dan dokter itu,” sela Jisoo dengan topik yang menarik perhatianku. Tentang dokter itu, tentang Bogum.

“Cerita apa?”

Jisoo berdecak, lagi. Kebiasaan. “Kau kira aku tidak tahu kalau minggu lalu kau menonton film tengah malam dengannya? Setelah kita mengerjakan tugas di ruang belajar.”

Aku gelagapan. Oke. Mulai sekarang aku harus selalu ingat tentang satu hal, tidak ada yang Jisoo tidak tahu tentang aku.

“Hanya menonton film. Tidak ada apa-apa.” Aku menolak untuk cerita. Nanti saja. Aku belum begitu yakin dengan diriku sendiri.

“Tidak ada apa-apa?” Ulangnya. “Kau tidak suka film tengah malam, biasanya kau langsung pulang setelah selesai belajar dan selalu menolak diajak kemanapun bahkan untuk sekedar membeli kopi sekalipun. Kau bahkan rela mengurangi waktu tidurmu karena paginya kau ada kelas penting. Itu yang kau bilang tidak ada apa-apa?”

Heol! Bukan sekedar tidak ada yang tidak ia tahu dariku, Jisoo juga terlalu mengerti aku. Wajar memang. Kami bertetangga dan berteman sejak SD hingga kami sebesar ini. Kami selalu bersama, saling bergantung satu sama lain. Aku bahkan rela menunda kuliahku demi Jisoo yang langsung wajib militer usai lulus SMA. Makanya di usia kami yang dua tiga, masih berkutat dengan tugas kuliah.

“Kau menyukainya, kan?” Skak Jisoo.

“Tidak.”

“Kau menyukainya,” simpul Jisoo sesuka hatinya seraya menganggukkan kepalanya seolah ia baru menyadari suatu hal.

“Dasar sok tahu!” Kesalku. Aku senang punya teman seperti Jisoo, tapi memang aku harus siap pada situasi dimana aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.

“Omong-omong,” Jisoo bicara lagi. “Katanya hari ini salju pertama akan turun.”

“Benarkah?”

“Aku lihat di perkiraan cuaca tadi pagi,” katanya meyakinkanku.

Aku tidak begitu suka musim dingin, tapi aku suka salju pertama. Ada kesan indah setelah sebelumnya dilalui dengan bunga-bunga indah di musim semi, matahari yang menyalak di musim panas, dan daun-daun yang berguguran di musim gugur.

“Kau mau lihat?” Tanya Jisoo yang langsung kujawab dengan anggukan.

“Jangan lupa pakai mantel, kaus kakimu juga, sarung tangan juga. Jangan lupa–“

“Aku tahu, aku tahu. Akan kupakai semua. Bisa masakkan ramen untukku?”

Jisoo adalah orang yang selalu datar-datar saja. Baginya tidak ada makna apa-apa dari salju pertama di musim dingin, sehingga tidak mau repot-repot berkelut dengan udara dingin yang terasa membekukan jika salju sudah mau turun.

Setelah menuruti pesan Jisoo tadi –memakai mantel, kaus kaki dan sarung tangan, aku segera keluar dari rumah. Duduk di bangku kayu panjang yang terletak di samping gerbang rumahku sejak aku masih kecil. Menunggu salju pertama turun seperti apa yang Jisoo katakan tadi.

“Dinginnya,” gumamku seraya memasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel. Ada ponsel di saku kanan, dan plester penghangat di saku kiri. Entah sudah berapa lama plester penghangat itu ada di sana, aku selalu siaga membawanya setiap kali aku belajar larut di ruang belajar yang dingin.

“Uh?” Aku bergumam lagi, singkat. Ponsel di saku kananku bergetar lama yang menandakan ada panggilan masuk.

Park Bogum.

Nama itu tertera di layar ponselku. Dan selalu seperti ini, aku gugup saat ada telepon darinya. Perlu mengambil nafas beberapa kali sebelum kugeser ikon telepon warna hijau di layar –tentu setelah melepas sarung tanganku.

“Ya…” Sejak akhir musim panas –pertama kali mendapat nomor ponsel Bogum– hingga sekarang, aku selalu berkata singkat begitu setiap kali Bogum meneleponku. Walau ujung-ujungnya aku akan banyak bicara juga.

“Sedang apa?” Tanyanya di seberang sana.

“Duduk di depan rumah,” jawabku apa adanya.

“Malam-malam begini? Tidak dingin?”

Aku menggeleng seolah Bogum melihatnya. “Tidak. Aku sudah pakai mantel, sarung tangan dan kaus kaki. Tidak dingin sama sekali.”

“Sarung tangannya sudah kau lepas sebelah, kan? Yang kanan.”

“Uh? Dari mana kau tahu?”

Apa Bogum menyadap CCTV komplek perumahanku hingga tahu sedetil itu?

“Kau takkan bisa menjawab teleponku kalau tidak melepas sarung tanganmu,” jelasnya.

“Ah, benar.” Bodohnya aku. “Tapi, tumben sekali kau menelepon malam-malam? Tidak tidur?”

“Tidak. Nanti saja. Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Keningku berkerut tanpa sadar. Bogum memang selalu serius, tapi tidak denganku selama ini. Aku berusaha suasana jadi sesantai mungkin saat bersamanya. Dan sekarang, sepertinya aku akan kembali menghadapi Bogum yang serius.

“Ya. Bicara saja.” Aku mau dengar. Penasaran.

“Tapi jangan marah karena aku mengatakannya lewat telepon.”

Apa Bogum telah melakukan kesalahan padaku? Tapi apa? Sebelumnya kami baik-baik saja.

“Ya. Katakan saja.” Kupikir dengarkan saja dulu. Buruk atau tidak, urusan belakangan. Memberi kesempatan akan lebih baik, mungkin.

“Emm… aku akan mengatakannya langsung. Aku–“

“Wah! Saljunya turun.” Perkataan singkat itu terucap begitu saja begitu buliran-buliran putih turun dari langit. Jisoo benar, malam ini salju pertama turun.

“Kau duduk di depan rumah untuk melihat salju turun?” Bogum bertanya.

“Salju pertama.” Tepatnya. Setelah ini mungkin aku takkan sesenang ini jika salju turun lagi di musim dingin yang sama. “Kau juga melihatnya?”

“Hm. Aku melihatnya. Indah sekali.”

“Benarkah?” Aku senang. “Bukankah salju pertama itu juga romantis? Tidak sekedar indah. Akan sangat indah jika kau melihatnya dengan orang yang kau sayang.”

Ya Tuhan. Bicara apa aku? Memalukan sekali Bogum mendengar khayalan sial itu.

“Kau ingin seperti itu?”

“Tidak, tidak.” Sanggahku. Pembicaraan harus segera kualihkan. “Tadi kau mau bicara apa? Maaf tadi menyelanya.”

“Tidak apa-apa.” Lalu aku mendengarnya mendesah. Apa yang akan dibicarakannya memang sesuatu yang benar-benar serius? “Aku… aku menyukaimu.”

Kemudian hening. Tidak ada yang bicara di antara aku maupun Bogum. Otakku serasa mendadak error dan butuh waktu untuk instal ulang jadi tidak langsung mengerti maksud Bogum.

“Aku menyukaimu, Hyun.” Bogum mengulanginya. Membuat proses instal ulang selesai lebih cepat.

Bogum menyukaiku, katanya? Harus apa aku?

“Kau terkejut, ya?” Bogum kembali bertanya karena aku tidak kunjung merespon.

“A-ah. Ya.” Dan aku tahu-tahu sudah tersenyum salah tingkah. Tidak ada yang melihat, memamg, tapi sebisa mungkin aku menunduk untuk menyembunyikannya. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam sampai-sampai Bogum bilang menyukaiku di salju pertama musim dingin? Drama in my real life.

“Jadi?” Bogum kembali bersuara.

“Ya?”

“Tidak masalah kan kalau aku meminta jawabanmu sekarang?”

“Uh?”

Aku harus menjawab sekarang? Harus jawab apa aku? Oke. Harus kuakui jika aku memang menyukai dokter muda itu. Dia tampan dan sangat manis saat tersenyum atau tertawa, dia juga sangat baik. Tapi apa tidak masalah jika aku langsung bilang ‘ya, aku juga menyukaimu’ begitu saja? Jisoo bilang aku harus hati-hati dengan lelaki jaman sekarang, sebaik apapun dia.

“Jika kau tidak suka, atau kau menolakku, kau bisa tutup teleponnya dan anggap pembicaraan ini tidak pernah ada.”

“Uh?” Ya Tuhan. Aku harus bagaimana?

“Kuhitung sampai tiga,” desaknya. “Satu… dua… ti–“

“Kalau sebaliknya?” selaku cepat-cepat.

“Lihat ke kanan, ke persimpangan perumahanmu.”

Aku melakukannya begitu saja. Memutar kepalaku ke kanan, melihat ke persimpangan perumahanku. Lalu aku melihatnya, seorang lelaki yang sedang menempelkan ponsel di telinga kanannya, seorang lelaki dengan postur tubuh yang sangat kukenal, seorang lelaki yang senyum manisnya terlihat sangat indah karena dipadukan dengan turunnya salju pertama tahun ini.

Park Bogum.

***

“Kenapa senyum-senyum begitu?”

“Uh?”

Sial. Kenapa harus tertangkap basah? Bisa-bisa ia berpikiran aku aneh karena tersenyum tidak jelas padahal buku yang sejak tadi kubaca adalah buku hukum yang berisi pasal-pasal, bukan novel atau komik bergenre komedi.

“Tidak apa-apa,” kataku lalu kembali –sok– membaca buku hukumku. Ujian kualifikasi tinggal besok, aku tidak boleh gagal.

“Sedang memikirkan sesuatu, ya?” Tanya lelaki ini seraya mendudukkan dirinya di sampingku, di atas karpet ruang tengah apartemennya. Ia juga meletakkan secangkir coklat panas yang sangat cocok di musim dingin seperti ini. Untukku, dan untuk dirinya sendiri.

“Tidak,” elakku namun percuma. Setelah Jisoo, lelaki ini adalah orang yang aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. “Oke. Sedikit. Tapi kau tidak perlu tahu.”

“Ahh… pasti tentang kita,” tebaknya yang lagi-lagi 100% akurat. Tidak bisa punya rahasia dari Jisoo saja sudah membuatku pusing, sekarang tambah lelaki ini. “Kali ini apa? Jangan mengelak lagi. Kau selalu menghindar untuk cerita jika berhubungan dengan kita.”

Aku menggerutu. Dalam waktu relatif singkat –dibandingkan Jisoo yang belasn tahun, lelaki ini, Bogum bisa memahamiku sampai sedetil-detilnya. Mana bisa aku menghindar darinya?

“Kuberi petunjuk saja. Selebihnya, pikirkan sendiri.”

“Kenapa begitu?” Bogum protes.

“Salju pertama.”

“Ha?”

“Petunjuknya salju pertama.”

“Ahh…” nampaknya Bogum langsung mengerti. Percuma saja sebenarnya bermain petunjuk-petunjukan dengan manusia secerdas dia. “Tentang yang di depan rumahmu itu? Tapi… mana yang kau pikirkan? Pertama kali kita jadian atau yang terjadi setelahnya?”

Aku menoleh padanya. “Terjadi setelahnya?”

Wajah Bogum mendadak suram berbau kesal. “Jangan bilang kau lupa?”

Bogum tahu ingatanku cukup baik, maka ia pikir jika aku melupakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah sesuatu yang tidak penting. Jadi aku mengerti jika ia kesal misal saja aku lupa apa yang terjadi setelah kami resmi berpacaran.

“Tidak. Aku ingat,” jawabku menangkannya. Lagipula, mana mungkin aku lupa pada ciuman pertama kami? Ciuman yang terasa dingin dan hangat sekaligus. Ciuman yang benar-benar kurasakan pertama kali dalam hidupku.

Ya, Bogum adalah pacar pertamaku. Aku terlalu nyaman punya teman seperti Jisoo sampai tidak memikirkan punya pasangan. Sampai akhirnya aku bertemu Bogum.

“Tapi kenapa kau tiba-tiba memikirkan itu?” Bogum penasaran. Biasanya saat aku fokus pada tugas, kuliah, dan ujian, aku takkan membagi pikiranku dengan hal lain.

“Itu.” Setelah meletakkan pena ke atas meja, aku menunjuk ke jendela di belakang televisi yang belum ditutup tirainya. Melalui jendela itu, aku bisa melihat salju yang turun lebat. Bukan salju pertama, tapi tetap saja mengingatkanku pada hari itu.

“Pantas saja malam ini dingin sekali,” ucapnya. Suhu memang akan turun drastis jika salju turun.

Aku merenggangkan sedikit bahuku yang terasa kaku, lalu menyandarkan punggungku pada sofa beludru coklat di belakangku. Kakiku juga kuangkat hingga lututku sejajar dengan dagu, dan tak lupa kedua tanganku memeluk kakiku yang sudah terlipat. Namun tiba-tiba sebuah lengan memeluk bahuku erat dari samping.

“Aku tidak mau memeluk kakiku sendiri saat ada kau di sini,” katanya, disertai dengan senyuman manis dan tatapan indah itu padaku. Apa wajahku sudah memerah sekarang? Sudah setahun berlalu, dan aku masih seperti udah rebus setiap kali Bogum berlaku manis padaku.

“Hyun.” Panggil Bogum karena aku memalingkan wajahku darinya tadi.

“Hm?” Sahutku singkat. Perlahan aku mencoba kembali menatapnya.

“Boleh aku menciummu?”

“Uh?”

Bogum adalah orang yang sangat sopan. Setahun lebih kami berpacaran, beberapa kali kami berciuman, Bogum selalu minta ijin sebelum menciumku. Atau setidaknya memberikan isyarat yang selalu kumengerti. Aku tidak menganggapnya kaku, justru itulah yang membuatku yakin jika Bogum sangat menghargai perempuan.

“Ya. Lakukan.”

Dan ya, kami pun melakukannya. Berciuman. Sudah kubilang ini bukan pertama kalinya, tapi Bogum tahu bagaimana membuat ciuman kami tetap terasa manis, seperti pertama kalinya.

Malam ini, lagi, aku akan melupakan sejenak belajarku untuk ujian besok. Walau suasananya tidak seberisik di rumah, bukan berarti aku bisa belajar dengan tenang di rumah Bogum. Semua itu karena hal manis ini, ciuman ini.

Fin!

Mungkin abis ini aku bakal hiatus agak lama karena udah mepet UAS dan bakal masuk semester skripsi. Tapi buat yg mau baca ffku yg lain, bisa berkunjung di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s