Sing For You

SING FOR YOU

Sing For You
By: susanokw

Casts:
Park Chanyeol
Shin Eunkyung (OC)

Rating:
PG16+

.

Just listen, I’ll sing for you.

.

.

1999

Chanyeol duduk di tepian dermaga sambil mengayunkan kaki. Angin bertiup lembut, menebarkan helai-helai rambut pemuda itu. Matanya menyipit, pandangannya lurus ke depan, ke arah matahari yang hendak tenggelam.

Ini adalah kebiasaan Chanyeol sejak kecil. Ia sangat menyukai laut. Deburan ombak yang masuk ke telinganya adalah musik alam yang paling merdu, ditambah dengan angin semilir serta suara-suara burung. Sesepi apapun, laut selalu ramai, kata Chanyeol. Suara ombak yang memecah karang, burung-burung di tepi pantai yang mencari makan, membuatnya tidak merasa sendirian. Walaupun pada kenyataannya hanya ia yang duduk sendirian disana. Setia menunggu matahari pulang ke peraduan, sampai langit berubah menjadi hitam.

Lelaki itu menghela napas panjang. Seketika ia teringat ibunya yang juga suka laut. Ibunya sudah meninggal, sejak ia kecil. Meninggalkannya bersama ayah dan dua adik perempuannya. Ia anak tertua di keluarganya. Tak ada lagi saudara, atau kakek nenek. Semuanya telah meninggal. Hanya keluarganya yang tersisa. Tinggal di sebuah desa kecil, yang miskin, dan sulit terjamah oleh pemerintah. Hidup dengan orang-orang yang putus sekolah karena tidak punya biaya, bekerja serabutan untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Itulah kehidupan Chanyeol. Sepi, juga menyedihkan.

Matahari mulai turun perlahan, memancarkan sinar jingga yang menyilaukan. Chanyeol memejamkan mata, tersungging sebuah senyuman tipis di bibirnya.

Aku suka laut. Sama sepertimu, Bu.

Dulu ibunya sering mengajaknya untuk menikmati matahari tenggelam di dermaga. Kata Ibu, matahari adalah bintang yang paling terang dan paling panas di jagat raya. Namun di dermaga, matahari seolah dekat. Chanyeol dulu pernah bertanya, kenapa bintang itu turun perlahan? Apakah karena ukurannya yang besar, sehingga ia terlalu berat untuk bergerak dengan cepat? Ibu hanya tersenyum sambil mengelus rambut anak sulungnya tersebut. Matahari tidak pernah mengeluh dengan ukurannya yang besar. Ia turun perlahan karena ia ingin mengucapkan selamat tinggal, ia ingin memberikan sinar terbaiknya sebelum ia benar-benar tidak terlihat dan tergantikan oleh bulan. Matahari senang dengan ukurannya yang besar, karena dengan begitu ia bisa menyinari seluruh dunia ini tanpa ragu. Bahkan bulanpun, mendapatkan cahaya dari matahari. Matahari adalah bintang yang paling hebat.

Chanyeol melakukan hal yang sama setiap hari. Ini adalah salah satu caranya untuk mengatasi kerinduan terhadap ibunya. Dengan begini, ia dapat merasakan kehadiran Ibu di sampingnya. Duduk memandangi matahari terbenam, sambil mengelus-elus rambutnya dengan sayang.

Ah, Chanyeol rindu sekali pada Ibu.

“Kakak, Ayah sudah pulang.”

Suara seorang anak perempuan melemparkannya dari angan-angan bertemu Ibu. Chanyeol membuka matanya perlahan dan mendapati adik bungsunya berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Sudah di rumah?” Tanya Chanyeol dengan suara yang sedikit serak.

Gihwan –nama adik bungsunya –mengangguk pelan. Chanyeol berdiri perlahan dan menghampiri Gihwan. Ia mengulurkan tangan kanannya dan Gihwan menyambutnya dengan ceria.

“Ayah membawa makanan yang sangat banyak, Kak! Dia tadi menyuruhku untuk memanggil Kakak karena Ayah……”

Dan Gihwan terus bercerita sepanjang perjalanan pulang.

.

.

“Eunkyung, ayo sarapan dulu.”

“Iya, Bu.”

“Hari ini Ibu akan ke kota untuk menjual ikan ke pasar, kau tidak apa-apa kalau ditinggal sendiri?”

Eunkyuk mengangguk sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Ibunya tersenyum.

“Jangan pergi terlalu jauh. Kau ingat jalan pulang, kan?”

“Ibu, aku bukan anak kecil. Tenang saja.” Gadis itu menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga lalu mengacungkan jempol sambil tersenyum jenaka.

“Baiklah. Kau habiskan makananmu, ya.”

Eunkyung mengangguk, ia makan dengan lahap.

.

.

1996

“Eunkyung! Eunkyung!”

Malam itu pekat. Tapi Eunkyung tidak ada di rumah. Tidak, Eunkyung belum pulang ke rumah.

Tadi sore Eunkyung izin pada Ibunya untuk berjalan-jalan menikmati angin sore karena cuacanya sedang bagus. Ibunya sedang sibuk mengurus ikan yang baru saja sampai, jadi hanya mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan apa yang di katakan anak semata wayangnya itu. Eunkyung senang tak alang kepalang. Sudah lama ia tidak mendapatkan izin untuk pergi berjalan-jalan sendirian di desa, pun Eunkyung tidak tau apa alasannya. Ibunya bilang bahwa Eunkyung pelupa. Ibunya takut kalau ia lupa jalan pulang ke rumah.

Mendengar itu Eunkyung hanya menggeleng sambil tertawa, tidak menyangka ibunya akan melontarkan hal selucu itu.

“Maaf, ya, Bu. Aku memang pelupa, tapi aku tidak mungkin lupa jalan pulang. Ibu tenang saja.”

Itu yang selalu dikatakan Eunkyung, tiap kali Ibu khawatir Eunkyung lupa jalan pulang ke rumah. Dan hari ini kekhawatiran itu menjadi kenyataan.

Jam 10 malam, Eunkyung belum pulang ke rumah.

“Chanyeol! Chanyeol!” Ibu berteriak memanggil Chanyeol sambil memukul-mukul lantai kayu rumah Chanyeol. Pemuda itu membuka pintu dengan cepat sedetik kemudian.

“Ada apa, Bu? Kenapa Ibu menangis?”

“Eunkyung..”

Mendengar nama itu jantung Chanyeol langsung berdetak dengan cepat. “Ada apa dengan Eunkyung?”

“Dia..,” Ibu tersengal-sengal, berusaha mengambil napas di sela-sela tangisnya. “Dia belum kembali sejak sore tadi, Chanyeol. Tolong ibu.”

Mata Chanyeol melebar, terkejut mendengar Eunkyung belum kembali ke rumah sampai selarut ini. Walaupun desa ini kecil, tetapi banyak sekali hutan yang belum terjamah oleh masyarakat dan rumornya di hutan banyak sekali binatang buas. Chanyeol bergegas memakai sandal seadanya, mengambil obor, dan berlari mencari Eunkyung. Ibu ditinggalkannya di depan rumahnya, bersama dengan adik-adiknya yang masih kecil. Ayah sedang pergi ke kota, mencari uang.

Dengan penerangan seadanya, Chanyeol terus meneriakkan nama Eunkyung. Di dalam pikirannya hanya Eunkyung, gadis berambut sebahu, yang gemar memakai sweater buluk warna abu-abu, dan rok selutut dengan warna senada. Chanyeol tidak mengerti kenapa gadis itu belum juga pulang sampai selarut ini. Desa ini bukan daerah yang asing baginya, sejak bayi Eunkyung hidup disini. Pun ia mengenal orang-orang yang tinggal di desa ini, bahkan hampir semuanya. Ibu pernah bercerita bahwa akhir-akhir ini Eunkyung menjadi pelupa. Kejadian ‘Eunkyung hilang’ bukan kali ini saja, dulu pernah terjadi beberapa kali. Kejadian yang pertama, Eunkyung di temukan sedang mengobrol bersama para nelayan sambil minum teh hangat di pinggir pantai. Kedua, gadis itu ditemukan sedang berjongkok sambil memberi makan rusa di pinggir hutan yang jaraknya cukup jauh dari desa. Ketiga, ia di temukan sedang duduk di atas bebatuan besar di tepi pantai, sendirian, sambil bersenandung pelan. Dan ini adalah kali ke empat.

Eunkyung, kau dimana?!

Chanyeol hampir frustrasi.

“Eunkyung! Eunkyung!”

“Permisi paman, apakah kau melihat Eunkyung?”

“Aku tidak melihatnya hari ini. Ada apa Chanyeol?”

Pemuda itu menggeleng pelan sambil tersenyum masam. “Tidak ada apa-apa paman. Silakan lanjutkan pekerjaanmu, maaf sudah mengganggu.”

Chanyeol menghela napas panjang dan melangkahkan kakinya pergi dari gubuk reyot milik seorang nelayan. Keningnya berkerut, ia mengedarkan pandangannya dari kanan ke kiri, lalu ke belakang. Dimana Eunkyung?

Ia memejamkan matanya sesaat, mencoba tenang sambil mengatur napasnya naik turun secara teratur.

Hey, Chanyeol! Aku ingin tahu, apa yang kau pikirkan ketika sedang sendirian?

Apakah kau memikirkanku?

Hey, Chanyeol! Mengapa kau suka sekali memandangi matahari tenggelam?

Chanyeol, apakah kau merindukan ibumu?

Kurasa aku suka tempat ini.

Aku suka melihat matahari tenggelam.

Detik berikutnya, Chanyeol berlari.

.

“Eunkyung!!”

Sambil terengah-engah, Chanyeol berjalan mendekati punggung seorang gadis yang sedang duduk di tepi dermaga. Gadis itu berambut sebahu, menggunakan sweater buluk berwarna abu-abu, dan rok selutut berwarna senada, serta sepasang sandal jepit buluk yang sudah banyak tambalannya.

Gadis itu menoleh pelan, dan mendapati seorang pemuda jangkung yang terengah-engah sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu tersenyum kecil, dan menyapanya.

“Hei.”

Ada perasaan lega di dada Chanyeol begitu mendapati Eunkyung dalam keadaan baik-baik saja, bahkan gadis itu bersenandung pelan ditemani oleh suara debur ombak dan cahaya obor yang di pasang di sepanjang dermaga. Ini dermaga yang biasa Chanyeol datangi kalau sedang merindukan Ibu. Letaknya memang cukup jauh dari desa. Tidak banyak orang yang tahu tentang dermaga ini. Sepertinya dulu tempat ini ramai, tetapi ditinggalkan dengan alasan yang tidak pernah diketahui. Chanyeol pernah beberapa kali mengajak Eunkyung kesini, menemaninya melihat matahari tenggelam kalau merindukan Ibunya. Dan setelah beberapa kali mengajaknya, Eunkyung berkata bahwa ia menyukai tempat ini.

“Ayo pulang, Eunkyung.” Ajak Chanyeol dengan suara yang lemas. Napasnya sudah lebih teratur sekarang. Ia berdiri beberapa langkah di belakang gadis itu.

“Aku suka disini, Tobi. Disini ramai.” Ujar gadis itu.

Chanyeol tidak ingat kapan Eunkyung mulai memanggilnya Tobi. Yang jelas, Eunkyung sudah tidak mengenal pemuda bernama Chanyeol lagi. Tapi tidak apa-apa.

“Ibumu khawatir, Eunkyung. Kau harus pulang. Ini sudah terlalu malam.”

Eunkyung menggeleng cepat. “Tapi aku mau disini. Dirumah sepi. Lagipula tadi aku sudah mencoba pulang, tapi aku tidak sampai di rumah. Jadi aku duduk saja disini.” Suaranya terdengar merengek. Chanyeol menghela napas panjang, sabar.

“Kau lapar kan, Eunkyung? Aku akan membuatkan sup ikan kesukaanmu dirumah. Ayo kita makan bersama malam ini.” Chanyeol berusaha untuk membujuknya dengan makanan kesukaan gadis itu.

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya terdengar debur ombak dan senandung pelan sebuah lagu lawas dari mulut Eunkyung.

Pada detik ke 20, Eunkyung bangkit berdiri. Ia memakai sandalnya, berbalik badan, dan menghampiri Chanyeol sambil tersenyum. Mata gadis itu terlihat sedikit cekung.

Chanyeol membalas senyum Eunkyung dengan lebar. Ia mengulurkan tangannya untuk menggandeng Eunkyung, supaya gadis itu berjalan sejajar dengannya dan tidak tertinggal di belakang.

Ini berhasil. Eunkyung akhirnya pulang.

.

.

1997

Chanyeol tidak tahu kapan ia dan semua penduduk desa ini akan lepas dari jerat kemiskinan. Setiap hari semua orang –termasuk dirinya –bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk menyambung kehidupan esok hari. Chanyeol bekerja membantu menarik jaring nelayan, terkadang ikut ke laut membantu mencari ikan. Setiap hari ia harus bermandikan peluh untuk menghidupi adik-adiknya yang masih kecil. Ayah pergi ke kota, mencari uang. Adik-adiknya ia titipkan di sebuah sekolah ecek-ecek di balai desa. Bersama seorang istri nelayan yang kebetulan lulusan sekolah menengah atas. Adik-adiknya belajar menulis dan membaca. Setidaknya mereka mendapatkan pengetahuan awal tentang dunia, agar tidak mudah ditipu orang.

Sore ini, kembali, Chanyeol duduk di tepi dermaga menunggu senja. Di sampingnya duduk seorang pemuda seumurnya yang sedang mengunyah permen karet.

“Kenapa kau tidak membuang saja permen karet itu, Kai? Sudah kau kunyah sejak pagi.” Celetuk Chanyeol tanpa menoleh pada Kai yang menanggapinya dengan cuek.

“Aku lapar dan tidak punya makanan. Ini pengganti makanan, Chanyeol. Cobalah.” Pemuda berkulit tan itu menyodorkan permen karet murahan yang biasa dibawa ayahnya dari kota. Fakta pertama, kalau Kai mengunyah permen karet, berarti ayahnya baru pulang dari kota.

Chanyeol menggeleng. “Tidak, terima kasih. Gigiku pegal mengunyah terus.”

“Supaya gusimu berotot, Chanyeol. Seperti paman-paman nelayan itu, kau lihat kan otot lengannya? Nah.”

Fakta kedua. Kalau Kai mulai bergurau, berarti permen karet di dalam mulutnya sudah tidak layak untuk dikunyah.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat, menikmati terpaan sinar matahari sore dan semilir angin laut. Mereka berdua sudah tidak menghiraukan keringat yang menempel serta bau badan yang amis. Mereka hanya senang duduk untuk berselonjor kaki, beristirahat setelah seharian bekerja.

“Hey, Kai.”

Kai menoleh. Terdengar kunyahan permen karet dari dalam mulutnya.

“Kau ingat buku kesehatan yang pernah kau pamerkan padaku beberapa waktu lalu?”

Kai mengangguk.

“Kau sudah membaca semuanya?”

Kai mengangguk lagi.

Chanyeol mengangguk. “Bagus.”

“Ada apa?”

Chanyeol menghela napas panjang. “Apa kau tahu, mengapa seseorang bisa lupa?”

“Oh, itu.” Kai terdiam sejenak, keningnya berkerut seolah sedang mengingat-ingat. “Karena ia tidak ingat.”

“Kau tahu, Kai? Itu jawaban yang biasa diberikan adikku yang paling kecil. Aku sedang serius, Kai. Ayolah.”

Kai tertawa terbahak. Chanyeol heran kenapa sudah sesore ini, dengan keadaan yang melelahkan, kaki pegal, telapak tangan kemerahan karena seharian menarik jaring, pemuda ini masih bisa bergurau. Dan lebih buruknya, gurauan yang sangat tidak lucu.

“Kau terlalu serius, Chanyeol! Mana aku tahu kenapa seseorang bisa lupa. Aku tidak menemukan pembahasan itu di dalam buku. Buku itu tentang macam-macam penyakit, Chanyeol. Bukan pengungkapan misteri mengapa seseorang bisa lupa.” Jelas Kai.

Kai benar. Ia yang terlalu serius.

“Jadi apakah ada penyakit tentang lupa?”

Kai mengangguk. “Ada. Namanya amnesia. Ah, tidak. Itu bukan penyakit murni.”

Chanyeol mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Penyakit murni?”

“Menurut buku itu, amnesia adalah hilangnya ingatan karena sebuah kecelakaan. Seseorang yang mengalami amnesia tidak akan bisa mengingat kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya, atau bahkan ia tidak akan ingat memori-memori masa lalunya.”

Hilang ingatan karena kecelakaan? Bukan. Eunkyung tidak pernah kecelakaan.

“Lalu selain itu?”

Kai mengerutkan keningnya dalam. Bibirnya dikerucutkan, bola matanya memandang ke satu titik di depan. “Ada satu lagi. Yang ini penyakit murni.”

Entah kenapa Chanyeol merasa tidak pas dengan istilah ‘penyakit murni’ milik Kai. Tapi, terserahlah. Fakta ketiga adalah, Kai suka membuat istilah-istilah yang hanya ia sendiri yang mengerti.

Kai menghela napas, lalu menjelaskan. “Namanya Alzheimer. Biasa diderita oleh orang tua, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang seusiamu juga bisa terkena alzheimer. Penyakit ini seperti pikun. Menurut buku itu, seseorang yang terkena penyakit ini perlahan-lahan akan lupa pada hal-hal yang baru saja ia kerjakan. Yang lebih buruknya, penyakit ini bisa menyebabkan seseorang tidak bisa mengingat masa lalunya dan menyebabkan kematian.”

Kebiasaan? Masa lalu? Mati? Chanyeol tidak mengerti.

“Apakah… termasuk jalan pulang ke rumah?”

Kai mengangguk tegas. “Bisa jadi. Penyakit ini perlahan-lahan menggerogoti memori-memori yang biasa kita lakukan, atau yang baru saja masuk ke ingatan.”

Apakah…. Eunkyung…..?

Tidak. Chanyeol tidak mau berpikir yang aneh-aneh.

“Apakah seseorang terkena Alzheimer?” Tanya Kai penasaran, karena melihat air muka Chanyeol yang tiba-tiba saja berubah. Ada kilat ketegangan yang baru saja melintas di wajahnya.

“Ti-tidak.”

Kai berdecak sebal. “Kau berbohong. Aku bisa mengetahuinya dalam sekejap, Park Chanyeol. Ayolah.”

Detik berikutnya Chanyeol menceritakan kepada Kai perihal Eunkyung, dari awal sampai akhir, panjang lebar, secara detil. Kai mengangguk, mengerutkan kening, menanggapi sesekali.

Matahari terus bergerak turun dengan perlahan. Sisa-sisa sinarnya masih terlihat, bercampur dengan warna langit yang berubah gelap, memberikan kombinasi warna yang sangat indah. Sore itu dihabiskan dengan mengobrol tentang penyakit alzheimer, bersama Kim Kai sang pemandu yang gemar mengunyah permen karet. Pukul 7 malam, Chanyeol baru sampai ke rumah. Di sambut oleh kedua adiknya yang sudah mandi dan memakai baju bersih, siap untuk tidur.

Setelah mencuci baju kotor miliknya serta adiknya, mandi, dan berganti baju, Chanyeol berbaring di atas sebuah kasur lipat yang sudah tipis. Disampingnya adik-adiknya yang sedang asyik mengeja buku cerita yang dipinjamkan Ibu Guru nelayan itu pada mereka. Chanyeol tidak mengantuk sama sekali, walaupun tenaganya sudah terkuras habis untuk bekerja hari ini. Rasa perih ditangannya yang baru saja diolesi oleh minyak obat serbaguna sama sekali tidak dihiraukannya. Di dalam kepalanya terus berputar tentang Alzheimer. Kalimat-kalimat yang Kai ucapkan tentang penyakit itu terus membayanginya seperti hantu. Terutama percakapan terakhir mereka di jalan pulang, sebelum berpisah di pertigaan.

“Jadi menurutmu Eunkyung menderita Alzheimer?”

“Ya.”

Chanyeol menobatkan kata ‘ya’ yang diucapkan Kai sebagai hantu yang menguntitnya pulang, dan sekarang merasukinya dan berdiam diri di otaknya, tidak mau pergi.

Chanyeol terkejut.

Juga takut.

.

.

1998

“Jadi namamu Tobi? Aku Eunkyung.”

Gadis itu duduk di sampingnya, dengan sweater buluk warna abu-abu dan rok selutut berwarna serupa. Chanyeol melirik sandal yang dilepaskan gadis itu sudah berganti. Ibunya baru saja membelikan sandal yang baru.

Ini kedua kalinya Eunkyung memperkenalkan diri kepada Chanyeol. Yang pertama Chanyeol sudah lupa, dan sore ini yang kedua. Sejak obrolannya dengan Kai tentang Alzheimer waktu itu, Chanyeol akhirnya terus mendesak Kai untuk berbicara kepada Ayahnya agar membawa buku-buku kesehatan dari kota. Terutama buku-buku yang membahas tentang penyakit Alzheimer.

Mulanya Chanyeol tidak begitu percaya dengan penjelasan-penjelasan Kai. Chanyeol bersikukuh bahwa Eunkyung hanya terlalu banyak pikiran, sehingga menjadi pelupa. Chanyeol bisa bernapas lega ketika mendapati Eunkyung sedang duduk pada sore hari di pinggir pantai di dekat rumahnya, sambil menyenandungkan lagu lawas yang sama.

Eunkyung tidak terkena alzheimer. Eunkyung hanya banyak pikiran.

Chanyeol akhirnya bisa mengusir ‘hantu ‘ya’’ dari pikirannya untuk beberapa saat.

Namun akhirnya Chanyeol belajar bahwa kebahagiaan tidak berlangsung selamanya. Kai bercerita bahwa di kota, ayahnya sesekali menyempatkan diri untuk berkunjung ke perpustakaan kota. Kebetulan gratis. Beliau mencari buku-buku yang berkaitan dengan alzheimer, memfotokopinya, dan membawanya ke rumah. Kai sempat kesal karena Chanyeol tidak percaya apa yang dikatakannya. Sampai suatu hari Chanyeol membaca sendiri tentang penyakit alzheimer tersebut.

Apa penyebabnya, bagaimana tanda-tanda orang yang terkena alzheimer, dan lain sebagainya. Chanyeol meminjam catatan itu dan membacanya baik-baik dirumah, sendirian, saat kedua adiknya sudah terlelap.

Alzheimer akan menghancurkan memori-memori baru.

Alzheimer akan mengganggu seseorang untuk berpikir logis.

Alzheimer membuat seseorang berubah suasana hati dengan cepat.

Alzheimer membuat seseorang berhalusinasi.

Alzheimer merusak sistem-sistem indera manusia.

Alzheimer merusak memori masa lalu seseorang.

Alzheimer menyebabkan kematian.

‘Hantu ‘ya’’ masuk lagi ke dalam pikirannya. Menguasainya, tertawa terkikik sampai puas.

Eunkyung sulit untuk mengingat memori baru. Eunkyung kesulitan untuk melakukan perhitungan, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Bahkan ia sering tidak mengenali Chanyeol.

Tanda-tanda itu sama persis.

Tanda-tanda penyakit alzheimer.

Chanyeol tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Tidak mungkin ia membelikan obat untuk Eunkyung yang harganya sangat mahal sementara hidupnya sendiripun melarat. Rasanya Chanyeol ingin menangis. Sahabat masa kecilnya itu kini sedang sakit. Sakit yang menurutnya sangat parah. Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa. Ia bingung.

Sampai akhirnya ia tertidur, dan ia bermimpi.

.

.

“Eunkyung, mengapa kau suka sekali memakai sweater abu-abu itu?” Chanyeol bertanya sambil memetik gitar kesayangannya di tepi dermaga.

Eunkyung berbaring di sebelahnya. Gadis itu menutup mata, bersenandung sebuah lagu lawas.

“Ini sweater paling berharga untukku, Chanyeol. Ini dari ayahku.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Tapi sweater itu sudah terlihat buruk, Eunkyung. Kau harus mengganti dengan sweater yang baru.”

Debur ombak terdengar memecah karang, menemani dua orang yang sedang duduk santai menanti senja di tepi dermaga.

“Tidak apa-apa, Chanyeol. Aku tahu sweater ini sudah sangat buruk. Warnanya sudah pudar, pun baunya sudah tidak sedap, bukan?”

“Bu-bukan itu. Ma-maksudku…”

Eunkyung lantas tertawa. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kau tahu, walaupun sweater ini sudah tidak layak, cinta seorang ayah akan tetap layak sampai kapanpun. Bahkan walaupun ayahku sudah di surga sekarang.” Eunkyung berkata dengan pelan. Ia mengangkat sebelah tangannya, menggerak-gerakkan jarinya seolah menggapai sesuatu di udara.

“Maaf.”

“Tidak apa-apa.”

Chanyeol mendengar kalimat ‘tidak apa-apa’ yang kesekian ribu dari mulut Eunkyung.

“Hey, Chanyeol.”

“Hm?”

“Aku ingin tahu apa yang kau pikirkan ketika kau sedang sendirian?”

Chanyeol terdiam. Ia menoleh ke arah Eunkyung yang masih terpejam. Sinar matahari sore menyinari wajah Eunkyung, membuatnya terlihat sangat cantik. Bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, lesung pipit yang menawan kalau ia tersenyum, dan rambut sebahunya yang sangat halus tertiup angin semilir.

Chanyeol tidak ingat kapan ia mulai memandang Eunkyung sebagai seorang gadis.

Chanyeol dan Eunkyung adalah teman sejak mereka kecil. Mereka selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Seperti gembok dan kunci, tak terpisahkan. Chanyeol dan Eunkyung belajar membaca bersama, belajar menulis bersama, berenang di pantai bersama-sama, bahkan dulu mereka pernah tidur di kamar yang sama.

Itu pada saat mereka masih kecil, tentu saja. Saat mereka belum mengerti tentang dunia.

Dan cinta.

Chanyeol tidak tahu apa itu cinta. Ia tidak pernah diajarkan tentang cinta oleh gurunya. Entah karena pelajaran tentang cinta terlalu mahal untuk dikenyam oleh anak-anak miskin seperti mereka, atau bagaimana, Chanyeol tidak tahu. Chanyeol hanya tahu bahwa dengan siapapun ia berteman, ia harus bersedia membantu teman yang membutuhkan pertolongan. Chanyeol hanya tahu bahwa dengan siapapun ia berteman, harus ada ketulusan dari hati.

Ia pernah bertanya kepada ibunya, bagaimana dulu ayah dan ibu bisa bertemu. Ibunya tersipu malu. Ibu akhirnya bercerita tentang pertemuannya dengan Ayah pada saat mereka masih muda. Ibu dan ayah berteman sangat baik. Ibu tahu ayahnya berteman dengan tulus, dengan penuh perhatian padanya. Sampai ibu merasakan sesuatu yang aneh ketika sedang bersama dengan ayah. Ibu selalu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika tidak sengaja beradu siku dengan ayah. Ibu merasakan wajahnya memerah ketika ayah memandanginya dengan tatapan yang teduh, mengajaknya mengobrol dengan suara yang menenangkan. Ibu merasa ingin selalu bertemu dengan ayah ketika lelaki itu sedang bekerja jauh ke kota bersama keluarganya. Dan Ibu merasa tidak suka ketika ayah mengobrol dengan teman wanitanya yang lain. Hingga akhirnya ibu tahu itulah yang namanya rindu dan cemburu. Hingga akhirnya, ayah meminta ibu untuk menemaninya menghabiskan sisa hidup. Selamanya.

Cerita ibu berhenti sampai disitu, dan Beliau menyuruh Chanyeol untuk segera tidur.

Rindu dan cemburu.

Chanyeol juga merasakan hal yang sama.

Chanyeol selalu ingin bertemu dengan Eunkyung. Memandangi wajahnya yang cantik terkena sinar matahari senja. Chanyeol ingin melihat senyumnya, mendengar suaranya, membuatnya tertawa dengan lelucon-lelucon kecilnya. Chanyeol ingin selalu melakukan itu sepanjang hari. Tujuh hari dalam seminggu.

Chanyeol tidak suka kalau Eunkyung mengobrol dengan teman lelakinya yang lain. Minseok, Jongdae, Junmyeon, bahkan Kai. Chanyeol tidak suka. Chanyeol hanya suka apabila Eunkyung mengobrol dengannya. Itu saja. Tidak ada yang lain lagi.

Apakah ini cinta?

“Hey Chanyeol!”

Chanyeol tersentak dari lamunannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menjawab dengan tergagap. “Y-ya?”

“Apa yang kau pikirkan ketika kau sedang sendirian?”

“Hm….”

“Apa kau memikirkan aku?”

Chanyeol tertegun. Seperti ada yang menohok jantungnya dengan sebuah batu besar.

“Kau?”

Eunkyung mengangguk. “Aku ingin tahu apakah ada seseorang yang selalu memikirkan aku ketika sedang sendirian. Selain ibu dan ayahku.”

“Kau sendiri, apa yang kau pikirkan ketika sedang sendirian?” Alih-alih menjawab, Chanyeol bertanya balik pada gadis itu.

“Aku memikirkanmu.”

Dan kali ini Chanyeol merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Inikah yang dirasakan ibu dan ayah dulu?

“Benarkah?”

Eunkyung mengangguk pelan. “Ya. Aku suka petikan gitarmu, Chanyeol. Dan aku suka kalau kau bersenandung sambil memetik gitar. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja? Kurasa akan banyak yang menyukaimu.”

“Kalau aku pergi dari sini, lalu siapa yang akan menemanimu?”

“Minseok, Kai, Junmyeon, mereka semua bisa menemaniku.”

Tanpa sadar Chanyeol berdecak kesal. “Aku tidak suka kalau mereka yang menemanimu.”

“Kenapa?” Ekspresi wajah Eunkyung langsung berubah masam, tapi matanya masih terpejam.

Chanyeol mengangkat kedua bahunya, alih-alih menjawab.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Chanyeol.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Kau ini bodoh atau apa? Aku bertanya, apa yang kau pikirkan kalau kau sedang sendirian?”

Chanyeol terdiam beberapa detik, dan akhirnya menjawab. “Kau.”

Eunkyung tersenyum lebar. “Bukan karena aku memikirkanmu juga, bukan?”

Lelaki itu menahan tawa. Rasanya ingin sekali Chanyeol mencubit pipi gadis itu atau bahkan menarik tangannya dan memeluknya erat. Ah, bukankah akan sangat indah jika melihat matahari terbenam sambil memeluk orang yang kau sukai?

“Bisa jadi.” Jawab Chanyeol akhirnya, dengan nada suara senormal mungkin. Ia tidak ingin terdengar senang walaupun jelas-jelas hatinya teramat senang.

Eunkyung tertawa keras saat itu juga. Tangan kanannya menepuk-tepuk lengan Chanyeol jenaka. Chanyeol senang mendengar tawa Eunkyung yang renyah dan selalu terdengar sangat gembira. Gadis ini bisa menularkan kebahagiaan untuknya, bahkan di hari yang paling penat sekalipun.

“Chanyeol, boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Nyanyikan aku sebuah lagu.”

“Aku tidak bisa bernyanyi.”

Eunkyung bangkit dari posisinya dengan satu gerakan mulus. “Kau baru saja bernyanyi, Chanyeol.” Gadis itu kini menghadap pada Chanyeol dan mengerucutkan bibirnya, ciri khas Eunkyung kalau merengek.

“Itu bersenandung, bukan bernyanyi.”

“Kalau begitu, bersenandunglah untukku.”

Chanyeol memandangi Eunkyung beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. Pemuda itu mulai memetik gitarnya dan bersenandung pelan. Semilir angin sore menimbulkan suara gemerisik pohon-pohon rindang yang daun-daunnya bergesekkan. Debur ombak menemani senandung Chanyeol dan gitarnya. Eunkyung kembali memejamkan matanya, menghadap ke depan, menikmati sinar matahari senja yang kian lama kian menghilang.

“Chanyeol..”

“Hm?”

“Kurasa aku menyukai tempat ini.”

“Aku juga.”

“Chanyeol..”

“Hm?” Kali ini Chanyeol menoleh pada Eunkyung.

“Aku suka melihat matahari tenggelam.”

Chanyeol tersenyum, lalu berkata. “Aku juga.”

“Bersamamu.”

Senyum Chanyeol semakin lebar.

Aku juga.

Chanyeol meneruskan petikan gitar serta senandung pelannya seiring dengan langit yang berubah hitam. Sang surya telah sempurna pulang ke peraduan, hanya tinggal sedikit sisa-sisa cahaya kemerahan yang masih menggantung di langit. Eunkyung menggoyangkan badannya mengikuti irama petikan gitar dan suara Chanyeol.

Pemuda itu menoleh pada Eunkyung. Debaran yang sama masih ada, bahkan semakin kuat.

Ibu, aku menyukai gadis ini.

Tuhan, aku mencintai gadis ini.

.

.

Chanyeol terbangun pukul 3 pagi. Ia melirik adik-adiknya yang masih tertidur dengan nyenyak. Ia mengusap muka dengan kedua tangannya dan menghela napas panjang.

Mimpinya barusan adalah kenangannya beberapa tahun silam, sebelum Eunkyung mulai menjadi lupa. Mimpi itu seolah nyata. Seolah terpapar langsung dihadapannya. Perasaan itu masih ada hingga kini, bahkan semakin kuat. Entah apapun keadaan Eunkyung sekarang, Chanyeol tetap mencintai gadis itu. Tapi kini Chanyeol mulai bertanya, apakah gadis itu merasakan hal yang sama dengannya? Apakah gadis itu masih memikirkannya ketika ia sedang sendirian? Apakah ia ingat senandungnya beserta dengan alunan petikan gitar miliknya?

Chanyeol tidak tahu.

Eunkyung…

Bahkan gadis itu sudah tidak mengingat namanya lagi.

.

.

1999

“Kurasa kau harus mulai melakukan sesuatu yang berarti, Chanyeol. Maksudku bukan sekedar mencarinya ketika hilang, atau menemaninya makan sup ikan kesukaannya, atau hal-hal yang selalu kau lakukan berulang-ulang.” Ujar Kai sambil menyeruput es teh dingin di dalam plastik yang baru saja dibagikan oleh istri nelayan yang lulusan SMA itu.

Mereka sedang beristirahat di sebuah gubuk reyot dipinggir pantai. Pekerjaan mereka baru saja selesai. Tangkapan ikan kali ini tidak begitu banyak karena cuaca sedang sedikit buruk. Hujan sesekali mengguyur desa mereka, menyebabkan nelayan takut untuk pergi melaut.

Chanyeol menghela napas. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Kai. Semakin hari keadaannya semakin buruk. Selain ia lupa siapa aku, ia juga mulai sering berhalusinasi, sulit melihat dengan jelas, suasana hatinya sering berubah. Kadang senang tak alang kepalang, kadang sedih menangis meraung-raung seperti seorang pesakitan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa menenangkannya kalau ia sedang sedih dan menangis, aku mencoba untuk mengikuti kemana arah pembicaraannya ketika ia sedang senang. Aku berusaha meyakinkannya bahwa desa ini aman untuk tempat tinggalnya ketika ia sedang berhalusinasi. Aku kasihan pada ibunya.”

Pemuda itu sekarang benar-benar sedih. Semakin hari keadaan Eunkyung semakin parah. Ibunya sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Halusinasi dan perubahan suasana hati Eunkyung semakin sering terjadi, bahkan bisa mengganggu pekerjaan ibunya untuk tetap menghidupi keluarga. Pernah terbesit dalam benak Ibu, sebaiknya Eunkyung dirantai saja dirumah supaya lebih aman dan Ibu bisa bekerja lebih tenang. Tapi Chanyeol tidak setuju dengan hal itu.

Eunkyung bukan orang dengan gangguan jiwa. Eunkyung masih waras, hanya saja ia kesulitan untuk mengingat. Chanyeol terpaksa menjelaskan kepada Ibu apa yang sebenarnya terjadi kepada Eunkyung karena pemuda itu tidak tega melihat kondisi ibu yang semakin renta tetapi bebannya semakin berat. Kini Ibu terlihat lebih kurus karena bekerja lebih keras. Kantung matanya mulai menghitam, dan lebih cekung dari sebelumnya. Chanyeol sesungguhnya prihatin, tetapi hidupnya tidak lebih baik daripada Ibu dan Eunkyung. Mereka sama-sama miskin. Mereka sama-sama tidak mempunyai apa-apa. Semua orang di desa ini miskin.

“Aku tahu kau mencintainya, Chanyeol. Lakukan hal yang bisa membuatnya terus mengingatmu, walaupun sebagai Tobi.” Kai menyedot kembali es teh manisnya yang tinggal setengah. Ia sudah kehabisan permen karet karena ayahnya belum juga pulang dari kota.

Chanyeol terdiam. Apa yang bisa ia lakukan? Sejauh ini ia hanya bisa membantu semampunya. Ia masih punya adik yang menjadi tanggungan hidupnya. Ia masih punya ayah yang sesekali pulang dari kota, menjenguknya seminggu, lalu kembali lagi ke kota untuk mencari uang. Begitu terus kehidupannya berputar, seperti lingkaran setan yang tiada putus. Adik-adiknya kini sudah besar. Chanyeol bersyukur mereka sudah bisa membaca dan menulis, juga melakukan kegiatan yang bisa membantu kehidupan keluarganya. Untuk membantu dirinya sendiripun Chanyeol bermandi peluh, apalagi untuk menghidupi orang lain. Haruskah ia bermandi darah?

Hidup ini kejam. Chanyeol pikir.

Mengapa di usia sebelia ini Eunkyung harus terkena penyakit mengerikan seperti alzheimer? Mengapa tidak nanti saja di usia tua, ketika ia dan Eunkyung sudah menikah, bebas dari rantai kemiskinan menyesakkan ini, hidup kaya raya di kota. Ketika Chanyeol sudah bisa menyekolahkan adik-adiknya sampai tinggi, hidup tanpa kekurangan sesuatu apapun. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus disaat mereka sedang amat miskin sehingga tidak bisa melakukan apapun untuk membuat keadaan lebih baik? Kenapa?!

Chanyeol terkadang marah pada Tuhan.

Tapi tak ada gunanya. Kata Ibunya, Tuhan Maha Baik. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan pada manusia diluar batas kemampuannya. Artinya Chanyeol tahu bahwa ia bisa melalui semua ini.

“Eunkyung suka sesuatu.”

“Matahari tenggelam.”

Chanyeol menggeleng. “Ada lagi. Selain itu.”

“Apa?”

Chanyeol menoleh pada Kai dan memandangnya dengan tatapan lelah. “Petikan gitar dan suara senandungku.”

Kai mengernyit tidak mengerti. “Jelaskan.”

Chanyeol menarik napas panjang, dan menghebuskannya perlahan. “Eunkyung suka mendengar aku bersenandung dan memetik gitar. Ia bahkan pernah menyuruhku untuk menjadi seorang penyanyi. Katanya ia akan selalu merindukan dan mengingat lagu yang selalu aku senandungkan.” Jelas Chanyeol.

“Buatlah.”

“Ha?”

Kai berdecak, melemparkan tatapan sebal pada Chanyeol. Sepertinya sinar matahari menguapkan segala hal yang membuat pria didepannya ini menjadi pintar, pikir Kai.

“Kau. Park Chanyeol, buatlah sebuah lagu yang bisa ia dengarkan berulang-ulang. Buatlah sebuah lagu yang bisa menenangkan hatinya, pikirannya, yang akan selalu mengingatkannya padamu, pada Ibunya, pada matahari terbenam di tepi dermaga sana, pada desa ini. Sehingga kelak, apabila ada sebuah ingatan yang mungkin adalah ingatan terakhir yang akan ia lupakan, maka itu adalah lagu darimu, Chanyeol.” Ujar Kai panjang lebar. Tangannya menepuk-tepuk pundak Chanyeol lembut, berusaha menyalurkan sebuah keyakinan kepada temannya ini.

“Aku… tidak bisa membuat lagu. Lagipula aku lupa meletakkan gitar itu.” Keluh Chanyeol, wajahnya memberengut sedih.

Kai berdecak sebal. “Aku baru tahu bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi begitu kuat seperti pahlawan, juga bisa membuat seseorang menjadi sangat lembek seperti tahu.” Kai menggerutu sambil menggigiti sedotan yang dipakai untuk minum es teh manis. Es teh manisnya sudah kandas, sedangkan milik Chanyeol masih utuh.

“Aku akan mencarinya di rumah.”

“Tsah! Itu bagus! Kau coba dulu membuatnya, ya? Nanti aku yang akan mengetes lagu itu, apakah layak untuk diberikan pada Eunkyung atau tidak.” Kata Kai, kini wajahnya berubah sumringah. Aliran semangatnya cukup berhasil walaupun hanya beberapa persen. “Omong-omong, Chanyeol. Apakah kau akan meminum es teh itu? Punyaku sudah habis, dan aku masih kehausan. Jadi kalau kau tidak akan meminumnya, lebih baik….”

“Ini jatahku, Kim Kai.” Sebelum Kai selesai berbicara, Chanyeol memotongnya dan menghentikan celotehan Kai tentang es teh tersebut. Chanyeol langsung meminum es teh tersebut sampai setengah.

Sayangnya Kai bukan seseorang yang mudah menyerah.

Ketika ia berhenti berceloteh, maka ia akan mulai merengek.

.

.

Chanyeol menemukan gitar tuanya di belakang rumah. Di dekat tumpukan jaring-jaring yang biasa dipakai untuk mencari ikan ke laut bersama nelayan yang lain. Ayahnya dulu juga seorang nelayan, tetapi pria paruh baya itu nekat pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Nasib baik untuknya, Ayah mendapatkan pekerjaan yang cukup layak walaupun harus meninggalkan Chanyeol dan adik-adiknya di desa.

“Kakak, apakah gitar itu masih berfungsi? Aku tidak ingat terakhir kali kakak memainkan gitar itu.” Gihwan, adik Chanyeol yang paling kecil langsung berkomentar ketika melihat Chanyeol masuk ke rumah dengan sebuah gitar tua.

Chanyeol mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu, kita lihat saja. Kurasa masih bagus. Kecuali kalian berdua tidak mengotak-atik dan mengubah stelan senarnya.” Mata Chanyeol berkilat jahil pada kedua adiknya yang langsung tertawa.

Perlahan Chanyeol mulai memetik gitar itu. Suaranya masih bagus walaupun agak sedikit sumbang. Chanyeol tahu, adik-adiknya ini pernah iseng mengotak-atik stelan senarnya, tetapi tidak apa-apa. Bukan hal yang sulit untuk Chanyeol agar bisa membetulkannya kembali.

Setelah beberapa menit mencoba-coba dan membetulkan nada-nada dari gitar tersebut, Chanyeol mulai merenung. Di depannya ada sebuah buku kosong dan sebuah pensil yang ia pinjam dari adiknya yang tertua, Chaerin. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Buku tersebut masih pada halaman pertama, belum ada coretan apapun.

Chaerin dan Gihwan sudah hendak tidur. Mereka terbiasa untuk tidur lebih awal, karena besok pagi-pagi sekali mereka harus sudah bangun dan membereskan rumah kemudian pergi belajar dan bekerja. Chanyeol sering kesulitan untuk tidur. Gangguan ini sudah ia alami semenjak ibunya meninggal dunia. Ia seringkali terjaga sampai larut, kemudian tertidur hanya sebentar. Syukur-syukur ia bisa tertidur dan bangun pagi untuk bekerja. Seringkali hanya terlelap tiga sampai empat jam, lalu terbangun, dan tidak bisa tidur lagi.

“Kakak mau membuat sebuah lagu?” Chaerin membuyarkan lamunannya.

Chanyeol mengangguk. “Kau ada ide?”

Chaerin menggeleng. “Aku tidak pintar mengeluarkan ide, Kakak.”

“Tidak apa-apa. Kau tidurlah, besok harus bangun pagi-pagi sekali.” Ujar Chanyeol sambil tersenyum. Pemuda itu menyerahkan selimut yang ditunjuk oleh Chaerin. Chanyeol mengambilnya dan menyerahkannya pada Chaerin.

Sembari merapikan letak kasur tipis dan selimut, Chaerin berkata. “Pikirkan dia, Kak.”

Chanyeol mengalihkan pandangannya dari kertas kosong pada Chaerin yang baru saja berceletuk. “Apa?”

“Pikirkan tentang alasan Kakak ingin membuat lagu tersebut. Ibu Nelayan berkata padaku, segala sesuatu harus dilakukan dengan tulus supaya hasilnya bisa bagus.” Ujar Chaerin, gadis kecil itu menatap kakaknya sebentar. “Aku tidur duluan, Kak. Jangan terlalu dipikirkan dengan serius. Semakin hari Kakak semakin kurus, aku khawatir. Jangan lupa tidur. Selamat malam.”

Chanyeol menatap Chaerin dengan takjub. Adik tertuanya ini telah tumbuh menjadi gadis yang pintar. Ia belajar banyak dari Ibu Nelayan. Ia mengangguk sambil tersenyum pada Chaerin dan membalas ucapan selamat malamnya.

“Pikirkan dia, Kak.”

Kalimat itu terulang lagi di kepalanya.

Pikirkan Chanyeol, ayo, pikirkan!

Aku memikirkanmu, Chanyeol.

Aku suka mendengar petikan gitar dan senandungmu.

Aku suka melihat matahari terbenam.

Bersamamu.

Dan Chanyeol mulai menuliskan sesuatu pada halaman pertama buku tersebut.

.

.

“Ayaaaaah!” Gihwan memekik senang dan berlari menuju ayahnya yang sedang duduk membuka makanan di rumah. Pintu rumah dibiarkan terbuka agar aroma makanan tidak mengepul di dalam rumah. Chanyeol berjalan mengikuti adiknya sambil tersenyum kecil. Akhirnya, Ayah pulang.

“Ayo makan anak-anak. Ayah membawa makanan yang banyak dan lezat dari kota.” Ujar Ayah, sambil menyiapkan mangkuk nasi untuk anak-anak. Mulutnya tertarik membentuk senyum yang amat sumringah, ekspresi senang melihat kondisi anak-anaknya yang baik-baik saja dan sudah tumbuh besar dengan baik.

“Selamat sore, Ayah.” Sapa Chanyeol sambil tersenyum.

Ayah menoleh dan mendapati Chanyeol sudah duduk di sebelahnya. “Oh, Chanyeol. Selamat sore, Nak. Mari kita makan bersama.”

Keluarga kecil itu akhirnya makan dengan penuh cerita. Ayah menceritakan pekerjaannya di kota, sesekali diiringi gelak tawa. Gihwan bercerita tentang dirinya yang sekarang sudah bisa membaca dan menulis, juga berhitung perhitungan sederhana. Gihwan berkata bahwa Chanyeol yang membawa mereka pada Istri Nelayan untuk belajar. Ayah menepuk pundak Chanyeol sambil tersenyum bangga. Sesekali dalam obrolan, Chanyeol ditanya dan menjawab dengan sopan. Chanyeol sangat menghormati Ayah, karena Beliau adalah satu-satunya pembimbing hidup yang ia punya sekarang. Tidak ada lagi orang lain yang bisa mengerti keluh kesahnya tentang kehidupan selain Ayah. Ayah sangat berharga untuknya, oleh karena itu Chanyeol tidak pernah berani sekalipun membantah apa kata Ayah.

Selesai makan, Gihwan dan Chaerin membereskan meja dan mencuci piring di belakang rumah. Terdengar cekikikan keduanya yang terdengar sangat senang. Mungkin karena efek makanan enak dan banyak, juga kepulangan sosok Ayah yang sangat mereka rindukan. Sedangkan Ayah dan Chanyeol duduk di tepi pantai, di sebuah gubuk reyot yang disinari oleh satu obor. Cahaya remang-remang yang dihasilkan obor tersebut membuat suasana menjadi temaram, tenang, juga ramai karena di temani oleh debur ombak.

“Bagaimana hidupmu disini, Chanyeol?” Tanya Ayah, membuka pembicaraan.

“Aku baik-baik saja. Aku sekarang bekerja menarik jaring bersama Kai juga teman-teman yang lainnya. Sesekali aku ikut ke laut untuk menangkap ikan bersama paman-paman nelayan.” Jawab Chanyeol. Matanya memandang lurus ke depan. “Bagaimana pekerjaan Ayah? Sudah ada kemajuan?”

Ayah tersenyum samar, nyaris tidak terlihat. “Pekerjaan ayah cukup baik. Kemarin baru saja terkena sedikit masalah, tetapi tidak terlalu fatal. Segalanya sudah kembali normal seperti biasa.”

Chanyeol mengangguk pelan. Hubungannya dengan Ayah tidak seperti hubungannya dengan Ibu. Chanyeol dan Ayah selalu berbicara seperti laki-laki dewasa. Tidak terlampau bercanda, tetapi juga ringan.

“Begini..,” Ayah berdeham sekali. “Atasanku menyuruhku untuk pindah ke kota dan menetap disana. Ia berpikir bahwa hasil kerjaku sangat baik dan ingin aku menjadi pegawai tetapnya. Ia sebatang kara sekarang, jadi ia sering mengajakku untuk berdiskusi mengenai banyak hal dan ia kerap kali memintaku untuk menemaninya tinggal di kota.” Jelas Ayah.

Chanyeol mengangguk satu kali, lalu Ayah melanjutkan.

“Ini untuk kehidupan yang lebih baik, Chanyeol. Ini untuk keluarga kecil kita yang harus lepas dari kemiskinan. Bukankah kau senang ketika melihat kedua adikmu menjadi gadis yang pintar? Aku ingin melihat mereka tumbuh seperti itu, Chanyeol.” Kata Ayah. Chanyeol hanya diam, mendengarkan dengan seksama.

“Ikutlah ke kota,” Ujar Ayah. “Kita akan mendapatkan hidup yang lebih baik disana, Chanyeol. Kita harus pindah ke kota.”

Chanyeol menghela napas panjang. Pindah ke kota? Itu pilihan yang sangat menarik. Chanyeol mulai membayangkan kehidupannya di kota akan seperti apa. Rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, makanan yang sehat, adik-adiknya bersekolah dan menjadi anak-anak yang pintar, ia akan mendapatkan banyak teman dan bergaul dengan baik, ia bisa mengembangkan dirinya, tidak lagi tersiksa dengan jaring-jaring yang kasar setiap harinya.

Tapi entah mengapa Chanyeol merasa ragu. Ia tumbuh di desa ini, sejak kecil. Semua hal di desa ini telah mengisi hidupnya selama hampir 20 tahun lebih. Sekarang ia harus pindah ke Kota, meninggalkan semua hal yang mengisi sejarah kehidupannya. Kai, Jongdae, Junmyeon, Minseok….

Eunkyung.

Chanyeol akan berpisah dengan Eunkyung. Gadis yang dicintainya.

“Bagaimana Chanyeol?” Tanya Ayah, melemparkannya kembali ke dunia nyata.

“Apakah aku harus ikut pindah?”

Ayah tersenyum. “Kenapa? Kau tidak mau?”

Mendengar itu Chanyeol menggeleng cepat. “Tidak, bukan begitu. Maksudku…”

Tiba-tiba Ayah menepuk pundak Chanyeol dengan tegas. “Aku tahu kau sudah dewasa, Chanyeol. Kau mempunyai wanita yang kau sukai, kan? Dengar. Dunia ini berputar, Chanyeol. Tidak ada yang tahu kau akan berada di posisi apa. Setiap hari manusia berubah, waktu berjalan. Hidup tidak bisa diam di satu titik yang sama, kau harus bisa keluar dari zona nyaman, kau harus memutuskan lingkaran kemiskinan ini, Chanyeol. Aku tidak punya ide untuk wanita yang kau sukai itu, tetapi ingatlah, kalau kau berjodoh dengannya waktu akan mempertemukan kalian lagi, bahkan di saat yang tidak terduga.” Jelas Ayah. Matanya memandang lurus kedepan, menerawang, seolah-olah mengingat masa lalunya.

“Apakah Ibu dan Ayah begitu dulu?”

Ayah mengangguk pelan. “Berat rasanya harus meninggalkan Ibu dan pergi bekerja ke kota. Apalagi kau sudah lahir, tambah berat rasanya, Yeol. Tapi.. demi Ibu dan kau, aku rela. Demi Chaerin dan Gihwan, aku rela melakukan apapun, asalkan kalian bisa hidup dengan baik.” Kata Ayah.

Ayah benar. Ia harus keluar dari zona nyamannya. Ia harus pergi dari desa ini, mencari sebuah kehidupan yang lebih baik. Tapi bagaimana dengan Eunkyung?

“Kapan kita harus berangkat, Ayah?” Tanya Chanyeol, akhirnya setuju dengan pilihan mencari hidup yang lebih baik di kota.

Ayah tersenyum senang. “Secepatnya. Mungkin lusa.”

Chanyeol menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Ayah pergilah dulu bersama Chaerin dan Gihwan, aku akan menyusul. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”

“Begitu ya?” Kening Ayah berkerut. “Hm…, kau mau melakukan sebuah perpisahan dengan gadis itu, ya?” Goda Ayah yang membuat wajah Chanyeol langsung memerah.

“Ti-tidak!” Jawab Chanyeol sambil terbata-bata. “A-Ayah jangan sok tahu!”

Mendengar kegugupan Chanyeol, Ayah tertawa. “Kau ini anak Ayah, Chanyeol. Tidak perlu berbohong. Lagipula..,” Kalimat Ayah menggantung sesaat. “…gitar tua itu sepertinya masih sangat bagus untuk dimainkan. Persembahkanlah sebuah lagu yang paling indah untuknya, ya.”

Chanyeol langsung menoleh cepat dan menatap Ayah dengan pandangan terkejut. Ayah hanya tertawa keras, kedua bahunya berguncang. Perutnya yang sedikit buncit bergerak-gerak.

“Ayah masuk duluan, ingin mendengarkan Chaerin dan Gihwan membaca cerita. Jangan terlalu malam.” Ujar Ayah sambil turun dari gubuk reyot, memakai sendal, dan berlalu meninggalkan Chanyeol yang masih terbengong-bengong sendiri.

.

.

Chanyeol sudah memutuskan untuk menyusul Ayah ke kota minggu depan, dan Ayah sudah pergi terlebih dahulu dua hari yang lalu. Setelah berpamitan kepada para tetangga dan teman-temannya, Ayah membawa Chaerin dan Gihwan yang sudah menangis bombay karena terlampau sedih harus meninggalkan desa ini. Orang-orang desa bertanya kenapa Chanyeol tidak ikut, pemuda itu menjawab dengan senyum sopan bahwa ia akan menyusul Ayah minggu depan.

Ayah pergi hari Senin, dan ini sudah hari Jumat. Sisa hari itu Chanyeol habiskan untuk membereskan barang-barangnya, juga merampungkan lagu untuk Eunkyung. Awalnya Chanyeol ragu, apakah ia akan benar-benar memberikan lagu ini kepada Eunkyung atau tidak. Karena pada saat Ayah berpamitan dengan keluarga Eunkyung, gadis itu bertanya siapa yang akan pergi dan akan pergi kemana. Ayah terkejut mendengar pertanyaan itu. Beliau bertanya apakah Eunkyung ingat kepada Ayah, dan Eunkyung menggeleng. Gadis itu bertanya kepada ibunya siapa bapak-bapak yang berada dihadapannya ini. Gadis itu merasa ketakutan karena ia merasa Ayah mengintimidasinya, seolah-olah tahu siapa dirinya padahal Eunkyung sama sekali tidak mengenalnya. Ayah memandang Ibu Eunkyung, meminta penjelasan. Namun Ibu hanya membalas dengan senyuman getir, gurat kesedihan terpancar jelas di wajahnya.

Hari ini Chanyeol dan Kai pergi ke sebuah toko yang letaknya cukup jauh dari desa. Kai berkata bahwa ia mempunyai seorang kenalan yang bisa merekamkan lagu itu dan menjadikannya sebuah kaset. Dengan tabungannya, Chanyeol akhirnya merekam lagu itu. Ia membeli sebuah tape kecil yang bisa digunakan untuk memainkan kaset berisi lagu tersebut. Dengan modal pas-pasan dan gitar tua yang berkali-kali ia atur nadanya, Chanyeol akhirnya menyanyikan lagu itu.

Untuk Eunkyung.

Sebagai sebuah salam perpisahan.

.

.

“Ibu, apakah Eunkyung ada?” Chanyeol mendatangi Ibu yang sedang duduk di depan rumah sambil menyulam sesuatu.

Ibu mendongak dan tersenyum kepada Chanyeol. “Eunkyung ada di dalam, baru saja selesai mandi. Kau mau mengajaknya berjalan-jalan?” Tanya Ibu.

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum. “Boleh aku masuk?”

“Silakan.”

Chanyeol melepas sendalnya dan melangkah masuk. Aroma kayu putih langsung masuk ke dalam indera penciumannya. Kebiasan Eunkyung, sampai sekarang masih suka memakai kayu putih.

“Hai, Eunkyung.” Sapa Chanyeol begitu mendapati Eunkyung sedang menyisir rambutnya yang hitam sebahu di dekat jendela belakang.

Yang di sapa langsung menoleh, mengerutkan keningnya sesaat, kemudian tersenyum tipis. “Tobi.” Balasnya.

Syukurlah, gadis itu mengingatnya. Sebagai Tobi.

“Aku ingin mengajakmu melihat matahari terbenam di tepi dermaga. Kau mau ikut?”

Mendengar itu Eunkyung langsung mengangguk cepat. Ia lalu memakai sweater abu-abu kesayangannya sambil tersenyum gembira. “Ayo.”

Setelah berpamitan kepada Ibu, Chanyeol dan Eunkyung berjalan santai menuju dermaga. Chanyeol membawa sebuah gitar di punggungnya dan sebuah tape murahan berwana hitam yang berisi kaset.

Hari ini Chanyeol akan mempersembahkan lagu ini kepada Eunkyung, sambil memandang matahari terbenam di tepi dermaga. Sejujurnya Chanyeol merasa sangat gugup. Ini pertama kalinya ia akan bernyanyi di hadapan Eunkyung. Dulu, Chanyeol memang sering memainkan gitar dan bersenandung untuk Eunkyung, tapi itu dulu, ketika Chanyeol belum benar-benar yakin akan perasaannya kepada gadis itu. Sebelum Chanyeol mempunyai hasrat menggebu untuk memiliki gadis itu sepenuhnya, sebelum Chanyeol memiliki pikiran untuk menikahi gadis itu.

Chanyeol tidak tahu apakah Eunkyung akan membalas cintanya atau tidak. Jangankan untuk membalas cintanya, Chanyeol bahkan tidak tahu apakah setelah ia pergi ke kota, Eunkyung masih akan mengingatnya atau tidak.

“Lihat! Indah sekali, bukan?” Eunkyung berlari ke tepi dermaga, melepas sandalnya dan duduk sambil menggoyang-goyangkan kaki. Kakinya menyentuh air laut, merasakan gelombang ombak yang memberikan ketenangan.

Chanyeol duduk di sebelahnya. Lelaki itu memberikan jarak 30 sentimeter antara dirinya dan Eunkyung. Matahari beranjak turun perlahan-lahan.

“Eunkyung..,” Panggil Chanyeol.

“Hm?”

“Apa yang kau sukai?” Tanya Chanyeol, matanya memandang kedepan, menyipit karena intensitas sinar matahari yang cukup tinggi menyinari keduanya.

Eunkyung tidak menjawab, gadis itu terdiam hingga akhirnya Chanyeol menoleh. Gadis itu sedang terpejam sambil tersenyum. Menikmati sinar matahari sore yang menyinari wajahnya yang cantik. Ini kedua kalinya Chanyeol merasakan kembali degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Degup yang sama, seperti dulu saat pertama kali Chanyeol mendapati Eunkyung dalam posisi serupa.

Cantik.

“Aku suka ini.” Ujar Eunkyung tiba-tiba.

Chanyeol mengerutkan keningnya samar. Eunkyung membuka matanya perlahan, kemudian mengalihkan pandangannya menatap Chanyeol. “Aku suka melihat matahari terbenam. Disini.”

Eunkyung tersenyum tipis. “Kalau kau?”

“Sama sepertimu.”

“Dulu..,” Eunkyung menarik napas panjang dan mulai bercerita. “..rasanya aku sering mengunjungi tempat ini bersama seorang teman. Kami suka memandangi matahari terbenam. Walaupun tidak setiap hari, tetapi aku selalu senang kalau ia mengajakku kesini. Disini ramai, katanya. Dengan debur ombak yang memecah karang, suara burung-burung… aku merasa nyaman. Dulu kakiku belum bisa menyentuh air seperti ini, dulu aku masih pendek.”

Chanyeol memandangi Eunkyung sambil tersenyum. “Kau tahu siapa orang itu?”

Eunkyung menggeleng. “Aku lupa. Dia orang yang sangat baik hati, pandai bermain gitar dan suka menyenandungkan sebuah lagu untukku. Dia mirip denganmu. Tapi sekarang dia sudah tidak ada, entah pergi kemana. Aku lupa. Yang aku ingat hanya itu.”

Itu aku. Dan aku disini, Eunkyung. Disampingmu.

“Lagu apa yang biasa ia senandungkan untukmu?” Chanyeol bertanya lagi. Entah mengapa hatinya merasa hangat ketika tahu bahwa Eunkyung sedikit banyak masih mengingatnya.

“Aku tidak ingat. Mungkin karena aku sudah lama sekali tidak bertemu denganya, jadi aku lupa. Aku harap aku bisa bertemu lagi dengannya nanti.” Ujar Eunkyung.

Matahari sudah turun perlahan-lahan. Langit sudah mulai berubah warna menjadi biru gelap. Sebentar lagi gelap.

“Eunkyung..” Panggil Chanyeol.

“Hm?”

“Kau mau mendengar sebuah lagu?”

Eunkyung menoleh. “Kau bisa menyanyi?”

“Sedikit.” Chanyeol terkekeh pelan. “Ini adalah sebuah lagu yang kuciptakan sendiri. Kau mau mendengarnya?”

Gadis disampingnya mengangguk antusias. Chanyeol mulai menyiapkan gitarnya. Lelaki itu menarik napas panjang satu kali, sebelum akhirnya mulai memetik gitar tua itu.

Nae nargeun gitareul deureo haji mothan gobaegeul
Hogeun gojipseuresamkin iyagireul
Norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo
Geunyang deureoyo I’ll sing for you

Picking up my old guitar,
The confession that I couldn’t make
Pretending I made one song, I’m about to tell
Just listen, I’ll sing for you

Neomu saranghajiman saranghanda mal an hae
Eosaekhae jajonsim heorak an hae
Oneureun yonggi naeseo na malhal tejiman
Musimhi deureoyo I’ll sing for you

I love you a lot but I don’t say the words,
It’s awkward that pride doesn’t allow me
Today I will take courage and tell you, but just
Listen to it carelessly, I’ll sing for you

The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka
Hagopeun mal, nohchyeobeorin mal
Gobaekhal tejiman geunyang deureoyo
I’ll sing for you, sing for you
Geunyang hanbeon deutgo useoyo

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me
The words I want to say, but missed the chance
I will confess but just listen,
I’ll sing for you, sing for you
Just listen once and smile

Matahari turun perlahan seiring dengan petikan gitar dan nyanyian Chanyeol yang terus mengalun. Eunkyung mendengarkan lagu itu dengan seksama. Gadis itu merasakan ada sebuah ketulusan yang amat mendalam di dalam lagu tersebut. Ia menoleh pada Chanyeol dan memandanginya lekat. Pemuda itu sangat mirip dengan temannya yang dulu sering bersenandung untuknya. Postur tubuhnya, petikan gitarnya, rambutnya, perlakuan pemuda itu kepadanya.

Tiba-tiba saja Eunkyung merasa amat rindu pada temannya itu. Teman yang dulu selalu ada untuknya, selalu memberikan perhatian kepadanya. Teman yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka, ketika menangis maupun tertawa. Eunkyung rindu mendengar senandung lagu yang ia sendiri sudah lupa apa judulnya. Ia rindu mendengar tawa renyah temannya itu. Melihat Chanyeol –yang sekarang ia kenal sebagai Tobi –yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi, rasanya seperti mimpi. Mimpi di kala senja, ketika Eunkyung bertemu kembali dengan temannya yang telah hilang itu. Segalanya terasa sangat nyata. Perasaan hangat tiba-tiba menjalar dalam seluruh tubuh Eunkyung.

Air mata menetes mengaliri pipinya yang mulus. Chanyeol terus bernyanyi, petikan gitar terus di lantunkan. Eunkyung menutup matanya perlahan, menikmati setiap alunan kata yang keluar bersama nada yang indah dari Chanyeol. Diam-diam ia tidak ingin semua ini berakhir. Diam-diam ia berharap bahwa yang sedang menyanyi dihadapannya ini adalah teman masa lalunya. Eunkyung ingin waktu berhenti dan tidak pernah berjalan kembali. Eunkyung ingin terus seperti ini.

Langit berubah gelap. Warna jingga yang masih menggantung memberikan suasana temaram yang menenangkan. Chanyeol menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Seolah segala hal yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata, tumpah ruah dalam lagu itu. Perasaannya, cintanya, kebahagiaannya, juga kesakitannya. Terlintas potongan-potongan masa lalunya yang penuh tawa dengan Eunkyung, dulu sebelum Eunkyung melupakan semuanya. Seperti roll film yang diputar kembali, semuanya seolah nyata terpapar dihadapannya. Bagaimana caranya memandang Eunkyung sebagai gadis untuk yang pertama kali, bukan lagi sebagai sahabatnya. Bagaimana ia berusaha sekeras mungkin untuk menjaga dan membuat Eunkyung tetap gembira. Semua rasa rindunya terhadap Eunkyung, semua rasa cemburunya pada laki-laki yang mengobrol dengan Eunkyung, bagaimana khawatirnya ia ketika Eunkyung belum pulang ke rumah sampai jam 10 malam, bagaimana terkejutnya ia ketika mengetahui kenyataan bahwa Eunkyung terkena alzheimer.

Betapa sedihnya ia ketika menghadapi Eunkyung yang lupa pada dirinya sendiri.

Sahabat masa kecilnya.

Laki-laki yang selalu memetikkan gitar tua sambil bersenandung dikala senja.

Laki-laki yang selalu memikirkannya setiap saat.

Laki-laki yang membuatnya jatuh cinta pada senja.

Laki-laki yang selalu ada di pikiran Eunkyung kala gadis itu sedang sendirian.

Laki-laki yang membuatnya merasa amat bahagia ketika melihat senja bersama.

Chanyeol menitikkan air mata. Entah sudah berapa kali lagu itu ia ulangi, terus dan terus ia ulangi. Chanyeol tidak mau berhenti sebelum semua perasaannya tumpah. Lelaki itu berharap Eunkyung juga merasakan hal yang sama. Merasakan cintanya, kehadiran dirinya, kepedihannya.

Tiba-tiba Chanyeol merasakan bahu kirinya terasa lebih berat. Eunkyung menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol, masih sambil memejamkan mata. Chanyeol melirik dengan ekor matanya dan mendapati gadis itu menangis. Perlahan pemuda itu memberanikan diri untuk menghapus air mata di pipi gadis itu.

Jangan menangis, Eunkyung.

Jangan bersedih.

Teruslah berbahagia.

Perlahan Chanyeol menghapus jarak diantara mereka berdua. Ia bergeser dan merapatkan duduknya dengan gadis itu. Merasakan kehangatan dari kedua lengan yang bersentuhan, berbagi rasa antara dirinya dan Eunkyung. Berbagi detak dengan gadis ini, berbagi kenangan, berbagi kesedihan.

Lagu terus mengalun. Sampai matahari benar-benar menghilang. Obor-obor sepanjang dermaga mulai dinyalakan oleh nelayan sekitar, menciptakan suasana temaram yang menenangkan. Eunkyung masih memejamkan mata. Gadis itu tidak berani membuka mata, ia takut kalau ia membuka mata maka semua hal yang indah ini akan berakhir, akan hilang. Lelaki disampingnya akan hilang, semua perasaan hangatnya akan menguap, hawa dingin akan kembali merasuk pada dirinya dan membelenggunya dalam kepedihan. Eunkyung tidak berani. Eunkyung takut.

Tiba-tiba, dalam pejamnya, gadis itu merasakan sesuatu menyentuh puncak kepalanya dengan sangat lembut. Chanyeol mengecupnya cukup lama, sebagai perwujudan apa yang ia rasakan selama ini terhadap Eunkyung. Lelaki itu menaruh sebuah benda berukuran sedang ke telapak tangannya, dan membuatnya menggenggam benda itu. Eunkyung merasakan lengan lelaki itu melingkar di tubuhnya, mendekapnya dengan lembut. Lelaki itu sudah tidak bernyanyi, namun sesuatu yang barusan diletakkan di tangannya mengeluarkan suara. Lagu yang sama.

Malam itu Eunkyung dan Chanyeol menghabiskan waktu di tepi dermaga. Tidak peduli angin yang berhembus cukup kencang mengacak-acak rambut keduanya. Eunkyung dan Chanyeol hanya ingin berdua, dalam posisi seperti ini, berlama-lama.

Kuharap segalanya akan tetap sama seperti ini. Sampai nanti. Sampai aku mati.

Batin Eunkyung penuh harap.

Maafkan aku, Eunkyung. Sampai jumpa di kehidupan yang lebih baik.

Batin Chanyeol pedih.

Aku mencintaimu. Apapun keadaanmu. Sepenuh hatiku.

.

.

2005

.

.

“Hurry up, Kai! We’re late!” Baekhyun berteriak dengan lantang, menyuruh Kai untuk cepat-cepat menyelesaikan ‘bisnis’nya di kamar mandi.

Beberapa detik setelah itu muncul laki-laki berkulit tan sambil membawa sekotak tissue yang masih utuh. “Can you just wait me in the car? Gara-gara masakanmu semalam, aku harus terus-terusan berbisnis pagi ini.” Pemuda itu menggerutu sambil berjalan mengekor Baekhyun menuju mobil.

“Is Kai there?” Suara Chanyeol muncul dari belakang kemudi. Lelaki itu memakai stelan kemeja putih, dipadu dengan celana jeans hitam panjang dan sneakers warna putih.

“Yeah,” Baekhyun naik ke mobil dan duduk di kursi penumpang. “Kau harus tahu, dia menyalahkan masakanku kemarin malam yang menyebabkan dia harus bolak-balik kamar mandi. What the heck, man!

Chanyeol hanya terkekeh dan melirik teman satu grupnya itu dari kaca spion tengah mobil. Setelah Kai masuk ke mobil, Chanyeol menoleh ke sisi kanannya dan mendapati Chaerin di depan pintu gerbang.

“Aku titip rumah, ya, Chaerin.” Ujar Chanyeol.

Chaerin mengacungkan jempol. “Baiklah. Kalau kau bertemu teman-temanku dulu di desa, sampaikan salamku untuknya, ya! Katakan pada mereka aku rindu dan akan mengunjungi mereka secepatnya.” Pesan Chaerin pada Chanyeol yang dibalas dengan anggukan dan senyuman.

Setelah memastikan bahwa Baekhyun dan Kai sudah duduk dengan nyaman –walaupun keduanya masih beradu mulut tentang teoppokki yang dimasak Baekhyun semalam, dan menyebabkan Kai sakit perut –Chanyeol menginjak pedal gas dan meluncur meninggalkan rumahnya.

.

Kini Chanyeol, Kai, Jongdae, Junmyeon, dan teman-temannya yang dulu hidup di desa tergabung ke dalam sebuah band. Anggotanya ada 9, diantaranya beberapa teman kenalannya dari tempat kursus. Kepindahan Chanyeol ke kota kala itu membuat hidupnya berubah drastis. Keberuntungan terus menyambanginya dan membuatnya menjadi orang yang sukses. Kebahagiaan datang kepadanya, uang yang berlimpah, hidup yang layak. Bahkan adik-adiknya sekarang sudah memasuki jenjang sekolah menengah. Walaupun mereka sedikit telat untuk masuk ke sekolah, tetapi karena kecerdasan keduanya mereka dapat mengejar pelajaran dengan baik.

Atasan Ayah melihat Chanyeol mempunyai bakat menyanyi, dan mendaftarkannya ke sebuah kursus musik. Di tempat itupun Chanyeol menjadi bintang. Ia bersinar terang. Guru musiknya menyuruhnya untuk mencari teman untuk membuat sebuah grup band, dan alhasil Chanyeol menggaet teman-temannya di desa untuk bergabung bersamanya. Dan jadilah mereka sekarang, tinggal di satu atap yang sama, menjadi sebuah keluarga.

Ayah sekarang bekerja dengan posisi terbaik di kantornya. Atasannya sangat menyukai Ayah karena pekerjaan yang dilakukan Ayah selalu bagus. Kini uang terus mengalir tanpa henti pada keluarga mereka. Chanyeol bersyukur kepada Tuhan karena apa yang dikatakan oleh Ayah memang ada benarnya.

Ketika ia keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi tantangan, ia akan menemukan hidup yang lebih baik.

Hari ini Chanyeol dan teman-temannya libur berkegiatan. Selain karena Kai yang mendadak mengalami gangguan pencernaan –lelaki ini masih bersikukuh bahwa teoppokki buatan Baekhyun yang menyebabkan semua ini –ia juga mendadak rindu dengan desanya. Ia mengajak Kai dan Baekhyun untuk melihat keadaan desanya sekarang. Menurut kabar di televisi, pemerintah sudah melihat keberadaan desa terpencil itu dan mulai membangunnya perlahan-lahan. Dibangun sarana pendidikan dan kesehatan, di sejahterakan kehidupannya, di cukupkan segala kebutuhan dan infrastrukturnya.

Benar saja. Ketika sampai disana, keadaan yang amat baru menyambutnya. Desa itu sudah menjadi lebih modern, walaupun tidak semodern di pusat kota. Rumah-rumah penduduk bukan lagi gubuh reyot, penerangan sudah memadai, dermaga-dermaga sudah di bangun menggunakan beton, bukan lagi dari bambu. Disetiap rumah sudah terpasang antena untuk televisi. Kapal-kapal nelayan sudah berubah menjadi lebih baik dari yang terakhir kali Chanyeol lihat. Desa ini benar-benar sudah terjamah oleh pemerintah.

Ketika sampai disana keadaan desa sangat ramai. Chanyeol memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir dipinggir pantai. Ia mengajak Kai dan Baekhyun berjalan kaki untuk menikmati udara pedesaan. Walaupun cukup panas, tetapi hal itu tidak menghalangi ketiga pemuda itu untuk berjalan-jalan.

Gangguan pencernaan Kai mendadak sembuh saat ia menginjakkan kaki di tanah desa. Saking senangnya, ia langsung pergi ke sebuah warung untuk memesan es kelapa muda. Chanyeol dan Baekhyun mengekornya dari belakang dan memesan minuman yang sama. Mereka bertiga menikmati es kelapa muda yang begitu menyegarkan.

This village has changed a lot, right? Bahkan aku sendiri lupa dulu rumahku ada dimana.” Gumam Kai sambil memasukkan satu lembar permen karet rasa mint yang selalu ia bawa kemana-mana. Kebiasaan memakan permen karetnya masih bertahan sampai kini, bedanya kalau permen itu sudah tidak manis atau sudah terasa keras, Kai akan membuangnya dan mengganti dengan permen yang baru.

Baekhyun sampai menyebutnya sebagai ‘Pemuda Lengket Permen Karet’.

“Chanyeol, aku ingin ke sekolah itu. Sepertinya sedang ada sesuatu disana.” Baekhyun menunjuk sebuah bangunan berwarna putih yang cukup megah. Dari gerbangnya, Chanyeol dapat langsung mengetahui bahwa itu adalah sebuah sekolah dasar. Setelah membayar es kelapa muda, Chanyeol, Baekhyun, dan Kai langsung bergerak menuju sekolah tersebut.

Ternyata sedang ada penyuluhan dokter gigi disana. Dokter-dokter gigi muda yang cantik juga tampan sedang memberikan penyuluhan cara menjaga gigi agar tetap sehat untuk anak-anak SD. Chanyeol memerhatikan kegiatan itu dari jauh, sedangkan Baekhyun diajak jalan-jalan melihat sekeliling bersama Kai. Untungnya tidak disertai dengan adu mulut tentang teoppokki sialan itu.

Sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh bahu Chanyeol dengan lembut. Sontak Chanyeol menoleh dan mendapati seorang gadis seumurannya, berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.

“Park Chanyeol?” Tanya gadis itu lembut.

Chanyeol mengangguk kaku. “Kau…?”

“Aku Hana. Temannya Eunkyung. Kau ingat Eunkyung?”

Chanyeol tersentak kaget mendengar nama itu. Eunkyung. Shin Eunkyung. Teman masa lalunya. Gadis yang dicintainya. Apa kabar?

“Y-ya, kau temannya? Eunkyung dimana? Apa kabar dia? Apakah dia sehat? Bagaimana kabar Ibu?” Chanyeol langsung menghujani Hana dengan berbagai macam pertanyaan. Gadis itu hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya, mencoba menahan pertanyaan Chanyeol.

“Tunggu, tunggu. Mari kita bicarakan ini di sebelah sana.” Hana menunjuk sebuah bangku di bawah pohon yang rindang di tepi pantai. Chanyeol langsung mengangguk.

.

.

“Jadi… Eunkyung sudah meninggal?” Tanya Chanyeol dengan suara yang lemah.

Hana mengangguk pelan. “Satu tahun yang lalu,” Ujarnya. “Dan kini ibu berada di rumah, sakit-sakitan.”

Entah apa yang harus Chanyeol katakan untuk menanggapi pernyataan dari Hana barusan. Ada sebuah pisau yang rasanya baru saja ditancapkan ke jantungnya, membuat organ tersebut bocor dan mengeluarkan darah yang sangat banyak.

Eunkyung sudah meninggal. Satu tahun yang lalu, dan tidak ada yang mengabarinya. Ibu sakit-sakitan, sekarang diam dirumah dan tidak bekerja. Wanita peruh baya itu sekarang sebatang kara, hidup diselimuti oleh kepedihan karena ditinggal anak semata wayangnya di tengah kehidupan desa yang berangsur maju.

“Apa karena alzheimer yang di deritanya?” Chanyeol bertanya lagi.

Hana mengangguk. “Kau tahu, penyakitnya semakin parah. Ibu tidak mampu untuk membeli obat karena harganya sangat mahal. Setiap hari Eunkyung tertawa dan menangis, berganti-ganti. Atau berhalusinasi bahwa akan ada seseorang yang membunuhnya…,” Jelas Hana. Gadis itu menggeleng pelan, terlihat ekspresi wajahnya yang berubah menjadi sendu. “…ia lupa semuanya, bahkan ia lupa siapa ibunya sendiri. Terkadang ia mengamuk, melemparkan semua barang-barang ketika sedang menangis meraung-raung. Ketika ia sudah tenang, ia akan duduk di kamarnya sendirian. Mendengarkan sebuah lagu dari tape ini.” Hana mengulurkan tape murahan berwarna hitam kepada Chanyeol.

Chanyeol ingat tape itu. Itu tape yang diberikannya kepada Eunkyung saat terakhir kali mereka bertemu. Disebuah senja yang indah, tapi sendu.

“Eunkyung bilang bahwa benda itu berharga baginya. Ia selalu membawa benda itu kemana-mana, mendengarkan lagunya berulang kali, setiap hari, terutama saat senja di tepi dermaga di ujung sana.” Hana menunjuk sebuah dermaga yang tidak terlihat.

Chanyeol mengikuti telunjuk Hana. Ia ingat, ia tahu persis dimana letak dermaga itu. Bahkan ia ingat setiap detil perjalanan hidup yang pernah ia lalui di dermaga itu. Chanyeol tiba-tiba saja merasa biru ditengah hari yang sangat cerah.

“Bagaimana kau bisa tahu aku? Aku tidak mengenalmu sebelumnya.” Kata Chanyeol.

“Waktu itu aku dan Eunkyung sedang menonton televisi di rumah tetangga. Channel itu menyiarkan sebuah acara musik, dan aku melihat Eunkyung tersenyum cerah saat melihat kau bernyanyi. Ia berkata bahwa lelaki itu yang memberikan tape ini kepadanya. Eunkyung bilang bahwa ia merindukan lelaki itu, merindukan petikan gitarnya dan senandungnya.” Jelas Hana. Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Lalu mengapa kau memberikan ini padaku? Ini milik Eunkyung. Aku yang memberikannya.”

“Ia menyuruhku untuk memberikannya padamu kalau bertemu suatu hari nanti. Ia juga menitipkan ini,” Hana menyerahkan sebuah amplop berukuran sedang berwarna cokelat pada Chanyeol. “Tapi kau hanya boleh membukanya di rumah, ketika semua orang sudah tertidur. Kau harus membuka amplop ini sambil mendengarkan lagu dari tape itu.”

Kening Chanyeol berkerut dalam. Tangannya terulur untuk menerima amplop yang disodorkan padanya. “Mengapa aku tidak boleh membukanya langsung?”

Hana mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tahu. Itu yang dia katakan padaku, sebelum akhirnya satu minggu berikutnya ia mengamuk parah dan berhalusinasi terus. Pada hari Senin yang cerah, Ibu menemukan Eunkyung tidak kunjung bangun hingga tengah hari. Awalnya Ibu berpikir Eunkyung kelelahan karena menangis terus, tetapi setelah di cek ternyata…..”

Hana tidak menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu tiba-tiba menyeka ujung matanya yang mulai berair. Gadis itu tidak bisa menahan perasaannya kalau mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu. Terlalu menyedihkan untuknya, melihat temannya sendiri terbujur kaku tanpa nyawa di kamarnya sendiri. Hana menyaksikan semua prosesi pemakaman Eunkyung di hutan. Ia sendiri yang menebarkan bunga di atas makamnya, ia sendiri yang menyaksikan Ibu menangis meraung-raung, sulit untuk melepaskan anak satu-satunya untuk kembali kepada Tuhan.

“Maaf, aku terbawa perasaan.” Ujar Hana, sambil sedikit terkekeh.

Chanyeol tersenyum getir. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Terima kasih karena telah memberi tahuku tentang ini. Aku menyesal mendengar ini semua. Kukira aku akan menemukan gadis itu tersenyum ceria, tetapi ternyata…”

“Dia sedang tersenyum melihatmu datang kesini, Chanyeol. Dari atas sana.” Hana mendongak, memandang langit biru berawan putih yang berarak terkena angin.

“Aku ingin melihat Ibu dan mengunjungi makam Eunkyung, kau bisa mengantarku?” Pinta Chanyeol, lelaki itu memandang Hana tepat dimatanya.

Hana mengangguk sambil tersenyum.

.

.

“Terima kasih Hana untuk hari ini. Aku titip Ibu,” Ujar Chanyeol sebelum masuk ke dalam mobil. “Aku percaya padamu.”

Hana tersenyum dan mengangguk sopan. “Sama-sama Chanyeol. Datanglah lagi kapanpun kau mau. Ajak juga teman-temanmu yang lain, kurasa ibu-ibu nelayan disini suka melihat mereka. Mereka tampan katanya.” Hana tertawa sedetik kemudian, diikuti dengan Chanyeol yang terkekeh pelan sambil melirik Baekhyun dan Kai yang sedang berfoto di pinggir pantai.

“Baiklah. Aku pulang sekarang. Senang bertemu denganmu.” Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hana, dan disambut dengan hangat oleh gadis itu.

Are we going home now, Chanyeol?” Baekhyun menghampiri Chanyeol yang sedang berpamitan dengan Hana. Lelaki itu bersitatap dengan Hana selama beberapa detik.

“Ya. Apakah kalian sudah selesai? Aku tidak mau sampai ke rumah terlalu malam. Besok jadwal kita padat.” Ujar Chanyeol pada Kai.

Yes, we’re done. Omong-omong, siapa gadis ini Chanyeol? Aku tidak tahu kalau kau mempunyai pacar di sini.” Kata Baekhyun sambil menatap Chanyeol dan Hana bergantian. Hana terkikik pelan, lalu mengulurkan tangannya pada Baekhyun.

“Aku Hana. Dan aku bukan pacar Chanyeol. Kami teman.” Kata gadis itu, memperkenalkan diri.

Baekhyun menyambut uluran tangan Hana dengan senyum lebar. “Aku Baekhyun, teman sekamar Chanyeol. Jadi kau bukan pacar Chanyeol? By the way, aku juga belum punya pacar.”

Mendengar itu Chanyeol mencibir temannya yang terkenal sangat genit itu. Sebelum Baekhyun mulai mengeluarkan jurus gombalnya yang mengerikan, Chanyeol membuka pintu mobil dan memanggil Kai yang masih asyik dengan ponselnya untuk memotret.

Hey, Kai! Let’s go home! Baekhyun, sudah cukup sesi kenalannya. Kita harus pulang.” Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang masih menjabat tangan Hana. Baekhyun langsung memberengut sebal.

“Sampai nanti, Hana.” Chanyeol mengucapkan salam perpisahan dari belakang kemudi. Kai tersenyum dan mengangguk sopan pada gadis itu –mungkin cenderung malu-malu –sedangkan Baekhyun tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.

Perlahan Chanyeol menginjakkan kakinya pada pedal gas untuk memutar mobilnya keluar dari tempat parkir. Setelah memberikan isyarat klakson kepada Hana, mobil berwarna hitam itu meluncur meninggalkan desa tersebut untuk kembali ke kota.

Chanyeol pergi lagi. Chanyeol pergi untuk menjalani kehidupannya di kota.

That’s a cute girl, isn’t it, Chanyeol? Kurasa aku akan berkunjung lagi kesini dalam waktu dekat.”

Tiba-tiba saja Baekhyun berceletuk dan diakhiri dengan ceramah yang panjang tentang sikap playboy-nya itu dari Chanyeol.

.

.

Malam pekat. Chanyeol duduk di kasur dengan kaki bersila. Suasana temaram menemaninya yang masih terjaga sampai lewat tengah malam. Jam digital di meja kecil, di samping tempat tidurnya menunjukkan angka 00.35 a.m. Baekhyun sudah tertidur lelap di bawah selimut pokemon warna kuning kesayangannya. Seluruh badannya ia benamkan di bawah selimut itu, meringkuk seperti kucing.

Di hadapannya ada tape dan amplop cokelat yang diberikan Hana tadi siang. Sampai semalam ini, Chanyeol belum membukanya. Dari lima belas menit yang lalu, ia hanya memandangi kedua benda itu dalam diam. Sesekali ia menghela napas panjang, membayangkan Eunkyung yang setiap hari membawa benda murahan berwarna hitam itu kemana-mana. Ketika ia tertawa, ketika ia menangis, ketika ia sedang berhalusinasi, ketika ia rindu, ketika ia marah.

Memandangnya, Chanyeol kembali merasakan perih yang teramat di dalam hatinya. Darah dari jantungnya seperti kembali menetes, perlahan-lahan keluar dari organ itu. Jatuh ke dasar tubuhnya yang entah dimana. Chanyeol merasa kosong. Seperti ada sesuatu yang dirobek paksa dari dalam dirinya, dibuang ke lautan lepas, ditelan gulungan ombak. Hilang dalam sekali kedip.

Perlahan Chanyeol meraih amplop warna cokelat itu. Ia membolak-baliknya, menerka-nerka apa isinya. Kemudian ia menyalakan tape murahan warna hitam itu. Di depan tape itu terdapat tulisan. Tulisan tangannya sendiri.

Sing For You.

Judul lagu yang ia buat untuk Eunkyung waktu itu.

Terdengar petikan gitar mulai mengalun, kemudian suaranya muncul.

Nae nargeun gitareul deureo haji mothan gobaegeul
Hogeun gojipseuresamkin iyagireul
Norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo
Geunyang deureoyo I’ll sing for you

Picking up my old guitar,
The confession that I couldn’t make
Pretending I made one song, I’m about to tell
Just listen, I’ll sing for you

Chanyeol membuka amplop cokelat itu dan merogoh isi di dalamnya. Sebuah foto.

Foto matahari tenggelam di sebuah dermaga. Di dalam foto itu ada seorang gadis yang sedang duduk membelakangi kamera, dengan rambut yang tertiup angin, sweater warna abu-abu yang sudah buluk, juga rok berwarna serupa.

Itu Eunkyung.

Foto itu pastilah di ambil oleh Hana, dan pastilah Eunkyung yang memintanya.

Neomu saranghajiman saranghanda mal an hae
Eosaekhae jajonsim heorak an hae
Oneureun yonggi naeseo na malhal tejiman
Musimhi deureoyo I’ll sing for you

I love you a lot but I don’t say the words,
It’s awkward that pride doesn’t allow me
Today I will take courage and tell you, but just
Listen to it carelessly, I’ll sing for you

Chanyeol membalik foto itu, dan mendapati sebuah tulisan tangan menggunakan bahasa Inggris. Itu bukan tulisan Eunkyung. Tapi Chanyeol tahu, Eunkyung yang meminta Hana untuk menuliskannya disana.

The way you cry, the way you smile. You’re so meaningfull to me. I miss you.

Chanyeol mengelus tulisan itu perlahan. Lagu masih mengalun, memasuki bagian reff.

The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka
Hagopeun mal, nohchyeobeorin mal
Gobaekhal tejiman geunyang deureoyo
I’ll sing for you, sing for you
Geunyang hanbeon deutgo useoyo

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me
The words I want to say, but missed the chance
I will confess but just listen,
I’ll sing for you, sing for you
Just listen once and smile

Perlahan Chanyeol menutup matanya, mencoba merasakan kembali cintanya untuk Eunkyung. Sesungguhnya Chanyeol selalu mencintai Eunkyung, bahkan sampai sekarangpun ia masih mempunyai rasa yang sama terhadap Eunkyung. Bertahun-tahun berlalu tak menghapuskan debar itu untuk Eunkyung, bahkan sampai Eunkyung tidak lagi ada di dunia.

Otaknya seolah memutarkan kembali sebuah film masa lalu. Mulai terlintas hari-hari yang pernah ia lalui bersama Eunkyung. Bagaimana cara gadis itu memejamkan matanya, tersenyum, menikmati sinar matahari senja di tepi dermaga. Bagaimana caranya gadis itu memanggil namanya dengan sangat ceria, tertawa karena lelucon murahan yang ia lontarkan, merengek karena tidak dipenuhi keinginannya, berbinar senang ketika mereka berdua makan malam bersama dengan menu sup ikan kesukaannya.

“Apa yang kau pikirkan ketika sedang sendirian?”

Suara gadis itu muncul. Pertanyaan yang membuat Chanyeol keki setengah mati, tapi hari itulah Chanyeol jatuh cinta pada Eunkyung, sepenuhnya sampai hari-hari berikutnya. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba saja menjalari tubuh Chanyeol. Ia melihat Eunkyung sedang memanggilnya dari kejauhan, melambaikan tangan dengan senyum lebar. Rambutnya terkena angin sore. Cantik.

“Bersenandunglah untukku, Chanyeol.”

Pintanya waktu itu. Chanyeol langsung memetik gitarnya dan bersenandung untuknya. Sesekali melirik gadis di sampingnya yang menggerakkan tubuhnya perlahan, ke kanan dan ke kiri mengikuti irama gitar. Senyum yang menawan tidak pernah lepas dari bibirnya.

“Hai, Tobi. Aku Eunkyung.”

Saat Eunkyung, untuk yang kedua kalinya memperkenalkan diri dan memanggilnya Tobi. Perasaan hangat yang tadi menjalari tubuh Chanyeol mendadak menguap, digantikan dengan hawa dingin merasuk dan membungkus tubuhnya. Membuatnya seolah beku. Pisau yang tadi tertancap dijantungnya kini dicabut paksa, kemudian ditusukkan kembali, berkali-kali. Menghancurkan jantungnya. Membuat darahnya mengalir banyak-banyak, jatuh ke dasar paling gelap yang tiada berujung.

“Eunkyung belum pulang!”

“Tolong Ibu, Chanyeol.”

“Eunkyung menangis meraung-raung terus.”

Keluhan Ibu yang muncul berganti-ganti dengan potret Eunkyung sedang menangis, sedang tertawa seperti pesakitan, matanya yang cekung dan kantung mata yang menghitam. Kepedihan tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat, membuat Chanyeol sesak tidak bisa bernapas. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Hari-hari dimana ia terus berusaha untuk menjaga Eunkyung, berusaha membuatnya tetap tenang tanpa tangisan. Membuat gadis itu selalu tersenyum dan berusaha mengingatnya dengan baik. Tiba-tiba saja semua potret yang muncul dalam bayangannya menjadi biru, dingin, penuh kesedihan.

Perlahan Chanyeol membuka matanya. Ia menyeka air mata di pipinya yang hanya menetes satu kali. Lelaki itu menghela napas panjang, memandangi kedua benda itu bergantian. Chanyeol bisa merasakan kehadiran Eunkyung dalam benda itu. Chanyeol bisa merasakan bagaimana kehidupan yang Eunkyung jalani di sisa-sisa hidupnya dengan alzheimer.

Lagu itu terus berputar, berulang-ulang. Pikirannya jatuh pada hari terakhir ketika ia dan Eunkyung bersama-sama memandangi senja, menumpahkan segala perasaan pada sore itu. Dimana Chanyeol untuk yang pertama kali dan terakhir merasakan Eunkyung dalam lengannya, menyentuhkan bibirnya pada puncak kepala Eunkyung dengan sayang. Bagaimana Chanyeol berharap bahwa waktu akan berhenti dan segalanya akan abadi.

“Aku suka melihat matahari tenggelam. Disini.”

Suara Eunkyung kembali terngiang.

Aku juga.

“Bersamamu.”

Bisik Eunkyung sambil tersenyum.

Ya. Bersamaku. Batin Chanyeol.

Dan sisa malam itu, Chanyeol habiskan dengan mendengarkan lagu dari tape murahan itu sampai ia jatuh tertidur.

.

.

.

Aku suka melihat matahari tenggelam. Bersamamu, Tobi.

.

.

Jogeum useupjyo naegen geudae bakke eomneunde
Gakkeumeun namboda mothan na
Sasireun geudae pume meorikareul bubigo
Angigo sipeun geonde marijyo

It’s a bit funny to me, although you’re everything
To me, sometimes I am no better than a stranger
Actually I want to rub my hair
And be hugged in your arms

The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka?
Doraseomyeo huhoehaetdeon mal
Sagwahal tejiman geunyang deureoyo
I’ll sing for you, sing for you
Amureohji anheun cheokhaeyo

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me
The words that I regretted when I looked back

I will appologize but just listen,
I will sing for you, sing for you
Just act casually

Maeil neomu gamsahae geudaega isseoseo
Sinkkaeseo jusin nae seonmul
Oneuri jinamyeon nan tto eosaekhae haljido
Hajiman oneureun kkok malhago sipeo
geureoni deureoyo

Everyday I am thankful that you are with me
My gift that God gave to me
After today, I might act awkward again
But today I really want to say today
So listen

The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka?
Hagopeun mal, nohchyeobeorin mal
Gobaekhal tejiman jom eosaekhajiman
Geunyang deureoyo I’ll sing for you, sing for you
Geunyang deureoyo I’ll sing for you

The way you cry, the way you smile
I wonder how much they mean to me.
The words I want to say, but missed the chance
I will confess and it’s a bit awkward, but
Just listen I will sing for you, sing for you
Just listen, I will sing for you

.

.

FIN.

.

.

So, hi everyone.
So long time no see, ya?
Uhm, I don’t know what it is actually.
Cuman terinspirasi dari lagu EXO yang amat sendu ini aheu:’)
Dan.. aku nggak tau apakah cerita ini berhasil mengocek
perasaan temen-temen semua.
Aku juga nggak tau apakah cerita ini benar-benar
seperti apa yang dibayangkan oleh temen-temen semua.
I just write and tadaaa.
Cuman segini yang bisa aku tulis,
dalam rangka ‘comeback’ eh enggak deng,
dalam rangka ‘pengen-apdet-udah-berbulan-bulan-hilang’
HAHAHA.
So, I hope you like it.
Maafkan kalau ending atau hal-hal di dalam cerita ini
yang kurang atau bahkan nggak ‘nendang’ sama sekali
maafkan mahasiswa yang so-so-an ingin menulis ini ya:”)
Happy Reading!
Maafkan membuat citra Byun Baekhyun menjadi playboy
cap permen karet WAKAKA.

Komentar tetap ditunggu.

Terima kasih🙂

PS: Sorry for typos.

One response to “Sing For You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s