PRINCE OF THE DARKNESS (PART 2)

prince of the darkness

Title : The First Trial

Cast :

  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Park Yeon Min  / Alena (OC)
  • Xi Luhan
  • Kim Jongin / Kai (Exo)

Genre : Fantasy, dark

 

Author’s note: Hai! Maaf maaf maaf kalau ternyata pengerjaan chapter 2 ini sangat lama. Benar-benar lagi gak ada ide tapi ini udah yang semaksimal mungkin🙂.  Semoga suka ya! Selamat membaca dan selamat jungkir balik dalam kehidupan Kyuhyun 🙂

Once again, Cho Kyuhyun belong to God, but this story is belong to me 🙂

Chapter : (Prolog) (part 1)

****************

*Previous Chapter*

“Mulai saat ini, aku akan mendampingimu. Selain itu aku ingin memberitahu bahwa manusia tidak akan bisa melihatku, dan sebelum aku lupa…” Alena menatap pria itu usil. “Aku bisa membaca pikiranmu, Pangeran.” Kyuhyun membulatkan matanya kaget. Terbayang sudah beberapa kali ia mengeluarkan kata-kata aneh dalam pikirannya.

“Seharusnya kau bisa menebak dari seberapa sering aku memandangmu. Sangat lucu membaca pikiranmu,” ejek gadis itu.

“YA! Berhenti membaca pikiranku. Apa kau tidak tahu bahwa ada batasan untuk setiap orang?” teriak Kyuhyun malu. Baru kali ini ia merasa benar-benar ditelanjangi, bahkan di bawah alam sadarnya sekali pun.

“Tenanglah Pangeran, aku tahu batasku. Oh iya, bagaimana kalau kau sekarang mengantarku keliling rumah dan tunjukkan padaku kamar yang akan aku tempati.”

Kyuhyun memandang gadis itu heran, “Kamar? Apa kau harus tinggal di sini juga?”

“Tentu saja! Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau harus bisa menerima keberadaanku dalam hidupmu,” ujar Alena yang kemudian keluar kamar meninggalkan Kyuhyun sendirian. Sesaat pria itu terdiam. Tidak pernah terbayang dalam mimpi liarnya sekalipun bahwa ada seseorang yang akan mendampinginya. Ia sudah terbiasa hidup sendiri, tetapi ide bahwa akan ada seseorang yang menganggu dan mendampinginya bukanlah ide yang buruk. Tanpa pria itu sadari sebuah senyum telah tercipta di wajahnya.

******************

            Derap langkah terdengar bersahutan dengan helaan nafas yang tersengal. Gelapnya malam tidak menghentikan pria itu untuk berlari. Kakinya terus bergerak, bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan akalnya, seakan-akan nyawanya bergantung dari seberapa cepat ia melangkah. Mata hitamnya menyala tajam, waspada terhadap setiap gerakan dalam jangkau pandangnya. Keringat yang meluncur dari keningnya menandakan tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Tamat sudah riwayatnya karena kini kedua kakinya tidak mampu untuk menahan berat badannya. Ia tersungkur di atas aspal yang terasa dingin karena udara malam. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya saat sesosok berjubah hitam semakin mendekat. Sosok itu berhenti tepat di depannya. Dari jarak sedekat ini pun pria itu tidak dapat menangkap jelas wajah sosok berjubah tersebut.

 “Sudah saatnya kau berhenti berlari, bukan karena kau tidak kuat lagi melainkan karena aku sudah bosan menunggu waktu yang tepat untuk membunuhmu. Selamat tinggal, Mortem.” Seberkas cahaya merah menyelimuti pandangan pria itu. Kulitnya terasa panas dan terbakar sekaligus tercabik-cabik. Ia tidak bisa menahan rasa sakit yang menghujam dan berteriak sekencang mungkin.

“ARGGGGH!!!!” Kedua mata Kyuhyun terbuka lebar. Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin membasahi kaos hitam yang ia gunakan. Tubuhnya tidak dapat bergerak satu inchi pun bahkan saat perempuan di sebelahnya menanyakan apa yang telah terjadi dengan suara waspada. Mimpi. Sinar merah yang merambat dan menyakiti kulitnya hanya sebuah mimpi belaka. Kyuhyun memejamkan matanya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Menenangkan pikirannya, bahwa rasa sakit yang begitu nyata tadi hanyalah konstruksi alam bawah sadarnya.

Alena menatap pria di depannya dengan khawatir. Mengingat teriakan Kyuhyun beberapa saat yang lalu memekakkan telinganya. “Mortem, apa kau baik-baik saja?” Pria tadi hanya membalas dengan anggukkan singkat dan bangkit berdiri menuju kamar mandi, meninggalkan perempuan itu dengan kening yang berkerut. Apakah keberadaan dirinya mampu membangkitkan sesuatu di alam bawah sadar Kyuhyun? Ataukah kemunculan dirinya membawa bahaya untuk pria itu? Alena menghela nafas pasrah. Dirinya memang sudah tahu bahwa satu detik saat ia setuju untuk menjaga pangeran maka ia berada di dalam bahaya besar.

***************

            “Pangeran! Apa kau lapar? Aku sudah menyiapkan sarapan,” teriak Alena. Tidak ada jawaban dari pria itu, bahkan suara di pikirannya pun tidak. Gadis itu memajukan bibirnya, ia tidak menyukai perlakuan Kyuhyun yang mengabaikan keberadaannya. Sebuah seringai tercetak di wajah Alena. Detik berikutnya, gadis itu sudah berada di belakang tubuh Kyuhyun.

            “MORTEM!” teriaknya tepat di telinga pria itu. Kyuhyun melonjak dan memutar tubuhnya menghadap Alena.

            “YA! Apa yang kau lakukan di sini?” teriaknya dengan raut seakan mau menelan gadis itu hidup-hidup.

            Alena terkekeh melihat tingkah laku pangerannya. “Aku sudah berteriak hampir sepuluh kali untuk mengatakan bahwa sarapan sudah siap tapi tidak ada respon satu pun darimu. Terpaksa aku harus menghampirimu secara langsung.” Pria itu memicingkan matanya tajam. Ia tidak terbiasa dengan keberadaan manusia lain di dalam kehidupannya. Mengetahui bahwa gadis itu baru saja menyiapkan sarapan untuknya benar-benar terasa… aneh. Secara intuisi pria itu menatap Alena curiga. Sedetik kemudian raut wajah kecewa terpampang dari gadis itu.

            “Kau jahat sekali!” ucapnya marah sambil melayangkan pukulan ke perut Kyuhyun lalu lenyap begitu saja bagai angin. Pria itu mengucap sumpah serapah sambil memegang perutnya yang saat ini berdenyut. Kyuhyun lupa bahwa gadis itu bukan manusia biasa, ia bisa membaca pikirannya. Pantas saja ia marah karena beberapa saat yang lalu pria itu berpikir bahwa Alena mungkin menaruh racun pada makanannya. Mulai saat ini ia harus lebih hati-hati dalam berpikir.

            Kyuhyun menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Dahinya mengernyit saat aroma terbakar merangsang indera penciumannya. Kedua matanya membulat sempurna saat melihat dapur yang biasanya tersusun rapi kini bisa hancur berantakan seperti kapal pecah. Mangkuk-mangkuk dan piring tergeletak tidak karuan di atas meja dan tempat cuci piring, pecahan telur berserakkan di lantai dan juga tepung putih yang mewarnai lantai hitamnya. Darah pria itu berdesir dan naik mengitari otaknya, mungkin jika di film kartun kini bisa terlihat asap keluar dari kedua telinganya. “ALENA!”

            “Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?” ucap Alena yang muncul di belakang meja sambil menutup kedua telinganya.

            Pria itu melotot dan mendesah keras. “Kau bertanya kenapa aku berteriak seperti ini? Lihat apa yang sudah kau perbuat dengan dapurku.” Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan mengeluarkan senyum tanda bersalah.

            “Maafkan aku. Aku tidak terbiasa menggunakan dapur. Tapi tenang saja, akan aku bereskan sekarang.” Alena mengayunkan telunjuknya ke seluruh ruangan. Secara ajaib kulit-kulit telur yang tadi berserakkan dimana-mana kini terbang dan masuk ke dalam tempat sampah. Belum lagi pel yang meliuk-liuk sendiri membersihkan sisa tepung serta minyak di meja. Kyuhyun belum terbiasa dengan segala macam kekuatan yang dilihatnya saat ini. Bulu kuduknya masih meremang saat piring dan mangkuk melayang melintasi wajahnya. Tidak sampai 10 detik, dapurnya telah kembali seperti semula. “Selesai! Sekarang kau harus mencoba panekuk buatanku!” ucap Alena sambil menarik Kyuhyun ke meja makan. Jantung pria itu melonjak saat gadis tersebut melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Walaupun kaget, tidak ada penolakan sedikit pun di benaknya.

            Alena menggeser piring ke hadapan Kyuhyun. Ia berdiri persis di seberang meja pria itu dengan tatapan penuh harap. Dari penampilan luar sepertinya tidak ada masalah dengan makanannya. Pria itu mengambil garpu dan mencoba gigitan pertama. Mata gadis itu membulat dan nafasnya terhenti saat melihat Kyuhyun memasukkan panekuk buatannya ke dalam mulut. “Bagaimana? Apakah enak?” tanyanya.

            Tidak ada yang berubah dari raut wajah Kyuhyun. Ia hanya terus menerus memasukkan potongan panekuk ke dalam mulutnya. Alena berusaha untuk memasuki pikirannya, tapi tidak ada satu suara pun yang didengarnya. Aneh sekali, pikir gadis itu.

            “Ini,” ucap Kyuhyun sambil menjulurkan potongan terakhir makanan di piringnya. “Kau mau tahu rasanya? Makanlah.” Alena memakan potongan terakhir panekuk buatannya. Matanya membulat sempurna dan langsung memuntahkan makanan tersebut.

            “Panekuk ini asin sekali,” ucap gadis itu sambil mengelap lidahnya. Ia menatap Kyuhyun yang sedang memakai sepatu di depan pintu. Sudah jelas bahwa makanan itu tidak bisa dimakan oleh manusia, tapi kenapa tidak ada satu potongan pun yang tersisa di atas piring? Kyuhyun memakan semuanya. Pria itu berdiri dan melingkarkan tangannya di depan dada.

            “Hei,” panggilnya. Alena menatap Kyuhyun. “Kau adalah orang, maksudku iblis,  pertama yang memasak untukku. Terima kasih karena makananmu sangat tidak enak. Aku cukup terharu. Satu hal lagi, jangan pernah masuk ke dalam dapurku kalau kau masih tidak bisa membedakan garam dan gula.” Kyuhyun melemparkan seringainya dan meninggalkan gadis itu terpana.

 Di balik pintu, pria itu tersenyum tipis. Dadanya diliputi dengan perasaan hangat. Seperti yang ia ucapkan tadi, tidak ada satu orang pun yang peduli terhadapnya tapi secara tiba-tiba muncul gadis aneh dalam kehidupannya. Perlahan-lahan rasa takut menjalar di pikiran Kyuhyun. Bagaimana jika gadis itu dapat memunculkan berbagai emosi yang selama ini tidak dapat ia utarakan?

****************

            Desahan pelan keluar dari bibir Kyuhyun saat ia berjalan memasuki gerbang sekolah. Pandangan penuh kebencian kini terarah kepada pria itu. Tanpa orang-orang sadari, di belakang Kyuhyun ada sesosok perempuan yang raut wajahnya berubah menyeramkan. Ini baru hari pertama ia mengikuti Pangeran Kegelapan tapi dirinya sudah diliputi kemarahan yang luar biasa. Bagaimana bisa makhluk bernama manusia yang dipenuhi dengan kemampuan akal budi luar biasa dapat begitu kejam dalam berpikir. Setiap manusia yang mereka lewati melontarkan kalimat penuh kebencian kepada Kyuhyun. Kali ini gadis itu bersyukur bahwa Pangeran tidak mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran, hatinya pasti hancur saat membaca pikiran manusia-manusia kejam ini.

            Alena memandangi setiap orang yang melemparkan pandangan tidak suka ke arah Kyuhyun. Bagaimana pun juga, Kyuhyun yang sekarang hanyalah manusia biasa. Betapa hebatnya pria itu menghadapi dunia yang begitu kejam terhadapnya.

            “Jangan mengeluarkan tatapan seperti itu. Kau terlihat seperti seorang iblis,” ucap Kyuhyun dalam pikirannya.

Gadis itu tersenyum kecil. “Dasar pangeran bodoh. Aku ini memang iblis,” ucapnya yang dibalas dengan wajah tanpa ekspresi dari Kyuhyun. Mereka berdua memasuki ruang kelas. Seluruh anak langsung diam, tidak mengeluarkan suara.

Alena memicingkan mata saat selintas pikiran satu orang terdengar olehnya. Seorang laki-laki mau mempermalukan Kyuhyun. Gadis itu melihat seorang pria menjulurkan kakinya untuk menghadang jalan Kyuhyun dan hendak membuatnya terjatuh. Dengan cepat Alena menarik kaki pria itu hingga pemiliknya jatuh menghantam lantai. Darahnya kini berdesir cepat, tidak ada yang boleh melukai Mortem di hadapannya. Kyuhyun membulatkan matanya saat melihat Alena mencekik leher pria itu hingga meronta kehabisan nafas.

Semua orang di ruangan terkejut dan menghampiri pria yang kini menggelepar di tanah sambil memegang lehernya. “Apa yang kau lakukan?” teriak Kyuhyun dalam pikirannya. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan bola mata cokelatnya.

“Apa kau mau aku membunuhnya?” tanya gadis itu dengan nada tanpa dosa.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak. Apa kau sudah gila? Lepaskan dia.” Gadis itu langsung melepaskan cengkeramannya saat mendengar nada perintah dalam kalimat Mortem. Choi Ho, nama pria itu, langsung bergerak mundur membentur dinding dan melemparkan pandangan penuh ketakutan ke seluruh ruang kelas. Tangannya tetap memegang lehernya yang beberapa detik lalu tercekik oleh tangan kasat mata.

Alena melayangkan sebuah tendangan di kaki pria iseng tersebut. “Tidak ada yang boleh menyakiti pangeranku. Tidak ada,” ucap gadis itu sambil berjalan kembali ke belakang Kyuhyun.

“Kau benar-benar di luar perkiraanku.” Mata hitamnya memandang gadis tersebut dengan tatapan heran serta kagum. Seringai kecil terlukis di wajah putih porselen  tersebut. Kehidupan yang selama ini hitam akan semakin menarik karena tingkah perempuan yang berdiri siaga di belakangnya.

***************

            Kyuhyun melangkah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan handuk. Matanya sedang menyeleksi kaos apa yang akan ia gunakan saat tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya. “Hai,” ucap Alena dengan seringai miliknya. Sontak Kyuhyun menutupi tubuh bagian atasnya yang tidak berbalut kain apa pun dengan handuk.

            “Berhenti muncul secara tiba-tiba! Bagaimana jika aku sedang tidak berpakaian?” teriaknya. Untung saja ia sudah menggunakan celana jeans, kalau tidak pria itu tidak akan segan-segan untuk menendang gadis yang kini berdiri dengan mata bulatnya keluar dari kamar.

            Di sisi lain, Alena terhipnotis dengan kata-kata Kyuhyun. Matanya menjadi lebih fokus kepada bagian-bagian dari tubuh pangerannya yang tidak tertutup handuk. Kulit putih porselen pria itu terlihat kontras dengan handuk hitam yang ia gunakan. Secara tiba-tiba gadis itu bisa merasakan udara di sekitar dirinya menjadi lebih panas dan mungkin mempengaruhi perubahan warna pipinya yang kini bersemu merah. Alena secara cepat meninggalkan matanya dari tubuh Kyuhyun dan memandang dinding di samping mereka. “Hmm. Lebih baik kau cepat berganti pakaian dan temui aku di ruang tengah. Kita akan memulai latihan.” Setelah selesai berkata-kata ia langsung menghilang dari kamar Kyuhyun.

            Setelah mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang lebih nyaman, pria itu menuju ruanng tengah. Matanya hampir membelalak saat melihat Alena tampak begitu… berbeda. Satu pasang pakaian hitam melekat erat di tubuhnya, membuat bentuk tubuh gadis itu terlihat jelas. Kulit putihnya bercahaya di bawah balutan warna hitam. Rambut panjang yang biasanya tergerai menutupi punggung kini terikat menjadi satu dan menunjukkan leher jenjang yang dimiliki gadis itu. Kyuhyun harus mengutuk dirinya berkali-kali agar detak jantungnya kembali berirama normal. “Ehem,” Pria itu membersihkan tenggorokannya yang serasa tercekat.

            Alena berbalik badan. “Kau kenapa Pangeran? Apa kau sakit? Wajahmu merah sekali,” ujarnya sambil menjulurkan tangannya yang langsung ditepis oleh Kyuhyun.

            “Aku tidak apa-apa.” Gadis itu mengernyitkan wajahnya dan mengangguk singkat.

            “Apa kau siap dengan latihanmu? Ikuti aku.” Mereka berdua berjalan menuju satu pintu yang terletak di paling belakang dalam apartemen.

            “Apa kau yakin kita akan latihan di gudang? Tempat ini sempit seka..” kata-kata itu langsung terbungkam saat sebuah ruangan terang dengan luas tanpa batas menyambut mereka di balik pintu. Kyuhyun yakin sekali bahwa sebelumnya tempat ini adalah gudang pribadi miliknya yang luasnya tidak lebih dari 1×2 meter dan berisi barang-barang bekas.

            Alena menjentikkan jarinya dan tersenyum. “Sihir dasar yang kau pelajari saat di sekolah adalah mengubah sebuah ruangan. Jadi berhentilah membuka mulutmu selebar itu saat kau kaget.” Pria itu memberikan tatapan maut kepada Alena.

“Aku akan menjadi mentormu dalam membangkitkan kekuatan alami yang kau miliki. Selain itu, aku juga akan mengajarimu teknik dasar dalam berkelahi menggunakan senjata ataupun tangan kosong. Perlu kutekankan sekali lagi, jangan melihatku sebagai seorang perempuan lemah. Aku ingin kau mengeluarkan seluruh kemampuanmu saat melawanku. Lihatlah gadis yang berdiri di depanmu ini sebagai kepala prajurit Kerajaan Skotenos yang bisa mengalahkanmu dengan hentakkan jari.” Gadis itu mengeluarkan sebuah kertas dari tas yang terlampir di pinggangnya.

            “Ini adalah gambar tattoo yang berada di punggungmu. Aku akan menjabarkan kemampuan apa yang kau miliki jika dilihat dari tattoo kepunyaanmu. Ada tiga simbol yang menunjukkan kekuatanmu. Pertama, ukiran yang mirip dengan bentuk daun ini sama dengan tattoo milikku. Kekuatan pertama yang kau miliki adalah telekinesis.”

1348_LOR_ExpSym

            Kyuhyun membulatkan matanya, “Telekinesis? Jadi aku bisa menggerakkan benda sesuai dengan kemauanku?” ucapnya kagum. Alena mengangguk mantap.

            “Tidak akan sulit mengajarimu telekinesis karena aku juga memiliki kemampuan yang sama. Simbol kedua yang kau miliki adalah gambaran kekuatan yang luar biasa. Kau memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen. Biasanya setiap iblis hanya memiliki satu elemen yang dikuasai antara air, api, udara, atau tanah. Tetapi aku tidak terlalu yakin denganmu, karena ukirannya jauh lebih rumit dari simbol-simbol elemen yang biasanya dimiliki oleh iblis. Bisa saja kau menguasai lebih dari satu elemen dan itu akan membuatmu sangat kuat, Mortem. Kita akan menemukan elemen apa yang kau kuasai dalam latihan selanjutnya.”

1137474234_tattoo

            Alena mengernyitkan dahinya saat menunjukkan simbol yang ketiga. “Ada apa?” tanya Kyuhyun saat melihat perubahan raut wajah gadis tersebut.

            “Sampai saat ini aku tidak bisa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang simbol terakhir. Menurutku simbol ini sangat kuno dan entah kekuatan apa yang tersembunyi dalam dirimu tapi aku yakin ini bukanlah kekuatan biasa,” ujar Alena. Mendengar penjelasan dari gadis itu menimbulkan sensasi aneh dalam diri Kyuhyun. Dirinya begitu semangat dan juga khawatir.

            Alena berjalan menjauh dan berteriak, “Dengarkan aku! Untuk memulai semuanya, kau harus mengeluarkan aura iblis yang terkunci di dalam dirimu. Caranya cukup mudah, kau harus yakin bahwa dirimu adalah seorang iblis disertai dengan pengucapan kata ‘Theldui mor’nar du Mortem varda Skotenos’ (Akulah pangeran kegelapan, penjaga Kerajaan Skotenos). Apa kau mengerti?”

            Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Detak jantung yang tadinya berlomba-lomba kini mulai tenang. Entah datang darimana kepercayaan dirinya untuk mengungkapkan kata-kata tersebut. Dirinya adalah seorang iblis dan dengan mantap pria itu menutup matanya. “Theldui mor’nar du Mortem varda Skotenos!

Sebuah sinar biru terpancar dan mengelilingi pria tersebut. Kyuhyun dapat merasakan gejolak dalam dirinya yang berlomba-lomba untuk keluar. Pria itu membuka matanya perlahan dan melihat dengan jelas selubung biru yang berkobar mengelilingi tubuhnya. Kedua kepalnya terkatup saat ribuan tenaga terasa mengalir dalam aliran darahnya, seakan-akan memberikan kekuatan yang tidak terkalahkan. Kyuhyun menetapkan pandangannya pada Alena yang sedang tersenyum puas di ujung ruangan. Tak lama kemudian kobaran api biru tersebut menghilang. Dengan penuh kagum, pria itu memainkan telapak tangannya. Apakah kini ia dapat menggunakan kekuatannya seperti Alena?

            “Jangan terburu-buru, Pangeran,” Gadis itu membuyarkan imajinasi yang sedang dibangun Kyuhyun dalam pikirannya. “Butuh waktu lama agar kau menguasai kekuatanmu.” Alena mengeluarkan seringai terbaiknya dan menatap pria itu tajam.

            Sebuah meja dengan tiga buah pisau berkilat dan satu buah apel muncul secara tiba-tiba di depan mereka. “Pelajaran pertama adalah mengasah kemampuan telekinesismu. Seperti yang sudah kau ketahui bahwa telekinesis adalah kekuatan untuk memindahkan objek sesuai dengan perintah otak. Aku beri contoh.” Alena membuka telapak tangannya dan secara perlahan buah apel yang berada di atas meja berpindah ke atas tangan gadis itu.

            “Kau bisa memberi perintah apa saja terhadap objek yang kau mau, seperti apel ini.” Dengan sendirinya buah itu melayang di udara, bergerak naik turun dan berputar pada porosnya. Apel itu berhenti di atas kepala Kyuhyun untuk gerakan terakhirnya. “Jika kau sudah menguasai telekinesis dasar maka bisa ditingkatkan dan digunakan kepada subjek hewan, manusia, ataupun iblis. Selain itu telekinesis juga bisa dipakai untuk memunculkan barang yang ada di pikiranmu asalkan kau tahu letak barang itu sebelumnya.”

            Kyuhyun mendengarkan penuturan Alena dengan seksama. “Sekarang tugasmu yang pertama adalah menggerakkan pisau yang ada di hadapanmu dan melemparkannya kepada apel di ujung sana.” Buah merah yang tadinya berada di kepala Kyuhyun berpindah ke ujung ruangan. “Kau hanya perlu menancapkan satu pisau di apel tersebut. Hanya satu. Aku tidak akan menghentikan latihan ini kalau kau belum berhasil. Bagaimana?” tantang Alena.

            Pria tadi mengerutkan alisnya. Jarak antara dirinya dan apel tersebut hampir 100 meter, mustahil untuk melemparkan pisau hanya dengan kekuatan pikiran. “Tidak ada yang tidak mungkin, Pangeran. Aku bahkan bisa melemparkan pisau dengan kekuatan telekinesisku pada jarak 10 kilometer. Ini bahkan hanya 1/100 dari yang seharusnya kau kuasai.”

            Kyuhyun mendengar nada ejekan dalam kalimat tersebut. Darah kompetitif pria itu mendidih seketika. “Aku akan mencobanya dan berhenti memandangku dengan tatapan mengejek,” ujar Kyuhyun yang dibalas dengan seringai di bibir gadis itu. Mata hitam pria itu terpusat kepada salah satu pisau. Dalam pikirannya, ia memerintahkan pisau itu untuk melayang. Tidak ada gerakan apapun yang terjadi. Kyuhyun memiringkan kepalanya bingung. Kenapa pisau tadi tidak mengikuti perintahnya? Sekali lagi ia mengirim perintah kepada pisau tersebut. Kali ini dahinya mengerut seiring dengan fokusnya yang semakin tajam. Tetap tidak ada yang terjadi.

            Alena memperhatikan Kyuhyun dari samping. Ia bisa membaca pikiran Kyuhyun yang sedari tadi mencoba untuk mengangkat pisau tersebut. Sebuah senyum kecil tercetak di bibirnya saat Pangeran Kegelapan memaki pisau yang tetap tidak bergeming sekeras apapun ia berteriak dalam otaknya. Sudah hampir setengah jam Kyuhyun terpaku kepada pisau itu tapi tetap tidak terjadi apa-apa. Baju putih yang ia gunakan kini sudah basah dengan keringat yang menetes akibat usaha kerasnya untuk berkonsentrasi walaupun tidak ada perkembangan sama sekali.

            “Aku bisa benar-benar gila,” ucap pria itu sambil merosot duduk di atas lantai. Kyuhyun sedekat itu untuk melemparkan pisau-pisau di atas meja ke tempat sampah. Dirinya merasa frustasi. Alena mendecakkan lidahnya dan berjalan mendekat.

            Gadis itu duduk di depan Kyuhyun dan menaruh satu pisau di tengah-tengah mereka. Kyuhyun melayangkan tatapan tajam. “Jauhkan pisau itu dari hadapanku kalau kau tidak ingin terluka. Lagipula apa kau yakin salah satu kekuatanku adalah telekinesis? Pisau brengsek itu bahkan tidak bergerak satu senti pun.”

            Alena tertawa, “Pisau ini tidak melakukan kesalahan apapun dan kau memakinya? Luar biasa. Hmm, bagaimana kalau aku berikan tips untukmu. Berhentilah berteriak di dalam pikiranmu. Kesalahan yang sedari tadi kau lakukan adalah kau hanya mengeluarkan kata-kata tanpa disertai oleh keinginan untuk menggerakkan pisau tersebut. Pikirkanlah seolah-olah tanganmu menyentuh pisau itu. Rasakan dengan seluruh tubuhmu kalau kau benar-benar ingin menggerakkan barang tersebut.” Ada jeda cukup lama di antara mereka berdua.

            “Maksudmu?” tanya Kyuhyun bingung.

            “Gerakkan pisau tersebut dengan seluruh tubuhmu. Pikirkan kalau tanganmu ingin meraih pisau tersebut dan melemparnya. Jangan hanya menggunakan kata-kata.”

            Sedikit demi sedikit Kyuhyun dapat mengerti penuturan Alena. Kini ia memandang pisau di hadapannya dengan tatapan yang berbeda. Apakah kali ini ada perbedaan? Pria itu memicingkan matanya fokus. Kyuhyun menuruti perintah Alena dengan tidak berteriak di dalam pikirannya melainkan berpikir seolah-olah tangannya bergerak ke arah pisau tersebut. Drrrt. Mata Kyuhyun membulat saat pisau di hadapannya bergetar sejenak. Setelah mematung beberapa saat, pria itu kembali memusatkan fokusnya. Tanpa ia sadari sebuah kekuatan keluar dari dalam tubuhnya dan mengangkat pisau setinggi 10 cm.

            “Luar biasa…” ucap Kyuhyun tidak bisa menahan rasa kagum. Alena memperhatikan perkembangan kemampuan Mortem dengan seksama. Matanya tidak bisa lepas dari sosok pria di hadapannya. Raut wajah hampa yang ditempa oleh masa lalu  kelam kini tergantikan oleh senyum sumringah seperti anak kecil. Mau tidak mau hatinya juga ikut merasa ringan.

            “Sekarang tancapkan salah satu dari tiga pisau itu kepada apel di sana.” Alena kembali berjalan dan berdiri di sudut ruangan. Dirinya berharap Pangeran dapat menancapkan salah satu pisau saja sebelum dirinya mati kelaparan di ruangan ini.

**************

            Harapan gadis itu memang tidak bisa terlalu tinggi. Sampai saat ini Kyuhyun belum juga berhasil melemparkan pisau dengan kekuatan telekinesis. Gadis itu menghela nafas berat. Suara keroncongan di perutnya kini semakin meraung-raung. Sudah total 4 jam mereka tidak keluar dari ruang latihan. Cukup sudah! Kesabaran gadis itu habis saat sekali lagi pisau Kyuhyun tidak melayang lebih dari tiga detik.

            “Hentikan!” teriakan gadis itu menghilangkan fokus yang sedang dibangun Kyuhyun. Pria itu menatap tidak suka ke arah Alena.

            “Kau menghancurkan konsentrasiku. Apa kau lihat aku sedang meningkatkan kemampuanku,” ucap Kyuhyun dingin. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya. Meningkatkan kemampuan? Apa pria itu bercanda? Tidak ada kemajuan sama sekali dari dua jam yang lalu.

            Dengan sekali lirik, Alena menghilangkan pisau dan apel di hadapan Kyuhyun. “Kau benar-benar menguji kesabaranku, Pangeran.” Sebuah suara di pikiran Kyuhyun memberi isyarat tanda bahaya. Aura gadis itu berubah 180 derajat. Alena yang tenang dan menyenangkan hilang entah kemana.

            Gadis itu berdiri dengan jarak tidak kurang dari 200 meter namun pria itu bisa merasakan sorot matanya yang menusuk. Bulu kuduk Kyuhyun meremang saat melihat sisi gelap Alena. “Mungkin aku memang bukan pelatih yang paling baik tapi ini benar-benar keterlaluan. Sepertinya aku harus menaikkan level latihan ini.” Seringai di wajah Alena bukanlah jenis seringai menyenangkan. Peringkat pertama yang selalu didapat gadis itu dalam setiap kelas akademi membuatnya ditunjuk menjadi mentor. Sudah banyak orang yang dilatihnya dengan cara yang berbeda. Mungkin pria di hadapannya kini harus dilatih dengan cara yang lebih… keras.

            “Tenang saja, aku tidak akan menyuruhmu untuk melemparkan pisau-pisau itu lagi.” Kyuhyun mendesah lega, namun alam bawah sadarnya masih waspada menunggu kelanjutan suara gadis itu. “Tugasmu saat ini cukup mudah. Jangan biarkan tubuhmu terluka.”

            Kyuhyun menaikkan alisnya bingung, “Maksudmu?”

            Gadis itu memainkan pisau yang entah sejak kapan berada di tangannya. “Kali ini biar aku yang menjadi pelempar pisau. Ada tiga pisau yang akan aku lemparkan ke arah lehermu. Tugasmu adalah menghindari pisau tersebut.”

            Kyuhyun tersenyum. Ia cukup bangga dengan kemampuan refleks miliknya. Menghindari pisau bukanlah sesuatu yang sulit.

            Alena menatap Kyuhyun dengan tajam, “Tentu saja ini tidak semudah yang kau pikirkan Pangeran. Kau tidak akan bisa menggerakkan badanmu.” Tepat setelah ucapan itu, Kyuhyun merasakan dirinya membatu. Seluruh anggota tubuhnya seakan mengkhianati perintah dari otaknya. Bahkan bibirnya kelu, tidak bisa digunakan untuk bertanya ataupun memaki perempuan itu. “Satu-satunya cara agar pisau ini tidak menembus lehermu adalah dengan menggunakan kekuatan telekinesis. Kau harus bisa mengendalikan pisau-pisau ini agar melayang menjauh dari kepalamu.”

            Alena mengambil ancang-ancang dan mengangkat pisau pertamanya. Kyuhyun membulatkan matanya dan menatap gadis itu tidak percaya. Dia tidak akan sungguh-sungguh melempar pisau ke leherku kan? Ucapnya dalam hati. Sebuah seringai menakutkan terlihat lagi di wajah cantik gadis itu.”Kau tahu aku tidak suka bercanda kan Pangeran. Dan sekedar informasi, aku tidak pernah meleset dari targetku.”

            Pisau pertama melayang dengan kecepatan penuh ke arah Kyuhyun. Belum sempat ia mengucapkan apa-apa dalam pikirannya, benda tajam tersebut sudah melewati sebelah kiri wajahnya dengan suara mendenging dan menancap tepat di tembok belakang pria itu. Sebulir keringat dingin mengalir dari dahi pria itu. Perempuan itu ternyata tidak main-main. “Aku sengaja tidak mengincar lehermu untuk permulaan. Bersiaplah untuk lemparan kedua.”

            Pikiran Kyuhyun kini benar-benar kalut. Jika saja tubuhnya bisa bergerak ia dengan mudah bisa menghindar dari pisau itu. Alena mengambil ancang-ancang untuk melempar pisau keduanya. Pria itu memantapkan pikirannya dan berusaha tidak tertekan dengan kilatan tajam dari pisau yang mengarah ke badannya. Ssst, sekali lagi matanya membulat saat benda tajam tersebut melewati wajahnya. Bahkan sekarang, pisau tersebut memangkas beberapa helai rambut di bawah telinga kirinya. Jika saja tidak ada kekuatan yang membuat tubuhnya beku, dapat dipastikan Kyuhyun tergeletak di lantai saat ini. Jantungnya berpacu saat menyadari arah lempar pisau semakin mendekati lehernya.

            Kau benar-benar gila, maki Kyuhyun dalam pikirannya. Mata pria itu memancarkan suatu kebencian. Alena seharusnya bertugas untuk menjaganya bukan malah membahayakan nyawanya seperti saat ini.

            “Aku memang ditugaskan untuk menjagamu, tapi aku tidak bisa terus berada di sampingmu. Berusahalah untuk menjadi kuat Pangeran. Jangan biarkan waktuku yang berlalu menjadi tidak berguna karena tanpa sengaja aku membunuhmu saat ini.” Alena melemparkan pisau terakhirnya. Arah pisau itu tidak lagi melenceng ke kiri ataupun kanan, tetapi tepat menuju kerongkongan pria itu. Kyuhyun tidak ingin lagi dianggap lemah. Secara tiba-tiba gerakan berputar pisau itu berubah menjadi gerak lambat. Seakan-akan ia sedang menonton televisi dan memperlambat gerakan sepersekian detik. Dalam pikirannya ia memerintahkan tubuhnya untuk menangkap pisau itu dan menepisnya. Dengan beberapa detik terakhir yang dimilikinya Kyuhyun mengerahkan segala energi dalam dirinya.

            Drak! Suara pisau menabrak dinding terdengar menggema. Kyuhyun memejamkan matanya, tidak yakin dengan apa yang terjadi. Matanya kembali terbuka saat darah mengalir dari pipi kirinya. Secara tiba-tiba pria itu mendapatkan kembali kontrol atas tubuhnya namun tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Dengan keras tubuhnya ambruk di atas lantai. Alena menghampiri Pangerannya dan berlutut.

            “Kerja bagus. Kau sudah berhasil meningkatkan kemampuan telekinesismu.” Semburat senyum tulus tercetak di wajah Alena, membuat amarah pria tadi menghilang seketika. Gadis itu menekan luka di pipi Kyuhyun dengan sapu tangan dan membantu pria itu untuk berdiri.

            “Pisau itu… Pisau terakhir tadi… Apakah kau tidak mengincar leherku?” tanya Kyuhyun bingung.

            Alena menatap Kyuhyun dengan serius. “Percayalah padaku, aku melemparkan pisau terakhir tepat ke lehermu. Untung saja kau bisa menepisnya dengan telekinesis dan hanya melukai pipimu. Kalau kau masih bodoh seperti dua lemparan yang pertama, sekarang aku sudah dikutuk oleh seluruh kaum iblis karena telah membunuh pangeran mereka.” Kyuhyun benar-benar ingin mencekik leher gadis ini karena telah bermain-main dengan nyawanya.

            “Aku tahu kau mampu. Hanya perlu sedikit tekanan agar kau juga mempercayai kekuatanmu sendiri” ucap gadis itu sambil tersenyum lebar.

– To Be Continued –

Terima kasih untuk semua pembaca yang setia menunggu fanfic absurd ini🙂

Selamat ulang tahun Cho Kyuhyun! Walaupun gak bisa post fanfic ini tepat tanggal 3 Februari tapi gakpapa lah ya hehehe. Tetap bahagia dan menjadi Evil Magnae kesayangan kita semua.

uri kyuhyunswing pouty kyuSTUPID HOT KYUtemptation9a64998f36b5136f7eeb95067a876c48bocahbright smileballoon

nice 2

mr.winkc982a4f1c42025f452c5fb3bc5fab44d

3 responses to “PRINCE OF THE DARKNESS (PART 2)

  1. Oh my god ahhaha akhirnya stelah lama gue tinggu kelanjutannya ampe bolak balik page ini akhirnya di post juga vrohhh yeyyy sumveh gue pnsaran apa yg mmbuat si ndut itu d benci ama teman” skolahnya bahkan si alena harus berbuat sperti itu biar si teman ndut td gak ngegamgguin ndut lgi hahahhaha smoga authornya cepet post dan mood slalu baik buat nulis 😄😀
    #very nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s