[CHAPTER 1] My Dearest Hubby

MDhL

. | My Dearest Hubby |

| Kim Liah (http://adf.ly/sk092) |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Bae Suzy, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini adalah Sequel dari ‘Will You Be My Bride’ (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Untuk keseluruhan cerita sequel ini semua saya kembangkan sendiri dengan alur saya sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

.

Jiyeon menjalani masa kehamilannya seperti ibu hamil lainnya, banyak pantangan yang harus ia jauhi dan banyak petuah yang harus ia jalankan. Taehee kerap kali menelpon sehari sekali untuk menanyakan keadaan putrinya, apakah putrinya mengalami masalah kehamilan seperti yang ia alami dulu ketika mengandung Jiyeon.

Luhan yang dulu sangat perhatian dengan Jiyeon kini semakin melimpahkan perhatian lebihnya kepada istrinya. Semua hal yang Jiyeon sukai selalu tersedia tanpa Jiyeon minta. Bahkan suami siaga ini kerap kali merawat Jiyeon layaknya orang sakit, lelah sedikit saja, ia akan memberikan gendongan gratis untuk Jiyeon.

Ia sangat percaya dengan kejahilan Doojoon yang memintanya agar memanjakan Jiyeon dengan berlebihan agar calon bayi mereka juga termanjakan dan merasa bahagia. Padahal dulu saja ketika Gayoon hamil, Doojoon terkadang malas meladeni kemanjaan Gayoon yang berakibat ia sering mendapat kesinisan dari Gayoon.

Jiyeon tak mengalami banyak masalah dalam kehamilannya, ia hanya membenci makanan bersantan, makanan yang dulu ia sukai kini ia benci sebenci-bencinya. Bahkan ia juga membenci bau badan Luhan ketika berkeringat meski hanya sedikit saja. Ntah mengapa kali ini bau apa saja yang menyengat kali ini akan tercium berlipa-lipat lebih menyengat dan membuatnya mual-mual.

“Jiyeonie” Luhan baru saja memasuki ruang utama rumahnya, ia mengangkat 4 buah tas belanjaan ketika melihat Jiyeon terduduk santai didepan TV “Tadaaa” pekiknya senang.

Kening Jiyeon berkerut, ia ambil salah satu tas itu dan membukanya, disana ia menemukan 4 buah buku yang bersampul bayi, ibu hamil serta anak-anak “Igeo mwoya Xiao Lu-ya?” tanyanya. Ia memang bisa membaca judul yang tertulis besar disampul depan buku-buku itu, namun ia tak mengerti kenapa Luhan membeli semua ini.

Luhan menyambar buku bersampul ibu hamil dari tangan Jiyeon dan membukanya. “Ini buku tentang kehamilan Jiyeonie” Jiyeon mengangguk mengerti namun pandangannya masih menyiratkan penjelasan yang lebih dalam. “Dengan buku ini kita bisa mengetahui semua step demi step perkembangan janin diperutmu serta segala tindakan dan gejala yang kerap muncul pada ibu hamil” jelas Luhan panjang lebar seraya mengecup perut Jiyeon yang sudah nampak menggembul, 2 bulan sudah Jiyeon mengandung jabang bayi mereka.

“Arrayo Xiao Lu-ya, keundae apa kita sungguh memerlukan buku-buku ini?” Jiyeon tahu betul kalau Luhan paling anti dalam membaca buku, lagipula suaminya ini akan lebih menyibukkan diri mengurusnya dan pekerjaannya yang melimpah.

“Eoh” Luhan membuka buku bertuliskan deretan nama bayi “Kau suka nama apa Jiyeonie?”

“Molla, kita bahkan belum tahu jenis kelamin bayi kita Xiao Lu-ya” Jiyeon turut mengintip isi buku itu.

Luhan menjentikkan jarinya lalu menutup buku itu “Jiyoung, aku akan menamai bayi laki-laki kita dengan Jiyoung”

“Jadi kau mengharap anak laki-laki?” Jiyeon mengelus perutnya “Bagaimana kalau ternyata ini anak perempuan?”

“Xi Yeonsoo, aku akan menamainya Yeonsoo. Nama yang cantik bukan?” Luhan tiba-tiba mengecup bibir Jiyeon “Dia akan memiliki bibir secantik ibunya” godanya.

“Yaa” Jiyeon tersipu malu, namun ia sembunyikan dengan melirik ketiga tas belanjaan lainnya.

Luhan menyambar sebuah tas belanjaan lainnya dan mengeluarkan sebuah gaun putih besar, kaos dan kemeja berukuran besar, serta celana denim yang berkantung khusus untuk ibu hamil “Dan ini untukmu juga Jiyeonie” ucapnya bangga.

Jiyeon mengangkat celana hamil itu “Xiao Lu-ya, jincha ini sungguh kedodoran sekali nanti diperutku” ia menunjuk perutnya yang masih berukuran normal meski sudah sedikit menonjol “Kurasa perutku tak akan sebesar ini” balasnya meremehkan seraya menarik kantong perut dicelana itu.

Luhan menyambar celana denim itu dari tangan Jiyeon lalu meletakkannya di meja “Kita tak akan pernah tahu kalau nanti anak kita kembar sehingga perutmu akan sangat membesar” ia kembali mengeluarkan barang-barang dikedua tas belanjaan yang tersisa “Tadaa, yeppeou?” tanyanya seraya mengangkat baju bayi beserta sepatunya, tepatnya dua warna dengan dua corak berbeda, pink dan biru.

“Huaa jincha, kau benar-benar suami siaga Xiao Lu-ya” puji Jiyeon kagum.

***

Perut Jiyeon sudah mulai membuncit, 4 bulan sudah ia mengandung dan perubahan bentuk tubuhnya sudah mulai terlihat. Ia pikir ia akan seperti sebagian wanita diluar sana yang meskipun sedang hamil perutnya tetap tidak terlihat seperti sedang mengandung.

Minggu pagi ia habiskan untuk menyemangati Luhan bermain futsal. Ia turut bersorak seperti Gayoon, Nahyun dan Gookjo dalam menyemangati suami dan kekasih mereka dalam bertanding futsal. Kali ini kesebelasan Luhan bertanding dengan anak SMA yang digawangi oleh Kyungsoo.

“Yaa Yoon Doojoon hadang bolanya” teriak Gayoon seraya memangku putra kecilnya, Heojoon.

“Kim Seokjin… Kim Seokjin” teriak Gookjoo dengan suara besarnya.

“Kyungsoo-ya… aku akan memberimu ini jika kau mencetak banyak gol” Nahyun bangkit berdiri dan melempar flying kiss kepada Kyungsoo. Pria bertubuh kecil itu langsung semangat sekali merebut bola begitu mendengar teriakan Nahyun.

Jiyeon geleng-geleng kepala dengan ulah ketiga wanita disampingnya ini. Ia bahkan bingung sendiri harus menyemangati seperti apa. “Jiyoung appa, fighting” teriakan semangat itu saja yang mampu ia teriakkan seraya mengelus perut buncitnya. Ia tak bisa membayangkan jika putranya kelak juga akan gila bola seperti Luhan.

Pertandingan selesai dan dimenangkan oleh Kyungsoo dan kawan-kawan.

“Kyungsoo-ya” Nahyun berlari menuju meja pemain dan langsung melompat memeluk Kyungsoo “Chukkae” serunya.

Kyungsoo menepuk kepala Nahyun lalu menunjuk bibirnya hingga Nahyun berjinjit memberinya kecupan singkat.

“Ccckkk, jincha. Bagaimana bisa appa-mu terkalahkan oleh anak ingusan seperti mereka” Gayoon membiarkan Heojoon berlari kecil menghampiri Doojoon dan berpindah ke gendongannya.

“Heojoon-a, mianhae. Appa kali ini mengalah” ucap Doojoon menenangkan anak laki-laki berusia 3 tahun itu.

Heojoon tersenyum cerah “Eomma, appa hanya mengalah untuk hyung-hyung itu agar Kyungsoo hyung mendapat kecupan dari Nahyun noona” jelasnya dengan nada yang cepat seperti ayahnya.

“Yaa Yoon Heojoon” Gayoon menutupi kedua mata Heojoon dan menoleh ke belakang dimana Nahyun tengah mencium Kyungsoo.

“Mianhae noona” Jin nampak menyesal sekali karna ia kalah dalam pertandingan ini.

“Gwaenchana, kau sudah tampil apik sekali Jin-a” puji Gookjoo seraya mengusap peluh diwajah Jin.

Jiyeon kembali menghela nafas begitu melihat ulah ketiga temannya, ia nampak berjalan pelan karna perut buncitnya. Ia menyambar handuk dari tangan Luhan dan mulai mengusapkannya diwajah Luhan.

“Appa-mu kalah Jiyoung-a” lirihnya.

“Gwaenchana Jiyoung-a, tadi appa memang sengaja mengalah” dusta Luhan dengan cengirannya seraya mengecup perut Jiyeon.

“Cihh” Jiyeon menyisir rambut Luhan yang sedikit basah karna keringat “Keundae Xiao Lu-ya, bagaimana kalau anak kita perempuan, Yeonsoo? Bagaimana kalau dia menyukai bola sepertimu dan membenci lukisan juga?” tanyanya.

“Anni, Yeonsoo akan menjadi putri yang lembut sepertimu”

Jiyeon tersenyum kecil “Semoga saja”

***

Luhan baru saja keluar dari kamar mandi, bahkan rambutnya masih setengah basah. Bukannya menghampiri Jiyeon yang sudah menunggunya dengan duduk bersandar dibadan ranjang. Ia malah menurunkan koper hitamnya dari atas lemari dan mulai memilah milih baju yang hendak ia tata dikoper.

“Xiao Lu-ya, eodiya?” saking kagetnya Jiyeon sampai hampir saja menjatuhkan iphone nya ke lantai. Kenapa suaminya itu berkemas dengan tergesa-gesa? Apa pria itu akan minggat lagi seperti dulu? Apa ini karna ulahnya tadi yang meminta Luhan membelikan teobokki sesampainya dia dirumah?

“Aku harus pergi Jiyeonie” Luhan bahkan berbicara tanpa melihat Jiyeon.

Jiyeon turun dari ranjang itu dan mencegah Luhan memasukkan kemeja berwarna merah kedalam koper itu. “Yaa jincha? Kau mau minggat begitu saja dan meninggalkan istrimu yang sedang hamil ini hah? Cihh, kekanakan sekali kau ahjussi” sindirnya kesal seraya memalingkan muka.

“Yaa” Luhan mencubit pipi kiri Jiyeon “Kau mulai sensi lagi Jiyeonie”

Jiyeon menatap Luhan bingung “Sensi? Mana ada ….”

“Aku tidak akan minggat lagi Jiyeonie” Luhan memeluk Jiyeon erat “Geunyang…” rasanya berat sekali mengatakannya namun mau tak mau ia harus mengatakannya “keluar kota saja” lirihnya, ia semakin mengeratkan pelukannya.

“Mwo?” Jiyeon menarik diri dari dekapan Luhan “Kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa bukan Doojoon oppa atau Jin saja?” tanyanya shock.

“Jang sajangnim mempercayakan proyek besar ini padaku karna memang hanya aku yang bisa menanganinya Jiyeonie” Luhan kembali mengemas kopernya hingga selesai.

“Yaa bagaimana kalau ada apa-apa denganku? Bukankah kau berjanji akan menjadi suami siaga dan membahagiakanku? Jincha kau tega sekali pada bayi kita” sebenarnya bukan masalah keadaan kehamilan Jiyeon yang membutuhkan perhatian Luhan, tapi karna ia memang tak ingin jauh dari Luhan. Ia benar-benar membutuhkan Luhan untuk selalu menemaninya dimasa kehamilannya ini. Ya, ia menjadi benar-benar manja pada Luhan.

“Anniya Jiyeonie, jeongmal sebenarnya aku juga tak tega meninggalkanmu selama dua bulan disana” Luhan menghampiri Jiyeon yang duduk dipinggir ranjang.

“Mworago? 2 bulan? Kau akan meninggalkanku dan bayi kita dalam 2 bulan? Jincha kau benar-benar gila Xiao Lu-ya” Jiyeon kira hanya dalam hitungan hari saja Luhan meninggalkannya.

Luhan menggeleng “Aku akan sering menelpon dan bervideo call denganmu Jiyeonie. Jebal, ini bukan kemauanku juga” sesalnya.

Jiyeon masih belum menyerah untuk membuat Luhan mengurungkan diri menjalankan proyek yang harus memisahkan mereka berdua. “Bagaimana dengan kebutuhanku? Siapa yang akan membantuku dan merawatku selama kehamilan ini? Kau tahu kan kalau aku sedikit rewel” keluhnya.

Luhan merengkuh tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat “Mianhae Jiyeonie, kali ini aku harus menitipkanmu pada eommonim” ia sudah mendiskusikan semuanya dengan Taehee dan beruntungnya ibu mertuanya itu mau membantunya, sebenarnya ia tak ingin merepotkannya dan memilih meminta bantuan Soeun saja, tapi mengingat Soeun sendiri sudah lumayan repot mengurus keponakan kecilnya yang berusia 5 tahun jadi ia terpaksa merepotkan kembali ibu mertuanya. “Jebal Jiyeonie, ini hanya 2 bulan saja dan bukan selamanya” lirihnya.

“Keundae Xiao Lu-ya…” benarkah Jiyeon harus sendiri kali ini? Semenjak sebelum hamil saja ia sangat lengket dengan Luhan, berpisah sedikit saja ia merindukan Luhan. Apalagi sekarang sebagai ibu hamil ia ingin ditemani suaminya 9 bulan penuh.

“Jebal Jiyeonie, eommonim lebih paham semuanya tentang kehamilan daripada aku. Ia akan lebih tanggap dalam mengurusmu terlebih lagi biasanya wanita lebih senang menyibukkan diri dengan sesama wanita untuk mengurus pernak-pernik ibu hamil” Luhan memeluk Jiyeon erat lalu mencium bibirnya dengan hangat, sungguh juga terasa berat sekali baginya berpisah jauh dari Jiyeon dan calon bayinya “Kajja ini sudah malam, tak baik bagi kalian tidur terlalu malam” ia membantu Jiyeon berbaring dan menyelimutinya lalu tidur memeluk wanita yang paling dicintainya itu.

*

Pagi ini Jiyeon sungguh tidak ingin membuka mata dan melepas pelukan Luhan dipinggangnya. Ntah ini karna bawaan orok diperutnya atau memang ia sendiri yang tak ingin jauh dari Luhan mengingat pagi ini suami tercintanya itu akan memulai tugas luar kotanya selama dua bulan.

Luhan terbangun dari tidurnya dan hendak bangkit berdiri, namun rengkuhan dipinggangnya begitu erat sehingga menghalanginya. Ia lirik istrinya yang masih memejamkan matanya, ia tahu Jiyeon sudah bangun dari tadi. Tangannya ia arahkan ke pipi mulus Jiyeon untuk membelainya, benar, ia juga merasa berat dan ingin dalam posisi ini lama, namun tugas tetaplah tugas. Jika ia melalaikan tugasnya otomatis karirnya akan hancur dan ia harus memulai dari awal lagi.

“Jiyeonie, ireonayo ne” ia mengecup kening Jiyeon hangat hingga ibu hamil itu malah semakin mempererat pelukan dipinggang Luhan. “Mianhae, aku bisa ketinggalan pesawat kalau seperti ini” Luhan melepas paksa tangan Jiyeon hingga Jiyeon meringkuk kesal dan menangis kecil.

Andai saja ini hujan, sudah pasti Jiyeon akan mengemasi pakaiannya dan berlari keluar seperti dulu ketika ia marah pada Luhan. Namun bukankah itu sama saja ia menyetujui ide Luhan untuk menyerahkan dirinya pada Taehee selama dua bulan ini? Lalu apa yang harus ia lakukan untuk mencegah kepergian Luhan? Menangis kencang? Hai, ini saja air matanya tak mengalir banyak lagipula ia belum punya cukup tenaga mengingat perutnya masih belum ia suplay sarapan pagi.

“Apa kau akan terus tidur disana dan tak mengantar keberangkatanku Jiyeonie?” tak terasa 15 menit sudah Luhan membersihkan diri dikamar mandi, kini ia tengah memakai celana panjang dan kemeja putihnya. Biasanya Jiyeon sudah menyiapkan pakaiannya diranjang dan membantunya merapikan penampilannya. “Pergilah mandi Jiyeonie! Akan kusiapkan sarapan dulu” sepatu pantofel itu sudah ia kenakan dan membawa langkahnya ke dapur.

Be Sociable, Like and comment please!

.

.

.

Thankiess  Good Readers ♥♥♥♥

9 responses to “[CHAPTER 1] My Dearest Hubby

  1. Wah sequel wybmb yuach…tuh d poster npa da suzy…jgan2 jd orag ktiga…andwaeeee, jiyi lg hamil lu…jgan macem2 yuach…*kepo hahahaha dtggu next partx

  2. huwaaaa ini sequelnya will u be my bride >< ish suka sama ceritanyaa hohoho, jiyeon skrg jadi manja banget lucu gakuku~~ tapi sayang mau ditinggal luhan pergi 2 bulan hmss jeleks, ditunggu next partnyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s