Soul School Chapter 1

Soul School Poster

by Sparkdey

Soul School Chapter 1

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Main Cast            :

Jeon Jungkook BTS sebagai Jungkook : Murid yang multitalented dan adik dari Jeon Wonwoo

Kim Taehyung BTS sebagai Taehyung : Murid yang pemalas dan terpaksa sekolah di Soul School

Mark Tuan GOT7 sebagai Mark : Murid dari luar negri yang multitalented

Jung Krystal Fx sebagai Krystal : Murid dari luar negri yang multitalented

Kim Sujin (OC) sebagai Sujin : Murid yang tidak bisa apa – apa

Min Ji Eun (OC) sebagai Ji Eun : Murid yang pendiam dan adik dari Min Yoongi

Support Cast      :

 Jeon Wonwoo Seventeen sebagai Wonwoo : Kakak dari Jungkook

Kim Namjoon BTS sebagai Namjoon : Kepala Sekolah Soul School

Park Jimin BTS sebagai Jimin : Pengajar Tenaga Dalam Soul School

Oh Sehun EXO sebagai Sehun : Pengajar Dance Soul School

Kim Seokjin BTS sebagai Seokjin : Pengajar Kelas Masak Soul School

Kim Seolhyun AOA sebagai Seolhyun : Pengajar Psikologi Soul School

Min Yoongi BTS sebagai Yoongi : Kakak dari Min Ji Eun

Hello author kembali lagi dengan membawakan FF baru dan juga tema baru. Untuk FF Our Plan, mohon maaf untuk chapter selanjutnya author tunda dulu ya, lagi kehabisan ide nih haha. Kali ini genrenya School Life nih, semoga para readers suka yaa^^~

NB : Jeongmal gomawo buat adik – adikku yang sudah membantuku untuk memberikan inspirasi untuk membuat FF ini. Makasih buat Vicky dan juga Lizna :*{} saranghae~

Happy Reading!!~

Jika dia saja bisa, mengapa aku tidak? Aku pasti bisa dan harus lebih jago daripada dia!

-Author POV-

Sinar matahari masuk ke dalam sebuah ruangan yang bernuansa warna putih itu dan mengenai mata seseorang yang sedang tidur nyenyak di sana. Dia mulai menggeliat malas dan akhirnya perlahan membuka matanya. Sudah pagi, itu yang ada di pikirannya. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya untuk melakukan rutinitas setiap paginya, menyikat gigi.

“Ji Eun-ah!! Cepat turun dan sarapan bersama! Oppa mu dan appa mu sudah menunggumu!” teriak eomma Ji Eun. Ya namanya adalah Min Ji Eun. Seorang gadis yang sangat cantik namun pendiam.

Ji Eun berjalan menyusuri tangganya dan duduk di meja makan, di hadapan appa nya dan di sebelah oppa nya. Ji Eun mengambil sumpit dan mengambil bulgogi lalu melahapnya bersamaan dengan nasi yang ada di mangkuknya.

“Ji Eun-ah, kapan kau akan mencari sekolah? Atau perlu appa mu ini yang mencarikanmu sekolah?” Tanya appa pada Ji Eun.

“Mollayo, appa” jawab Ji Eun singkat.

“Apa kau ingin satu sekolah dengan oppa mu? Di sekolah internasional itu?” Tanya appa nya lagi.

“Shireo” jawab Ji Eun sambil mengunyah sarapannya.

“Appa berikan kau waktu untuk berfikir dan mencari sekolah yang kau inginkan, Ji Eun-ah” kata appa nya yang sudah selesai sarapan. “Appa berangkat, kalian baik – baik di rumah” sahut appa nya dan pergi meninggalkan mereka di ruang makan.

Suasana di ruang makan menjadi hening. Mereka semua asik dengan dirinya sendiri. Yoongi asik bermain dengan handphone nya, Ji Eun asik membaca majalah, dan eomma mereka sibuk di dapur.

“Yoongi-ya, Ji Eun-ah, nanti eomma ingin pergi bersama teman – teman eomma. Mau berkumpul dan bertemu teman lama eomma, kalian tidak apa kan di rumah berdua saja?” Tanya eomma pada mereka.

“Gwenchana eomma” jawab Yoongi yang masih asyik dengan handphone nya.

“Ya, Ji Eun-ah, bagaimana menurutmu yeoja ini?” Tanya Yoongi pada adiknya itu. Lama tidak ada jawaban dari Ji Eun. “YA! Aku berbicara denganmu, Ji Eun-ah!!” nada Yoongi mulai meninggi karena kesal tidak mendapat respon dari adiknya itu.

“Ya! Oppa!” bentak Ji Eun.

“Waeyo? Kenapa kau membentak oppamu ini eoh?!” Tanya Yoongi kesal.

“Oppa bisakah kau diam selama sehari ini? Setiap pagi aku selalu merasa terganggu olehmu hanya karena kau ingin menunjukkan foto – foto yeoja yang bahkan kau tidak mengenalnya” Ji Eun mengeluarkan rasa emosinya.

“Kalian berdua ini kenapa eoh? Pagi – pagi sudah bertengkar seperti ini. Ji Eun-ah, cepat minta maaf pada oppa mu. Dan Yoongi, kau juga jangan hanya memegang ponselmu itu, atau eomma akan menyita ponselmu itu” kata eomma nya.

“Shireo” Ji Eun beranjak dari bangku ruang makan rumahnya dan pergi menuju kamarnya.

“Ji Eun-ah!!” teriak eomma nya. “Aish anak itu… Yoongi-ya, eomma pergi sekarang eoh. Kau cepatlah berbaikan dengan adikmu itu. Dan jangan sampai saat eomma pulang kalian belum berbaikan!” kata eomma nya dengan nada yang sedikit mengancam.

“Ne eomma. Hati – hati ne” kata Yoongi sambil mengantarkan eomma nya menuju pintu luar rumah dan kemudian mengunci pintu rumah mereka.

Yoongi kembali ke kamarnya dan masih sibuk memainkan ponselnya. Sudah merasa bosan bermain dengan ponselnya itu, Yoongi beralih duduk di meja belajar kamarnya. Membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas sekolahnya itu.

Ji Eun sedang duduk di meja riasnya menatapi dirinya dan merutuki dirinya sendiri yang sudah membentak oppa nya tadi. Ji Eun berdiri dari posisinya dan berjalan mondar – mandir di dalam kamarnya.

‘Apa aku harus minta maaf pada oppa?’ batinnya.

Ji Eun menggelengkan kepalanya. “Ah tidak – tidak. Itu kan salah oppa yang sering mengganggu pagiku” kata Ji Eun.

‘Ah mollayo’ erang Ji Eun sambil mengacak – acak rambutnya sendiri.

 

-Ji Eun POV-

Aku berjalan menuju kamar oppaku, Min Yoongi. Aku berdiri di depan pintu kamarnya. Sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamarnya. Aku pergi meninggalkan pintu kamarnya namun aku balik lagi ke pintu kamarnya itu.

‘Bagaimanapun juga ini salahku yang sudah membentak oppa’ batinku.

Aku menghilangkan semua keraguanku dan mengepal tanganku untuk mengetuk pintu kamar oppa. Sebelum tanganku sampai di pintu kamarnya. Pintu itu sudah terbuka.

“Wae?” Tanya oppaku sinis dan langsung pergi meninggalkanku.

Aku berjalan mengekorinya di belakang. “Oppa… mian” kataku pelan.

“Eoh? Kau bicara apa tadi? Aku tidak mendengarnya” jawabnya yang langsung menghentikan langkahnya.

“Mian… mianhae oppa” aku menundukkan kepalaku.

“For what?” tanyanya sambil membalikkan badannya menghadapku.

“Sudah membentakmu tadi pagi” jawabku.

“Its okay” jawabnya singkat lalu meninggalkanku sendirian.

Oppa meninggalkanku. Kesal? Tentu. Aku sudah berbicara baik – baik padanya dan meminta maaf padanya untuk kejadian tadi pagi. Eomma sudah tidak ada di rumah, dapat ku pastikan eomma sekarang sedang bersama teman – temannya.

Aku kembali ke kamarku dan menghempaskan badanku di kasur. Aku meraih ponselku untuk melihat jam. 11.43 AM. Aku langsung bergegas mandi dan berdandan netral. Aku ingin menenangkan pikiranku saat ini. Oppa ku kini marah padaku. Aku sudah minta maaf padanya tetapi respon dia hanyalah “Its okay” apa – apaan itu? Bukan jawaban itu yang ingin aku dengar.

Aku berjalan menuruni anak tangga di rumahku dan membuka pintu rumah. Aku tidak izin pada oppaku maupun memberi tahu eomma ku kalau aku ingin pergi sebentar. Aku keluar gerbang rumah dan berjalan menuju halte bus terdekat dari perumahanku ini.

Aku duduk di halte sendirian dan tak berapa lama aku duduk, bus sudah datang. Aku naik bus itu dan berdiri sambil berpegangan pada gantungan yang berada di atasku saat ini. Sejujurnya aku belum tahu ingin pergi kemana. Aku hanya mengikuti kemana kakiku ingin berjalan dan pulang setelah kakiku terasa capek.

Seseorang sudah turun dan aku mendapatkan tempat duduk. Setidaknya aku bisa mengistirahatkan kakiku sebentar sebelum banyak berjalan nanti. Aku merasa sedikit ngantuk dan aku memutuskan untuk menutup mataku sejenak.

DUGG…

“Aww appo” aku mengusap keningku yang terkena bangku depanku ini. Kepalaku jadi terasa sedikit pusing karena kena bangku itu. Aku terus mengusap keningku ini.

“Gwenchanayo?” Tanya seseorang  yang beridiri di sampingku.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai pertanda iya bahwa aku baik – baik saja. Aku terus memegangi keningku.

“Kau tidak kelihatan baik – baik saja” katanya lagi.

“Apa pedulimu huh?” tanyaku sinis.

“Biar aku lihat” dia melepaskan tanganku dari keningku dan mengangkat poniku.

“Keningmu merah. Apakah itu sakit?” tanyanya.

“Ani” jawabku singkat. Dan aku langsung turun di halte, karena kebetulan bus sedang berhenti.

Aku berjalan terus tanpa henti dan aku tidak tahu kemana tujuanku saat ini. Aku merasa seseorang mengikutiku. Aku melirik ke belakang dengan ekor mataku dan kepalaku sedikit menengok. Orang itu adalah orang yang tadi di bus bersamaku dan berani – beraninya dia menyentuh keningku!

Aku berhenti dan dia juga berhenti. Aku langsung menghadap ke belakang.

“YA! Apa kau mengikutiku eoh?” tanyaku dengan sedikit berteriak.

“Ani” jawabnya singkat dan kembali berjalan mendahuluiku.

“Aish..” desahku kesal.

Aku kembali melanjutkan perjalananku yang entah ingin kemana. Aku melihat ada kedai kopi di sebrangku. Aku putuskan untuk mengunjungi kedai kopi itu dan beristirahat. Aku masuk ke dalam kedai itu dan di sambut ramah oleh pelayan di sana.

“Annyeonghaseyo. Selamat datang di kedai kami. Anda ingin memesan apa?” Tanya pelayan itu dengan ramah.

“Aku ingin moccachino dingin” jawabku.

Aku harus memesan yang dingin, karena nantinya aku ingin menggunakan gelas yang dingin itu untuk mengompres keningku ini. Sungguh sangat sakit dan kepalaku terasa pusing. Tak berapa lama aku menunggu kini kopi yang kupesan sudah ada di mejaku. Aku langsung mengambil gelas itu dan langsung menempelkannya di keningku.

“Sudah kuduga kau tidak baik – baik saja” aku terkejut mendengar suara ini. Ini adalah suara seseorang yang tadi bertemu denganku di bus dan mengikutiku.

“M… mwo?” tanyaku kaget.

“Tunggulah sebentar. Aku akan kembali” kata orang itu.

Aku terdiam sejenak karena merasa terkejut, mengapa orang itu bisa berada di sini? Sudah kuduga dia mengikutiku ke sini.

‘Apa aku harus kabur?’ batinku.

Aku menggelengkan kepalaku. ‘Tidak – tidak.. jika aku kabur dari sini pasti aku akan di kejar karena belum membayar kopi ini’ batinku.

“Gunakan ini. Dapat aku pastikan, kau dapat lebih baik daripada menggunakan gelas itu” kata orang itu sambil menyerahkan kantung berisi es padaku. Aku diam saja dan tidak meresponnya.

“Asih kau ini mengapa keras kepala sekali sih?” orang itu mulai kesal kepadaku.

“Aw.. appo!” teriakku saat orang itu menempelkan kantung berisi es itu di keningku.

“Pegang ini” perintahnya, lalu dia pergi dari hadapanku.

“Aish siapa sih orang itu seenaknya saja padaku huh” kesalku.

 

TO BE CONTINUE…

Hello guys, TBC dulu ya haha~ give some review ya para readers tercinta >.< tolong jangan jadi siders hehe, kalau kalian memberikan like ataupun comment, author pasti akan sangat semangat menulis kelanjutannya nih hahaha xD

Anyway, ada yang kepo siapa orang itu?

Okee,, silahkan kasih review buat FF ini guys, kamsahamnida *bow*

23 responses to “Soul School Chapter 1

  1. Pingback: Soul School Chapter 8 | FFindo·

  2. ahaha masih misterius.. belun bisa bayangin tokoh cowonyaa xD otw baca chapter selanjutnya nihh

  3. Pingback: Soul School Chapter 9 | FFindo·

  4. Pingback: Soul School Chapter 10A | FFindo·

  5. Pingback: Soul School Chapter 10B | FFindo·

  6. Pingback: Soul School Chapter 11 – FFindo·

  7. Pingback: Soul School Chapter 12 – FFindo·

  8. Pingback: Soul School Chapter 13 – FFindo·

  9. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s