A!—Part 3. Kemeja Putih

a

A!

BAB 3

KEMEJA PUTIH

MinHyuniee storyline

PROLOG | BAB 1 | BAB 2

Special Chapter ‘Immersed’: 1 |  2 –loading-

Poster credit: Hyunji at Cafe Poster

OC’s/You as Oh Hana | GOT 7’s Mark Tuan

EXO’s Oh Sehun | BTOB’s Lee Minhyuk | HELLOVENUS’s Kim Hyelim | BAP’s Choi Junhong | NU’EST’s Choi Minki | SEVENTEEN’s Choi Seungcheol | Tuan’s Family | etc

Chaptered | romance, comedy, family, AU, OOC, little bit smut, typos

PG-17

Note author? Perlu ya? Iya perlu? Gausah deh, note dari saya tidak penting :’D btw, I’m back guys! Maaf ya karena kesibukan sekolah jadi jarang update cerita T_T so, ini nih lanjutan fanfic saya! Happy reading yap!

DON’T LIKE? DON’T READ! DON’T BASH/FLAME ME!

-A-

Pria dengan setelan kemeja putih dan celana panjang hitam itu berjalan santai melalui beberapa orang mahasiswi yang memperhatikannya dengan tatapan kagum bercampur heran, pasalnya baru kali ini mereka melihat dosen paling muda di Universitas Inha itu memakai kemeja putih. Biasanya pria itu akan memakai kemeja hitam atau coklat karena setahu mereka dia tidak menyukai warna cerah—apalagi putih.

Sementara itu, yang sedang diperbincangkan tampak tidak perduli dan lebih mementingkan mood –luar biasa- enaknya saat ini. Setelah menemukan kelas yang sedaritadi dicarinya, ia pun memasuki kelas tersebut, membuahkan keheningan secara tiba-tiba di kelas itu.

“Selamat pagi.”

Semua mahasiswa/i pun membalas sapaan dosen pertama mereka pada hari itu, pengecualian untuk gadis bersurai coklat almond yang tengah memainkan bolpointnya dengan menggunakan tangannya. Gadis itu nampak tidak tertarik dengan kehadiran dosen tampan yang beberapa minggu lalu sempat menenangkannya saat ia menangis. Berbanding terbalik dengan mood pria berusia 23 tahun bernama Mark itu, mood gadis tersebut malah sangat buruk. Itu bisa terlihat dari aura kelam yang mengitari tubuhnya sekarang.

‘tuk’

Segumpalan kertas terjatuh ke lantai setelah tepat mengenai kepala belakang gadis ber-aura suram itu.

“Sst! Oh Hana!”

Junhong—seorang mahasiswa bergaya agak berandalan—itu berbisik atau mungkin bisa dibilang mencicit, memanggil nama gadis bersurai coklat almond dengan aura gelap yang duduk tidak jauh dari tempatnya duduk. Akan tetapi, yang dipanggil tidak memberikan respon sama sekali, membuat simpang empat tercetak jelas di pelipis pemuda jangkung tersebut.

Tak mau menyerah, Junhong pun melakukan hal yang sama berulang kali sampai pada akhirnya gadis berparas manis itu menolehkan wajahnya ke belakang disertai dengan tatapan mematikan khusus untuk Junhong. Menyadari usahanya berhasil, Junhong kemudian membuat gesture badan seolah menyuruh Hana untuk mengecek ponselnya. Hana mengernyitkan keningnya antara kesal dan bingung, namun ia tetap mengikuti perintah Junhong.

From: Jundiot.

Hei! Ada apa denganmu? Kau bahkan tidak berbicara satu patah katapun padaku sedaritadi. Apa aku ada berbuat salah? Maafkan aku, Hana T_T

16 Feb 2016 10:38

Hana tersenyum kecil lalu mengetik beberapa kalimat dan mengirimkannya kepada si pemuda jangkung di belakang sana. Belum semenit ia menaruh ponselnya diatas meja, ponsel itu sudah kembali bergetar, membuat Hana mau tak mau harus membukanya lagi.

From: Jundiot.

Setidaknya jawablah pertanyaanku sebelumnya. Berhentilah membalas pesan panjangku dengan kalimat pendek seperti ‘tidak apa-apa’ atau ‘tidak/ya’ -_-

16 Feb 2016 10:40

Gadis berparas manis itu memutar bola matanya malas. Sudah jelas sekarang mereka ada di kelas dan seharusnya mereka tidak boleh memegang ponsel, tapi si idiot Junhong itu malah mengharapkan jawaban pesan yang lebih panjang darinya. Merepotkan, begitu pikirnya.

Belum selesai ia mengetik balasan, sebuah pesan kembali masuk dengan nama pengirim yang sama.

From: Jundiot.

Aku kesepian. Ajaklah aku mengobrol sebentar saja, nona Oh. Berbicara denganku tidak akan membuat nilai ujianmu menjadi C

16 Feb 2016 10:40

Apa-apaan? Dia berniat mengejek, huh?

Hana memutar kepalanya ke belakang, menatap jengkel wajah jahil milik sahabatnya itu. Ingin sekali ia melempar ponselnya ke wajah Junhong, tapi ia lebih sayang dengan ponselnya ketimbang si idiot di belakang sana.

Tak mau ambil pusing perihal kelakuan Junhong, Hana kembali memfokuskan dirinya mendengarkan materi semester 4 yang dijelaskan oleh Mark, mengabaikan getaran ponsel yang terus berusaha mengusiknya sepanjang pelajaran berlangsung.

Oh ingatkan Hana untuk mematikan ponselnya saat ia satu kelas dengan Junhong lagi.

-A-

“Kau ingin memesan apa, Hana-yya?” gadis berambut sebahu itu menatap sahabatnya dengan pandangan antusias. Perutnya sudah berteriak minta diisi maka dari itu harus cepat-cepat memesan sesuatu untuk membungkam suara perutnya yang menganggu sejak kelas paginya berlangsung. Salahkan dirinya yang bangun kesiangan sehingga tidak sempat untuk menyentuh sarapan paginya tadi.

“Aku tidak lapar.”

“Apa?”

Hana menghela nafas pendek, “Aku tidak lapar, Kim Hyelim. Aku akan menemanimu makan saja,” ucapnya dengan nada lemah.

Gadis yang dipanggil Hyelim itu nampak memicingkan matanya. Selama bersahabat dengan gadis bermarga Oh di hadapannya itu, Hyelim tak pernah melihatnya seburuk ini—bahkan sekacau ini. Setelah diteliti lebih dekat, Hana memang benar-benar terlihat kacau. Kantung mata yang terlihat sekali ditutupi dengan make-up, rambut yang ditata asal-asalan, tatapan mata yang sayu, dan jangan lupakan juga wajah pucat pasinya—oke kulitnya memang pucat, tapi jika memakai make-up maka definisi pucat disini berbeda. Bukankah penampilannya itu patut untuk dicurigai?

Merasa ditatapi, Hana lalu menelungkupkan wajahnya dalam lipatan tangannya, semakin menambah kecurigaan dalam benak gadis di hadapannya.

“Apa kau sakit?” Hyelim bertanya yang kemudian dijawab dengan gelengan kepala oleh Hana.

“Ada apa lagi ini?” Melempar menu yang ia pegang tadi—ia bermaksud untuk menaruhnya namun karena emosi jadi terlihat seperti melemparnya—dengan wajah kesal, “Setelah kejadian kau yang tidak datang saat acara kelulusan Minhyuk, sekarang kau membuat masalah lagi dengan tidak menceritakan apapun padaku dan Junhong?” Ia berbicara dengan nada semakin meninggi tiap kalimatnya.

Hana tetap diam di posisinya, enggan untuk merespon bentakan sahabatnya. Ia lelah, dan hari ini ia hanya ingin diam namun tetap menjalani kegiatannya seperti biasa; berkuliah, makan siang bersama Hyelim, dan tidur ketika sampai di rumah nanti. Sungguh, tenaganya sudah terkuras habis untuk menangis semalam suntuk kemarin, dan kali ini Hana tidak ingin menghabiskan sisa tenaganya untuk berdebat dengan Hyelim.

“Oh Hana! Aku berbicara padamu!”

Beberapa pasang mata tampak tertarik untuk memperhatikan perdebatan—atau mungkin bentakan—yang terjadi di antara dua gadis remaja yang duduk di tengah-tengah cafétaria Universitas Inha tersebut.

Hyelim kembali melayangkan kalimat pedas yang sedaritadi telah ia tahan, “Apa kau tahu kalau aku, Junhong, dan Minhyuk telah menahan diri untuk tidak menanyaimu selama ini karena kondisimu yang semakin buruk dari hari ke hari? Cih, jadi sekarang Oh Hana telah berubah menjadi sosok ice princess, huh? Mengesankan. Akan kuberi kau tepuk tangan, Hana,” ia menepuk kedua tangannya beberapa kali dengan gaya angkuh.

Hening seketika melanda seisi cafétaria saat itu, hanya terdengar beberapa bisikan mahasiswi yang penasaran dengan apa yang terjadi antara mereka berdua.

“Baiklah,” gadis bersurai hijau lemon itu bangkit dari tempat duduknya, mendadak rasa lapar yang menyergapnya beberapa menit lalu menguap entah kemana, saat ini ia hanya ingin melempar tatapan sengit pada gadis menyedihkan di depannya, “aku tidak akan menganggumu lagi. Selamat menikmati waktumu sendiri, Oh Hana,” ucapnya final sebelum ia berlalu dari sana, meninggalkan sosok rapuh dengan bahu yang terlihat mulai bergetar disana.

Maafkan aku, Hyelim.

-A-

Hana melepas kedua sepatunya dan memasukkannya ke dalam rak sepatu sebelum menapaki dinginnya lantai rumahnya. Ia mendesah lemah ketika tak menemukan tanda-tanda keberadaan kakaknya. Mencoba mengabaikan fakta itu, Hana membanting dirinya di sofa ruang tamu. Kedua manik mata kecoklatan miliknya menatap kosong ke arah langit-langit, ia tidak memikirkan apa-apa, hanya saja ia lelah, bahkan untuk sekadar memikirkan tentang hubungan tak baiknya dengan kakak laki-lakinya—Oh Sehun.

Perlahan kedua kelopak matanya tertutup, memberi kesempatan untuk menampilkan kejadian beberapa minggu yang lalu kembali berputar di benaknya.

.

“Kenapa kau membuang bunga matahari yang kubelikan untukmu?!”

“Aku tidak suka bunga.”

“Ta-tapi itu hadiah ulang tahun dariku! Apa kau benar-benar tidak memiliki rasa menghargai lagi, oppa?”

“Hadiah itu tidak berguna. Kau selalu saja membuang uangmu untuk sesuatu yang tidak penting. Lagipula aku tidak memintamu untuk memberiku hadiah.”

“Apa kau bilang?!”

“Berhenti berteriak seperti wanita bar-bar, Oh Hana. Kembali ke kamarmu sekarang juga, kau menganggu konsentrasiku.”

“Dasar brengsek! Aku membencimu, Oh Sehun!”

“Ya bencilah aku dan jangan pernah memperdulikanku lagi. Sebaiknya kau berkuliah dengan benar, ubahlah nilai C mu itu menjadi A agar kau cepat lulus, dengan begitu kau bisa cepat hidup mandiri tanpa diriku.”

“Ka-kau benar-benar brengsek!”

“Keluar.”

.

‘ting tong’

Hana terbangun, matanya mengerjap cepat sejurus dengan badannya yang berusaha bangkit dari sofa. Ia berjalan menuju intercom rumahnya, melihat siapa yang bertamu ke rumahnya malam-malam begini. Melihat sosok cantik yang di kenalnya, kontan Hana membuka pintu rumahnya dan langsung memeluk sang tamu.

“Hei-hei! Apa yang terjadi, Hana-yya?” suara lembut itu menyapa pendengaran Hana, semakin membuatnya terisak dalam pelukan itu.

“Min-minki oppa. Aku me-hiks-rindukanmu.”

Sosok cantik yang ternyata adalah seorang laki-laki itu tersenyum kecil mendengar perkataan si gadis mungil yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Laki-laki bersurai blonde panjang dikuncir kuda itu kemudian menuntun dirinya dan Hana memasuki rumah.

Merasa isakan Hana sudah mereda, Minki pun melepaskan pelukannya, menatap mata sembab milik Hana dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Seraya mencubit gemas pipi cukup tembam milik Hana, Minki berucap, “Kau menjadi semakin jelek kalau menangis begini. Berhentilah menangis, Hana-chan.”

“Ug-gwh behenti o-bbwah.”

Minki terbahak. Hana mendengus pelan, lalu berjalan menuju ruang tamu dan menempatkan bokongnya di salah satu sofa. Minki mengekor, masih dengan tawanya yang menggelegar—oke ini berlebihan—karena saking lucunya ucapan tak jelas Hana barusan.

Menyadari tatapan tajam dari orang di seberangnya, Minki pun menghentikan tawanya dan kembali menjadi sosok tegap layaknya pria dewasa pada umumnya.

“Oke, jadi maaf karena telah berkunjung malam-malam begini. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Hm.. tapi sebelumnya bolehkah aku mengomentari penampilanmu yang berantakan itu?”

Hana memperlihatkan ekspresi datarnya, “Aku lelah, oppa.” jawabnya enggan.

“Tapi tetap saja seorang gadis sepertimu harus memperhatikan penampilan. Selelah apapun itu ka—“

“Minki oppa.” Hana memotong omelan bak seorang ibu-ibu Minki dengan ekspresi yang menujukkan betapa letihnya ia hari ini. Sudah cukup dengan segala permasalahan yang ia hadapi, tidak lagi dengan omelan Minki.

“Uh baiklah sebenarnya aku hanya ingin bercanda.” Hana memutar bola matanya malas karena candaan pria yang sudah dianggap sebagai kakak keduanya itu tidak lucu sama sekali.

Minki menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai pembicaraan yang utama, “Sehun benar-benar kacau akhir-akhir ini.”

“Ia bekerja semalam suntuk selama seminggu yang lalu, bahkan ia tidur di sofa tempat kerjanya beberapa hari ini. Dan bagian terparahnya, ia selalu membentak bawahannya. Aku dengan susah payah menutupi hal itu dari tuan besar Oh. Aku takut sekali Sehun akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Kau tahu ‘kan kalau ayahmu itu benar-benar kejam?” ia mendesah di sela-sela kegiatan berceritanya. “Aku datang kesini karena aku tahu kalau kau ada masalah dengannya. Well, beberapa hari yang lalu saat ia tertidur di sofanya aku mendengarnya meracaukan namamu dengan tidak jelas sambil menangis meminta maaf. Oke aku tidak tahu masalahmu dengannya, tapi bisakah besok kau ke kantor dan berbicara dengannya, Hana?”

“Tidak.” Jawab Hana dengan singkat, padat, dan jelas.

Kedua mata Minki membola, “Kenapa?”

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisiku, oppa. Dan sekarang kau malah memintaku untuk berbicara dengannya. Konyol sekali.” Hana bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju dapur lalu menuangkan air putih pada dua buah gelas.

Pria berwajah cantik itu menghela nafas pelan. Sungguh, kepalanya sudah pusing karena memikirkan berbagai cara untuk membuat sahabat kecilnya—Sehun—kembali seperti semula. Ia pikir cara inilah yang tepat, akan tetapi ia lupa kenyataan bahwa sifat keras kepala milik Sehun tentu saja juga dimiliki oleh adiknya, Hana. Minki mengusap wajahnya kasar, frustasi.

“Berbicaralah dengannya, demi diriku, please?”

Hana mendelik setelah menaruh segelas air putih pada meja yang ada di hadapan Minki. “Sekali tidak ya tetap tidak.”

“Oh ayolah, Oh Hana. Aku benar-benar memohon padamu untuk kali ini saja.” Nada suara Minki melemah, ia sudah kehabisan cara untuk menemukan jalan keluar permasalahan sahabatnya di kantor.

Tanpa mengindahkan Minki, Hana mengecek ponselnya yang baru saja bergetar, menandakan ada pesan masuk di dalamnya. Kening gadis berusia 21 tahun itu kemudian mengerut setelah membaca isi pesan tersebut.

From: Minhyukie.

Apa kau ada waktu luang besok? Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini tentang dosen Mark.

P.S: maaf meng-sms malam-malam begini, aku baru saja pulang kerja

16 Feb 2016 23;11

Dengan gerakan cepat Hana pun membalas pesan itu, kemudian ia memutar-mutar ponselnya, menunggu balasan dari Minhyuk dengan harap-harap cemas. Kira-kira apa yang ingin dibicarakan Minhyuk tentang dosen bebal itu?, batinnya bingung.

“Oh Hana! Aku serius kali ini! Ck, apa kau tidak menyayangi kakakmu itu lagi?” teriak Minki kesal karena diabaikan.

Hana melirik Minki sekilas lalu membalas perkataan pria yang lebih tua beberapa tahun darinya itu dengan santai, “Dia menyuruhku untuk tidak memperdulikannya lagi. Jadi, untuk apa aku menyayanginya lagi?”

Rahang Minki jatuh, terkejut pastinya. Apa benar Sehun mengatakan itu pada Hana? Seumur-umur, Minki belum pernah mendengar Sehun berkata seperti itu kepada Hana karena faktanya, Sehun sangatlah menyayangi adik satu-satunya itu. Sehun pernah berkata kepada Minki bahwa ia bekerja untuk Hana, rela menghabiskan separuh hidupnya di kantor demi Hana, dan alasannya untuk tetap hidup di dunia ini itu hanya untuk Hana. Lalu apa itu tadi? Sehun menyuruh Hana untuk tidak memperdulikannya lagi? Lelucon macam apa itu?

“Sudahlah, oppa. Lebih baik Minki oppa pulang saja. Ini sudah larut, kau pasti lelah sehabis bekerja. Jangan terlalu memikirkan orang itu, ia tak pantas untuk kau pikirkan,” ucap Hana sarkastik.

Pria blonde itu terdiam sesaat sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu masuk rumah.

“Terimakasih atas waktumu. Aku harap kau cepat sadar, Oh Hana. Selamat malam.”

Pintu itu tertutup.

Hening.

-A-

From: Minhyukie.

Ingat Daehangno Park, pukul 11.00. Jangan sampai terlambat, Hana-yya!😀

17 Feb 2016 08.45

Hana mengacak rambutnya yang kusut setelah bangun tidur. Melempar ponselnya sembarang ke arah kasur, menguap sebentar, lalu bangkit dan segera pergi menuju kamar mandi, untuk mandi tentunya.

Hana mengunci pintu rumahnya, bersiap-siap untuk belanja beberapa bahan makanan yang persediannya telah habis. Mumpung hari ini juga ia tidak memiliki jadwal Kuliah, jadi tidak ada salahnya untuk menyegarkan kembali otaknya yang penuh dengan permasalahan itu sekarang. Kakinya berjalan menapaki jalan setapak yang biasa ia lalui menuju halte bus terdekat, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya kali ini.

Di halte bus, terdapat dosen bebalnya—Mark—dan seorang laki-laki bersurai hitam legam yang tak ia kenal duduk bersebelahan. Si rambut hitam nampak asyik memainkan ponselnya, sementara Mark hanya diam melamun. Hana terkikik kecil melihat mereka. Mark sekarang tampak seperti seorang ayah bodoh dengan anak laki-lakinya yang asyik dengan dunianya sendiri. Hana pun menghampiri kedua orang itu.

“Selamat pagi, Mark saenim.” Sapa Hana dengan senyum lebar.

Terkejut, sontak Mark menoleh dengan ekspresi aneh, beda halnya dengan si rambut hitam yang terlihat tertarik dengan wajah anggun milik Hana, ia terlihat langsung memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.

“O-oh? Selamat pagi, Oh Hana.”

“Namanya Oh Hana, hyung?” si rambut hitam menginterupsi, membuahkan tanda tanya besar di benak Hana. Pasalnya dia memanggil Mark dengan panggilan ‘hyung’ yang artinya mereka saling kenal bukan?

“Tidak namanya, Grace Tuan.” Mark mendesah malas. Untuk apa bertanya lagi padahal sudah jelas dia memanggil Hana dengan nama panjangnya. Bodoh, umpatnya dalam hati.

Si rambut hitam tampak memutar bola matanya kesal, kemudian beralih menatap Hana dengan senyum tampan andalannya dan berdiri, “Apa kau muridnya, Mark hyung? Kalau iya, perkenalkan, aku Choi Seungcheol, saudara jauh dosen urakanmu ini. Salam kenal, Oh Hana.” Ia berbicara tanpa rem, membuat Mark hanya bisa menggeleng heran melihatnya.

Hana tersenyum simpul, “Salam kenal juga, Seungcheol-ssi.” Ucapnya sambil menundukkan badannya sopan. Si rambut hitam bernama Seungcheol ikut menundukkan badannya.

Apa-apaan ini? Seperti pertemuan formal antar keluarga saja, batin Mark mengejek.

Sesungguhnya tak dapat dipungkiri, Mark senang—kelewat senang malah—bertemu dengan Hana karena ia merasa akhir-akhir ini Hana menghindarinya, bahkan Hana selalu menitipkan tugasnya kepada temannya untuk dikumpulkan ke Mark, di kelas pun Hana hanya diam melamun memperhatikan pemandangan di luar kelas atau mencoret-coret notes-nya tanpa memperhatikan Mark. Kesal? Tentu saja kesal. Tapi apa kalian bisa menunjukkan rasa kesal itu pada seseorang yang telah merebut perhatian kalian? Oh coret untuk kata perhatian, bagaimana kalau diganti dengan hati saja?

Mark menghela nafas untuk kesekian kalinya. Perasaannya sungguh rumit, lebih rumit daripada coretan asal Hana pada kertas ujiannya 2 minggu lalu. Mark tak tega memberikan nilai C lagi, tapi ia lebih tak tega kalau harus meluluskan Hana dari kelasnya. Meluluskannya sama dengan tidak bisa mendekatinya lagi bukan? Cih, dasar dosen mesum.

“Kau mau pergi kemana, Hana-ssi?” suara agak berat Seungcheol mengudara, membuyarkan lamunan Mark dan Hana yang duduk bersebelahan—Mark tidak sadar kalau Hana duduk di sebelahnya.

Hana menoleh, tersenyum kecil, “Aku mau pergi ke supermarket, membeli beberapa bahan makanan yang habis.” Jawabnya tenang. Seungcheol mengangguk paham, sementara Mark hanya diam memperhatikan mereka berdua, “Bagaimana denganmu?”

“Aku mengantarnya untuk mengambil barangnya yang ketinggalan di kampusnya. Bocah ini sungguh ceroboh.” Mark menyahut acuh tak acuh, padahal bukan ia yang ditanya. Tapi entah kenapa rasanya ia ingin saja menimpali pertanyaan Hana. Aneh, dia bertingkah seperti orang yang cemburu saja.

Seungcheol melemparkan tatapan membunuhnya kepada Mark. Enak saja menghancurkan image-nya di hadapan incarannya. Apa hyungnya itu mau cari mati?

“Dimana kampusmu, Seungcheol-ssi?” Hana bertanya lagi.

“Di—“

“Sungkyunkwan University. Jurusan arts&humanities, semester 5,” potong Mark cepat. Buru-buru, Mark menaiki bus yang baru saja tiba di depan mereka sebelum mendapatkan sebuah pukulan dari si rambut hitam. Hana terkekeh pelan setelah melihat ekspresi masam Seungcheol. Mereka berdua lalu menyusul Mark masuk ke dalam bus.

“Aku baru tahu kalau Mark Tuan sajangnim suka memotong pembicaraan orang.”

Mark menoleh ke sebelahnya, mendapati seorang gadis manis bermarga Oh yang telah mengambil tempat duduk disana, “Sebenarnya tidak. Aku hanya sedang balas dendam saja,” balasnya cuek.

“Ia duduk di belakang.” Hana mengalihkan topik ketika menyadari Seungcheol duduk di tempat duduk deret belakang.

Mark melirik sekilas ke belakang, “Mungkin dia sadar diri,” gumam Mark dengan suara yang sengaja dikecilkan agar Hana tak bisa mendengarnya. Dilihat dari sisi manapun, Mark yang sedang cemburu memanglah terlihat sangat menggemaskan.

Bus sudah berjalan, namun suasana diantara kedua mahluk di bangku paling depan itu tampak canggung. Mereka berdua memilih untuk diam melamun selama beberapa menit.

“Terimakasih untuk yang waktu itu,” Hana membuka obrolan, memecah keheningan diantara mereka, “dan maaf karena aku baru bisa mengatakan terimakasih sekarang. Well, sebenarnya aku malu. Tiba-tiba menceritakan masalah keluargaku pada dosen yang kubenci di kampus, lalu pergi begitu saja menganggap seolah-olah itu tidak pernah terjadi.” Mark tertegun mendengar Hana mengatakan bahwa ialah dosen yang dibenci di kampus. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Itu semua pasti karena Mark selalu memberikan nilai C pada Hana.

Hana melirik Mark yang duduk di sebelah kanannya dengan tatapan polos, “Setelah kejadian itu, aku sadar kalau kau tidak buruk juga,” gadis itu tertawa menangkap ekspresi terkejut pria di sebelahnya, “setidaknya kau pendengar yang baik.” Lanjutnya kemudian. Hana tersenyum tipis, menunjukkan betapa manisnya wajah si bungsu Oh di hadapan Mark.

Untuk beberapa detik, nafas Mark seakan tertahan. Salahkan perasaannya yang seperti diliputi kebahagiaan saat ini.

“Rambutmu mungkin akan lebih enak dipandang kalau dicat dengan warna coklat kemerahan.”

“Apa?”

“Dan juga ditata keatas. Aku ini mantan stylist di salon kenalanku, jadi tidak usah khawatir dengan hasilnya nanti.”

Hana mengikat rambut panjang sepinggangnya dengan sebuah karet mungil yang entah mengapa dari sudut pandang Mark, Hana terlihat sangat menggoda sekarang. Anak rambut yang berantakan bercampur dengan tetesan keringat, leher jenjang yang bersih putih tanpa noda yang sangat pas untuk dikecap, dan juga jangan lupakan bibir plum kemerahan yang tak berhenti mengoceh sedaritadi. Pria berusia 23 tahun itu meneguk ludahnya kasar. Hei ayolah, dia pria normal, tentu saja ia sedang membayangkan yang ‘iya-iya’ tentang mahakarya Tuhan yang ada di sebelahnya itu. Byuntae Mark mode on.

“—bertanya padamu, Mark saenim. Hei? Apa kau baik-baik saja?”

Mark tersadar dari fantasinya dan langsung menatap Hana dengan wajah tanpa dosa, “Ya? Aku baik-baik saja. Ada apa?”

Hana memasang wajah datarnya, “Aku bertanya kenapa kau menggunakan kemeja putih di musim panas begini? Apa kau ada acara formal sampai memakai kemeja putih begitu hari ini?” tanyanya penasaran.

“Tidak ada. Aku hanya senang saja memakai kemeja putih.” Hana mengernyitkan keningnya membuat Mark mau tak mau harus menjelaskan alasannya lebih lanjut, “Moodku sedang sangat baik akhir-akhir ini. Aku tak tahu kenapa tapi ya begitulah. Apa sudah jelas, Oh Hana-ssi?”

“Benarkah?” Hana menaikkan salah satu alisnya seolah tak begitu percaya dengan ucapan Mark.

“Iya.”

Tiba-tiba bus berhenti, menyebabkan Hana kehilangan keseimbangannya hingga kepalanya terbentur dengan kaca tembus pandang di depannya. Mark yang melihat itu kontan tertawa terbahak, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan pandangan jengkel karena suara tawanya menganggu mereka. Merasa ditertawakan, Hana pun menginjak kaki Mark dengan cukup keras, seolah menginstruksikan si dosen menyebalkan itu untuk berhenti menertawakannya.

“Aduh-aduh. Itu sangat sakit, Hana!”

Hana memalingkan wajahnya, tak perduli. Simpang empat tercetak di pelipis pria tampan itu.

“Cih akan kuberikan kau nilai C lagi nanti. Lihat saja.”

Refleks kepala Hana menoleh, “Apa kau bilang?” nadanya meninggi, kesal.

“Aku tidak akan pernah memberikanmu nilai A dan meluluskanmu, Oh Hana,” ulang Mark lebih jelas dengan penekanan di setiap kalimatnya. Emosi Hana mulai tersulut, ia menatap tajam pria menyebalkan yang merangkap sebagai dosen di kampusnya itu dengan tatapan tajam.

Tangan Hana mulai memukuli dada bidang Mark dengan tenaganya yang lumayan keras untuk seukuran wanita, sementara Mark memperlihatkan wajah kesakitannya—yang dibuat-buat. Hingga beberapa menit kemudian, kedua tangan bebas Mark menghentikan pergerakan tangan mungil Hana. Menarik tubuh ramping itu mendekat lalu menggenggamnya telapak tangannya dengan lembut. Wajah mereka berdua hanya terpaut jarak sekitar 5 cm sekarang.

Hana merasakan wajahnya memanas mengingat bahwa ini sudah kali keduanya mereka berada pada jarak sedekat itu. Mark hanya diam menatap kedua obsidian indah milik Hana tanpa ada niatan berkedip sekalipun. Mendadak wajah Hana berubah menjadi kepiting rebus; sangat merah.

Oke, biarkan Mark melepaskan semua perasaan yang telah ia pendam selama ini dengan cara menatap gadis di hadapannya. Memendam perasaan selama itu bukanlah perkara mudah kalau setiap harinya kau tidak dapat berbicara atau bertemu dengan orang yang kau sukai dengan leluasa.

“Ma-mark saenim?” Mark tersenyum tipis, “err.. itu.. ka-kancing kemejamu lepas.” Dan yang selanjutnya dilakukan oleh Mark adalah buru-buru membetulkan kancing kemeja teratasnya yang lepas.

Bus berhenti bersamaan dengan langkah tergesa-gesa kaki Hana keluar dari bus itu, tanpa sepengetahuan Mark tentunya karena Mark sedang fokus membetulkan kancing kemejanya. Gadis mungil itu mengibaskan tangannya seolah-olah menyuruh sang supir bus untuk segera menjalankan busnya. Bus kembali berjalan, walau di dalam situ Seungcheol tampak menatap Hana dengan tatapan bertanya-tanya yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Hana.

Hana menghela nafas lega, sementara Mark yang baru menyadari kepergian Hana menghela nafas kesal.

Apa dia baru saja menghindar, huh? Dasar gadis aneh.

.

Kabar buruknya, aku menyukai gadis aneh itu. Oke aku lebih aneh darinya.

Bodoh.

TO BE CONTINUED

-A-

HUWAAAH~ ff macam apa ini :’) alurnya amburadul dan konfliknya bener-bener gak jelas. Aku merasa nista disini #nangisgegulingan #ditendangreaders. Maafin aku karena udah ninggalin ff ini sampe lumutan, kawan-kawan T_T aku sibuk sekolah karena aku udah kelas 11 sekarang. Waktu cepet berlalu ya. Gue inget banget tuh mulai join dunia per-fanfictionan waktu kelas 1 smp #merasatua #gak. Btw, ff ini aku buat khusus untuk kalian yang kangen sama Mark! Huhu Mark makin ganteng aja gakuku aku mak. Okedeh, maaf kalau ff ini mengecewakan dan aneh. Aku harap kalian menyukainya!

LAST BUT NOT LEAST, RCL PLEASE?

(P.S: Aku bakal update kilat kalau kalian membudidayakan Read-Comment-Like setelah membaca FF ini. So? Be a good readers, guys! Loveya!)

4 responses to “A!—Part 3. Kemeja Putih

  1. oh my … kenapa kau buat markeu seperti ini? dan kenapa hana harus polos sekali? sabar ya mark …
    btw, coco boleh dong tampil. dan kemana anak got7 yang lain?

    • karena aku kehabisan ide jadi kubuat mark seperti itu/? hana kubuat polos karena cewek jaman sekarang sedikit yang polos/?
      coco? wkwk wah sayang sekali ffku ini castnya dari berbagai macam grup jadi gak bisa masukkin anak got7 yang lain dear :’D maaf yaa
      btw makasih ya udah mau baca+comment!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s