Soul School Chapter 3

Soul School Poster

By Sparkdey

Soul School Chapter 3

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Main Cast            :

Jeon Jungkook BTS sebagai Jungkook : Murid yang multitalented dan adik dari Jeon Wonwoo

Kim Taehyung BTS sebagai Taehyung : Murid yang pemalas dan terpaksa sekolah di Soul School

Mark Tuan GOT7 sebagai Mark : Murid dari luar negri yang multitalented

Jung Krystal Fx sebagai Krystal : Murid dari luar negri yang multitalented

Kim Sujin (OC) sebagai Sujin : Murid yang tidak bisa apa – apa

Min Ji Eun (OC) sebagai Ji Eun : Murid yang pendiam dan adik dari Min Yoongi

Support Cast      :

 Jeon Wonwoo Seventeen sebagai Wonwoo : Kakak dari Jungkook

Kim Namjoon BTS sebagai Namjoon : Kepala Sekolah Soul School

Park Jimin BTS sebagai Jimin : Pengajar Tenaga Dalam Soul School

Oh Sehun EXO sebagai Sehun : Pengajar Dance Soul School

Kim Seokjin BTS sebagai Seokjin : Pengajar Kelas Masak Soul School

Kim Seolhyun AOA sebagai Seolhyun : Pengajar Psikologi Soul School

Min Yoongi BTS sebagai Yoongi : Kakak dari Min Ji Eun

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

Hello author kembali lagi dengan membawakan FF baru dan juga tema baru. Untuk FF Our Plan, mohon maaf untuk chapter selanjutnya author tunda dulu ya, lagi kehabisan ide nih haha. Kali ini genrenya School Life nih, semoga para readers suka yaa^^~

NB : Jeongmal gomawo buat adik – adikku yang sudah membantuku memberikan inspirasi untuk membuat FF ini. Makasih buat Vicky dan juga Lizna :*{} saranghae~

Happy Reading!!~

Cerita sebelumnya…

“Apa itu sakit?” Tanya seseorang yang kini berada di belakang Ji Eun.

“M.. mwo? NEO?!” teriak Ji Eun.

“Dengan membaca ekspresimu itu aku sudah tau bagaimana rasanya” kata orang itu sambil berjalan perlahan mendekati Ji Eun.

“Kau, yeoja, sungguh menarik perhatianku” kata orang itu yang sedang jongkok di hadapannya sambil memegang payung yang memayungi dirinya dan Ji Eun.

“Apa maksudmu?!” Ji Eun semakin merasa takut dengan orang yang ada di hadapannya ini.

“Sudah kubilang bukan? Kau itu menarik perhatianku” kata orang itu.

-Author POV-

Ji Eun masih merasa takut dengan orang yang ada di hadapannya ini. Dia mengatakan bahwa Ji Eun itu sudah menarik perhatiannya. Ji Eun kembali berfikir apa yang sudah Ji Eun perbuat sehingga bisa menarik perhatian orang yang ada di hadapannya ini.

“Kajja” orang itu mengulurkan tangannya pada Ji Eun. Ji Eun hanya terdiam dan tidak merespon.

“Wae? Kau takut padaku?” Tanya orang itu lagi. Ji Eun hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya sebagai pertanda iya bahwa dia takut dengan orang itu.

“Keep calm. Aku ini orang baik – baik. Kau itu terluka, aku hanya ingin membantumu. Apa itu salah?” Tanya orang itu lagi pada Ji Eun dan Ji Eun menggelenggkan kepalanya.

“Yasudah, cepat berdiri. Aku akan membantumu dan membersihkan lukamu itu” kata orang itu yang langsung membantu Ji Eun berdiri.

Ji Eun berdiri dari posisinya ini dengan bantuan dari orang itu. Orang itu membantu Ji Eun berjalan. Tidak, orang itu tidak membantu Ji Eun berjalan ke halte yang menjadi tujuan Ji Eun. Melainkan ke sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari posisinya saat ini.

Ji Eun masuk ke dalam mobil itu dengan banyak keraguan yang ada padanya. Namun, dia percaya pada orang yang kini sedang menyetir entah kemana tujuan orang ini. Ji Eun percaya padanya karena orang ini selalu berada di sampingnya ketika dia terluka. Untuk hari ini, sudah terhitung 2 kali, orang ini membantunya.

Ji Eun sudah sampai di sebuah apartement yang mewah. Dia masuk ke dalam apartement itu dibantu oleh orang itu. Ji Eun terkejut dengan barang – barang yang ada di dalam apartement ini. Sangat mewah. Itu yang ada di pikiran Ji Eun.

“Pakailah ini. Aku tidak memiliki kakak perempuan. Jadi tidak apa kan jika kau harus memakai kemeja milikku ini?” Tanya orang itu sambil menyerahkan kemeja pada Ji Eun.

“Umh, kamsahamnida” jawab Ji Eun sambil menerima kemeja itu.

“Ganti bajulah di kamarku” sahut orang itu sambil berlalu pergi dari hadapan Ji Eun.

Ji Eun masuk ke sebuah kamar dengan nuansa berwarna abu – abu ini. Terkesan lebih tenang. Dan kamar ini rapih. Apa dia tinggal sendirian di sini? Pikir Ji Eun. Ji Eun langsung membuka bajunya dan menggantinya. Dingin. Hanya itu yang dapat Ji Eun rasakan saat ini. Untuk lukanya itu, dia seperti sudah tidak memikirkannya lagi. Ji Eun keluar dari kamar itu.

“Kemarilah” kata orang itu sambil menepuk sofa yang ada di depannya. Ji Eun menurutinya dan duduk di sofa itu.

“Mengapa kau selalu saja jatuh?” Tanya orang itu sambil mengobati luka Ji Eun.

“Aww… “ teriak Ji Eun spontan. “Ah mian” jawab orang itu.

“Karena aku bertemu dengan orang sepertimu” jawab Ji Eun sambil meniupi lukanya yang sedang dibersihkan itu.

“Seriously? Bahkan aku selalu di sampingmu ketika kau terluka atau membutuhkan pertolongan” jawab orang itu. Ji Eun diam dan tidak mampu menjawabnya. Perkataan orang ini benar. Orang ini berada di sampingnya ketika dia terluka.

“Nuguya? Kau ini siapa eoh? Dan mengapa aku menarik perhatianmu?” Tanya Ji Eun berani.

“Ah kita belum berkenalan eoh? Hmm, molla. Hatiku mengatakan bahwa kau itu menarik” jawab orang itu sambil memperban luka yang ada di lutut Ji Eun.

“Kajja kita makan” kata orang ini yang menarik lengan Ji Eun.

“Aww… pelan – pelan” rintih Ji Eun. Orang ini spontan menggulung lengan kemejanya menjadi setengah.

“Ya ya ya!! Apa yang kau lakukan eoh?” Ji Eun menahan tangan orang ini.

“Sikutmu luka. Mengapa kau diam saja?” Tanya orang itu menahan amarahnya.

Ji Eun ditarik untuk kembali duduk di sofa dan orang itu kembali mengobati luka di sikutnya itu. Mengambil kapas dan menuangkan sedikit alcohol di kapas itu. Lalu mengobati luka Ji Eun dengan telaten. Ji Eun hanya dapat mengamati orang di hadapannya ini. Ji Eun tersenyum.

‘Ternyata masih ada yang peduli padaku selain oppa, eomma dan appa’ batin Ji Eun.

“Kenapa tersenyum?” Tanya orang itu tiba – tiba.

“Ani” jawab Ji Eun sambil menggelengkan kepalanya.

“Selesai. Kajja makan” kata orang itu mengajak Ji Eun duduk di meja makannya.

Ji Eun hanya menurut saja dan dia mengambil sumpit lalu mulai memakan. Dengan lahapnya Ji Eun makan makanan yang ada di hadapannya itu. Perlahan rasa ragu Ji Eun terhadap orang yang sedang makan bersamanya ini menghilang. Ji Eun sudah selesai makan.

“Biar aku yang membereskannya. Sebagai tanda terima kasih untukmu” kata Ji Eun yang berlalu menuju dapur.

“Ah ya, aku belum mengetahui namamu. Min Ji Eun imnida. Bangapta” kata Ji Eun sambil menyodorkan tangannya.

“Kim Taehyung imnida. Senang bisa berkenalan denganmu” jawab orang itu.

 

-Taehyung POV-

“Kim Taehyung imnida. Senang bisa berkenalan denganmu” kataku sambil menjabat tangannya.

“Umh okay, Taehyung-ssi, terima kasih sudah membantu mengobati lukaku” kata Ji Eun dengan senyum dan lesung pipi nya itu membuatku semakin senang melihatnya.

‘Yeppoda’ batinku.

Aku duduk di ruang keluargaku dan menyalakan televisi. Sekedar melihat berita yang dapat menarik perhatianku. Aku berjalan menuju jendela apartementku ini untuk melihat keadaan di luar. Masih hujan. Ah jika sudah hujan deras seperti ini pasti akan lama untuk reda.

Aku berjalan menuju dapurku dan membuka kulkasku untuk mengambil air minum. Tidak, lebih tepatnya jus. Tidak lengkap hariku jika tidak meminum jus. Jus kesukaanku. Strawberry.

Aku melihat Ji Eun sedang menatap pemandangan luar apartementku dari jendela. Dia terlihat seperti sedang melamun. Aku putuskan untuk menghampirinya. Aku memegang bahunya.

“Omo… kau mengagetkanku, Taehyung-ssi” kata Ji Eun dengan wajahnya yang terkejut itu.

“Kau sedang apa? Melamun eoh?” tanyaku.

“Ani. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya aku pulang. Oppa, eomma dan appa pasti khawatir padaku” katanya sambil melihat jendela. “Ahhh!!” teriaknya tiba – tiba.

“Berhenti teriak seperti itu, Ji Eun-ssi! Kau bisa saja membuatku jantungan hanya karena teriakanmu itu” kataku sambil memegang dadaku.

“Ah mian. Apa kau melihat hp ku?” tanyanya dengan mata yang sendu itu.

“Hp mu rusak. Sudah coba aku charge namun tidak mau menyala. Sewaktu kau jatuh, hp mu masuk ke genangan air dan aku langsung memungutnya” kataku sambil menyeruput jus kesukaanku.

“Omona! Jinjja? Aish… habislah aku dimarahi eomma dan oppa” katanya yang sambil menggigiti kukunya itu. Membuatku semakin tertarik padanya.

“Pakailah ini dan telfon oppa mu atau eomma mu” kataku sambil memberikan ponsel milikku.

“Ah kamsahamnida. Aku pinjam dulu ne” katanya dengan senyum yang menampilkan lesung pipinya itu.

Ji Eun mengambil ponselku dan berjalan menjauh dariku. Aku tahu ini pasti obrolan antara ibu dan anak. I miss my mom. Kapan eomma akan kembali?

Aku menunggunya sambil duduk di sofa dan kembali menonton acara berita yang menarik perhatianku ini. Ji Eun belum saja selesai menelfon eomma nya. Perbincangan yang panjang sekali. Sudah 5 menit lebih aku menunggunya.

“Ini. Jeongmal gomapta” katanya sambil menyerahkan ponselku.

“Apa kata eomma mu?” tanyaku penasaran.

“Eomma bilang katanya besok pagi harus sudah di rumah dan sarapan bersama. Dan kau juga harus ikut bersamaku untuk sarapan bersama. Aku bilang pada eomma bahwa aku bertemu teman lamaku dan aku menginap di rumahnya” jelasnya panjang lebar.

“Apa eomma mu tahu bahwa aku ini seorang namja?” tanyaku lagi.

“Umh. Tentu saja eomma tau” jawabnya sambil memakan cemilanku.

“Lantas apa reaksi eomma mu?” tanyaku lagi.

“Kau sedang menginterogasiku eoh?! Eomma ku kaget. Maka dari itu eomma meminta kau juga ikut bersamaku ke rumah dan sarapan bersama. Mungkin eomma dan oppa akan menginterogasimu, Taehyung-ssi” jawabnya dengan nada yang di buat – buat seram itu.

 

-Jungkook POV-

5:46 AM

Matahari belum juga muncul dan namja yang satu ini sudah kembali berkutat dengan laptopnya itu. Jeon Jungkook adalah namaku. Aku memang memiliki hobby menulis lagu atau mengcover sebuah lagu. Itu memang sudah menjadi hobbyku sejak kecil. Terlebih lagi aku memiliki seorang kakak yang mempunyai hobby yang sama denganku. Jeon Wonwoo. Itu adalah nama hyungku.

Aku sedang menulis sebuah lagu. Entah nanti hasilnya akan seperti apa, aku harap yang mendengarkan lagu buatanku ini nantinya akan suka. Hyungku juga membantuku dalam membuat lagu ini. Dia sangat suka membuatkan musik dan aku membuatkan liriknya.

“Hyung, aku mau pergi dulu ne” kataku sambil mengambil tas dan langsung pergi dari ruang musik.

Aku akan pergi ke sebuah café dimana aku menjadi penyanyi di sana. Aku memang bekerja di sini sebagai penyanyi. Hanya untuk menyalurkan hobiku saja dan tentunya untuk mendapatkan uang jajan tambahan. Eomma dan appa ku memang sudah memberikanku fasilitas yang bisa di bilang memadai. Mobil ada, ponsel ada, jabatan di perusahaan ada, apartement ada. Semuanya ada. Tapi bagiku itu semua tidak terlalu aku butuhkan untuk saat ini. Aku hanya membutuhkan kehadiran teman.

Aku bukan tipikal namja yang tertutup. Aku mau berteman dengan siapa saja yang mau berteman denganku. Hanya saja, aku tinggal di pusat kota dimana semua orang lebih senang bermain dengan gadget mereka daripada bermain atau bercanda atau sekedar mengobrol bersama dengan teman mereka.

Hyungku kini juga sibuk dengan jabatannya sebagai manajer marketing di perusahaan appa. Dia hanya punya waktu selama 1 jam di rumah, sisanya dia habiskan di kantor untuk meeting dengan klien dan yang lainnya. Selama 1 jam di rumah itu, dia menghabiskan waktunya bersamaku, membuat lagu di ruang musik rumah kami.

Aku sudah tiba di café tempatku bekerja. Aku mengganti pakaianku menjadi pakaian yang biasanya aku gunakan untuk manggung di sini. Oh ya, aku bekerja dengan partner musikku di sini. Namanya adalah Min Yoongi. Dia yang selalu bermain piano untukku. Dia sangat terampil.

“Hyung, sudah datang eoh?” tanyaku.

“Eoh, cepat ganti bajumu. Nanti bos marah pada kita kalau kita tidak segera bersiap” perintahnya.

“Arraseo. Ah ya hyung, kau pernah bilang padaku bahwa kau memiliki adik perempuan ne?” tanyaku sambil mengganti bajuku.

“Ne, Min Ji Eun namanya. Tapi aku tidak berniat mengenalkannya padamu” kata hyung satu itu yang masih sibuk dengan tatapannya ke ponsel di tangannya.

“Waeyo hyung?” tanyaku lagi.

“Dia sudah memiliki tambatan hati” jawabnya.

“Nugu?” tanyaku yang kini sudah selesai bersiap – siap.

“Kim Taehyung namanya” jawabnya lagi.

DEGG..

‘Perasaan apa ini? Aku seperti pernah mendengar namanya’ batinku.

Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba berfikiran positif.

‘Tidak – tidak, itu bukan dia. Bukan Kim Taehyung yang itu pasti. Bukan dia’ batinku lagi.

Aku mulai frustasi mendengar nama itu. Sungguh sangat frustasi.

‘Bagaimana mungkin?’ batinku lagi.

 

TO BE CONTINUE…

Hello~ yuk silahkan di review untuk chapter kali ini. Kurang greget ya? Hahaha

Nanti pada chapter selanjutnya di jamin bakalan lebih greget deh!

Yuk sekarang berikan apresiasi kalian dulu lewat komentar atau like hehe~ kamsahamnida, reader-nim :*

17 responses to “Soul School Chapter 3

  1. Pingback: Soul School Chapter 10B | FFindo·

  2. Pingback: Soul School Chapter 11 – FFindo·

  3. Pingback: Soul School Chapter 12 – FFindo·

  4. Pingback: Soul School Chapter 13 – FFindo·

  5. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s