Our Marriage is… [Prologue] by Raditri Park

cover-our-marriage-is...-prologue.jpg.jpeg

Our Marriage is… [Prologue]
“Morning News”
by Raditri Park

Cast(s) :
♡Park Nira [OC] ♡Kim Jongin [EXO]
♡Other support cast (find it in next chapter)
Genre :
AU, Romance, Married Life, Angst, Sadness, Family, Friendship, Adult
Length :
Chaptered
Rating :
PG-17
Desclaimer : Plot is pure of my mind
Note : I never forced you to leave a comment, but you better know how to appreciate a work
Personal blog :  https://raditripark12.wordpress.com/

Bukan karena alasan perusahaan, pertemanan atau ikatan perjanjian apapun. Apalagi karena alasan sebuah ‘kecelakaan’. Bukan.

PROLOGUE

 

OMi prolog NiraHari ini Nira pulang cepat dari biasanya. Harusnya ia menjalani delapan mata kuliah sekaligus dan mengharuskannya pulang paling lambat jam 7 malam. Namun perubahan jadwal kuliah memang selalu tak terduga.

Dan pagi ini dari rumah pukul 9 pagi namun kembali pulang belum sampai pukul 11 siang.

OMi prolog

Tanpa disadarinya sebuah kaki panjang menjulur menghalangi jalannya melewati ruang tengah. Gadis itu terpaksa menoleh sesaat setelah menghela napas enggan. Ia masih ingat betul saat pagi tadi bersiap-siap berangkat kuliah, pria itu dengan nyaman bergelung dalam selimut tanpa bergerak sedikitpun meski berulang kali ia memukuli kakinya.

Tidak salah ia masih bertemu pria itu pagi ini. Ia tahu hari ini tidak ada jadwal kuliah untuk pria bermata kecil itu.

“Kenapa?” Nira melipat tangan, menatap jengah pria yang tampak tidak merasa mengganggu dirinya itu. Ia mendekap setoples kacang sambil menonton tv flat di depannya dan sesekali memasukkan kacang itu ke mulut, seolah tidak ada dirinya yang berdiri disana. Hal itu makin membuat Nira dongkol tertahan. Ingin marah tapi rasanya tidak berguna.

Belum juga menurunkan satu kakinya, Park Nira berniat memilih untuk bergeser melanjutkan langkah dan segera masuk ke kamar. Menghindari munculnya pertengkaran kecil. Tapi sebelum itu terjadi, suara pria itu mencegatnya otomatis. “Kau harus bersiap-siap.”

Nira berkerut tipis. Kalimat kurang jelas itu memaksanya mengurungkan niat, memilih diam menunggu pria itu melanjutkan kalimat ambigunya. Tanpa menoleh, mata Jongin bergerak ke arahnya, menatap intens dengan raut yang rawan diartikan. Tatapan pria itu untuknya mampu sedikitnya menggoyahkan detak jantungnya selama 3 detik. Dan itu selalu ia rasakan ketika tatapan mata kecil pria itu seolah mengajaknya bicara tanpa kata dengan aura memaksa. Seperti saat ini.

“Nanti malam Ayah dan Ibuku akan makan malam disini.”

“Oh, mereka sudah pulang?”

“Begitulah.”

“Tunggu–APA?!! NA-NANTI MALAM?!!!”

Untuk kali ini mungkin bisa disamakan saat gadis itu mendengar hari ini jam kuliahnya tetap berlanjut sedangkan ia sudah berada di rumah dan harus menempuh perjalanan ke kampus lagi. Seperti itu mungkin. Atau saat ia mendapat nilai terendah di ujiannya padahal ia sudah belajar mati-matian.

Seketika gadis itu heboh dan tidak tenang, langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di samping pria itu duduk dan bersiap menyerbunya dengan bermacam pertanyaan.

“Kapan orang tuamu menelepon? Siapa yang menelepon? Ayah atau Ibumu? Dalam acara apa mereka kemari? Katakan, Jongin… katakan kalau kau berbohong,” serbu Nira dengan tatapan menuntut.

“Barusan Ibuku menelepon. Mereka kemari hanya untuk makan malam. Apa kau ingin bilang orang tuaku tidak boleh kemari? Sedangkan aku tidak masalah jika Ibumu selalu kemari tiap pagi.”

“Bukan begitu maksudku,” lirih Nira pelan, mencoba menekan kesabaran. Ia hanya merasa kurang terbiasa bertemu dengan Ibu Jongin. Itu saja.

“Ibuku bilang ingin bicara denganmu. Dan katanya itu penting. Padahal kalau pagi ini kau belum pulang aku akan bilang untuk makan malam besok saja.”

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ia tidak tahu alasan kenapa ia tadi memilih pulang daripada pergi berbelanja seperti biasa saat pulang cepat dari kuliah.

Dan sekarang untuk menghindarpun rasanya mustahil. Dengan alasan apa ia tidak ingin bertemu orang tua Jongin. Bisa-bisa ia dianggap tidak menyukai orang tua Jongin. Bukan, bukan seperti itu maksudnya.

“Lalu?”

“Bukankah sudah kubilang?! Kau hanya perlu bersiap-siap.”

Nira merasakan perbedaan pada Jongin. Pria itu masih tidak mau menghentikan kegiatan tidak bermutunya yang cukup menyebalkan. Biasanya Jongin akan turut heboh jika orang tua mereka berkunjung mendadak tanpa alasan jelas. Dan ini kali kedua orang tua Jongin berkunjung ke rumah mereka, sebelum yang pertama sehari setelah resepsi pernikahan. Karena saat itu mereka tidak berada satu kamar, jadi mereka sama-sama heboh saat tahu orang tua Jongin berkunjung. Nira akan pusing tujuh keliling jika harus mengingat hari-hari merepotkan itu.

Apa saat ini Jongin sedang menyembunyikan sesuatu dari Nira?

“Lalu kau?” tanya Nira serius. Tapi Jongin bungkam dan semakin menikmati  kegiatannya, membuat Nira menggertakkan gigi kesal seraya mengepalkan tangan gemas. “Jongin, aku bertanya serius!” Sambil tangannya merebut toples kacang dari dekapan Jongin.

“Aku?!” Jongin akhirnya menoleh dengan kalimat retoriknya. “Dengar, kita sudah satu kamar jadi tidak perlu mengawatirkan soal itu, foto pernikahan kita sudah terpajang jelas di ruang tamu, ruang tengah, ruang keluarga, tembok sepanjang tangga, kamar kita bahkan aku baru saja memasang di ruang makan foto saat kau berperilaku tidak tahu malu di sesi pemotretan pre-wedding kita. Apa aku juga perlu memasang di kamar mandi?”

“CK!” Nira mendecih, bersungut menahan kesal.

“Aku hanya perlu mandi, bersiap-siap lalu bertemu Ayah dan Ibuku. Kaupun juga begitu, jangan memakai kaos rumah,  kita akan makan malam dan kau akan bertemu dengan mertuamu, pakai dress yang kemarin kubelikan.”

“Tapi-“

“Kau mau bilang tidak suka warnanya? Tapi aku suka dan aku sudah memilihkannya untukmu, jadi tinggal pakai saja apa susahnya,” cerocos Jongin dengan nada memerintah hingga mulutnya membentuk pout unik, kebiasaan  saat ia sedang memerintah disertai nada rajukan.

Jika dipikir-pikir Nira mulai harus mengalah pada Jongin, gadis itu harus mengesampingkan kekeraskepalaan dan sifat kekanakkannya. Ia selalu dengan mudah melupakan bahwa statusnya sekarang sudah menikah. Mulai ada seseorang yang terkadang akan mengatur hidupnya.

Lagipula kali ini dia akan bertemu dengan Ibu Jongin. Sejak dua minggu yang lalu, ia tidak lagi bertemu dengan Ibu dan Ayah Jongin, mereka sibuk bertemu client di luar kota. Jadi, malam ini akan menjadi makan malam sekaligus pertemuan yang penting, selain kata Jongin Ibunya ingin berbicara dengannya tentunya.

“..baiklah,” desah Nira, akhirnya menuruti keinginan Jongin. Sebenarnya ia bukannya tidak suka pada warna dress pilihan Jongin  untuknya, tapi ia merasa kurang cocok dengan warna baby pink. Itu saja. Jadi, kali ini ia akan berusaha mengalah dari egonya untuk sementara.picsart_1448762463479.jpg

Dress yang Jongin pilihkan untuk Nira

tbc

 

 

Haiiiii~ *lambai anggun bareng Kai*
Raditri yg anti ff chapter sedang mencoba bikin ff chapter muohohhhoho. Kalo mengecewakan bilang aja, Raditri terima segala kritik saran apalagi support😀 ini baru prolog sih, belom keungkap semua.

Buat peringatan aja… ff ini bakal ada yg diprotect–eitss! bukan soal siders tapi rating cerita yg memuat konten adult mencapai nc!

Sekian~ terima Kai alias Jongin❤

See you on chap 1 :*

OMi prolog

22 responses to “Our Marriage is… [Prologue] by Raditri Park

  1. Pingback: Our Marriage is… [Chapter 1] by Raditri Park | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s