Soul School Chapter 9

audi ff

By Sparkdey

Poster made by marsyasara

Soul School Chapter 9

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Main Cast            :

Jeon Jungkook BTS || Kim Taehyung BTS || Mark Tuan GOT7 || Jung Krystal Fx || Kim Sujin (OC) || Min Ji Eun (OC)

Support Cast      :

 Jeon Wonwoo Seventeen || Kim Namjoon BTS || Park Jimin BTS || Oh Sehun EXO || Kim Seokjin BTS || Kim Seolhyun AOA || Min Yoongi BTS

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7A || Chapter 7B || Chapter 8 || Chapter 9 ||

Disclaimer : FF ini pure ide dari author sparkdey dengan beberapa bantuan dari teman – teman dan terinspirasi dari beberapa K-Drama. Dan hanya di posting di FFIndo dan blog pribadi author. Jika kalian menemukan cerita yang sama, mohon beritahukan kepada author. Terima kasih^^

NB : Jeongmal gomawo buat adik – adikku yang sudah membantuku memberikan inspirasi untuk membuat FF ini. Makasih buat Vicky dan juga Lizna :*{} saranghae~ || Jeongmal kamsahamnida untuk teman – teman ARMY, Luna dan juga Alma :*{} saranghae~ ide kalian dan saran kalian sangat membantu >.< || terdapat beberapa kata kasar, mohon maaf bila kurang berkenan. Lebih baik untuk tidak membaca kalimat itu atau skip FF ini.

Happy Reading!!~

Cerita sebelumnya…

BUGGHHH…

Sebuah pukulan mendarat di wajah Jimin. Darah segar pun mengalir dari sudut bibirnya.

“Sungguh, aku tidak melakukan apapun pada Chani!” Jimin masih tetap mengelak.

“Kau sudah membunuh Chaniku, Jimin-ssi!” teriak Chanyeol yang semakin emosi.

BUGGHH…

Sebuah pukulan kini mendarat di perut Jimin. Jimin meringis menahan sakit yang ada pada perut dan bibirnya ini. Jimin berusaha bangkit sambil memegangi perutnya. Namun Chanyeol sudah kembali menendang Jimin. Jimin pun kembali jatuh.

“Sungguh, bukan aku yang menyakitinya. Percayalah Hyung!” Jimin terus mengelak.

“Aku tidak akan pernah percaya pada seorang bajingan yang telah membunuh adikku!” Chanyeol kembali menghampiri Jimin.

BUGGHH… BUUGHH…

Dua pukulan tepat mengenai wajah Jimin. Saat ini hidung Jimin sudah mengeluarkan darah segar dan sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah segar. Jimin ingin sekali melawan Chanyeol yang ada di hadapannya ini, namun Jimin tidak bisa.

BUUGHH…

Kini Chanyeol jatuh tersungkur ke tanah akibat sebuah tendangan yang mengenai punggungnya. Pandangan Jimin sudah mulai kabur karena pelipisnya juga mengeluarkan darah. Yang dapat Jimin lihat hanyalah seseorang berjalan ke arahnya dan membantunya untuk berjalan. Setelah itu Jimin kehilangan kesadaran.

-Author POV-

Jimin mengerjapkan matanya dan mulai membukanya perlahan. Di samping Jimin sudah ada Namjoon, kepala sekolah. Dan Jimin sedang berada di dorm khusus para guru. Jimin memegangi perutnya yang masih terasa sakit itu.

“Bagaimana mungkin dia bisa menyerangmu?” Tanya Namjoon sambil menyerahkan secangkir teh kepada Jimin.

“Entahlah. Aku juga sedikit heran hyung. Bagaimana bisa dia menemukanku di sini?” Jimin menghela nafasnya.

“Mengapa kau tidak menyerangnya? Kau pandai bela diri, bukan?” Tanya Namjoon menatap Jimin heran.

“Ne hyung. Aku hanya tidak bisa menyerangnya. Ani, maksudku… aku tidak bisa karena jika aku berurusan dengannya lagi, bayangan Chani pasti akan menghentikanku dan aku tidak akan membiarkan Chani kembali ke kehidupanku. Aku ingin melupakannya, hyung” jelas Jimin.

“Arraseo. Aku tahu dirimu, Jimin-ah. Jangan kau memaksakan dirimu untuk melupakannya. Biarkan dia tenang di alam sana. Semakin kau memaksa untuk melupakannya, semakin kau akan terus mengingatnya. Biarkan seperti air mengalir” Namjoon menepuk pelan bahu Jimin.

“Beristirahatlah di sini. Dan minum obat itu, lukamu akan cepat sembuh” Namjoon beranjak dari posisinya saat ini lalu keluar dari ruangan itu.

‘Chani… biarkan aku hidup dengan tenang di sini tanpamu’ batin Jimin.

Jimin mengambil obat yang sudah disediakan oleh Namjoon dan meminumnya. Obat itu terasa pahit di lidah Jimin. Setelah meminum obat itu, Jimin beristirahat sebentar di dormnya sebelum kembali ke ruangannya.

Sehun kini sedang membantu Seolhyun dan juga Seokjin dalam mengawasi test akademik untuk kelima calon siswa Soul School. Sehun merasa ada sesuatu yang buruk terjadi pada Jimin, karena sudah 90 menit, Jimin belum juga kembali ke ruangan test akademik ini.

“Seokjin-ssi, aku keluar sebentar ne. aku ingin mencari Jimin” bisik Sehun pada Seokjin.

“Jangan lama eoh” jawab Seokjin.

Sehun keluar dari ruangan test akademik dan berjalan turun. Perasaan Sehun sungguh tidak enak, seperti sesuatu yang buruk sudah terjadi pada Jimin. Saat Sehun menuruni tangga, dia bertemu dengan Kepala Sekolah.

“Kim sajangnim!” panggil Sehun lalu berlari menghampiri Namjoon.

“Ne Sehun-sii?” jawab Namjoon.

“Apa anda melihat Jimin? Dia tidak datang ke ruangan test akademik” Tanya Sehun.

“Ah dia sedang beristirahat di dorm. Seseorang telah menyerangnya dan dia tidak mampu untuk melawan orang itu. Biarkan dia untuk beristirahat Sehun-ssi” jelas Namjoon.

“MWO?!” Sehun terkejut mendengar penjelasan Namjoon.

‘Dugaanku benar. Pasti orang yang kulihat tadi yang sudah melakukan hal buruk pada Jimin!’ batin Sehun.

“Apakah dia baik – baik saja, Kim Sajangnim?” Tanya Sehun lagi.

“Dia sudah kuberikan obat. Mungkin sekarang dia sedang tidur di dorm. Ah ne, tolong jangan beritahu pada Jimin bahwa Seolhyun seongsanim yang sudah menolongnya. Rahasiakan hal ini darinya” pinta Namjoon.

“Seolhyun seongsanim yang menolong Jimin?” Sehun merasa heran.

‘Jadi itu alasan Seolhyun datang terlambat ke dalam kelas dan penampilannya yang sedikit berantakan itu’ batin Sehun.

“Ne. Tolong rahasiakan ini, Sehun-ssi” ulang Namjoon.

“Ne Kim Sajangnim. Aku permisi dulu” Sehun membungkukkan badannya dan langsung berlari menuju dorm guru.

Sehun terus berlari hingga dia sampai di depan pintu kamar Jimin. Sehun mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada jawaban. Dia memutar kenop pintu kamar itu dan masuk ke kamar itu. Dilihatnya Jimin sedang tertidur di sana.

‘Jimin… wae? Kau tidak pernah bercerita apapun padaku. Kita ini teman, bukan?’ batin Sehun.

Jimin mengerjapkan matanya karena dia merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Jimin membalikkan badannya ke arah pintu. Dilihatnya Sehun sedang berjalan menuju tempat tidurnya. Jimin berusaha untuk duduk lalu dengan cepat Sehun membantu Jimin ke posisi duduk.

“Hey” sapa Sehun.

“Hey. Kau tidak membantu Seolhyun dan Seokjin eoh?” Tanya Jimin.

“Ani. Aku mencarimu” kata Sehun lalu duduk di hadapan Jimin.

“Wae? Kenapa bisa sampai seperti ini?” Tanya Sehun sambil mengamati Jimin.

“Gwenchanayo~ aku sudah merasa lebih baik sekarang” jawab Jimin.

“Tidak ingin berbagi cerita denganku?” tawar Sehun.

Jimin terdiam. Dia tidak bisa menceritakan hal ini ke siapapun kecuali Namjoon yang merupakan sahabatnya.

“Ahhh arraseo… mungkin lain kali kau bisa menceritakannya padaku” kata Sehun sambil tersenyum.

“Mian…” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Jimin.

“Hey! Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah apapun padaku. Kita teman, bukan?  Santai saja hahah” Sehun tertawa.

“Baiklah. Cepat sembuh! Aku tidak sanggup menjalankan test jika tidak ada kau bersamaku” kata Sehun lalu beranjak pergi meninggalkan Jimin.

 

-Mark POV-

Sepi. Hanya itu yang dapat aku rasakan. Berguling di kasur dan memainkan ponselku. Hanya itu yang dapat aku lakukan di sini selama beberapa hari belakangan ini.

Semua ini karena Taehyung! Karena dia telah merusak hari – hariku. Membuat hariku menjadi lebih kelam. Terakhir aku bertemu dengan Krystal…. Hanya ada tatapan kebencian yang terpancar dari matanya.

DRRTTT DRRTTT

Ponselku bergetar karena ada telfon masuk. Aku melihat layar ponselku. Appa. Dengan cepat aku mengangkat telfon dari appa.

“Yeoboseyo, aboeji?” sapaku.

“Mark-ah, bisakah kau ke kantor appa sekarang?” Tanya appa.

“Mwo? Ada apa aboeji?” tanyaku.

“Akan aku jelaskan di kantor. Cepatlah datang. Aku sudah menyuruh sekretaris Park menjemputmu di rumah” perintah appa.

“Ne aboeji” jawabku dan appa langsung menutup telfonnya.

Aku langsung bersiap – siap dan berganti pakaian. 5 menit aku bersiap – siap kini aku turun ke bawah dan menunggu sekretaris Park menjemputku. Kemeja putih dengan celana berwarna hitam serta jas berwarna hitam yang sedang aku kenakan saat ini akan membawaku ke kantor appa.

Tak berapa lama sekretaris Park sudah sampai di depan rumahku. Aku langsung keluar dan menghampiri sekretaris Park.

“Selamat siang, Tuan Muda” sapa sekretaris Park.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sekretaris Park membukakan pintu mobil dan aku langsung masuk ke dalam mobil itu.

30 menit perjalanan, kini aku sudah sampai di depan sebuah gedung  perkantoran yang tinggi bernama Tuan Corporation. Aku masuk ke dalam lobby dan semua karyawan membukukkan badannya ke arahku. Aku langsung naik lift dan memencet tombol lantai 10 dimana kantor appa berada.

TING…

Lift nya sudah berbunyi. Bertanda bahwa aku sudah sampai di lantai tujuanku. Lantai 10. Aku merapikan pakaianku lalu berjalan menuju ruangan appa. Aku mengetuk pintunya perlahan sampai appa mengizinkanku untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Aboeji” sapaku.

“Ah kau sudah datang. Duduk di sini” kata appa sambil menyuruhku duduk di sofa ruangannya itu.

Aku langsung duduk di sofa lebih tepatnya di depan appa.

“Ada apa aboeji? Ada sesuatu hal yang penting sepertinya eoh” tanyaku sambil menatap appa.

“Kau harus bersekolah di sekolah ini” kata appa sambil menyerahkan map berwarna coklat padaku.

“Soul School?” gumamku.

“Untuk apa appa? Aku tidak ingin sekolah di sekolah seperti ini” kataku yang langsung menaruh berkas sekolah itu di atas meja.

“Kau harus sekolah di sana, Mark-ah!” appa menatapku dengan tatapan penuh paksaan.

“Shireo” jawabku sambil memalingkan wajahku.

“Kau harus mau! Atau appa akan mengambil semua fasilitasmu dan kau kembali ke Los Angeles hari ini juga tanpa appa kasih uang sepeser pun” appa mengancamku.

Aku membulatkan mataku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh appa. Semua fasilitasku akan di tarik kembali oleh appa? Andwae!

“MWO?!” kataku tidak percaya.

“Baiklah sepertinya kau memang ingin kembali ke Los Angeles” kata appa lalu berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.

“Ahh ne ne aboeji. Aku akan sekolah di sana. Jangan tarik kembali semua fasilitasku” kataku dengan nada yang putus asa.

Appa tersenyum dengan penuh kemenangan. Dan aku? Aku hanya tersenyum dengan sangat terpaksa dan penuh keputus asaan. Akhirnya aku langsung mengambil map yang diberikan oleh appa dan kembali pulang ke rumah.

“Appa memanggilku ke kantornya hanya karena ingin memaksaku masuk ke sekolah itu? Aishh” kataku kesal selama menunggu lift.

“Itu semua Tuan Sajangnim lakukan karena beliau adalah pemegang saham terbesar di sekolah itu” kata seseorang di belakangku.

“Kau mengagetkanku sekretaris Park” kataku begitu menoleh ke arahnya.

 

-Jungkook POV-

Aku sedang berada di dalam ruangan yang dijaga ketat oleh Seolhyun seongsanim dan Seokjin seongsanim. Aku sedang mengerjakan test akademik bahasa. Dan yang tidak aku sangka, ini adalah test akademik Bahasa Inggris. Sungguh aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali tidak pintar dalam memahami Bahasa Inggris.

Aku melirik Taehyung, dia sedang mengerjakannya dengan fokus dan lembar jawabannya sudah terisi. Hampir semuanya terisi. Berbeda jauh denganku, lembar jawabanku masih dapat di hitung berapa yang baru aku kerjakan.

‘Oh Tuhan, mengapa aku harus bertemu dengan test seperti ini?’ batinku.

Dengan putus asa dan tidak menaruh harapan banyak pada test kali ini, aku mengisi lembar jawabanku dengan jawaban yang asal. Lalu aku menyerahkan lembar jawabanku pada Seokjin seongsanim dan keluar dari ruangan itu.

Selama menunggu jam yang sudah ditentukan oleh seongsanim untuk menjawab test akademik itu selesai, aku duduk di tangga dan memainkan ponselku. Aku bermain piano tiles yang memang sudah menjadi game favoritku. Hingga akhirnya seseorang duduk di sampingku.

“Kau masih suka dengan game itu eoh?” tanyanya di sampingku dan aku langsung menghentikan permainanku.

“Waeyo? Apa ini menjadi urusanmu, Taehyung-ah? Apa kau merasa terganggu jika aku menyukai game ini?” aku menjawabnya dengan nada yang ketus.

“Ani~ kau ini kenapa? Apa aku berbuat salah padamu eoh?” Tanya Taehyung.

“Aku masih belum puas menghajarmu kemarin. Aku meminta maaf padamu hanya karena itu perintah dari Wonwoo hyung dan aku menghargai perasaan Krystal yang masih peduli padamu” jawabku.

“Jika kau belum puas menghajarku. Kau boleh menghajarku sepuasmu. Aku akan merasa senang jika kau puas. Dan jika dengan menghajarku, kau bisa kembali seperti Jungkook yang dulu, aku pun rela” jelas Taehyung.

Aku tersenyum sinis pada Taehyung.

“Bullshit!” teriakku di depan wajah Taehyung.

“Apa kau fikir kita bisa kembali bersahabat seperti dulu? Jangan berharap, Taehyung-ah” aku berdiri dan berjalan menuruni tangga.

“Wae? Waeyo, Jungkook-ah? Kumohon jangan seperti ini” Taehyung membalikkan badanku.

“Lepaskan aku dan jangan coba – coba kau menyentuhku lagi!” aku menepis tangan Taehyung.

“Jelaskan padaku Jungkook-ah. Jelaskan bagaimana cara agar kita bisa bersahabat lagi seperti dulu?” Taehyung menatapku.

“Sudah kubilang, jangan berharap kita bisa kembali bersahabat! Aku sudah muak denganmu dan juga sikapmu itu!” aku terus berjalan menuruni tangga.

“Apa ini semua karena Krystal? Come on, aku sudah menjelaskan semuanya padanya, ini bukan salahku, ini adalah salah Mark!” Taehyung kembali membalikkan badanku menghadapnya.

Aku menatapnya dengan penuh emosi dan kebencian.

“SUDAH KUBILANG JANGAN MENYENTUHKU!” teriakku.

BUGGHH…

Aku memukul Taehyung tepat di wajahnya hingga sudut bibirnya kini mengeluarkan darah lagi. Aku langsung pergi meninggalkan Taehyung yang kini sedang memengangi bibirnya dan menghapus darah yang mengalir dari sana.

Aku benci melakukan hal ini. Bertengkar dengan Taehyung lebih tepatnya. Aku sangat benci padanya dengan apa yang telah dia lakukan pada Krystal, adik sepupuku. Aku mempercayainya untuk menjaga Krystal dan mencintai Krystal dengan tulus. Tapi apa yang telah dia perbuat? Dia menyakiti dan membuat kecewa pada Krystal.

Aku masuk ke kamarku dan merebahkan tubuhku di kasur. Aku mengambil ponselku dan mengirim pesan pada Wonwoo hyung.

To : Wonwoo Hyung

Hyung! Mianhae, aku memang tidak bisa memaafkan Taehyung…

 

-Ji Eun POV-

2 jam aku mengerjakan test akademik Bahasa Inggris dan sekarang aku sudah keluar dari ruangan yang begitu mencekam. Aku sudah dibuat pusing oleh berbagai pertanyaan dari bahasa asing itu. Aku sungguh tidak menguasai Bahasa Inggris. Melafalkannya saja sudah cukup susah bagiku.

Aku berjalan menuruni tangga dan aku melihat Taehyung sedang duduk di tangga yang sedang aku turuni ini. Aku pun berhenti tepat di sampingnya.

“Jangan melamun” sahutku tiba – tiba.

Dia menoleh ke arahku dan langsung tersenyum.

“Bagaimana test nya? Bisa mengerjakannya?” tanyanya.

“Hhhh” aku menghela nafas.

“Aku sungguh tidak mengerti apa yang tadi aku kerjakan. Bagaimana denganmu?” tanyaku.

“Aku? Cukup sulit” jawabnya.

Aku memperhatikan Taehyung sejenak. Ada yang tidak beres dengan Taehyung. Aku memperhatikannya sampai dia menoleh ke arahku.

“Waeyo? Kau melihatku dengan tatapan seperti ingin memakanku” canda Taehyung.

“Neo… terluka” kataku sambil menyentuh bibirnya yang terluka.

“Ah.. ini tidak apa – apa” jawabnya sambil memegang tanganku.

Jantungku langsung berdetak cepat tak karuan. Aku merasa pipiku saat ini pasti sudah memerah. Taehyung hanya memegang tanganku bukan menggenggamnya. Tapi mengapa aku merasakan seperti ini?

‘Omo… apa aku benar – benar jatuh cinta pada Taehyung?’ batinku.

“Taehyung-ah!!” teriak seseorang dari belakangku.

Dengan cepat aku menarik tanganku yang di pegang oleh Taehyung.

“Ital-ah” Taehyung menggumamkan namanya.

“Apa yang kau lakukan dengannya huh?” Tanya Krystal.

“Ah kami hanya mengobrol saja, Krystal-ssi” jawabku sambil tersenyum.

“Aku tidak bertanya padamu” jawabnya ketus padaku.

Tatapan Krystal seperti tatapan cemburu padaku. Taehyung langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Krystal lalu aku melihatnya mencubit kedua pipi Krystal.

“Apa Ital ku saat ini sedang cemburu denganku eoh?” Taehyung mencubit kedua pipi Krystal.

Aku merasakan hatiku nyeri saat melihat pemandangan itu. Aku seperti tidak suka melihat Taehyung bercengkrama dengan yeoja lain. Tapi aku dan Taehyung baru saling mengenal selama beberapa hari. Tidak mungkin secepat itu aku jatuh cinta padanya. Maldo andwae!

“Omo! Bibirmu berdarah Taehyung-ah! Apa kau bertengkar lagi dengan Jungkook?” Tanya Krystal.

‘Bertengkar dengan Jungkook?’ batinku.

“Ani~ aku tidak bertengkar dengannya” jawab Taehyung.

“Neo… aku tidak percaya denganmu, Taehyung-ah. Ikut denganku, akan aku obati. Aku membawa P3K di tas ku” ajak Krystal.

Krystal dan Taehyung berjalan beriringan. Pemandangan yang sungguh menyakitkan buatku.

“Kau menyukai adikku?” Tanya seseorang di belakangku.

“Sujin-ssi, kau mengagetkanku!” kataku sambil menyentuh dadaku karena terkejut.

“Mian… jadi benar kau menyukai adikku?” Tanya Sujin lagi.

Aku terkejut bagaimana dia bisa mengetahui tentang hal ini.

“Mwo? Ani~ hahaha” kataku sambil tertawa lalu berjalan menuruni tangga.

“Tidak usah mengelak. Aku dapat melihat itu, Ji Eun-ssi” kata Sujin sambil merangkulku.

“Hahaha… ani aku tidak menyukainya. Sungguh” kataku yang masih mengelak.

“Aku dapat melihatnya dari matamu” Sujin membuatku berfikir.

“Kau menyukainya kan?” Sujin terus menanyakan hal itu.

“Hahaha aniya, Sujin-ssi” jawabku sambil tertawa.

“Jika kau menyukainya, sebaiknya buang perasaanmu itu” jelas Sujin yang kini menatapku.

“Ne?” aku ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Sujin.

“Aku hanya ingin kau tidak sakit hati. Adikku itu sangat mencintai Krystal. Dia sudah menunggu Krystal selama 1 tahun ini karena Krystal pergi ke California dan sama sekali tidak memberikan kabar pada Taehyung. Dia pun bersikeras untuk tetap menunggu Krystal” jelasnya.

“Ahhh” kini aku mengerti.

“Jika kau menyukainya, buanglah perasaanmu itu, Ji Eun-ssi. Atau kau akan sakit hati jika terus melihat mereka bersama. Aku tau bagaimana Taehyung bersikap padamu. Begitu manis bukan?” Tanya Sujin.

“Ne. dia telah menolongku” jawabku.

“Aku tahu hal itu. Menolongmu di tengah derasnya hujan dan membawamu ke apartemennya lalu mengobatimu dan mengantarkanmu pulang pagi hari dan dia ikut sarapan bersama dengan keluargamu. Aku tahu itu, Ji Eun-ssi” jelas Sujin yang kini berjalan di depanku.

“Mwo? Bagaimana kau tahu semua itu?” Tanyaku sambil mengikutinya di belakang.

“Karena aku terus mengikuti Taehyung kemanapun pergi. Aku selalu menjaga jarakku dengan Taehyung. Aku ingin memastikan bahwa hari – hari yang dia lewati tanpa Krystal itu baik – baik saja” jelas Sujin.

“Aku sangat menyayangi Taehyung. Dan aku tahu bahwa sifat Taehyung yang seperti itu dapat membuat yeoja manapun jatuh cinta. Jika dia melakukan hal itu padaku, seperti dia melakukan hal itu padamu, aku pasti akan jatuh cinta padanya. Aku mengerti perasaanmu, Ji Eun-ssi. Aku memperingatkanmu dari sekarang, lebih baik kau membuang perasaanmu itu” lanjut Sujin.

Aku hanya dapat terdiam. Membuang perasaanku? Itu pasti sangatlah sulit! Terlebih lagi aku dan Taehyung satu sekolah. Akan semakin susah untuk membuang perasaan ini.

“Baiklah. Kamsahamnida Sujin-ssi” kataku sambil tersenyum.

Aku berjalan menuju dorm yeoja dan berhenti tepat di depan kamarku. Pintu kamarku tidak tertutup rapat sehingga aku bisa melihat dua orang di dalam sana. Taehyung dan Krystal. Aku memantapkan hatiku untuk baik – baik saja saat masuk ke kamar itu. Sesaat aku ingin memasuki kamarku. Aku melihat pemandangan yang sungguh membuat hatiku hancur.

Taehyung dan Krystal sedang berciuman di kamar kami. Ya, mereka berciuman. Berciuman.

 

-Krystal POV-

Aku sedang di kamarku di Soul School. Aku sedang menginap 7 hari di sekolah ini untuk menjalankan beberapa test di sekolah ini agar dapat menjadi siswa di sekolah ini.

Aku melihat Taehyung sedang bercengkrama dengan seorang yeoja yang bernama Min Ji Eun. Dan aku melihat Ji Eun menyentuh bibir Taehyung dengan tangannya itu. Cemburu? Sudah pasti. Aku masih peduli pada Taehyung dan aku masih punya rasa sedikit pada Taehyung. Aku tidak ingin Taehyung menjadi milik yeoja lain. Egois? Memang.

Aku langsung membawa Taehyung ke dorm yeoja dan membawanya ke kamarku. Bibirnya terluka, sudah dapat aku pastikan dia berkelahi dengan Jungkook lagi. Dan aku sudah tau pasti apa alasan Jungkook memukul Taehyung.

Aku mengambil kotak P3K yang aku bawa dari rumah. Mengeluarkan cottonbud dan meneteskan betadine di atasnya. Aku mulai menempelkannya perlahan pada luka di sudut bibir Taehyung.

“Jadi kau cemburu padaku eoh?” Tanya Taehyung sambil menatapku dengan tatapan yang menurutku sangat menenangkan.

“Jangan banyak berbicara. Aku sedang mengobatimu” jawabku.

“Aaa~ jadi kau memang cemburu eoh” katanya dengan nada yang sangat senang.

Aku langsung menekan luka nya.

“Aw! Appo” teriaknya.

“Sudah kubilang diam. Masih ingin berbicara juga eoh?” tanyaku dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

Aku kembali mengobati luka di sudut bibir Taehyung. Dapat kurasakan bahwa Taehyung semakin mendekat padaku dan dia menatapku sambil tersenyum.

“Done! Cepet sembuh Taehyung-ah!” sahutku dengan ceria lalu membereskan kotak P3K ku dan memasukkannya ke dalam tas.

“Ital-ah, sungguh kau tak bisa menerimaku lagi? Tidak bisa memberikanku kesempatan kedua eoh?” tanyanya.

Kini tatapan Taehyung seperti menuntutku untuk memberikannya kesempatan lagi.

‘Oh Taehyung-ah, jangan berikan aku tatapan itu’ batinku.

“Jebal, Krystal-ah” dia menggenggam tanganku.

“Molla. Aku tidak bisa memberikan jawabannya sekarang” kataku.

“Baiklah. Aku akan menunggumu” Taehyung tersenyum dan aku juga ikut tersenyum.

Jarak kami semakin dekat. Taehyung mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Bogoshippo, Ital-ah” katanya.

Taehyung menciumku, tepat di bibirku. Aku merasa terkejut dengan perlakuannya yang tiba – tiba seperti ini. Namun aku juga merindukan masa – masa seperti ini. Ciumannya yang tidak menuntut dan hangat.

Aku memejamkan mataku dan membalas ciuman Taehyung.

“Nado bogoshippo, Taehyung-ah” kataku begitu kami selesai berciuman.

Taehyung langsung memelukku dengan erat. Benar – benar erat.

‘Oh Tuhan, aku merindukannya, aku merindukan sosok hangat Taehyung yang seperti ini’ batinku.

Kepada calon siswa Soul School, test akademik Bahasa Inggris sudah selesai. Kalian dipersilahkan untuk beristirahat selama 2 jam sebelum melanjutkan ke test yang selanjutnya. Pergunakan waktu istirahat kalian dengan sebaik mungkin.

Berita itu disiarkan melalui loudspeaker yang di pasang di koridor manapun. Aku dan calon siswa yang lain mendapatkan waktu istirahat 2 jam. Dan aku mulai merasa lelah saat ini.

“Aku kembali ke dorm ku dulu ne. gomapta Krystal-ah” Taehyung pergi meninggalkanku di kamarku.

Aku langsung merebahkan tubuhku di kasur dan memejamkan mataku. Sungguh lelah untuk hari ini. Aku mengambil ponselku dan memasang alarm di ponselku agar aku bangun tepat waktu.

‘Min Ji Eun… yeoja itu. Sepertinya nama itu tidak asing bagiku’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo bagaimana chapter 9 nya? Semoga makin seru dan makin penasaran yaa~

Jangan lupa tinggalin jejak kalian berupa like atau komentar ya >.< apapun itu akan author terima kok hehehe~

Oke, see you on next chapter guys!

Kamsahamnida reader-nim *bow*

8 responses to “Soul School Chapter 9

  1. annyeong ~~~
    wih, baru sempet baca lagi kekeke
    ga bisa bahasa inggris, piano tiles, tipikal Jungkook ><
    suka sama ceritanya, salut kamu bisa bikin ff dari banyak POV gitu, aku mah udah nyerah haha
    Fighting!!

  2. Pingback: Soul School Chapter 10A | FFindo·

  3. Pingback: Soul School Chapter 10B | FFindo·

  4. Pingback: Soul School Chapter 11 – FFindo·

  5. Pingback: Soul School Chapter 12 – FFindo·

  6. Pingback: Soul School Chapter 13 – FFindo·

  7. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s