[Chaptered] Knock – Chapter 1

knock

poster credits to Ravenclaw | @artfantasy1st

Title : Knock

Author : Atatakai-chan

Length : Chaptered

Genre : AU, Dark!Romance

Rating : T

Starring :
1. KNK YOUJIN as Kim Youjin
2. OC as Oh Heemin
3. KNK HEEJUN as Oh Heejun

“Heemin-ah! Cepat sedikit!”

Oh Heemin menggerutu ketika saudara kembarnya, Oh Heejun, kembali memanggil untuk kesekian kalinya. Dengan langkah yang semakin lama semakin melebar, Heemin berusaha menyejajarkan dirinya dengan sang kembaran yang berjarak tiga langkah di depan.

“Heejun! Jangan jalan terlalu cepat! Berat tahu!” Akhirnya gadis berambut sebahu itu berani mengeluarkan suara beserta keluhannya.

Berasal dari Busan, kedua saudara ini memutuskan untuk menuntut ilmu di Seoul. Lima hari lagi sampai perkuliahan mereka dimulai dan keduanya baru memindahkan barang-barang mereka ke dalam apartment yang akan mereka tinggali sampai mereka lulus S1.

Tuhkan, kataku juga apa. Lebih baik kita memakai jasa kurir angkut barang.”

“Lho!? Bukannya kamu yang nolak ya?”

“Eh? Masa? Aku pikir kamu tidak akan mau karena harus membayar kurir angkut barang.”

“Jangan suka memutarbalikkan fakta deh, Oh Heejun!”

Dengusan Heemin dibalas Heejun dengan kekehan pelan. Heejun yang lahir satu menit lebih lambat dari Heemin memang suka sekali mengisengi kakak kembarnya itu. Mungkin lebih pantas kalau misalkan Heejun lahir lebih awal.

“Kardus-kardus ini yang terakhir ‘kan Jun?”

“Iya. Kardus-kardus ini yang terakhir. Kenapa? Sudah tidak sabar untuk membersihkan apartment ya?”

“Sembarangan! Kita bersihkan bersama-sama!”

“Tapi kan…”

“Tidak ada tapi! Kau sudah berjanji akan membersihkannya bersamaku!”

Siapa sangka suara kedua saudara itu cukup nyaring dan mungkin menarik perhatian beberapa penghuni apartment lain yang kebetulan sedang berada di lobby.

“Halo adik-adik.”

Secara bersamaan Heemin dan Heejun menyembulkan kepala mereka dari samping kardus yang menghalangi wajah mereka untuk melihat sang penyapa. Di hadapan mereka berdiri seorang ibu-ibu, umurnya mungkin sekitar 35 tahun.

“Halo ahjumma.” sahut Heemin dan Heejun kompak, tak lupa senyum manis mereka pamerkan pada ahjumma tersebut.

“Wah, kalian baru pindah hari ini ya? Kasihan sekali bolak-balik untuk membawa barang. Perlu bantuan?” Ahjumma baik hati itu tengah mengisyaratkan kepada beberapa orang yang ada di lobby untuk mendekat.

“Ah! Tidak perlu ahjumma! Kardus-kardus ini adalah yang terakhir ‘kok!” Heemin dengan cepat merespon, takut-takut sudah terlambat baginya untuk menolak.

“Oh? Begitu? Baiklah. Kalian masih muda ya, tenaganya masih kuat haha.”

Heemin dan Heejun pun ikut tertawa mengiyakan pernyataan sang ahjumma, walaupun di dalam hati keduanya berharap agar ahjumma itu berhenti mengajak mereka mengobrol karena mereka sudah pegal memegangi kardus yang tidak ringan itu.

“Perkenalkan ya, saya Kim Soohee. Saya tinggal di 301A.”

“Halo Kim ahjumma. Saya Oh Heejun dan dia Oh Heemin. Kami berasal dari Busan dan kami tinggal di 502B.”

Untuk sesaat raut wajah nyonya Kim berubah namun Heemin dan Heejun sama sekali tidak ambil pusing. Sebuah senyum yang sedikit dipaksakan kembali menghiasi wajah nyonya Kim. “O-oh begitu ya. Baiklah… Kalau kalian… er, butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan ya.”

Heejun dan Heemin mengucapkan terima kasih sebelum keduanya berlalu menuju ke apartment mereka dengan langkah lebar yang cepat –mereka sudah tidak tahan untuk meletakkan kardus yang mereka pegangi di lantai apartment.

 

.oOOo.

 

Untuk sekitar setengah jam keadaan ruang 502B sangatlah hening. Bukan berarti tidak ada suara, karena kedua saudara Oh itu bukanlah orang-orang yang pendiam, melainkan baik Heejun dan Heemin sedang sibuk menata barang-barang mereka agar sebagaimana mungkin memenuhi ruangan namun tetap rapi.

“Heemin-ah, lemari sepatu ini kita letakan di mana ya? Di sebelah kanan pintu masuk atau di sebelah kiri?”

Heemin memutar kedua bola matanya mendengar pertanyaan Heejun. Menurutnya tidak masalah diletakkan sebelah kiri maupun sebelah kanan, asalkan di dalam bukan di luar.

“Terserah kau saja, Heejun. Aku sedang sibuk.” Jawab Heemin namun perhatiannya tetap tertuju pada meja bundar kecil yang tengah ia seka dengan kain lap bermotif kotak-kotak.

“Baiklah kalau begitu. Di sebelah kiri saja ya? Aku ‘kan kidal.”

“Iya, iya terserah kau saja Jun, asal jangan taruh di luar, oke? Aku tidak mau kejadian 3 tahun lalu terulang.” Heemin menyahut singkat seraya berjalan ke arah dapur untuk mencuci lap yang baru saja ia gunakan untuk menyeka meja.

Seusai meletakkan lemari sepatu di sebelah kiri di belakang pintu, Heejun meraih gagang pintu. Sebelah kakinya sudah melangkah keluar, sementara kaki yang satunya masih berada di bagian dalam apartment.

“HEEMIN! AKU KELUAR MENCARI MAKAN SIANG DULU YA!”

Yang dipanggil namanya tak bisa tidak terlonjak karena alangkah dahsyatnya suara seorang Oh Heejun. Walaupun Heejun adalah seorang laki-laki tetapi tak dapat dipungkiri terkadang suaranya lebih melengking dibanding suara seorang perempuan.

“Kau tidak perlu teriak seperti itu Heejun!” Menghela napas, Heenim berjalan ke lorong pintu masuk untuk mengantar kepergian sang adik kembarnya.

“Maaf, maaf, habis kupikir suaraku tak akan terdengar olehmu,” dengan pandainya Heejun ngeles. Tetapi memang sih kediaman mereka di Busan sangatlah luas sehingga butuh suara yang keras untuk memanggil orang yang tidak berada di ruangan yang sama.

Sepasang anak kembar itu berjalan menuju lift yang berada di tengah-tengah lantai lima. Posisi lift menghadap ke arah apartment yang mereka tinggali –502B dan apartment 502A.

‘TING!’

Pintu lift terbuka dan segera saja Heejun masuk ke dalam, “kau mau makan apa?”

“Apa saja. Kalau bisa tolong sekalian beli sayuran di minimarket ya!”

“Baiklah, baiklah…” Heejun menghela napas, ia tidak pernah menyukai yang namanya sayuran.

“… Kalau ingat ya!” Seusai berujar, Heejun langsung menekan tombol untuk menutup pintu lift. Tawanya tergelak ketika tampang marah Heemin sekilas terlihat sebelum pintu lift tertutup.

Kedua mata Heemin melebar, ia rasanya ingin mengoceh namun apa daya pintu lift sudah terttutup. Tidak lucu kalau ia harus menyusul Heejun dan mengomelinya. Ia tidak pernah habis pikir mengapa kembarannya itu sangat tidak suka sayur. Well, sebenarnya sih ia juga tidak terlalu menyukai sayur namun hanya sayur-sayur tertentu.

Bisa dikatakan kalau Heemin adalah anak mama, setiap perkataan eommanya ia percayai, termasuk “kau harus rajin makan sayur supaya kau sehat dan semakin cantik.”

Sambil menggerutu pelan Heemin berbalik arah, hendak kembali menuju ke ruang apartmentnya namun begitu ia membalikkan badan pandangannya tertuju ke arah apartment 502A yang pintunya terbuka.

‘Eh?’ batin Heemin.

‘Bukankah tadi pintunya tertutup ya?’

Dengan amat perlahan Heemin berjalan semakin dekat pada apartment 502A, berlawanan arah dari apartment tempatnya tinggal. Tangan kanannya menyentuh gagang pintu 502A, secara perlahan ia mengintip ke dalam dari celah pintu yang terbuka.

Keadaan di apartment 502A sangat ganjil di mata Heemin. Keadaannya cukup gelap, hanya diterangi oleh cahaya yang berasal dari TV. Kedua matanya kini mencoba menelaah keadaan apartment tetangganya. Ia tahu apa yang ia lakukan sangatlah tidak sopan namun ia tidak bisa berhenti begitu saja, rasa penasaran menyelimuti dirinya.

‘Apa penghuninya baru saja keluar? Tapi kemana? Di gedung ini ‘kan lift hanya ada satu.’

Heemin berhenti menelaah keadaan apartment 502A, kini ia menolah ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari apakah ada jalan lain untuk turun selain dari lift. Namun nihil. Ujung kiri dan ujung kanan lantai adalah jalan buntu. Tangga darurat berada persis di samping lift. Pupuslah sudah dugaannya mengenai penghuni 502A yang baru saja keluar.

Kini kedua matanya kembali menelaah ruangan 502A namun belum sampai dua detik ia tersentak kaget. Dari dalam, dari celah pintu yang terbuka tampak sepasang mata yang menyerang langsung ke arahnya. Heemin melepaskan pegangan pintu 502A dan langsung berlari menuju ke apartmentnya.

 

.oOOo.

 

Jantung Heemin yang terus berdebar semakin kencang dan tidak karuan membuat perempuan itu mulai berkeringat. Sementara ia sedang mencoba menenangkan dirinya pintu apartment 502A mulai tertutup, menimbulkan suara ‘BLAM!’ yang cukup keras.

 

|

|

|

 

“Siapa itu?”

“Bukan siapa-siapa…”

“…”

“Hanya tetangga baru, mungkin. Seorang perempuan berambut coklat.”

“Bisa menjadi teman baru?”

“… Mungkin.”

 

~TBC~

author’s note:

Halo! Sudah lama tidak berjumpa😀
Kali ini saya membawakan fanfic buatan saya yang terbaru featuring oppa yang lagi
saya gilai haha
Setelah hiatus sekian lama dari dunia perfanfic-an akhirnya saya kembali
dengan fanfic bertema dark!romance
Semoga kalian semua suka ^^
Jangan lupa berikan komentar kalian mengenai fanfic ini ya
Terima kasih❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s