Louse Up Weddingㅡ2nd. Meeting

louseupwedding-by-peniadts

Louse Up Wedding

a fiction by dulefghijkl (01100100)

[OC] Ji Yeonju [EXO] Oh Sehun

AU, Romance, Slight!Marriage Life, FamilyPG-15Chaptered [2/?]

Awesome cover by peniadsts@CafePoster

A/N. This fanfic officially mine. Officially by my adult imagination and especially for this section is inspired by My Boyfriend’s Wedding Dress (a novel by Kim Eun Jeong).

“Aku kan sudah bilang. Lagipula bukankah masih ada pernikahan kelima? Atau bahkan keenam, ketujuh, bahkan kedelapan…”

2nd. Meeting

Yeonju menyilangkan kedua kakinya dengan anggun. Matanya menatap santai sosok Luhan yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan—antara marah, kesal, benci dan—rindu. Yeonju kemudian menyesap pelan ekspresso yang baru saja diantarkan oleh pelayan sesaat setelah mereka sampai diCafe depan gedung tempat agency tempat gadis itu bernaung.

“Bertemu denganmu digedung…ini kebetulan atau—“

“Kebetulan yang sungguh tidak kuharapkan.”

Yeonju membungkam mulutnya saat itu juga. Sungguh, ia sangat membenci situasi seperti ini—ketika ia berada dalam lingkup penuh kesalahan—menurutnya ia merasa dirinya seperti seorang tersangka yang tengah dipojokkan secara tak langsung oleh korbannya pada sebuah sidang penjatuhan vonis yang sangat berat. Oh baiklah, sepertinya ia terlalu berlebihan akan hal yang satu itu.

Yeonju kemudian melirik pelan Luhan dengan ekor matanya. Ah tidak, ia bukanlah gadis yang suka melirik orang secara diam-diam terbukti kini gadis itu malah menatap Luhan secara terang-terangan.

“Apa rencanamu setelah ini?” Luhan menatap Yeonju dingin.

“Rencana apa?”

Yeonju semakin menatap Luhan dalam. Bukan hanya itu, kini mata coklatnya mulai menelusuri wajah tampan milik Luhan yang hanya dapat dilihatnya dari jarak beberapa puluh senti ini.

“Tentu saja untuk menikah lagi.”

Yeonju menatap lelaki dihadapannya itu dengan tak percaya. Ia tak pernah mengira jika lelaki dengan paras rupawan bagaikan pangeran dinegeri dongeng yang penuh tanpa dosa—Yeonju beranggapan jika wajah Luhan itu bak bayi yang baru lahir, suci dan masih sangat amat mulia—namun sepertinya ia harus menarik pemikirannya tersebut. Nyatanya Luhan baru saja melontarkan kalimat yang begitu cukup membuat mulutnya sedikit terbuka.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

 “Kupikir kau sudah memikirkan lelaki mana lagi yang akan kau jadikan korbanmu selanjutnya. Atau… biar kutebak.” Luhan melirik Yeonju sekilas dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat. “Tak ada lelaki yang mendekatimu lagi, setelah hubungan kita usai?”

Yeonju semakin melebarkan matanya. Tak hanya itu, kini ia mulai menatap tajam—amat sangat—Luhan yang hanya duduk acuh dihadapannya. Tangan kecilnyapun sudah sukses mengepal. Namun sepertinya Luhan tak mengetahui itu mengingat gadis itu menyembunyikan kepalan tangannya dibalik clutchbag berwarna silver miliknya.

Luhan memalingkan wajahnya kearah Yeonju yang sekarang tengah membungkam mulutnya dan hanya menatapnya tajam, sudut bibirnya pun terangkat kembali. “Tebakanku benar?” tatapannya berubah menjadi sarat akan kemenangan.

“Tck,” Yeonju berdecak, kemudian menarik sudut bibirnya untuk membuat sebuah senyum simpul. “Aku belum mengatakannya padamu, ya?”

Luhan menaikkan sebelah alisnya.

Yeonju masih terus menampakkan senyum simpulnya seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru loby kantor agencynya itu. Setelahnya, senyum gadis itu kini kian melebar. “Ahh, dia sudah datang.”

Yeonju kemudian beranjak dari duduknya lalu menghampiri seorang lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih susu yang baru saja menapakan kakinya keluar dari lift.

“Kau sudah datang, sayang.” Yeonju mencium pipi kiri lelaki tersebut dengan mesra seraya melirik sinis kearah Luhan dan tak menyadari jika lelaki yang ia cium pipinya kini telah membelalakkan matanya kaget.

Yeonju segera menjauhkan bibirnya kemudian menarik lengan lelaki tersebut tak kalah mesra dan menuntunnya menuju tempat Luhan yang kini menatapnya dengan tatapan…marah.

“Kenalkan ini calon suamiku yang baru, Luhan.” Yeonju menatap Luhan penuh kemenangan dan dibalas oleh Luhan dengan kebisuannya. “Dan… biar kutegaskan. Tak ada hubungan apapun diantara kita.”

Luhan lantas berdiri dari kursi yang ia duduki kemudian menatap lelaki dihadapannya dengan datar lalu mengalihkan tatapannya pada Yeonju sekaligus merubahnya menjadi tatapan sinis. “Kau menang, Yeonju-ah.”

Ia lantas segera melangkahkan kakinya dengan acuh, seakan tak peduli apa yang baru saja disaksikannya.

Yeonju yang megetahui perubahan Luhan lantas menatap kepergian lelaki itu dengan seringaian penuh kemenangan. Iapun menghembuskan nafasnya lega.

“Mmm, nona…”

Yeonju tersadar akan dirinya yang sekarang tengah berdiri mengapit lengan seorang lelaki yang  bahkan tidak ia kenal. Dengan segera ia melepaskan pegannya pada lengan lelaki itu. dan dengan perasaan canggung yang menerpanya tiba-tiba, ia kemudian menolehkan kepalanya pada lelaki itu.

“Ahh, tuan…”

“Terima kasih.”

Setelah mengatakan itu lelaki tersebut lantas meninggalkan Yeonju yang tengah menatapnya dengan mulut yang sedikit terbuka. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Namun setelahnya ia segera merubah ekspresinya seperti biasa.

“Lelaki aneh, bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu? Hmm.“

Yeonju mengangkat bahunya acuh kemudian mengambil tasnya dan mulai melangkahkan kakinya dengan anggun pergi keluar gedung menuju sebuah Cafe diseberang gedung agencynya itu.

***

“…”

“Yah, kau sudah liat bukan aku langsung kesini setelah Ketua Kim memintaku tadi.”

 “…”

“Eoh, aku sudah menemui pihaknya. Ia bilang kita hanya tinggal menemui manager dan juga sang model. Dan… omong-omong dimana kau?”

“…”

“Apa? Kau ingin mati ditanganku, Kim Jongin?”

“…”

“Ku tunggu kau lima belas menit lagi, jika kau tak datang kesini sekarang juga—habis kau.”

Sehun menutup sambungan teleponnya dengan sepihak, ia kemudian melemparkan ponselnya dengan acuh lalu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru Cafe yang baru saja ia datangi itu.

Seorang pelayan datang tepat setelah Sehun memanggilnya. Pelayan tersebut menggenggam sebuah note kecil serta pulpen saat menanyakan menu apa yang ingin dipesan oleh lelaki berkulit putih susu itu.

Americano dan Cheesecake.”

Sang pelayan nampak diam sesaat kemudian menatap Sehun dengan heran.

Mengetahui hal itu Sehun segera menatap pelayan didepannya dengan datar. “Ada yang salah?”

“Ahh tidak tuan,” dengan segera pelaayan tersebut mencatat apa yang dipesan Sehun, setelahnya ia tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. “pesanan anda akan segera diantar. Terima kasih.”

Sang pelayan segera melangkahkan kakinya menjauh dari meja setelah mendapat panggilan dari pengunjung Cafe yang lain.

Sehun merasakan ponselnya yang tergeletak dimeja bergetar, ia kemudian mengambilnnya lalu menghembuskan nafasnya kasar saat melihat nama ibunya lah yang tepampang dilayar ponselnya itu. Namun ketika hendak mendekatkan benda tipis persegi panjang itu ketelinganya, sorot matanya menunjukkan jika lelaki itu baru saja dibuat tertarik oleh sesuatu.

“Gadis itu…tck.”

Sorot tajam matanya terus saja menatap gerak-gerik seorang gadis yang baru saja masuk kedalam Cafe dan langsung mendudukkan dirinya pada meja nomor 9 yang sebelumnya telah ditempati oleh seorang wanita berambut sebahu yang sepertinya merupakan teman dari gadis itu. Keduanya kemudian terlibat dalam sebuah pembicaraan.

“Kukira kau sudah pergi.”

Sehun segera mengalihkan pandangannya pada Jongin yang baru saja datang dan langsung mendudukkan dirinya tepat didepan Sehun yang tenga menatapnya datar.

“Oh ayolah, bukankah ini belum lima belas menit?”

Baru saja Sehun hendak membuka mulutnya seorang pelayan datang membawakan nampan berisi Americano dan Cheesecake pesanannya. Setelah pelayan tersebut pergi ia lantas kembali menatap Jongin.

“Kau mengenal gadis itu?” Sehun mengangkat dagunya menunjuk gadis yang tadi ia perhatikan.

Jongin mengikuti arah pandangan Sehun kemudian menatap sahabatnya itu santai. “Dia yang akan menjadi partner kerjamu, Sehun-ah.” Jongin mengambil Americano milik Sehun lalu menyesapnya sedikit. “Yakk! Kenapa kau sangat menyukai minuman pahit ini?”

Sehun tak menghiraukan komentar Jongin yang selalu mencemooh minuman kesukaannya itu. Namun lelaki itu kini malah menatap rekan kerja sekaligus sahabat karibnya itu dengan tatapan ‘kau yakin?

Seolah mengerti apa yang dimaksud Sehun melalui tatapannya, Jongin lantas menganggukkan kepalanya yakin. “Emm, dialah si gadis pernikahan gagal itu.”

Sehun kembali menatap gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ji Yeonju—si gadis pernikahan gagal—dengan tatapan menelisik.

“Ahh iya, tadi ahjumma menghubungiku. Ia bilang agar kau mengangkat telepon darinya.”

Sehun terkesiap, benar. Bukankah tadi sang ibu meneleponnya? Dengan segera Sehun menkan speed dial angka 1 lalu mendekatkan ponselnya itu pada telinganya.

Yeoboseyo? Nde eomma,”

Jongin melirik Sehun sekilas kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia ingin sahabatnya itu agar merasa privasinya tak terganggu dengan membiarkannya melanjutkan percakapan melalui telepon itu tanpa ia dengarkan. Sebenarnya Sehun tak pernah mempermasalahkan hal itu, terlebih orang yang menjadi lawan bicaranya itu sang ibu yang memang sudah mengenal Jongin dengan baik. Hal itu memang bukan rahasia, mengingat keduanya telah bersahabat selama sepuluh tahun.

Jongin tak mengalihkan pandangannya kesembarang tempat, melainkan kearah Yeonju yang tengah berbincang dengan seoarng wanita yang lelaki itu ketahui sebagai Manager sang gadis pernikahan gagal.

Jongin mengalihakn pandangannya kearah Sehun yang baru saja menghembuskan nafasnya berat. “Ada apa?”

“Ibuku.”

Jongin memutar bola matanya jengah. “Yah, aku tahu itu ibumu. Tap ada apa?”

“Petanyaanmu saat dilift tadi masih berlaku?”

Jongin mengangkat sebelah alisnya heran, namun tak berapa lama iapun menatap Sehun dengan penuh minat. “Tentu saja! Kau masih berhutang jawaban padaku.”

Sehun kembali menghembuskan nafasnya kasar. “Orangtuaku memintaku agar segera menikah.”

Jongin memiringkan kepalanya. “Bukankah itu memang sudah sering? Ini sudah beberapa kalinya aku mendengarmu mengatakan itu…”

“Yang ini berbeda. Appaku, sepertinya ia serius dengan ancamannya kali ini.”

Mwo? Membuang seluruh kameramu? Atau menyita seluruh fasilitas yang ia berikan padamu?”

“Lebih dari itu. Ia akan mengirimku ke perusahaan cabang diAmerika…”

“Beliau pasti memberikanmu waktu kan?”

Sehun mengangguk kemudian menatap Jongin tanpa minat. “Ia memintaku untuk membawa calon istriku kepada mereka tepat saat dihari ulang tahunku yang ke tiga puluh.”

Jongin membelalakkan matanya. “Bukankah itu tepat dua minggu dari sekarang?”

Sehun kembali menganggukkan kepalanya.

Tadi, tujuan sang ibu menghubunginya ternyata untuk mengingatkan hal itu dan mengatakan jika kali ini sang ayah benar-benar akan melakukan apa yang telah ia katakan. Memang benar, kedua orangtuanya bukan kali ini saja memintanya agar segera menikah mengingat umur lelaki berkulit putih susu itu tak lagi terbilang muda. Dan selama ini pula Sehun selalu menganggap hal itu hanya teguran biasa. Namun puncaknya ialah dua minggu lalu, bahkan perkataan sang ayah pun masih tengiang jelas dikepalanya.

“Kenalkan calon istrimu pada kami bulan depan. Jika tidak…” Tuan Oh mulai beranjak dari duduknya lalu menatap Sehun dengan dingin.

“Tinggalkan pekerjaanmu sebagai fotografer itu. Dan aku akan mengirimmu keperusahaan cabang yang ada diAmerika.”

Jongin menatap sahabatnya itu dengan iba. Sebenarnya Sehun bukanlah tipe lelaki yang menyerah pada keadaan. Namun, jika telah menyangkut masalah yang berdampak pada pekerjaan yang amat ia cintai—photography—apalagi hal itu juga menyangkut hubungannya dnegan kedua orangtuanya ia akan seperti ini. Mungkin Jongin akan beranggapan, lengkap sudah masalahmu itu.

Tanpa disangka Jongin kemudian menatap Sehun yang tengah menatap kesembarang arah dengan gusar dan Yeonju yang tengah berbincang dengan managernya secara bergantian, setelahnya sebuah senyum simpul penuh arti menghiasi wajahnya.

***

Yeonju baru saja meginjakkan kakinya memasuki rumah ketika suara gaduh menyambutnya dan menyuguhkan aksi pelemparan benda-benda yang ia ketahui berasal dari dapur yang dilakukan oleh sang ibu terhadap adiknya.

Ryuju berlari kearahnya dengan raut wajah takut dan segera menembunyikan diri dibalik tubuh tinggi semampai Yeonju. Melihat itu Yeonju menoleh kebelakang kearah sang adik dengan penasaran.

“Yakk! Ada apa?”

Tanpa disangka sang ibu muncul dengan sebuah spatula ditangannya dengan raut wajah yang terlihat sangat marah. Ia terus mencoba menggapai Ryuju yang masih saja setia menjadikan Yeonju sebagai tameng.

Eomma, ada apa ini?”

“Jangan halangi anak sialan ini Yeonju-ah!”

“Katakan padaku apa yang terjadi? Jangan seperti ini!” Yeonju berteriak tepat didepan sang ibu kemudian menjauhkan tubuhnya dari sang adik.

Nyonya Ji menghembuskan nafasnya kasar lalu menatap kedua anak gadisnya itu secara bergantian. “Eomma lelah mengurusi kalian berdua!” dengan nafasnya yang masih menderu, ia kemudian meninggalkan kedua anaknya tersebut pergi dan menghilang dibalik dapur.

Yeonju mengalihkan pandangannya kearah Ryuju dan menatap sang adik dengan tajam. “Katakan padaku apa yang terjadi Ji Ryuju!”

Ryuju menatap Yeonju dengan ragu kemudian mengajak sang kakak menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya dikamar milik Ryuju, Yeonju dihadapkan pada bekantung-kantung totebag yang ia ketahui isinya bermacam-macam dan baru saja dibeli oleh sang adik.

Yeonju kemudian menatap Ryuju yang seakan berkata ‘apa ini?’

“Aku menggunakan kartu kredit hingga limit untuk membeli ini semua…”

“Apa?” Yeonju melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap sang adik dengan tak percaya.

“dan orang bank baru saja datang memberikan tagihan dan langsung dibayar oleh eomma.”

“Apa yang kau lakukan Ryuju-ah? Pantas saja eomma marah padamu!”

“Iya aku tahu.”

“Tahu apa kau?”

“Aku tahu aku salah, eonnie.”

“Jika kau tahu kenapa tetap kau lakukan?”

Yeonju berteriak tepat didepan wajah Ryuju yang menyebabkan gadis dihadapannya itu menatapnya tak suka.

“Jika aku salah, lalu eonnie apa?”

“Apa maksudmu?”

Eonnie sudah menggagalkan pernikahan eonnie hingga empat kali! Bukankah itu tindakan yang salah? Ahh tidak, itu bahkan sudah terlampau salah!”

Yeonju menatap sang adik dengan marah, terlihat jelas oleh kilatan yang muncul pada mata coklat gadis itu. Yeonju hendak membuka mulutnya namun segera ia urungkan kemudian menatap sang adik dengan dingin. “Turunlah, dan minta maaf pada eomma.”

Yeonju mulai membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya keluar. “Jika tidak aku akan memutus semua fasilitasmu.” Iapun segera keluar dari kamar itu dan meninggalkan sang adik yang kini menatapnya kesal.

Yeonju segera masuk kedalam kamar miliknya yang memang berada tepat disamping kamar milik Ryuju. Gadis itu segera menutup pintu kamarnya rapat. Ia kemudian melepas sepatu hak tingginya dan melemparnya kesembarang tempat tak lama setelahnya tas tangannya pun turut ia perlakukan sama. Setelahnya Yeonju melemparkan tubuhnya kasar keranjang berukuran queen miliknya.

Matanya terpejam, raut wajahnya menampakkan kelelahan yang amat mendalam. Nafasnya pelan tek terdengar. Yeonju merasakan tubuhnya sperti melayang tak terasa. Ucapan sang ibu yang baru beberapa menit sukses membuatnya meringis memikirkannya.

“Eomma lelah mengurusi kalian berdua!”

Tak pernah terlintas sedikitpun diotaknya untuk menyakiti perasaan kedua orangtuanya terlebih sang ibu. Mengenai pernikahannya yang gagal hingga empat kali iapun tak dapat menjelaskannya, karena memang jujur dirinya sendiripun tak mengerti hal tersebut dapat terjadi.

Yang ia tahu adalah sesosok lelaki yang berhasil mencuri hatinya yang kemudian pergi dan tak akan pernah dapat kembali sukses membuat Yeonju masih mengharapkannya hingga sekarang. Namun Yeonju sadar akan hal itu, bahkan ia amat sangat sadar dan tak ingin menyalahkan lelaki itu sebagai penyebab semua ini. Dan, entahlah untuk alasan apa ia masih menunggu lelaki itu.

You’re my only one way…
ojing neoreul wonhae naega
ni gyeoute isseume kamsahae

Yeonju mendapati ponselnya berdering didalam tas tangannya yang beberapa menit lalu ia lempar. Tanpa memperdulikannya iapun tetap memejamkan matanya dan mencoba untuk menenangkan dirinya.

Namun hal tersebut tak berlangsung lama, terbukti kini gadis itu telah bangun dari posisinya dan segera meraih tasnya kemudian merogohkan tangannya mencari ponselnya yang dilapisi dengan case berbentuk coklat yang membuat benda persegi panjang itu nampak persis mirip coklat yang menggiurkan.

You’re my only one babe…
himdeun sesang soge sarangeralke
haejun—

Yeoboseyo?” Yeonju menjawab teleponnya tanpa niat.

Malam ini kau ada waktukan?” Terdengar suara sang manager—Hanli—diseberang sambungan.

“Emm.”

Kalau begitu aku akan menjemputmu tepat jam tujuh.”

“Aku tak bisa.”

Kau ingin jatuh miskin, eoh?” Suara Hanli terdengar skartis menanggapi tolakkan Yeonju.

“Memangnya untuk apa?”

Menemui pihak K+ Magazine untuk membicarakan perihal dirimu yang akan menjadi model Emerald Wu..”

“Kenapa malam hari?”

Hh, akupun tidak tahu. Pihak ketua redaksi majalah baru saja menghubungiku dan mengatakan pihak mereka akan menemui kita malam ini. Barulah lusa kita akan menemui sang designer.”

Yeonju menghembuskan nafasnya kasar. “Kenapa tak sekalian lusa saja?”

Sungguh aku ingin menjambak rambutmu, Ji Yeonju!”

“Kau punya banyak kesempatan untuk itu, Hanli-ya.”

Aku tak menerima apapun setelah ini. Tepat pukul tujuh aku akan tiba dirumahmu.”

Flip.

Yeonju merasakan sambungannya diputus secara sepihak kemudian mengedihkan bahunya acuh. Ia melirik jam digital dinakas yang berada tepat disampig tempat tidurnya. Pukul lima, hh.

“Baiklah, aku masih punya waktu dua jam sebelum Hanli datang…” Yeonju merentangkan kedua tangannya kemudian kembali membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya hingga akhirnya tertidur lelap.

***

“Kau yakin kita menemuinya disini?” Sehun menatap Jongin ragu.

Jongin terus mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru Cafe berharap dapat menemui apa yang sedang mereka tunggu. “Ketua Kim yang memberitahuku.”

“Kau yakin jam tujuh malam ini?” Sehun kembali menatap Jongin kali ini dnegan sedikit meringis.

Jongin mengalihkan pandangannya kearah Sehun kemudian memutar kedua bola matanya jengah. “Tentu saja. Kau hubungi saja Ketua Kim jika tak percaya!”

“Bukan begitu, maksudku… pertemuan relasi bisnis mustahil dilakukan malam hari terlebih disebuah cafe seperti ini…” Sehun tak yakin dnegan ini, pasalnya kini jam diergelangan tangan kanannya telah menunjukkan pukul delapan kurang beberapa menit.

“Akupun berpikir seperti itu. Ketua Kim seperti merencanakan sebuah kencan jika seperti ini. Tapi omong-omong gaya bicaramu sudah seperti seorang pebisnis yah, sekarang?” Jongin menaikan sebelah sudut bibirnya dan membentuk sebuah seriangain.

Sehun menatap sahabatnya itu jengah. “Jangan coba menyindirku seperti itu.”

“Haha, baiklah. Eoh, itu mereka!”

Sehun mengikuti arah pandangan Jongin yang tengah menunjuk kearah dua orang wanita yang terlihat bingung menatap sekeliling cafe. Dengan segera Jongin mengangkat tangannya bermaksud memberi tanda jika orang yang akan ditemui kedua wanita itu adalah mereka—Jongin dan Sehun.

Sehun segera menundukkan kepalanya saat kedua wanita tersbut mulai berjalan mendekati meja tempat dirinya dan Jongin.

“Maaf atas keterlambatan ini.” Wanita dengan rambut sebahu meminta maaf atas nama keduanya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

“Ahh tidak apa-apa, nona.”

“Baiklah, kalau begitu perkenalkan saya Nam Hanli manager nona Ji. Dan seperti yang anda lihat disamping saya ini adalah artis saya, Ji Yeonju.”

Jongin kemudian berdiri dan menganggukkan kepalanya. “Saya Kim Jongin kordinator lapangan untuk project ini. dan ini… Oh Sehun, fotografer yang kan bekerja sama langsung dengan nona Ji Yeonju.”

Jongin segera mengulurkan tangannya pada Hanli dan Yeonju bergantian yang disambut kedua wanita itu dengan ramah.

Sehun segera berdiri kemudian mengangkat wajahnya. “Annyeong haseyo. Saya Oh Sehun, senang bertemu dengan anda…”

Apa? Yeonju menatap Sehun dengan mata yang terbelalak. Sementara lelaki itu kini malah menatapnya dengan senyum miring disudut bibirnya. Sehun kemudian menyalami tangan Hanli lalu Yeonju.

Setelahnya, keduanya kemudian segera mendudukkan diri mereka sesaat setelah Jongin mempersilahkan keduanya.

Yeonju tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Sehun, membuatnya hanya bungkam selama pertemuan itu berlangsung. Tak jarang pandangan keduanya saling bertemu dan membuat Yeonju langsung mengalihkannya kearah lain dan menyisakan Sehun dengan senyum miringnya.

***

Hari ini laman berita Korea Selatan sibuk memberitakan mengenai kedatangan designer tekenal asal Hongkong yang baru saja menggelar acara fashion show dengan sukses diNew York Amerika Serikat. Sebenarnya kedatangan wanita berusia tiga puluh empat tahun itu sudah sejak seminggu yang lalu namun puncak beritanya ialah hari ini, karena ia akan menggelar sebuah konferensi pers mengenai rancangan terbarunya juga perihal pemakaian model untuk rancangannya itu yang membuat publik penasaran.

“Tolong dibuat tipis saja.”

Yeonju mengatakannya dengan sopan juga ramah pada seorang wanita yang tengah memoles make-up pada wajah mulusnya.

“Ahh iya.”

Hanli berjalan menghampirinya dengan senyum mengembang menghiasi wajah putihnya. Rambut sebahu milik wanita itu bergoyang dengan cantik. “Kau siap?” Katanya setelah wanita perias artisnya pergi meninggalkan mereka berdua.

“Yaa.. seperti yang kau lihat.”

Yeonju mulai bangkit dari kursi yang ia duduki kemudian berdiri didepan cermin dan mematut dirinya pada benda datar tersebut. Ditatap dirinya yang hari ini mengenakan sebuah gaun selutut bertali spagetti yang melingkar dilehernya berwarna peach, dengan rambut yang digerai dan dibuat curly serta wajahnya yang hanya dihias make-up tipis membuatnya tampak terlihat manis, dan jangan lupakan sepatu hak setinggi lima senti yang tak membuatnya menjulang tinggi smampai namun tetap memberikan kesan anggun padanya.

“Akankah aku bisa?” Yeonju menatap Hanli melalui cermin dihadapannya.

“Ada apa denganmu?”

“Bukankah ini kali pertama aku muncul didepan publik lagi setelah peristiwa penggagalan pernikahanku beberapa waktu lalu itu?”

“Kemana Yeonju yang kukenal?” Hanli tersenyum manis kemudian menghampiri Yeonju dan mengelus bahu gadis itu dengan lembut. “Aku yakin, kau lebih dari bisa…”

Yeonju menatap manager sekaligus sahabatnya itu dengan haru kemudian memeluknya. “Terima kasih.”

Acara konferensi pers pun dimulai dan orang yang menjadi pusat media telah mucul, kini ia telah hadir didepan puluhan pasang mata dengan kamera yang siap untuk menangkap siluet dirinya. Emerald Wu sang designer yang tengah naik daun itu mengumbar senyumnya kepada semua orang didalam ruang tempat berlangsungnya acara tersebut.

Ia kemudian membuka acara tersebut dengan sambutan serta ucapan terima kasih atas semua orang yang berkenan hadir. Setelahnya ia kemudian menyampaikan maksud digelarnya acara pers tersebut.

“Seperti yang sudah diberitakan oleh berbagai media sejak beberapa hari lalu mengenai rancangan terbaru milik saya…memang benar jika saya berencana untuk mempublikasikan rancangan tersebut beberapa waktu mendatang serta bekerja sama dengan salah satu perusahaan majalah ternama dinegara ini.”

Beberapa wartawan mulai melontarkan petanyaannya pada sang designer, sementara kameramen mereka sibuk mengambil foto wanita tersebut.

“Perusahaan majalah mana yang akan bekerja sama dengan anda?”

“Apakah itu majalah ternama?”

“Apakah anda tidak ragu bekerja sama dengan majalah tersebut?”

Emerald Wu kembali menyunggingkan senyumnya, kemudian  menjawab pertanyaan yang sekiranya perlu ia jawab. “K+ Magazine.”

“Lalu apa benar anda akan mnggunakan model dari negara ini?”

“Ya, siapakah model yang beruntung tersebut?”

“Apakah ia model terkenal?”

“Apakah ia sorang Kim Taehee? Atau Jun Jihyun?”

“Atau mungkin ia seorang pendatang baru?”

“Kalian mengetahui bahkan sangat mengenalnya…” Emerald Wu mengedarkan pandangannya keseluruh pencari berita dihadapannya.

“Bisa anda katakan siapa dia?”

“Ya, tentu saja.” Wanita itu menarik nafasnya pelan dan berdiam sejenak. Kemudian menatap mantap semua orang dihadapannya. “Kalau begitu biar saya persilahkan, nona Ji Yeonju mohon untuk menemani saya disini.”

Seluruh isi ruanganpun ramai sesaat setelah sang designer menggumamkan sebuah nama yang beberapa waktu lalu kembali menjadi perbincangan hangat dimedia akibat scandal yang sama yang sebelumnya pernah ia buat.

Yeonju memasuki ruang pers dengan senyum ramah nan manis menghiasi wajahnya. Ia lantas membungkukkan tubuhnya kemudian berjalan mendekati Emerald Wu yang menyambutnya dengan senyum ramah.

Beberapa orang nampak sibuk mengambil gambarnya namun tak sedikit pula yang berbisik melihat dirinya hadir. Yeonju mencoba untuk menutup telinganya dari bisikan-bisikan tersebut. Baginya kini yang penting adalah berlaku sebaik mungkin selama acara tersebut berlangsung.

Berbagai pertanyaan mulai dilontarkan para wartawan kepada Yeonju sesaat setelah gadis itu berdiri tepat disamping Emerald Wu. Yeonju menyapukan pandangannya keseluruh pasang mata yang hadir.

***

“Kau mau kemana?”

“Aku harus ketoilet.”

“Baiklah, jangan terlalu lama. Kau harus membicarakan mengenai project itu dengan Emerald Wu juga pihak majalah.”

Yeonju menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalakan Hanli menuju toilet yang berjarak beberapa meter dari tempatnya kini berada. Ya, acara konferensi pers yang berlangsung disalah satu ruang digedung khusus pers diSeoul usai telah berjalan dengan lancar sesuai dengan harapannya. Dan sesaat setelah cara tersebut selesai ia berikut dengan Emerald Wu juga beberapa orang terkait project tersebut—termasuk perwakilan pihak majalah—segera pergi menuju kantor agency gadis itu.

Yeonju segera membasuh wajahnya setelah memasuki toilet. Ia memandang pantulan wajahnya dicermin kemudian menyentuh kedua ujung sudut lekukan bibirnya dengan kedua jari telunjuknya yang menghasilkan sebuah senyuman.

Ya, inilah yang selalu ia lakukan sesaat setelah berhasil menjalani apapun. Baginya ini sepertii bentuk perayaan atas apa yang telah berhasil ia capai. Entahlah, melihat gadis itu berbuat seperti itu rasanya tak cocok dilakukan oleh ia yang telah berusia hampir kepala tiga. Namun Yeonju? Ia mengedihkan bahunya acuh ketika mendapatii seorang wanita didalam toilet yang melihatnya melakukan itu dengan tatapan ‘apa yang ia lakukan? Orang aneh’.

Yeonju kemudian melangkahkan kakinya keluar toilet untuk kembali menemui Hanli. Namun baru beberapa ia meninggalkan toilet, sebuah tangan kekar berhasil meraih pergelangan tangannya kemudian menarik gadis itu menjauh dari toilet.

“Yak! Siapa kau?”

Yeonju sedikit berteriak terhadap seseorang yang menarik tangannya secara paksa yang ternyata merupakan seorang lelaki bertubuh tinggi. Gadis itu berusaha melepaskan cengkraman pada pergelangan tangannya.

Lelaki yang ia teriaki itupun sedikit menolehkan wajahnya kebelakang—kearah Yeonju. “Ini aku.”

“Kau…” Yeonju menatap tak percaya lelaki itu. “Apa yang kau lakukan?” lanjutnya.

“Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa?”

“Aku tak bisa mengatakannya disini.”

“Bukankah kita harus menemui  Emerald Wu untuk membicarakan perihal project yang akan kau dan aku jalani?”

“Itu akan dilakukan setelah semua pihak hadir. Sementara aku dan kau belum hadir, tentu hal tersebut tidak akan dimulai.”

“Apa maksudmu? Lepaskan tanganmu!” Yeonju terus menghempaskan tangannya berharap cengkraman lelaki yang tengah berjalan membelakanginya itu terlepas.

“Bisa kau diam?”

“Apa? Hei, bagaimana bisa aku diam sementara seorang lelaki yang bahkan baru kukenal menarik tanganku secara paksa? Menurutmu apa yang harus kulakukan?”

“Diam.”

“Apa?”

Lelaki itu diam tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Yeonju. Ia terus membawa gadis itu menyusuri koridor gedung agencynya.

Yeonju menatap kesal kearahnya. “Lepaskan tanganmu itu, atau aku akan teriak.”

Lelaki itu menatap Yeonju sekilas. Kemudian tetap melanjutkan langkahnya.

Kesabaran Yeonju telah habis. Gadis itu kemudian mendapati jika mereka berdua hampir mencapai loby kantor agencynya. “Tolong! Lelaki ini ingin berbuat sesuatu padaku!” Yeonju mulai berteriak, dan hal tersebut sukses membuat beberapa orang yang berada diloby menoleh kearah mereka.

“Apa yang kau lakukan?” lelaki itu menoleh tak percaya padanya.

Yeonju membalasnya dengan seringaian disudut bibirnya. “Tolong! Lelaki i—“

Yeonju membelalakkan matanya ketika sebuah benda lembut berhasil membungkam mulutnya. Ya, lelaki dihadapannya kini tengah menempelkan bibirnya tepat pada bibir merah cerry milik Yeonju.

Orang yang berada disekitar merekapun turut menyaksikan hal tersebut. Mereka menatap keduanya dengan berbagai pandangan, ada yang menatapnya dengan tak suka, kesal, namun ada juga yang menatap mereka dengan senyum seraya berbisik-bisik.

“Oh Sehun!”

“Ji Yeonju!”

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

– to be continued –

Finally, akhirnya selesai juga~^^ maapkeun atas kelanjutan yang amat lama ini, sejujurnya aku lupa kalo punya ff dan belum dilanjut, parahnya lagi ff ini baru aku post chap awal, myane myane reades/-\

always tidak lupa aku ucapkan terimakasih sebanyakbanyak bangetnya untuk readers yang sudah mau membaca fanfic apalah banget ini ToT

Dan..maafkan jika chapter kedua ini begitu tidak memuaskan U,U karena nyatanya aing teh meuni amateur writter–

And the last, but no least… please, always leave your comment and riview guys ;)) karena satu komentarmu sangat berarti bagi kelangsungan hidup fanfic ini~ seeya♥bhay.

2 responses to “Louse Up Weddingㅡ2nd. Meeting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s