Tulus

received_1745023485730425

Tulus

|| Jung Hoseok / J-Hope BTS • Im Jooyeon (OC) • Min Yoongi / Suga BTS • Yoon Hyunjung (OC) || Angst • Romance • A Little Bit of Comedy || PG-15 || Oneshoot ||

***

 

“Apa?”

Hyunjung bereaksi berlebihan dan menimbulkan sentilan ringan di kening dari Yoongi, lelaki yang duduk di hadapannya, berdampingan dengan lelaki lain bernama Jung Hoseok, seseorang yang membuatnya memberikan respon berlebihan tadi.

“Jooyeon eonni, kau bilang? Apa tidak ada perempuan lain? Kenapa harus si ja–“

“Hyunjung!” Potong Yoongi. Mulut kurang ajar tanpa rem itu tak boleh menyakiti hati Hoseok dan membuatnya patah semangat. Perjuangannya belum lama dimulai, dan belum waktunya untuk berhenti.

“Sejak kapan kau menyukainya?” Yoongi mengambil alih pertanyaannya, tentu saja jauh lebih sopan dan dapat diterima. Sebenarnya perkataan Hyunjung yang dipotong Yoongi tadi tidak akan menyakiti hati Hoseok. Bertahun-tahun menjadi sahabat, lelaki itu sudah kebal dengan mulut pedas gadis itu.

“Entahlah. Sejak pertama bertemu?” Hoseok ragu dengan jawabannya sendiri. “Pokoknya aku suka Jooyeon noona saja.”

Hyunjung berdecak. “Lihat! Lihat! Umurmu sudah dua tiga, Hoseok. Dua tiga. Polahmu masih seperti anak SMP yang baru kenal cinta saja,” sensinya. “Dulu saat kau suka Yuna tidak seperti ini.”

Tak!

“Yak!”

Yoongi menyentil kembali kening Hyunjung. “Jangan ingatkan dia pada perempuan tidak tahu diri itu!”

Hoseok tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Ia sudah masa bodoh dengan nama Yuna yang dulu sempat membuatnya sedikit depresi itu. Yuna sudah ia buang jauh-jauh dari hatinya, yang kini digantikan oleh sosok wanita tangguh bernama Im Jooyeon.

“Dia akan semakin bodoh kalau kau sentil begitu terus,” ejek Hoseok.

“Kau sama saja bodohnya, bakpao!”

“Sudah,” geram Yoongi. “Kita ke sini bukan untuk membicarakan itu.”

Mendengar itu, Hoseok sedikit bingung. Ada hal lain yang ingin dibicarakan kedua temannya ini padanya? Bukan sekedar kumpul makan siang biasa? “Ada yang ingin kalian bicarakan?”

“Tentang ulang tahunmu,” seloroh Yoongi dan Hoseok langsung mengerti maksudnya.

“Sudah kubilang tidak u–“

“Tidak ada penolakan,” potong Hyunjung seenaknya. “Pokoknya kau terima beres. Dua hari sebelum ulang tahunmu, undangannya kupastikan sudah bisa tersebar.”

“Pakai undangan?!”

“Itu ide Hyunjung.” Yoongi lepas tangan.

“Tidak ada protes!”

***

Setiap malam, Hoseok selalu setia duduk di kursi panjang di depan pagar rumahnya. Menunggu tetangga selang dua rumah dari rumahnya itu pulang. Biasanya, tetangga bernama Im Jooyeon itu akan sampai rumah paling cepat jam sembilan malam, dan itu tidak lebih dari lima menit.

Sudah menjadi kebiasaan Hoseok sejak dua bulan ke belakang untuk menunggu perempuan yang lima tahun lebih tua darinya itu. Bukan apa-apa, Hoseok hanya ingin memastikan sang pujaan hati itu telah sampai rumah dengan selamat. Sebab, sebelum Hoseok memiliki kebiasaan tersebut, Jooyeon pernah dihadang preman saat pulang bekerja. Untung saat itu Hoseok juga sedang dalam perjalanan pulang, jadi bisa menolongnya. Sejak saat itu Hoseok memulai kebiasaan itu karena Jooyeon menolak jika Hoseok menungguinya di halte. Takut ada omongan tidak enak jika ada tetangga yang melihat mereka pulang bersama.

“Noona!” Panggil Hoseok. Yang ditunggu sudah datang, baru muncul dari persimpangan ujung blok perumahan mereka. Tidak hanya memanggil, Hoseok juga menghampiri perempuan itu. Membantu membawa kantung belanjaan yang dibawanya walau Jooyeon sempat menolak. Kemudian mereka berjalan berdampingan menuju rumah Jooyeon. Tentu saja hanya sampai gerbangnya saja.

“Ini, noona.” Hoseok menyerahkan kembali kantung belanjaan Jooyeon.

“Hoseok.”

“Ya?”

“Bisa kau tidak menungguku pulang lagi mulai sekarang?” Pinta Jooyeon. “Tetangga banyak yang membicarakan kita.”

“Bukannya aku sudah bilang kalau aku tidak peduli, noona?”

“Tapi aku peduli. Biarkan aku hidup tenang di sini tanpa gunjingan orang lain. Kumohon.” Lalu Jooyeon membuka gerbang dan masuk ke rumahnya.

Hoseok masih berada di tempatnya. Belum mau beranjak. Memikirkan permintaan sederhana Jooyeon yang rasanya berat sekali untuk dituruti. Hoseok pikir, apa tindakannya selama ini merepotkan Jooyeon? Lagipula, kenapa tetangganya repot sekali menggunjing orang lain? Apa salah jika Jooyeon dekat dengannya? Mereka sama-sama sendiri tanpa pasangan?

Tapi bukan Hoseok jika menyerah begitu saja, apalagi soal perempuan. Hatinya jarang sekali mau ia berikan pada sembarang perempuan. Dan Hoseok adalah tipe orang yang mau berjuang, sesulit apapun itu. Jooyeon, tetangga mulut repot, mereka harus tahu sekeras kepala apa seorang Jung Hoseok. Tidak ada yang bisa memintanya menyerah kecuali dirinya sendiri.

***

Sambil mengelap meja kayu bundar di hadapannya, Hyunjung mengamati seorang perempuan yang tengah sibuk dibalik etalase, memasukkan berbagai kue yang akan dijual hari ini.

Kafe tempat Hyunjung bekerja paruh waktu adalah milik Im Jooyeon, perempuan di balik etalase itu, makanya ia cukup terkejut ketika Hoseok bilang menyukai Jooyeon. Ditambah Hoseok juga bilang kalau ternyata Jooyeon sudah menjadi tetangganya selama setahun terakhir sejak menikah dengan salah satu tetangganya, Kim Seokjin.

Ya. Im Jooyeon sudah menikah. Tapi, malangnya, suami Jooyeon, si Seokjin itu sudah meninggal karena kecelakaan lalu lintas bulan lalu. Makanya, Hyunjung heran pada sahabatnya sejak SMA itu, lepas dari bayang-bayang Yuna yang kurang ajar, malah terjerat pada perempuan bekas suami orang.

Pluk.

Sehelai kain lap putih tersampir ke wajah Hyunjung. Pelakunya tiada lain adalah Min Yoongi, sahabat, rekan kerja, sekaligus pacar Hyunjung. Jabatannya banyak sekali dalam hidup Hyunjung.

“Kenapa memperhatikan Jooyeon noona sampai seperti itu?”

Hyunjung menyingkirkan kain lap dari wajahnya dengan kesal dan melempar balik ke Yoongi. “Ingin tahu bagaimana bisa Hoseok menyukainya. Dulu Yuna, sekarang Jooyeon eonni. Kenapa selera Hoseok tidak ada yang beres?”

Yoongi yang duduk berseberangan dengan Hyunjung itu kini menopang dagu. “Seleraku lebih tidak beres karena menyukaimu.”

“Apa?!”

“Kalau kau masih terbayang statusnya, mau kau memperhatikan sampai matamu lepas sekalipun, kau takkan tahu bagaimana istimewanya Jooyeon noona di mata Hoseok,” kata Yoongi. Pandangan Hyunjung harus berubah. Apa pentingnya status Jooyeon yang pernah menikah sebelumnya, jika Hoseok tulus menyukainya?

“Lupakan statusnya, anggap itu tidak penting, dan coba perhatikan lagi. Kau akan tahu jika Jooyeon noona jauh lebih baik dari Yuna.”

“Begitukah?”

“Hei, kalian.” Jooyeon yang sudah selesai menata kue di etalase memanggil mereka berdua. “Kafe sebentar lagi buka, jangan pacaran saat bekerja.”

***

“Noona!”

Lima menit sebelum jam delapan, Hoseok datang ke kafe. Langsung menyapa Jooyeon noona tercinta yang hanya bisa menghela nafas melihat kehadirannya. Hoseok tidak mengindahkan permintaannya. Memang Hoseok tidak lagi menunggu dirinya di depan rumah, tapi malah mendatanginya ke kafe, tepat saat ia akan pulang. Hoseok memperkirakan waktunya dengan baik.

Jooyeon menyampirkan selempang tas ke bahunya. “Yoongi, bereskan pantry dapur sebelum tutup.”

Yang dipesani hanya mengangguk. Hari ini ada pesanan banyak kue dan kopi, jadi sore tadi Jooyeon membuat kue tambahan karena yang terpajang di etalase kurang, dan belum sempat membereskan dapurnya. Sudah biasa, Jooyeon akan pulang jam delapan dan memercayakan kafenya ke Yoongi untuk ditutup jam sepuluh.

“Dia gencar sekali mendekati Jooyeon eonni,” kata Hyunjung setelah Jooyeon dan Hoseok keluar dari kafe. Hyunjung sendiri heran, dulu saat mendekati Yuna, Hoseok tidak sampai menjemput seperti tadi.

“Hoseok yang pendekatan, kenapa kau yang risau?” Ketus Yoongi yang baru saja menutup rak uang yang menjadi bagian dari mesin kasir.

“Siapa yang risau?” Kilah Hyunjung.

“Entah. Setan mungkin.”

“Apa?!”

“Bersihkan dapur sana,” titah Yoongi. Sebagai manajer kafe kepercayaan Jooyeon, Yoongi selalu semena-mena memerintah Hyunjung untuk melakukan ini dan itu. Tapi hanya pada Hyunjung. Karena selain saat bekerja, sulit menemukan waktu yang tepat untuk mengerjai pacarnya itu.

“Kenapa jadi aku? Jooyeon eonni minta kau yang bersihkan,” protes Hyunjung.

“Dan aku minta kau yang bersihkan.”

“Menyebalkan. Awas kau saat pulang nanti!”

Selagi dua sejoli itu berdebat di kafe, dua sejoli lain yang kini berjalan berdampingan menuju halte terdekat masih dikuasai hening. Jooyeon fokus ke jalanan dan sebisa mungkin mengabaikan kehadiran pemuda di sampingnya, Hoseok sendiri bingung bagaimana memulai pembicaraan.

Sampai akhirnya Hoseok memberanikan diri bilang “noona” untuk menarik perhatian Jooyeon, namun tidak berhasil. Jooyeon tidak mengacuhkannya.

“Apa kau tidak nyaman denganku?” Dan pertanyaan itu berhasil membuat langkah Jooyeon berhenti. Hoseok memanfaatkan kesempatan dengan memasang tubuhnya di depan Jooyeon. Menghalangi perempuan itu untuk menghindarinya lagi.

“Apa kau tidak nyaman denganku?” Hoseok mengulangi pertanyaannya.

“Bukannya tidak nyaman, tapi tetangga ber–“

“Bukan tetangga dan omongan tidak pentingnya yang kumaksud,” potong Hoseok. “Aku, noona. Apa kau tidak nyaman denganku? Apa aku terlalu mengganggumu?”

Jooyeon tidak bisa menjawab. Hoseok memang tidak mengganggunya sama sekali, tapi jika mereka terus-terusan dekat, akan semakin banyak omongan tidak enak tentang mereka. Lebih dari itu, Jooyeon merasa seperti akan mengkhianati Seokjin. Padahal suaminya itu baru meninggal sekitar tiga bulan.

“Ternyata aku memang mengganggumu,” simpul Hoseok. “Kuharap ini tidak mengganggu noona, tapi aku akan mengatakannya sekarang. Aku menyukai noona.”

Jooyeon mengangkat kepalanya, menatap Hoseok. Lelaki itu terlihat meyakinkan dan tulus. Sama persis dengan saat Seokjin mengutarakan perasaannya dulu. Tidak, ini tidak benar. Hoseok tidak boleh menyukainya.

“Aku menyukai noona. Tidak peduli apa kata tetangga atau siapapun yang membicarakan status noona. Tapi jika perasaanku mengganggumu, noona bisa abaikan. Tapi aku tidak bisa janji jika perasaan itu akan hilang begitu saja. Mungkin tidak akan.” Hoseok terdengar sangat meyakinkan. “Pulanglah. Aku tidak akan mengganggu noona, tapi untuk malam ini saja.”

Kemudian Hoseok pergi, melewati Jooyeon dan mengarahkan langkahnya kembali ke kafe.

***

“Semua sudah beres. Kau tinggal datang dan bersenang-senang,” ujar Hyunjung melaporkan persiapan pesta ulang tahun Hoseok yang tinggal dua hari lagi. Walau Hoseok sudah bilang tidak usah, tapi siapa yang bisa menghalangi niat Hyunjung yang paling keras kepala di antara mereka bertiga. Terlebih tahun lalu Hoseok dan Yoongi sudah menyiapkan kejutan untuk ulang tahunnya dan itu sangat berkesan, maka sekarang Hyunjung ingin membalasnya. Bukan karena balas budi, biar seimbang atau apapun itu, Hyunjung hanya ingin Hoseok bahagia.

“Bukan pesta besar seperti yang kalian siapakan untukku tahun lalu, sih. Tapi kujamin kau akan suka. Tidak banyak orang yang kuundang, hanya orang-orang yang benar-benar mengenalmu, dekat denganmu, dan akan mendoakanmu dengan tulus. Bukan orang-orang yang datang hanya untuk numpang minum saja.”

“Dia sampai lembur dan memarahi pemilik kafe tempat pestamu akan diadakan sampai mereka sepakat dan apa yang akan disediakan sesuai keinginannya,” imbuh Yoongi.

Hyunjung memang turun tangan langsung dalam segala persiapan pesta ulang tahun Hoseok. Konsep, tempat, jumlaj undangan, semua dipikirkan dan diurusnya sendiri. Bahkan usulan Yoongi dengan lantang ditolak, usulan mengenai tempat pesta yang inginnya Yoongi di klub malam. Minta diomeli sehari semalam kalau mengusulkan tempat itu pada Hyunjung. Yoongi mengalaminya.

“Terima kasih,” ucap Hoseok. “Tapi aku takkan minta maaf kalau kalian repot. Aku tidak minta kaliam repot untuk pesta ulang tahunku.”

“Yang minta kau minta maaf juga siapa,” sergah Hyunjung. “Kau cukup datang dan bersenang-senang. Tidak memikirkan apapun yang membebanimu. Kalau nanti kau tidak bersenang-senang, aku akan minta ganti rugi sepuluh kali lipat,” tuntutnya.

“Iya, cerewet. Pacarmu, hyung. Mulutnya semakin blong saja remnya.”

“Aku menyerah mengatasinya,” timpal Yoongi.

“Satu lagi,” tambah Hyunjung. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Sebuah undangan. “Ini undangannya. Terserah mau kau berikan pada siapa.”

“Hanya satu?”

“Lainnya aku yang urus. Kecuali keluarga dan teman terdekat, undang siapapun yang kau mau. Jooyeon eonni juga tidak masalah. Kau pasti akan berkali-kali lipat lebih senang kalau dia datang.”

Mendengar nama Jooyeon disebut, Hoseok malah jadi kurang bersemangat. “Kurasa Jooyeon noona tidak akan datang.”

“Kenapa?”

“Sepertinya akan sulit untuk mendapatkannya. Penghalangnya banyak sekali. Cinta Jooyeon noona pada Seokjin hyung yang begitu besar, gunjingan orang-orang, restu dari banyak Ibu. Ibu Jooyeon noona, Ibu Seokjin hyung, dan Ibuku sendiri.”

“Dan kau menyerah?” Pancing Hyunjung. “Orang seperti Yuna saja dulu kau perjuangkan, sekarang Jooyeon eonni mau kau lepas begitu saja?”

“Bukannya kau juga tidak suka kalau aku menyukai Jooyeon noona?” Heran Hoseok.

“Dia sudah berubah.” Yoongi ikut-ikutan bicara.

“Siapa bilang aku tidak suka?” Hyunjung pura-pura lupa pada responnya dulu saat Hoseok bilang menyukai Jooyeon. Seperti kata Yoongi, lupakan status Jooyeon, dan perhatikan dengan seksama, kau akan tahu seperti apa pesonanya. Cantik, anggun, baik hati, punya senyuman manis yang terkesan sangat tulus. Bahkan Hyunjung yang perempuan saja mengakuinya.

“Berikan saja undangannya kalau kau mau dia datang. Mau datang atau tidak, itu urusannya. Kau tidak bisa memaksa,” saran Yoongi. “Kalau kau benar-benar tulus menyukainya, cepat atau lambat, Jooyeon noona akan menyadarinya.”

***

Berjalan dari halte menuju rumahnya, Hoseok menimang undangan di tangannya. Undangan yang rencananya akan diberikan pada Jooyeon. Hoseok memikirkan ulang apakah undangam itu akan benar-benar ia berikan pada Jooyeon. Mendadak Hoseok ragu.

Pikirannya dikuasai perkataan Yoongi saat makan siang tadi. “Jooyeon noona berpisah dengan suaminya bukan karena keinginannya sendiri, seperti bercerai. Tapi dipaksa berpisah oleh kematian. Anggap saja tidak ada gunjingan tetangga, Ibu kalian juga merestui, tapi kau akan tetap sulit untuk mendapatkannya. Jangankan menerima kehadiranmu, menerima kenyataan jika suaminya sudah meninggal saja belum tentu bisa.”

Dan setelah dipikir-pikir, Yoongi ada benarnya. Gunjingan tetangga yang selama ini Jooyeon permasalahkan hanya alasan saja untuk menutupi bagaimana dia masih belum bisa menerima kepergian Seokjin, tapi tidak sampai hati mengutarakannya pada Hoseok yang terang-terangan mengatakan suka padanya. Hoseok saja yang tidak peka dan dibutakan perasaan cinta serta kekeras kepalaannya sendiri.

Sampai di belokan ke blok rumahnya, perhatian Hoseok teralihkan oleh suara berisik yang berasal dari kantung plastik besar yang baru saja masuk ke dalam tempat sampah di depan sebuah rumah. Rumah milik Im Jooyeon.

“Noona.” Setelah memanggil, Hoseok cepat-cepat menghampiri perempuan itu sebelum ditinggal masuk.

“Kenapa buang sampah malam-malam? Biasanya pagi sebelum berangkat kerja.” Saking sukanya, Hoseok sampai hafal kebiasaan kecil Jooyeon.

“Kebetulan habis bersih-bersih, tanggung kalau besok. Ada apa?” Tanya Jooyeon to the point. Tidak mau berbicara terlalu lama dengan Hoseok untuk sementara waktu.

“Emm… aku ingin memberikan ini.” Hoseok menyerahkan undangannya pada Jooyeon. “Aku ulang tahun lusa. Datang, ya? Tidak memaksa, sih. Tapi aku sangat berharap noona mau datang.”

Jooyeon membaca undangannya sekilas. “Kuusahakan. Tapi tidak janji.”

Hoseok mendesah pelan. Pelan sekali. Tidak ada hak untuk protes. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Jooyeon. Hoseok tidak bisa memaksa.

“Terserah, noona. Kalau begitu, masuklah. Di luar dingin. Selamat malam.”

***

Pesta yang Hyunjung rancang untuk ulang tahun Hoseok terbilang sederhana. Diadakan di kafe berbeda dua blok dari kafe Jooyeon, mengundang hanya teman terdekat Hoseok saja –tanpa keluarga karena biasanya Hoseok punya perayaan lain dengan keluarga, dan sejauh ini setelah pesta berlangsung tiga puluh menit, semua berjalan dengan lancar.

“Sepertinya aku berbakat jadi event organizer,” puji Hyunjung untuk dirinya sendiri yang mengundang tawa pemilik pesta, Hoseok.

“Iya, iya. Kau berbakat. Terima kasih,” puji Hoseok. Berbeda dengan Yoongi yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan pacarnya. Terbentur apa kepalanya sampai cinta mati pada gadis sepertinya?

“Omong-omong, undangan kemarin kau berikan pada siapa? Jooyeon eonni?” Tanya Hyunjung ingin tahu.

Hoseok mengangguk. “Tapi sepertinya dia tidak akan datang.”

“Ya… urusan dia mau datang atau tidak. Yang penting kau sudah mengundangnya. Kalau tidak datang, yang rugi juga dia karena tidak bisa melihat pesta keren seperti ini. Jangan terlalu dipikirkan. Ingat janjimu, kau harus bersenang-senang malam ini. Kecuali kau punya uang dan bersedia bangkrut karena harus ganti rugi sepuluh kali lipat atas segala yang kusiapkan untuk pestamu.”

Hoseok tertawa lagi. Semakin hari, kadar kecerewetan Hyunjung semakin meningkat saja.

“Hoseok,” panggil Yoongi. “Lihat siapa yang datang.”

Kemudian bukan hanya Hoseok, Hyunjung pun mengikuti arah pandangan Yoongi ke pintu kafe. Di sana, ada seorang wanita anggun berbalut gaun sederhana yang cantik baru saja masuk ke dalam kafe. Wanita yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Hoseok. Im Jooyeon.

“Dia cantik sekali,” puji Hyunjung. “Pantas saja kau tergila-gila. Yuna kalah jauh darinya.”

“Akhirnya kau mengakui,” bangga Hoseok atas seleranya menjatuhkan hati.

“Hai,” sapa Jooyeon. “Maaf terlambat. Aku harus mengurus kafe lebih dulu. Ada dua karyawanku yang membolos hari ini.”

Merasa tersindir, Hyunjung hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Tidak berani protes.

“Tidak apa-apa. Yang penting noona sudah datang.”

“Hyun, ikut aku,” ajak Yoongi. Ia cukup sadar suasana dan tidak mau mengganggu suasana menyenangkan bagi sahabatnya. Tanpa peduli penolakan, Yoongi menarik Hyunjung menjauh dari Hoseok dan Jooyeon.

“Oh iya, selamat ulang tahun, Hoseok. Tidak kusangka kau suka pesta begini.”

Hoseok tersenyum malu. “Hyunjung yang mempersiapkan semuanya. Aku tidak bisa menolak.”

“Anak itu memang keras kepala. Sabar-sabar saja kau menghadapinya.”

“Aku sudah sangat sabar, noona. Harusnya kau berkata seperti itu untuk Yoongi hyung yang mau jadi pacarnya.”

Lalu Jooyeon tertawa. Berpikir geli ternyata ada benarnya juga. Yoongi pasti punya kesabaran super ekstra karena berpacaran dengan gadis secerewet Hyunjung.

“Emm…” Jooyeon bergumam setelah meredakan tawanya. “Aku datang untuk memberikan ini.” Diserahkannya kotak kado kecil yang langsung diterima Hoseok. “Itu dari Seokjin oppa.”

“Seokjin hyung?” Hoseok tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

“Aku menemukannya saat bersih-bersih kemarin di kotak yang menyimpan barang-barang yang ditemukan di lokasi kecelakaan. Kau tahu kan kalau Seokjin oppa pelupa? Dia menempelkan catatan bertuliskan ‘untuk Hoseok’ di kotak itu. Jadi…”

Hoseok tidak memperhatikan lagi kata demi kata yang Jooyeon katakan selanjutnya. Ia fokus pada wajah Jooyeon yang berubah sedih –walau tidak terlalu kentara– ketika membicarakan Seokjin. Yoongi benar, jangankan untuk menerima kehadirannya, menerima perasaannya, untuk menerima kepergian Seokjin pun masih sulit bagi Jooyeon.

“Terima kasih, noona,” kata Hoseok setelah Jooyeon menyelesaikan kalimatnya yang tidak diperhatikannya.

“Maaf kalau aku sendiri tidak memberikan hadiah untukmu.”

“Tidak apa-apa. Noona sudah mau datang, aku sudah senang.”

Yoongi juga menyarankan, dan hati Hoseok juga sepakat, jika dirinya belum mau menyerah pada perasaannya untuk Jooyeon, maka lakukanlah pelan-pelan. Karena cepat atau lambat, Jooyeon pasti akan menyadari ketulusan hati Hoseok. Dan Jooyeon pasti tahu, jika ketulusan tidak akan ada, jika cinta belum bersedia hadir.

FIN!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s