Our Marriage is… [Chapter 1] by Raditri Park

our-marriage-is...-chapter-1.jpg.jpeg

Our Marriage is… [Chapter 1]
“Met-Law”
by Raditri Park

Cast(s):
♡Park Nira[OC] ♡Kim Jongin[EXO]
♡Other support cast (find it in next chapter)
Genre:
AU, Romance, Drama, Married Life, Angst,Sadness, Family, Friendship, Adult
Length:
Chaptered
Rating:
PG-17
Desclaimer: Plot is pure of my mind
Note: I never forced you to leave a comment, but you better know how to appreciate a work
Maaf, mungkin ada sedikit yang kurang jelas soal inti cerita alasan pernikahan JongRa. Di cerita sebelumnya ga ada keterangan kalo pernikahan mereka tanpa perjodohan—eum, bukan perjodohan sih, cuman… (you can find out why below..and next chapter :p)
About this part is a bit boring… So, get ready for yourself. But, I know I had prepared a lot scane my most favorites. Btw, I love my own fanfic and or with many scane on it :3
Personal blog : https://raditripark12.wordpress.com/

Bukan karena alasan perusahaan, pertemanan atau ikatan perjanjian apapun. Apalagi karena alasan sebuah ‘kecelakaan’. bukan

Previous:
Prologue || Chapter 1

CHAPTER 1

Dinner JongRa with law.jpeg

“Darimana semua makanan itu?”

Jongin mengabaikan suara Nira di belakangnya, lebih memilih menyibukkan diri di dapur mereka. Ia memintanya pergi dari rumah sejak tadi pagi untuk ke salon atau entah kemana sedangkan dia di bagian menu makan malam. Tentu saja Jongin tidak akan membiarkan gadis yang tidak tahu apa-apa tentang dapur itu memasak untuk makan malam mereka. Tidak akan pernah.

“Jongin, kau tentu tidak memasaknya sendiri, kan?”

“Kau hanya perlu mengatakan ‘ya’. Ikuti saja permainanku.”

Nira mengerut bingung. “Jadi… makan malam ini hanya main-main begitu,” seloroh Nira dengan nada meremehkan.

“Ck!” Jongin berdecih kesal sebelum memutar tubuh, ingin menunjukkan wajah kesalnya. Setelah datang bukannya membantu, gadis itu malah mencela seenak jidatnya.

Tapi Jongin seketika menyesal telah menoleh, menyesal ingin mengetahui wajah Nira yang dengan mudah mencelanya. Karena sekarang ia bagaikan manusia durhaka yang dikutuk menjadi batu.

Ia pikir ia tidak tahu dan asal-asalan memilih dress itu untuk Nira, ia pikir ia sekedar menyukai model serta perpaduan warna dress itu, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya bagaimana jadinya jika dress itu menempel di tubuh Nira.

dress_nira_22.png

Dress baby pink sebatas lutut dengan hiasan bunga berwarna senada yang menutupi  dada atas hingga sebagian bahunya. Sedangkan bagian belakang hanya cukup menutupi sebagian tulang belikatnya dan secara tak langsung mengekspos jelas tengkuk dan punggung bagian atas. Berbatasan dengan tulang belikat hingga punggung bawah  tertutup  dress dengan lilitan tali di tengah-tengah punggung membujur horizontal, sebagai kemungkinan jika salah satu talinya ditarik akan melonggarkan satu-satunya kain penutup tubuh mungilnya itu.

“Apa? Ada yang salah?” Merasa diperhatikan, Nira mulai meraba wajahnya yang ia pikir berantakan. Sejak awal gadis itu kurang cocok dengan dandanan yang diberikan salon rekomendasian Jongin. Tidak tahu kenapa ia mengikuti saja saran Jongin mengenai salon terbaik di mata pria yang bahkan tidak bisa menata dirinya sendiri itu.

“Banyak!” komen Jongin singkat, dan ia segera memutar tubuhnya, tidak ingin menunjukkan wajah bodohnya lebih banyak lagi.

“Di bagian apa? Pasti lipstick-ku terlalu tebal. Karena dandananku hari ini, aku semakin benci dengan alat kosmetik bernama blush on, alis mata dan lipstick. Ini adalah hasil dari salon yang kau bicarakan tadi pagi, Jongin. Aku terlalu bodoh untuk menurutimu. Kau harus bertanggung jawab.”

‘Sial!’, dari balik punggung, Jongin merutuk gemas. Kenapa Nira menjadi penurut seperti ini. Gaun pilihannya, salon yang ia sarankan padanya, kenapa Nira tidak menolak seperti ia pernah kabur dari rumah ketika tahu akan dinikahkan dengannya, tapi malah menurutinya dan lihat apa akibatnya, Jongin rasanya ingin mengangkat kakinya jauh-jauh dari jangkauan Nira.

“Jongin!” Sentakan tiba-tiba itu bagaikan aliran listrik kecil yang diarahkan ke jantungnya. Membuatnya seketika meremang, terlebih ketika menyadari gadis itu telah berdiri sigap sejajar bahunya, mendongak dengan tatapan menuntut. Ia mengutuk jantungnya yang terus-terusan memukul-mukul dadanya hingga membuatnya sesak. Entah karena kaget atau karena hal lain, tapi Jongin tidak ingin mengakui ia menikmati detakan jantung yang berantakan itu.

Menghembus napas. Sejenak Jongin berpikir, mencoba berkilah membela diri. “Ibuku merekomendasikan salon itu untukku. Jadi kupikir akan cocok juga untukmu. Tidak kusangka hasilnya akan seperti ini,” kilah Jongin tidak berdosa sembari menggeser tubuh ke sisi lain.

“Maksudmu… hasilnya akan seperti ini, maksudmu apa?” Nira berteriak menuntut.
Tanpa menoleh Jongin menggumam disana, “Berkacalah.”

Dengan tarikan napas penuh amarah dan langkah menggebu-gebu, Nira melesat menghampiri Jongin yang sok—menyibukkan diri di pojok dapur sana. Namun naas, disaat yang bersamaan Jongin berbalik hingga mengagetkan Nira sampai membuat tubuh kecil bergaun baby pink itu meloncat. Dan… pekikkan kecil itu diikuti kecanggungan yang kentara.

Tangan kekar Jongin dengan sigap meraih Nira, merangkul bahunya dan menahan pinggang.

Posisi mereka bertahan dalam waktu yang membosankan, tapi tidak bagi mereka. Dengan posisi itu, Jongin dapat menyaksikan lekukkan wajah Nira dengan jelas, dapat menghirup aroma tubuh Nira dengan mudah dan well, kedua tangannya seakan dapat menyentuh intim tubuh Nira dengan leluasa.

Seakan lupa diri, Jongin terus mempertahankan posisinya meski Nira mulai merasakan panas di sekujur tubuh. Demi Tuhan, Nira tidak pernah sedekat ini dengan Jongin, kecuali saat resepsi pernikahan di acara keramat ‘mencium sang pasangan’. Dan Nira tidak ingin mengingatnya lagi.

Tapi sesungguhnya… Jongin tahu apa yang sedang dia lakukan. Dalam hatinya tersenyum senang. Menemukan Nira dengan pipi kemerahan di depan wajahnya adalah hal yang paling menguntungkan baginya untuk dijadikan bahan ejekkan. Meski, Jongin tidak bisa membohongi debaran jantungnya yang sialnya, terasa menyenangkan.

“Paket makanan~”

Seruan dari luar rumah mereka otomatis memisahkan tautan. Jongin sibuk melepas celemeknya dan bersiap menuju pintu, seolah lupa yang barusan terjadi. Sedangkan Nira yang merasa bodoh sesaat mulai mentralisir dirinya sendiri, dengan…

“Kenapa? Ada apa?” Nira belum bisa membaca suasana, alih-alih menghilangkan debaran jantung yang masih betah memukul-mukul. Nira tertegun sesaat, sebelum ekor matanya lari ke arah meja makan.

“Tunggu! Paket makanan?!” Nira mulai mengerti. Tak lama kemudian…

“Jongin! Aku tidak menyangka apa yang sudah kau lakukan!”

_

“Park Nira~ putriku satu-satunya. Aku merindukanmu.”

Nira tersenyum canggung. Dari balik pintu, wanita paruh baya itu langsung menghambur memeluknya. Nira sekilas melirik Jongin yang hanya diam tidak merespon, duduk di seberang sofa seolah tidak melihat apa-apa, lalu pria itu menyambut Ayahnya.

“Bagaimana kabarmu, Nira? Ibu harap kau baik-baik saja selama dua minggu ini. Jongin tidak menganiayamu, kan? Kau tahu, sebenarnya Ibu tidak tega melepaskanmu di tangan Jongin. Dia masih tidak bisa merawat dirinya sendiri, jadi Ibu khawatir Jongin menelantarkanmu. Jujur saja pada Ibu, kalau itu benar Ibu akan memukulinya untukmu.”

Nira tersenyum kaku. Namun lagi-lagi gadis itu tidak tahan untuk tidak melirik Jongin yang sekarang benar-benar menyibukkan diri berbincang dengan ayahnya, padahal Nira yakin suara Ibu Jongin bahkan dapat terdengar sampai luar rumah.

Sekilas ibu Jongin memperhatikan dandanan dan riasan Nira dan wajahnya berubah berbinar tidak menyangka.

“Lihat! Kau cantik sekali,” seru Ibu Jongin dengan mata berbinar. “Sungguh! Gaunmu! Ya Tuhan… seleramu cantik sekali. Kau terlihat sempurna malam ini, Nira. Jongin mana mungkin bisa memilihkan gaun seperti ini untukmu. Ibu sangat yakin.”

Dan kali ini, saat Nira melirik diam-diam, ia terkejut Jongin sudah menatapnya dengan tatapan menghunus bak pisau pedagang daging yang siap memotong daging dagangannya, dan Jongin benar-benar akan melempar pisaunya jika Nira bicara yang tidak-tidak. Samar-samar senyum Nira mengembang misterius.

“Iya Ibu, Jongin mana mungkin bisa memilihkan gaun cantik seperti ini. Membelikan saja mungkin tidak mau,” adu Nira penuh nada teraniaya. Ia berbohong, tentu saja.

Jongin in mad.jpg

Ibu Jongin murka dan Nira tahu lirikan kesal Jongin sambil menahan amarah yang ditujukan jelas padanya. Tidak menyangka Nira lupa momen dimana Jongin mengharapkan Nira menerima gaun itu saat masih di Toko.

“Jongin! Apa saja yang kau lakukan pada istrimu? Kau ini—“

“Ah Ibu…” potongnya cepat-cepat. “Nira hanya bercanda, kami sering pergi bersama kok.”

Namun tiba-tiba Jongin tersenyum sumringah, sembari mendekati gadis itu. “Hanya saja Nira sedikit sibuk akhir-akhir ini.” Tanpa aba-aba Jongin mendekati Nira dan merangkul pundaknya mesra. Sejenak Jongin merasa terusik saat menyandingnya, seperti ada aroma menguar dari tubuh gadis itu yang tampaknya mampu membuat kesadarannya buyar, tapi Jongin berusaha mengabaikannya.

Jongin mengumbar senyum manisnya sambil melirik nakal pada gadis di lingkar lengannya itu, “Iya kan, sayang~”, dan Jongin mengakhiri lirikannya dengan lirikan penuh ancaman sedang tangannya meremas gemas pundak kecil gadis itu, “Jika kau bicara macam-macam, kau akan tahu akibatnya nanti,” bisik Jongin seraya memastikan suaranya hanya bisa terdengar telinga Nira.

“Kau sedang mengancamku?!” geram Nira lirih. Tanpa peduli seruan Nira di telinganya, Jongin segera menyela keadaan dengan sempurna.

“Baiklah, aku rasa kita harus segera mencicipi masakan Kim Nira. Dia sudah menyiapkan semuanya untuk kalian sejak tadi pagi. Bahkan ia melarangku untuk membantunya. Bukan begitu, sayangku? Kau jahat sekali,” ungkap Jongin dengan nada manja penuh penekanan membuat Nira ingin memuntahkan segala isi perutnya. Sungguh, panggilan ‘sayang’ yang menggelikan. Tampaknya inilah yang dimaksudkan Jongin, kode agar ia mengikutinya. Tapi, apa maksudnya bicara bohong seperti itu? Dasar Jongin muka pembual.

Sedangkan Nira tidak habis pikir kenapa Jongin menyuruhnya berbohong. Nira sempat berpikir apa Jongin malu mempunyai istri yang tidak bisa memasak? Atau… Ibu Jongin sensitif dengan wanita yang tidak pandai memasak? Entahlah.

.

Mereka berempat menikmati makan malam dengan tenang. Entah sudah saling mengerti dan tahu atau hanya karena Jongin yang tampak lebih agresif, Jongin seolah begitu memperhatikan Nira sejak mereka duduk di lingkar meja makan. Dan membuat Nira hampir tidak mengenali siapa Jongin.

Seperti kejadian-kejadian ini…

“Nira, kau perlu banyak makan sayur. Ambil wortelmu lagi.”

“Nira, kau tidak perlu banyak tenaga untuk memotong dagingmu. Tsk, kemarikan!”

“Nira… sudah aku bilang jangan menyisihkan cabaimu. Mulailah belajar makan pedas sedikit. Cabai sangat bagus untuk memperbaiki tenagamu.”

Dan hal itu hanya ditanggapi Nira dengan senyum lima jari, menekan keinginan Nira menjitak kepala tak berdosa Jongin.

Dan makan malam mereka diakhiri dengan—tentu saja pujian Ibu Jongin atas rasa masakan yang tersaji di atas meja malam itu. Sedang Jongin dan Nira berusaha tampak semuanya baik-baik saja. Tanpa perlu mengeluarkan banyak aksi, mereka terus menempel memperlihatkan kesan mesra pengantin baru.

Meskipun sebenarnya… pernikahan mereka adalah sebuah paksaan.

Bukan karena alasan perusahaan, pertemanan atau ikatan perjanjian apapun. Apalagi karena alasan sebuah’ kecelakaan’. Bukan.

“Ekhem…” deheman singkat dan sarat akan makna dari Ibu Jongin seketika mengambil alih semua perhatian. Nira yang sedari tadi was-was mulai menyiapkan dirinya sendiri, gadis ini sempat lupa alasan mereka makan malam bersama hari ini. Kakinya mendingin dan kentara sekali wajahnya yang gugup. Nira terus bertanya-tanya hal apa yang ingin Ibu Jongin bicarakan padanya. Buruk ataukah baik?

Nira tidak bisa menekan imajinasinya mengenai hal ini. Terus menebak-nebak hal apa yang perlu dibicarakan Ibu Jongin padanya. Apakah Ibu Jongin tahu bahwa dia tidak bisa memasak? Bisa saja Jongin sudah merencanakannya, bukan? Atau yang lebih parah, Ibu Jongin tahu bahwa dirinya dan Jongin pisah ranjang di malam pertama mereka? Tidak! Hal semacam itu jangan sampai Ibu mertuanya ini tahu. Lalu apa? Atau jangan-jangan gadis ini diminta bercerai dengan putranya secara baik-baik?

Park Nira! Apa yang ada di kepalamu hah?!

“Jongin, boleh Ibu pinjam istrimu sebentar?”

Seketika debaran jantung Nira menyebar hingga membuatnya meremang, tubuhnya semakin kaku dan napasnya sesak hingga rasanya ia kehilangan pasokan oksigen. Rasanya benar-benar mengalahkan dirinya yang akan bertemu dosen ter-killer-nya.

Dengan gerakan kaku Nira menoleh, menilik Jongin yang masih membisu. Nira berharap Jongin tidak mengijinkannya. Nira berharap Jongin bilang agar ibunya bicara secara terbuka saja. Gadis itu takut tidak bisa apa-apa jika tanpa Jongin. Namun pria itu masih keukeuh diam dengan ekspresi bingung. Lantas melirik Nira yang sudah memandangnya dengan tatapan memelas minta pertolongan.

‘Jongin, katakan sesuatu yang bisa membantuku.’ Seperti itulah tatapan Nira di mata Jongin.

.

Jong with book.png

Lembar demi lembar Jongin membuka majalah fashion yang sekarang dipangkunya. Mungkin ini terlalu lama hingga ia memilih untuk melakukan pekerjaan membosankan yang pernah ia lakukan. Tapi tidak ada salahnya, terkadang Jongin perlu tahu fashion seperti apa yang diminati gadis itu.

“Maafkan Ibumu Jongin, dia tampaknya terlalu memaksa.”

Jongin mendongak menatap Ayahnya yang memandangnya serius. Langsung menangkap apa yang dimaksudkannya. Ya, mereka sudah menunggu sekiranya 20 menit yang lalu, sejak ibunya membawa gadis itu ke tempat yang lebih aman dari jangkauan mereka—mungkin. Dan tanggapan Jongin, ia hanya mengangkat bahunya ringan.

“Memang kau sudah tahu apa yang ingin Ibumu bicarakan pada istrimu?” Tatapan Ayah Jongin menyelidik. Dan Jongin cukup terkejut menyadarinya.

Mendengar kata ‘istri’ dari Ayahnya, membuat Jongin reflek menutup majalah yang telah dibukanya berkali-kali. Dari nada bicara dan tatapan Ayahnya, Jongin tahu Ayahnya mulai serius. Tentu, Jongin tahu apa yang Ibunya ingin bicarakan pada Nira. Bahkan sudah jauh-jauh hari sebelum malam ini.

“Usia pernikahan kalian masih terlalu muda. Dan kalian masih disibukkan dengan aktivitas penting lainnya. Dan jangan lupakan posisimu sekarang di perusahaan, Jongin. Kau satu-satunya harapan Ayah.” Lagi-lagi Ayahnya menekannya. Tapi Jongin hanya bisa diam. Dan jika sudah menyangkut perusahaan, Ayahnya tidak akan pernah bisa diganggu gugat.

“Sudahlah, kau nanti akan mengerti sendiri. Sekarang… Ayah harap kau tidak seperti Ibumu. Bagi Ayah itu sudah menjadi urusan kalian sendiri. Kau harus mulai belajar bertanggungjawab. Ayah akan mengawasi kalian dari kejauhan, kau mengerti?”

“Ya, ayah.”

“Tapi… ayah punya ini untuk kalian berdua.”

Ayahnya melempar sebuah amplop putih di atas meja. Tampaknya Jongin tahu apa isinya karena begitu melirik Ayahnya yang tersenyum penuh arti, wajahnya langsung berubah masam bak menemukan Nira yang membuatkannya teh hijau di sore hari agar diijinkannya pergi bersama temannya di malam harinya. Ini cukup menyebalkan bagi Jongin.

Jongin merutuk kesal dalam bathinnya, ‘Ayah sama saja dengan Ibu.’

.

Malam mulai larut dan Nira baru bisa bernapas lega saat ia bisa melihat kedua orang tua Jongin sudah berada di dalam mobil. Jongin dan Nira berdiri sejajar di sisi depan gerbang mengantar orang tua Jongin yang berpamitan pulang, hendak meluncurkan mobil mereka. Nira melambaikan tangan sambil tersenyum bahagia tentu saja. Tanpa aba-aba, Jongin meraih bahu gadis itu dan menempelkannya lebih erat ke sisinya. Dan pria itu turut melambaikan tangannya dengan senyum manis lima jari tangan besarnya.

“Jongin, jaga istrimu baik-baik. Jangan pernah panggil Ibu dengan sebutan ‘Ibu’ jika kau berani melukainya,” teriak Ibu Jongin dari dalam mobil.

“Iya Ibu, hati-hati di jalan. Ya, selamat malam semoga mimpi indah, dada~” teriak Jongin serabutan seolah tidak menggubris apa yang Ibunya teriakkan.

Lambaian tangan mereka berhenti dan senyum Nira memudar seketika saat mobil mertuanya hilang dari pandangan. Sedikit risih saat merasakan bahunya yang dipeluk erat tertempel di lengan kekar itu. Tiba-tiba jantungnya berdegub cepat menyadari Jongin menatapnya intens. Namun, ia putuskan untuk tetap menoleh.

Jongin tersenyum kecil dan mulai berbisik,

“Sekarang apa?”

whats now?.gif

tbc
210815

.

.

Hello guys~ I’m back with my long scane ff🙂

I’m so sorry if my fanfic bad, soalnya aku ngrasa bener-bener kesulitan kalo harus bikin ff chapter /semoga hanya perasaanku sajjaah syallalalaaa~/🙂

Semua kritik saran support aku terima dan semua membangun makasih banyak :”) As you know, ff ini udah aku bikin sejak Februari 2015, pas itu aku lagi napsu-napsunya bikin ff chapter ini dan semua alur udah diprint di dalem kepala tinggal nyetak aja. Dan saking excited-nya, ff ini masih bertahan sampe sekarang, memeras otak buat segera dicetak. /begitulah sulitnya ff chapter bagiku/ So, ff ini udah aku pikirin bulet-bulet bahkan jauh-jauh hari.

Kehilangan alur cerita di tengah jalan itu bukan aku banget, tapi kehilangan mood di tengah2 alur itulah momokku…..X”D *bhaqz

Dan ini adalah ff chapter kedua yang pernah aku post selama aku kenal dunia per-fanfic-an *proud x”D /padahal ff yang satu belom ada kata tamat, semoga ini ga bernasib sama*amin/

Btw, buat bocoran next chapter aku bakal posting 2 chapter sekaligus–bukan ding, 2 ff sekaligus! (tapi karena peraturannya sehari sekali, jadi ya bertahap ya dear:*)

Chapter 2 ada yang versi protect dan engga. dengdengdeeeng~ yup! soalnya ada itu tuh~ /sebelumnya maaf banget ya yg belom punya katepe:p just say good bye~/

Tapi, tenang aja… yang engga diprotect dapet sebagian scane kok😉 *apatuuuh :v

And btw, I’M VERY LOVED WITH MANY SCANE❤ so, you guys will find many detail word in my mine, maybe you would be boring I guess :”) but, no problem bcs this is my style /atur posisi kacamata item/

Dan… baru nyadar cuap2nya sampe segini banget.. cukup sekianlah terima Kai :”) btw, maaf edittan aku jelek x”D

Seeyouagainin chap2 with 2 version

img_20150825_165849.jpg

.

Bentar~ dengan segala hormat mau nyepam lagi…

I’m so sad about Jongin condition lately. He just too force himself for dot encore. He got injured on his ankle while practicing so, he couldn’t unable to fully participate in that concert. But LAST NIGHT, he joined it. I got trembling because found one of his photo.. he was crying during peterpan TT^TT

img_20160319_065446.jpg

Aku cuma berharap dia ga terlalu maksa diri apalagi nyalahin dirinya sendiri karna gabisa ikut konser sepenuhnya. He said his heart hurts more than his body BUT, kaistan or ME more than hurts if he too force for himself like that..:”

img_20160319_070630.jpg

img_20160319_071434.jpg

img_20160319_071403.jpg

although jongin with crutches at concert last night he was still cute, handsome and enjoying :”

I’m so sorry, I’m too emotional about this :”

12 responses to “Our Marriage is… [Chapter 1] by Raditri Park

  1. ya ampun liat foto jonging yang matanya udah berkaca2 gitu bikin sedih dan untuk cerita fanfic ini aku udah cukup umur ko line 95.hehe
    dan aku penasaran banget alesan mereka bisa nikah.

  2. Hai… Salam kenal ma izin baca ffnya ya, masih bingung sih sma asal muasal mereka nikah.trus, aku tadi bcanya juga keblik, chap.1 dulu baru prolog.

    klo boleh nebak” sih, yang diomongin nira ma ibunya jongin kayaknya pengen cpt” pnya cucu deh..,bener ya?
    Uh, ada “something” ya di chap 2. Aku tunggu kelanjutannya.,

    See u next chap.
    #semangat

  3. Haii, baru baca ff buatan author jih, masih penasaran banget. Bnyak kalimat kalimat gantungny y, bikin tambah penasaran. So far so good thor, cuman kurang panjang aja min. Cara penulisanny juga nggak trlalu pasaran thor, waiting for next chapter wohooooo!??!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s