Soul School Chapter 10B

audi ff

By Sparkdey

Poster made by marsyasara

Soul School Chapter 10B

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Main Cast            :

Jeon Jungkook BTS || Kim Taehyung BTS || Mark Tuan GOT7 || Jung Krystal Fx || Kim Sujin (OC) || Min Ji Eun (OC)

Support Cast      :

 Jeon Wonwoo Seventeen || Kim Namjoon BTS || Park Jimin BTS || Oh Sehun EXO || Kim Seokjin BTS || Kim Seolhyun AOA || Min Yoongi BTS

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7A || Chapter 7B || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10A || Chapter 10B ||

Desclaimer : FF ini pure ide dari author sparkdey dengan beberapa bantuan dari teman – teman dan terinspirasi dari beberapa K-Drama. Dan hanya di posting di FFIndo dan blog pribadi author. Jika kalian menemukan cerita yang sama, mohon beritahukan kepada author. Terima kasih^^

NB : Jeongmal gomawo buat adik – adikku yang sudah membantuku memberikan inspirasi untuk membuat FF ini. Makasih buat Vicky dan juga Lizna :*{} saranghae~ || Jeongmal kamsahamnida untuk teman – teman ARMY, Luna dan juga Alma :*{} saranghae~ ide kalian dan saran kalian sangat membantu >.< || terdapat beberapa kata kasar, mohon maaf bila kurang berkenan. Lebih baik untuk tidak membaca kalimat itu atau skip FF ini.

Happy Reading!!~

Cerita sebelumnya…

“Sampai kapan kau akan terus menunggu adik sepupuku?” Tanya Jungkook.

“Aku akan tetap menunggunya sampai kapan pun” jawabku yang masih memejamkan mataku.

“Aku peringatkan kau, Taehyung-ah! Jangan berani – beraninya kau menyakiti Krystal lagi, atau kau akan berurusan denganku!” Jungkook mencengkram kerahku dan aku terpaksa membuka mataku.

“Arraseo” jawabku.

Jungkook melepaskan tangannya dari kerahku dan dia berjalan menuju kamar mandi. Aku kembali merebahkan badanku dan memejamkan mataku.

‘Min Ji Eun?’ batinku.

-Taehyung POV-

‘Min Ji Eun?’ batinku.

Aku mengacak rambutku sendiri.

‘Mengapa aku jadi memikirkan Ji Eun?’ batinku.

Aku kembali memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur.

“YA YA YA!! Ireona, Kim Taehyung!” seseorang membangunkanku dari mimpi indahku.

Aku mengerjapkan mataku dan membukanya perlahan. Aku melihat Sehun seongsanim berada di hadapanku dan terus menggoyangkan tubuhku.

“Pali ireona, Kim Taehyung!” perintah Sehun seongsanim.

Aku membuka mataku dan langsung merubah posisi tidurku menjadi duduk di tepi ranjang.

“Ne Sehun seongsanim?” tanyaku.

“Kalian, cepatlah ganti baju dan jangan lupa memakai pakaian yang hangat” pinta Sehun seongsanim.

“Mwo? Sekarang masih jam 2 pagi, seongsanim” sahut Jungkook.

“Ne, geurae. Sekarang kalian akan masuk ke test selanjutnya. Test ini adalah permintaan dari Kepala Sekolah. Aku berikan waktu 10 menit untuk kalian bersiap dan berkumpul di lobby” perintah Sehun seongsanim lalu keluar dari kamar kami.

“Menurutmu apa test kali ini?” tanyaku pada Jungkook.

“Molla” jawab Jungkook singkat lalu masuk ke kamar mandi.

Aku langsung menuju tasku dan mencari baju ganti dan pakaian hangat yang aku bawa. Semoga saja suhu pagi ini bersahabat dengan tubuhku. Aku tidak terlalu suka dengan cuaca dingin seperti ini. Dan apa maksud dari Kepala Sekolah yang membangunkan kami pada jam 2 pagi ini? Test selanjutnya? Oh tidak.

Aku bergantian masuk ke kamar mandi setelah Jungkook keluar. Aku menyikat gigiku dan membasuh wajahku. Setidaknya aku harus terlihat fresh pagi ini. Setelah selesai dengan kegiatanku di kamar mandi, aku langsung berjalan menuju lobby dimana Sehun seongsanim memerintahkan kami untuk berkumpul.

Semua calon siswa sudah berkumpul di sini dan Kepala Sekolah juga ada di hadapan kami.

“Karena semua calon siswa Soul School sudah hadir di sini, saya akan memberikan test kepada kalian di jam 2 pagi ini, apa kalian sudah siap?” Tanya Kim sajangnim.

“Ne, Kim sajangnim” jawab kami bersamaan.

“Kami akan membagi kalian menjadi 2 kelompok, masing – masing kelompok harus mendapatkan 3 bendera berwarna kuning dan merah yang tersembunyi di dalam hutan yang menuju lembah pegunungan ini. Aku harap kalian bisa menyelesaikannya sebelum terbitnya matahari nanti pukul setengah 7 pagi” jelas Kim sajangnim.

‘Apa dia gila? Sepagi ini memasuki hutan yang bahkan kami semua belum mengenal hutan ini?!’ batinku.

“Tapi Kim sajangnim, kami semua belum tahu tentang hutan ini, bagaimana jika salah satu dari kami tersesat di hutan itu?” Tanya Sujin sambil mengangkat tangan kanannya.

“Untuk mengantisipasi kalian semua tersesat, kami telah menyediakan 5 jam tangan yang di dalamnya terdapat GPS dan sebuah tombol untuk memanggil salah satu dari kami” jelas Kim sajangnim.

“Jimin seongsanim akan memberikan jam tangannya pada kalian setelah pembagian kelompok. Seolhyun seongsanim, silahkan” perintah Kim sajangnim.

“Baiklah, saat ini saya akan membacakan dua kelompok, kelompok pertama yaitu kelompok merah yang beranggotakan Kim Taehyung dan Min Ji Eun, dan kelompok yang kedua yaitu kelompok kuning yang beranggotakan Jeon Jungkook, Kim Sujin, dan Jung Krystal” kata Seolhyun seongsanim.

“Baiklah, untuk kedua kelompok silahkan maju dan mengambil jam tangan ini” perintah Jimin seongsanim.

Aku dan Ji Eun sekelompok, yang artinya aku akan menghadapi apapun yang terjadi di dalam hutan itu bersama dengan Ji Eun. Aku dan Ji Eun maju ke hadapan Jimin seongsanim dan mengambil 2 buah jam tangan yang akan kami pakai.

“Semua calon siswa sudah mendapatkan jam tangannya, sekarang kalian berjalan lah menuju pintu gerbang sekolah ini” perintah Jimin seongsanim.

Aku bersama Ji Eun dan yang lainnya berjalan menuju pintu gerbang. Sungguh suhu kali ini sangat tidak bersahabat, dingin sekali. Aku dapat melihat asap yang keluar dari mulutku dan yang lainnya. Kim sajangnim benar – benar menyiksa kami.

“Ingat, apapun yang terjadi di sana kalian harus menghadapinya. Jika kalian merasa tersesat di dalam hutan sana, segera tekan tombol di jam itu dan salah satu dari kami akan menjemput kalian” Kim sajangnim mengingatkan kami.

“Ne Kim sajangnim” jawab kami bersamaan lalu membungkukkan badan kami.

“Yang pertama pergi adalah kelompok merah, Taehyung dan Ji Eun, silahkan berjalan terlebih dahulu” kata Seokjin seongsanim.

“Ne seongsanim” jawabku.

Aku dan Ji Eun melangkah keluar dari gerbang sekolah Soul School. Dapat aku rasakan bahwa suhu di luar lingkungan sekolah semakin menurun. Di dalam lingkungan sekolah terasa lebih hangat.

Kini aku dan Ji Eun sudah berada di depan hutan yang terlihat sangat gelap sekali. Dan yang membuat kami tidak beruntung saat ini adalah kami tidak diberikan peralatan apapun kecuali jam tangan yang diberikan oleh Jimin seongsanim. Lalu bagaimana kami akan menelusuri hutan ini dan mencari bendera yang berwarna merah itu?

“Huah…” desahku malas.

“Wae, Taehyung-ah?” Tanya Ji Eun.

“Gwenchana, aku hanya merasa tidak beruntung saja” jawabku sambil berjalan memasuki hutan ini.

“Tidak beruntung?” Tanya Ji Eun heran.

“Ne. kita tidak diberikan perlengkapan apapun. Dan hutan ini sangat gelap, bagaimana kita mencari bendera itu?” kataku yang terus berjalan.

“Gunakan ponselmu. Apa kau membawanya?” kata Ji Eun.

“Ah ponsel! Kau pintar, Ji Eun-ah!” seruku yang langsung mengacak rambutnya pelan.

Aku langsung mengeluarkan ponselku dan menyalakan senter yang ada di ponselku. Setidaknya ini akan membantuku mencari jalan yang tepat dan semoga saja kami tidak tersesat dan cepat menemukan ketiga bendera merah yang disembunyikan di hutan ini.

Semakin dalam aku memasuki hutan ini, suhunya terasa semakin rendah dan membuatku dan Ji Eun merasa kedinginan. Menggigil? Tentu. Mencoba bertahan dalam suhu seperti ini? Tentu saja!

“Taehyung-ah, bisa kau arahkan ponselmu ke belakang pohon itu?” kata Ji Eun sambil menunjuk sebuah pohon di depan kami.

Aku langsung menuruti perkataan Ji Eun dan langsung mengarahkan ponselku ke tempat yang dimaksudkan oleh Ji Eun. Ji Eun langsung berjalan menuju belakang pohon itu dan dia menemukan sebuah bendera merah.

“I GOT IT!!” teriak Ji Eun kegirangan.

“NICE JI EUN-AH!!” dengan spontan aku langsung memeluk Ji Eun.

“Ah mian… aku hanya senang karena kau menemukannya” kataku yang sadar akan perlakuanku tadi pada Ji Eun.

“Gwenchana” jawab Ji Eun sambil tersenyum yang menampilkan lesung pipinya itu dan menambah kesan imut pada dirinya.

‘Oh tidak, andwae Taehyung-ah!’ batinku.

 

-Author POV-

Kini kelima calon siswa Soul School sedang melakukan sebuah test yang dibuat oleh Kepala Sekolah. Mereka memasuki sebuah hutan yang dapat di bilang cukup seram dan mereka tidak dibekali perlengkapan apapun.

Semua guru dan Kepala Sekolah kini sedang berkumpul di ruangan Kepala Sekolah. Mereka sedang membicarakan tentang test yang Kepala Sekolah berikan, karena hal itu bukan persetujuan bersama dengan para guru.

“Kim sajangnim, apa anda yakin mengirim mereka ke hutan itu? Kau tahu sendiri bahwa hutan itu berbahaya bukan?” Tanya Seolhyun.

“Ne Kim sajangnim. Aku setuju dengan pernyataan Seolhyun barusan” sahut Jimin.

“Aku percaya pada mereka bahwa mereka dapat keluar dari hutan itu dan menemukan semua bendera yang telah aku sembunyikan di sana” jawab Namjoon.

“Tapi Kim sajangnim… mereka masih anak – anak” kini Seokjin bersuara.

“Kalian tenang saja, aku dapat menjamin mereka semua akan keluar dari hutan itu dengan selamat” Namjoon tersenyum.

“Baiklah jika memang itu keputusan anda, kami tidak dapat melakukan apapun” sahut Sehun.

“Kalian semua boleh beristirahat sampai terbitnya matahari” kata Namjoon.

Semua guru membungkukkan badannya pada Namjoon dan pergi dari ruangan itu, kecuali seseorang yang merupakan sahabat dari Namjoon, Park Jimin. Jimin berdiri dan berjalan menghampiri Namjoon yang sedang melihat keluar sana melalui jendela di ruangannya.

“Namjoon-ah…” panggil Jimin.

“Apa kau benar – benar yakin?” lanjut Jimin.

“Aku yakin pada mereka dan aku percaya mereka” jawab Namjoon.

“Kau tahu kan seberbahaya apa hutan itu? Dan mengapa kau melepas mereka semua ke hutan itu?” Jimin benar – benar tidak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Its okay, Jimin-ah. Mereka semua dapat keluar dari hutan itu dengan selamat. Percayalah padaku” Namjoon menatap Jimin dengan intens sambil memegang bahu Jimin.

“Ah ya, apa kau sudah baikan?” Tanya Namjoon.

“Aku sudah tidak apa – apa. Baiklah, aku harap perkataanmu tadi adalah benar Namjoon-ah, ingat mereka semua calon murid kita dan jika terjadi sesuatu pada mereka, sekolah kita bisa di tutup!” Jimin benar – benar memperingatkan Namjoon.

“Aku yang bertanggung jawab atas semua ini” kata Namjoon menenangkan Jimin.

“Aku permisi dulu” kata Jimin yang langsung pergi.

Jimin keluar dari ruangan sahabatnya itu dan kembali beristirahat di dormnya. Jimin membuka kenop pintu kamarnya dan di dalam sana sudah ada Sehun.

“Kau tidak beristirahat?” Tanya Jimin.

“Aku khawatir dengan mereka” kata Sehun.

“Kau tidak usah khawatir, Kepala Sekolah pasti sudah memikirkan semuanya. Mereka akan kembali saat matahari terbit nanti. Lebih baik kau beristirahat” kata Jimin.

“Hmm arraseo. Kau juga eoh” kata Sehun lalu keluar dari kamar Jimin.

 

-Sujin POV-

Kini aku bersama dengan Krystal dan juga Jungkook berada di tengah hutan. Kami tetap fokus pada jalanan yang ada di depan kami, karena jalanan di sini sangat tidak bagus, banyak bebatuan dan akar pohon yang melintang.

Hanya berbekal cahaya dari ponsel Krystal dan jam tangan yang diberikan oleh Jimin seongsanim. Suasana hutan ini sangat mencekam, membuat bulu kudukku berdiri. Seram? Tentu. Dingin? Sangat dingin di hutan ini.

Aku masih tetap tidak mengerti mengapa Kepala Sekolah menyuruh kami masuk ke dalam hutan ini dan mencari 3 buah bendera berwarna kuning. Aku hanya dapat berharap kami semua dengan cepat menemukan 3 buah bendera itu dan segera keluar dari hutan yang sangat menyeramkan ini.

“Ital-ah, berikan ponselmu padaku” sahut Jungkook.

Krystal memberikan ponselnya pada Jungkook dan tetap berjalan di belakang Jungkook. Jungkook berhenti di depan sebuah pohon besar dan melirik ke atas lalu memberikan cahaya pada pohon itu. Dia menemukan bendera berwarna kuning pertama kami.

Letak bendera itu sangat tinggi, bahkan Jungkook yang tingginya melebihi kami berdua –Aku dan Krystal- tidak dapat menggapainya. Tidak ada pilihan lain selain membuat Krystal mengambil bendera itu dengan berdiri di atas pundak Jungkook.

“Apa kau sudah mendapatkannya?” Tanya Jungkook.

“Ini sangat tinggi sekali, Jungkook-ah” sahut Krystal yang masih berusaha mengambil bendera itu.

“Cepatlah sedikit, kau ini sangat berat!” kata Jungkook yang merasa keberatan dengan Krystal.

“YA!” teriak Krystal.

“Ah aku punya ide!” teriakku.

Aku mencari sebuah ranting yang menurutku cukup kuat. Setelah menemukan sebuah ranting yang aku butuhkan, aku memberikannya pada Krystal dan kembali memberikan cahaya pada pohon itu. Setelah berusaha cukup lama, Krystal berhasil mendapatkan bendera kuning itu.

“Dapat 1! Baiklah, kita harus semangat mencari 2 buah bendera lagi!” kata Jungkook semangat.

Kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan kami memasuki hutan ini lebih dalam lagi. Samar – samar terdengar suara berisik dan ranting pohon yang diinjak. Sudah dapat aku pastikan ada yang lain di sini selain kami bertiga.

“Bisakah kita lebih cepat lagi?” tanyaku pada 2 temanku di depan.

“Eoh” jawab Krystal yang kemudian mulai melangkah lebih cepat.

“Lebih cepat lagi” kataku yang semakin was – was.

Semakin kami melangkah cepat, semakin cepat pula langkah yang mengikuti kami. Apa kami melakukan kesalahan di sini? Ini hutan bukan? Tidak ada penghuni di dalam hutan ini.

‘Oh Tuhan, aku sangat takut di sini’ batinku.

Jungkook tiba – tiba berhenti sehingga aku menabrak Krystal. Aku melihat wajah Jungkook yang sangat terkejut dan dia mematikan senter pada ponsel Krystal.

“Wa… wae? Kenapa berhenti?” kataku berbisik pada Krystal.

“Molla…. Jungkook tiba – tiba saja berhenti” jawab Krystal pelan.

“Lebih baik kita segera berlari dari sini” kata Jungkook menghadapku dan juga Krystal.

“Wa… wae?” Tanya Krystal yang panik akibat perkataan Jungkook.

“Ada sesuatu yang tidak beres di sini. Kita harus mencari tempat perlindungan” kata Jungkook.

“Kau juga merasakannya eoh?” tanyaku.

“Sssttt…” Jungkook menempelkan jari telunjuknya pada bibirku.

“Hana… dul… set… lari!!” teriak Jungkook.

Aku bersama Krystal dan Jungkook langsung berlari secepat mungkin. Dan tetap saja mereka masih mengikuti kami. Kami terus berlari dan berharap agar kami tidak diikuti seperti ini. Kami merasa takut dan panik.

“Awh!! Appo” rintihku.

Aku terjatuh di saat berlari seperti ini dan aku hanya berharap Jungkook ataupun Krystal membantuku atau paling tidak mereka melihatku. Keadaan di sini sangat gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun, sampai pada akhirnya ada seberkas cahaya yang menuju ke arahku.

‘Aku harap kau membantuku. Siapapun itu, kumohon tolong aku’ batinku.

 

-Ji Eun POV-

“Ah mian… aku hanya senang karena kau menemukannya” kata Taehyung yang sadar akan perlakuannya tadi padaku.

“Gwenchana” jawabku sambil tersenyum.

‘Taehyung-ah, jebal, berhenti melakukan hal seperti ini. Berhenti membuatku semakin berharap padamu’ batinku.

Setelah mendapatkan sebuah bendera berwarna merah aku dan Taehyung kembali melanjutkan perjalanan kami mencari 2 buah bendera yang lainnya. Semakin memasuki hutan ini hingga aku merasakan sesuatu yang tidak beres di sini. Aku merasa seperti… sedang diawasi.

Aku masih berfikir positif saat ini walaupun semua bulu kudukku sudah berdiri. Aku tetap mengikuti Taehyung di belakangnya. Benar – benar sangat dingin di sini. Aku berharap bisa menemukan 2 bendera yang lainnya dengan cepat. Aku sudah tidak tahan dengan suhu yang sedingin ini. Pakaian hangatku sudah tidak mampu menutupi tubuhku.

“Pakailah ini” kata Taehyung sambil mengalungkan syal di leherku.

“Huh? Lalu kau bagaimana? Suhu di sini sangat dingin” kataku terkejut akan perlakuan Taehyung saat ini.

“Nae gwenchana” jawabnya sambil tersenyum.

Taehyung mengulurkan tangannya padaku.

‘Apa maksudmu, Taehyung-ah?’ batinku.

“Akan terasa lebih hangat nantinya, hold my hand if you want” Taehyung masih tetap mengulurkan tangannya padaku.

Aku mengenggam tangan Taehyung. Walaupun sebenarnya aku ragu dengan langkah yang aku ambil saat ini. Aku masih mengingat kata – kata Sujin padaku untuk membuang perasaanku pada Taehyung karena Taehyung masih berharap dan bahkan menunggu Krystal.

“Kajja, kita harus mencari 2 bendera lagi” ajak Taehyung yang menggandeng tanganku dan memasukkan tangan kami ke saku jaket yang dipakainya.

Kami terus berjalan dengan berhati – hati. Aku tidak fokus dengan perjalananku kali ini. Aku hanya menatap Taehyung yang berada di sampingku saat ini.

‘Oh Tuhan, tolong bantu aku untuk tidak menyukainya lebih jauh’ batinku.

Aku kembali merasakan bahwa ada yang mengikutiku dan Taehyung saat ini. Aku tidak berani untuk menoleh ke belakang kami. Bagaimana kalau itu adalah penghuni hutan ini? Bagaimana kalau itu adalah hewan buas? Bagaimana kalau itu adalah… ah tidak – tidak, aku harus tetap berfikir positif.

“Ji Eun-ah, apa kau sanggup untuk berlari? Aku merasakan sesuatu yang aneh di sini” bisik Taehyung.

“Ah eoh…” jawabku pelan.

“Baiklah, hana.. dul.. set.. lari!” bisik Taehyung.

Aku dan Taehyung terus berlari dan senter dari ponsel Taehyung tetap dinyalakan untuk membantu penglihatan kami berdua. Suara ranting yang patah sepanjang pelarian kami terus terdengar, itu adalah bukti bahwa kami berdua benar – benar sedang diikuti oleh seseorang.

Aku melihat sebuah pohon yang sangat besar. Aku langsung menarik Taehyung untuk bersembunyi di belakang pohon yang besar itu.

Aku langsung menetralkan deru nafasku yang masih memburu ini. Dan aku baru tersadar bahwa tanganku masih mengenggam tangan Taehyung di dalam saku jaket Taehyung. Aku langsung melepaskan tanganku, namun Taehyung semakin menggenggamnya.

“Biarkan tetap seperti ini. Aku kedinginan” bisik Taehyung dengan nafasnya yang terengah – engah.

Aku menuruti keinginan Taehyung. Suara ranting patah kembali terdengar. Aku mengintip sedikit ke arah suara ranting patah itu. Aku melihat sosok seseorang yang sedang mencari keberadaan kami. Sosok itu sama seperti kami namun saat aku melihat wajahnya… dia memiliki taring dan juga matanya berwarna merah. Dia seperti… vampire?

‘Tuhan tolong kami… kami tidak ingin menjadi vampire di sini’ batinku.

Dengan cepat aku menekan tombol yang ada pada jam tangan Taehyung. Aku berharap bahwa salah satu dari guru ataupun Kepala Sekolah dapat dengan cepat menolong kami. Aku kembali melirik ke arah vampire itu. Dia masih di tempat itu, menunggu kami keluar dan berlari lagi.

‘Kim seongsanim, atau siapa pun kumohon tolong kami’ batinku.

Aku dan Taehyung tidak memiliki pilihan lain selain berlari kembali untuk menghindari vampire itu. Kini aku benar – benar menggenggam erat tangan Taehyung dan tidak berniat untuk melepaskannya. Kami terus berlari dan tetap diikuti oleh vampire itu.

“Ah!!” teriak Taehyung.

Aku ikut terjatuh ketika Taehyung terjatuh karena akar pohon yang melintang. Oh tidak ada darah yang keluar dari tanganku dan juga kaki Taehyung. Dengan keadaan seperti ini kami tidak bisa berlari lagi. Semakin banyak darah yang keluar akan semakin menarik perhatian vampire yang lainnya.

“Gwenchanayo?” Tanya Taehyung.

“YA! Aku baik – baik saja, tapi apa kau masih sanggup untuk berjalan?” tanyaku.

“Aku masih bisa. Kajja kita harus tetap berlari” Taehyung berusaha berdiri namun luka di kakinya memang cukup parah.

“Jangan dipaksakan! Kau sudah tidak bisa berlari saat ini, lukamu sangat parah. Apa yang mengenai kakimu hingga bisa seperti ini?” tanyaku dengan panik.

“Ji Eun-ah, cepatlah pergi dari sini! Vampire – vampire itu sudah kembali kemari” perintah Taehyung.

“Shireo! Aku tidak akan meninggalkanmu!” kataku tegas.

“Ikuti perintahku Ji Eun-ah! Biar aku yang menahan vampire itu” kata Taehyung.

“Dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini dengan situasi dan kondisimu yang seperti ini?” bentakku.

Vampire – vampire itu sekarang sudah berada di hadapan kami. Aku berdiri di depan Taehyung untuk melindungi Taehyung. Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan Taehyung mati di sini sendirian. Dan Taehyung tidak boleh mati.

Vampire – vampire itu berjalan perlahan menuju kami. Dengan tegar aku menatap mata merah mereka. Mereka semakin mendekat padaku. Dengan cepat aku langsung menutup mataku.

‘Jika memang ini jalan kematianku, aku rela jika aku bisa melindungimu, Taehyung-ah’ batinku.

 

-Jungkook POV-

Aku merasa seperti seseorang telah terjatuh. Aku langsung menyalakan senter pada ponsel Krystal. Aku melihat ke belakangku, hanya ada Krystal.

“Sujin!” teriakku.

Aku kembali ke belakang untuk mencari Sujin, dan dugaanku tepat, yang terjatuh adalah Sujin. Aku langsung menghampirinya dan membantunya.

“Gwenchanayo?” tanyaku saat di hadapan Sujin.

“Appo…” rintihnya.

“Cepatlah naik ke punggungku” perintahku.

Sujin langsung mengalungkan tangannya pada leherku dan aku menggendongnya di belakang. Krystal yang berada di depanku kini menjadi penunjuk jalan kami karena hanya dia yang bisa memegang ponsel itu.

“Krystal-ah, kita harus menemukan sebuah tempat persembunyian. Kita harus mengobati Sujin” kataku pelan sambil berjalan cepat.

“Mianhae, Jungkook-ah” kata Sujin lirih.

“Gwenchana” jawabku singkat.

Kami tetap berjalan cepat hingga pada akhirnya kami menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan ini dan Krystal memeriksa gubuk itu. Tidak ada apa – apa atau siapapun. Gubuk ini sudah lama tidak dipakai.

Aku langsung menurunkan Sujin dari punggungku dan melihat keadaannya. Kakinya terluka, mungkin karena terkena ranting yang sangat tajam saat tadi dia terjatuh. Aku langsung merobek lengan jaketku dan melilitkannya pada kaki Sujin.

“Apa masih terasa sakit Sujin-ah?” Tanya Krystal.

“Sudah terasa lebih baik. Tapi apa kau tahu siapa yang mengikuti kita?” Tanya Sujin.

“Pelankan suaramu atau nanti kita akan ketahuan lagi” kataku sambil beristirahat dan mengatur nafasku.

“Aku heran dengan kepala sekolah” sahut Krystal.

“Wae?” tanyaku.

“Mengapa dia berani menyuruh kita masuk ke dalam hutan ini? Dan bahkan membahayakan nyawa kita” jawab Krystal.

“Hey ayolah, tidak usah kau fikirkan. Ini adalah test kita. Kita harus menjalaninya” kataku sedikit kesal.

Aku melihat jam tanganku. Sudah jam 4 pagi dan kami masih memiliki waktu 2 jam 30 menit untuk mencari sisa bendera yang berada di hutan ini. Tapi dengan kondisi Sujin yang seperti ini tidak memungkinkan untuk kami melanjutkan perjalanan ini.

Aku mendengar pintu gubuk ini di ketuk berkali – kali oleh seseorang dari luar sana. Saat ini kami berada di dapur yang letaknya benar – benar ada di belakang gubuk ini. Kami hanya bisa berharap bahwa mereka yang mengejar kami tidak dapat menemukan kami.

Semakin lama ketukan itu semakin terdengar kasar. Apa yang harus kami lakukan? Krystal dan Sujin sudah semakin merasa ketakutan. Satu – satunya jalan adalah terus menghindar dan berlari.

Akhirnya kami keluar dari pintu belakang gubuk itu. Aku masih menggendong Sujin dan berlari untuk keluar dari hutan ini. Apapun yang terjadi, kami bertiga harus tetap bersama. Kami terus berlari dan suara langkah dan ranting yang terinjak terdengar lagi oleh kami.

“Bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan kita?” tanyaku.

“Molla!!” Krystal terus berlari.

Akhirnya keputusan yang benar – benar aku ambil adalah menekan tombol pada jam tangan yang diberikan oleh Jimin seongsanim. Hanya dengan ini aku berharap dapat keluar dari hutan ini.

“Ital-ah, nyalakan senter pada ponselmu sekarang!” perintahku.

Krystal lalu mengambil ponselnya dan terus berlari walaupun tidak fokus pada jalanannya karena sibuk mencari senter di ponselnya. Senter sudah dinyalakan dan kami terus berlari. Hingga pada akhirnya kami melihat sebuah cahaya yang lain di depan kami.

“Aku harap itu adalah kepala sekolah atau guru yang lainnya” sahut Krystal.

Sujin sudah tidak bersuara. Dapat aku pastikan kini Sujin sedang menahan rasa sakitnya itu. Lukanya cukup parah dan dia harus segera diobati.

‘Tuhan sampai kapan kami akan terus berlari?’ batinku.

Akhirnya sebentar lagi kami akan sampai di cahaya yang kami maksud tadi. Namun sesaat sebelum sampai di cahaya itu, aku merasakan sesuatu kejanggalan dari cahaya itu. Itu bukan cahaya yang biasa kami gunakan. Lalu cahaya apa itu?

Dengan cepat aku menarik Krystal untuk bersembunyi di semak – semak yang ada di sebelahku saat ini. Aku meminta Sujin dan Krystal untuk tidak bersuara. Mereka pun menuruti perintahku.

Dengan seksama aku memperhatikan cahaya itu. Di sana terdapat beberapa orang yang tidak dapat aku kenali. Mereka sama seperti kami, namun ada hal yang berbeda dari mereka.

“Jungkook… huhu” Krystal menangis tepat di sampingku.

“Sudah kubilang kau un….” Aku tidak sempat melanjutkan kata – kataku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo kembali lagi bersama author di chapter 10B hahaha. Gimana sama chapter kali ini? Like dan komentar jangan lupa yaa hahaha xD

Maaf ya chapter yang kemaren kurang greget dan bikin kecewa, tapi author udah berusaha memperbaikinya kok di chapter ini. Semoga suka ya sama chapter kali ini~ see you on next chapter, reader-nim :*

4 responses to “Soul School Chapter 10B

  1. Pingback: Soul School Chapter 11 – FFindo·

  2. Pingback: Soul School Chapter 12 – FFindo·

  3. Pingback: Soul School Chapter 13 – FFindo·

  4. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s