The Land of Morning Calm (Part 1)

CYMERA_20160331_210147

 

The Land of Morning Calm ( Part 1)

By : mrnwa

Cast : Han JooEun, Lee Donghae

Rating : PG-15

Genre : Romance

 

 

Seoul, South Korea

Autumn, September 2015

Lagu Semi Charmed Life milik Third Eye Blind terus berputar sebagai satu-satunya playlist di ponselku tanpa ada niat untuk menambahkan dengan judul lagu lain. Aku tahu lagu ini sama sekali tidak cocok untuk memulai musim gugur pertama di bulan september. Lagu penuh semangat memang tidak pas jika di dengarkan disaat-saat musim sendu seperti ini. Tapi tidak masalah, bagiku menikmati musim gugur cukup dengan segelas praffucino hangat yang dinikmati dikala senja, memakai hoodie senada dengan warna daun maple yang jatuh dari dahan pohon dan berada diatas balkon kamar rumahmu. Perpaduan yang pas.

Dering ponsel berbunyi tepat saat tegukan praffucino terakhir yang melesat ke kerongkonganku. Alunan lagu Semi Charmed Life berhenti digantikan dengan nada ponsel yang menyebalkan.

Yeoboseo.”

“Dimana kau sekarang?”

Dan yang paling menyebalkan lagi adalah orang yang tidak tahu caranya menyapa seseorang dalam sambungan telepon. Merusak musim gugur pertamaku saja.

“Menurutmu aku akan berada dimana pada bulan september saat pertama kali daun maple jatuh ke tanah?”

Kudengar Jeremy berdecak sebal karena jawaban retorisku. Aku berani bertaruh demi jutaan followers instagramku siapa yang lebih sebal saat ini. Jeremy yang raga kewanitaannya tersangkut di tubuh pria atau aku.

“Kalau saat ini kau sedang berada di atas tempat tidurmu lihat jam dindingmu sekarang juga dan katakan padaku dimana seharusnya kau berada?!” Suara melengkingnya memekakan telinga bahkan aku bisa menebak kalau sekarang dia sedang memegang kipas yang dia gerak-gerakan di depan wajahnya. Kebiasaannya kalau sedang panik.

Aku menaruh cangkir kosong ke atas meja, berdiri kesal, menjejakan kaki ke lantai dan seketika berhenti bergerak saat pupil mata mengarah pada jarum jam berengsek yang seharusnya tidak berada di angka 5. Dan tambah menjengkelkan lagi saat kudengar suara banci Jeremy tiba-tiba berteriak nyaring di seberang sana.

“CEPAT BANGKIT DARI KASUR SIALANMU DAN KAU HARUS BERADA DISINI DALAM 30 MENIT!”

Orang tua sinting. Dia kira aku memiliki kekuatan apa seenaknya menyuruhku datang dalam waktu 30 menit sementara jarak dari rumah ke agency sejauh itu. Dia itu benar-benar minta di operasi kelamin.

Aku benci di perintah, aku benci di buru-buru dan aku benci ketika coat kesayanganku sulit kutemukan di dalam lemari sehingga aku harus mengobrak-abrik kamarku. Masa bodoh dengan keadaan kamar yang jadi seperti kapal pecah yang penting dalam 30 menit aku harus ada di depan batang hidungnya. Aku benci dapat ceramah.

***

Aku bukan pluviophile si pecinta hujan yang tidak butuh payung saat berjalan di bawah guyuran air hujan. Aku hanya terlalu mengagumi musim gugur tanpa percikan air hujan di coat yang kupakai. Siapapun tahu hujan yang turun di musim gugur hanya akan membuat udara semakin dingin. Ditambah air hujan merembes kedalam boots saat aku tidak sengaja menginjak genangan air. Aku memutuskan pergi dari practice room keparat ketika Soojin memberitahu bahwa aku harus istirahat. Dan menunggu di coffee shop adalah keputusan terbaik, mengingat tempat ini selalu menghangatkan dengan pilihan kopi yang tidak ada yang tidak masuk ke dalam daftar favorite. Belum lagi pemilik cafe selalu memberiku diskon setiap kali aku menyambangi cafe nya. Bukan karena dia baik, tapi karena dulu ketika pertama kali aku datang kesini dia pernah memintaku berfoto dengannya dan tanpa berdosa menyebarkan di media sosial bahwa aku sering datang kesini. Ya Tuhan padahal mencicipi dessert paling enak di tempat ini pun belum pernah. Aku tidak marah. Biar saja dia berbuat sesukanya selama apa yang dilakukan tidak merugikanku sama sekali, justru aku mendapat sedikit keuntungan darinya.

Nah kan apa aku bilang hujan di musim gugur hanya akan membuat udara semakin dingin. Dibuktikan dengan pengunjung cafe yang mendadak ramai. Kalau begini ceritanya aku bisa selonjoran di lantai.

Aku mengeratkan coat kesayanganku lebih erat, kepalaku semakin merunduk dengan kacamata hitam yang memang tidak seharusnya bertengger di hidungku, tapi harus kulakukan kalau aku tidak ingin membuat keributan. Aku berhenti di meja yang posisinya berada di ujung ruangan. Kupikir ini satu-satunya tempat paling aman saat ini karena kemungkinan besar orang-orang tidak akan melirik kearah meja disini kecuali dia orang yang kurang kerjaan. Well, ternyata masih ada orang kurang kerjaan di muka bumi ini selain diriku.

Jogiyo,” suaraku teredam masker yang menutupi wajahku. Pria tersebut bergeming menatap keluar jendela. Ya Tuhan memangnya apa yang membuat menarik dari rintikan air hujan yang berjatuhan. “Ehm.. jogiyo.” Kuberanikan diri menepuk pundaknya. Dia terlonjak kaget dan menatapku. Dahinya mengerut sambil matanya ikut mengawasi. Aku segera melapas masker dan kacamata yang kugunakan untuk penyamaran dan tersenyum lebar kearahnya, tapi dia masih diam. Seharusnya yang pertama kali dia lakukan adalah bangkit berdiri, meneriakan namaku, lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar denganku. Sementara dia masih duduk dengan tenang seperti tak mengenaliku. Seolah-olah aku hanya gadis biasa, bukan selebriti papan atas yang ketenarannya mendunia.

“Meja lain sudah terisi penuh.” Aku menunjuk sekitar memperlihatkan padanya keadaan cafe yang padat pengunjung. “Dan kulihat kau hanya sendiri, jadi bisakah kau berbagi meja denganku?”

Dia diam. Aku jadi tidak yakin bahwa dia bisa mendengar. Aku menunggu jawabannya dengan tolol, berdiri diatas boots yang mulai lembab.

“Emm, apa tidak keberatan aku duduk disini?” Tidak kehilangan ide dengan sangat jengkel aku menunjuk kursi kosong di depannya beberapa kali berharap dia merespon. Dia melirik ke arah kursi kosong di depannya.

Do you mind to sit there?”

Sekian lama pria ini terdiam kemudian dia membuka suaranya dengan menggunakan bahasa inggris. Saat itu juga aku menyadari bahwa pria tersebut tidak ada wajah Koreanya sama sekali. Wajah asia tapi bukan Korea, Jepang atau Cina. Mungkin dia dari Asia Tenggara atau sekitarnya.

Ah yes.” Aku mengangguk berkali-kali terlalu senang.

Yes, please.”

Aku berjengit dan duduk di kursi kosong tersebut.

Thank you.”

Ujung bibirnya membentuk lengkungam tipis kemudian mengangguk. Cool guy. Sejauh ini hanya itu yang bisa aku deskripsikan tentang pria asing di hadapanku ini.

“Aish… sampai kapan hujan ini akan turun.” Tanganku mengusir bekas rintik hujan yang membasahi bagian lengan dari coat yang kupakai. Secara bersamaan kulihat pria asing di depanku ini memalingkan pandangannya menerobos kaca kafe seperti sedang memerhatikan setiap langkah orang-orang yang berjalan cepat-cepat karena ingin berteduh dari hujan. Iya, dia pasti berpikir Han JooEun memang tidak lebih menarik dari air hujan dan orang-orang di luar sana.

Pelayan wanita datang dengan membawa menu makanan tapi aku langsung menyebutkan pesanan tanpa melihat menu.

“Aku mau coklat panas.”

“Ada tambahan lain?” Pelayan itu bertanya padaku tapi matanya melihat ke arah lain.

“Tidak. Hanya coklat panas saja.”

Pelayan tersebut tersenyum. Pipinya mengeluarkan semburat warna kemerahan yang norak. Saat kuperhatikan dia tersenyum ke arah pria asing di depanku yang kini sedang mengangkat cangkir kopinya, meniupkan sedikit udara di bibir cangkir mengusir uap panas lalu meminumnya secara perlahan. Tentu saja pandangannya masih terpaku ke luar jendela. Seperti hanya dia dan dunianya, aku kasat mata. Pelayan dengan seragam musim gugur yang chic langsung beringsut pergi saat ku protes agar cepat angkat kaki.

Sejak debut keartisanku di mulai berbicara dengan orang asing bukan gayaku, tapi kali ini aku ingin sekali tahu darimana pria asing ini berasal.

Where do you come from?”

Suaraku memecah keheningan dan dia mendongak seakan-akan baru saja mengetahui keberadaanku.

“Indonesia.” Singkat, padat dan sangat jelas. Aku tidak salah dengar kan?

Mataku mengerjap beberapa kali saat dia menyebutkan asal negaranya. Senyumku kemudian mengembang begitu saja, jantungku berdetak cepat dari biasanya. Aku seperti tersengat aliran listrik dan energi semangatku seakan terisi kembali. Aku tahu ini reaksi yang berlebihan tapi aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku saat ini, kuremas tangannya kencang.

Really?!” Jeritku. Dia menarik tangannya tapi aku menahannya seperti tawanan. Dia menatap ngeri ke arah tangannya yang sedang ku cengkeram. Tapi aku bersumpah, aku bukan mau menyakitinya. Hanya saja aku terlalu senang. “Sorry.” Desisku kemudian menarik tanganku. “Oke.” Aku menegakan tubuhku. “Listen to me.” Lanjutku. Dia melihatku dengan tatapan aneh. Aku menarik napas mengambil ancang-ancang untuk membuka suara yang aku pastikan akan membuatnya tercengang. “Aku hanya terlalu senang bahwa kau berasal dari Indonesia.” Lihat dahinya mulai berkerut. “Kau harus tahu, aku lahir di Indonesia. Aku pernah tinggal disana beberapa tahun.”

Dia melongo. Wajahnya menyiratkan raut bingung. Sementara aku terkikik puas.

“Bahasa Indonesiamu tidak buruk.” Katanya membuka suaranya yang berat tapi renyah diiringi senyuman. Lalu aku mengutuk dalam hati kenapa baru sekarang dia tersenyum. Dia lebih tampan kalau tersenyum. Pantas saja pelayan norak tadi tersenyum centil.

“Tentu saja.” Kataku. “Saat aku di Indonesia ibuku berbicara bahasa indonesia denganku. Selama 9 tahun aku sekolah disana, jadi tidak mungkin aku tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik.” Senyumku semakin mengembang bangga dan pria asing itu mengangguk.

“Jadi kau keturunan Indonesia atau apa?”

Kedua bola matanya yang hitam pekat jatuh ke pelupuk mataku dan kenapa bisa-bisanya dada ini mendadak sesak.

“Ibuku orang Indonesia asli, sementara ayahku orang Korea. Tapi semenjak kedua orang tuaku memutuskan bercerai, ayah membawaku ke Korea ikut dengannya. Aku tidak punya pilihan lain karena pada saat itu usiaku 14 tahun. Dan ikut bersama ayah memang lebih baik.”

Alis hitam dan tebalnya terangkat antusias keatas dengan sempurna. Jeremy pasti marah padaku jika dia tahu kalau aku berbicara kehidupan pribadiku dengan orang asing. Bagaimana kalau dia paparazi yang sedang menyamar. Tapi kurasa tidak, dilihat dari matanya dia pria baik-baik.

“Di kota mana kau tinggal?”

“Jakarta. Kau?”

“Kalau begitu kita sama.” Dia tersenyun lagi. Diriku apalagi. Tapi pelayan centil itu menginterupsi kami. Dia menaruh cangkir berisi coklat panas lalu tersenyum ke arahku dan juga pria asing menawan di hadapanku. Bilang apa aku tadi? Menawan?

“Sudah lama sekali aku tidak kesana. Ibuku bilang Jakarta sudah banyak perubahan, dia beberapa kali menyuruhku untuk berkunjung. Tapi, aku belum menemukan waktu yang tepat.”

“Kau harus segera ke Indonesia kalau begitu. Selain ibumu pasti merindukanmu, kau harus melihat perubahan kota Jakarta.”

“Apa lebih indah dari Seoul?”

“Tidak ada kota yang lebih indah dari kota kelahiran sendiri.”

Telingaku mampu menangkap dengan baik bagaimana suaranya yang indah saat berbicara. Apalagi senyumannya yang menambah ketampanan wajahnya. Bisa kulihat tangannya menyambar cangkirnya kemudian mengangkat untuk meneguk isinya. Ini malam hari tanpa melihat jam pun aku bisa tahu pukul berapa sekarang, sementara jam tangan yang pria itu gunakan tidak menunjukan angka yang seharusnya.

“Ya benar.”

Aku berani bertaruh demi gaji bulanan Jeremy bahwa pria di hadapanku ini sejenis pria yang dapat membuat wanita manapun tertarik.

So, apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku pada akhirnya.

“Minum, berteduh dari hujan seperti yang lainnya lakukan.”

Aku menyemburkan tawa. “Nde. Arasso. Maksudku apa yang kau lakukan di Korea? Menurut pengamatanku kau bukan seorang mahasiswa. Bekerja atau apa?”

“Apa wajah mahasiswa sudah mengilang dariku?”

Dia mengelus dagu indahnya yang dihiasi rahang yang kokoh. Aku tahu persis bahwa pahatan sempurna itu memang anugrah dari Tuhan. Gelak tawa lolos di bibirku saat kudengar pria di hadapanku tertawa girang. Menertawakan tingkah bodoh yang baru saja dia lakukan.

“Kau lebih terlihat seperti seorang turis yang tersesat di tengah Seoul.” Tawa kami masih tergelak secara bersamaan.

“Aku bekerja di Indonesia.” Katanya. Setelah meredam tawanya. “Aku di mutasi dari tempat kerjaku ke Korea selama 3 tahun, dan ini baru hari ke 60.”

“Kalau begitu kau masih punya banyak waktu untuk berkeliling Korea.”

No!” Katanya tegas dengan nada yang mengerikan. “Aku tidak punya cukup banyak waktu untuk berjalan-jalan. Tugasku disini adalah bekerja, bekerja dan bekerja.”

Aish. Jeongmalyo?!” Mataku melotot ke arahnya. “Membosankan sekali.” Aku geleng-geleng kepala tapi dia justru tertawa.

Jeremy memang tidak bisa melihat orang lain bahagia sedikit saja. Bagaimana aku bisa menyimpulkan hal negatif padanya kalau baru beberapa menit aku menghilang namanya sudah menari-nari di atas layar ponselku membuatku kesal. Aku meminta ijin pada prince charming untuk mengangkat panggilan telepon dari Jeremy.

Yeoboseo.” Kataku dengan malas. Seketika mood baikku berubah.

Nde. Arasso. Aku akan segera kesana.” Aku menutup sambungan dan melihat ke prince charming itu yang kini melihat keluar jendela. Entah kenapa berat sekali pergi dari hadapannya.

“Aku harus pergi.” Kataku lalu dia mengalihkan pandangannya.

“Kemana?”

“Bekerja, bekerja dan bekerja.” Jawabku sengaja mengikuti gaya bicaranya tadi. Dia tertawa lagi. Lama-lama aku ketagihan.

“Oke.”

Aku menepuk dahi saat beberapa langkah menjauh dari meja kemudian berbalik.

“Siapa namamu?” Aku mengulurkan tanganku.

“Affan.” Dia menjabat tanganku.

“Han JooEun.” Sesuai tebakanku dia memang menggunakan jam tangan yang sudah tidak berfungsi lagi.

Haruskah aku memberitahunya bahwa jam tangan yang dia pakai rusak? Ah tidak. JooEun kau hanya mencari alasan saja kan agar bisa bertemu dengannya lagi? Oke, aku memang berharap bisa bertemu dengan dia lagi. Affan. My Prince Charming. Hell, lama-lama aku norak seperti pelayan tadi.

Tbc

 

One response to “The Land of Morning Calm (Part 1)

  1. Pingback: The Land of Morning Calm Part 2 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s