I Love You, Kim Jongin

img_20160331_073406.jpg

I Love You, Kim Jongin
by
Raditri Park

side story of Jealous

My feel now is like this music, Little Mix ft. Jason Derullo – Secret Love Song

“Kau–“

“Aku tidak apa-apa, Jongin.”

Setelah menatap mata kekasihnya kilat, gadis ini merunduk lagi lalu tersenyum tipis. Berusaha menyembunyikan sesuatu di matanya.

Kekasihnya? Maksud Nira, Jonginkah? Apa Jongin masih kekasihnya setelah kerenggangan komunikasi mereka sejak awal tahun? Apa Jongin masih kekasihnya setelah sempat beberapa kali menolak ajakkannya untuk bertemu? (Kala itu Nira berpikir Jongin terlalu sibuk dan pria itu sempat cedera) Lalu, apa Jongin masih kekasihnya setelah menemukan berita yang ia baca kemarin pagi?

Tepat sekali! Berita kemarin pagi tentang pria di hadapannya ini dan gadis itu yang telah dikonfimasi hubungannya oleh agensi mereka sendiri. Hubungan yang bukan sekedar hubungan biasa. Hubungan yang Nira pikir hanya dimilikinya seorang pada pria ini. Tapi Nira salah besar.

Berbagai cara Nira lakukan untuk mengabaikan berita-berita itu. Karena Jongin bahkan pernah mengatakan bahwa hubungannya dengan gadis itu hanya sebatas hubungan keprofesionalitasan di perusahaan mereka. Nira masih mengingatnya dengan jelas. Tapi, Nira berakhir dengan mengirim pesan pada Jongin untuk bertemu.

Meski… sebenarnya ia tidak ingin bertemu Jongin, tapi entah kenapa hatinya ingin menemuinya. Tidak ingin bertanya kenapa akhir-akhir ini pesan-pesannya tidak dibalas atau panggilan telvonnya tidak diangkat. Hanya ingin menemuinya saja. Jadi, meski pesan Line Nira kemarin sore tidak mendapat balasan dari Jongin, gadis ini tetap pergi ke kedai es krim daerah Gangnam dan Nira melihatnya sudah duduk disana. Nira sempat syok, karena Nira pikir Jongin tidak akan menemuinya lagi.

Sempat linglung di depan pintu kedai, karena tempat ini mengingatkannya pada pertemuan terakhir mereka di akhir tahun lalu sebelum pertemuannya siang ini.

“Maksudku… kenapa kau telat?”

“Oh.”

Saat itu Nira sengaja telat karena ingin menguji pria ini, apa pria ini masih suka mengabaikan ajakkan Nira untuk bertemu. Tapi sekarang, ia pikir Jongin tidak akan datang karena kesibukannya, bahkan tidak membalas pesan Line-nya. Tapi ternyata pria itu datang. Nira harus berterimakasih padanya dan mengucap maaf karena telah mengganggu kesibukkan Jongin.

“Bagaimana kabarmu, Jongin? Rasanya lama sekali kita tidak berkomunikasi.” Nira sempat tersenyum, meski tampak terpaksa.

Jongin mengerut sedikit, “‘Kenapa kau bertanya begitu? Kau pasti tahu kakiku masih butuh perawatan, bukan?”

“Oh, benar.”

‘Dan bahkan kau masih mau menemuiku dengan keadaanmu seperti ini. Maaf Jongin, sekarang aku tidak tahu benar tentangmu.’ Nira menggumam nyeri dalam hati. Sekaligus merasa bersalah.

Kalimat singkat Jongin serasa menghujamnya. Seharusnya Nira tahu tanpa tanya lagi karena Nira adalah fansnya, jadi otomatis Nira tahu banyak dari berita-berita yang terus muncul di laman media sosialnya.

Termasuk berita pagi kemarin yang sempat membuatnya pening dan hilang segala fokusnya.

Tapi Jongin hanya diam. Dia seolah tidak akan berbicara jika tanpa ditanya. Nira tidak tahu apa yang sebenarnya Jongin pikirkan sekarang. Nira sekarang tidak benar-benar tahu seperti apa Jongin, siapa Jongin. Karena komunikasi mereka yang merenggang membuatnya lupa siapa Jongin di hidupnya. Tapi, setelah dipikir-pikir Jongin memang bukan siapa-siapa baginya. Dia memang sakit, tapi Jongin telah dimiliki orang lain. Nira harus terima kenyataan itu, apapun yang terjadi.

“Maaf akhir-akhir ini aku tidak membalas pesan-pesanmu dan menyempatkan waktu bicara denganmu.”

“Tidak apa-apa, aku tahu.”

“Kau tahu?”

Nira tersenyum simpul. “Ya, aku tahu. Kupikir kau masih ingat kalau kau adalah idolaku, Jong.”

Dan suara Nira bergetar di akhir kalimat. ‘Jong’. Mungkin panggilan itu akan selalu dirindunya.

Samar-samar Nira menemukan Jongin dengan hembusan napas berat.

“Maaf.”

Nira mendongak, menemukan mata Jongin dengan tatapan penuh padanya. Tapi, kali ini berbeda. Ia tidak bisa merasakan perasaan membuncah atau meledak-ledak di dalam tubuhnya. Tidak.

“Maaf. Apa kau akan membenci Soojung?”

‘Oh, dia ingat.’ Nira syok dalam hati. Nira mengira Jongin lupa saat dimana ia pernah bilang kalau boleh memilih Nira akan menjadi haters bagi Soojung.

“Kapan aku pernah berkata seperti itu.”

Jongin mengerut kecil. Tampak kurang setuju.

“Kau memintaku untuk tidak memikirkannya lagi, jadi aku sudah mempunyai pikiran seperti itu. Tenang saja.”

Lalu kenapa Jongin lupa kalau saat itu dia juga bilang kalau dia lebih memilih dirinya dibanding yang lain? Apa Jongin selama ini hanya mempermainkannya?

Ketika Jongin hendak membuka suara, Nira menyela lebih dulu.

“Tenang saja. Kau tidak usah merasa terbebani jika tidak bisa membalas pesanku atau mengangkat panggilanku. Kau artis yang sibuk, semua tahu itu. Tentang berita akhir-akhir ini, aku tahu diia memang pantas mendapatkannya darimu. Kau tidak perlu khawatir lagi, banyak yang mendukungmu Jong.”

“Maaf.”

Nyeri di dada Nira bertambah. Sudah tiga kali pria ini mengucap maaf padanya. Dan tatapan itu telah menjelaskan semuanya. Jongin ingin mengakhiri semua.

“Maaf, Nira.”

Nira tersenyum miring sedetik, sedikit merendahkan. Nira merendahkan dirinya sendiri, Nira ingin mengasihani dirinya sendiri. Ini terlalu menyedihkan jika Nira diminta berusaha keras untuk berpikir.

Sebisa mungkin Nira tersenyum. Nira menunduk dalam sembari menahan sesuatu yang sepat di sisi-sisi matanya. Menghembus napas lalu mendongak dengan kaku.

“Aku minta maaf, Jongin. Aku sudah terlalu lama mengganggumu. Tidak seharusnya aku mengekangmu terus-terusan. Aku seharusnya lebih peka dari awal, aku terlalu menikmatinya lalu kau membuat perasaan ini berkembang.”

“Terimakasih karena selama ini kau mengijinkanku sempat hidup di pikiranmu.” Sumpah, demi apapun sesak itu tiba-tiba muncul dan Nira nyaris meloloskan air matanya. “Kau begitu baik. Baik pada fansmu, baik padaku. Dan benar kata mereka, kau pantas bahagia dan dia lebih cocok untukmu. Selamat Jongin. Kau tahu, meskipun ini pernyataan yang kekanakkan dan membosankan aku akan tetap bilang, aku turut bahagia atas kebahagiaanmu.”

Tatapan Nira jatuh, gadis ini tidak sanggup bicara terang-terangan pada pria yang sungguh-sungguh telah merebut dunianya, lalu pria inilah yang menghempaskan dirinya dari dunianya sendiri. Lalu Nira berusaha tersenyum lagi dan bergumam lirih, “Lebih tepatnya mencoba turut bahagia. Ya.”

Jongin sendiri hanya diam dengan hembusan napas dalam terus-terusan. Tampaknya pria ini tidak sanggup berbicara lebih. Jongin ingat, bahkan ia mengambil diam-diam waktu untuk sekedar menemui Nira, bahkan dengan keadaan kakinya yang belum sembuh total. Tapi, dia harus menemuinya sebelum gadis ini tidak bisa menghubunginya lagi karena—mungkin Nira akan kecewa berat padanya. Jongin tahu gadis ini akan membencinya, dan mungkin akan berhenti mengikutinya.

Jongin tidak tahu apa yang dia lakukan telah benar. Tapi kesibukkannya membuatnya bosan pada hubungan penuh kekang antara dirinya dengan Nira. Dan seiring berjalannya waktu, Jongin merasa lebih nyaman dengan seseorang lain. Bahkan sejak lama, sebelum Jongin benar-benar menyadarinya. Hingga Jongin sendiri tidak bisa menyangkal.

Jongin ingin membicarakan ini jauh-jauh hari sebelum ini, tapi lagi-lagi dia tidak memiliki waktu. Jadi, sekarang adalah waktunya.

“Nira.”

Jongin menatapnya lagi. Tapi demi Tuhan, tatapan itu tidak semempesona dulu di mata Nira karena Nira sadar tatapan itu bukan untuknya seorang, Jongin pasti memiliki arti tatapan tersendiri untuk—antara fans dan kekasihnya. Ya, kekasih Jongin sekarang.

Nira sadar Jongin tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi dirinya lebih ingin mengungkapkan sesuatu.

“Jongin, apa aku boleh mendapatkan satu permintaan?” Nira berkata lirih, berusaha keras menjaga suaranya untuk tidak pecah.

“Apa itu?” Demi apapun, bahkan dari nada bicara Jongin, pria ini telah banyak berubah. Tidak seterobsesi dulu.

Pikiran Nira masih kemelut. Ia tidak yakin akan permintaannya. Tapi, jika Nira tidak mengatakannya sekarang maka tidak akan pernah terungkapkan sama sekali.

“Ijinkan aku mengatakan ini di depanmu meski hanya sekali.”

Jongin diam beberapa saat. Hanya menunggu dengan kerutan dahi samar-samar.

“Aku mencintaimu, Jongin.” Nira sadar matanya telah berkaca-kaca, tapi pria ini hanya menatapnya dengan kedipan biasa. Tanpa ada reaksi yang berarti. Lalu Nira tersenyum. “Terimakasih mengijinkanku mencintaimu melebihi rasa cinta yang pernah kuberikan pada siapapun. Terimakasih untuk selama ini. Kurasa,” Nira menahan sesuatu di dadanya. “Kurasa, ini adalah pertemuan kita yang terakhir, Jong”

Nira tersenyum lalu hendak beranjak sebelum sebuah gesture bergerak seolah hendak mencegah.

“Aku tahu akan ada banyak yang terluka.”

“Ya, tapi tidak sedikit yang mendukungmu. Tenang saja. Kau tidak perlu merasa bersalah, tidak usah merasa terbebani.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.  Tapi semuanya menjadi sulit, Nira.”

Nira tersenyum simpul, ingin menyembunyikan sesuatu dari bibirnya yang bergetar.

“Kau tidak salah, Jongin. Anggap aku sebagai fansmu seperti biasa, aku tidak akan menganggapnya lebih lagi. Aku hanya fansmu, ingat itu. Dan aku akan masih menjadi fansmu. Aku yang terlalu berharap untuk mendapatkan akhir yang bahagia. Aku katakan terimakasih, maaf menahanmu terlalu lama, sekarang aku melepasmu dan aku harus mengucapkan selamat tinggal sekarang.”

Dan Nira pergi dengan sejuta pikiran. Dan membawa tangis dalam hatinya. Seperti dugaannya, tidak ada pencegahan atau apapun.

Terimakasih Jong, paling tidak kau pernah membuatku bahagia dengan segala pesonamu. Kini saatnya kau menemukan kebahagianmu yang sesungguhnya. Kau memang pantas mendapatkannya.

Fin
010416

Dengan ini aku menyatakan, mungkin aku bakal berhenti sementara buat bikin ff soal Kim Jongin. Aku gatau kapan nylesein ff Our Marriage is… padal ff itu udah aku rancang sejak tahun lalu, dengan seluruh perasaanku sama Jongin.

Kalian semua pasti pada tahu soal tanggal 1 April kemarin, bukan?

1459476651444.jpg

1459476674016.jpg

1459476683284.jpg

1459476686025.jpg

1459476699206.jpg

1459476746921.jpg

Pas pagi kemarin sekitar jam 9 aku nemu berita itu rasanya tu…. sumpah demi Tuhan. Sakit! Sakit. Banget. Aku berharap banyak berita kemarin tu April Mop, settingan ato semacamnya. Tapi, 1 jam kemudian. OMYGOD! Duniaku rasanya runtuh! Makin kesini makin ngliat komenan di twitter, line, instagram banyak yg ngedukung hubungan mereka.
Sumpah demi Tuhan aku ga rela. Aku baru sadar aku ngefans Kai dengan perasaan. Gobl*k gak tuh! KALIAN BOLEH NYEBUT AKU FANS ABABIL, GA DEWASA, EGOIS! SILAKAN AKU TERIMA! Tapi inilah perasaanku, aku sendiri pun gabisa bohong dan parahnya gabisa bedain mana dunia fangirl mana dunia nyata.
Sampe sekarang, rasanya udah kayak diputusin pacar secara sepihak dan dia udah langsung nemuin pengganti. Mungkin beberapa dari kalian kebanyakkan ngedukung hubungan mereka, aku tahu. Kaistal udah punya banyak moment sejak mereka debut dan udah temenan sejak mereka sebelum debut. Dan fans udah banyak nemuin momen kebersamaan mereka jauh2 hari. Dan harusnya ini udah bisa ditebak.

Ini nyata dan aku harus nerima. Aku ga punya maksud bakal ngebenci Krystal. Engga! Dia cocok sama Kai, karakternya sama dengan Kai jadi gaada yg salah selama mereka sama2 bahagia.
Aku ngira ini bakal—hanya sebuah rumor, settingan ato apalah… Dispatch, kalian tau? Bukankah dispatch terkenal dengan berita yg kurang meyakinkan. Kalaupun mereka bener2 dating, paling engga dari mulut mereka sendiri juga menyatakan atau meresmikan hubungan mereka. Bukan cuma dari mulut agency! Itu pengharapanku.

Aku terlalu kejem ga sih kek gini. Ga rela idolanya nemuin kebahagiaannya. Ngliat semua ngedukung mereka sedangkan aku engga(kurang rela) serasa aku menjadi pendosa terkejam. Ini ff kurang lebih adl setengah dari perasaanku. Aku ga bohong bilang kalo Kai adl idola ku yg berbeda selama aku ngenal dunia kpop. Udah itu aja, maaf aku malah curcol guys… maaf salah tempat, aku cuman ga bisa ngendaliin emosiku sekarang. Aku bakal belajar buat mencintai idola hanya sekedar cinta seorang fan ke idola. Mungkin ini hanya emosi sesaat, kalo udah sibuk sama dunia nyata mungkin bakal lupa. Haha
Maaf spam ga penting. Kalian boleh sebut aku apa aja. Silakan. Makasih juga bagi yg udah baca ff alay ku sampe akhir. Itu ff kacau balau karena aku bikinnya dengan perasaan kacau. Aku berharap kalian memaklumiku. Aku juga bakal belajar mencintai Kaistal. Sumpah ini berat, Ya Tuhan. TT____TT
Maaf Jongin, aku gabisa jadi fanmu yg baik. Aku gabisa bohong buat bilang aku merelakanmu dengan Krystal. Dah itu aja. Makasi buat nyempetin waktu baca curhatan kekanakkanku.

So, guys… aku butuh hiburan. Aku butuh temen di twitter ato bbm. Twitter @tamara_elf dan pin 5983C1D0
Maaf atas segala kesalahanku dalam dunia fangirl :”

With❤
Raditri Park

One response to “I Love You, Kim Jongin

  1. Aq mgerti bgt prasaan author..aq sndiri jg gt…skg ibaratx kai peterpan, dy udahmenemukan wendy , sbgai tinkerbell qt hrus merelakanx walaupun itu sangat sakit…
    Apalah daya qt hanya seorang fans 😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s